Category Archives: Pencinta Lingkungan

Permukaan Tanah Di Pluit Alami Penurunan 1,8 – 3 Meter Per Tahun


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mewanti-wanti bahwa ancaman rob di masa datang makin serius. Rob ini imbas turunnya muka air tanah karena eksploitasi air tanah yang berlebihan. “Penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah yang tidak terkendali membuat Jakarta Utara semakin rawan banjir rob. Penurunan tanah di pantura Jakarta bukan sesuatu yang bersifat alamiah. Tapi lebih disebabkan faktor pengaruh manusia yaitu eksploitasi air tanah yang melebihi daya tampung dan daya dukungnya,” jelas Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Pengambilan air tanah yang besar-besaran inilah, imbuh dia, yang menyebabkan akuifer dalam tanah kempes sehingga tanah ambles. Akuifer adalah lapisan bawah tanah yang mengandung air dan dapat mengalirkan air. Melalui akuifer inilah air tanah dapat diambil. “Selain itu ada faktor alami yaitu kenaikan muka air laut. Kombinasi antara turunnya tanah dan naiknya muka air laut itulah yang menyebabkan rob,” jelasnya.

Di kawasan pantai utara Jawa, khususnya di Jakarta Utara dan Kota Semarang, banjir rob berada di kawasan yang lebih rendah dibandingkan permukaan air laut. Daerah ini secara alamiah memang lebih rendah daripada muka air laut saat pasang tertinggi. Supto menegaskan Jakarta ancaman rob di Jakarta akan makin meningkat di masa mendatang karena penurunan permukaan tanah terus menurun tanpa bisa dikendalikan. Dari hasil pengukuran tahun 1925-2010, permukaan air laut Jakarta selalu naik setiap tahun. Kenaikannya rata-rata 0,5 sentimeter (cm) per tahun.

“Sebaliknya, laju penurunan muka tanah Jakarta mencapai 5 cm hingga 12 cm per tahun di sejumlah titik selama tiga dekade terakhir. Kondisi itu yang menyebabkan akumulasi permukaan air laut yang menggenangi tanah Jakarta jadi lebih tinggi,” tuturnya. Sutopo memaparkan hasil penelitian ITB yang dijalankan selama 1982-2010 dengan teknologi survei sifat datar (leveling survey) dan menggunakan alat global positioning system serta radar (Insar), ditemukan penurunan muka tanah tersebar di sejumlah tempat di Jakarta.

“Penurunannya bervariasi 1-15 cm per tahun. Bahkan, di beberapa lokasi terjadi penurunan 20-28 cm per tahun. Kawasan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, adalah salah satu kawasan yang mengalami penurunan muka tanah cukup besar. Selama tiga dekade ini, beberapa daerah di Pluit mengalami penurunan tanah 1,8 meter hingga 3 meter,” papar dia.

Saat ini di Jakarta Utara wilayah ada 26 titik rawan banjir rob meliputi Penjaringan, Pluit, Kamal Muara, Kapuk Muara, Tanjung Priok, Kalibaru, Ancol, Pademangan, Marunda, Koja, Lagoa, Sunter Karya Selatan, Papanggo, Sunter Agung, Warakas, Kebon Bawang, Sungai Bambu, Jampea, Kramat Jaya, Kelapa Gading, KBN Cakung, Sunter Jaya, dan Yos Sudarso.

“Ancaman rob di masa mendatang akan makin serius sehingga dapat menyebabkan wilayah Utara Jakarta tidak menarik untuk investasi atau pengembangan wilayah jika tidak dapat mengatasi rob. Perlu upaya yang komprehesif untuk mengatasi banjir rob karena ancaman di masa mendatang akan lebih meningkat,” tuturnya. Masyarakat, lanjut dia, harus adaptasi dan mitigasi dengan rob tersebut. Masyarakat dan pemerintah bisa membuat tanggul, meninggikan lantai, membangun rumah panggung dan lainnya. Bahkan secara swadaya membangun polder dan pompa untuk melindungi lingkungannya. Masyakarat dan dunia usaha yang ada di wilayah itu harus kompak tidak mengeksploitasi air tanah secara berlebihan. Membangun sumur resapan, biopori, dan upaya lain yang intinya menakan agar penurunan muka tanah dapat berkurang.

“Pemda DKI Jakarta dan Kementerian PU Pera telah memiliki langkah-langkah antisipasi rob dan banjir di Jakarta, seperti pembangunan tanggul laut raksasa, reklamasi, pembangunan polder, tanggul di pantai dan upaya struktural lainnya. Tentunya saja upaya tersebut selalu ada yang pro dan kontra,” jelasnya. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan soal penyebab banjir rob di Jakarta Utara dua hari terakhir, termasuk fenomena gelombang tinggi di beberapa daerah. Bagaimana penjelasannya?

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Yunus S. Swarinoto, menjelaskan kenaikan tinggi muka air laut atau banjir rob di beberapa lokasi di Pantai Utara Jawa yang terjadi pada tanggal 5 dan 6 Juni 2016 diakibatkan oleh pengaruh astronomi terjadinya bumi, bulan dan matahari berada dalam satu garis lurus (spring tide ) yang mengakibatkan naiknya tinggi muka laut.

Menurut Yunus, kondisi ini merupakan siklus rutin bulanan yang normal terjadi. Namun karena bersamaan dengan terjadinya anomali positif tinggi muka air laut di wilayah Indonesia sebesar 15 – 20 cm, maka kondisi ini memberikan dampak yang menimbulkan kerugian materi di beberapa wilayah seperti pesisir Jakarta, Pekalongan, dan Semarang. “Kondisi ini diperkirakan akan bertahan hingga 2 hari ke depan,” terang Yunus. Sedangkan untuk gelombang pasang yang terjadi di Barat Sumatera dan Selatan Jawa hingga NTT selain disebabkan adanya pengaruh seperti terjadinya rob, namun juga diperkuat dengan adanya penjalaran alun (swell) yang dibangkitkan dari pusat tekanan tinggi subtropis di barat daya Australia.

Potensi gelombang tinggi ini masih akan terjadi hingga 5 hari ke depan, di beberapa wilayah berikut :

– Perairan utara dan barat Aceh;
– Perairan barat Nias – Mentawai;
– Perairan Bengkulu – Kep. Enggano;
– Perairan barat Lampung;
– Perairan selatan Banten hingga Jawa Timur; dan
– Perairan selatan Bali, NTB dan NTT.

“Dengan kondisi gelombang laut yang masih cukup tinggi di beberapa wilayah Indonesia, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan siaga, terutama masyarakat pesisir pantai barat Sumatera dan selatan Jawa hingga NTT untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gelombang tinggi,” kata Yunus. Bagi masyarakat yang hendak memperoleh informasi terkini, BMKG membuka layanan informasi cuaca 24 jam. melalui: call center 0216546315/18; maritim.bmkg.go.id; follow @infobmkg; atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.

Rob atau banjir air laut karena pasang membawa rezeki untuk Nurohim (40). Sejak rob datang akhir pekan lalu, penghasilan dia naik. “Kalau di sini bajaj yang dapet banyak ya yang berani nerabas aja. Kalau yang biasa-biasa ya nggak berani. Kan ini banjir rob jadi ya beresiko juga kalo nerabas banjir gini,” sebut Nurohim yang ditemui di Muara Baru, Selasa (7/6/2016) sore. Nurohim mengaku penghasilan dia meningkat tajam. Ini karena dia nekat menerobos rob.

“Ya lumayan naik sampai 50%. Biasanya dapet 70 sampe 100 ribu, ini bisa lebih dari itu. Lumayanlah, tapi ya itu juga harus nekat,” tutur dia. Sebenarnya, Nurohim mengaku, rob bagaimanapun membawa kerugian buat bisnisnya. Terkadang dia mesti memutar agak jauh karena air pasang terlalu tinggi. “Kadang ada yang batalin pesenan juga karena kita naikin harganya. Kan rob,” imbuhnya.

Nurohim sudah 10 tahun menjadi sopir bajaj. Dia mengaku baru-baru ini saja rob datang. Dahulu tidak pernah dia merasakan. “Dulu sih nggak ada ya. Baru sekarang ini kayak gini,” tegasnya.

Advertisements

Kawasan Gunung Gede-Pangrango Terbakar


Kebakaran hebat kembali terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGP), Jawa Barat, Minggu (28/9). Dari informasi yang diterima CNN Indonesia, kebakaran telah menghanguskan lahan seluas 25 hektare (ha) di area Alun-Alun Suryakencana yang biasa menjadi tempat persinggahan para pendaki.

“Kami belum tahu pasti penyebabnya. Saat ini tim masih melakukan koordinasi untuk upaya pemadaman,” ujar Indra Aji Wirawan, Ketua organisasi relawan TNGP, Montana. Indra menduga, kebakaran berasal dari aktivitas perapian yang dilakukan sejumlah pendaki. Padahal pihak TNGP dan relawan telah melarang para pendaki membuat perapian di area TNGP.

“Di sini banyak pendaki ilegal yang tidak patuh aturan. Sekarang api sudah menjalar ke arah Gunung Gemuruh dan mudah-mudahan tidak ada korban dari kebakaran tersebut,” tutur Indra.Saat ini, kata Indra, puluhan relawan telah berkumpul di pos pendakian Gunung Putri yang berada di timur Gunung Gede. Tambahan relawan tadi akan diberangkatkan untuk membantu sejumlah orang yang tengah memadamkan api di kawasan Alun-Alun Suryakecnan

Seandainya Ciliwung Bisa Serindang Sungai Ogansugyo di Kota Seoul


Sungai Ogansugyo membelah padatnya gedung pencakar langit si Seoul, Korea Selatan (Korsel). Namun sungai ini kelihatan eksotis karena banyaknya pepohonan besar nan rindang hingga terlihat bersih dan jernih.

Sore itu terik mata hari bersinar penuh dengan suhu udara 29 derejat di kota Seoul tidak begitu terasa karena teduhnya pepohonan disana. Di negeri gingseng ini masih berada di musim panas. Berkesempatan menyinggahi sejenak kota Seoul ini bersama rombongan jurnalis lainnya bersama BNI yang akan membuka cabang di kota asal eletronik merek Samsung itu.

Tanpa sengaja, di kawasan pusat kota melihat sungai bernama Ogansugyo. Sungai ini membelah kawasan kota yang membujur dari barat ke timur. Sungai yang memanjang ini terlihat bersih dan rapi. Kanan dan kiri sungai yang terdapat banyak pohon besar ini diapit jalan dan gedung pencakar langit.

Sungai ini tidak terlalu besar, lebarnya hanya sekitar 7 sampai 9 meter saja. Kedalaman airnya juga sekitar 50 cm sampai 70 cm saja. Namun sebalah utara bibir sungai diberi jalan setapak. Untuk menuruni ke sungai ini diberikan tangga. Dindingnya dibeton dihiasi rerumputan. Bagian sisi selatan sungai dibiarkan pohon hijau tumbuh dengan alami dan bukan ditanam pohon palem seperti di Jakarta sehingga tetap panas dan terik tanpa nilai tambah sama sekali

Aliran air begitu jernih sehingga bebatuan di dasar kelihatan jelas. Ikan-ikan kecil menambah keindahan di dalam sungai yang tampak jelas. Kejernihan air si sungai ini bak ikan yang hidup di dalam aquarium. Tidak ada sampah berserakan di sekitarnya. Jangankan sampah, puntung rokok saja juga tidak ada di sekitar bantaran sungai tersebut.

Sore itu, sungai ini menjadi pemandangan tersendiri. Banyak warga menghabiskan waktunya duduk santai sejenak. Mereka berjalan kaki menelusuri jalan setapak di bantaran sungai. Ada juga warga yang duduk santai sambil menikmati makanan ringan. Namun warga yang duduk santai itu tidak akan meninggalkan sepotong sampah apapun di lokasi itu. Sesekali juga melintas warga yang lagi jogging.

Sekalipun sungai Ogansugyo ini membelah hiruk pikuknya kota Seoul, namun masyarakatnya dapat menjaga kebersihannya. Sungai itu dibiarkan mengalir tanpa harus dikotori. Tidak ada masyarakat yang memanfaatkan sungai ini sebagai tempat pembuangan sampah. Tidak terlihat juga jika sungai ini dijadikan tempat pemandian.

Sungai ini terbebas dari aktivitas pemandian warga atau dijadikan pencucian. Aliran mata air yang jernih dibiarkan begitu saja secara alami. Tak satu pengunjung pun yang berani merokok di kawasan ini. Bila saja dibandingkan sungai ini Nusantara, tentunya berbanding terbalik. Di Nusantara sungai adalah tempat pembuangan sampah paling efektif oleh masyarakat yang hidup di bantaran sungai.

Ahok Marah Besar Ketika Ditantang Untuk Bongkar Rumahnya Yang Berada Di Daerah Resapan Air


Gubernur Jakarta Basuki Tjahjana Purnama alias Ahok sewot bukan kepalang terhadap JJ Rizal, sejarawan jebolan Universitas Indonesia. Maklum, JJ Rizal menuding kebijakan Ahok tidak humanis ketika menggusur warga Kampung Pulo pada Kamis, 20 Agustus 2015. Dalam cuitannya, JJ Rizal mengatakan, “Kalo Ahok konsisten menggusur (warga) Kampung Pulo karena dianggap tinggal di lahan hijau/resapan, maka dia harus menggusur juga dong lingkungan rumahnya di Pantai Mutiara.”

Pantai Mutiara merupakan lahan hasil reklamasi yang letaknnya di Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. “Sejarawan gak ngerti ilmu aja, sok ngerti ilmu banjir,” katanya, Minggu, 23 Agustus 2015. Ahok menyarankan agar JJ Rizal datang ke Kementerian Pekerjaan Umum dan berdiskusi soal proyek antisipasi banjir Ibu Kota dengan para ahli di sana. “Datang saja ke sana, supaya pinter,” katanya.

Namun dia menolak ajakan JJ Rizal untuk berdebat soal sejarah wilayah Pluit, Pantai Mutiara, dan Pantai Indah Kapuk, kawasan hutan mangrove yang kini sudah menjadi permukiman mewah di Jakarta Utara. “Apa yang mau diperdebatkan lagi?

Nah, siapa yang benar? Ahok atau JJ Rizal? Restu Gunawan, sejarawan yang pernah meneliti akar masalah banjir di Jakarta, punya pendapat. Penulis buku Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa ini membenarkan sinyalemen JJ Rizal bahwa daerah Teluk Gong, Pluit, Krendang, dan sekitarnya memang dulu merupakan kawasan resapan air.

Ketika dihubungi pada Minggu, 23 Agustus 2015, Restu menjelaskan, pada 1911, pemerintah kolonial Belanda pernah melakukan penelitian di sungai-sungai di Jakarta. Berdasarkan hasil riset itu, penjajah Belanda membuat rencana induk tata kota Batavia pada 1913. Pada cetak biru penanganan banjir Jakarta seratus tahun yang lalu itulah pertama kalinya pintu air Manggarai-Karet menuju utara digagas. Namun, zaman berubah, keinginan penguasa pun turut berubah. Restu bercerita bagaimana pemerintah Orde Baru bertindak sembrono dengan mengabaikan rencana tata ruang Jakarta.

Pada era Presiden Soeharto, keinginan para pengusaha untuk mengembangkan kawasan permukiman mewah di bibir Teluk Jakarta tak terbendung. Pembangunan masif dan reklamasi di pantai yang sebelumnya menjadi area hutan bakau pun dimulai. “Itu semua mulai terjadi pada 1990-an,” kata Restu

Kalau didaerah kampung pulo sudah dimulai pada tahun 1970 atau 20 tahun lebih awal.

Sejak saat itulah, kata Restu, problem banjir Jakarta makin runyam. “Sebenarnya, selama pembangunan di Pluit menyesuaikan dengan masterplan semula, tidak masalah. Artinya, harus tetap memperhatikan wilayah resapan,” tuturnya. Sebagai sejarawan, Restu rupanya punya pemahaman sendiri soal prinsip dasar penanganan banjir. “Kalau rumah manusia menggusur rumah air, ya, airnya akan ngamuk. Jadi, kalau mau bangun rumah manusia, airnya dibuatkan rumah dulu.”

Ahok Ditantang Adu Nyali Untuk Bongkar Perumahan Mewah Elite Di Daerah Resapan Air


Anggota Dewan Perwakilan Daerah, Fahira Fahmi Idris, menantang Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama untuk menggusur mal dan perumahan elite yang berada di daerah resapan air. Menurut dia, Ahok seharusnya tak hanya berani terhadap masyarakat kecil, seperti warga Kampung Pulo.

“Saya tantang Pak Ahok untuk berani gusur juga perumahan elite dan mal yang berdiri di lahan resapan air. Pak Ahok jangan hanya keras dan berani kepada warga kecil saja! #BangunTanpaGusur,” cuit Fahira melalui akun Twitter-nya, Jumat, 21 Agustus 2015.

Fahira memprotes langkah Ahok yang menggusur warga Kampung Pulo hingga terjadi bentrok antara warga dan polisi. “Saya sangat menyesalkan penggusuran ini berujung bentrokan warga #KampungPulo dengan polisi dan Satpol PP #BangunTanpaGusur,” kicaunya.

Anak mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris itu meminta Ahok melakukan moratorium penggusuran. Menurut dia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seharusnya bersikap bijak dengan menghentikan sementara penggusuran kampung-kampung lain di bantaran Ciliwung. “Sampai benar-benar ada kesepakatan dengan warga dan mencari tahu apakah kampung yang akan digusur pernah dijanjikan akan dibangun kampung deret atau tidak,” cuitnya.

Fahira berujar, ternyata warga sempat dijanjikan pembangunan kampung deret di Kampung Pulo, bukan direlokasi ke rumah susun. Bahkan, tutur dia, konsepnya pun telah dipresentasikan ke Pemprov DKI. Meski beberapa kali disebut Fahira dalam cuitannya, akun Ahok, @basuki_btp, belum menanggapinya. Sebelumnya, Fahira juga memprotes keras kebijakan Ahok terkait dengan minuman beralkohol atau bir.

Pemerintah Kota Jakarta Timur telah menertibkan warga Kampung Pulo yang berada di sepanjang jalur normalisasi Ciliwung. Sebanyak 920 kepala keluarga terkena dampak penggusuran tersebut. Mereka akan dipindahkan ke Rusun Jatinegara Barat. Penggusuran diwarnai bentrok lantaran warga merasa tidak terima dengan kebijakan pemerintah.

2.000 Pecinta Alam Lakukan Pendakian Gunung Talang


Sebanyak 2000 orang pecinta alam dari berbagai daerah melakukan pendakian bersama puncak Gunung Talang di Kabupaten Solok, Sumatera Barat dalam rangka menyambut peringatan HUT RI ke 70 tahun 2015. Pendakian bersama puncak Gunung Talang itu dilepas Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Solok HM Saleh, didampingi Kepala Dinas Pariwisata setempat M Alfajri, di lapangan komplek perkantoran bupati di Arosuka, Minggu.

“Atas nama pemerintah daerah Kabupaten Solok saya mengucapkan selamat dan terimakasih kepada seluruh panitia pelaksana pendakian bersama Gunung Talang bertemakan safe our mount atau selamatkan gunung kami,” kata M Saleh. Ia mengapresiasi maksud dan tujuan mulia ini, dalam rangka menanamkan rasa kemerdekaan terhadap generasi muda, juga meningkatkan minat masyarakat untuk senantiasa peduli terhadap lingkungan.

Pendakian bersama ini juga dalam rangka memasyarakatkan pesona wisata gunung, khususnya wisata Gunung Talang dan menumbuhkan rasa kebersamaan para penggiat dan pecinta alam. “Doa kita semua, agar seluruh peserta diberi kesehatan dan lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa dan selamat pulang pergi,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Solok M Alfajri didampingi Ketua Panitia Pelaksana Armon Agus mengatakan, visi misi Kabupaten Solok adalah terwujudnya kepemerintahan yang baik menuju masyarakat sejahtera. Untuk melaksanakan visi tersebut Kabupaten Solok membangun kepariwisataan sebagai kekuatan ekonomi strategis.

Ia melihat animo peserta yang masih terus berdatangan hingga Minggu sore ke Arosuka, diperkirakan pendakian bersama puncak Gunung Talang akan diikuti 2000 orang lebih. Sebanyak 500 orang pendaki dari berbagai kelompok pecinta alam sudah melalukan pendakian terlebih dahulu pada Sabtu (15/8).

Pendakian puncak Gunung Talang pada 2014 diikuti 1000 peserta. Pendakian tahun ini merupakan kegiatan kedua yang digelar Dinas Pariwisata Kabupaten Solok, dalam rangka mempromosikan pariwisata ke dunia luar.Ia menerangkan, pendakian bersama ke titik lokasi yang ditetapkan panitia di kawasan puncak Gunung Talang ditempuh melalui jalur Air Batumbuak di Kecamatan Gunung Talang.

“Pada 17 Agustus tepat pukul 09.00 Wib seluruh panitia dan pendaki akan melakukan upacara bendera dengan tema semangat Merdeka Gunung Talang,” katanya.

Hujan Es dan Suhu -3 Terjang Kawasan Puncak


Wakil Bupati Puncak, Repinus Telengen menyatakan, hujan es merupakan siklus tahunan di tiga kampung di daerahnya dan kerap membuat warganya dilanda kelaparan. Kampung yang terancam kelaparan itu, letaknya sangat terisolir, tak ada penerangan dan sinyal komunikasi. Ketiga yang dilanda hujan es itu yakni Kampung Agamdugume, Tuput dan Jiwot di Distrik Agandugume, Kabupaten Puncak, Papua. Hujan es yang turun sebulan terakhir menyebabkan gagal panen dan banyak ternak milik warga yang mati. Namun sejauh ini belum ada laporan adanya warga yang tewas.

“Belum dilaporkan adanya yang meninggal akibat hujan es. Namun masyarakat di sana sangat membutuhkan makanan dan pakaian. Suhu di kampung tersebut jika malam hari dikabarkan minus 3 derajat Celsius, sementara pada siang hari 10 hingga 13 derajat Celsius,” kata Repinus Telengen kepada wartawan, Senin (13/7/2015).

Disebutkan Repinus, hujan es tahun ini dianggap oleh masyarakat setempat sebagai hujan es yang tergolong panjang dan ekstrim. Selain dinginnya cuaca di daerah itu, oksigen juga menipis, sebab tiga kampung terletak di ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut (mdpl). “Hari ini baru bisa didistribusikan delapan karung beras ukuran 50 kilogram. Sebab untuk masuk ke daerah itu hanya dapat ditempuh dengan pesawat berbadan kecil yang hanya bisa ditumpangi 8 orang penumpang,” katanya.

Disebutkan, saat ini, masih ada enam ton bahan makanan yang tertahan di Timika, karena tidak adanya pesawat terbang maupun helikopter yang mampu terbang ke kampung tersebut. Kabupaten Puncak merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Puncak Jaya pada tahun 2008. Kabupaten ini merupakan kabupaten tertinggi se-Indonesia. Kabupaten Puncak juga merupakan lokasi puncak Cartensz yang bersalju.

Gubernur Papua Lukas Enembe menyatakan, hujan es yang terjadi di Kabupaten Puncak merupakan fenomena alam biasa. Daerah itu memang kerap dilanda hujan es. Terkait dengan ancaman kelaparan yang dialami warga karena hujan es itu, Lukas Enembe menyatakan saat ini Wakil Bupati Puncak, Repinus Telenggen sedang menuju ke lokasi tiga kampung yang dikabarkan dilanda hujan es itu.

“Saya sudah komunikasi dengan Bupati Puncak, Willem Wandik dan bupati menyebutkan dia bertanggung jawab atas nasib rakyat di sana,” kata Lukas kepada wartawan di Jayapura, Senin (13/7/2015). Saat ini, kata Lukas, pihaknya masih menunggu laporan lanjutan dari Pemkab Puncak. Mereka akan mencermati apa saja yang dibutuhkan mendesak dan segera ditangani. Tiga kampung yang dilanda hujan es itu yakni Kampung Agamdugume, Tuput dan Jiwot di Distrik Agandugume, Kabupaten Puncak. Hujan es yang turun sebulan terakhir menyebabkan gagal panen dan banyak ternak milik warga yang mati.