Category Archives: Perekomonian dan Bisnis

Leopard Wisnu Kumala Pembom Mal Alam Sutera Setelah Peras Manajemen Senilai 100 Bit Coin


Pelaku pengeboman di Mal Alam Sutera, Kota Tangerang berhasil ditangkap polisi. Pelaku bernama Leopard Wisnu Kumala warga Serang, Banten. Identitas pelaku diungkap oleh Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian saat konferensi pers tentang bom toilet Mal Alam Sutera di Polda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2015).

Dalam konferensi pers ini Kapolda didampingi Dirkrimum Kombes Krishna Murti. Si tersangka berada di belakang Tito, memakai baju kaos putih dan tangannya diikat tali. Leopard bekerja di PT Masindo Utama perusahaan yang bergerak di bidang servis dan jasa instalasi untuk Industri telekomunikasi Indonesia. Tim dari Polda Metro Jaya dan Densus 88 mengamankan Leopard pada Rabu (28/10/2015) di kediamannya di Perumahan Banten Indah Permai, Kota Serang, Banten. Polisi menyebut Leopard merakit bom di dalam kamar tidurnya. Saat penangkapan polisi mengamankan berbagai barang yang diduga digunakan untuk merakit bom tersebut.

Warga yang tinggal di Perumahan Banten Indah Permai, Serang, Banten, tidak percaya ada tetangganya yang menyimpan bom aktif di rumah. Mereka tidak menyangka warga di kawasan tempat tinggal mereka, Leopard Wisnu Kumala (27) atau LO, menaruh bom di Mall Alam Sutera, Kota Tangerang, Rabu (28/10/2015). “Kemarin tiba-tiba ramai euy, polisi pada datang semua ke sini. Ternyata Si Leo yang ditangkap. Saya mah enggak nyangka dia punya bom aktif juga di rumahnya itu. Seram banget, ya,” kata tetangga LO, Mukhlis (33).

Warga lain yang ikut menyaksikan saat polisi ramai-ramai datang ke rumah Leo, Agus (32), juga sempat takut ketika tahu ada bom aktif. Rumahnya hanya beberapa meter dari rumah Leo.”Enggak kebayang itu gimana kalau tiba-tiba meledak. Bom yang di mal itu saja kayaknya heboh banget, untung di sini enggak meledak juga,” tutur Agus. Leo tinggal bersama istri dan satu anak perempuannya yang masih berusia dua tahun.

Menurut pantauan Kompas.com, rumah Leo kini sudah dikosongkan dan dipasangi garis polisi. Sejumlah polisi tampak menjaga rumah itu. Kemarin malam, tim gabungan dari Densus 88/Anti Teror dan Polda Metro Jaya telah membawa Leo yang ditangkap di sekitar Mall Alam Sutera. Pemuda itu diringkus beberapa saat setelah bom yang dipasangnya meledak di toilet kantin karyawan di lantai lower ground (LG). Leo yang dikawal Densus ke rumahnya menunjukkan bahan bom aktif berdaya ledak tinggi yang disimpan di dalam rumah. Usai mengamankan bahan bom aktif, polisi membawa istri dan anak Leo untuk dimintai keterangan.

Wakil Kepala Densus 88 Komisaris Besar Martinus Hukom memastikan pelaku bom Mall Alam Sutera, Tangerang, sudah diamankan oleh jajarannya. Sementara ini, pelaku yang berinisial LO masih dalam perjalanan dari rumahnya di Kompleks Banten Indah Permai, Serang, ke Markas Densus di Depok, Jawa Barat. “Akan kami bawa ke tempat Densus di Kelapa Dua untuk diperiksa lebih lanjut,” kata Martinus, Rabu (28/10/2015) malam.

Bersama dengan LO, Densus dan Polda Metro Jaya yang ke lokasi turut mengamankan satu bahan bom aktif yang sudah dijinakkan oleh tim Gegana. Adapun bentuk bom aktif itu dibungkus dengan kotak rokok. Bahan bom itu berdaya ledak besar. Berdasarkan pengakuan sementara, LO menggunakan sedikit bahan dari dalam kotak rokok tersebut untuk mengebom toilet kantin karyawan di Lower Ground (LG) Mall Alam Sutera, siang tadi.

Ledakannya pun berdaya rendah, karena bahan yang digunakan hanya sedikit. LO sendiri ditangkap masih di sekitaran Mall Alam Sutera beberapa saat setelah kejadian. Saat ditangkap, LO sedang mengendarai sepeda motor. Polisi yang menangkapnya harus melepas tembakan ke kaki LO hingga LO ditangkap dan dibawa ke rumahnya yang ada di Serang, Banten. Berdasarkan informasi sementara yang dihimpun di lokasi, LO memiliki masalah pribadi dengan manajemen Mall Alam Sutera. Sejumlah bukti telah dikantongi aparat untuk diperiksa lebih lanjut. LO juga disebut-sebut mengebom toilet Mall Alam Sutera beberapa kali untuk melakukan pemerasan terhadap Mall Alam Sutera.

Meski demikian, pihak manajemen Mall Alam Sutera belum mau berkomentar soal itu. Saat ditanya, perwakilan manajemen yang mengaku bernama Wawan belum bersedia menanggapi pernyataan tersebut. Leopard Wisnu Kumala ternyata sudah 4 kali meletakkan bom di Mal Alam Sutera. Setelah beraksi, dia memeras melalui email. Dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (29/10/2015), terungkap cara-cara Leopard memeras, yakni sesudah bom meledak, dia akan mengirimkan email ke pihak mal.

Ternyata Leopard mengaku bahwa pihak mal sudah sempat membayar sejumlah uang. Bukan dengan rupiah melainkan dengan bitcoin. “100 Bitcoin,” demikian katanya kala ditanya berapa yang pihak Mal Alam Sutera telah bayar. 1 Bitcoin sekitar Rp3,2 juta. Berarti 100 bitcoin setara dengan Rp 320 juta. Leopard memiliki 5 bom aktif yang siap diledakkan. Di rumahnya, polisi menemukan satu sisa bom. Rencananya, bom tersebut juga akan diledakkan di mal Alam Sutera. Aksi perdana pelaku bom di Mal Alam Sutera dilakukan pada 6 Juli 2015. Namun bom itu tak meledak. Bom diletakkan di supermarket dan dekat kaleng pembasmi nyamuk agar efeknya lebih dahsyat.

Polisi meneliti ratusan rekaman CCTV untuk melacak pelaku pengeboman di mal Alam Sutera, termasuk saat kejadian 6 Juli 2015 lalu. Saat itu, tersangka yang diketahui bernama Leopard Wisnu Kumara tersebut sempat clingak-clinguk di sejumlah lokasi.Setelah berputar-putar di mal, Leopard yang berjaket hitam dan membawa tas ransel akhirnya memilih supermarket Food Hall. Namun dia tak bisa langsung menaruh bom karena ada seorang wanita yang sedang belanja. Baru berselang beberapa menit, dia menyimpan bom di belakang tumpukan obat nyamuk.

“Ditaruh di belakang kaleng Baygon, bukan hanya ledakan bomnya tapi akan mengeluarkan racun begitu,” kata Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Krishna Murti saat jumpa pers di Polda Metro Jaya, Kamis (29/10/2015).Apa maksudnya diletakkan di belakang kaleng obat nyamuk? “Biar efeknya lebih dahsyat,” ucap tersangka yang dihadirkan di jumpa pers.Rekaman CCTV 6 Juli tersebut menjadi titik awal pengungkapan kasus ini. Menurut polisi, wajah pelaku terekam jelas dari video tersebut. Pelaku pengeboman di Mal Alam Sutera, Kota Tangerang berhasil ditangkap polisi. Pelaku bernama Leopard Wisnu Kumara warga Serang, Banten.

Identitas pelaku diungkap oleh Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian saat konferensi pers tentang bom toilet Mal Alam Sutera di Polda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2015).Dalam konferensi pers ini Kapolda didampingi Dirkrimum Kombes Krishna Murti. Si tersangka berada di belakang Tito, memakai baju kaos putih dan tangannya diikat tali. Leopard bekerja di PT Masindo Utama perusahaan yang bergerak di bidang servis dan jasa instalasi untuk Industri telekomunikasi Indonesia.

Tim dari Polda Metro Jaya dan Densus 88 mengamankan Leopard pada Rabu (28/10/2015) di kediamannya di Perumahan Banten Indah Permai, Kota Serang, Banten. Polisi menyebut Leopard merakit bom di dalam kamar tidurnya. Saat penangkapan polisi mengamankan berbagai barang yang diduga digunakan untuk merakit bom tersebut. Leopard Wisnu Kumala ternyata sudah 4 kali meletakkan bom di Mal Alam Sutera. Setelah beraksi, dia memeras melalui email.

Dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (29/10/2015), terungkap cara-cara Leopard memeras, yakni sesudah bom meledak, dia akan mengirimkan email ke pihak mal. Ternyata Leopard mengaku bahwa pihak mal sudah sempat membayar sejumlah uang. Bukan dengan rupiah melainkan dengan bitcoin. “100 Bitcoin,” demikian katanya kala ditanya berapa yang pihak Mal Alam Sutera telah bayar. 1 Bitcoin sekitar Rp3,2 juta. Berarti 100 bitcoin setara dengan Rp 320 juta.

Advertisements

Kronologi dan Dalang Aktor Intelektual Di Balik Pembunuhan Aktivis Salim Kancil Lumajang


Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan, anggotanya tengah mendalami dugaan keterlibatan aktor intelektual di atas Kepala Desa Selok Awar-Awar, Hariyono, dalam kasus dugaan pembunuhan petani aktivis anti tambang Salim Kancil. Kami tidak menutup kemungkinan ada orang di belakang Kepala Desa. Ini sedang diperiksa,” kata Badrodin di Markas Besar Polri, Jakarta, Jumat (2/10). Selain pemeriksaan terhadap saksi dan tersangka, polisi juga mendalami bukti-bukti lain yang ada. Kata Badrodin, salah satu bukti yang diperiksa adalah pesan singkat yang ada di telepon genggam orang-orang terkait.

Ketika ditanyai kemungkinan keterlibatan pejabat lain seperti Bupati, Badrodin tidak bisa memastikan. “Kalau pidana itu mesti ada fakta hukum yang mendukungnya, saya tidak mengatakan orang tertentu.” Sejauh ini, kata Badrodin, pejabat yang sudah bisa dipastikan keterlibatannya baru sampai ke tingkat Kepala Desa. Yang sedang didalami adalah dugaan pihak lain yang membiayai pejabat berstatus tersangka itu.

Selain Hariyono, sudah ada 22 orang lain yang dijadikan tersangka. Dua dari puluhan orang itu masih berusia 16 tahun. Mereka diduga terlibat langsung dalam penganiayaan Salim dan rekannya, Tosan. Korban kedua menderita luka parah akibat perbuatan para pelaku. Berdasarkan informasi, penganiayaan yang terjadi akhir pekan lalu terjadi akibat penolakan para korban terhadap pembukaan tambang pasir di kawasan tempat tinggalnya. Mereka dianiaya setelah melakukan aksi damai terkait masalah tersebut.

Di sisi lain, Manager Emergency Response Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Ki Bagus Hadi Kusuma mengatakan, meski pihak kepolisian telah menetapkan 23 orang, tim khusus yang pihaknya menduga ada lebih dari tujuh orang lagi yang terlibat dengan pembunuhan Salim. Dari pengakuan masyarakat dan temuan tim di lapangan, ada lebih dari 30 orang yang terlibat. Dari hasil gelar perkara di Polda Jawa Timur, dijelaskan bahwa pembunuhan Salim sudah direncanakan oleh puluhan orang tersebut,” kata Ki Bagus saat dihubungi.

Ki Bagus menjelaskan, rencana pembunuhan Salim telah dirancang satu hari sebelum kematiannya. Mereka yang bertugas mengeksekusi dengan mengkroyok Salim hingga tewas ternyata adalah orang-orang dekat sang Kepala Desa Hariyono. Belasan orang yang tergabung dalam kelompok tersebut kemudian diketahui sebagai tim sukses Hariyono, pada saat dia mencalonkan diri sebagai pemimpin desa. “Pembunuhan itu direncanakan satu hari sebelumnya oleh tim 12. Tim 12 adalah bentukan si kepala desa waktu dia mau nyalon jadi kades. Yah, seperti tim sukses,” katanya. Anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat, Masinton Pasaribu, meminta kepolisian mengusut tuntas pelaku dan dalang dibalik tewasnya dua petani asal Kabupaten Lumajang, Salim Kancil dan Tosan.

“Tragedi di Pasirian, Lumajang, harus diusut setuntas-tuntasnya dari mulai pelaku lapangan yang melakukan aksi keji penganiayaan dan pembunuhan berencana,” kata Masinton dalam keterangannya, Selasa (29/9). Masinton juga menyebut, pembunuhan dan penganiayaan Salim dan Tosan, sebagai bentuk aksi teror dan intimidasi kepada warga yang melakukan penolakan tambang pasir ilegal di sekitar Pantai Watu Pecak.

Karenanya, politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu meminta kepada kepolisian agar bergerak cepat dalam melakukan penyelidikan dan mengungkap motif intimidasi dan aksi teror yang disertai pembunuhan tersebut. Selain itu, dia juga berharap agar kepolisian tidak hanya berhenti menangkap pelaku di lapangan, namun juga mengejar aktor intelektual dibalik kasus ini. “Jika ada indikasi dugaan keterlibatan pemilik perusahaan, maka polisi harus menangkap dan menyeret pemilik perusahaan ke pengadilan,” kata Masinton.

Masinton mengatakan, berdasarkan informasi yang dia himpun dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yang melakukan advokasi, menduga dalang tewasnya Salim dan Tosan adalah PT Indo Modern Mining Sejahtera (IMMS) yang telah berinvestasi di daerah sana. Sebab, menurut Masinton, Salim dan Tosan selama ini dikenal sebagai warga yang menolak adanya pertambangan ilegal di sekitar desa itu. Karenanya, dibutuhkan peran negara dalam melindungi hak-hak rakyat. “Negara tidak boleh kalah dengan aksi kejahatan korporasi yang menghalalkan keuntungan dengan segala cara,” kata Masinton.

Sepakat dengan Masinton, Ketua Komisi Pertanian DPR Edhy Prabowo meminta kepada aparat penegak hukum agar tidak hanya menangkap pelaku, namun juga mengungkap aktor intelektual dibalik pembunuh Salim dan Tosan. “Saya minta kasus ini diusut tuntas. Aparat harus bisa mengungkap bukan hanya pelaku pembunuhan, tetapi juga ungkap siapa aktor intelektual di belakangnya,” ujar Edhy Prabowo dalam keterangannya, Senin (28/9) malam. Pihak kepolisian juga telah menangkap 20 tersangka pelaku pembunuhan petani Salim Kancil. Selain 20 orang tersebut, terdapat dua tersangka lainnya yang masih di bawah umur, yakni IL dan AA.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan tersangka masih bisa bertambah tergantung keterangan saksi dan alat bukti yang ditemukan. Saat ini penyidik masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap para tersangka untuk mendalami motif penganiayaan yang mengakibatkan kematian akhir pekan lalu itu. Polisi belum bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya menjadi pemicu kejadian tersebut. Dua orang petani di Lumajang, Jawa Timur, ditemukan tewas dan diduga menjadi korban penganiayaan dan pembunuhan berencana. Salim Kancil dan Tosan diduga menjadi korban skenario besar untuk memuluskan usaha pertambangan.

Manajer Kebijakan dan Pembelaan Hukum Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Muhnur Satyahaprabu, mengungkapkan keduanya dikenal sebagai pejuang lingkungan tolak tambang di desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Salim (46) tewas dibunuh, setelah dijemput sejumlah preman dari rumahnya dan dibawa ke Kantor Desa Selok Awar-Awar. Dia dianiaya dengan cara dipukuli batu dan benda keras lainnya oleh banyak orang dalam kondisi kedua tangan terikat.

Muhnur mengatakan, setelah Salim meninggal, mayatnya dibuang di tepi jalan, dekat areal pemakaman. Sementara itu, Tosan juga dianiaya di dekat rumahnya. Muhnur mengatakan, Tosan sempat memberikan perlawanan, walaupun akhirnya roboh setelah dianiaya puluhan orang tidak dikenal. Saat ini, Tosan tengah dirawat intensif di rumah sakit. Dengan kondisi Muhnur dan tewasnya Salim, Walhi menyebut, masyarakat sekitar sangat terancam, ketakutan sehingga sulit untuk berkomunikasi dengan tim konsolidasi gabungan. Dia mengatakan, pihaknya turut meminta bantuan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

“Ini adalah skenario besar memuluskan usaha pertambangan yang diduga adalah PT Indo Modern Mining Sejahtera (IMMS) yang investasi triliunan disana,” ujar Muhnur di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (28/9). Karenanya, dia menyebut, penganiayaan ini bukan hanya sekedar pro kontra tambang saja. Sebab, perkara terkait PT IMMS telah disidik kejaksaan pada Maret 2015, namun hingga saat ini tidak pernah jelas perkembangannya.

Penambangan terjadi pada tahun 2014, ketika warga diundang kepala desa untuk sosialisasi mengenai pembuatan kawasan wisata tepi pantai obyek wisata watu pecak. Namun, hingga kini, sosialisais belum pernah terealisasi. Muhnur mengungkapkan, yang marak terjadi malah penambangan pasir di area yang secara hukum merupakan hutan milik Perhutani. Penambangan dilakukan oleh PT. Indo Modern Mining Sejahtera.

Hal serupa disampaikan Anggota Divisi Ekonomi dan Sosial Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS), Ananto Setiawan. Dia melihat skenario penggunaan perusahaan penambangan liar, di saat perusaahan tambang yang sesungguhnya sulit untuk masuk dan mengeksploitasi suatu daerah. “Perusahaan besar nanti bisa klaim soal reklamasi, PAD. Sehingga perusahaan liar menjadi tempat cuci tangan mereka,” kata Ananto. Kepala Departemen Penguatan Organisasi Rakyat Konsorsium Pembaruan Agraria Ken Yusriansyah mengatakan tragedi ini merupakan kado terburuk bagi para tani. Sebab penganiayaan dan pembunuhan ini terjadi bertepatan pada Hari Tani.

Dia mengatakan, sebelumnya pihaknya juga menerima laporan serupa terkait intimidasi dan kriminalisasi terhadap aktifis perlindungan tambang. “Tapi ini pembunuhan dilakukan di depan umum. Kami meminta setidaknya diberhentikan sementara karena rakyat selalu jadi korban usaha pertambangan,” ujar Ken. Kepolisian Resor Lumajang Selasa (29/9) ini, telah menangkap 20 tersangka kasus dugaan penganiayaan dan pembunuhan petani sekaligus aktivis Salim alias Kancil di Lumajang, Jawa Timur. Kejadian tersebut juga turut menimpa seorang korban lain bernama Tosan yang mengalami luka parah.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan, sebenarnya sudah ada 22 tersangka yang ditetapkan. Namun, dua orang diantaranya tidak ditahan karena masih berusia 16 tahun. Para tersangka diantaranya adalah Tedjo, Ngatiman, Elisandi, Harmoko, Timartin, Rudi, Edi Santosa, Madasir, Widianto, Sukit, Hendrik, Buri dan Farid. Ada pula Muhamad Subadri, Slamet, Siari, Siaman, Edor Hadi Kusuma dan Dodik Hartono. Sementara dua orang yang masih di bawah umur adalah IL dan AA.

“Tersangka masih bisa bertambah, tergantung keterangan saksi dan alat bukti yang ditemukan,” kata Argo saat dihubungi. Walau demikian, dia tidak mau berandai-andai berapa jumlah tersangka yang akan ditetapkan terkait kasus ini. Hal tersebut, kata Argo, akan berkembang sesuai dengan hasil penyidikan yang berjalan. Saat ini penyidik masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap para tersangka untuk mendalami motif penganiayaan yang mengakibatkan kematian akhir pekan lalu itu. Polisi belum bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya menjadi pemicu kejadian tersebut.

Berdasarkan informasi yang didapatkan CNN Indonesia, beberapa hari sebelum kejadian, warga Pantai Watu Pecak Desa Selok Awar-Awar telah melaporkan ancaman pembunuhan terhadap Tosan ke Kepolisian Sektor Pasirian. Perwakilan warga desa, pada 8 September lalu, melakukan pertemuan yang difasilitasi Camat Pasirian, Abdul Sabar. Sehari setelahnya, warga kemudian melakukan aksi damai di Dusun Krajan II Desa Selok Awar-Awar. Pada 10 September, sekira 6.00 WIB, sekelompok orang mendatangi rumah Tosan dengan membawa senjata tajam berupa clurit dan bahan peledak bondet. Berdasarkan informasi, para kelompok itu menyebut “melawan kepentingan umum masyarakat desa.”

Tidak disebutkan apa yang menjadi permasalahan dalam aksi tersebut. Namun informasi lain menyebut kejadian ini terkait dengan masalah lokasi pertambangan. Argo mengaku belum mendengar informasi tersebut. Namun, jika benar telah ada laporan, maka Kepolisian mestinya menindaklanjuti dengan melakukan patroli dan pengamanan. Dia juga tidak mau pihaknya disebut kecolongan atas kejadian ini. “Kejadian ini tiba-tiba. Kami sudah fasilitasi lewat muspida dan lain-lain, tapi ini tetap terjadi,” kata Argo.

Sebelumnya, dua orang petani di Lumajang, Jawa Timur, ditemukan tewas dan diduga menjadi korban penganiayaan dan pembunuhan berencana. Salim Kancil dan Tosan diduga menjadi korban skenario besar untuk memuluskan usaha pertambangan. Manajer Kebijakan dan Pembelaan Hukum Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Muhnur Satyahaprabu, mengungkapkan keduanya dikenal sebagai pejuang lingkungan tolak tambang di desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang.

Dengan kondisi Tosan dan tewasnya Salim, Walhi menyebut, masyarakat sekitar sangat terancam, ketakutan sehingga sulit untuk berkomunikasi dengan tim konsolidasi gabungan. Dia mengatakan, pihaknya turut meminta bantuan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). “Ini adalah skenario besar memuluskan usaha pertambangan yang diduga adalah PT Indo Modern Mining Sejahtera (IMMS) yang investasi triliunan disana,” ujar Muhnur di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (28/9).Manager Emergency Response Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Ki Bagus Hadi Kusuma mengatakan, meski pihak kepolisian telah menetapkan 23 orang termasuk Kepala Desa Awar-awar sebagai tersangka pembunuhan sadis petani Salim Kancil, tim khusus yang dibuat Jatam menduga ada lebih dari tujuh orang lagi yang terlibat dengan pembunuhan Salim.

“Dari pengakuan masyarakat dan temuan tim di lapangan, ada lebih dari 30 orang yang terlibat. Dari hasil gelar perkara di Polda Jawa Timur, dijelaskan bahwa pembunuhan Salim sudah direncanakan oleh puluhan orang tersebut,” kata Ki Bagus saat dihubungi. Ki Bagus menjelaskan, rencana pembunuhan Salim telah dirancang satu hari sebelum kematiannya. Mereka yang bertugas mengeksekusi dengan mengkroyok Salim hingga tewas ternyata adalah orang-orang dekat sang Kepala Desa Hariyono.

Belasan orang yang tergabung dalam kelompok tersebut kemudian diketahui sebagai tim sukses Hariyono, pada saat dia mencalonkan diri sebagai pemimpin desa. “Pembunuhan itu direncanakan satu hari sebelumnya oleh tim 12. Tim 12 adalah bentukan si kepala desa waktu dia mau nyalon jadi kades. Yah, seperti tim sukses,” katanya.

Kota Lumajang, menurut JATAM, sempat tercatat mengalami penolakan atau bentrok dengan latar belakang yang sama dengan kasus Salim Kancil. Kala itu warga menolak karena tidak ingin gumuk pasir yang selama ini dijadkan penahan tsunami diambil oleh perusahaan pertambangan. Isu kejahatan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di sektor pertambangan telah menjadi pembahasan dalam forum supervisi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Wacana tersebut bahkan direkomendasikan oleh Koalisi Anti Mafia Tambang Region Jawa dalam forum Monitoring dan Evaluasi atas Hasil Koordinasi dan Supervisi Pertambangan Mineral dan Batubara untuk Provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta, dan Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

“Salah satu rekomendasi Koalisi Anti Mafia Tambang adalah penanganan dan penyelesaian kasus yang terkait dengan kejahatan dan pelanggaran HAM di sektor pertambangan,” kata Maryati Abdullah, Koordinator Publish What You Pay (PWYP) Indonesia. Menurut Maryati, penanganan dan penyelesaian kasus pelanggaran HAM dan kejahatan di sektor tambang merupakan salah satu dari 11 rekomendasi yang mencuat dalam forum supervisi bersama KPK. Forum tersebut saat itu dihadiri oleh Wakil Ketua KPK Johan Budi Sapto Pribowo, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Bambang Gatot Ariyono, serta seluruh jajaran pejabat pemerintah daerah di Jawa, Mei 2015.

Maryati menyatakan, rekomendasi saat itu disampaikan untuk bisa menyelesaikan kasus kejahatan yang sudah ada, serta mencegah terjadi pelanggaran serupa. Terkait kasus pembunuhan aktivis anti tambang Salim Kancil, Koalisi Anti Mafia Tambang meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus tersebut. “Masyarakat membutuhkan jaminan bahwa mengawasi aktivitas pertambangan tidak akan membahayakan diri mereka. Agar tidak ada lagi kejadian seperti kasus Salim Kancil,” kata Maryati.

Sementara itu, rekomendasi lainnya yang mencuat dalam forum supervisi KPK yaitu agar pejabat terkait melakukan fungsi pengawasan dan penegakan hukum maksimal untuk memastikan tak ada alih fungsi lahan hutan untuk pertambangan yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. “Karena jika tidak sesuai ketentuan, bisa menimbulkan gesekan dan bentrokan dengan para aktivis pemerhati lingkungan maupun pertambangan. Kasus kekerasan bukan tidak mungkin terjadi,” ujar Maryati.

Rekomendasi lain adalah ”Mengutamakan aspek keselamatan warga dan lingkungan hidup dalam penertiban, penataan izin, dan penegakan hukum.” Koalisi Anti Mafia Tambang juga merekomendasikan agar dikembangkan skema black list (daftar hitam) bagi perusahaan dan pemilik perusahaan yang melakukan pelanggaran terhadap penggunaan izin dan merugikan negara. Daftar hitam itu, lanjut Maryati, harus diinformasikan kepada publik dan perbankan.

“Kegiatan usaha pertambangan harus memerhatikan aspek HAM, hak sosial ekonomi masyarakat, dan perlindungan lingkungan hidup,” ujar Maryati. Pada 26 September 2015, aktivis anti tambang Salim Kancil (46) tewas dibunuh. Dia dijemput sejumlah preman dari rumahnya dan dibawa ke Kantor Desa Selok Awar-Awar. Salim dianiaya dengan cara dipukuli batu dan benda keras lainnya oleh banyak orang dalam kondisi kedua tangan terikat.

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) saat ini juga tengah berada di Lumajang memantau proses penyidikan yang dilakukan kepolisian dalam kasus pembunuhan Salim. Polda Jawa Timur telah menetapkan 23 orang sebagai tersangka yang diduga terlibat membunuh Salim. Salah satu orang yang ditetapkan sebagai tersangka adalah Kepala Desa Selok Awar-awar, Hariyono. Polisi menemukan airsoft gun di kediamannya saat melakukan penggeledahan, Kamis sore (1/10).Petisi online di Change.org yang meminta Kapolri Jenderal Badrodin Haiti untuk menangkap pembunuh petani antitambang Lumajang, Salim Kancil, telah mendapat dukungan lebih dari 40 ribu orang, Jumat (2/10).

Pagi ini dukungan mencapai 42.392, kurang 7.608 lagi sampai genap 50 ribu. Salim Kancil dibunuh oleh sekelompok orang di kampungnya sendiri, Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Lumajang, Jawa Timur. Pembunuhan sadis atas Salim Kancil mengagetkan publik tanah air, dan memunculkan petisi online berjudul “Pak Badrodin, Tangkap Para Pembunuh Salim Kancil,” yang dibuat Tim Kerja Perempuan dan Tambang (TKPT).

Petisi itu selain ditujukan kepada Kapolri Jenderal Badrodin, juga kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), serta Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). “Pembunuhan keji Salim Kancil bukan kriminal biasa, tapi pembunuhan berencana yang dipicu penolakan warha terhadap penambangan pasir besi. Kejadian ini berpotensi terulang,” kata Siti Maimunah dari TKPT.

Ada lima tuntutan yang disertakan dalam petisi ini, yakni:

1. Mendesak Kepolisian dan aparat penegak hukum lain untuk serius dalam mengusut para pelaku pembantaian terhadap Salim Kancil dan (penganiayaan) Tosan hingga aktor intelektual di balik peristiwa kekerasan Desa Selok Awar-Awar, dan mengganjar pelaku dengan hukuman seberat-beratnya.
2. Mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang untuk segera menutup seluruh pertambangan pasir di pesisir selatan Lumajang.
3. Meminta LPSK untuk segera memberikan perlindungan terhadap saksi dan korban.
4. Meminta komnas HAM agar segera turun ke lapangan melakukan investigasi.
5. Meminta KPAI untuk memberikan trauma healing kepada anak dan cucu dari almarhum Salim kancil, serta anak-anak PAUD yang menyaksikan insiden penganiayaan almarhum Salim Kancil di Balai Desa Selok Awar-Awar.

Saat ini Polres Lumajang telah menetapkan 23 tersangka dalam kasus pembunuhan Salim Kancil, salah satunya Kepala Desa Selok Awar-awar, Hariyono. Saat menggeledah rumahnya kemarin sore, polisi menemukan airsoft gun. Selain Salim Kancil yang dibunuh, Rekan Salim yang juga aktivis antitambang, Tosan, juga dianiaya hingga luka parah. Namun ia berhasil menyelamatkan diri.

Salim dan Tosan menentang pembukaan tambang pasir di wilayah mereka. Sebelumnya mereka menggelar aksi damai menolak tambang. Polisi menggeledah rumah aktor intelektual penganiayaan dan pembunuhan dua warga penolak tambang pasir di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirin, Lumajang, Jawa Timur. Polres Lumajang kini tengah mendalami berbagai alat bukti salah satunya senjata airsoft gun dari hasil penggeledahan di rumah kepala desa Haryono.

Dalam penggeledahan yang dilakukan kemarin, aparat kepolisian dari Kepolisian Resor Lumajang dibantu oleh aparat Brimob Kepolisian Daerah Jawa Timur. Diterjunkannya aparat Brimob itu untuk membantu menjaga ketat saat dilakukan penggeledahan di rumah yang diduga menjadi dalang pembunuhan sadis terhadap Salim Kancil dan penganiayaan terhadap Tosan tersebut.

Rumah kepala desa yang menjadi sasaran penggeledahan lokasinya berada di sebelah kantor desa. “Kami melakukan penggeledahan rumah otak pembunuhan dan menemukan airsoft gun pelaku,” kata Kapolres Lumajang Ajun Komisaris Besar Polisi Mundzir Isma’il saat ditemui di lokasi. Mundzir mengatakan ditemukannya airsoft gun tersebut saat polisi sedang mencari alat-alat bukti di kediaman Haryono.

Setelah melakukan penggeledahan polisi langsung membawa otak pelaku kasus tersebut ke Markas Polres Lumajang. Setelah beberapa saat berada di Mapolres Lumajang, Hariyono dipindahkan penahanannya ke Markas Kepolisian Daerah Jatim pada Kamis malam (1/9). Hariyono yang sudah resmi ditetapkan sebagai tersangka diduga kuat sebagi otak dari tragedi konflik tambang pasir yang menewaskan Salim Kancil dan korban luka berat Tosan. Keseluruhan tersangka pelaku pembunuhan berjumlah 23 orang.

Adapun yang kini ditahan di Mapolda Jatim berjumlah 21 orang tersangka. Dua orang tersangka lainnya statusnya tahanan kota dan wajib lapor karena masih di bawah umur.

Artis Amel Alvi Pasrah Dijual Oleh Mucikari Robby Abbas


Artis Amel Alvi mengakui bahwa dirinyalah yang meminta muncikari Robby Abbas mencarikan pria hidung belang. Amel mengakui hal itu saat menjadi saksi dalam sidang dengan Robby di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. “Saksi sendiri yang meminta kepada Robby untuk dicarikan klien,” ujar pengacara Robby Abbas, Pieter Ell, setelah sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis, 1 Oktober 2015.

Dalam sidang yang berlangsung tertutup bagi publik itu, Pieter mengatakan, hakim menanyakan kronologi penangkapan Amel dan kliennya di Hotel Ritz Carlton, Jakarta Selatan, awal Mei lalu. Menurut Pieter, kesaksian Amel persis seperti keterangan dalam berita acara perkara. “Tapi nanti hakim yang menilai kesaksian itu benar atau salah, saksi berbohong atau tidak,” kata dia.

Selain bertanya soal kronologi, kata Pieter, Amel juga ditanya soal barang bukti berupa pakaian dalam berwarna hitam, tas jinjing kulit berwarna cokelat, uang Rp 45 juta, dan telepon seluler milik Robby yang menjadi alat bukti. Dalam sidang, Amel mengakui pakaian dalam dan tas jinjing itu miliknya. Sementara telepon seluler milik Robby dan uang Rp 45 juta diakui sebagai barang yang diberikan polisi yang menyamar sebagai pelanggannya.

Kesaksian Amel ini, menurut Pieter, dapat meringankan kliennya. Alasannya, kesaksian ini membuktikan bahwa Robby tak melakukan tindak pidana penjualan orang seperti yang didakwakan jaksa. Namun, kliennya hanya membantu para artis mencarikan pengusaha atau pejabat yang hendak memakai jasa mereka. “Saksi merasa tidak jadi korban. Dia mengatakan Robby tidak pernah memaksa dia, jadi semua atas kemauan saksi sendiri,” kata Pieter Ell.

Artis Amel Alvi yang memiliki nama asli Amelia Alviana datang setelah tiga kali mangkir. Amel datang didampingi petugas Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Ia datang mengenakan jubah gamis berwarna hitam, lengkap dengan cadar berwarna hitam. Dalam persidangan, kata Pieter, Amel melepaskan cadar hitam yang digunakan. Setelah sidang, Amel yang tak didampingi pengacara, tak mengeluarkan sepatah kata pun, langsung menuju ke mobil Xenia putih berpelat nomor B-1833-FKS.

Ahok Ditantang Adu Nyali Untuk Bongkar Perumahan Mewah Elite Di Daerah Resapan Air


Anggota Dewan Perwakilan Daerah, Fahira Fahmi Idris, menantang Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama untuk menggusur mal dan perumahan elite yang berada di daerah resapan air. Menurut dia, Ahok seharusnya tak hanya berani terhadap masyarakat kecil, seperti warga Kampung Pulo.

“Saya tantang Pak Ahok untuk berani gusur juga perumahan elite dan mal yang berdiri di lahan resapan air. Pak Ahok jangan hanya keras dan berani kepada warga kecil saja! #BangunTanpaGusur,” cuit Fahira melalui akun Twitter-nya, Jumat, 21 Agustus 2015.

Fahira memprotes langkah Ahok yang menggusur warga Kampung Pulo hingga terjadi bentrok antara warga dan polisi. “Saya sangat menyesalkan penggusuran ini berujung bentrokan warga #KampungPulo dengan polisi dan Satpol PP #BangunTanpaGusur,” kicaunya.

Anak mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris itu meminta Ahok melakukan moratorium penggusuran. Menurut dia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seharusnya bersikap bijak dengan menghentikan sementara penggusuran kampung-kampung lain di bantaran Ciliwung. “Sampai benar-benar ada kesepakatan dengan warga dan mencari tahu apakah kampung yang akan digusur pernah dijanjikan akan dibangun kampung deret atau tidak,” cuitnya.

Fahira berujar, ternyata warga sempat dijanjikan pembangunan kampung deret di Kampung Pulo, bukan direlokasi ke rumah susun. Bahkan, tutur dia, konsepnya pun telah dipresentasikan ke Pemprov DKI. Meski beberapa kali disebut Fahira dalam cuitannya, akun Ahok, @basuki_btp, belum menanggapinya. Sebelumnya, Fahira juga memprotes keras kebijakan Ahok terkait dengan minuman beralkohol atau bir.

Pemerintah Kota Jakarta Timur telah menertibkan warga Kampung Pulo yang berada di sepanjang jalur normalisasi Ciliwung. Sebanyak 920 kepala keluarga terkena dampak penggusuran tersebut. Mereka akan dipindahkan ke Rusun Jatinegara Barat. Penggusuran diwarnai bentrok lantaran warga merasa tidak terima dengan kebijakan pemerintah.

Mal Medan Plaza Habis Terbakar


Peristiwa kebakaran yang menghaguskan gedung mall Medan Plaza Center di Jalan Iskandar Muda, Kecamatan Medan Petisah, menjadi tontonan bagi warga sekitar maupun pengendara yang kebetulan melintasi lokasi kejadian.”Kami kemari ingin melihat kebakaran Medan Plaza Center,” ucap Adi (35), warga Jalan Denai, saat ditemui wartawan di lokasi, Sabtu (22/8) dini hari.Adi menyebutkan, dirinya mengetahui adanya insiden kebakaran ketika dihubungi oleh rekannya yang tinggal tidak jauh dari tempat kejadian.

“Aku taunya dari temanku, dia mengabariku melalui BBM yang menerangkan bahwa Medan Plaza hangus terbakar dan ketika tiba di lokasi ternyata api sudah begitu besar,” sebutnya. Sementara itu, informasi yang diperoleh dari lokasi menerangkan, asal api pertama sekali muncul dari lantai II gedung yang diduga akibat adanya korsleting listrik. Dikarenakan besarnya kobaran api membuat seluruh gedung hangus terbakar.

“Tiba-tiba saja tadi bang, aku lihat gedung mengeluarkan asap disambut dengan kobaran api,” ucap salah seorang sekuriti yang enggan menyebutkan identitasnya. Hingga berita ini terbit, pantauan wartawan di lokasi puluhan petugas pemadam kebakaran yang dibantu dengan 24 unit pemadam terlihat masih melakukan upaya pemadaman kobaran api dari lantai I hingga lantai IV. Selain itu, para personil kepolisian juga turut melakukan pengamanan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diingingkan.

Petugas pemadam kebakaran dari Dinas Pencegahan dan Pemadam Kebakaran, kesulitan memadamkan api yang membakar Gedung Plaza Medan, di Jalan Iskandar Muda, Kecamatan Medan Petisah, Sabtu (22/8/2015) dinihari. Api sulit dikendalikan karena petugas belum bisa menggapai sumber api yang diperkirakan berada di tengah bangunan mal tertua di Medan tersebut. Sementara api terus membesar akibat jaringan hydrant di bangunan tersebut sudah tak berfungsi.

“Ini masih kita upayakan. Sulit kita masuk ke dalam karena asapnya pekat sekali.” ujar salah seorang petugas pemadam, Rahmat. ‎Petugas pemadam sendiri kini telah berusaha masuk dan mendekati sumber api dengan cara merusak sisi bangunan gedung. “Begitu dibongkar tadi langsung terlihat apinya. Tapi belum bisa kita padamkan, karena sudah terlanjur membesar,” tambahnya.

Kebakaran besar terjadi di Mal Medan Plaza, Medan, Sumatera Utara. Seluruh lantai di mal tertua di Medan ini ludes terbakar. “Seluruh bangunan terbakar. Kita dapat laporan sejak dinihari,” kata petugas piket kantor pemadam kebakaran Medan, Ali saat dihubungi, Sabtu (22/8).Saat ini, kata Ali, petugas masih berjibaku memadamkan api. Untuk di beberapa titik, lanjutnya, percikan api masih kerap muncul.

“Seluruh damkar dikerahkan ke lokasi, total sekitar 40 mobil pemadam,” tuturnya. Ali mengaku belum mendapat informasi mengenai penyebab kebakaran ini. “Untuk penyebab dan adanya korban kita belum mendapat kabar dari yang di lapangan,” tuturnya. Lalu lintas di Jalan Iskandar Muda kini ditutup karena kebakaran makin besar dan banyaknya mobil pemadam yang parkir. Warga juga berkerumun di lokasi kejadian.

Kebakaran hebat melanda Gedung Mal Medan Plaza di Jalan Iskandar Muda, Medan, Sumut. Api membakar seluruh lantai gedung. Berikut penampakannya. Pukul 09.15 WIB, Sabtu (22/8/2015), asap hitam membubung di lokasi. Api terlihat di lantai 1 hingga 4. Sejumlah warga mengawasi dari jauh. Tim pemadam menerjukan 20 unit mobil. Namun hingga saat ini, api sulit dijinakkan. “Semua lantai terbakar,” kata petugas Dinas Pemadam Kebakaran (DPK) Medan Ali. Menurut Ali, laporan kebakaran diterima pada pukul 07.00 WIB. Untuk memudahkan proses pemadaman, lalu lintas di Jl Iskandar Muda ditutup. Belum diketahui ada tidaknya korban dan kerugian dalam kejadian ini.

Kampung Pulo Macet Total Karena Terjadi Kerusuhan


Kapolres Jaktim Kombes Umar Faruq mesti kerja keras meredam kerusuhan di Kampung Pulo, Jaktim. Hingga akhirnya aksi anarkis warga berhasil diredam. Umar menuding, ada warga yang kepentingan bisnisnya terganggu karena penggusuran sehingga marah dan memprovokasi. “Ini yang punya bisnis kontrakan yang bertahan,” jelas Umar di lokasi di Kampung Pulo, Jakarta, Kamis (20/8/2015).

Menurut Umar, sebenarnya mediasi dan sosialisasi sudah lama dilakukan. Dan sebagian besar warga sudah ikut pindah ke rusun yang lebih baik yakni Rusun Jatinegara. “3/4 warga sudah mengambil kunci Rusun, ini hanya 1/3 saja yang bertahan karena memiliki kontrakan,” tutup dia.

Polisi memberlakukan rekayasa atau pengalihan lalu lintas untuk kendaraan yang hendak melintas Kampung Pulo, Jl Jatinegara Barat, Jakarta Timur. Berikut rute yang dialihkan kepolisian. Kepala Sub Direktorat Pendidikan dan Rekayasa Lalu Lintas Polda Metro Jaya AKBP Ipung Purnomo mengatakan, pengalihan jalur diberlakukan untuk kendaraan dari arah Kampung Melayu/Otista dan dari arah Pisangan.

“Mereka dari arah Kampung Melayu yang hendak menuju ka arah Matraman diberlakukan contraflow di Jatinegara Timur, sampai belokan Jalan Slamet Riyadi. Nanti sampai di Jl Slamet Riyadi kendaraan bisa berbelok ke kiri ke arah Manggarai dan ke kanan menuju Matraman,” beber Ipung saat dikonfirmasi, Kamis (20/8/2015).

Pegalihan juga diberlakukan untuk kendaraan yang keluar dari tol dalam kota di Pisangan. Kendaraan akan dibelokkan ke Jl Slamet Riyadi sampai traffic light Jl Slamet Riyadi pengendara dipersilakan memilih rutenya ke arah Matraman atau Manggarai. Akibat pengalihan jalur terjadi kemacetan kendaraan dari arah Kampung Melayu 1-2 kilometer. Ipung mengimbau para pengendara untuk bersabar dan tidak saling serobot. Sementara itu, kericuhan telah reda. Tapi proses pengalihan lalu lintas masih diberlakukan hingga benar-benar kondusif.

Pemprov DKI bersikap tegas. Permintaan ganti rugi untuk warga Kampung Pulo, Jaktim ditolak. Ada aturan hukum yang tak boleh dilanggar. “Persoalannya mereka menuntut agar tanahnya diganti rugi. Sudah kita kaji secara hukum, Pemprov DkI tidak bisa bayar tanah itu karena itu tanah negara, tidak ada dasar hukum untuk itu,” kata Sekda DKI Saefullah, Kamis (20/8/2015). Menurut Saefullah sebagai kompensasinya warga disediakan Rusun yang kondisinya lebih baik dari di rumah di Kp Pulo.

“Lokasinya masih di Jl Otista, dekat sekali. Kita harap warga terima. Dan ada 400-an ambil undian, sudah ada 200-an ambil kunci. Tapi masih ada yang belum ambil kunci,” urai dia. “Kenapa pakai undian? Agar adil, siapa yang tempati lantai 3 dan seterusnya. Jadi sudah ada 400 lebih masyarakat yang ambil pengundian dari total 972 KK. Fasilitas yang disiapkan sudah bagus,” tambah dia.

Kondisi di Kampung Pulo, Jaktim mulai kondusif. Warga yang sebelumnya melakukan perlawanan kini sudah dipukul mundur. Mereka masuk ke perkampungan. Sedang ruas Jl Jatinegara Barat kini dikuasai Satpol PP dan petugas kepolisian. Tampak alat berat yang sempat dibakar warga teronggok di pinggir jalan. Alat berat tak bisa lagi bergerak. Hingga pukul 10.45 WIB, Kamis (20/8/2015), petugas praktis sudah menguasai keadaan.

Sebagian rumah warga sudah luluh lantak dibongkar alat berat. Sebagian rumah yang lain masih bertahan. Sambil berteriak-teriak warga membereskan barang-barang mereka. Sementara ruas Jl Jatinegara masih belum bisa dilalui. Batu-batu berserakan di jalan. Banyak warga dari daerah lain juga berkerumun di lokasi melihat kondisi Kampung Pulo. Akibat bentrokan ini, 10 motor rusak serta beberapa petugas polisi dan Satpol PP terluka. Sejumlah warga juga terluka.

Pesawat Trigana Air yang Jatuh di Papua Bawa Uang Tunai Rp 6,5 Miliar


Pesawat Trigana Air PK-YRN yang mengalami kecelakaan saat terbang dari Bandara Sentani, Jayapura, menuju Bandara Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, dikabarkan membawa uang tunai sebesar Rp 6,5 miliar yang menurut rencana akan digunakan untuk membayar Simpanan Keluarga Sejahtera bagi warga di 8 distrik Kabupaten Pegunungan Bintang.

Kepala Kantor Pos Jayapura FX Haryono mengatakan, dana sebesar Rp 6,5 miliar itu rencananya untuk membayar dana kompensasi kenaikan BBM bagi warga di 8 distrik di Kabupaten Pegunungan Bintang.

“Uang itu diantar oleh 4 pegawai Kantor Pos Jayapura, dan rencananya hari ini akan dibayarkan untuk warga di 8 distrik di sana,” kata FX Haryono kepada wartawan di posko pencarian di Base Ops Lanud Jayapura, Senin (17/8/2015).

Menurut Haryono, empat pegawai Kantor Pos yang mengantar dana kompensasi ke Pegunungan Bintang adalah MN Aragae, Agustinus Luanmasse, Yustinus Huruluen, dan Teguh Sane. Saat ini, Haryono masih berada di posko pencarian di Base Ops Lanud Jayapura, Bandara Sentani, untuk mencari tahu kondisi terakhir rekan-rekannya.