Category Archives: Sistem Pertahanan

Rumah Panglima TNI Jenderal Moeldoko Ditabrak Mobil


Kepala Kepolisian Sektor Metro Menteng Ajun Komisaris Besar Polisi Gunawan membenarkan pengemudi Mitsubishi Pajero dengan nomor polisi B-8-RMY yang menabrak pagar rumah Panglima TNI Moeldoko adalah tetangga Moeldoko sendiri. Pengemudi mobil itu tinggal di Jalan Diponegoro Nomor 10, Menteng, Jakarta Pusat.

Menurut dia, pengemudi Pajero berwarna hitam itu bernama Rajendra Suryo Mayera Yamin. “Dia anak seorang pengusaha,” ujarnya, Ahad, 4 Januari 2015. Kecelakaan tersebut, tutur Gunawan, terjadi karena mobil yang dikemudikan Rajendra hilang kendali sehingga menabrak pagar rumah dinas Moeldoko yang terletak di Jalan Diponegoro Nomor 1, Menteng, Jakarta Pusat.

Kecelakaan tadi malam, kata Gunawan, disebabkan oleh jalanan licin oleh air hujan. “Tak ada sabotase dalam kecelakaan itu,” ujarnya. Gunawan menuturkan kasus tersebut sekarang tengah diselidiki oleh Kesatuan Lalu Lintas Polisi Resor Metro Jakarta Pusat. Saat mengunjungi rumah Rajendra di Jalan Diponegoro Nomor 10, Menteng, Jakarta Pusat, pemilik rumah sedang tak ada. Rumah tersebut dijaga dua petugas Polsek Menteng.

Sedangkan kondisi pagar rumah Moeldoko yang panjangnya hampir 3 meter melengkung akibat tertabrak. Di sisi rumah tampak bekas reruntuhan pagar yang telah dirapikan. Sedangkan serpihan bagian depan mobil penabrak belum dibersihkan. Rumah dinas Panglima TNI Jenderal Moeldoko di Jalan Dipenogoro, Menteng, Jakarta Pusat, ditabrak seorang pemuda pada 3 Januari 2015 sekitar pukul 22.59 WIB. Dari foto yang diunggah akun resmi Traffic Management Centre Kepolisian Daerah Metro Jaya di Twitter, @TMCPoldaMetro, tampak sebuah mobil Pajero Sport berwarna Hitam menabrak pagar depan rumah dinas yang dikawal anggota TNI.

Sejauh ini, TNI tidak menganggap serius peristiwa penabrakan tersebut. “(Pemeriksaan) hanya oleh polisi saja. Itu kecelakaan lantas,” kata Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Fuad Basya, Ahad, 4 Januari 2015. Fuad memastikan TNI tak ikut campur dalam penanganan kasus tabrakan tersebut, meski melibatkan dan berpotensi membahayakan pimpinan tertinggi TNI. Peristiwa yang tak menimbulkan korban jiwa tersebut hanya digolongkan sebagai kecelakaan lalu lintas tanpa motif ancaman. “Itu hanya kecelakaan biasa,” ujar Fuad.

Berdasarkan dua foto yang diunggah akun TMC, mobil Pajero yang dikendarai seorang pemuda tampak rusak parah di bagian depan setelah menabrak pagar putih rumah dinas Moeldoko. Kaca mobil di beberapa bagian juga tampak pecah. Sedangkan pelaku atau pengendara diklaim selamat dan menjalani pemeriksaan di kantor polisi.

Kepolisian masih menangani kasus penabrakan rumah dinas Panglima TNI Mayjen Moeldoko di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Petugas Call Center National Traffic Management Center (NTMC) Lantas Polri mengatakan peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 22.54 WIB, Sabtu, 3 Januari 2014. “Kini sudah dalam penanganan Polri,” ujarnya saat dihubungi, Ahad, 4 Januari 2015.

Dia menjelaskan, setelah peristiwa tabrakan tersebut, arus lalu lintas di Jalan Diponegoro lancar. Sebelumnya, jalanan di sekitar Taman Suropati sempat macet, seperti diungkapkan akun Twitter @daniellaayu, Sabtu malam, “Pantesan macet sekitar tamsur,,ternyata ada pajero nyusruk ke rumah orang..and pintu… (at Taman Suropati).”

Berdasarkan foto yang diunggah TMC Polda Metro lewat akun Twitter @TMCPoldaMetro, kondisi mobil berwarna hitam tersebut melintas pembatas jalan dan menabrak pagar putih rumah dinas Panglima TNI. Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Fuad Basya menuturkan pengendara mobil tersebut seorang pemuda, yang sebelumnya sempat menabrak sebuah mobil tak jauh dari jalan di kawasan tersebut. “Ada anak muda mobilnya kepleset. Dia nabrak mobil, lantas membanting setir, sehingga kena pagar rumah,” kata Fuad. Fuad memastikan tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan itu. “Tidak ada korban. Pengendara sudah dibawa polisi untuk diperiksa. Dan dia bilang, dia bertanggung jawab atas kejadian tersebut.”

Sejauh ini, ujar Fuad, TNI menganggap peristiwa itu sebagai kecelakaan biasa. “Biasa aja, enggak ada masalah. Itu kecelakaan biasa. Pagar pun langsung kami perbaiki,” tutur Fuad. Saat ini polisi sudah mengevakuasi Pajero berwarna hitam tersebut. Menurut Fuad, Panglima TNI Moeldoko pun tidak menganggap hal tersebut sebagai masalah, karena kecelakaan bisa terjadi di mana pun dan pada siapa saja.

Ribuan Pengunjung Serbu Pameran Alutsista TNI


Ribuan warga DKI Jakarta hari ini memadati pameran alat utama sistem pertahanan (Alutsista) TNI yang digelar di Silang Monas, Jakarta. Acara ini digagas oleh TNI Angkatan Darat dalam rangka memperingati hari Juang Kartika ke-69. Warga antusias melihat pameran tersebut. Salah satu pengunjung, Lindawati (36) warga Ceger Jakarta Timur mengajak kedua anaknya. Linda bela-belain naik Transjakarta dari Taman Mini bersama kedua tetangganya yang juga membawa anak-anaknya.

“Dua kali transit, mau lihat pameran ini. Anak-anak kan biasanya senang,” ujar Linda di Monas, Jakarta, Sabtu (13/12). Apalagi, kata Linda, pameran ini masuknya tidak bayar alias gratis. Hiburan seperti ini yang diminatinya setelah harga bahan pokok naik karena BBM. “Sekarang semuanya naik waktu BBM dinaikkan sementara UMP tidak mau dinaikan oleh Ahok, minimal pameran begini buat refreshing mbak. Pusing, menghilangkan pusing,” ujar Linda.

Selain Linda, ada pula pengunjung yang datang dari Makassar. Anto (47) sengaja datang dari Makassar untuk menyaksikan pameran ini. Pameran ini merupakan yang ketiga diadakan tahun ini. Sebelumnya, juga pernah diadakan pada acara puncak HUT TNI ke-69 di Armatim Ujung, Surabaya dan di HUT Ke-65 Kodam V Brawijaya, bulan lalu.

Di dalamnya, dipamerkan 200 unit peralatan tempur. Seperti helikopter, persenjataan infanteri, kavaleri, tank Leopard, artileri medan, artileri pertahanan udara dan Penerbad. Pameran dibuka dari tanggal 12 hingga 16 Desember. Mulai pukul 07.00 WIB sampai 17.00 WIB. Pantauan merdeka.com, banyak orangtua turut serta membawa anak-anaknya melihat pameran ini. Tak ketinggalan pula pasangan muda mudi yang turut mengabadikan foto mereka di belakang alutsista TNI.

Presiden Joko Widodo menghadiri acara penutupan pameran alat utama sistem pertahanan (alutsista) yang digelar TNI AD dalam rangka memperingati hari Juang Kartika Ke-69, di Lapangan Silang Monas, Jakarta Pusat, Rabu (17/12/2014). Setibanya di lokasi, Jokowi langsung berkeliling menggunakan panser anoa. Jokowi tiba di lokasi sekitar pukul 17.30 WIB dengan mengenakan pakaian putih hitam. Kedatangannya langsung menyedot ribuan orang yang ada di lokasi pameran.

Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Jenderal TNI M Munir mengatakan, pameran ini digelar sebagai bagian dari pertanggungjawaban terhadap anggaran yang telah diberikan kepada TNI AD. Munir berharap, melalui pameran ini, masyarakat semakin merasa dekat dengan TNI. Masyarakat, kata dia, bisa semakin memiliki kebanggaan terhadap TNI dalam rangka menjaga kedaulatan NKRI.

Pameran ini digelar mulai 12-15 Desember 2014 dan merupakan pameran alutsista ketiga yang digelar TNI pada tahun 2014. Sebelumnya, pameran serupa pernah diadakan pada acara puncak HUT Ke-69 TNI di Armatim Ujung, Surabaya, dan di HUT Ke-65 Kodam V Brawijaya pada Jumat (8/10/2014). Dalam acara ini, masyarakat bisa melihat dan berfoto bersama dengan 200 unit peralatan tempur yang dipamerkan, di antaranya tank leopard, helikopter, persenjataan infanteri, kavaleri, artileri medan, artileri pertahanan udara, dan penerbad (penerbang AD).

Selain pameran alutsista, acara ini juga dimeriahkan dengan pagelaran kesenian dari Satuan Jajaran Kodam Jaya dan Komam III/Siliwangi, panjat tebing, lomba fotografi, pengenalan pakaian TNI AD dari masa ke masa, dan menampilkan berbagai macam sajian kuliner. Tank Leopard turut ‘diparkir’ di silang Monas dalam rangka pameran Alutsista TNI AD. Ketika rombongan Presiden Joko Widodo melintas, tank buatan Jerman ini berhasil mencuri perhatian presiden RI ketujuh itu.

Pria yang akrab disapa Jokowi itu sedianya hendak menuju stand Kopassus di silang Monas, Jakarta Pusat, Rabu (17/12/2014), menggunakan mobil golf. Ia ditemani Komandan Pasukan Pengamanan Presiden Mayjen Andika Perkasa yang menyetir mobil golf itu. Jokowi juga ditemani Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Gatot Numantyo. Mobil putih kecil itu melaju menuju stand Kopassus. Namun di tengah perjalanan ‘kecil’ itu, moncong kaliber 120 mm menarik perhatian Jokowi.

Ia tiba-tiba meminta mobil golf itu berhenti, ia turun dan mendekati kendaraan yang memiliki kanon besar itu. Ternyata kanon itu adalah milik Tank Leopard II, tank kelas berat milik TNI AD. Tanpa sambutan dan ‘permisi’, Jokowi langsung naik ke atas tank dengan bobot 62 ton itu. Ia melihat ke dalam palka yang terbuka, dan mengintip jeroan tank tersebut.

Kemudian KSAD Jenderal Gatot menyusul Jokowi ke atas tank. Ia pun tampak menjelaskan berbagai hal terkait tank tersebut, dan Jokowi tampak menyimak dengan seksama. Selama 10 menit berada di atas Leopard, Jokowi turun dan kembali ke mobil golf. Lalu ia melanjutkan perjalanan menuju stand Kopassus untuk memberikan pandangannya terkait alutsista TNI. Dalam debat capres Pilpres lalu, Jokowi sempat mempertanyakan soal pembelian tank Leopard yang dikabarkan terlalu berat bobotnya untuk jalanan Indonesia. Namun setelah diuji coba di beberapa kota, tank itu mampu leluasa berlalu lalang di jalanan.

Situasi Kota Enarotali Mencekam Setelah Masyarakat Serang Markas Polisi dan Koramil


Situasi Kota Enarotali, Paniai, Papua, belum sepenuhnya kondusif. Warga berkumpul tak jauh dari Mapolsek dan Koramil Madi, Enarotali. Sebelumnya, mereka menyerang kedua markas institusi tersebut. Menurut informasi, 4 warga tewas dan 22 terluka dalam kejadian tersebut. “Sampai saat ini anggota TNI dan polisi masih terus berjaga-jaga,” kata Kabid Humas Polda Papua, Kombes Sulistiyo Pudjo, Senin (8/12/2014).

Pudjo menjelaskan, penembakan warga bermula saat seseorang berkendara tanpa lampu, Minggu (7/12) malam. Ia ditegur warga dan marah. Tak lama berselang, orang itu datang bersama teman-temannya dan berkelahi dengan masyarakat. “Di lokasi tersebut sempat terjadi penembakan 3 kali oleh kelompok yang baru datang,” jelas Pudjo.

Peristiwa itu berlanjut pada pukul 02.30 wit. KPUD Paniai dibakar. Pelaku belum diketahui. Pagi harinya, terdengar rentetan tembakan. Anggota polisi yang berjaga di sekitar lokasi, mundur ke Polsek dan Polres. Ratusan orang kemudian menyerbu Koramil Paniai dan Polsek Paniai Timur. “Saat terjadi hujan batu dan panah. 3 anggota Polsek luka dan 3 anggota Koramil luka 3 mobil masyarakat dan 1 mobil TNI rusak berat, kaca-kaca Polsek dan Koramil hancur,” kata Pudjo.

Pujo belum bisa mengkonfirmasi soal tewasnya 4 warga dan 22 terluka. Kepolisian akan berkoordinasi dengan bupati, tokoh agama dan tokoh setempat. Terjadi penyerangan di Polsek dan Koramil Paniai, Papua. Insiden dipicu oleh peristiwa Minggu (7/12/2014) sekitar pukul 20.00 Wit, dimana ada seseorang tidak dikenal nekat berkendara tanpa lampu. Polisi mengimbau agar masyrakat tidak mudah terprovokasi.

“Kepolisian meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi atau diprovokasi oleh oknum atau sekelompok oknum yang menghendaki jatuh korban dari masyarakat atau TNI, mengapa ada perkelahian, mengapa ada pembakaran, mengapa ada kode berondong dari atas gunung, hal itu perlu direnungkan oleh masyarakat agar tidak terprovokasi,” kata Kabid Humas Polda Papua, Kombes Sulistyo Pudjo, dalam keterangan tertulisnya, Senin (8/12/2014).

Tiga anggota Polsek mengalami luka. Juga tiga anggota Koramil luka. “Tiga mobil masyarakat dan 1 mobil TNI rusak berat di Koramil. Kaca-kaca di Polsek dan Koramil hancur,” kata Pudjo. Informasi yang berkembang terdapat empat orang dari masyarakat meninggal dunia. Namun hal tersebut belum terkonfimasi. “Saat ini polisi belum dapat mengecek ke rumah sakit,” kata Pudjo.

Aparat selanjutnya melakukan penyelidikan dan berkoordinasi dengan bupati, tokoh agama dan juga masyarakat. “Besok akan segera di kirimkan tim dari Polda ke lokasi di pimpin Kabid Propam. Mengenai jumlah korban dari masyarakat yang di provokasi sedang dilakukan pengecekan karena masih simpang siur dan belum memperoleh data dari rumah sakit,” jelasnya.

Pangdam Bukit Barisan dan Dandim 0316/Batam Dicopot Karena Baku Tembak TNI Polri


Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Gatot Nurmantyo mencopot jabatan Pangdam I/Bukit Barisan Mayor Jenderal Winston Simanjuntak dan Dandim 0316 Batam Letkol Inf Josep Tarada Sidabutar. Keduanya dicopot karena bentrok antara TNI dan Polri di Mako Brimob Kepulauan Riau beberapa waktu lalu hingga menewaskan seorang personel TNI.

“Di posisi tentara sudah ada. Komda I, panglimanya sudah diganti. Dandim juga diganti,” ujar Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu seusai pertemuan Panglima Kodam di Istana Bogor, Jumat (28/11/2014). Ryamizard mengatakan bahwa pemecatan itu sudah sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo. Presiden ingin agar kasus Batam tidak terulang lagi.

“Beliau tegaskan, kalau harus pindah, ya dipindahkan. Kalau harus dihukum, ya dihukum. Harus dipecat, ya dipecat. Itu tegas tadi Pak Presiden,” imbuh Ryamizard.

Agar kasus serupa tidak terulang, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat itu menekankan pentingnya kedekatan komandan dan prajuritnya. Dia mengaku memiliki pengalaman yang mirip dengan kasus di Batam saat ia masih bertugas di Sumatera Utara dan memecat 20 anggotanya. Untuk memecat para anggota, kata Ryamizard, komandan harus bisa menjelaskan bahwa tindakan anak buahnya salah dan harus ada konsekuensi hukum yang wajib diterima.

“Saya bilang, ‘Hei prajurit, saya pemimpin kamu, pemimpin harus cinta dan sayang pada anak buah. Kalau saya tidak sayang kamu, saya bukan pemipmin. Tapi besok ada 20 orang di antara kalian akan dipecat. Bukan saya yang pecat, melainkan hukum yang berkata begini. Saya harus terima, dan kamu harus terima.’ Selesai sudah,” ujar Ryamizard.

Presiden Joko Widodo juga mengingatkan kembali perlunya sinergi antara TNI dan Polri. Secara khusus, Jokowi menegaskan bahwa bentrok di TNI dan Polri tidak boleh terulang. Jokowi menyampaikan hal tersebut seusai pertemuan dengan panglima daerah seluruh Indonesia di Istana Bogor, Jumat.

“Saya tadi juga sampaikan, friksi seperti yang ada di Batam jangan sampai terjadi lagi. Kita harus tegas, sesuatu yang memang sulit untuk diluruskan,” kata Jokowi. Dia meminta kedua institusi secepatnya menemukan solusi. Menurut Jokowi, persoalan TNI dan Polri tidak akan terjadi apabila komandan dan prajurit di kedua lembaga itu sudah sering bertemu.

“Tak hanya komandan-komandannya, tetapi juga prajurit, anak buah, harus saling ketemu sehingga kita semua merasa satu sehingga rukun, sehingga tidak ada lagi bentrokan, damai semuanya,” kata Jokowi.

Mako Brimob Batam Kembali Diserang Gerombolan Oknum TNI


Pangdam Bukit Barisan Mayjen TNI Winson Simanjuntak melakukan upaya persuasif agar para anggotanya, yang sebagian di antaranya diduga berada di luar, segera kembali ke batalyon. Upaya ini dilakukan Mayjen Winson ketika melintas di Jalan Simpang Barelang menuju jalur Mako Brimob, Tembesi, Batam, Kamis (20/11/2014) malam, dengan menggunakan mobil Land Cruiser bernomor 1-1.

“Aku ini Pangdammu. Kepada anggota TNI yang masih di luar, segera kembali ke batalyon,” serunya berulang kali dengan menggunakan pengeras suara dari dalam mobilnya. Seusai Mayjen Winson mengeluarkan imbauan itu, suasana langsung mereda. Tidak terdengar lagi suara tembakan yang diarahkan ke Mako Brimob.

Secara terpisah, Wakil Gubernur Kepulauan Riau Soerya Respationo mengatakan, aksi tembakan berhenti sekitar pukul 01.00. Saat ini, Soerya, yang sempat terjebak di Mako Brimob, telah dievakuasi ke tempat yang aman dengan menggunakan barakuda.

Suasana di Markas Komando (Mako) Brimob Polda Kepri di Tembesi, Batam, Rabu (19/11/2014), semakin mencekam. Suara tembakan terdengar. Belum diketahui siapa yang menembakkan peluru tersebut. Wartawan terpaksa bersembunyi di rumah salah satu anggota Brimob Polda Kepri yang ada di lingkungan markas.Mendengar suara tembakan tersebut, anak-anak yang ada di lokasi menangis histeris. Begitu juga para ibu mereka.

Sebagian anak-anak dan ibu-ibu, istri dari anggota Brimob Polda Kepri, telah diamankan di dalam mobil Gegana. Namun, sebagiannya lagi masih ada yang di dalam rumah. Kian mencekam … Hingga malam ini, situasi kawasan Mako Brimob masih terus mencekam. Suara tembakan belum juga berhenti. Warga yang tinggal di sekitar Mako Brimob Polda Kepri dan Markas Yonif 134 Tuah Sakti, yang jarak keduanya tidak begitu jauh, semakin khawatir.

Baik orang dewasa maupun anak-anak saat ini sedang duduk dan berkumpul di lahan kosong bersebelahan dengan Pasar Buana, Tembesi, yang tidak jauh dari Mako Brimob. “Kita takut mereka saling tembak. Kita ingin mereka aman. Mereka yang kita harap jaga kita malah buat kacau,” ujar warga. Sementara itu, lampu di Mako Brimob dalam keadaan mati dan suasananya gelap gulita. Beberapa anggota terlihat masih terus berjaga dari pintu masuk dan halaman. Seperti diberitakan sebelumnya, suasana mencekam ini terjadi karena adanya penyerangan anggota Yonif 134 Tuah Sakti ke Barak Teratai Brimob Polda Kepri, tadi pagi. Siang harinya, dikabarkan gudang senjata Yonif dibobol oleh anggotanya sendiri.

Presiden Joko Widodo diharapkan ikut menangani secara serius kasus bentrokan yang kembali terjadi antara TNI dan Polri di Batam pada Rabu (19/11/2014) kemarin. Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane mengatakan, Jokowi harus melakukan evaluasi terhadap kinerja Pimpinan TNI dan Polri yang dinilainya lengah mengawasi anggotanya.

“Jokowi harus mengevaluasi dan mencopot para pimpinan TNI dan Polri. Bagaimana pun, bentrokan ini tak lepas dari kelengahan elit-elit TNI dan Polri dalam mencermati dinamika di Batam pasca bentrokan 21 September 2014 lalu,” ujar Neta Rabu (19/11/2014) malam. Menurut Neta, Pimpinan TNI dan Polri gagal meredam rasa dendam antara kedua pihak sebagai akibat dari bentrokan beberapa waktu lalu. Konflik antara dua institusi ini, kata Neta, ikut merugikan masyarakat karena mengganggu keamanan dan menimbulkan keresahan.

Selain itu, Neta mengatakan, negara juga ikut mengalami kerugian besar dengan adanya konflik TNI dan Polri. Menurut dia, kejadian ini akan membuat investor asing takut menanamkan modalnya di Indonesia. Padahal, sebelumnya, dalam forum APEC dan G-20, Jokowi mengundang para investor asing untuk berinvestasi di Indonesia. “Bagaimana mereka mau masuk jika tidak ada jaminan keamanan di Indonesia, mengingat antar aparat keamanan saja saling tembak dan terus terlibat bentrokan,” kata Neta.

Seperti diberitakan, sejumlah oknum TNI Batalion 134 Tuah Sakti, pada Rabu pagi, melakukan penyerangan ke Mako Brimobda Kepri, di Tembesi, Batam. Dalam penyerangan itu, oknum TNI tersebut sempat melakukan pengerusakan. Peristiwa bentrokan kembali berlanjut hingga Rabu tengah malam. Informasi menyebutkan, sempat terjadi baku tembak dalam peristiwa bentrokan kali ini. Peristiwa ini bukan kali ini saja terjadi di Batam. Sebelumnya, pada bulan September lalu, bentrokan serupa mengakibatkan empat anggota TNI menderita luka tembak.

Saat itu, peristiwa bermula ketika tim dari Direktorat Kriminal Khusus Polda Kepri dibantu anggota Brimob, sedang melakukan penggerebekan salah satu gudang penimbunan BBM ilegal. Belakangan diketahui, anggota TNI Bataion 134 terlibat dalam aksi penimbunan BBM ilegal tersebut. Pengamat kepolisian dari Universitas Indonesia Bambang Widodo Umar mengatakan, penyelesaian masalah yang terjadi antara TNI dan Polri sebaiknya dilakukan secara adil. Menurut dia, pola penegakan hukum yang dilakukan selama ini cenderung berusaha menutupi kesalahan masing-masing anggota.

Bambang mengatakan, penegakan hukum yang tidak berimbang justru tidak akan menyelesaikan masalah dengan tuntas. Bentrok antara TNI dan Polri diprediksi akan kembali terulang. “Penyelesaian konflik TNI dan Polri jangan seperti sandiwara. Jangan karena jiwa korsa, masing-masing berusaha menutupi kesalahan anggotanya,” ujar Bambang, Kamis (20/11/2014). Pimpinan kedua institusi, lanjut Bambang, sebaiknya benar-benar memberikan sanksi bagi anggotanya yang tebukti melakukan kesalahan. Jika tidak, mereka akan merasa dilindungi oleh atasan, dan tidak menyadari kesalahan yang telah dilakukan.

“Siapa yang salah harus diusut dan ditindak dengan tegas berdasarkan hukum,” kata Bambang. Dalam konflik TNI dan Polri yang terjadi di Batam pada September lalu, Bambang menilai, penyelesaian masalah antara kedua institusi terlalu sederhana. Ada kesan menutupi baik dari TNI mau pun Polri terhadap persoalan yang sebenarnya terjadi. Hal ini lah yang dianggap Bambang kembali memicu bentrokan pada pada Rabu (19/11/2014) kemarin.

Seperti diberitakan, sejumlah oknum TNI Batalion 134 Tuah Sakti, pada Rabu pagi, melakukan penyerangan ke Mako Brimobda Kepri, di Tembesi, Batam. Dalam penyerangan itu, oknum TNI tersebut sempat melakukan tindakan pengerusakan. Peristiwa bentrokan kembali berlanjut hingga Rabu tengah malam. Informasi menyebutkan, sempat terjadi baku tembak dalam peristiwa bentrokan kali ini. Oleh karena itu, Bambang mengatakan, perlu adanya sikap tegas dari Presiden Joko Widodo dalam menyelesaikan masalah ini. Salah satunya adalah melakukan pembenahan dalam undang-undang.

“Jokowi perlu mengambil kebijakan radikal, menyusun sistem keamanan nasional dalam undang-undang. Hukum tidak boleh sandiwara,” kata Bambang. Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) meminta Panglima TNI Jenderal Moeldoko dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Pol Sutarman turun tangan menyelesaikan konflik yang kembali terjadi antara TNI dan Brimob. Pada Rabu (19/11/2014) kemarin, TNI dan Polri kembali bentrok hingga baku tembak di Batam, Kepulauan Riau.

“Konflik TNI-Polri di Batam tidak hanya cukup diselesaikan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) dan Panglima Daerah Militer (Pangdam) setempat,” ujar Komisioner Kompolnas Edi Hasibuan, melalui keterangan tertulis, Rabu (19/11/2014) malam. Edi mengatakan, keterlibatan Panglima TNI dan Kapolri secara langsung dalam kasus ini dianggap penting agar ke depannya konflik serupa tak terjadi di wilayah lain. Ia yakin, koordinasi yang baik antara petinggi TNI dan Polri dalam menyelesaikan persoalan ini akan membuat situasi semakin kondusif.

“Peristiwa itu harus segera dihentikan oleh Panglima TNI dan Kapolri agar situasi kembali kondusif,” kata Edi. Peristiwa ini, kata Edi, pasti menimbulkan keresahan dan ketakutan bagi masyarakat sekitar. Seperti diberitakan sebelumnya, Barak Teratai Satuan Brimob Polda Kepri di Tembesi diserang oknum anggota TNI dari Yonif 134 pada Rabu sekitar pukul 11.00 WIB, Rabu (19/11/2014). Penyerangan ini diduga bermula dari dua oknum anggota Yonif 134/Tuah Sakti, yaitu Pratu Nuryono dan Praka Budiono, yang saling tatap dengan dua anggota Brimob saat mengisi bensin di dekat Markas Brimob. Saling tatap ini berujung dengan cekcok di antara mereka.

Perselisihan sempat mereda setelah dilerai petugas Provos Brimob Polda Kepri. Namun, tak berselang lama, ada 30 anggota TNI dari Yonif 134/Tuah Sakti datang ke Markas Brimob dengan alasan menyelidiki perselisihan di pom bensin itu. Komisi III DPR RI akan segera memanggil dan meminta keterangan dari Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, Kepala Polri Jenderal Pol Sutarman, dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Tedjo Edy Purdjiatno terkait adu tembak yang terjadi antara TNI dan Polri di Batam, Kepulauan Riau.

“Ya harus dong dipanggil,” kata Ketua Komisi III Aziz Syamsuddin, saat dihubungi, Kamis (20/11/2014). Menurut Aziz, sebagai lembaga penegak hukum, TNI dan Polri harus mengusut insiden yang melibatkan anggotanya ini. Selain itu, kata dia, TNI dan Polri harus memberikan sanksi tegas dan seberat-beratnya kepada angota mereka yang merupakan dalang bentrok dan penembakan. Aziz menilai, bentrok antara dua intitusi ini kembali berulang karena tidak adanya sanksi atau hukuman tegas terhadap anggota yang terlibat.

“Menko Polhukam juga harus kasih sanksi ke TNI-Polri,” ujarnya. Seperti diberitakan, sejumlah oknum TNI Batalion 134 Tuah Sakti, pada Rabu pagi, melakukan penyerangan ke Mako Brimobda Kepri, di Tembesi, Batam. Dalam penyerangan itu, oknum TNI tersebut sempat melakukan pengerusakan. Peristiwa bentrokan kembali berlanjut hingga Rabu tengah malam. Informasi menyebutkan, sempat terjadi baku tembak dalam peristiwa bentrokan ini.

Pemerintah Indonesia Cabut Kewarganegaraan WNI yang Ikut Wajib Militer Di Singapura


Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan dua pria WNI berstatus permanent resident Singapura yang mengikuti wajib militer (wamil) sudah dideportasi ke Singapura. Langkah ini dinilai tepat karena sesuai dengan peraturan perundang-undangan. “Status anggota militer 2 WNI tersebut berakibat pada hilangnya kewarganegaraan Indonesia. Berdasarkan Pasal 23 huruf (d) UU Kewarganegaraan 2006 ditentukan bahwa WNI kehilangan kewarganegaraannya jika yang bersangkutan (d) masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari Presiden,” kata Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana dalam keterangannya, Kamis (13/11/2014).

Menurut Hikmahanto, dua WNI itu telah memenuhi apa yang dilarang dalam pasal tersebut dengan masuk dinas tentara Singapura. Sehingga secara otomatis kewarganegaraan Indonesianya hilang sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2007 tentang Tata Cara Memperoleh, Kehilangan, Pembatalan dan Memperoleh Kembali Kewarganegaraan Republik Indonesia.

“Panglima TNI telah tepat mendeportasi dua WNI tersebut kembali ke Singapura. Hal ini harus ditindaklanjuti oleh Direktorat Jenderal Imigrasi dengan mencabut paspor atas 2 WNI tersebut. Mereka juga tidak boleh memasuki wilayah Indonesia dengan paspor Indonesia yang selama ini mereka miliki.” ujar Hikmahanto.

Secara teknis 2 WNI tersebut saat ini berstatus stateless alias tanpa kewarganegaraan mengingat status mereka di Singapura bukan sebagai warga negara Singapura, melainkan sebagai permanent resident yang berkewarganegaraan Indonesia. “Agar insiden tidak terulang perwakilan Indonesia harus aktif mensosialisasikan kepada para permanent resident berkewarganegraan Indonesia untuk tidak mengikuti wajib militer karena dapat menyebabkan hilangnya kewarganegaraan Indonesia,” saran Hikmahanto.

Moeldoko menjelaskan kedua WNI itu berstatus permanent resident Singapura. Mereka ikut wamil Singapura dan berlatih dalam kegiatan rutin Latma TNI-SAF Safkar Indopura di Magelang. Saat mereka masuk Indonesia itu baru ketahuan jika mereka adalah WNI. “Setelah itu masuk Indonesia dicatat, ‘lho kamu orang Indonesia kok menjadi prajuritnya Singapura, bagaimana ini ceritanya’. Persoalan ini tidak murni permasalahan Panglima TNI. Ini persolan Keimigrasian, persoalan kewarganergaraan, dan persoalan-persoalan yang lain. Untuk itu kita komunikasikan kepada kementerian-kementerian yang terkait dengan hukum,” urai Moeldoko di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Kamis (13/11/2014). Kedua pria itu sudah dideportasi ke Singapura.

Jika Moeldoko menyebut keduanya telah dideportasi, Singapura menyebut pihaknya ‘menarik’ dua prajurit itu. “Bagaimanapun juga, mereka ditarik dari latihan dan dipulangkan ke Singapura. Mereka tidak ikut berpartisipasi dalam latihan bilateral,” begitu statemen Kemenhan Singapura. Panglima TNI Jenderal Moeldoko memberi penjelasan soal dua WNI yang ikut wajib militer Singapura. Menurut Moeldoko, kedua WNI itu sempat ditahan karena ketahuan ikut wamil. Tapi kemudian Panglima Singapore Armed Forces (SAF) Letjen Ng Chee Meng menelepon Moeldoko.

“Ada atensi telepon dari Panglima Singapura, teman saya Letjen Meng memohon ke Panglima TNI supaya ‘2 prajurit saya’ dilepaskan, kan bisa nggak enak, begitu kita lepaskan,” kata Moeldoko di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Kamis (13/11/2014). Menurut Moeldoko, sebelumnya dilakukan proses diplomatik. Kedua WNI itu berstatus permanent resident Singapura. Mereka ikut wamil Singapura dan berlatih dalam kegiatan rutin Latma TNI-SAF Safkar Indopura di Magelang.

“Akhirnya kita lakukan langkah-langkah diplomatis. Saya waktu teleponan dengan Pangab Singapura saya bilang ‘hati-hati, kamu harus lakukan evaluasi dengan baik karena tidak menutup kemungkinan hal seperti ini bisa terulang lagi tahun depan, kalau itu yang terjadi kita akan lakukan langkah-langkah yang lebih keras’,” tegas Moeldoko.

“Kita punya forum Pangab se-ASEAN di situ kita bisa komunikasikan, biasanya langsung kita telepon,” tutup dia. Pemerintah Indonesia sedang menginvestigasi dua WNI pemegang permanen resident (PR) yang ikut wajib militer di Singapura. Mereka ketahuan saat mengikuti Latihan Bersama TNI dan tentara Singapura (SAF) bertajuk ‘Safkar Indopura’ di Magelang, Jawa Tengah. Lalu apa komentar Singapura?

“Dua anggota NSF (full-time national servicemen), yang merupakan permanent resident (PR) Singapura, merupakan bagian dari unit militer yang berpartisipasi dalam latihan bilateral tahunan antara SAF (Singapore Armed Forces) dengan TNI untuk meningkatkan hubungan militer,” begitu pernyataan Kementerian Pertahanan Singapura seperti dilansir media setempat, The Straits Times, Kamis (13/11/2014).

“Bagaimanapun juga, mereka ditarik dari latihan dan dipulangkan ke Singapura. Mereka tidak ikut berpartisipasi dalam latihan bilateral,” imbuhnya. Tidak disebutkan identitas kedua WNI tersebut, namun dengan status mereka sebagai PR Singapura, keduanya memang diharuskan ikut wajib militer di negara tersebut. Kemlu RI juga telah berkomentar tentang hal ini. “Ada dua warga negara kita yang ikut wamil di Indonesia, ketahuannya pas latihan gabungan dengan TNI,” terang Direktur Perlindungan TKI dan BHI Kemlu, Krisna Djaelani, Rabu (12/11/2014).

Menurut Krisna, peristiwa itu sudah ditangani. “Kalau berdasarkan peraturan di Singapura permanent resident mempunyai hak dan kewajiban sama dengan warga negara asli. Jadi ada kewajiban mereka ikut wajib militer,” jelas Krisna. Krisna menjelaskan, sesuai aturan yang ada di Indonesia, WNI yang ikut wajib militer atau bergabung dengan tentara negara lain maka akan hilang kewarganegaraannya.

“Otomatis hilang kewarganegaraannya. Sekarang kita sedang melakukan kerjasama dengan Kemenkum HAM. Ini ranah dari Kemenkum HAM,” tutup Krisna.

Jet Tempur Eurofighter Typhoon Hadir di Indo Defense 2014


Jet tempur Eurofighter Typhoon bakal hadir di pameran industri pertahanan Indo Defense 2014 di Kemayoran, Jakarta Pusat. “Kita akan taruh simulatornya. Ini yang pertama kalinya kita pamerkan di Indonesia,” kata Paul Smith, Capability Development Manager Eurofighter dalam acara obrolan bertema “Indonesia Lepas Landas” di Car Free Day, Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (2/11/2014).

Dengan adanya simulator, publik bisa mencoba merasakan sensasi mengontrol jet tempur yang dikembangkan oleh Eurofighter Jagdflugzeug GmbH itu. Indo Defense bakal berlangsung dari 5 – 8 November 2014. Ajang ini merupakan pameran industri pertahanan terbesar di Indonesia. Pameran akan mempertontonkan kelengkapan pertahanan mulai dari senjata, kendaraan tempur hingga alat komunikasi pendukung.

Eurofighter Typhoon adalah salah satu jet tempur paling canggih saat ini. Kelebihannya adalah pada berat yang ringan dan mesin yang mampu mendukung pesawat bergerak cepat. Eurofighter Typhoon punya dua dapur pacu Eurojet EJ200 yang masing-masing berkekuatan 13.490 pon dan thrust-weight ratio 1,15. “Ini sangat cocok untuk wilayah Indonesia yang luas serta berupa kepulauan,” kata Smith.

Saat ini, Eurofighter tengah menjajaki kerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia untuk pengembangan pesawat tempur.

Smith mengatakan, kerjasama bisa berupa pengembangan pesawat Eurofighter Typhoon di Indonesia sehingga pihak dalam negeri bisa memahami teknologi pengembangannya. Indonesia sendiri memang berminat mengakusisi jet tempur baru dan Eurofighter Typhoon menjadi salah satu kandidatnya.