Categories
Pencinta Lingkungan

Daftar Perumahan Batan Indah Serpong Yang Terpapar Radioaktif


Warga Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, dilarang mendekat ke sebuah area tanah kosong di samping lapangan voli Blok J di lingkungan perumahan itu. Beberapa serpihan radioaktif telah ditemukan di area itu dan upaya dekontaminasi belum berhasil menurunkan tingkat paparan radiasi hingga ke bawah batas normal.

“Untuk alasan keselamatan warga diimbau untuk tidak memasuki lokasi terdampak kontaminasi hingga batas trotoar dan lapangan voli,” ujar Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Indra Gunawan, melalui keterangan tertulis pada Jumat, 14 Februari 2020.

Menurut Indra, laju paparan pada batas trotoar jalan Perumahan Batan Indah Blok H, I, J, dan lapangan voli Blok J terukur pada batas normal. Sebelumnya tim Bapeten dan Badan Tenaga Nuklir Nasional menyimpulkan telah terjadi kontaminasi yang sifatnya menyebar di area tersebut.

Kontaminasi diketahui setelah uji fungsi pemantauan radioaktivitas lingkungan pada 30-31 Januari lalu. Garis pembatas langsung dibentangkan dan sampel tanahnya diuji begitu diketahui area tersebut memiliki kenaikan nilai paparan radiasi hingga di atas normal.

Pada 7-8 Februari lalu, tim gabungan mencari sumber yang diduga penyebab kenaikan laju paparan tersebut. Hasilnya, tim menemukan beberapa serpihan sumber radioaktif lalu mengevakuasinya. Tapi, setelah pemetaan ulang, ditemukan tingkat paparan masih di atas nilai normal. Itu sebabnya ada kesimpulan kontaminasi menyebar.

Tim Bapeten dan Batan lantas mengambil sampel vegetasi, tanah, dan air sumur di sekitar lokasi. Sampel ini diteliti untuk memastikan kemungkinan terjadinya kontaminasi silang atau pencemaran.

Tim Batan juga melakukan dekontaminasi dengan pengerukan tanah dan pemotongan pohon dan tanaman. Laju paparan radioaktif tercatat mengalami penurunan yang signifikan. Kendati begitu, angkanya masih di atas nilai normal sehingga perlu dekontaminasi kembali. Indra mengatakan Batan juga melakukan pemeriksaan terhadap beberapa warga di sekitar lokasi. Tapi hasil ini belum diterangkan lebih detil.

Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Indra Gunawan mengungkapkan tim gabungan Bapeten dan Batan telah melakukan upaya pencarian sumber yang jadi penyebab kenaikan nilai paparan radiasi di perumahan Batan Indah, Tangerang Selatan. Kegiatan pencarian telah dilaksanakan pada tanggal 7-8 Februari 2020 yang menemukan beberapa serpihan sumber radioaktif.

“Setelah pengangkatan serpihan sumber radioaktif tersebut, dan dilakukan pemetaan ulang, ditemukan bahwa laju paparan mengalami penurunan, namun masih di atas nilai normal,” tulis Indra Gunawan dalam pernyataan yang diterima.

“Berdasarkan hasil tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa telah terjadi kontaminasi yang sifatnya menyebar di area tersebut, dan perlu dilakukan kegiatan dekontaminasi dengan cara pengambilan/pengerukan tanah yang diduga telah terkontaminasi dan pemotongan pohon atau pengambilan vegetasi yang terkontaminasi.”

“Untuk alasan keselamatan, warga dihimbau untuk tidak memasuki lokasi terdampak kontaminasi hingga batas trotoar dan lapangan voli.” Lihat juga: Radiasi Terdeteksi di Dekat Kampung Atlet Olimpiade 2020. Kenaikan nilai radiasi radioaktif ini ditemukan di lingkungan tanah kosong di samping lapangan voli blok J. Sedangkan laju paparan pada batas trotoar jalan Perumahan Batan Indah blok H, I, J dan lapangan voli blok J terukur pada batas normal.

Pengukuran nilai radiasi radioaktif ini dilakukan pada tanggal 30-31 Januari 2020 oleh Bapeten dengan menggunakan unit pemantau radioaktivitas lingkungan bergerak (mobile RDMS-MONA) di wilayah Pamulang, Perumahan Dinas Puspiptek, Daerah Muncul dan Kampus ITI, Perumahan Batan Indah, dan Stasiun KA Serpong.

Tim uji fungsi melakukan pengecekan ulang dan penyisiran di sekitar daerah tersebut di atas, dan ditemukan nilai paparan radiasi lingkungan dengan laju paparan terukur signifikan di atas nilai normal.Tim Batan dan Bapeten telah mengambil sampel vegetasi, tanah, dan air sumur di sekitar lokasi untuk memastikan kemungkinan terjadinya kontaminasi silang atau terjadi pencemaran.

Berdasarkan pengukuran laju paparan setelah pelaksanaan kegiatan dekontaminasi, diperoleh hasil bahwa laju paparan mengalami penurunan yang signifikan, namun masih tetap di atas nilai normal, sehingga proses dekontaminasi masih perlu dilanjutkan sehingga diperoleh nilai laju paparan kembali normal. “Tim BATAN juga akan melakukan pemeriksaan Whole Body Counting (WBC) terhadap beberapa warga di sekitar lokasi.”

Zat Cs 137 diduga adalah unsur radioaktif yang mencemari kawasan permukiman di Perumahan Batan Indah, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, Banten. Ternyata, Cs 137 adalah unsur yang sama dengan yang menyebar ke dunia akibat bencana nuklir Chernobyl.

Ledakan akibat kecelakaan reaktor nuklir di Chernobyl terjadi pada 26 April 1986 di kawasan Ukraina, saat itu masih menjadi kawasan Uni Soviet. Peristiwa itu menjadi bencana terparah sepanjang masa, mengubah daerah yang tadinya padat penduduk menjadi kota hantu, dan membuat zona terlarang seluas 2.600 kilometer persegi.

Cs 137 adalah salah satu unsur radioaktif. Cs adalah lambang dari sesium, atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai cesium. Belum diketahui bagaimana Cs 137 bisa lepas ke kawasan permukiman penduduk itu. Dilansir dari situs National Cancer Institute, Departemen Kesehatan dan Pelayanan Manusia Amerika Serikat (AS), Cs 137 muncul akibat produksi spontan lewat fisi nuklir. Apa pula itu fisi nuklir? Fisi adalah pembelahan inti atom menjadi inti-inti atom baru yang lebih ringan sambil melepaskan energi.

Dilansir situs Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), peluruhan inti atom Cs 137 itu sendiri punya waktu yang relatif panjang ketimbang unsur radioaktif lainnya. Waktu ini disebut sebagai ‘waktu paro/waktu paruh (half-life)’. Cs 137 punya waktu paro 30 tahun.

Zubaidah Alatas, Mukh Syaifudin, dan Siti Nurhayati dari BATA menjelaskan lewat penelitiannya, Cs 137 adalah salah satu radionuklida yang dihasilkan oleh percobaan senjata nuklir di atmosfer, bisa mengontaminasi manusia dan lingkungan, masuk ke tubuh baik lewat makanan maupun pernapasan. Cs 137 adalah hasil fisi bahan bakar uranium atau plutonium di reaktor nuklir, sehingga kemampuan dalam menangani seseorang yang terkontaminasi radionuklida tersebut sangat diperlukan pada kecelakaan instalasi nuklir.

Wilayah Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel) ditemukan paparan radioaktif. Kondi si di titik paparan radioaktif masih dibatasi menggunakan garis perimeter.

Di Blok I, Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangsel pada pukul 09.00 WIB, Sabtu (15/2/2020), ada garis perimeter berwarna kuning bertuliskan ‘Daerah Radiasi Dilarang Melintas’ dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten). Garis perimeter tersebut diikatkan ke sejumlah pohon yang melingkari sebidang tanah.

Ada sebuah gundukan tanah yang ditutupi oleh terpal warna biru di tengah rimbun pohon. Gundukan tanah tersebut tepat berada di tengah sebidang tanah yang digarisi perimeter. Sepuluh meter dari gundukan tanah tersebut, ada sebuah alat berat yang ditutupi plastik terpal juga. Alat berat tersebut juga termasuk yang diberi garis perimeter.

Keberadaan sebidang tanah diberi garis perimeter yang terpapar radioaktif tak jauh dari rumah warga. Hanya berjarak sekitar lima meter dari sebidang tanah yang terpapar radioaktif dengan rumah warga. Di sekitar sebidang tanah tersebut, sejumlah warga berjualan makanan dan minuman. Ada pula sebuah lapangan voli dan kantor rukun warga (RW).

Sebelumnya, lima orang warga diperiksa untuk dijadikan sampel setelah ditemukan paparan radioaktif di Perumahan Batan Indah, Tangerang Selatan (Tangsel).  “Warga yang akan diperiksa akan didata dulu, supaya nanti bergantian karena terbatasnya fasilitas Batan. Kita akan ambil sample 5 orang warga dulu,” kata Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Indra Gunawan.

Lima orang warga di periksa untuk dijadikan sampel setelah ditemukan paparan radioaktif di Perumahan Batan Indah, Tangerang Selatan (Tangsel). Pemeriksaan itu akan dilakukan bergantian oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).

“Warga yang akan diperiksa akan didata dulu, supaya nanti bergantian karena terbatasnya fasilitas Batan. Kita akan ambil sample 5 orang warga dulu,” kata Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Indra Gunawan kepada detikcom, Jumat (14/2/2020) malam.

Indra mengatakan, paparan radio aktif yang berlebihan bisa membuat seseorang mengalami kemandulan dan kanker. Namun dampak kesehatan itu tak langsung dapat terlihat dan dirasakan dalam kurun waktu singkat.

“Cuma kan efeknya sifatnya tidak spontan, itu yang malah jadi bahaya karena aware kita terhadap radiasi, beda dengan terbakar, udah gitu dia tidak berbau, tidak berasa, membuat kita tidak bisa deteksi ada paparan radiasi berlebihan di sekitar kita kecuali menggunakan alat,” ucap Indra.

Sebelumya, Bapeten melakukan uji fungsi pemantau radioaktivitas lingkungan bergerak (Mobil RDMS-MONA) dengan memantau radioaktivitas lingkungan di area Jabodetabek. Pada Januari 2020, Bapeten melakukan uji fungsi dengan target area meliputi wilayah Pamulang, Perumahan Dinas Puspiptek, Daerah Muncul dan Kampus ITI, Perumahan Batan Indah, dan Stasiun KA Serpong.

Categories
Bencana Alam Jakarta Banjir Jalan Jakarta Banjir Pencinta Lingkungan

Permukaan Tanah Di Pluit Alami Penurunan 1,8 – 3 Meter Per Tahun


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mewanti-wanti bahwa ancaman rob di masa datang makin serius. Rob ini imbas turunnya muka air tanah karena eksploitasi air tanah yang berlebihan. “Penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah yang tidak terkendali membuat Jakarta Utara semakin rawan banjir rob. Penurunan tanah di pantura Jakarta bukan sesuatu yang bersifat alamiah. Tapi lebih disebabkan faktor pengaruh manusia yaitu eksploitasi air tanah yang melebihi daya tampung dan daya dukungnya,” jelas Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Pengambilan air tanah yang besar-besaran inilah, imbuh dia, yang menyebabkan akuifer dalam tanah kempes sehingga tanah ambles. Akuifer adalah lapisan bawah tanah yang mengandung air dan dapat mengalirkan air. Melalui akuifer inilah air tanah dapat diambil. “Selain itu ada faktor alami yaitu kenaikan muka air laut. Kombinasi antara turunnya tanah dan naiknya muka air laut itulah yang menyebabkan rob,” jelasnya.

Di kawasan pantai utara Jawa, khususnya di Jakarta Utara dan Kota Semarang, banjir rob berada di kawasan yang lebih rendah dibandingkan permukaan air laut. Daerah ini secara alamiah memang lebih rendah daripada muka air laut saat pasang tertinggi. Supto menegaskan Jakarta ancaman rob di Jakarta akan makin meningkat di masa mendatang karena penurunan permukaan tanah terus menurun tanpa bisa dikendalikan. Dari hasil pengukuran tahun 1925-2010, permukaan air laut Jakarta selalu naik setiap tahun. Kenaikannya rata-rata 0,5 sentimeter (cm) per tahun.

“Sebaliknya, laju penurunan muka tanah Jakarta mencapai 5 cm hingga 12 cm per tahun di sejumlah titik selama tiga dekade terakhir. Kondisi itu yang menyebabkan akumulasi permukaan air laut yang menggenangi tanah Jakarta jadi lebih tinggi,” tuturnya. Sutopo memaparkan hasil penelitian ITB yang dijalankan selama 1982-2010 dengan teknologi survei sifat datar (leveling survey) dan menggunakan alat global positioning system serta radar (Insar), ditemukan penurunan muka tanah tersebar di sejumlah tempat di Jakarta.

“Penurunannya bervariasi 1-15 cm per tahun. Bahkan, di beberapa lokasi terjadi penurunan 20-28 cm per tahun. Kawasan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, adalah salah satu kawasan yang mengalami penurunan muka tanah cukup besar. Selama tiga dekade ini, beberapa daerah di Pluit mengalami penurunan tanah 1,8 meter hingga 3 meter,” papar dia.

Saat ini di Jakarta Utara wilayah ada 26 titik rawan banjir rob meliputi Penjaringan, Pluit, Kamal Muara, Kapuk Muara, Tanjung Priok, Kalibaru, Ancol, Pademangan, Marunda, Koja, Lagoa, Sunter Karya Selatan, Papanggo, Sunter Agung, Warakas, Kebon Bawang, Sungai Bambu, Jampea, Kramat Jaya, Kelapa Gading, KBN Cakung, Sunter Jaya, dan Yos Sudarso.

“Ancaman rob di masa mendatang akan makin serius sehingga dapat menyebabkan wilayah Utara Jakarta tidak menarik untuk investasi atau pengembangan wilayah jika tidak dapat mengatasi rob. Perlu upaya yang komprehesif untuk mengatasi banjir rob karena ancaman di masa mendatang akan lebih meningkat,” tuturnya. Masyarakat, lanjut dia, harus adaptasi dan mitigasi dengan rob tersebut. Masyarakat dan pemerintah bisa membuat tanggul, meninggikan lantai, membangun rumah panggung dan lainnya. Bahkan secara swadaya membangun polder dan pompa untuk melindungi lingkungannya. Masyakarat dan dunia usaha yang ada di wilayah itu harus kompak tidak mengeksploitasi air tanah secara berlebihan. Membangun sumur resapan, biopori, dan upaya lain yang intinya menakan agar penurunan muka tanah dapat berkurang.

“Pemda DKI Jakarta dan Kementerian PU Pera telah memiliki langkah-langkah antisipasi rob dan banjir di Jakarta, seperti pembangunan tanggul laut raksasa, reklamasi, pembangunan polder, tanggul di pantai dan upaya struktural lainnya. Tentunya saja upaya tersebut selalu ada yang pro dan kontra,” jelasnya. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan soal penyebab banjir rob di Jakarta Utara dua hari terakhir, termasuk fenomena gelombang tinggi di beberapa daerah. Bagaimana penjelasannya?

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Yunus S. Swarinoto, menjelaskan kenaikan tinggi muka air laut atau banjir rob di beberapa lokasi di Pantai Utara Jawa yang terjadi pada tanggal 5 dan 6 Juni 2016 diakibatkan oleh pengaruh astronomi terjadinya bumi, bulan dan matahari berada dalam satu garis lurus (spring tide ) yang mengakibatkan naiknya tinggi muka laut.

Menurut Yunus, kondisi ini merupakan siklus rutin bulanan yang normal terjadi. Namun karena bersamaan dengan terjadinya anomali positif tinggi muka air laut di wilayah Indonesia sebesar 15 – 20 cm, maka kondisi ini memberikan dampak yang menimbulkan kerugian materi di beberapa wilayah seperti pesisir Jakarta, Pekalongan, dan Semarang. “Kondisi ini diperkirakan akan bertahan hingga 2 hari ke depan,” terang Yunus. Sedangkan untuk gelombang pasang yang terjadi di Barat Sumatera dan Selatan Jawa hingga NTT selain disebabkan adanya pengaruh seperti terjadinya rob, namun juga diperkuat dengan adanya penjalaran alun (swell) yang dibangkitkan dari pusat tekanan tinggi subtropis di barat daya Australia.

Potensi gelombang tinggi ini masih akan terjadi hingga 5 hari ke depan, di beberapa wilayah berikut :

– Perairan utara dan barat Aceh;
– Perairan barat Nias – Mentawai;
– Perairan Bengkulu – Kep. Enggano;
– Perairan barat Lampung;
– Perairan selatan Banten hingga Jawa Timur; dan
– Perairan selatan Bali, NTB dan NTT.

“Dengan kondisi gelombang laut yang masih cukup tinggi di beberapa wilayah Indonesia, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan siaga, terutama masyarakat pesisir pantai barat Sumatera dan selatan Jawa hingga NTT untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gelombang tinggi,” kata Yunus. Bagi masyarakat yang hendak memperoleh informasi terkini, BMKG membuka layanan informasi cuaca 24 jam. melalui: call center 0216546315/18; maritim.bmkg.go.id; follow @infobmkg; atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.

Rob atau banjir air laut karena pasang membawa rezeki untuk Nurohim (40). Sejak rob datang akhir pekan lalu, penghasilan dia naik. “Kalau di sini bajaj yang dapet banyak ya yang berani nerabas aja. Kalau yang biasa-biasa ya nggak berani. Kan ini banjir rob jadi ya beresiko juga kalo nerabas banjir gini,” sebut Nurohim yang ditemui di Muara Baru, Selasa (7/6/2016) sore. Nurohim mengaku penghasilan dia meningkat tajam. Ini karena dia nekat menerobos rob.

“Ya lumayan naik sampai 50%. Biasanya dapet 70 sampe 100 ribu, ini bisa lebih dari itu. Lumayanlah, tapi ya itu juga harus nekat,” tutur dia. Sebenarnya, Nurohim mengaku, rob bagaimanapun membawa kerugian buat bisnisnya. Terkadang dia mesti memutar agak jauh karena air pasang terlalu tinggi. “Kadang ada yang batalin pesenan juga karena kita naikin harganya. Kan rob,” imbuhnya.

Nurohim sudah 10 tahun menjadi sopir bajaj. Dia mengaku baru-baru ini saja rob datang. Dahulu tidak pernah dia merasakan. “Dulu sih nggak ada ya. Baru sekarang ini kayak gini,” tegasnya.

Categories
Pencinta Lingkungan

Kawasan Gunung Gede-Pangrango Terbakar


Kebakaran hebat kembali terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGP), Jawa Barat, Minggu (28/9). Dari informasi yang diterima CNN Indonesia, kebakaran telah menghanguskan lahan seluas 25 hektare (ha) di area Alun-Alun Suryakencana yang biasa menjadi tempat persinggahan para pendaki.

“Kami belum tahu pasti penyebabnya. Saat ini tim masih melakukan koordinasi untuk upaya pemadaman,” ujar Indra Aji Wirawan, Ketua organisasi relawan TNGP, Montana. Indra menduga, kebakaran berasal dari aktivitas perapian yang dilakukan sejumlah pendaki. Padahal pihak TNGP dan relawan telah melarang para pendaki membuat perapian di area TNGP.

“Di sini banyak pendaki ilegal yang tidak patuh aturan. Sekarang api sudah menjalar ke arah Gunung Gemuruh dan mudah-mudahan tidak ada korban dari kebakaran tersebut,” tutur Indra.Saat ini, kata Indra, puluhan relawan telah berkumpul di pos pendakian Gunung Putri yang berada di timur Gunung Gede. Tambahan relawan tadi akan diberangkatkan untuk membantu sejumlah orang yang tengah memadamkan api di kawasan Alun-Alun Suryakecnan

Categories
Pencinta Lingkungan

Seandainya Ciliwung Bisa Serindang Sungai Ogansugyo di Kota Seoul


Sungai Ogansugyo membelah padatnya gedung pencakar langit si Seoul, Korea Selatan (Korsel). Namun sungai ini kelihatan eksotis karena banyaknya pepohonan besar nan rindang hingga terlihat bersih dan jernih.

Sore itu terik mata hari bersinar penuh dengan suhu udara 29 derejat di kota Seoul tidak begitu terasa karena teduhnya pepohonan disana. Di negeri gingseng ini masih berada di musim panas. Berkesempatan menyinggahi sejenak kota Seoul ini bersama rombongan jurnalis lainnya bersama BNI yang akan membuka cabang di kota asal eletronik merek Samsung itu.

Tanpa sengaja, di kawasan pusat kota melihat sungai bernama Ogansugyo. Sungai ini membelah kawasan kota yang membujur dari barat ke timur. Sungai yang memanjang ini terlihat bersih dan rapi. Kanan dan kiri sungai yang terdapat banyak pohon besar ini diapit jalan dan gedung pencakar langit.

Sungai ini tidak terlalu besar, lebarnya hanya sekitar 7 sampai 9 meter saja. Kedalaman airnya juga sekitar 50 cm sampai 70 cm saja. Namun sebalah utara bibir sungai diberi jalan setapak. Untuk menuruni ke sungai ini diberikan tangga. Dindingnya dibeton dihiasi rerumputan. Bagian sisi selatan sungai dibiarkan pohon hijau tumbuh dengan alami dan bukan ditanam pohon palem seperti di Jakarta sehingga tetap panas dan terik tanpa nilai tambah sama sekali

Aliran air begitu jernih sehingga bebatuan di dasar kelihatan jelas. Ikan-ikan kecil menambah keindahan di dalam sungai yang tampak jelas. Kejernihan air si sungai ini bak ikan yang hidup di dalam aquarium. Tidak ada sampah berserakan di sekitarnya. Jangankan sampah, puntung rokok saja juga tidak ada di sekitar bantaran sungai tersebut.

Sore itu, sungai ini menjadi pemandangan tersendiri. Banyak warga menghabiskan waktunya duduk santai sejenak. Mereka berjalan kaki menelusuri jalan setapak di bantaran sungai. Ada juga warga yang duduk santai sambil menikmati makanan ringan. Namun warga yang duduk santai itu tidak akan meninggalkan sepotong sampah apapun di lokasi itu. Sesekali juga melintas warga yang lagi jogging.

Sekalipun sungai Ogansugyo ini membelah hiruk pikuknya kota Seoul, namun masyarakatnya dapat menjaga kebersihannya. Sungai itu dibiarkan mengalir tanpa harus dikotori. Tidak ada masyarakat yang memanfaatkan sungai ini sebagai tempat pembuangan sampah. Tidak terlihat juga jika sungai ini dijadikan tempat pemandian.

Sungai ini terbebas dari aktivitas pemandian warga atau dijadikan pencucian. Aliran mata air yang jernih dibiarkan begitu saja secara alami. Tak satu pengunjung pun yang berani merokok di kawasan ini. Bila saja dibandingkan sungai ini Nusantara, tentunya berbanding terbalik. Di Nusantara sungai adalah tempat pembuangan sampah paling efektif oleh masyarakat yang hidup di bantaran sungai.

Categories
Aneh Dan Lucu Banjir Di Indonesia Pencinta Lingkungan

Ahok Marah Besar Ketika Ditantang Untuk Bongkar Rumahnya Yang Berada Di Daerah Resapan Air


Gubernur Jakarta Basuki Tjahjana Purnama alias Ahok sewot bukan kepalang terhadap JJ Rizal, sejarawan jebolan Universitas Indonesia. Maklum, JJ Rizal menuding kebijakan Ahok tidak humanis ketika menggusur warga Kampung Pulo pada Kamis, 20 Agustus 2015. Dalam cuitannya, JJ Rizal mengatakan, “Kalo Ahok konsisten menggusur (warga) Kampung Pulo karena dianggap tinggal di lahan hijau/resapan, maka dia harus menggusur juga dong lingkungan rumahnya di Pantai Mutiara.”

Pantai Mutiara merupakan lahan hasil reklamasi yang letaknnya di Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. “Sejarawan gak ngerti ilmu aja, sok ngerti ilmu banjir,” katanya, Minggu, 23 Agustus 2015. Ahok menyarankan agar JJ Rizal datang ke Kementerian Pekerjaan Umum dan berdiskusi soal proyek antisipasi banjir Ibu Kota dengan para ahli di sana. “Datang saja ke sana, supaya pinter,” katanya.

Namun dia menolak ajakan JJ Rizal untuk berdebat soal sejarah wilayah Pluit, Pantai Mutiara, dan Pantai Indah Kapuk, kawasan hutan mangrove yang kini sudah menjadi permukiman mewah di Jakarta Utara. “Apa yang mau diperdebatkan lagi?

Nah, siapa yang benar? Ahok atau JJ Rizal? Restu Gunawan, sejarawan yang pernah meneliti akar masalah banjir di Jakarta, punya pendapat. Penulis buku Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa ini membenarkan sinyalemen JJ Rizal bahwa daerah Teluk Gong, Pluit, Krendang, dan sekitarnya memang dulu merupakan kawasan resapan air.

Ketika dihubungi pada Minggu, 23 Agustus 2015, Restu menjelaskan, pada 1911, pemerintah kolonial Belanda pernah melakukan penelitian di sungai-sungai di Jakarta. Berdasarkan hasil riset itu, penjajah Belanda membuat rencana induk tata kota Batavia pada 1913. Pada cetak biru penanganan banjir Jakarta seratus tahun yang lalu itulah pertama kalinya pintu air Manggarai-Karet menuju utara digagas. Namun, zaman berubah, keinginan penguasa pun turut berubah. Restu bercerita bagaimana pemerintah Orde Baru bertindak sembrono dengan mengabaikan rencana tata ruang Jakarta.

Pada era Presiden Soeharto, keinginan para pengusaha untuk mengembangkan kawasan permukiman mewah di bibir Teluk Jakarta tak terbendung. Pembangunan masif dan reklamasi di pantai yang sebelumnya menjadi area hutan bakau pun dimulai. “Itu semua mulai terjadi pada 1990-an,” kata Restu

Kalau didaerah kampung pulo sudah dimulai pada tahun 1970 atau 20 tahun lebih awal.

Sejak saat itulah, kata Restu, problem banjir Jakarta makin runyam. “Sebenarnya, selama pembangunan di Pluit menyesuaikan dengan masterplan semula, tidak masalah. Artinya, harus tetap memperhatikan wilayah resapan,” tuturnya. Sebagai sejarawan, Restu rupanya punya pemahaman sendiri soal prinsip dasar penanganan banjir. “Kalau rumah manusia menggusur rumah air, ya, airnya akan ngamuk. Jadi, kalau mau bangun rumah manusia, airnya dibuatkan rumah dulu.”

Categories
Pencinta Lingkungan Perekomonian dan Bisnis

Ahok Ditantang Adu Nyali Untuk Bongkar Perumahan Mewah Elite Di Daerah Resapan Air


Anggota Dewan Perwakilan Daerah, Fahira Fahmi Idris, menantang Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama untuk menggusur mal dan perumahan elite yang berada di daerah resapan air. Menurut dia, Ahok seharusnya tak hanya berani terhadap masyarakat kecil, seperti warga Kampung Pulo.

“Saya tantang Pak Ahok untuk berani gusur juga perumahan elite dan mal yang berdiri di lahan resapan air. Pak Ahok jangan hanya keras dan berani kepada warga kecil saja! #BangunTanpaGusur,” cuit Fahira melalui akun Twitter-nya, Jumat, 21 Agustus 2015.

Fahira memprotes langkah Ahok yang menggusur warga Kampung Pulo hingga terjadi bentrok antara warga dan polisi. “Saya sangat menyesalkan penggusuran ini berujung bentrokan warga #KampungPulo dengan polisi dan Satpol PP #BangunTanpaGusur,” kicaunya.

Anak mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris itu meminta Ahok melakukan moratorium penggusuran. Menurut dia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seharusnya bersikap bijak dengan menghentikan sementara penggusuran kampung-kampung lain di bantaran Ciliwung. “Sampai benar-benar ada kesepakatan dengan warga dan mencari tahu apakah kampung yang akan digusur pernah dijanjikan akan dibangun kampung deret atau tidak,” cuitnya.

Fahira berujar, ternyata warga sempat dijanjikan pembangunan kampung deret di Kampung Pulo, bukan direlokasi ke rumah susun. Bahkan, tutur dia, konsepnya pun telah dipresentasikan ke Pemprov DKI. Meski beberapa kali disebut Fahira dalam cuitannya, akun Ahok, @basuki_btp, belum menanggapinya. Sebelumnya, Fahira juga memprotes keras kebijakan Ahok terkait dengan minuman beralkohol atau bir.

Pemerintah Kota Jakarta Timur telah menertibkan warga Kampung Pulo yang berada di sepanjang jalur normalisasi Ciliwung. Sebanyak 920 kepala keluarga terkena dampak penggusuran tersebut. Mereka akan dipindahkan ke Rusun Jatinegara Barat. Penggusuran diwarnai bentrok lantaran warga merasa tidak terima dengan kebijakan pemerintah.

Categories
Pencinta Lingkungan

2.000 Pecinta Alam Lakukan Pendakian Gunung Talang


Sebanyak 2000 orang pecinta alam dari berbagai daerah melakukan pendakian bersama puncak Gunung Talang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat dalam rangka menyambut peringatan HUT RI ke 70 tahun 2015. Pendakian bersama puncak Gunung Talang itu dilepas Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Solok HM Saleh, didampingi Kepala Dinas Pariwisata setempat M Alfajri, di lapangan komplek perkantoran bupati di Arosuka, Minggu.

“Atas nama pemerintah daerah Kabupaten Solok saya mengucapkan selamat dan terimakasih kepada seluruh panitia pelaksana pendakian bersama Gunung Talang bertemakan safe our mount atau selamatkan gunung kami,” kata M Saleh. Ia mengapresiasi maksud dan tujuan mulia ini, dalam rangka menanamkan rasa kemerdekaan terhadap generasi muda, juga meningkatkan minat masyarakat untuk senantiasa peduli terhadap lingkungan.

Pendakian bersama ini juga dalam rangka memasyarakatkan pesona wisata gunung, khususnya wisata Gunung Talang dan menumbuhkan rasa kebersamaan para penggiat dan pecinta alam. “Doa kita semua, agar seluruh peserta diberi kesehatan dan lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa dan selamat pulang pergi,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Solok M Alfajri didampingi Ketua Panitia Pelaksana Armon Agus mengatakan, visi misi Kabupaten Solok adalah terwujudnya kepemerintahan yang baik menuju masyarakat sejahtera. Untuk melaksanakan visi tersebut Kabupaten Solok membangun kepariwisataan sebagai kekuatan ekonomi strategis.

Ia melihat animo peserta yang masih terus berdatangan hingga Minggu sore ke Arosuka, diperkirakan pendakian bersama puncak Gunung Talang akan diikuti 2000 orang lebih. Sebanyak 500 orang pendaki dari berbagai kelompok pecinta alam sudah melalukan pendakian terlebih dahulu pada Sabtu (15/8).

Pendakian puncak Gunung Talang pada 2014 diikuti 1000 peserta. Pendakian tahun ini merupakan kegiatan kedua yang digelar Dinas Pariwisata Kabupaten Solok, dalam rangka mempromosikan pariwisata ke dunia luar.Ia menerangkan, pendakian bersama ke titik lokasi yang ditetapkan panitia di kawasan puncak Gunung Talang ditempuh melalui jalur Air Batumbuak di Kecamatan Gunung Talang.

“Pada 17 Agustus tepat pukul 09.00 Wib seluruh panitia dan pendaki akan melakukan upacara bendera dengan tema semangat Merdeka Gunung Talang,” katanya.

Categories
Bencana Alam Pencinta Lingkungan

Hujan Es dan Suhu -3 Terjang Kawasan Puncak


Wakil Bupati Puncak, Repinus Telengen menyatakan, hujan es merupakan siklus tahunan di tiga kampung di daerahnya dan kerap membuat warganya dilanda kelaparan. Kampung yang terancam kelaparan itu, letaknya sangat terisolir, tak ada penerangan dan sinyal komunikasi. Ketiga yang dilanda hujan es itu yakni Kampung Agamdugume, Tuput dan Jiwot di Distrik Agandugume, Kabupaten Puncak, Papua. Hujan es yang turun sebulan terakhir menyebabkan gagal panen dan banyak ternak milik warga yang mati. Namun sejauh ini belum ada laporan adanya warga yang tewas.

“Belum dilaporkan adanya yang meninggal akibat hujan es. Namun masyarakat di sana sangat membutuhkan makanan dan pakaian. Suhu di kampung tersebut jika malam hari dikabarkan minus 3 derajat Celsius, sementara pada siang hari 10 hingga 13 derajat Celsius,” kata Repinus Telengen kepada wartawan, Senin (13/7/2015).

Disebutkan Repinus, hujan es tahun ini dianggap oleh masyarakat setempat sebagai hujan es yang tergolong panjang dan ekstrim. Selain dinginnya cuaca di daerah itu, oksigen juga menipis, sebab tiga kampung terletak di ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut (mdpl). “Hari ini baru bisa didistribusikan delapan karung beras ukuran 50 kilogram. Sebab untuk masuk ke daerah itu hanya dapat ditempuh dengan pesawat berbadan kecil yang hanya bisa ditumpangi 8 orang penumpang,” katanya.

Disebutkan, saat ini, masih ada enam ton bahan makanan yang tertahan di Timika, karena tidak adanya pesawat terbang maupun helikopter yang mampu terbang ke kampung tersebut. Kabupaten Puncak merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Puncak Jaya pada tahun 2008. Kabupaten ini merupakan kabupaten tertinggi se-Indonesia. Kabupaten Puncak juga merupakan lokasi puncak Cartensz yang bersalju.

Gubernur Papua Lukas Enembe menyatakan, hujan es yang terjadi di Kabupaten Puncak merupakan fenomena alam biasa. Daerah itu memang kerap dilanda hujan es. Terkait dengan ancaman kelaparan yang dialami warga karena hujan es itu, Lukas Enembe menyatakan saat ini Wakil Bupati Puncak, Repinus Telenggen sedang menuju ke lokasi tiga kampung yang dikabarkan dilanda hujan es itu.

“Saya sudah komunikasi dengan Bupati Puncak, Willem Wandik dan bupati menyebutkan dia bertanggung jawab atas nasib rakyat di sana,” kata Lukas kepada wartawan di Jayapura, Senin (13/7/2015). Saat ini, kata Lukas, pihaknya masih menunggu laporan lanjutan dari Pemkab Puncak. Mereka akan mencermati apa saja yang dibutuhkan mendesak dan segera ditangani. Tiga kampung yang dilanda hujan es itu yakni Kampung Agamdugume, Tuput dan Jiwot di Distrik Agandugume, Kabupaten Puncak. Hujan es yang turun sebulan terakhir menyebabkan gagal panen dan banyak ternak milik warga yang mati.

Categories
Pencinta Lingkungan Perekomonian dan Bisnis

Waduk Jatigede Siap Digenangi Air


Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat akan segera dialiri air pada 1 Agustus mendatang. Seiring dengan hampir selesainya proses ganti rugi terhadap lahan warga di area waduk tersebut. Di samping itu, sekarang juga tengah dilakukan pemotongan 800.000 pohon, sekaligus pembersihan. Dengan tujuan tidak lagi ada pohon yang membusuk bila terkena air nantinya. “Kalau kayu itu terkena air, begitu busuk kan menghasilkan gas methana. Itu menghasilkan efek gas rumah kaca. Makanya harus ditebang,” ungkap Mudjiadi, Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)

Beberapa pohon di antaranya adalah jati, mahoni dan pinus. Mudjiadi menuturkan proses ini tengah berlangsung dan akan selesai dalam waktu dekat. Sementara akar, tonggak dan sampah tebangan pohon, semuanya ditimbun di dalam tanah. “Pokoknya sebelum digenangi, masalah ini selesai,” sebutnya.Kemudian, satwa langka yang tadinya berada di dalam area waduk Jatigede sudah diselamatkan. Pengusiran satwa dilakukan oleh BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) dan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kab. Sumedang.

Ancaman-Bahaya-Waduk-Jatigedes

“Satwa itu sudah diusirkan, dihalau supaya keluar dari waduk. Itu sudah dilakukan,” terang Mudjiadi. Disamping itu, pemerintah juga menjalankan program reboisasi, khususnya di bagian hulu Cimanuk. Karena daerah tersebut sudah gundul dan sulit menyerap air dengan kapasitas besar. “Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup sudah punya program reboisasi. Tapi kita pastikan untuk sedimentasi tidak akan 0. Ini sudah diperhitungkan volume dan periode berapa tahun,” paparnya.Isu penolakan pembangunan waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat marak diperbincangkan di media sosial. Bahkan ada sebuah infografis yang memaparkan cukup rinci terkait risiko gempa serta kerusakan sejarah dan budaya dari pembangunan waduk.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mudjiadi menjelaskan pembangunan waduk sudah melalui proses studi kelayakan (feasibility study) yang sangat panjang dan rinci.Sama seperti pembangunan waduk lainnya, risiko gempa juga menjadi perhatian serius. Bila tidak, maka akan berbahaya untuk masyarakat di sekitarnya.”Waktu perencanaan, semua waduk itu sudah dihitung risikonya terhadap gempa. Bukan Jatigede saja, tapi semuanya. Bangunan tinggi itu juga ada perhitungannya,” ungkapnya

Risiko terjadinya gempa pada waduk Jatigede, kata Mudjiadi memang pasti ada. Namun sudah diminimalisir dengan teknologi serta berbagai perhitungan teknis lainnya. Bahkan dengan kondisi gempa sekian skala richter, antisipasinya telah disiapkan.”Risiko ada, tapi sudah meminimalisir. Jadi dengan gempa sekian skala richter masih bisa bertahan. Bangunan yang didesain tahan terhadap gempa,” jelasnya. Seperti diketahui waduk seluas 5.000 hektar tersebut akan selesai diairi 7 bulan setelah 1 Agustus, atau setara 219 hari proses pengairan. Jatigede merupakan waduk kedua terbesar di Indonesia setelah waduk Jatiluhur.

Waduk tersebut akan bermanfaat untuk mengairi persawahan 90.000 hektar, ketersediaan air bersih, dan PLTA 110 megawatt. Waduk Jatigede di Sumedang, Jawa Barat bakal segera diisi air dua bulan mendatang atau mulai 1 Agustus 2015. Ada empat fungsi utama waduk terbesar kedua di Indonesia ini bila telah beroperasi penuh. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung, Trisasongko Widiyanto mengatakan waduk seluas 5.000 hektar tersebut akan selesai diairi 7 bulan setelah 1 Agustus, atau setara 219 hari proses pengairan.

Ada manfaat utama dari ‎keberadaan waduk terbesar ke-2 di Indonesia, setelah Jatiluhur ini. Pria yang akrab disapa Widy ini mengatakan yang manfaat pertama adanya waduk Jatigede bisa mengairi persawahan hingga 90.000 hektar. “In take irigasinya 90.000 hektar dari sini. Bisa ke Majalengka,” kata Widy di Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat, Jumat (26/6/2015). Kedua, waduk berkapasitas hampir 1 miliar meter kubik ini juga bisa dijadikan sumber air baku dengan kecepatan 3,5 kubik per detik. Air baku ini bisa digunakan untuk kepentingan wilayah di Sumedang, Majalengkan, hingga ke Cirebon. “Termasuk Bandara Kertajati nanti pasokan air baku-nya dari sini,” tuturnya.

Ketiga, waduk Jatigede bisa menjadi sumber tenaga bagi PLTA dengan kapasitas hingga 110 megawatt (MW). “Keempat adalah bisa mencegah banjir di 14 ribu hektar kawasan di daerah sini. Air banjir itu yang biasanya bablas akan tertahan di waduk ini,” tutup Widy. Ada fenomena ‘rumah hantu’ yang mencapai ribuan unit di lahan proyek Waduk Jatigede di Sumedang, Jawa Barat. Rumah-rumah ini tak berpenghuni, lokasinya di wilayah yang akan digenangi air.

‎’Rumah-rumah hantu’ tersebut dibangun oleh warga sekitar agar dapat kompensasi atau uang santunan saat bangunannya akan digusur pemerintah untuk pembangunan waduk. ‎Sebagian rumah ada yang berukuran tak begitu besar, hanya pondasi kayu ditutupi dinding, kebanyakan terbuat dari bambu dan beratapkan genting. Namun di dalamnya tak ada ruangan apapun, kamar mandi ataupun kamar tidur, semuanya lowong. Menurut pihak Kementerian Pekerjaan Umum, masyarakat sengaja membangun rumah tersebut agar bisa mengklaim ganti rugi saat digusur.

Saat menelusuri keberadaan rumah hantu tersebut, Jumat (26/6/2015), beberapa ‘rumah hantu’ sudah diratakan dengan tanah. Ada beberapa yang masih berdiri kokoh khususnya yang berlokasi kecamatan Jatigede, tak jauh dari dasar cekungan kawasan bendungan. Bahkan ada beberapa di antaranya yang niat mengecat ‘rumah hantu’ tersebut, agar terlihat seperti asli. Namun, jangankan ditinggali, aliran listrik pun sama sekali tak ada di rumah tersebut. Semuanya berdiri di tengah-tengah semak belukar, benar-benar seperti rumah hantu.

Kepala Balai Besar wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung, Trisasongko Widianto mengatakan, ada sekitar 11.000 rumah hantu yang harus dibereskan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.”Ada banyak rumah hantu juga di area genangan, disebutnya rumah hantu,” tutur Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Mudjiadi di lokasi.Mulai hari ini, sebanyak 2.000 kepala keluarga (KK) dari 11.000 lebih KK di wilayah Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat diberikan santunan. Sebanyak 1.000 lebih KK diberikan santunan Rp 122 juta, dan sisanya diberikan Rp 29 juta/KK. Apa tanggapan warga?

Santunan ini diberikan, agar warga mau pindah dari kawasan waduk, sehingga waduk bisa diisi oleh air.Idi, seorang warga desa Ciraung, Kecamatan Jatinunggal mendapatkan santunan Rp 122 juta. “Saya sedang diberikan Rp 122 juta ini,” kata Idi saat pemberian santunan di SMPN 1 Jatigede, Sumedang, Jumat (26/6/2015).Bapak yang berprofesi sebagai buruh bangunan ini bercerita, dirinya tinggal di kawasan waduk sejak 1984. Pada 1987, dia pernah disuruh pindah namun tidak mau karena belum mendapatkan kompensasi yang pantas.

“Dulu dijanjikan uang untuk relokasi, tapi baru dibayarkan sekarang. Dulu saya dapatnya Rp 7.000 per tumbak. Sekarang akhirnya dapat segini. Ini buat tambah biaya-biaya sekolah anak. Saya punya 4 anak. Saya juga mau beli tanah untuk modal usaha,” jelas idi.Tumbak biasa digunakan sebagai media alat ukur pengukuran tanah secara tradisional. Biasanya 1 tumbak sama dengan 14 meter persegi.

Dia berharap, waduk ini bisa dijadikan tempat wisata, dan juga sarana pengairan sawah agar masyarakat bisa berusaha. “Saya tidak bisa menolak, saya ikut senang saja,” ujar idi. Sementara Dewi, warga lainnya mengatakan, dulu dirinya hanya mendapatkan uang ganti rugi Rp 8 juta untuk 1 hektar sawah dan 3 rumah. Dia senang mendapatkan santunan Rp 122 juta ini. “Dulu dapat Rp 8 juta mengorbankan 1 hektar sawah, 3 rumah. Tapi saya tidak dikasih uang untuk relokasi, jadi biaya bangunannya. Sekarang dapat Rp 122 juta untuk 6 bulan. Ada juga uang relokasi yang tidak dibayar. Ini untuk keperluan sehari-hari. Dicukup-cukupi lah, diambil barokahnya saja,” kata Dewi.

Ada juga warga yang diberikan santunan Rp 29 juta. Salah satunya Ajun, yang mendapatkan Rp 29 juta, karena neneknya sudah mendapatkan Rp 122 juta untuk santunan relokasi. Santunan sebesar itu diberikan kepada keluarga yang punya pecahan keluarga baru dari keluarga intinya.”Nenek saya Rp 122 juta tapi saya tidak dapat, karena saya pecahan KK. Saya memang bukan warga situ. Sekarang dapat santunan Rp 29 juta. Saya inginnya dapat seperti nenek saya. Tapi kalau sudah begini diterima saja. Harapannya biar bisa berkah,” ujar Ajun.

Setelah menunggu waktu yang cukup panjang, akhirnya Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat siap digenangi air pada 1 Agustus 2015. Waduk ini nantinya merupakan waduk kedua terbesar di Indonesia, setelah Jatiluhur. Akan tetapi menjelang operasional tersebut, menangkap isu penolakan di media sosial. Salah satunya, infografis mengenai ancaman bahaya serta kerusakan sejarah dan budaya dari pembangunan waduk.

Infografis tersebut memaparkan sekilas gambar dari waduk yang sudah digenangi air. Tertulis kutipan dari Dosen Geologi Unpad, Emi Sukiyah yang menyebutkan infrastruktur sebesar waduk jatigede tidak seharusnya dibangun di sana, lempeng tektonik aktif dan episentrum gempa, membahayakan.Kemudian diceritakan ada beberapa risiko bahaya. Seperti gempa yang dimungkinkan terjadi sebesar 8 SR dan ada lempeng tektonik aktif yang merupakan patahan aktif baribis.

Kondisi hulu cimanuk gundul membuat debit air berkurang 40%. Ada pedangkalan waduk yang membuat sedimentasi 16 juta ton/tahun, erosi tanah serta dampak ke kawasan di sekitar waduk. Di samping itu terkait dengan aspek kerusakan sejarah dan budaya yang ditimbulkan. Setidaknya 33 situs cagar budaya, ratusan rumah adat, 11.00 rumah warga, ribuan hewan ternak dan 31.000 sawah dan kebun subur akan tenggelam.

Categories
Pariwisata Pencinta Lingkungan

Daftar 6 Tujuan Wisata Paling Asyik Di Kepulauan Seribu


Traveling bareng teman ke pantai merupakan salah saktu aktivitas yang disukai anak muda. Buat kamu yang tinggal di Jakarta, setidaknya ada 6 destinasi di Kepulauan Seribu yang bisa buat seru-seruan sama teman atau gebetan. Contohnya saja ada Pulau Tidung dengan jembatan cintanya, hingga Pulau Papatheo yang belum populer namun indah. Dihimpun, Kamis (18/6/2015) berikut 6 destinasi di Kepulauan Seribu buat anak muda:

1. Pulau Tidung
Nama Pulau Tidung memang sudah sangat populer dan tergolong mainstream. Namun nyatanya, tidak sedikit anak muda yang singgah ke Pulau Tidung saat traveling ke Kepulaun Seribu. Pulau Tidung memang asyik sih buat seru-seruan! Pulau Tidung juga punya Jembatan Cinta yang selalu dipadati traveler yang sudah berpasangan maupun single. Jembatan yang mengubungkan Pulau Tidung Besar dan kecil itu sering dipakai untuk terjun bebas ke laut. Salah satu aktivitas seru di Pulau Tidung. Traveler juga bisa bersantai di Pulau Tidung Besar. Namun jika ingin wisata sekalian edukasi, bisa melihat budidaya mangrove oleh penduduk sekitar di Pulau Tidung Kecil. Tidak sedikit juga yang snorkeling atau diving di sini.

2. Pulau Semak Daun
Kalau Pulau Tidung asyik buat seru-seruan, Pulau Semak Daun juga kok. Umumnya traveler menjadikan Pulau Semak Daun sebagai tempat kemping untuk island hopping. Berhubung tidak dihuni, pulau tersebut memang ideal untuk kemping maupun sekedar bersantai. Di sana traveler bisa bermain di tengah hamparan pasir yang sangat bersih. Tapi saat Anda ke sini, jangan mengotori dan merusak kelestarian alam ya. Traveler juga dianjurkan untuk datang beramai-ramai datang ke pulau ini, tentu agar suasana makin seru.

3. Pulau Bira
Kalau di Sulsel ada Pantai Tanjung Bira, maka Kepulauan Seribu juga punya Pulau Bira. Walaupun berbeda, tapi Pulau Bira tidak kalah kok dengan Pantai Tanjung Bira. Sekedar info, Pulau Bira terletak di dalam kawasan Pulau Harapan. Kekhasan Pulau Bira juga tampak pada pasir pantainya yang bersih dan halus di kaki. Selain itu, di sana juga tersedia wahana watersport yang siap menantang jantung Anda berdegup kencang. Berenang juga menjadi aktivitas yang sering dilakukan di Pulau Bira. Jika ingin ke Pulau Bira, tinggal berangkat dari Pelabuhan Muara Angke sekitar 3-4 jam menuju Pulau Kelapa. Kemudian, perjalanan dilanjutkan dengan boat kecil menuju pulau cantik ini.

4. Pulau Pari
Destinasi berikutnya adalah Pulau Pari. Ya, pulau yang namanya sama dengan jenis ikan pari ini cukup sering didatangi anak muda. Fakta unik lainnya, Pulau Pari juga dijadikan sebagai kawasan Pusat Penelitian Kelautan LIPI. Umumnya traveler yang singgah ke sini bisa melakukan aktivitas keliling pulau dengan sepeda, duduk di pantai, sambil menunggu matahari terbenam di sore hari. Ada banyak kegiatan santai yang dapat dilakukan di Pulau Pari. Tidak sedikit juga traveler yang snorkeling atau diving di Pulau Pari. Selain itu, di Pulau Pari juga terdapat hutan bakau yang dapat dijelajahi.

5. Pulau Pantara
Pulau Pantara disebut-sebut sebagai pulau terjauh di Kepulauan Seribu. Saking jauhnya, traveler yang datang ke sini dianjurkan untuk menginap minimal satu hari di sini. Asyiknya dari Pulau Pantara, ada banyak fasilitas lengkap yang dapat traveler nikmati. Fasilitas seperti jetski, banana boat, kano, snorkeling bahkan diving ada di sini. Jadi traveler cukup bawa diri saja ke Pulau Pantara, dan bisa langsung menikmati semua fasilitas yang ada sesuai kocek. Untuk mencapai Pulau Pantara, dibutuhkan waktu sekitar 2 jam dari Dermaga Marina Ancol dengan perjalanan laut menggunakan perahu cepat. Pulau ini juga menawarkan resor di atas laut dengan pemandangan mempesona.

6. Pulau Papatheo
Destinasi seru terakhir di Kepulauan Seribu adalah Pulau Papatheo atau Pulau Petondan kecil. Pulau tersebut memang belum sepopuler pulau lainnya, namun tidak kalah indah dan mempesona. Adapun traveler yang datang ke Pulau Papatheo menghabiskan waktu untuk menyaksikan sunset indah dari tepian pantainya. Pulau Papatheo juga disebut-sebut memiliki alam bawah laut indah, beserta bangkai kapal karam yang berjarak tidak jauh dari pulau. Mumpung weekend akan segera tiba, mungkin kamu dan teman-teman bisa merencanakan untuk island hoppping di Kepulauan Seribu. Ada banyak destinasi indah yang bisa dihampiri buat seru-seruan bareng.