Categories
Beragama Berbudaya Sejarah

Het Kong Sie Huis Tek Peninggalan Sejarah Tertua Jakarta Yang Dilupakan Oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta


Tahu tidak, Pasar Baru di Jakarta Pusat itu didirikan jauh sebelum republik ini berdiri?

Semula bernama Passer Baroe dan ketika Batavia menjadi nama untuk Jakarta, Pasar Baru didirikan pada 1820.

Tak heran, banyak bangunan tua di sini dan banyak yang masih seasli ketika pasar itu pertama kali didirikan, bahkan ada yang jauh lebih tua dari itu.

Salah satunya adalah Het Kong Sie Huis Tek atau sekarang dinamai Vihara Dharma Jaya atau Sin Tek Bio.

Letak rumah peribadatan ini tersembunyi, tenggelam di antara toko-toko tua, masuk Gang Belakang Kongsi yang begitu sempit dan kumuh di Pasar Baru Dalam.

Semerbak bau pesing menyertai perjalanan menuju tempat bersembahyang kaum Tionghoa itu.

Gang itu hanya cukup untuk dilalui oleh dua orang, dan itu pun mesti bersenggolan. Tuntas di gang ini Anda akan berujung pada satu tembok besar bertuliskan “Yayasan Wihara Dharma Jaya, Sin Tek Bio, Anno 1698 Batavia”.

Memasuki area kelenteng berwarna dominan merah itu, Anda akan membaui semerbak hio yang merasuki seluruh rongga hidung.

Di kanan dan kiri pintu utama kelenteng Anda akan disambut dua ekor patung singa penjaga yang disebut Bao-gu-shi.

Kelenteng ini tidak besar, namun keagungannya tetap terlihat dari atas bangunan kelenteng yang idhuni dua ekor patung naga dengan mutiara di antaranya.

Dalam ruang utama ada tiang-tiang pancang yang dililit dua ekor naga, sementara di dalam kelenteng ada ribuan lilin disangkari gelas-gelas kaca dengan stempel berwarna merah bertuliskan kaligrafi Cina berwarna emas.

Ratusan patung dewa dewi diletakkan di 14 altar yang memenuhi ruang utama, sedangkan patung Hok-tek Ceng-sin diletakkan di altar utama sebagai dewa utama yang disembah di kelenteng ini.

Patung itu sudah ada sejak kelenteng ini didirikan, bahkan usianya lebih tua dari kelenteng. Patung itu didatangkan langsung dari Tiongkok, sebelum kelenteng itu berdiri.

Sin Tek Bio yang memiliki dewa utama Hok-tek Ceng-sin sepertinya memang cocok berada di tengah Pasar Baru, karena Hok-tek Ceng-Sin adalah dewa Bumi dan rejeki atau dewa para petani dan pedagang.

Vihara ini diyakini berdiri pada abad ke-17, tepatnya 1698 yang saat itu adalah Tahun Macan. Tahun itu didapat dari data perabotan keleteng yang tercatat dari daftar penyumbang pembangunan kelenteng.

Akan tetapi pada 1820, seiring berdirinya Passer Baroe, kelenteng ini baru didaftarkan dengan nama Sin Tek Bio, yang berarti Kelenteng Pasar Baru.

Kapan kelenteng ini didirikan, mungkin sudah bukan masalah lagi. Yang jadi persoalan ini bangunan bersejarah itu mesti dilindungi. Sayang, kenyataan hampir dilupakan.

“Saya sudah pernah meminta bantuan ke Dinas Tata Kota, tapi tidak pernah ada tanggapan. Mereka (pemerintah) kurang perhatian kepada keadaan kami,” kata Ketua Yayasan Wihara Dharma Jaya Santoso Witoyo.

Santoso yang sejak 1981 mengurusi yayasan ini tampak pasrah dengan keadaan kelenteng yang kian hari kian tidak dianggap pemerintah. Padahal ini adalah salah satu jejak sejarah Jakarta, sekaligus objek wisata.

Tak hanya Sin Tek Bio, kelenteng Kwan Im Bio yang tepat berada di sebelahnya bernasib sama. Kwan Im Bio bahkan jauh lebih sulit ditemukan. Keduanya adalah kelenteng-kelenteng tertua di Ibukota.

Meski dinyatakan sebagai salah satu dari sembilan kelenteng utama di Jakarta, Sin Tek Bio sama sekali tak seperti kelenteng utama. Apalgi jika melihat jalan ke kelenteng ini yang begitu kumuh, sempit, becek dan pesing.

Tak hanya jalanan ke kelenteng, papan nama kelenteng pun sulit ditemukan karena tertutup terpal para pedagang.

Sungguh mengenaskan nasib jejak sejarah dan peradaban ini.

“Saya hanya bisa berpasrah kepada yang kuasa,” ucap Santoso.

Categories
Bencana Alam Sejarah

Kisah Korban Letusan Gunung Agung


suara gemuruh mendekat. Suasana menjadi gelap pekat. Udara panas menyengat. ”Saya mulai ketakutan,” kisah Turut. Remaja ini pun tak kuasa bertahan. Dia tinggalkan para pemain gamelan yang lain. ”Saya lari bersembunyi di ceruk sempit di belakang pura sambil menutup mata.”

Dia tak ingat lagi dengan rekan-rekannya. Yang ada dalam benaknya hanyalah bagaimana menyelamatkan diri. Ceruk batu yang menghadap ke selatan, membelakangi Gunung Agung, itu melindunginya dari empasan langsung awan panas. Namun, tetap saja tangan dan sebagian mukanya melepuh.

”Sekitar 30 menit suasana gelap. Gemuruh terus terdengar. Setelah itu, suasana kembali terang, tapi sepi,” kata Turut. Sunyi mencekam. Tak ada lagi bunyi gamelan. Bahkan, tak terdengar suara apa pun. Dia keluar dari lubang persembunyian dan menyaksikan teman-temannya tewas bergelimpangan.

Ia berjalan tertatih meninggalkan pura. Panas di wajahnya tak terperikan. Kakinya melepuh, menginjak tanah berselimut kerikil membara. Jejak luka bakar itu masih terlihat hingga kini. Saat itu, dia mengira seluruh keluarga dan rekannya telah tewas. Turut putus asa dan nyaris bunuh diri. Dia berjalan tanpa arah sambil mencari-cari senjata tajam.

Saat itulah, ia melihat Drasni, gadis muda tetangganya yang baru saja menikah, menusukkan pisau ke leher. Drasni bunuh diri melihat suaminya, Itawa, mati diterjang awan panas. ”Drasni sempat berjalan sekitar 500 meter sebelum tersungkur dan mati,” ujar Turut.

Melihat cara Drasni mati, Turut mengurungkan niatnya bunuh diri. Dia meneruskan perjalanan menuju Sekeluwih, menjauhi aliran awan panas. Di sana, ia bertemu ayah dan ibunya.

Dari 25 penabuh gamelan di Sogra, hanya delapan orang, termasuk dirinya, yang selamat. Mereka yang selamat itu ternyata lari lebih dulu menuju Sekeluwih sesaat sebelum awan panas menerjang. Hanya Turut yang masih selamat walaupun bertahan di dalam pura.

Jero Mangku Wayan Ginda termasuk yang selamat karena berlari sesaat sebelum awan panas menerjang. ”Bapak saya waktu itu juga di pura bersama Pak Mangku Turut,” ujar Mangku Gde Umbara, Bendesa Adat Desa Sebudi, anak Wayan Ginda. ”Menjelang kejadian, bapak keluar dari pura dan berlari ke rumah menyelamatkan saya,” kisah Umbara, yang waktu itu berumur 3 bulan.

Wayan Ginda meninggal beberapa tahun lalu. ”Bapak saya keluar dari pura begitu melihat gumpalan awan turun dengan cepat,” ujar Umbara.

Sementara Ketut Sudana selamat dari awan panas karena kebetulan. Pagi itu, dia mendapat giliran memasak. Dia pulang ke rumah untuk menyiapkan makanan bagi lebih kurang 100 warga yang khusyuk berdoa dan menabuh gamelan di Pura Badeg Dukuh.

Saat terdengar suara gemuruh, Sudana masih duduk di depan tungku masak. Dia menggigil dan tidak kuasa beranjak. Lututnya bergetar keras seperti dinding rumahnya.

Suara gamelan dan doa-doa dari arah pura di belakang rumahnya semakin tenggelam oleh bunyi gemuruh dan letusan yang mendekat. Sudana juga mulai mendengar bunyi gemeretak di atas atapnya. Hujan kerikil telah mengguyur.

Ketut Sudana segera tersadar. Ia mengambil nare, nampan bambu, untuk melindungi kepala. Ia membuka pintu dan pandangannya menatap gelap. Ia mengikuti nalurinya, berlari memasuki kebun-kebun warga, menjauh dari puncak Gunung Agung. Nasi sela (ketela rambat rebus) yang sudah matang ditinggalkannya.

Nare yang dibawa sangat berjasa melindungi kepalanya dari hujan kerikil sebesar kacang tanah hingga kepalan tangan orang dewasa. Namun, telapak kakinya melepuh disengat panas kerikil yang berjatuhan di tanah. Dalam pelarian, ia bertemu warga lain. Ia terus berlari turun, diiringi ratapan tangis ibu-ibu serta anak-anak. Sudana membantu semampunya. ”Saya berlari selama dua jam hingga mencapai Rendang,” ujar Sudana.

Sudana mengungsi di Rendang hingga 15 hari kemudian. Ketika pulang ke Badeg Dukuh, ia mendapati 100-an rekannya tewas di dalam pura. Umat Hindu usai sembahyang di Pura Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali, Kamis (6/10/2011). Pura terbesar di Bali yang mengalami perkembangan sejak masa pra-hindu, ini berorientasi ke Gunung Agung yang dianggap sebagai tempat tinggal para dewata.

AWAN panas sudah mendekat, tetapi warga Sogra dan Badeg Dukuh di lereng selatan Gunung Agung tak mau beranjak. Mereka bertahan di pura. Dengan memanjatkan doa-doa sambil menabuh gamelan, mereka berharap dewa-dewa gunung akan melindungi. Semakin dekat awan panas itu, semakin keras tabuhan gamelan.

Badeg Dukuh dan Sogra, Minggu pagi, 17 Maret 1963. Di dua dusun yang dipisahkan oleh Tukad (sungai) Lengu dan hanya berjarak 4 kilometer dari puncak Gunung Agung itu, bunyi gamelan terdengar bersahutan. ”Kami sudah tiga hari berdoa di dalam pura,”Ketut Sudana (73), warga Badeg Dukuh, berkisah. ”Kami percaya akan dilindungi”

Mangku Turut (63), yang saat itu masih remaja, juga berdoa di dalam pura. Warga Sogra ini kebagian peran memainkan alat musik ceng-ceng dalam ritual yang telah digelar sejak beberapa hari sebelumnya di pura. ”Setiap malam, kami berdoa sambil memainkan gamelan hingga pagi hari. Kami berdoa semoga Gunung Agung tidak meletus. Kalaupun meletus, tidak akan menimpa kampung kami,” kata Turut.

Bagi warga Sogra dan Badeg Dukuh, Gunung Agung dipercaya tak akan membawa petaka. Walaupun sempat mengungsi pada awal letusan, mereka segera kembali. ”Kami tidak mendengar cerita bahwa Gunung Agung pernah meletus dan membawa bencana,” kata Turut.

Sejak kecil, Turut diajarkan bahwa petaka gunung api disebabkan kurangnya doa dan persembahan. ”Selama kami masih melakukan upacara, tidak akan terjadi bencana,” ujarnya.

Keyakinan itu sedemikian kuat dipegang warga Badeg Dukuh dan Sogra sehingga saat Gunung Agung mulai menggeliat, mereka tak bergegas pergi.

Setelah 120 tahun tertidur, Gunung Agung bangun pada 16 Febuari 1963. Djajadi Hadikusumo (1963) dari Direktorat Geologi, Bandung, mencatat, pada 18 Febuari sekitar pukul 23.00, warga Tianyar di lereng utara Gunung Agung untuk pertama kali mendengar suara gemuruh dari dalam bumi. Esok harinya, sekitar pukul 03.30, asap terlihat keluar dari kawah Gunung Agung. Letusan kemudian terdengar pada pukul 05.50, disusul lontaran kerikil dan batu serta embusan awan panas.

Saat letusan pertama ini, sebagian warga Sogra yang terkejut sempat mengungsi ke Desa Selat sebelum pindah ke kota Karangasem. Hanya semalam di Karangasem, mereka kembali lagi ke Sogra. ”Sam – pai di kampung, banyak rumah ambruk, tidak kuat menahan abu tebal dan kerikil,” kata Mangku Turut mengenang.

Warga segera membersihkan abu dan memperbaiki rumah yang rusak. Gempa masih saja berlangsung, demikian pula bunyi gemuruh dan hujan abu. Namun, mereka menganggapnya biasa. ”Wa r g a terus bekerja dan malamnya berdoa di pura,” ujar Turut.

Namun, letusan pada pertengahan Febuari 1963 itu ternyata baru awal dari sebuah paroksimal (letusan besar) yang tengah disiapkan Gunung Agung.

Pagi itu, tanda-tanda datangnya letusan besar telah dikabarkan. Bunyi gemuruh dan getaran gempa semakin kerap terjadi dan terasa semakin dekat. Anjing berlarian dari lereng atas gunung dengan ekor terbakar. Sebagian warga mulai mengungsi. ”Namun, kami tetap bertahan di dalam pura,” kata Turut.

Pertanda yang kasatmata itu tidak menggoyahkan keyakinan sebagian warga Sogra dan Badeg Dukuh untuk bertahan. Mereka semakin khusyuk berdoa dan gamelan ditabuh keras- keras.

Kepala Badeg Dukuh Mangku Kadek Raja sebagai pemangku adat sebenarnya menyadari, bahaya telah dekat. Karena itulah, ia menyuruh anak-anaknya pergi meninggalkan dukuh, mengungsi ke desa di bawah.

Namun, dia sendiri tak mau pergi. Dia memegang teguh prinsip hidup-mati bersama Gunung Agung. ”Ia sampai bertengkar dengan saudaranya kerena tidak mau diajak meninggalkan pura,” ungkap Sudana. Sekitar 100 orang lainnya memilih bertahan di pura bersama sang pemimpin.

Categories
Berbudaya Sejarah

Teuku Umar Seorang Pahlawan Atau Oportunis Sejati Yang Melihat Perang Sebagai Peluang


Berdasarkan TRADISI LISAN yang dimuat dalam komik Aceh. Penulis tambah yakin tentang cerita komik itu saat Anthony Reid sendiri juga memberikan catatan tentang keberadaan ramalan tersebut dan protes Cut Nyak Dhien (Reid, 2005 : 297 catatan kaki no.64)

Sumber lokal (Anonim, 1995 : 74) yang dikutip http://www.acehprov.go.id juga “mencurigai” motif Teuku Umar, dikatakan “sebenarnya Teuku Umar adalah seorang tokoh yang sulit dimengerti baik oleh lawan maupun oleh kawannya.

Benarkah Teuku Umar hanya “pura-pura” menyerah? Atau sebenarnya itu adalah cerminan jiwa oportunis? Atau ingin menjadi Sultan Aceh dengan bantuan Belanda?

Anthony Reid dalam bukunya menuduh Umar sebagai “oportunis brilian yang memilih saat-saat seperti ini untuk berpihak kepada Belanda.” Reid mendiskripsikan perilaku Umar tersebut pada peristiwa S.S Nisero. Lebih jauh Reid juga memberi catatan “Teuku Umar adalah sebuah contoh klasik dari seorang petualang berbakat yang melihat perang sebagai sebuah peluang besar” (Reid, 2005 : catatan kaki bab 7 no.65).

Dengan spd motor saya hanya menderu di jalanan Banda Aceh yang sedang bersolek menyambut “Visit Banda Aceh 2011”. Saat melintasi jalan Taman Makam Pahlawan mata saya kembali melihat baliho besar yang menampilkan enam sosok pahlawan nasional asal Aceh, mereka adalah Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Tengku Chik Ditiro, Panglima Polem, Teuku Nyak Arif dan Teuku Umar.

Baliho itu sebenarnya sudah lama dipasang, sejak Nopember lalu saat Indonesia memperingati hari Pahlawan. Yang mencolok adalah wajah tirus Teuku Umar dengan peci miringnya, ia dicetak paling atas dengan ukuran paling besar. Ini wajar karena Teuku Umar pahlawan yang sungguh komplit, pakai “pura-pura” menyerah segala untuk mendapatkan senjata dan mempelajari strategi musuh. Justru itulah yang mengusik pikiran saya.

Benarkah “menyerahnya” Teuku Umar merupakan strategi perjuangannya? Atau jangan jangan…

Tanggal 8 April 1873 di lepas pantai Ceureumen Banda Aceh, kapal perang Belanda, Citadel van Antwerpen buang sauh. Lalu tanggal 11 April 1873 dengan penuh percaya diri pasukan Belanda yang terdiri dari 3.198 pasukan termasuk 168 perwira KNIL, didukung oleh kurang lebih 1000 kuli, diturunkan dari kapal untuk menggempur kedudukan pejuang Aceh (Kawilarang, 2008 : 60).

Bagi bangsa Aceh tidak ada kata lain : lawan. Dokumen Belanda sendiri menyebutkan bahwa Aceh bukan petarung sembarangan. Berbeda dengan suku bangsa lain di Indonesia, Aceh menerapkan taktik jitu, termasuk memasang sniper di ketinggingan bangunan.

Malang bagi Belanda karena sang panglima, Jenderal JHR Kohler, tewas pada 14 April 1873 terkena bidikan senapan mauser yang beberapa tahun sebelumnya diimpor dari Penang. Penggantinya, Kolonel van Daalen gagal mengangkat moral pasukan sehingga memaksanya mundur pada 25 April 1873.

Berita perang dan kekalahan Belanda diulas di London Time (edisi 22 April 1873) dan The New York Time (edisi 15 Mei 1873). Batavia tersentak.
Tetapi orang Aceh juga tahu bahwa Belanda bukan kolonialis sembarangan. Artinya Aceh tetap butuh bantuan. Tetapi siapa yang bisa membantu? Inggris, Perancis atau Amerika?

Tidak! Sesama kolonial tidak akan saling menghancurkan. Satu-satunya jalan adalah meminta perlindungan pada pusat kekuasaan islam, khilafah Turki Utsmaniah. Sultan Aceh (Mahmud) bersegera memerintahkan diplomatnya Habib Abdul Rahman Az-Zahir – yang waktu itu di Mekah (saat itu Arabia adalah propinsi Turki) — menuju Istambul. Pada tanggal 27 April 1873 Habib tiba di Istambul (Reid, 2005 : 129).

Belanda sempat gemetar tatkala tersiar kabar bahwa kapal perang Turki “Ertogrul” beserta beberapa kapal pendamping bergerak cepat menuju Aceh. Tetapi kabar itu ternyata bohong. Turki abad-19 berbeda dengan Turki Abad-15. Turki abad-19 adalah imperium yang tengah menggali liang kubur dalam-dalam. Misi Habib gagal total.

Dari Istambul ia mendengar kabar bahwa Kutaraja (Banda Aceh) telah jatuh ketangan Belanda, sedangkan Sultan dan para pejuang mengungsi ke Indrapuri kemudian Keumala.

Saat Citadel menembakan meriam pertamanya, Teuku Umar baru menginjak 19 tahun (lahir 1854 di Meulaboh, Wikipedia). Seperti layaknya orang Aceh, Umar muda juga terimbas gejolak perang. Waktu itu sebagai Keuchik (Kepala Gampong) ia adalah pemimpin perlawanan di Kampungnya. Ia dikenal cerdas dan pandai mempengaruhi orang. Umarpun menyaksikan bahwa perang itu telah berlangsung lama dan belum ada tanda-tanda selesai. Satu hal yang pasti perang menimbulkan penderitaan.

Tetapi perangpun di mata Umar pada akhirnya membuka peluang. Setidaknya ia melihat banyak ulee balang (bangsawan, penguasa daerah) yang telah berdamai dengan Belanda mendapatkan perlindungan dan keuntungan finansial, berupa gaji dan izin untuk berdagang.

Pada tahun-tahun tersebut Aceh terkenal dengan perdagangan lada. Komuditas ekonomi ini yang menjadikan kaum ulee balang menangguk keuntungan. Berbeda dengan kaum ulama dan santri yang menganjurkan perang total tanpa kompromi demi kehormatan, kaum ulee balang dan serdadunya tidak senantiasa demikian. Baginya kehormatan perlu, tetapi uang juga penting.

Setelah bermain kucing-kucingan dengan Belanda, pada akhirnya, Teuku Umar beserta pasukannya berdamai dengan Belanda tahun 1883 (Rusdi Sufi, 1994 : 88) dan menyerah secara resmi pada Maret 1984 (Reid, 2005 : 256). Hal ini menimbulkan kemarahan besar dari pejuang Aceh.

Penyerahan tersebut sangat menyakinkan karena Teuku Umar akhirnya ikut aktif bertempur untuk Belanda. Anthony Reid dalam bukunya menuduh Umar sebagai “oportunis brilian yang memilih saat-saat seperti ini untuk berpihak kepada Belanda.” Reid mendiskripsikan perilaku Umar tersebut pada peristiwa S.S Nisero. Lebih jauh Reid juga memberi catatan “Teuku Umar adalah sebuah contoh klasik dari seorang petualang berbakat yang melihat perang sebagai sebuah peluang besar” (Reid, 2005 : catatan kaki bab 7 no.65).

Saat perang Aceh memasuki masa yang rumit, pada 8 Nopember 1883 kapal dagang Inggris S.S Nisero berisi 29 ABK kandas di dekat Panga (40 mil di utara Meulaboh) dan disandera oleh penguasa Teunom, Teuku Imam. Upaya Belanda untuk membebaskan sandera tidak mudah sehingga menimbulkan perselisihan di Amsterdam dan London. Belanda tahu bahwa Teuku Imam dari Teunom ini adalah musuh bebuyutan Teuku Umar.

Akhirnya Umar yang telah menyerah dipilih untuk menjadi pimpinan pasukan komando membebaskan sandera. Pada tanggal 3 Juli 1884 pasukan komando itu bergerak menuju Rigas (dekat Teunom) dengan membawa senjata, amunisi dan uang tebusan.

Di perjalanan rupanya Teuku Umar dan pasukannya mendapat perlakuan diskriminatif dari kapten dan awak kapal perang Belanda. Umar dan pasukannya disuruh tidur digeladak dan dilarang mondar-mandir. Sebagai orang Aceh yang menjunjung kehormatan, Umar tersinggung. Pada saat kapal mendarat di Rigas maka Umar dan anak buahnya membunuh seluruh awak kapal belanda dan membawa lari senjata, amunisi dan uang. Hal ini membawa kemarahan Belanda. Sejak itu Umar dan Belanda pecah kongsi. Tetapi perlu diingat ini bukan yang terakhir Umar menyerah lalu pecah kongsi dengan Belanda.

Setidaknya Kawilarang mencatat bahwa tahun 1885 Teuku Umar ditengarai kembali berdamai dengan Belanda. Mungkin saja Umar telah berhasil menjelaskan tragedi pasukan komando S.S Nisero, bahwa ia terpaksa membunuh karena dilecehkan, sehingga akhirnya ia diterima kembali oleh Belanda. Menyerahnya Umar tahun 1885 ini perlu diklarifikasi ulang, karena Kawilarang tidak secara tegas menyertakan sumbernya. Justru Kawilarang melakukan kesalahan pengutipan “mendengar ayahnya berkhianat Cut Gambang – anak Teuku Umar dengan Cut Nyak Dhien – menangis tersedu.

Sang Ibu (Cut Nyak Dhien) langsung menghardik : Seorang perempuan Aceh tidak pernah menangis kepada siapapun yang syahid” (Kawilarang, 2008 : 129). Setahu saya hardikan Cut Nyak Dhien ini dilakukan saat Teuku Umar tewas tahun 1899, bukan pengkhianatan 1885.

Hal yang paling mungkin adalah bahwa sejak peristiwa pasukan komando S.S Nisero, Teuku Umar menerapkan strategi “dua muka” untuk meraih keuntungan pribadi. Ini masuk akal karena Umar mempunyai naluri bisnis yang kuat, “di beberapa daerah daerah ia (Teuku Umar) mempersatukan ekspor lada yang menguntungkan itu dalam satu tangan, yakni tangannya sendiri; di daerah lain ia memungut hasil sebesar $0,25 per pikul, di atas kertas atas nama Sultan. Kekayaan ini dengan murah hati ia bagi-bagikan kepada para pengikutnya, dan juga kepada istana dan kaum ulama di Keumala” (Reid, 2005 : 282). Reid juga menjelaskan bahwa kapal Hok Kanton membuang sauh di Rigas pada 14 Juni 1886 “untuk berdagang seperti biasa dengan Teuku Umar”.

Dari penjelasan Reid setidaknya kita tahu bahwa Umar terbiasa berdagang di pantai Barat Aceh. Padahal Belanda menerapkan blokade yang cukup ketat atas perdagangan. Hanya orang-orang yang pro Belanda – atau setidaknya yang bermain mata – yang bisa berdagang bebas seperti itu. Itulah kecerdikan Teuku Umar.

Sejak 1891 perang Aceh memasuki babak baru, ditandai dengan peran Snouck Hoergronye, yang terkenal dengan rekomendasinya: agar dilakukan pengejaran tidak kenal ampun terhadap pejuang Aceh. Untuk itulah pasukan khusus marsose dibentuk. Hasilnya jelas, pejuang Aceh mengalami tekanan hebat.

Snouck dengan jeli juga menyimpulkan bahwa kekuatan utama perang Aceh ada pada ulama, bukan Sultan, bukan pula kaum ulee balang. Belanda mencoba mengadu domba antara golongan ulama dan ulee balang.

Hasilnya segera nampak, Aceh pecah. Harry Kawilarang, dengan merangkum berbagai sumber menjelaskan : “Pada tahun 1891, Aceh berduka karena Teungku Chik Di Tiro wafat (diracun oleh anak buah sendiri-Pen)…Serangan gerilya oleh pasukan aceh berkurang.

Aceh mengalami krisis kepemimpinan. Habib Samalanga yang memperoleh wewenang dari Sultan gagal menggalang kekuatan. Begitu juga usaha Chik Kutakarang atau Mat Amin, putra Teungku Chik Ditiro. Semua dikalahkan oleh pemimpin-pemimpin setempat yang kecil-kecil hingga timbul perpecahan” (Kawilarang, 2008 : 119).

Siapakah pemimpin-pemimpin setempat yang kecil-kecil itu? Tidak lain ulee balang yang bersedia kompromi dengan Belanda.

Dalam situasi seperti ini Teuku Umar pada akhirnya kembali menyerah pada Belanda pada September 1893 beserta 13 orang panglima bawahan dan 250 pasukannya. Buku sejarah kita menyebutkan bahwa penyerahan ini hanya “pura-pura” untuk memperoleh senjata dan mempelajari siasat Belanda.

Setelah melakukan tugas-tugas penumpasan perlawanan Aceh dan melakukan sumpah setia pada tanggal 1 Januari 1894 Teuku Umar memperoleh gelar Tuanku Johan Pahlawan, dengan jabatan Panglima Besar Nedherland. Rumahnya di Lampisang juga diperindah oleh Belanda. Sejak itu pakaian yang dikenakan adalah pakaian seorang Jenderal dengan beberapa buah bintang emas didadanya (www.acehprov.go.id/T.umar mengutip Hazil, 1955:97).

Cut Nyak Dhien sangat marah terhadap Teuku Umar sebab ia tidak setuju dengan sikap suaminya yang nampak hanya mementingkan diri sendiri, yang hanya mengejar kemewahan dan kedudukan dengan mengorbankan kepentingan bangsa (www.acehprov.go.id/T.Umar). Paul van T. Veer dalam buku Perang Aceh penerbit Grafitti Press, menceritakan bahwa Umar mampu berkomunikasi dan menyerap informasi dalam bahasa Belanda dan Inggris, hidup dengan gaya seorang Baron Eropa. Lebih jauh Paul van T.Veer juga mengatakan bahwa Umar pernah bercita-cita menjadi Sultan Aceh, ketika ia mendapatkan kepercayaan penuh dari Belanda.

Hal ini membuktikan bahwa Umar punya ambisi politik. Melihat situasi saat itu, hanya Belandalah yang mampu mewujudkan ambisi tersebut. Hal ini penting untuk diketahui, untuk menelaah lebih lanjut motif Umar sebenarnya.

Benarkah Teuku Umar hanya “pura-pura” menyerah? Atau sebenarnya itu adalah cerminan jiwa oportunis? Atau ingin menjadi Sultan Aceh dengan bantuan Belanda? Tidak ada kepastian, yang jelas sumber sejarah resmi kita dari SD sampai perguruan tinggi meyakini bahwa Umar hanya “pura-pura” menyerah untuk memperoleh senjata dan mempelajari siasat Belanda.

Tetapi segera timbul pertanyaan? Apakah Belanda sebodoh itu dengan bisa ditipu Teuku Umar berkali-kali? Atau mengapa Cut Nyak Dhien sendiri begitu kecewa dengan menyerahnya Teuku Umar? Sumber lokal (Anonim, 1995 : 74) yang dikutip http://www.acehprov.go.id juga “mencurigai” motif Teuku Umar, dikatakan “sebenarnya Teuku Umar adalah seorang tokoh yang sulit dimengerti baik oleh lawan maupun oleh kawannya. Dalam perjuangannya ia mempunyai cara tersendiri yang sering kali sulit dipahami. Oleh karena itu, ia dianggap oleh teman-teman seperjuangannya sebagai tokoh yang kontroversial.”

Setelah memperoleh jabatan Jenderal, Umar diberi senjata dan uang untuk membersihkan musuh-musuh Belanda di bagian wilayah XXV Mukim dan XXVI Mukim. Umar sukses, sebagian memang bukan karena kemampuan bertempur tetapi lebih karena kemampuan diplomasi.

Umar membentuk persekutuan dengan Teungku Kutakarang, guru agama terkemuka XXV Mukim. Umar dan Kutakarang sangat menentang kelompok-kelompok gerilya pimpinan putra-putra Tengku Chik Ditiro yang berusaha menegakkan hak sabil (Pajak perang) di XXV Mukim, yang merugikan Teungku Kutakarang. Teungku inilah yang menyebarkan fatwa bahwa melawan Teuku Umar tidak dapat dianggap sebagai perang suci.

Dukungan fatwa inilah kiranya yang menyebabkan pasukan Aceh setengah hati melawan Umar, sehingga Umar berhasil menaklukan sebelas benteng/pos pasukan Aceh untuk Belanda (Reid, 2005 : 296-297). Melihat prestasi tersebut Deijkerhoff — Gubernur Sipil dan Militer Aceh periode 1892-1896—memberikan kepercayaan yang lebih besar kepada Umar.

Hal tersebut memicu rasa iri dari tokoh Aceh yang terlebih dahulu menyerah, seperti Panglima Muhammad Tibang dan Teuku Nek Meuraxa. Namun ada perkembangan situasi di lapangan, pada November 1895 Teungku Kutakarang meninggal dunia, ini adalah pukulan berat bagi Teuku Umar, karena sejak itu para ulama di XXV Mukim mulai berani memprotes cara-cara Umar.

Pada suatu hari Umar mengajukan proposal untuk menaklukkan benteng Lam Krak, benteng yang dipertahankan oleh pejuang perempuan Aceh. Proposal disetujui, dan Teuku Umar beserta pasukannya mendapatkan perlengkapan berupa 880 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg peledak dan uang tunai 18.000 dollar.

Tetapi rupanya pihak Aceh telah menyebarkan perang urat syaraf berupa ramalan, bahwa Umar akan tewas saat penyerbuan ke benteng perempuan. Saya bisa memahami jika Umar terkejut bukan main, terkait dengan hubungan proposal dan ramalan itu.

Dari mana orang aceh tahu tentang proposal Lamk Krak itu? Umar yang seorang muslim dan kuyup tradisi Aceh tentu percaya akan ramalan tersebut, apalagi konon ramalan tersebut datang dari ulama besar.

Umar tentu berpikir keras dan menyimpulkan, amatlah celaka jika ia sebagai muslim mati saat membela Belanda (kafir). Keislaman Umarpun bangkit, apalagi protes dari Cut Nyak Dhien semakin tak tertahankan.

Akhirnya Teuku Umar membangkang dari Belanda dan berbalik ke kaum muslimin Aceh pada tanggal 30 Maret 1896. Aceh bersorak, Belanda meradang. Sejak itu prestasi tempur Teuku Umar sungguh mengagumkan. Anthony Reid sendiri mencatat bahwa sejak itu perlawanan Aceh berada dalam satu komando, yakni Teuku Umar.

Penulis mendapati kisah tentang ramalan ini berdasarkan TRADISI LISAN yang dimuat dalam komik Aceh. Penulis tambah yakin tentang cerita komik itu saat Anthony Reid sendiri juga memberikan catatan tentang keberadaan ramalan tersebut dan protes Cut Nyak Dhien (Reid, 2005 : 297 catatan kaki no.64).

Motif inilah yang tidak diungkap dalam sejarah kita. Padahal hal ini penting untuk mengungkap karakter pahlawan kita ini.

Pada titik ini penulis menyimpulkan bahwa Teuku Umar sebelum membangkang dari Belanda telah mengalami proses psikologis yang berliku, dimulai dari meninggalnya Teungku Kutakarang (guru sekaligus pelindungnya), kritikan dari istrinya (Cut Nyak Dhien) yang bertubi-tubi, dan ketakutan akan kebenaran ramalan yang bermuara pada bangkitnya rasa keislaman.

Apapun motif dan ambisi Teuku Umar, Penulis tetap menghargai perannya. Disaat tokoh lain di seluruh Nusantara selalu dikibuli Belanda, Umarlah satu-satunya yang mampu menipu Belanda, bukan sekali, tetapi beberapa kali. Disinilah letak kehebatan pahlawan kita. Selebihnya wallahualam.

EPILOG :
Diplomat Aceh, Habib Abdur Rahman Az-Zahir, setelah gagal meyakinkan Turki Utsmaniah akhirnya kembali ke Aceh dan memimpin perlawanan, namun gagal, putus asa dan menyerah pada Belanda tanggal 13 Oktober 1878, sebagai imbalannya Belanda mengangkutnya ke Jeddah dan memberinya uang pensiun sebesar $1.000 per bulan.

Pemimpin Teunom, Teuku Imam akhirnya memperoleh uang tebusan $10.000 dalam kasus S.S Nissero, dan sejak itu menjadi kaki tangan setia Belanda.

Sejak pembangkangannya tanggal 30 Maret 1896, Belanda memutuskan Teuku Umar tidak bisa dipercaya lagi. Perang sengit terjadi sampai akhirnya Umar terbunuh oleh penyergapan pasukan marsose pada 11 Februari 1899.

Snouck Horgronye akhirnya menjadi muslim sejati, setidaknya ia pernah dua kali menikah secara islam dengan mojang Sunda.

Dr.P.S. Koningsvled (wawancara Kompas 6 Februari 1983, saya mengutipnya dari Seri Buku Tempo, 2011) menuturkan bahwa keluarga Kalifah Apo – mertua Snouck – yakin benar dengan keislaman Snouck secara lahir batin.

Koningsvled juga sempat bertemu dengan Raden Yusuf – anak Snouck dari perkawinan dengan Siti Saidah – yang menuturkan bahwa ibunya yakin dengan mutlak bahwa Snouck telah menjadi muslim sejati. Snouck disebut rajin sembahyang, puasa dan telah disunat.

Apakah kebetulan jika jumlah senjata GAM yang diserahkan kepada AMN yang mengakhiri konflik dengan TNI ternyata sama dengan jumlah senjata Teuku Umar saat membelot dari Belanda (880 pucuk).

Categories
Bencana Alam Sejarah

Menelusuri Jejak Kapal Perang Belanda Berouw Yang Hanyut Oleh Tsunami Krakatau Di Sungai Kuripan


Dua besi hitam berkarat dengan tuas panjang teronggok di tepi kolam ikan di belakang rumah Suwardi (61), warga Kampung Brau, Teluk Betung, Lampung. Berkali-kali datang pemburu besi tua menawar, tetapi Suwardi bersikukuh tak menjualnya.

“Ada yang menawarkan dua juta rupiah, tetapi saya tak cari uang lagi dari barang ini,” kata Suwardi. Ia menemukan besi tua berbentuk segitiga itu saat menjala ikan di Sungai Kuripan di belakang rumahnya pada awal 2001. Butuh empat orang untuk mengangkatnya dari sungai. Bobot besi tersebut diperkirakan lebih dari 150 kilogram.

Suwardi bukannya tak butuh uang. Namun, baginya, besi tua itu adalah sejarah berharga yang mesti dipelihara. Satu-satunya kenangan tersisa, yang membuat nama desanya, Brau—diambil dari kataberouw, dalam bahasa Belanda berarti penyesalan—dikenal hingga luar negeri dan ditulis dalam buku.

“Besi ini sisa Kapal Berouw yang dulu pernah terdampar di Sungai Kuripan,” katanya. Suwardi lalu menunjukkan posisi kapal perang Angkatan Laut Belanda tersebut, yang dulu melintang di badan Sungai Kuripan selebar 7 meter. Saat ini, tempat terdamparnya kapal itu telah berubah menjadi bendungan PDAM Way Rilau.

Lokasi terdamparnya kapal tersebut, 3,3 kilometer dari Pantai Teluk Betung, menjadi saksi kedahsyatan tsunami akibat letusan Krakatau, 27 Agustus 1883. “Sekitar pukul tujuh pagi, kami melihat gelombang sangat tinggi. Kapal Berouw terangkat melewati pohon kelapa,” demikian catatan Kapten TH Lindeman, nakhoda Kapal GG Loudon. Saat ombak tinggi menerjang, Lindeman yang dalam perjalanan dari Anyer ke Sibolga bermaksud menepikan kapal berpenumpang 111 orang itu ke Pelabuhan Teluk Betung.

Namun, kapten Kapal Berouw memperingatkan Lindeman agar jangan mendarat. Kapten Lindeman membuang sauh agak di tengah laut. Bagi pelaut, ombak di tengah laut lebih tidak berbahaya ketimbang di dekat daratan.

Berhasil menyelamatkan Kapal GG Loudon, kapten Kapal Berouw ternyata gagal menyelamatkan kapalnya. NH van Sandick, penumpang Kapal GG Loudon, menyaksikan ombak tinggi mengangkat Kapal Berouw dan memutuskan rantai sauhnya. Kapal perang tersebut diempaskan ke muara Sungai Kuripan, lalu ombak besar kembali menghantam sehingga Kapal Berouw diempaskan ke lembah nun jauh di tengah hutan.

Pada September 1883, tim dari Belanda mengunjungi Sungai Kuripan dan melaporkan kapal itu terdampar dalam kondisi utuh di ketinggian 38 meter dari permukaan laut.

Jejak yang dijual

Setelah bertahan puluhan tahun, awal 1970-an, tubuh kapal mulai rusak. Bukan oleh tsunami atau cuaca, melainkan karena dipereteli. Warga pendatang, yang kebanyakan dari Jawa, melihat kapal itu mengganggu aliran sungai lalu memereteli dan menjual bagian-bagiannya.

“Saya pernah menjual baut dan lempengan besi dari kapal itu. Beratnya 130 kilogram,” kata Suwardi. Ia juga pernah menemukan balok kayu kapal yang sudah membatu, yang kemudian diminta Pemerintah Provinsi Lampung.

Pada tahun 1979, menurut Suwardi, kapal yang telah dipereteli ini dihanyutkan banjir bandang hingga ke bawah jembatan di Desa Olok Gading. Di lokasi inilah nasib kapal perang ini tamat. “Warga berebut memereteli sisa tubuh kapal dan menjualnya,” kata Imron (56), warga Olok Gading.

Pemerintah melupakan kapal ini dan tutup mata terhadap perusakan itu. Namun, peneliti dan turis asing, terutama dari Belanda, sering berkunjung ke sana melihat sisa-sisa Kapal Berouw atau sekadar melihat bekas lokasi terdamparnya.

Setelah tubuh Kapal Berouw habis, barulah Suwardi dan warga desa yang lain mulai menyadari pentingnya Kapal Berouw dalam sejarah. Pemerintah Provinsi Lampung meratapi hilangnya Berouw. Mereka kini berancang-ancang membangun tiruan kapal. “Kami berharap replika ini akan menjadi ikon baru Lampung untuk memajukan pariwisata,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampung Gatot Hadi. Namun, pembuatan replika tak mudah. “Kami pelajari dulu bentuk kapalnya dulu seperti apa,” katanya.

Merawat ingatan

Kapal Berouw hanyalah satu drama kecil dibandingkan dengan kedahsyatan letusan Krakatau pada 1883. Tsunami yang terjadi setelah keluarnya awan panas dari Krakatau menghancurkan pesisir Banten dan Lampung. Setidaknya 36.417 orang tewas dan 163 desa hancur.

Jejak petaka itu dikisahkan samar-samar oleh Ratu Supiah (90), warga Caringin, Kabupaten Pandeglang, Banten. Dengan suara pelan dan terpatah-patah dia bercerita. “Waktu itu langit tiba-tiba gelap. Air laut mendadak surut,” kata Supiah, menirukan cerita kakeknya, Sheikh Asnawi. “Kakek yang curiga dengan keanehan itu mengajak tetangga dan keluarga lari ke tempat lebih tinggi. Namun, mereka tak mau pergi. Tetangganya tergiur melihat banyak ikan di pantai.”

Tiba-tiba air laut datang menggulung hingga 4 kilometer ke daratan. Asnawi memandu keluarganya lari ke Menes, Desa Muruy. Setelah petaka reda, Asnawi kembali ke kampungnya yang rata dengan tanah dan dipenuhi mayat. Nyaris semua warga desa meninggal. “Asnawi mengajarkan kepada keturunannya untuk selalu waspada jika Krakatau meletus, terutama jika laut surut karena pasti akan ada gelombang besar,” tutur Supiah.

Namun, petuah dan kisah dari Asnawi tak banyak diketahui lagi. Putra Supiah, HRA Syaukatuddin Inayah, mengatakan, generasi muda tak banyak lagi yang peduli. Bahkan, Syaukatuddin juga hanya tahu sedikit kisah Krakatau. Dia harus memanggil ibunya yang sudah sepuh itu untuk mengisahkan gelombang raksasa yang pernah menghancurkan desanya itu.

Sebagaimana Kapal Berouw habis dipereteli, ingatan warga tentang petaka yang diwariskan secara lisan oleh para tetua itu pun memudar. Pudarnya ingatan berarti hilangnya pula kewaspadaan terhadap Anak Krakatau yang tengah membangun kembali kekuatan.

Kini, Suwardi hanya bisa menyesali hilangnya Kapal Berouw, kapal “penyesalan” itu, dengan mempertahankan dua tuas yang tersisa. Suwardi dengan bagian terakhir Kapal Berouw yang dia temukan di Lembah Sungai Kuripan, Kampung Berouw, Kelurahan Negeri Olok Gading, Teluk Betung, Bandar Lampung, Kamis (11/8/2011). Di lembah sungai tersebut, ia mendapati sisa bagian dari kapal yang hanyut terbawa tsunami dari meletusnya Krakatau tahun 1883. Kampung di lembah itu kemudian diberi nama Kampung Berouw.

Categories
Sejarah Tokoh Indonesia

Fakta Sejarah: Jendral Mallaby Ternyata Ditembak Dari Belakang Oleh Rakyat Ketika Tengah Berunding Dengan Bung Karno


Sekitar tujuh puluh lukisan Tony Rafty itu dipamerka di AJBS Gallery Jalan Ratna, Surabaya dari 10 – 20 November 2010. Tiga perempat di antaranya berupa sketsa pertempuran Surabaya yang dibuat Rafty pada 1945. Ya, Rafty, kini 95 tahun, merekam perang besar itu melalui coretan demi coretan.

Dia adalah jurnalis asing yang menjadi saksi mata pertempuran Surabaya. Misalnya sebuah sketsa tank tentara Inggris menembak bekas tank milik serdadu Jepang yang dipakai pejuang Surabaya. Melihat situasinya, kejadian itu berada di jalan besar yang sekarang bernama Jalan Pahlawan.

Adapula sketas pertempuran di sebuah penjara, sketsa pejuang yang bertahan di dermaga serta sketsa mayat bergelimpangan. “Saya merekam apa yang saya saksikan dan rasakan,” kata Rafty kepada Tempo, di Hotel Majapahit Surabaya, Kamis (11/11) petang kemarin.

Persinggungan Rafty dengan perang Surabaya berawal ketika dia dikirim ke Indonesia sehabis menuntaskan tugasnya sebagai tentara Australia dalam Perang Dunia II di di New Guinea, Kalimantan dan Singapura. Pada 1945 Rafty datang ke Indonesia sebagai koresponden surat kabar The Sun. Dia dikirim ke Jawa, khususnya Bandung, Jakarta dan Surabaya. Akhir Oktober 1945 Rafty yang sedang berada di Jakarta ikut pesawat Bung Karno dan Bung Hatta yang hendak ke Surabaya.

Soekarno – Hatta datang ke Surabaya untuk berunding dengan Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby, Komandan Brigade 4 Divisi India. “Ada beberapa jurnalis Australia yang ingin menumpang pesawat Bung Karno, dan beliau mengijinkan,” kata Rafty yang kala itu berusia 30 an tahun.

Ketika pesawat akan mendarat, tiba-tiba diberondong oleh tembakan. Meski badan pesawat penuh lubang peluru, kata Rafty, tapi tidak ada satu pun penumpang yang terluka. Ketika tahu bahwa pesawat itu mengangkut Bung Karno, seketika rakyat mengelu-elukan. “Kami ditembaki karena dikira pesawat musuh,” ujar Rafty mengenang.

Perundingan antara Bung Karno dan Mallaby digelar di sebuah tempat di Surabaya. Rafty, yang ketika itu berada di lokasi perundingan, melihat Mallaby puas karena keduabelah pihak sepakat mengadakan gencatan senjata. “Mallaby keluar untuk menyampaikan hasil perundingan itu langsung kepada rakyat Surabaya,” kata dia.

Sehari kemudian Rafty mendengar Mallaby tewas ditembak. Rafty lalu mewawancarai sejumlah saksi mata yang ada di lokasi kejadian. “Mallaby ditembak seseorang di bagian kepala ketika sedang berpidato di tengah kerumunan. Agaknya bahasa Inggris dia tidak dimengerti oleh mereka sehingga dianggap sebagai ancaman,” ujar Rafty.

Rafty menambahkan, Mallaby menemui masyarakat hanya dikawal satu orang tentara. Setelah komandannya tewas, pengawal Mallaby ini berusaha lari dengan cara berenang di sungai. Tapi dia akhirnya tertangkap. “Rakyat tidak membunuh pengawal ini, tapi diserahkan pada Bung Karno,” ujar dia.

Peristiwa itu baru diketahui dunia selang dua hari kemudian. Adalah Fleming, wartawan rekan Rafty, yang menyampaikan kabar itu ke kantor redaksi di Australia melalui kode morse. Sejak itu beritanya tersiar. Tewasnya Mallaby membuat Inggris marah. Mereka mengirimkan armada perangnya ke Surabaya sehingga pecah perang besar, termasuk insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Orange (kini Majapahit Mandarin Hotel).

Suasana perang di jalan-jalan Surabaya itulah yang direkam Rafty lewat sketsa. Dia membuat sketsa di atas kertas yang dia bawa, dan memakai tinta pena. Rafty mengaku tidak terlalu lama menuangkan peristiwa yang dia ketahui ke dalam sketsa. “Agar tidak kehilangan emosi,” ujarnya.

Kini, 65 setelah peristiwa itu berlalu, Rafty kembali ke Surabaya. Dia datang dengan ingatan yang masih komplit tentang peristiwa bersejarah itu kendati tidak terlalu detail. Juga ingatan tentang Bung Karno. “Dia sosok kharismatik, saya sungguh mengagumi,” kata lelaki tua lima anak yang kini bermukim di Sydney itu.

Categories
Berbudaya Demokrasi Sejarah Tokoh Indonesia

Rumah Masa Kecil Bung Karno Terjual Rp 35 Miliar


Polemik penjualan Istana Gebang berakhir sudah. Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim akhirnya sepakat membeli rumah masa kecil mantan Presiden Soekarno itu dari pihak ahli waris, Ny Soekarmini Wardojo seharga Rp 35 miliar.

Dana pembelian rumah orangtua Poklamator Indonesia yang terletak di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sanan Wetan itu, Rp 25 miliar dari APBD Pemprov Jatim dan Rp 10 miliar dari APBD Pemkot Blitar.

Sebelumnya, ahli waris Ny Soekarmini Wardojo mematok harga jual Istana Gebang, yang dikenal warga sekitar dengan sebutan Ndalem Gebang, senilai Rp 50 miliar. Namun setelah proses tawar menawar, akhirnya disepakati harga Rp 35 miliar.

“Prinsipnya, soal harga sudah ada deal dengan pihak ahli waris. Rencananya Istana Gebang yang merupakan bangunan cagar budaya ini akan kita jadikan Museum Bung Karno,” jelas Wali Kota Blitar Samanhudi Anwar kepada Surya, Jumat (26/11) malam.

Samanhudi mengaku, pada awalnya pihak keluarga tetap bersikukuh menjual dengan harga tinggi, Pemkot jelas tidak akan mampu membelinya. Pihaknya kemudian sempat menawarkan agar aset Istana Gebang yang ada di Jalan Sultan Agung No 69, sekitar 2 km ke arah selatan dari Makam Bung Karno ini, ditetapkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya dengan tujuan agar Istana Gebang tidak dipindahtangankan ke pihak asing yang juga tertarik.

Namun karena ahli waris bersikukuh menjual, setelah beberapa kali pertemuan, akhirnya disepakati dengan harga Rp 35 miliar itu. “Karena ini merupakan peninggalan budaya bernilai sejarah tinggi serta mampu menarik wisatawan, maka Pemkot berupaya mengelolanya menjadi paket pariwisata selain wisata makam Bung Karno,” tandasnya.

Dijelaskan Samanhudi, pembelian Istana Gebang yang berdiri di lahan seluas 1,4 hektare ini bakal direalisasi pada anggaran tahun depan. Pemkot Blitar akan meminta bantuan anggaran dari dana APBN untuk merehab menjadi bangunan museum. “Khusus bangunan induk tetap dibiarkan seperti semula,” tambahnya.

Di Museum Bung Karno nanti, secara khusus akan dipajang benda-benda dan peninggalan yang terkait dengan kehidupan Bung Karno sejak masa kecil sampai akhir hayatnya. “Banyak sekali benda-benda dan barang-barang peninggalan Bung Karno yang tersebar dimana-mana, nanti kami kumpulkan di museum,” jelasnya.

Untuk menghimpun peninggalan Bung Karno tersebut tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sehingga Pemkot Blitar perlu meminta tambahan anggaran dari APBN. Selain itu, pemindahan barang ke Blitar dipastikan juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Samanhudi mencontohkan, untuk memindahkan koleksi pesawat tempur yang dibeli semasa pemerintahan Bung Karno dari Jogjakarta ke Blitar, bakal membutuhkan biaya besar. Demikian pula untuk menghimpun peninggalan lainnya, mulai dari sepeda, sepeda motor serta mobil yang pernah digunakan Bung Karno.

Keberadaan Museum Bung Karno nanti diharapkan semakin melengkapi paket wisata sejarah yang ada di Kota Blitar, selain makam Bung Karno di Bendogerit.

Di areal Istana Gebang ini, setiap tanggal 6 Juni diselenggarakan haul dan berbagai macam kesenian yang selalu didatangi banyak pengunjung. Salah satu acara tahunan yang digelar Pemkot Blitar itu adalah Grebeg Pancasila. Keluarga Soekarno juga masih sering berkumpul di istana ini.

Sebelumnya, Gubernur Jatim Soekarwo memang telah berencana untuk membeli Istana Gebang dari ahli waris. Pembelian Istana Gebang dimaksudkan untuk melestarikan bangunan bersejarah yang ada di Jatim.

Gubernur berharap, seluruh bangunan bersejarah yang ada di Jatim bakal dilestarikan. Apalagi di Jatim terdapat makam tokoh-tokoh penting. Selain makam Bung Karno di Blitar, ada makam mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jombang.

Sementara itu Kabag Humas Pemkot Blitar, M Hadi Maskun menambahkan, untuk keperluan renovasi bangunan Istana Gebang, pemerintah pusat akan mengucurkan anggaran sekitar Rp 100 miliar. “Mudah-mudahan anggaran untuk renovasi tidak meleset,” harapnya

Categories
Sejarah

Kisah Jembatan Merah Berpagar Gedung Tua Di Surabaya


Gedung Internationale Crediet en Verening Rotterdam atau dikenal Internatio masih berdiri di barat Jembatan Merah, Surabaya. Kantor Nederlandsche Indische Escompto Maatschappij berdiri di timur jembatan atau di Jalan Kembang Jepun. Persis seperti digambarkan Remy Sylado dalam novel ”Kembang Jepun”.

Bedanya, pada Rabu (3/11) siang, Internatio berdiri muram terkepung pedagang kaki lima (PKL), angkot, dan becak. Tak ada aktivitas dalam gedung tempat pemimpin pasukan sekutu Brigadir Jenderal AWS Mallaby tewas pada 31 Oktober 1945 itu. Kematian itu memicu peristiwa 10 November 1945. Gedung itu kini dipagar seng dan sudah bertahun-tahun sama sekali tidak ada kegiatan di dalamnya. Ia bahkan menjelma menjadi gedung tua walau secara arsitektural masih tampak menawan.

Sementara Kantor Nederlandsche Indische Escompto Maatschappij tetap beroperasi sebagai bank. Tentu dengan nama baru, Bank Mandiri, nama keempat sejak bank itu beroperasi di Indonesia pada 1857. Pada tahun 1958, bank itu berganti nama menjadi PT Escomptobank. Kemudian namanya berubah menjadi Bank Dagang Negara pada April 1960. Selanjutnya bersama Bank Exim, Bapindo, dan Bank Bumi Daya (BBD), BDN dilebur menjadi Bank Mandiri.

Tentu tidak semua gedung di sekitar jembatan merah masih berdiri. Tepat di utara jembatan pernah berdiri kantor Residen Surabaya. Sekarang, sama sekali tidak ada bekas kantor itu. Lahan bekas kantor itu termasuk halaman Jembatan Merah Plaza, salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya.

Kawasan ini sesungguhnya menjadi identitas ”baru” kota Surabaya, setelah bergerak dari zaman Majapahit, Mataram, lalu masa pemerintahan kolonial. Sebab dari Jembatan Merah inilah meluncur ucapan Surabaya sebagai kota pahlawan. Muhammad Subur (78), seorang tukang becak yang setiap hari mangkal di Jembatan Merah bisa dengan antusias bercerita soal Surabaya tempo dulu. Bahkan, ia mengatakan ikut bertempur melawan pasukan sekutu pada 10 November 1945.

Pemerintahan

Hingga 1905, kantor Residen Surabaya menjadi pusat pemerintahan Surabaya. Pembangunan terus berkembang di sekitar kawasan yang dulu disebut Willem Plein itu. Apalagi, sebelum pelabuhan Tanjung Perak selesai dibangun pada 1910, kapal layar bersandar di sekitar jembatan merah sekarang.

Di barat Jembatan Merah, seperti Jalan Jembatan Merah (dulu disebut Willenstraat) dan Jalan Rajawali (Heerenstraat), dipenuhi pedagang besar Eropa. Maskapai dan bank-bank kebanyakan berada di wilayah ini. Sebagian besar gedung masih digunakan aneka perusahaan dan keasliannya relatif terjaga.

Sementara kawasan timur jembatan diperuntukkan bagi warga Asia, seperti Tionghoa, Arab, dan Melayu. Penulis buku Soerabaia Tempo Doeloe, Dukut Imam Widodo, mencatat masyarakat China sebagai golongan yang sangat penting di Surabaya. Pada awalnya mereka mendiami suatu wilayah yang disebut Chinese Kamps atau Kampung Cina, di sebelah timur Kali Mas. Jalan-jalan yang didiami warga Tionghoa itu antara lain Chinesevorstraat atau kini Jalan Karet, dan Hendelstraat atau kini dikenal Kembang Jepun.

Kini sebagian gedung di Jalan Karet tidak difungsikan dan tampak berdebu dalam bentuk aslinya. Sementara sebagian lagi berfungsi sebagai gudang atau aneka kantor. Sayang gedung itu sudah berganti rupa menjadi ruko. Pergantian rupa juga terlihat di Jalan Kembang Jepun bagian timur.

Bukti bahwa kawasan ini pernah menjadi kawasan kebanggaan, tidak saja karena menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga karena heroisme arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan mengorbankan darah, pencipta lagu Gesang pun melukiskannya dengan lirik, ”Jembatan Merah, sungguh gagah, berpagar gedung indah. Sepanjang hari, yang melintasi, silih berganti….”

Dijaga

Pengamat perkotaan, Johan Silas, yang turut serta merumuskan pedoman pembangunan kota Surabaya sejak tahun 1965 mengatakan, kawasan Jembatan Merah sejak semula ”disisihkan” dalam pengembangan kota. ”Kawasan itu tetap kita perlakukan sebagai kawasan preservasi. Tidak boleh diapa-apakan dulu….” ujar Silas.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pun menuturkan bahwa ia sungguh berhati-hati di dalam pengelolaan kawasan tua, seperti Jembatan Merah. Pihaknya sedang membangun Taman Jayengrono untuk mempercantik kawasan. ”Kita bangun taman agar kawasan itu juga hidup, tidak berkesan kusam,” tutur Tri Rismaharini.

Tri juga berencana membuat subterminal untuk menampung angkutan umum yang sekarang meluber di jalanan, tepat di sisi Gedung Internatio. ”Semua harus pelan-pelan karena menyangkut kepentingan banyak orang,” katanya.

Dalam kondisi demikian, pemerhati cagar budaya Freddy H Istanto menilai data tidak terwujud (intangible) yang dipendam kawasan Jembatan Merah harus tetap dilestarikan. Data itu berupa semangat kesetiaan, keberanian, dan kegagahan yang kemudian menjadi identitas kota.

Jembatan Merah boleh tua dan dipagari gedung-gedung tua, tetapi kawasan ini telah turut andil membangun citra Surabaya dalam pentas internasional: heroisme!

Categories
Demokrasi Sejarah

Memulihkan Kesaktian Pancasila


Hari-hari seputar 30 September dan 1 Oktober ini, warga Indonesia, khususnya Angkatan 45, kembali merayakan Hari Kesaktian Pancasila. Dasar negara Indonesia ini disebut memiliki kesaktian karena dipercayai mampu menggagalkan kudeta yang terjadi seputar peristiwa G30S/PKI pada 30 September 1965.

Akan tetapi, bagi generasi berikutnya, apa yang disebut sebagai ”kesaktian” Pancasila lebih merupakan ”rekayasa” politik belaka dari otoritarianisme rezim Orde Baru guna mempertahankan status quo kekuasaannya. Sementara bagi generasi pasca-Orde Baru, bahkan Pancasila hampir tidak menjadi bagi dari pengetahuan dan ”memori kolektif”, apalagi tentang kesaktiannya.

Akan tetapi, sejak 2005 hari kesaktian yang punya makna khusus terkait Pancasila ini kembali diperingati; setelah beberapa tahun seusai berakhirnya kekuasaan Orde Baru pada Mei 1998, Hari Kesaktian Pancasila tidak lagi dirayakan.

Kenapa tidak? Alasannya sederhana, siapa yang merayakannya bisa dituduh sebagai ”antek Orde Baru”, yang merupakan sebuah anathema yang harus dihindari dalam gelombang dan gemuruh reformasi. Pendulum bergerak terlalu kencang, hampir tidak terkendali, sehingga pada tahun-tahun awal reformasi segala sesuatu yang berbau Orde Baru dipandang negatif dan mesti ditolak.

Meski ”kesaktian” Pancasila kembali diperingati, jelas peringatan itu gagal membawa Pancasila ke dalam wacana publik, apalagi mengharapkannya menjadi salah satu faktor signifikan dalam membimbing perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Upaya revitalisasi dan rejuvenasi Pancasila tetap belum terwujud juga. Pancasila sebagai dasar negara, basis ideologis, dan platform bersama (common platform) warga negara-bangsa Indonesia yang plural dan multikultural masih marjinal dalam wacana dan kehidupan publik nasional.

Kesaktian dalam hal apa?

Harus diakui, sejak awal reformasi sampai sekarang ini masih terdapat sinisme yang kuat dalam masyarakat kita tentang Pancasila, apalagi ketika Pancasila dikatakan ”sakti”. Sakti itu bisa berarti banyak, tetapi umumnya sakti berarti memiliki kekuatan dan keampuhan yang tidak tertandingi sehingga tidak bisa dikalahkan. Sakti juga bisa berarti mempunyai kemampuan mengatasi berbagai masalah dan kesulitan, bahkan secara instan sekalipun.

Dari sudut pengertian ”sakti” itu saja, ketika seseorang berbicara serba positif dan bahkan idealistik tentang Pancasila, pasti ada kalangan yang mencibir. Sikap yang tidak terpuji ini ada bukan karena mereka menolak Pancasila, melainkan lebih karena begitu banyak realitas yang tidak sesuai dengan cita ideal, semangat, prinsip, dan nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Pada saat yang sama, begitu banyak pula masalah yang dihadapi negara-bangsa ini yang tidak terselesaikan sampai sekarang. Terdapat banyak kesenjangan di antara cita ideal Pancasila sebagai suatu kesatuan dan juga tiap-tiap silanya dengan realitas yang ada dalam kehidupan sehari-hari warga bangsa.

Lihatlah bagaimana kita bisa berbicara tentang ”Ketuhanan Yang Maha Esa” ketika dalam berketuhanan terdapat fakta adanya sebagian warga yang dari waktu ke waktu memaksakan kemauannya sendiri atas nama Tuhan. Bagaimana kita bicara tentang ”Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” ketika warga dari satu tempat ke tempat lain, karena sebab-sebab yang sepele, sangat mudah mengamuk, menghancurkan harta benda, dan mencabut nyawa.

Bagaimana pula kita sanggup berbicara tentang ”Persatuan Indonesia” ketika banyak orang dan kelompok lebih mementingkan diri dan kelompoknya melalui tindakan melanggar hukum seperti korupsi mengorbankan solidaritas terhadap warga lainnya.

Lalu, bagaimana bisa kita bercakap tentang ”Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan” jika banyak politisi melakukan manipulasi politik lewat proses demokrasi; tidak mencerminkan sikap hikmat, bijaksana, dan sosok representasi yang akuntabel.

Begitu pula bagaimana bisa kita berbicara tentang ”Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, sementara jumlah rakyat yang terimpit kemiskinan masih 32 juta-50 juta orang, sementara kehidupan serba materialistik dan hedonistik kian merajalela.

Dengan realitas yang serba kontradiktif ini, pembicaraan tentang ”kesaktian” Pancasila seolah tidak bermakna. Dan ”kesaktian” itu terlihat berkurang—untuk tidak menyatakan memudar—karena perbuatan warga bangsa sendiri mulai dari lingkungan teratas para pejabat, lapisan menengah dan bawah birokrasi, sampai mereka yang memiliki otoritas politik, hukum, keagamaan, dan sosial budaya.

Lebih parah lagi, tidak terlihat kesadaran kalangan yang disebutkan ini bahwa sikap, perilaku, dan tindakan mereka tersebut telah ”mengebiri” Pancasila sekaligus memudarkan kesaktiannya.

Memulihkan kesaktian

Hampir tidak ada keraguan lagi, mayoritas bangsa ini memegang pendapat, Pancasila sebagai dasar negara sekaligus menjadi pandangan dunia negara-bangsa tidak tergantikan.

Sejauh ini, jelas tidak ada alternatif lain yang bisa diterima bagian terbesar bangsa ini untuk menjadi dasar negara-bangsa Indonesia; tidak juga ideologi semacam agama atau sebaliknya ”sekularisme”. Pancasila yang akomodatif terhadap agama jelas tidak bisa tergantikan ideologi sekularisme yang tidak selalu ”bersahabat” dengan agama.

Oleh karena itu, tidak ada pula alternatif lain bagi segenap warga bangsa kecuali ”memulihkan” kesaktian Pancasila. Namun, ini bukan hal sederhana karena kompleksitas masalah yang terkait dengan Pancasila dan juga dalam hubungan dengan dinamika kehidupan bangsa dewasa ini. Lebih-lebih lagi ketika Pancasila dihadapkan pada berbagai realitas, yang segera menampilkan kontradiksi dan disparitas dengan cita ideal, nilai, dan norma Pancasila.

Langkah krusial ke arah itu pertama-tama adalah pemulihan kembali kesadaran kolektif bangsa tentang posisi vital dan urgensi Pancasila dalam kehidupan negara-bangsa Indonesia. Tanpa atau samarnya kesadaran kolektif, jelas Pancasila tidak hadir dalam kiprah dan langkah warga bangsa; Pancasila sebaliknya tenggelam dalam arus besar perubahan yang berlangsung cepat dan berdampak panjang atas nama reformasi.

Dengan peningkatan kesadaran kolektif, Pancasila dapat kembali menjadi rujukan dan panduan dalam pengambilan berbagai kebijakan dan langkah, mulai dari kehidupan keagamaan, kemanusiaan, kebangsaan, demokrasi, hingga keadilan.

Secara bertahap dan terarah, langkah- langkah menuju Indonesia yang lebih baik melalui pembangunan, baik yang diselenggarakan pemerintah maupun masyarakat, seyogianya berorientasi pada pengurangan kontradiksi dan disparitas antara Pancasila dan realitas sehari-hari kehidupan bangsa.

Hanya dengan langkah-langkah ini, ”kesaktian” Pancasila bisa dipulihkan dan kembali menjadi faktor penting dalam kehidupan negara-bangsa Indonesia.

Azyumardi Azra Guru Besar Sejarah; Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Jakarta

Categories
Berbudaya Kreatif Pariwisata Pencinta Lingkungan Sejarah

Sejarah Dan Kisah Kawasan Menteng


Ada kenangan dari Firman Lubis di Menteng. Di ujung Jalan Taman Suropati, guru besar Ilmu Kedokteran Komunitas dan Keluarga Universitas Indonesia itu menunjuk ke arah rumah Duta Besar Amerika.

Kepada rombongan ngabuburit di Menteng Buurt, Minggu (22/8), Firman berkisah tentang pengalaman itu. Sekitar tahun 1950-an—sewaktu Firman berumur delapan tahun—dia dan teman-teman suka mengoleksi prangko mancanegara. Tong sampah yang ada di rumah duta besar (dubes) di kawasan Menteng merupakan target utama untuk mendapatkan prangko dari negara tetangga.

Sekali waktu, Firman dan enam kawan lain tengah mencari prangko di tong sampah rumah Dubes Amerika Serikat (AS), yang letaknya tepat di seberang Taman Suropati. Waktu itu belum seperti sekarang. Tidak ada pagar tinggi mengelilingi rumah Dubes AS. Adanya hanya batang bambu. Karena itu, anak-anak bebas keluar-masuk halaman rumah Dubes AS.

”Selagi kami ngubek tong sampah, keluar nyonya bule dari dalam rumah. Dalam bahasa Inggris, dia tanya apa yang kami kerjakan. Teman saya yang usil langsung berpura-pura menyampaikan kalau kami sedang cari makan. Nyonya itu segera masuk ke rumah dan keluar lagi dengan seloyang kue tart. Segera saja kami berebut menghabiskan kue itu,” papar Firman yang lahir dan besar di kawasan Menteng.

Lain dulu, lain sekarang. Boro-boro ngubek tong sampah di rumah dubes, seperti Firman kecil. Rombongan ngabuburit ini langsung didatangi petugas keamanan Dubes AS hanya karena kami berhenti di trotoar seberang rumah dan memotret rumah yang juga salah satu bangunan bersejarah di Menteng itu.

Sejarawan JJ Rizal—yang menjadi pimpinan rombongan ngabuburit ini—akhirnya menyediakan diri untuk diinterogasi petugas. Padahal, acara ngabuburit itu sudah didahului surat pemberitahuan ke pihak kepolisian.

Dari buku Menteng karya Adolf Heuken SJ dan Grace Pamungkas ST, rumah Dubes AS itu awalnya merupakan rumah direksi firma Inggris Wellenstein Krausse and Co. Perusahaan itu mengurus bisnis ekspor dan pengiriman hasil kebun. Baru tahun 1948, rumah dijadikan kediaman Dubes AS.

Kota taman

Rumah Dubes AS itu merupakan satu dari banyak peninggalan sejarah di kawasan Menteng. Menteng menarik karena sejak awal kawasan ini didesain sebagai permukiman kalangan menengah-atas, awal abad ke-20. Desain Menteng menjadi acuan bagi kota lain di Indonesia, seperti Semarang dan Surabaya.

Adalah perusahaan real estat De Bouwploeg memulai pembangunan Menteng. Nama Bouwploeg kerap diplesetkan menjadi Boplo. Perusahaan itu berkantor di gedung yang kini menjadi sebagai Masjid Cut Mutiah.

Perjalanan ngabuburit kemarin dimulai dari Museum Penyusunan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol. Museum itu menempati bangunan yang tahun 1920-an adalah kantor asuransi Nillmij, dan setelah itu dilanjutkan PT Asuransi Jiwasraya. Kerajaan Inggris pernah memakai bangunan ini untuk kediaman resmi konsul hingga tahun 1942, dan rumah Dubes Inggris tahun 1950-1981.

Setelah Perang Dunia II berakhir, gedung itu menjadi kediaman Laksamana Muda Maeda. Maeda adalah kepala kantor penghubung Angkatan Laut Jepang. Di rumah Maeda juga, naskah Proklamasi disusun pada tanggal 16 Agustus 1945.

Di sebelah museum berdiri Gereja Paulus yang dibangun pada tahun 1936. Awalnya, gereja ini dikenal dengan nama Nassaukerk. Jalan Imam Bonjol masih disebut Nassau Boulevard.

Arsitek dan kontraktor Ir FJL Ghijsels membangun Logegebouw. ”Dulu, gedung ini kerap dijuluki gedung setan karena sangat tertutup,” ucap Firman.

Ketertutupan gedung ini disebabkan aktivitas penggunanya, yakni organisasi internasional yang merahasiakan sebagian kegiatan mereka. Walaupun seram, di dalam bangunan ini juga terdapat perpustakaan yang bisa diakses umum.

Logegebouw digunakan sebagai Kantor Bappenas sejak tahun 1967. Kanan-kiri gedung akhirnya dijadikan bagian dari kompleks Kantor Bappenas. Di belakang Logegebouw dulu masih berupa taman. Belakangan, taman itu dibangun menjadi Masjid Sunda Kelapa.

Nama Wali Kota Batavia pertama, GJ Bisshop (1916-1920), sempat diabadikan untuk nama taman, yakni Burgermeester Bisschopplein.

Menyusuri Jalan HOS Cokroaminoto—dulu bernama Javaweg—sampailah rombongan kami di muka SDN 01 Gondangdia. ”Sekitar tahun 1960, SD ini dinamai SD Argentina kendati tidak ada siswa asal Argentina yang bersekolah di situ. Nama itu merupakan anugerah Presiden Soekarno untuk menghormati hubungan bilateral Indonesia-Argentina,” kata Firman.

Sebagai balasan, di Argentina juga ada SD Indonesia. Saat itu, hubungan Indonesia-Argentina sedang mesra karena kedua negara ini sama-sama negara nonblok.

Selepas SD Gondangdia, sampailah kami di Taman Menteng. Taman ini awalnya merupakan Lapangan Persidja. Dua sepeda bercat oranye disandarkan di areal taman sebagai penanda sejarah taman ini. Permukiman Menteng memang dirancang lengkap dengan fasilitas umum, termasuk lapangan.

Di sisi Taman Menteng, berdiri Hotel F1. Hotel ini menempati bangunan bekas bioskop Menteng. Lantaran tidak terawat, bangunan bioskop beralih fungsi.

”Kawasan Jalan HOS Cokroaminoto ini dulu juga menjadi kawasan pertokoan selain Cikini dan Dukuh Atas,” kata Zeffry Alkatiri, penyair yang juga penggemar sejarah Jakarta.

Depot atau toko sembako dulu marak di kawasan Meteng. Di depot itulah, orang mencari barang-barang harian yang dibutuhkan. Kini, depot sudah sangat jarang dan berganti dengan minimarket beraneka nama.

Memasuki Jalan Besuki, Firman menunjukkan sebuah restoran lawas, yakni Tan Goei. Restoran ini, menurut Firman, sudah harum sejak dulu. Namun, Firman mengaku jarang makan di restoran itu pada masa mudanya lantaran harga makanan ditujukan untuk kelas atas.

Kendati ada bangunan yang mempertahankan bentuk aslinya, tetapi Menteng kini banyak dikepung bangunan baru yang didesain jauh dari desain awalnya. Akhirnya, bangunan dengan bentuk ”gado-gado” mewarnai permukiman Menteng. Belum lagi bangunan yang tampak tidak terawat.

Menteng merupakan bagian sejarah Kota Jakarta yang kini sudah mulai bergeser. Semoga, pergeseran itu tidak makin menggerus lahan terbuka yang menjadi bagian dari penyerapan air Ibu Kota.

Categories
Demokrasi Kemerdekaan Sejarah

Kisruh Perebutan Kekuasaan Di Perbatasan Indonesia Malaysia


Insiden tiga petugas Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau yang dibawa ke Johor dan dimintai keterangan oleh Marine Police Malaysia menjelang peringatan kemerdekaan RI, 17 Agustus lalu, telah menyulut emosi publik di Indonesia.

Ketiga petugas DKP saat itu sedang bertugas memastikan bahwa kapal nelayan Malaysialah yang sedang digiring oleh Kapal Dolphin 015 milik DKP menuju Batam guna pemeriksaan. Lima belas nelayan Malaysia diduga menangkap ikan tanpa izin dengan kapal pukat harimau di wilayah perairan RI. Dari 15 nelayan, tujuh di Kapal Dolphin 015 dan diperiksa di Batam.

Koordinat

Dalam menanggapi kisruh perbatasan kali ini: untuk menentukan siapa salah dan siapa benar harus dipastikan dulu letak terjadinya penangkapan atas nelayan Malaysia oleh DKP.

Diberitakan, Kepala Kepolisian Daerah Kepulauan Riau Brigjen Pol Pudji Hartanto membawa tiga nelayan asal Malaysia melakukan pemeriksaan atas titik koordinat lokasi insiden penembakan ke udara yang dilakukan oleh Marine Police Malaysia. Sayang, hingga sekarang belum diperoleh informasi atas hasil pemeriksaan itu. Bahkan, tidak ada berita apakah otoritas kita melakukan pemeriksaan secara akurat titik koordinat terjadinya penangkapan. Padahal, titik koordinat sangat penting untuk menentukan salah benarnya Malaysia atau Indonesia. Tanpa tahu koordinat yang akurat atas terjadinya penangkapan, ada tiga skenario yang salah satunya mungkin terjadi.

Pertama, sebagaimana diargumentasikan oleh otoritas dan diberitakan oleh media Malaysia, penangkapan oleh DKP terjadi di wilayah Malaysia, tepatnya di perairan dekat Kota Tinggi, Johor Bahru. Kedua, sebagaimana diargumentasikan otoritas dan diberitakan media Indonesia, penangkapan oleh DKP terjadi di wilayah Indonesia, tepatnya di perairan Tanjung Berakit, Bintan Utara, Kepulauan Riau. Ketiga, mengingat hingga saat ini belum terdapat kesepakatan batas laut antara Indonesia dan Malaysia di perairan Tanjung Berakit dan Kota Tinggi, bisa jadi insiden berlangsung di wilayah klaim tumpang tindih antara Indonesia dan Malaysia.

Insiden ini tak seharusnya terselesaikan dengan pengembalian tiga petugas DKP ke Indonesia, tujuh nelayan ke Malaysia, serta dikirimnya nota protes oleh Kementerian Luar Negeri RI. Pemerintah perlu transparan agar publik percaya kepada pemerintah atas tugasnya menjaga kedaulatan NKRI. Salah satu langkah penting penyelesaian adalah pembentukan komite bersama antara Indonesia dan Malaysia untuk menentukan letak akurat koordinat penangkapan kapal nelayan Malaysia oleh DKP.

Arogansi

Bila menurut hasil komite bersama, koordinat terjadinya penangkapan oleh DKP berada di wilayah kedaulatan Indonesia, pemerintah perlu menempuh langkah yang tegas terhadap Malaysia. Malaysia harus minta maaf atas insiden yang terjadi.

Sebaliknya, bila koordinat berada di wilayah kedaulatan Malaysia, pemerintah perlu secara jantan meminta maaf kepada Malaysia atas kesalahan petugas DKP melaksanakan kewenangan hukumnya di luar wilayah RI. Namun, bila ternyata insiden terjadi di wilayah klaim tumpang tindih, kedua pemerintahan harus menyampaikan ini ke publik kedua negara. Publik harus tahu, tak ada pelanggaran kedaulatan atas negara masing-masing karena memang belum ada kesepakatan batas wilayah laut.

Apa pun hasil dari komite bersama, pemerintah sudah selayaknya menyampaikan peringatan keras kepada Pemerintah Malaysia agar para petugasnya tak melecehkan dan meremehkan kewibawaan para petugas dari Indonesia. Pelecehan ini akan menciptakan kesan di mata publik Indonesia: Malaysia arogan.

Pemborgolan dan pengenaan baju tahanan atas tiga petugas DKP sebagaimana disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad merupakan bentuk arogansi otoritas Malaysia. Terlepas di mana koordinat penangkapan dilakukan, otoritas Malaysia seharusnya paham petugas DKP ini mewakili RI. Tidak tepat bila mereka diperlakukan sama seperti pelaku kejahatan. Bila arogansi otoritas Malaysia terus berlanjut dalam insiden di perbatasan di masa mendatang, bukan tak mungkin ini akan jadi batu sandungan bagi persahabatan kedua bangsa dan negara.

Hikmahanto Juwana Guru Besar Hukum Internasional, Fakultas Hukum UI