Categories
Kriminalitas Pendidikan

TK Jakarta Internation School Ternyata Tidak Memiliki Izin dan Salahkan Orangtua Korban Sodomi


Kasus kejahatan seksual yang dialami siswa di TK JIS dinilai berpola. Alasannya, jumlah pelaku pencabulan lebih dari satu orang. “Dari cerita korban, pelaku pencabulan dilakukan oleh satu perempuan dan empat laki-laki. Ini artinya kejahatannya terpola,” kata kuasa hukum korban, Andi M. Asrun, saat dihubungi, Kamis, 17 April 2014.

Meskipun dari cerita korban jumlah pelaku ada lima, Asrun menduga jumlah pelaku bisa lebih dari itu. Apalagi setelah terungkapnya satu korban ke permukaan, ada indikasi siswa lainnya menjadi korban serupa. Dugaan ini muncul setelah sekitar 100 orang tua siswa berkumpul pada Selasa lalu membahas kasus tersebut. “Sudah ada indikasi ada korban lain,” kata Asrun. Dia pun mengaku siap membantu korban-korban lainnya untuk menuntut pihak JIS.

Tuntutan terhadap JIS dilakukan karena adanya dugaan kelalaian yang dilakukan pihak sekolah sehingga terjadi kasus pencabulan terhadap siswa. Contoh kelalaian yang dimaksud adalah tidak adanya pendampingan guru saat anak ke toilet. Guru juga tidak memperhatikan apa yang terjadi saat anak keluar dari toilet. “Seharusnya kan diperhatikan saat siswa keluar dari toilet kenapa ada perubahan, misalnya terjadi memar atau siswa jadi bingung,” kata dia.

Sisi keamanan sekolah JIS juga dinilai bermasalah. Menurut Asrun, tidak ada CCTV yang terpasang untuk menjamin keamanan siswa-siswa TK di JIS. “Pola keamanannya tidak bagus, sekolah tidak punya CCTV. Ini menunjukan sekolah internasional itu tidak profesional,” kata Asrun.

Sebelumnya, seorang siswa TK JIS menjadi korban pencabulan oleh dua petugas kebersihan di sekolah itu. Ibunda korban mengatakan putranya yang berusia 5 tahun berkali-kali dicabuli para pelaku. “Saya mulai mencium gelagat aneh pada anak saya, seperti jadi lebih pendiam, berat badannya turun, dan suka mengigau setiap tidur sejak Februari lalu. Diduga anak saya sudah disiksa dan dilecehkan sejak Februari,” ujar ibu korban, Senin, 14 April 2014, di Jakarta.

Tidak jadi mendatangi kantor Polisi Daerah Metro Jaya, siswa taman kanak-kanak internasional yang menjadi korban pelecehan pada Selasa, 15 Februari 2014 mendatangi lokasi sekolahnya di Jakarta. Korban didampingi ibunya mengunjungi sekolah untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya pelaku lain yang terlibat. Pengacara korban, Andi Muhamad Asrun, kepada media menuturkan korban tidak lama berada di sekolah. “Bahkan, dia enggak mau turun dari mobil karena takut,” kata Andi, Selasa, 15 April 2014.

Pihak sekolah bersama sejumlah anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia kemudian menemui korban di dalam mobil. “Dia lalu diberikan sejumlah foto petugas kebersihan yang bekerja di sekolah. Tidak ada tim penyidik polisi yang ikut, ” Andi berujar. Saat ditunjukkan sejumlah foto, kata Andi, korban menunjuk foto dua orang pria. Kedua pria itu bukanlah tersangka yang kini ditahan di Polda Metro Jaya. “Tadi dia tidak ragu menunjuk fotonya dan terlihat cukup yakin,” kata Andi. Menurut dia, kedua orang yang ditunjuk ini menguatkan dugaan bahwa pelaku berjumlah lebih dari tiga orang. “Ini kemajuan.”

Meskipun begitu, Andi belum bisa menyebutkan identitas kedua terduga tersebut. “Yang pasti keduanya juga petugas kebersihan sekolah. Saat ini polisi juga sudah menangkap keduanya untuk dimintai keterangan,” Andi melanjutkan. Adapun terkait dugaan adanya korban lain, Andi belum bisa memastikan. Namun, pihak sekolah sudah menemui para orang tua murid untuk menjelaskan masalah ini.

Pengacara keluarga korban sodomi, Andi M Asrun mengatakan Jakarta International School (JIS) tidak memberikan bantuan dalam bentuk apapun terhadap korban. Menurut dia, pihak JIS malah menyalahkan keluarga korban yang berani tampil di media. “Tidak ada bantuan dari mereka (JIS), tidak ada bantuan, mereka omong kosong aja, tidak ada itu bantuan itu,” ujar Andi kepada wartawan di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Rabu, (16/4).

“Mereka malah menyalahkan kami dengan menghadirkan wartawan kemarin ke sekolah. Mereka bilang kenapa orangtua wajahnya ada di media dan sebagainya, kan ini kasus publik. Jadi mereka omong aja itu,” tambahnya. Meski demikian, dia pun akan segera melaporkan kejadian ini ke Polda Metro Jaya. Sebab, kata dia, pihak JIS sudah memiliki unsur pelanggaran pidana dan harus ditindak tegas oleh pihak yang berwajib. Menurutnya sekolah yang bertaraf internasional itu termasuk ilegal tidak tercantum dalam SK Kementerian Pendidikan dan Budaya.

“Harus dituntut, pelanggaran pidana juga. Kami minta polisi agar segera bertindak, kalau perlu dikasih police line itu sekolah ilegal, polisi harus bertindak,” tandasnya. “Pemerintah harus menindak tegas ini, serta mencari tahu, siapa penyelenggara sekolah ini dan keluarga meminta sekolah itu ditutup, dan ganti rugi juga sekalian. Karena sekolah itu ilegal, apa lagi sudah ada korban,” imbuhnya.

Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini di Jakarta Internasional School dinilai ilegal. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Kementerian Pendidikan, Lidya Freyani, mengancam akan menutup sekolah tersebut. “Jika izinnya tidak diurus, maka sekolah itu harus ditutup,” ujar Lidya kepada wartawan, 16 April 2014.

Lidya menjelaskan, izin yang diberikan kepada JIS selama ini sebenarnya hanya untuk penyelenggaraan pendidikan tingkat dasar dan menengah, bukan untuk PAUD. Untuk menghindari sanksi pembekuan, ia meminta pihak sekolah untuk sesegera mungkin mengurus proses perizinan. Temuan ini juga mendorong pihak kementerian untuk membentuk tim audit terhadap JIS. Tim yang terdiri dari perwakilan pihak kementerian dan dinas pendidikan itu akan mengevaluasi sejumlah aspek kelayakan sekolah seperti proses penyelenggaraan pendidikan, kurikulum, kompetensi lulusan dan tenaga pengajar.

“Kami ingin memastikan peraturan yang dikeluarkan pemerintah ditaati oleh pihak JIS,” ujarnya. Menurut Lidya, pelanggaran izin penyelenggaraan PAUD juga banyak ditemui pihak kementerian. Tercatat setidaknya ada 111 sekolah PAUD di seluruh Indonesia yang belum mengantongi izin.

Lidya enggan mengomentari ihwal kekerasan seksual yang dialami salah satu siswa Taman Kanak-Kanak sekolah tersebut. Ia mempercayakan penyelesaian proses hukum kasus tersebut kepada pihak kepolisian. “Kami lebih concern ke masalah proses belajar-mengajar, dan peserta didiknya,” kata dia.

Pihak sekolah memilih bungkam ketika dicecar wartawan ihwal kasus kekerasan seksual yang dialami siswanya. “Kami sudah sampaikan semuanya dalam keterangan pers barusan,” ujar pimpinan sekolah tersebut, Tim Carr, usai memberikan keterangan pers di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 16 April 2014.

Categories
Pendidikan

Daftar Tokoh Tokoh Indonesia Yang Melakukan Plagiat


Anggito Abimanyu menyatakan mundur sebagai dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada pada Senin, 17 Februari 2014. Langkah ini ia ambil di tengah tudingan plagiarisme yang menunjuk ke arahnya. Anggito mengaku keliru mencantumkan referensi dalam karya tulisnya, tapi ia menyangkal telah menjiplak tulisan Hotbonar Sinaga disalah satu surat kabar. Jauh sebelum tuduhan plagiarisme mendera Anggito, sejumlah tokoh terkenal sempat terbelit tudingan serupa. Berikut ini daftarnya.

1. Chairil Anwar (1949)
Penyair Chairil Anwar pernah dituduh menjiplak karya tulis. Tak tanggung-tanggung, yang menuduh Hans Bague Jassin melalui tulisannya di Mimbar Indonesia berjudul Karya Asli, Saduran, dan Plagiat membahas puisi Kerawang-Bekasi. Kritikus sastra yang juga bergelar Paus Sastra Indonesia itu membandingkan puisi Chairil dengan The Dead Young Soldiers karya Archibald MacLeish, penyair Amerika Serikat. Jassin tidak menyalahkan Chairil. Menurut dia, meskipun mirip, tetap ada rasa Chairil di dalamnya. Sedangkan sajak MacLeish, menurut Jassin, hanyalah katalisator penciptaan. Namun tanggapan Chairil bisa berbeda, apalagi Jassin menyebut tindakan Chairil meniru sajak MacLeish karena butuh uang untuk biaya berobat ke dokter. Ketegangan mereka sempat memuncak pada suatu acara di Gedung Kesenian Jakarta. Chairil dan Jassin sempat berkelahi.

2. Yahya Muhaimin (1992)
Ismet Fanany, ahli pendidikan asal Batusangkar, Sumatera Barat, yang bermukim di Amerika Serikat menerbitkan buku tentang plagiat. Buku terbitan CV Haji Masagung Jakarta itu berjudul Plagiat-Plagiat. Isinya tentang plagiat Yahya Muhaimin. Disertasi Yahya dituduh menjiplak tulisan beberapa ahli. The Politics of Client Businessmen, disertasi Yahya yang dipertahankan di MIT Cambridge, Amerika Serikat, 1982, dibandingkan dengan Capitalism and The Bureaucratic State in Indonesia: 1965-1975, judul asli tesis Robison di Universitas Sydney 1977. Menurut Ismet, kemiripan itu baru satu sumber. Masih banyak lagi kemiripan dengan artikel lain. Yahya sendiri menjelaskan, “Mungkin dia memakai standar plagiat yang berbeda dengan yang saya anut.” Dia mengakui disertasinya mengutip banyak fakta dan pendapat sejumlah ahli yang memang disebut Fanany. “Tapi saya mencantumkan sumbernya,” kata Yahya. Atas tudingan Fanany itu, Yahya tak berpikir menyerang balik.

3. Amir Santoso (1979)
Ia dituduh membajak karya tulis ilmiah dari berbagai kalangan, bahkan dari kalangan mahasiswanya sendiri. Amir juga mencaplok karya intelektual pakar lain. Apa yang dilakukan Amir Santoso itu dalam rangka mencapai gelar profesor (guru besar Universitas Indonesia).

4. I Made Kartawan (Desember 2008)
Dosen Institut Seni Indonesia Denpasar, I Made Kartawan, dituduh menjiplak. Tesis Kartawan pada 2003 yang berjudul Keragaman Laras Gong Kebyar di Bali sama persis dengan laporan penelitian berjudul Keragaman Laras (Tuning Systems) Gambelan Gong Kebyar hasil penelitian Prof Bandem, Prof Rai, Andrew Toth, dan Nengah Suarditha yang dilakukan pada 1999 dari Universitas Udayana.

5. Ade Juhana (Januari 2010)
Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati itu menyelesaikan tesis doktornya dengan membajak tesis Prof Dr H.M.A. Tihami, MA, Rektor Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin, Banten, dan buku Mohamad Hudaeri M.A., dosen dan Ketua Lembaga Penelitian IAIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten. Sayangnya, ini hanya laporan surat pembaca di harian Kompas, jadi tidak terdengar kelanjutan kasusnya.

6. Anak Agung Banyu Perwita (Februari 2010)
Anak Agung Banyu Perwita, profesor Universitas Katolik Parahyangan, dituding menjiplak dalam artikelnya yang dimuat di harian nasional, The Jakarta Post. Harian itu menilai tulisan Banyu telah menjiplak sebuah jurnal ilmiah di Australia yang ditulis Carl Ungerer. Rapat senat Universitas yang berlangsung enam jam akhirnya memutuskan untuk mencopot seluruh jabatan guru besar bidang hubungan internasional Universitas Parahyangan itu. Banyu Perwita memilih mengundurkan diri.

7. Heri Ahmad Sukria (Juli 2010)
Dosen Institut Pertanian Bogor, Heri Ahmad Sukria, disomasi Jasmal A. Syamsu dari Universitas Hasanuddin, Sulawesi Selatan. Somasi dilayangkan terkait dengan dugaan plagiarisme buku berjudul Sumber dan Ketersediaan Bahan Baku Pakan di Indonesia. Buku tersebut diterbitkan IPB Press dengan penulis Heri Ahmad dan Rantan Krisnan. Menurut sang Profesor, terdapat tulisan dan data yang diambil dari artikelnya.

8. Siti Fadilah Supari (2004)
Menteri Kesehatan ini pernah dituduh melakukan plagiat. Ketika itu Fadilah menyajikan seminar berjudul Cholesterol-Lowering Effect of Soluble Fibre as an adjunct to Low Calories Indonesian Diet in Patients with Hypercholesterolamia di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta, 29 Oktober 2002. Apa yang dia sajikan mirip dengan karya James W. Anderson berjudul Long-term Cholesterol Lowering Effect of Psyllium as An Adjunct to Diet Therapy in The Treatment of Hypercholesterolamia, yang dimuat di American Journal of Clinical Nutrition volume 71 tahun 2000. “Saya tahu, kok, batasan plagiat,” kata sang Menteri, berkilah. Plagiat, menurut Fadilah, terjadi apabila makalah yang dipersoalkan dimuat di majalah atau jurnal ilmiah. “Ini kan tidak. Saya hanya mempresentasikan di hadapan sejumlah dokter dan kalangan awam.”

Categories
Pendidikan

Atap Madrasah Tsanawiyah Yayasan Pendidikan Nurul Aripin Tasikmalaya Ambruk Karena Hujan


Dua atap kelas Madrasah Tsanawiyah Yayasan Pendidikan Nurul Aripin (Yapena) di Kampung Babakan Muncang, Desa Pasirsalam, Kecamatan Mangunreja, Kabupaten Tasikmalaya, ambruk pada Senin 3 Januari 2014. Ambruknya atap setelah kawasan tersebut diguyur hujan deras. Apalagi kondisi bangunan MTs tersebut juga sudah lapuk.

“Bangunan tidak kuat menahan guyuran air hujan yang cukup deras. Ruang kelas juga sudah lama berdiri, sejak tahun 2000,” kata Wakil Kepala Sekolah MTs Yapena, Ade Herman, Senin. Menurut dia, kondisi fisik bangunan MTs memang sudah memprihatinkan. Selain atap banyak yang keropos dan lapuk, dinding bangunan sekolah ini banyak yang retak-retak. “Retak akibat beberapa kali diguncang gempa bumi, terutama gempa Tasikmalaya tahun 2009 lalu,” kata Ade.

Bahkan sejak dua tahun lalu, murid kelas 7 dan 8 yang atapnya ambruk, terpaksa belajar di ruang kelas Madrasah Diniyah Yapena. Antar kelas Madrasah Tsanawiyah dengan Madrasah Diniyah disekat dengan menggunakan papan tulis.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya, Dadang Romansyah, mengatakan, akan segera memberi bantuan untuk rehabilitasi ruang kelas yang ambruk. Dadang juga sudah menyampaikan ambruknya ruang kelas di Madrasah Tsanawiyah ini ke Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat. “Kami harap dapat segera memberikan bantuan untuk rehabilitasi sekolah itu,” ucapnya.

Categories
Pendidikan

Hari Ini Internet Bisa Diakses Dari Seluruh Pelosok Kalimantan


Jari lentik Desi Natalia lincah menari di keyboard gadget-nya. Terkadang sambil tersenyum, siswi SMK Karsa Mulya Palangkaraya, Kalimantan Tengah, ini asyik berselancar di dunia maya.

“Membaca status teman teman di media sosial, seperti Facebook dan Twitter,” katanya saat ditemui di area Internet school SMK Karsa Mulya, Kamis, 9 Januari 2014.

Internet bukan barang baru bagi Desi bersama teman-temannya di SMK Karsa Mulya. Telkom sudah menggelar sarana jaringan data Internet murah di sekolah yang lokasinya terletak di ujung terluar Kota Palangkaraya. ”Jaringannya cukup bagus, kami bisa mencari data, gambar dan video menjadi tugas sekolah,” tuturnya.

Sarana jaringan Internet ini pula yang mampu mencetuskan ide pembuatan televisi digital besutan siswa-siswi SMK Karsa Mulya. TV Karsa menampilkan serba-serbi seputar SMK Karsa Mulya yang kemudian diunggah ke sejumlah media sosial, seperti YouTube.

“Isinya seperti wawancara para alumni, kegiatan belajar-mengajar, kunjungan tamu sekolah, hingga komentar dari para siswa sendiri seputar kegiatan sekolah ini,” ia mengungkapkan.

Program televisi digital sudah setahun terakhir ini ditekuni Desi bersama tujuh rekan-rekannya. Seluruh rekaman video sekolah disunting sendiri oleh para siswa yang hasilnya kemudian diserahkan kepada guru pembimbing.

“Nantinya guru yang kemudian menyebarkan video siswa lewat media YouTube,” tuturnya.

Desi mengatakan sangat menekuni hobi jurnalistik yang sudah menjadi kegiatan ekstrakurikuler SMK Karsa Mulya. Meskipun belum genap setahun mengenakan seragam SMK Karsa Mulya, dia sudah menetapkan cita-cita untuk meneruskan profesi jurnalistiknya selepas sekolah nanti.

Guru multimedia SMK Karsa Mulya, Yakob Priosudarmono, mengatakan era digitalisasi sudah menggejala di Palangkaraya, yang menjadi provinsi muda di Kalimantan. Jaringan Internet yang semakin mudah diakses membuat para siswa bisa berkreasi menelurkan ide positifnya.

“Seperti membuat televisi digital, pakai alat-alat sekolah seperti kamera, televisi virtual, dan 20 green screen. Ini menjadi sarana mereka untuk berkreasi positif,” ia memaparkan.

Terbukti ide ini mendapatkan respons antusias dari SMK Karsa Mulya yang total muridnya sebanyak 300 siswa. Mereka secara intensif memantau berbagai program TV Karsa lewat sarana gadget milik setiap siswa.

“Hampir 50 persen siswa membawa telepon pintar untuk akses Internet di sekolah. Mereka memantau berita di TV Karsa,” katanya.

Manajer Umum Witel Telkom Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Arif Nurjayanto, mengatakan pihaknya punya tanggung jawab moral dan sosial dalam turut serta membangun sumber daya masyarakat. Pembangunan sarana jaringan data nantinya diyakini jadi motor penggerak perekonomian masyarakat.

Telkom menebar jaringan serat optik di empat sekolah, yakni di SMK Karsa Mulya, SMK 2 Palangkaraya, SMA 2 Palangkaraya, dan sekolah Islam setempat. Jaringan Internet murah ini bisa langsung diakses siswa lewat sarana speedy instand card.

Categories
Pendidikan

Gedung C FISIP UI Universitas Indonesia Depok Terbakar Habis


Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Pemerintahan (Fisip) Universitas Indonesia (UI), Arie Setiabudi Soesilo mengatakan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa terbakarnya gedung C FISIP UI tadi pagi. Soalnya, kebakaran itu terjadi ketika gedung kosong. “Saat kejadian gedung masih sepi, OB juga belum mulai membersihkan,” kata Arie di lokasi kejadian, Selasa, 7 Januari 2013. Arie bersyukur karena kejadian itu tidak terjadi siang hari. “Soalnya siang sudah ada aktivitas.”

Seperti diketahui, gedung C Fakultas Fisip UI Depok, Jawa Barat, terbakar pada pukul 06.58 WIB pagi ini. Menurut salah satu staf humas FISIP UI Prita, kebakaran itu mulai terjadi setelah Subuh sekitar pukul 0.5.00 WIB. Namun, api baru kelihatan membesar sekitar pukul 06.30. Kebakaran diketahui disebabkan hubungan arus pendek alias korsleting pendingin ruangan atau AC. “Api terlihat besar pukul 06.30 WIB,” katanya.

Menurut dia, kebakaran itu tidak mempengaruhi kegiatan mahasiswa, karena sejak akhir Desember 2013 mahasiswa sedang libur dan akan masuk Februari 2014. Gedung C merupakan ruang arsip dan jurusan Sosiologi. Hingga saat ini UI belum bisa memastikan besar kerugiannya. Arie yang baru saja dilantik sebagai Dekan Fisip pada Desember 2013 itu mengatakan ada ribuan buku arsip dalam gedung itu. Sayangnya, hanya sebagian buku yang salinannya disimpan di komputer. “Yang belum terback up ada buku koleksinya Doktor Iwan Gardono Sudjatmiko sebanyak 3 ribu buku.” Buku itu, dikoleksi dokter Iwan sejak 10 tahun tinggal di Amerika dan kuliah di Universitas Harvard.

Kepala Kepolisian Resor Kota Depok, Komisaris Besar Ahmad Kartiko, menyatakan penyebab terbakarnya gedung C di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia belum dapat dipastikan hingga olah TKP dilakukan. “Nanti masih akan dilakukan olah TKP dan diproses di laboratorium forensik,” kata Ahmad saat dihubungi Tempo pada Selasa, 7 Januari 2014.

Gedung C FISIP UI terbakar pada pukul 06.58 WIB pagi ini. Pemadam kebakaran dilaporkan sudah berada di lokasi sejak pukul 07.15 WIB. Menurut Ahmad, saat ini kebakaran sudah berhasil dipadamkan dan menyisakan gedung yang terbakar habis. “Tidak ada sisa barang yang terselamatkan,” kata Ahmad. Gedung C FISIP merupakan lokasi bagi sekretariat Program Studi Sosiologi yang terletak di lantai 2. Selain itu, lantai 3 gedung ini merupakan pusat kajian ilmu sosial dan ilmu politik, seperti kajian Papua dan kajian Pemilu.

Ahmad mengatakan tidak ada korban jiwa maupun luka dari insiden ini. Saat ini, tidak ada kegiatan akademik perkuliahan dalam rangka libur semester ganjil hingga awal Februari mendatang. Kepala Humas Universitas Indonesia, Farida Haryoko, menyatakan renovasi gedung C Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik masih akan menunggu penyelidikan penyebab kebakaran. “Akan dilihat juga kerusakan yang disebabkan seperti apa,” kata Farida saat dihubungi Tempo pada Selasa, 7 Januari 2014.

Gedung F FISIP tersebut terbakar pada pukul 06.58 WIB pagi ini akibat hubungan arus pendek dari pendingin ruangan atau AC. Pemadam kebakaran diketahui sudah berada di lokasi kebakaran sejak pukul 07.15 WIB. Farida mengatakan, pihak Rektorat UI sendiri belum menerima laporan resmi mengenai penyebab kebakaran di gedung yang merupakan lokasi bagi sekretariat Program Studi Sosiologi tersebut. “Akan dicarikan back-up jika terdapat arsip yang terbakar,” kata Farida.

Farida sendiri mengaku belum melihat langsung kondisi gedung yang terbakar tersebut. Saat ini, tidak ada kegiatan akademik perkuliahan dalam rangka libur semester ganjil hingga awal Februari mendatang.

Categories
Pendidikan

ITN Telusuri Adegan Pemerkosaan dalam Pelonco Setelah Fikri Dengan Sperma Pada Kelaminnya


Rektor Institut Teknologi Nasional Malang Soeparno Djiwo mengatakan pihaknya membentuk tim untuk menelusuri kebenaran foto adegan pemerkosaan yang beredar di media sosial. Soeparno menyangkal terjadi pelecehan seksual dalam kegiatan Kemah Bakti Desa mahasiswa baru Jurusan Planologi ITN pada Oktober lalu tersebut. “Ini sesuai hasil investigasi tim ITN yang meminta keterangan sejumlah pihak,” kata Soeparno melalui pesan singkat, Kamis, 12 Desember 2013.

Sebelumnya, beredar gambar adegan pemerkosaan berjemaah di tanah lapang. Satu mahasiswi ditindih dua pria yang bertelanjang dada. Gambar ini yang pertama beredar di media sosial yang kemudian membuka kasus kekerasan dalam kegiatan mahasiswa di ITN.

Namun, ia membenarkan bahwa ada tindakan di luar batas kewajaran, seperti pemberian air minum yang terbatas. “Ada indikasi kekerasan, tapi bukan pemukulan,” kata Soeparno. Namun, jika terbukti terjadi kekerasan yang menyebabkan Fikri tewas, pelaku akan dipecat. Saat ini sebanyak 53 panitia Kemah Bakti Desa telah diskors. Selain itu ketua jurusan dan sekretaris jurusan juga dicopot dari jabatannya.

Sementara, saat ini ITN masih berkeyakinan Fikri tewas bukan karena kekerasan fisik. Sesuai dengan visum luar, kata Soeparno, tak ditemukan tanda kekerasan pada sekujur tubuhnya.

Paman almarhum Fikri Dolasmantya Surya, Muhammad Nurhadi, mengaku kaget melihat jenazah keponakannya di kamar mayat Rumah Sakit Saiful Anwar Malang dua bulan lalu. Fikri meninggal dunia karena diduga menjadi korban aksi kekerasan dalam kegiatan pelonco mahasiswa Institut Teknologi Nasional, Malang, beberapa waktu lalu.

Nurhadi mengaku melihat mata almarhum berlumuran darah. Selain itu, keterangan yang tertuang dalam visum yang dikeluarkan kedokteran forensik RSSA Malang juga menyebutkan lidah almarhum menjulur tergigit, sedangkan kelaminnya mengeluarkan sperma.

Anehnya, “dokter forensik tak menemukan tanda kekerasan,” kata Nurhadi saat ditemui di rumahnya, Kelurahan Arjosari, Kota Malang, Kamis, 12 Desember 2013. “Dokter pun menyimpulkan Fikri meninggal karena kelelahan,” kata Nurhadi. Keluarga tak memprotes, katanya, karena ITN pun menegaskan tak ada kekerasan selama Kemah Bakti Desa (KBD) di Gua Cina Dusun Rowotrate, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Oktober lalu.

Jenasah disemayamkan dan disalatkan di Yayasan Gotong Royong sebelum diberangkatkan ke Mataram, Nusa Tenggara Barat. Usai pemakaman, Nurhadi menggaku menerima telepon dari teman Fikri sesama mahasiswa ITN Malang. Mereka menceritakan jika terjadi kekerasan selama kemah. Sejak saat itu, keluarga korban menuntut pertanggungjawaban ITN Malang atas dugaan kekerasan selama kemah. Namun, sampai saat ini tak ada tindaklanjut dari manajemen ITN. Orang tua korban, Muchsin dan Khusnul Fikhiyah, semakin yakin anaknya menjadi korban kekerasan setelah muncul pemberitaan di media massa. “Kakak saya menuntut kasus ini diungkap,” katanya.

Fikri, mahasiswa Jurusan Planologi ITN angkatan 2013, tewas setelah mengikuti orientasi Kemah Bakti Desa yang dilaksanakan di Gua Cina Dusun Rowotrate, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Oktober lalu. Dugaan sementara, Fikri meninggal akibat kelelahan. Namun, rekan dan keluarga Fikri menduga almarhum meninggal akibat tindak kekerasan.

Paman almarhum Fikri Dolasmantya Surya, Muhammad Nurhadi, melihat langsung jenazah di kamar mayat Rumah Sakit Saiful Anwar Malang dua bulan lalu. Dia kaget melihat bola mata sebelah kanan berlumuran darah, bahkan berceceran mengotori pakaian. “Saya curiga, tapi ITN menjelaskan penyebab kematian karena kelelahan,” katanya saat ditemui Tempo di rumahnya, Kelurahan Arjosari, Kota Malang, Kamis, 12 Desember 2013.

Selain itu, keterangan yang tertuang dalam visum yang dikeluarkan kedokteran forensik RSSA Malang menyebutkan fakta tambahan, yakni lidah menjulur tergigit, sedangkan kelaminnya mengeluarkan sperma. Namun, dokter forensik tak menemukan tanda kekerasan di sekujur tubuhnya.

“Dokter pun menyimpulkan Fikri meninggal karena kelelahan,” katanya. Keluarga tak memprotes, katanya, karena ITN pun menegaskan tak ada kekerasan selama Kemah Bakti Desa (KBD) di Gua Cina Dusun Rowotrate, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Oktober lalu.

Jenasah disemayamkan dan disalatkan di Yayasan Gotong Royong sebelum diberangkatkan ke Mataram, Nusa Tenggara Barat. Usai pemakaman, Nurhadi menggaku menerima telepon dari teman Fikri sesama mahasiswa pelonco ITN Malang. Mereka menceritakan jika terjadi kekerasan selama kemah.

Sejak saat itu, keluarga korban menuntut pertanggungjawaban ITN Malang atas dugaan kekerasan selama kemah. Namun, sampai saat ini tak ada tindaklanjut dari manajemen ITN. Orang tua korban, Muchsin dan Khusnul Fikhiyah semakin yakin anaknya menjadi korban kekerasan setelah muncul pemberitaan di media massa. “Kakak saya menuntut kasus ini diungkap,” katanya.

Fikri, mahasiswa Jurusan Planologi ITN angkatan 2013, tewas setelah mengikuti orientasi Kemah Bakti Desa yang dilaksanakan di Gua Cina Dusun Rowotrate, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Oktober lalu. Dugaan sementara, Fikri meninggal akibat kelelahan. Namun, rekan dan keluarga Fikri menduga almarhum meninggal akibat tindak kekerasan.

Categories
Berbudaya Pendidikan

Mahasiswa UKI Universitas Kristen Indonesia Mengamuk Karena Kampus Dijaga Preman


Sejumlah mahasiswa Universitas Kristen Indonesia merusak gedung rektorat di kampusnya. Mahasiswa menuding gedung yang harusnya terbuka untuk mereka itu dijaga oleh sekelompok preman.

“Tadi kami mau ambil kunci aula UKI untuk mempersiapkan acara besok, tapi saat kami mau masuk gedung rektorat, kami dihalang-halangi oleh preman, mereka mengusir kami,” ujar Hardoyo, mahasiswa semester 7 Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia, Selasa, 24 September 2013.

Menurut Hardoyo, ia dan kawan-kawannya hendak mempersiapkan acara bertajuk “Debat Hukum Nasional” yang akan diadakan di aula UKI esok. Kunci aula tersebut terdapat di Gedung Rektorat.

Merasa haknya dirampas, para mahasiswa melakukan perlawanan dengam cara merusak gedung rektorat. Mereka memecahkan kaca depan Gedung Rektorat, kaca ruang administrasi, lemari piala, dan maket kampus.

Menurut Hardoyo, preman yang berjumlah enam orang itu ada di kampus UKI sejak sebulan lalu. “Mereka bilang tidak boleh pakai aula karena mau digunakan mereka tidur. Kami tidak terima,” ujar Hardoyo.

Lebih lanjut Hardoyo mengatakan, keberadaan preman di kampusnya berkaitan erat dengan terpilihnya Rupy Uli Tobing sebagai pejabat rektor sementara. Ia menduga penjabat rektor memperkerjakan preman sebagai petugas keamanan. Kendati rektor baru UKI, Maruarar Siahaan, telah terpilih, dualisme kekuasaan masih terjadi.

“Awalnya kami tidak peduli dengan masalah ini karena itu urusan orang atas, tapi karena ada insiden ini kami tidak terima,” Hardoyo menambahkan.

Sejumlah aparat Polres Metro Jakarta Timur dan Polsek Metro Kramat Jati tampak di lokasi insiden. Awalnya, mereka hendak mengevakuasi para preman namun mahasiswa menolak. Mahasiswa meminta orang yang mempekerjakan preman itu untuk datang menemui mereka.

Alhasil, baik petugas keamanan maupun mahasiswa sama-sama bertahan di dalam dan di luar gedung. Sementara petugas kepolisian berjaga-jaga di sekitar lokasi. Insiden ini terjadi pada pukul 15.30 dan hingga pukul 19.00. Tak terlihat pejabat kampus di lokasi kejadian.

Categories
Berbudaya Pendidikan

Kuesioner Ukuran Alat Vital Ternyata Tidak Dimaksudkan Untuk Diberitahu Orangtua Siswa Tetapi Rahasia Guru dan Siswa


Program penjaringan data kesehatan siswa didik di sekolah yang belakangan ini mendapat protes dari orangtua murid di Kota Sabang merupakan program rutin Dinas Kesehatan bagi siswa baru di tingkat SLTP dan SLTA sejak tahun 2007 lalu.

Program ini berlaku di seluruh Indonesia untuk pemetaan kesehatan peserta didik, seperti anemia, gangguan mental, ataupun aktivitas fisik siswa.

Meski demikian, Taqwallah, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, dalam siaran persnya pada Kamis kemarin mengatakan, Dinas Kesehatan Kota Sabang akan melakukan evaluasi atas isi dari kuesioner itu agar sejalan dan tak melawan nilai-nilai Syariat Islam.

Pada bagian lain, Taqwallah pun membantah jika di dalam kuesioner itu terdapat pertanyaan soal ukuran kelamin. Dia pun membantah bahwa isian itu bukan penelitian, melainkan penjaringan demi mengetahui derajat kesehatan peserta didik.

Seperti yang diberitakan, siswa SMP di Kota Sabang dikabarkan harus menyebutkan ukuran kelamin dalam kuesioner tersebut. Hal ini merebak setelah para orangtua murid angkat bicara dan melontarkan protes melalui jejaring sosial.

Kasus tersebut telah disikapi oleh DPRK, Dinkes, dan Dinas Pendidikan Kota Sabang. Mereka telah menggelar pertemuan dengan wali murid untuk mengklarifikasi permasalahan.

Taqwallah menguraikan, pada Selasa (3/9/2013) lalu, petugas Puskesmas Cot Bau, Sabang, memberikan kuesioner penjaringan informasi kesehatan siswa kepada guru penanggung jawab Usaha Kesehatan Sekolah (USK) SMP 1 Sabang.

Namun, karena guru tersebut sedang mengajar, kuesioner itu dititipkan kepada guru kesiswaan. Bahan itu lalu dibagikan dan dibawa pulang oleh siswa untuk diisi dan dikumpulkan keesokan harinya.

Menurut Taqwallah, pada bagian itulah kesalahan terjadi. Seharusnya kuesioner tidak dibagi dan tidak boleh dibawa pulang karena bersifat rahasia. Sebab, gurulah yang akan mengisi formulir itu berdasarkan hasil wawancara dengan siswa.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengkritik pembagian kuesioner data kesehatan yang meminta siswa SMP untuk mengisi ukuran alat vital, di Sabang, Aceh.

Kuesioner kesehatan yang dibagikan pada Kamis (5/9/2013) itu juga bergambar alat vital dan juga menanyakan apakah mereka pernah mengalami mimpi erotis.

Seorang ibu, Nurlina, mengatakan, anak lelakinya yang berusia 12 tahun diminta mengisi kuesioner yang bergambar alat kelamin lelaki dan perempuan dengan berbagai ukuran. Mereka diminta memilih ukuran yang paling dekat dengan alat vital mereka.

“Itu kan tidak pantas sekali,” kata Nurlina, seperti dikutip AFP, Kamis (5/9/2013). Nurlina mengaku, ia meminta putranya tidak mengisi kuesioner tersebut dan dia mengajukan protes ke sekolah.

Pihak berwenang setempat berencana membagi isian itu ke enam SMP di Sabang. Namun, baru satu sekolah saja yang mendapat pembagian, sebelum protes bermunculan.

Kepala Dinas Pendidikan Sabang, Misman, menegaskan, survei itu hanya bertujuan untuk mendapatkan data kesehatan para siswa. Namun, dia mengaku tidak mengetahui ada gambar alat kelamin di dalamnya. Misman sendiri berpendapat gambar-gambar itu terlalu vulgar.

Menurut Misman, kuesioner serupa juga dibagikan tahun lalu, tetapi form isiannya tidak bergambar alat vital.

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ibnu Hamad mengatakan, pihaknya menyesalkan pembagian kuesioner tersebut. Menurut dia, pertanyaan seperti itu tidak wajar jika diajukan kepada siswa.

“(Pertanyaan) seperti itu sangat tidak perlu karena tidak ada perlunya untuk mengetahui ukuran alat vital siswa, untuk tujuan apa pun,” kata Ibnu Hamad.

Meskipun demikian, lanjut Ibnu Hamad, Kemendikbud belum melakukan penyelidikan resmi soal itu dan masih berusaha menghubungi Misman.

Pada halaman pertama kuesioner itu disebutkan bahwa survei itu “bertujuan memahami kesehatanmu” dan untuk mendukung “proses belajar mengajar”.

Categories
Aneh Dan Lucu Pendidikan

Setelah Wanita Dilarang Duduk Ngangkang Kini Siswa SMP Aceh Harus Sebutkan Ukuran Alat Vitalnya


Siswa kelas 7 sebuah sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Sabang, Provinsi Aceh, harus mengisi formulir berisi kuesioner tentang data kesehatan. Di antara yang harus diisi adalah ukuran kelamin dan payudara.

Seorang wali murid, Lina, kepada Tempo mengatakan bahwa dia terkejut saat anaknya menyodorkan lembaran formulir kuesioner yang diberikan sekolahnya. “Anak saya laki-laki, baru masuk SMP tahun ini. Formulir itu disuruh kembalikan hari ini,” katanya, Rabu, 4 September 2013.

Menurut Lina, ada satu halaman kuesioner yang bergambar contoh payudara, kelamin perempuan, dan kelamin laki-laki. Masing-masing ada 4 nomor dari gambar tersebut, dari ukuran kecil hingga ukuran besar. Siswa disuruh melingkari salah satu nomor.

Formulir kuesioner tersebut terdiri dari enam halaman. Pada halaman pertama tertulis kata ’Rahasia’ dan ’Kuisioner Penjaringan Kesehatan Peserta Didik Sekolah Lanjutan’.

Lina menilai, selain data ukuran kelamin dan payudara, data lainnya wajar ditanyakan, seperti riwayat kesehatan, pernah pingsan, dan lainnya. ”Kalau ukuran kelamin, sangat tidak etis untuk anak SMP,” ujarnya kesal.

Itu sebabnya, Lina meminta anaknya untuk tidak mengisi bagian tersebut. Kuesioner itu kemudian dibawa anaknya kembali untuk dikumpulkan di sekolah. Lina semakin heran, karena kuesioner semacam itu hanya diberikan kepada anaknya yang di SMP. ”Anak saya yang SMA tidak mendapatkan kuesioner seperti itu,” ucapnya.

Dewan Komite Sekolah SMP 1 Sabang, Iskandar Muda, mengatakan baru mengetahui ihwal kuesioner tersebut setelah dihubungi Tempo. Dia kemudian meminta waktu untuk mengeceknya ke sekolah.

Sesaat kemudian, dia menghubungi Tempo dan mengatakan benar adanya perihal kuesioner tersebut. ”Saya tak mau banyak berkomentar, itu dari Dinas Kesehatan,” tuturnya sembari menutup telepon selulernya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Sabang Misman mengatakan, ia belum mengetahui masalah tersebut. Dia mengatakan akan mengecek informasi tersebut ke sekolah.

Categories
Pendidikan

Gedung C Fakultas Psikologi UI Univesitas Indonesia Runtuh dan Roboh


Tiada angin tiada hujan, Gedung C Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) roboh. Satpam Fakultas Psikologi sekaligus saksi mata, Bambang Mulyadi, mengatakan gedung roboh pada Jumat, 12 Juli 2013 pukul 11.00 WIB. Beruntung saat kejadian, tidak ada satu pun orang lewat di bawahnya.

“Suaranya seperti pasir tumpah, kejadiannya sangat cepat, per sekian detik,” katanya kepada Tempo, Jumat, 12 Juli 2013. Padahal, biasanya setiap hari pekerja kebersihan bekerja di bawah gedung tadi. Namun, saat kejadian mereka bekerja sampai pukul o9.00.

“Untung mereka selesai pagi. Saya kagetnya karena tadi ada yang teriak,” kata dia. Bambang lega ketika mendapati wanita yang berteriak tidak karena kena runtuhan. “Dia baru keluar ATM dan merasa kaget.”

Pantauan Tempo, yang runtuh adalah kanopi gedung C di lantai III. Kanopi sepanjang sekitar 36 meter dengan lebar 1,5 meter di lantai I sampai III runtuh total. Hanya atap yang bertahan di tempatnya. “Gedung ini memang sudah layak direnovasi. Dari atas lantai 3 hancur,” katanya.

Bangunan di Fakultas Psikologi memang sudah tua. Sebagian besar dibangun pada 1987. Semua bangunan itu belum pernah direnovasi. Menurut Bambang, gedung ini meruapakan gedung buat para dosen dan staf. Pada saat kejadian tadi, dalam gedung itu terdapat banyak dosen. “Para dosen mau rapat, tapi setelah roboh mereka takut,” katanya.

Untuk keselamatan, Dekan Fakultas Psikologi kemudian menginstruksikan agar gedung itu dikosongkan. “Pada takut akhirnya bubar dan pulang. Instruksi dari Pak Dekan juga suruh kosongin.”

Sampai saat ini, beberapa pekerja sedang mengamankan beberapa mesin outdoor pendingin ruangan. Soalnya, outdoor pendingin itu sudah tergantung dengan kabelnya.