Category Archives: Terorisme

Dua Pilot Indonesia Termasuk Pilot dan Pramugari AirAsia Bergabung Dengan ISIS


Seorang pilot asal Indonesia yang diduga bergabung dengan organisasi ISIS sebelumnya dipecat bekerja dari maskapai penerbangan AirAsia karena terbukti melakukan kontak secara online dengan jaringan ekstrimis tersebut. Presiden Direktur AirAsia, Sunu Widyatmoko, mengatakan Air Asia melakukan pemecatan setelah mengetahui adanya kontak dari pilot bersangkutan, Ridwan Agustin, dengan organisasi terduga ISIS.

“Dulu dia pernah bekerja di AirAsia, tapi sekarang sudah enggak. Waktu dengan kami bekerja semuanya normal. Namun, dalam proses, ada indikasi kontak internet dengan jaringan ISIS, kami langsung proses dan pecat,” kata Sunu saat dihubungi . Informasi adanya kontak tersebut, kata Sunu, didapatkan pihaknya dari staff internal Air Asia. “Enggak ada pengawasan. Begitu tahu benar, langsung kami proses tindakan,” kata Sunu.

Ridwan Agustin, eks pilot AirAsia tersebut, mengatakan lokasi terkininya pada pertengahan Maret 2015 di Raqqa, Suriah. Tak hanya itu, dia juga mengubah namanya menjadi Ridwan Ahmad Indonesiy dan mengungkapkan ketertarikannya untuk bergabung dalam peperangan melawan Kobani.

Tak hanya Agustin, seorang pilot asal Indonesia lainnya, Tommy Hendratno, yang pernah bekerja di maskapai penerbangan pribadi Premiair, juga diduga bergabung dengan jaringan ISIS. Hal itu seperti disampaikan dalam laporan intelijen yang dikumpulkan oleh Australian Federal Police dan didistribusikan kepada rekan penegak hukum di Turki, Jordan, London, dan Amerika Serikat, termasuk ke Europol, organisasi kepolisian Eropa.

Laporan tersebut juga menyebutkan pilot, kru pesawat dan yang lainnya, dengan akses ke dalam dan diantara lingkungan penerbangan dapat memiliki ancaman nyata jika orang tersebut diradikalisasi. “Akses mereka dan pengetahuan atas keamanan dan keselamatan menyediakan kesempatan untuk serangan sebagaimana terjadi dalam kejadian global di masa lalu,” tulis laporan tersebut.

Kepolisian Australia meyakini ada dua pilot asal Indonesia yang telah teradikalisasi dan menjadi pendukung ISIS. Hal ini dibuktikan dalam dokumen polisi Australia yang dibocorkan sebuah majalah online, The Intercept. Dokumen rahasia Kepolisian Federal Australia, AFP, itu diperoleh The Intercept dan dirilis di situsnya, Rabu (8/7). AFP disebut membagikan dokumen tertanggal 18 Maret 2015 berjudul “Identifikasi pilot Indonesia dengan kemungkinan pandangan ekstremis” itu ke aparat keamanan di Turki, London, Amerika Serikat dan Europol.

“Pilot, kru udara dan yang lainnya dengan akses menuju dan di dalam lingkungan penerbangan bisa menjadi ancaman yang nyata jika mereka teradikalisasi,” ujar dokumen AFP tersebut. “Akses dan pengetahuan soal keamanan dan keselamatan memberi mereka kemampuan penyerangan seperti yang disaksikan dalam berbagai tragedi global di masa lalu. Perlu dicatat, majalah al-Qaidah Inspire edisi terbaru aktif mendorong serangan di lingkungan penerbangan,” lanjut AFP.

Kedua pilot itu diketahui bernama Ridwan Agustin dan Tommy Abu Alfatih. Dugaan kuat keduanya bergabung dengan ISIS setelah AFP melakukan pengamatan di akun Facebook mereka. “Berdasarkan peninjauan konten dari akun keduanya diketahui bahwa mereka kemungkinan telah terpengaruh unsur radikal–setidaknya dinilai dari lingkungan online–dan hasilnya, bisa mengancam keamanan,” lanjut laporan AFP.

Menurut AFP, Ridwan menjadi pilot AirAsia sejak tahun 2010 dan terbang di rute-rute internasional, seperti Hong Kong dan Singapura. Sebelum akun Facebooknya ditutup, dia mem-posting beberapa foto dirinya menggunakan seragam pilot di depan pesawat AirAsia. Dia dipercaya telah membuat akun Facebook lainnya dengan nama berbeda, dan kota tinggalnya sekarang adalah Raqqa, Suriah. Istrinya, Diah Suci Wulandari, adalah mantan pramugari AirAsia.

Kepada Intercept, AirAsia mengatakan bahwa “Ridwan Agustin dan Dian Suci Wulandari sudah bukan lagi karyawan AirAsia Indonesia. Karena itu kami tidak bisa berkomentar lebih jauh.” Laporan AFP menunjukkan bahwa sifat postingan status Ridwan mulai berubah sejak September 2014, dia mulai membagikan materi yang menunjukkan dukungan terhadap ISIS. Dia juga mulai berteman dan berinteraksi dengan para pendukung ISIS lainnya, salah satunya adalah Heri Kustyanto alias Abu Azzam Qaswarah al Indonesy, yang diduga anggota Jemaah Islamiyah dan sekarang berperang dengan ISIS di Irak dan Suriah.

Di saat inilah, pilot kedua Tommy Abu Alfatih mulai terlibat dengan me-like banyak status Ridwan yang diduga saat ini telah berada di Raqqa. Dikutip dari Sydney Morning Herald, AFP menyebutkan bahwa Tommy lulusan sekolah penerbangan Indonesia tahun 1999 dan sempat jadi pilot di Angkatan Udara Indonesia sebelum menerbangkan pesawat untuk maskapai Premiair. Dari akun Facebooknya, Tommy diduga masih tinggal di Indonesia.

“Foto yang dia posting menunjukkan perjalanan keliling dunia–kemungkinan besar sebagai pilot- termasuk ke Australia, Eropa, Timur Tengah dan Amerika Serikat,” ujar laporan AFP. Pertengahan 2014, Tommy mulai memposting status-status berisi keprihatinan terhadap penderitaan umat Islam di seluruh dunia. Pada Desember 2014, materi pro-ISIS mulai mengemuka.

Dalam salah satu postingnya, lanjut AFP, Tommy menyebut polisi sebagai “Ansharu thagut” atau pendukung berhala. Premiair mengatakan pada The Intercept bahwa Abu Alfatih yang memiliki nama asli Tomi Hendratmo telah berhenti bekerja untuk perusahaan itu sejak 1 Juni tahun ini. “Kami dengar dia simpatisan ISIS,” ujar perusahaan itu pada The Intercept. Ridwan dan Tommy tidak bisa dihubungi via sosial media. Sementara AFP menolak mengomentari laporan tersebut. “AFP tidak berkomentar soal masalah intelijen.”

Advertisements

Kronologi Ledakan Bom Di Belakang Pos Polisi Tanah Abang


Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia Komisaris Jenderal Badrodin Haiti mengatakan jajarannya menduga seorang korban ledakan di Tanah Abang, Jakarta Pusat, merupakan perakit bom jenis banting. Bom itu meledak cukup keras di belakang Pos Polisi Tanah Abang, Rabu, 8 April 2015, sekitar pukul 15.00. “Dugaan sementara, korban terluka parah kemungkinan itu yang merakit,” kata Badrodin di Jakarta. Badrodin menuturkan penyidik terus berupaya memastikan penyebab dan status korban ledakan itu.

Badrodin menambahkan, selain perakit, terdapat tiga korban lainnya yang terkena ledakan cukup besar tersebut. Dengan demikian, jumlah korban sebanyak empat orang, bukan lima seperti yang diberitakan sebelumnya. Korban-korban itu adalah Feri Andiyanto, 28 tahun, warga Indramayu, Jawa Barat. Feri beralamat di Jalan Jabun RT 16/09 Kebon Kacang, Tanah Abang. Kemudian Amir, 51 tahun, warga Tasikmalaya, Jawa Barat, yang beralamat di Jalan Jabun III RT 6/09 Kebon Kacang.

Selanjutnya Asep Samsudin, 66 tahun, asal Garut, Jawa Barat, yang beralamat di Jalan Jabun VII RT 16/09; serta Suro. Mereka dibawa ke Rumah Sakit Pelni Petamburan. Badrodin menyatakan petugas menemukan barang sejenis paku tapi tidak ditemukan detonator. Bom rakitan ini mirip petasan banting.

Ledakan yang terjadi di belakang Pos Polisi Tanah Abang, Jakarta Barat, tepatnya berada di Jalan Jatibunder. Sumber ledakan yang terjadi sekitar pukul 15.00 itu berasal dari bedeng. Garis polisi sudah dipasang agar warga yang ingin melihat sumber ledakan tak mendekat. Ada pula peringatan dari polisi agar orang-orang menjauh paling tidak 200 meter dari lokasi kejadian. Kendati dihalau, warga terus berdatangan untuk melihat sumber ledakan.

Korban luka sudah dibawa ke Rumah Sakit Pelni di Petamburan. Polisi yang membawa senjata laras panjang berjaga di sekitar lokasi ledakan. Penjagaan juga diperkuat Tim Gegana dari Polda Metro Jaya. Sebelumnya, Kepala Kepolisian Resor Jakarta Pusat Komisaris Besar Hendro Pandowo mencurigai sumber ledakan berupa bom. Namun kepastiannya masih menunggu hasil penyelidikan.

Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Polisi Badrodin Haiti menduga bom yang meledak itu adalah jenis bom banting. Seorang korban, kata dia, merupakan perakit. “Dugaan sementara, korban terluka parah kemungkinan itu yang merakit,” kata Badrodin. Badrodin menuturkan penyidik sedang memastikan penyebab dan status korban ledakan tersebut. Terdapat tiga korban lain yang juga terkena ledakan cukup besar tersebut sehingga jumlah korban sebanyak empat orang, bukan lima.

Sebuah ledakan keras terjadi di belakang Pos Polisi Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Rabu, 8 April 2018, sekitar pukul 15.00. Ledakan ini menyebabkan lima orang luka. Mereka langsung dilarikan ke Rumah Sakit Pelni. Menurut Kepala Satuan Lalu Lintas Polsek Tanah Abang Komisaris R. Sujoko, petugas sudah mendatangi lokasi kejadian. Belum bisa dipastikan sumber dan penyebab ledakan. Untuk memastikannya, kata Sujoko, Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Unggung Cahyono dan Kepala Polres Jakarta Pusat Komisaris Besar Hendro Pandowo turut datang ke lokasi.

Ledakan ini terdengar sangat keras di sekitar Pos Polisi Pasar Tanah Abang. Polisi segera turun ke tempat kejadian setelah mendengar ledakan tersebut. “Benar, saya menuju lokasi,” kata Hendro Pandowo. Hendro mengatakan petugas gabungan Polres dan Polsek Metro Tanah Abang telah mengamankan sekaligus melakukan olah tempat kejadian perkara. Hendro belum dapat memastikan penyebab ledakan tersebut karena polisi masih menyelidikinya.

Kapolres Hendro mendapat informasi bahwa ledakan itu melukai 3-5 orang. Hendro Pandowo mencurigai sumber ledakan berupa bom. Masyarakat sekitar Jalan Jati Bundar RT 16 RW 9, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, dikagetkan dengan bunyi ledakan keras, Rabu (8/4/2015) sekitar pukul 14.15 WIB. Empat orang terluka dalam peristiwa tersebut.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Rikwanto menjelaskan bahwa ledakan berasal dari sebuah rumah. Warga yang tinggal di tempat itu akan menggelar hajatan pada 12 April 2015 mendatang. “Salah satu saksi atas nama Fatang sebelumnya datang ke rumah itu untuk membersihkan lokasi yang mau dijadikan tempat hajatan. Tiba-tiba, dia mendengar ledakan keras,” ujar Rikwanto di kantornya, Rabu sore.

Saksi, sebut Rikwanto, semula tak mengetahui asal ledakan. Dia kemudian ke dalam rumah itu untuk mencari-cari titik sumber suara ledakan. Di dalam rumah, dia malah mendapati empat orang dalam keadaan luka-luka. Empat korban atas nama Rukam (56) alias Suro, warga Ciledug; Asep (67) yang merupakan warga Kebon Kacang; Amir (30) alias Bogel warga Kebon Kacang; dan Feri (31) asal Indramayu. Keempat korban dibawa ke RS Polri Bhayangkara Kramatjati untuk dirawat secara intensif.

Kini, polisi sudah mengamankan tempat kejadian dengan police line. Polisi mengumpulkan sejumlah saksi, yakni atas nama Fatang, Saka, Celstino, dan Bu Jonah. “Adapun barang bukti yang kami amankan itu adalah 49 plastik hitam berisi benda dengan ukuran bola tenis, serpihan paku, dan galon air mineral empat buah,” ujar Rikwanto.

Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Unggung Cahyono menyebutkan, ledakan yang terjadi di Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2015) berasal dari bom berdaya ledak rendah. Unggung juga menyebutkan bom tersebut kemungkinan adalah rakitan. “Sesuai apa yang ditemukan di TKP, kalau kita lihat seperti mercon banting. (Jadi) homemade (buatan) bom. Jadi ini low explosive,” kata Unggung, di RS Polri, Jakarta Timur, usai melihat korban ledakan, Rabu (8/4/2015) malam.

Menurut dia, di dalam bom itu terdapat paku. Modelnya tidak pernah ditemukan. Namun, ini mirip dengan bondet atau bom untuk mecari ikan yang pernah dilihatnya di Jawa Timur. Sistem kerja bom ini, lanjut dia, dengan cara dibanting. “Jadi ini impact system, kalau ada benturan akan meledak,” ujar Unggung.

Kendati demikian, Unggung menyatakan ini perlu diperiksa oleh tim forensik lagi. Sebelumnya, masyarakat di Jalan Jati Bundar dikagetkan dengan bunyi ledakan keras sekitar pukul 14.15 WIB tadi. Empat orang terluka dalam peristiwa tersebut. Para korban kini tengah dirawat di RS Polri Kramat Jati. Satu lagi korban luka dalam peristiwa ledakan di Jalan Jati Bundar RT 16 RW 9, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat dibawa ke RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (8/4/2015) malam. Korban tiba sekitar pukul 20.10 dengan ambulans.

Pantauan Kompas.com, korban diturunkan ke instalasi gawat darurat (IGD) RS Polri. Korban dikawal petugas bersenjata lengkap. Saat turun dari ambulans, korban masih diselimuti pakaian rumah sakit berwarna hijau dengan infus yang masih terpasang di tubuhnya. Bagian wajahnya korban tidak tertutup. Terlihatlah wajah korban yang penuh luka parah dan mengeluarkan banyak darah.

Salah satu personil kepolisian membenarkan bahwa pria yang dibawa adalah korban ledakan di Tanah Abang. “Iya, dia namanya Suro,” ujar polisi berpangkat inspektur dua ini, di RS Polri, Rabu malam. Dengan demikian, ada empat korban dibawa ke IGD RS Polri. Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Unggung Cahyono tengah berada di RS Polri untuk melihat para korban.

Pendukung ISIS Lakukan Teror Di Indonesia


Kepolisian RI sudah mengendus aksi teror pendukung Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) di Indonesia. “Kami menduga begitu, karena ada pengeboman yang menggunakan gas kloride atau chlorine bomb. Nah, ini khas digunakan oleh ISIS. Tapi mereka gagal menggunakannya di ITC Depok,” kata Asisten Perencanaan Anggaran Kepala Kepolisian RI, Inspektur Jenderal Tito Karnavian, kepada di kantornya, Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis, 18 Maret 2015.

Pada 23 Februari 2015 sebuah ledakan ringan terjadi di ITC Depok dan tidak mengakibatkan korban jiwa. Polisi menduga, kelompok yang melakukan aksi teror di Depok itu sama dengan yang melakukan peledakan di markas kepolisian di Cirebon dan sejumlah aksi teror di Poso, Sulawesi Tengah. Sebelum bergabung dengan ISIS, kelompok-kelompok ini melakukan aksi teror dalam payung organisasi berbeda. Menurut dia, kelompok ISIS membolehkan membunuh para penentangnya karena mereka dianggap kafir. “ISIS menyebutnya dengan takfiri (mengkafirkan orang lain),” kata dia. Karena mereka terlalu sering kalah dalam berdialog tentang ajaran islam sehingga membunuh para pententangnya adalah jalan yang paling mudah dilakukan/

Menurut Tito, deklarasi ISIS oleh Abu Bakar al-Baghdadi pada 2013 memunculkan kontroversi di antara kelompok yang selama ini dianggap bertanggung jawab atas aksi teror. Ada yang setuju dan yang tidak untuk bergabung dengan ISIS. Dari yang setuju, berangkat 127 orang ke Irak dan Suriah. Merekalah rombongan pertama pendukung ISIS yang ke Timur Tengah. Mereka masuk melalui Mesir dan sebagian dilaporkan sudah tewas di Suriah dan Irak.

Kepolisian RI menganggap gerakan radikal di Indonesia mendapat angin segar dari gerakan Negara Islam di Suriah dan Irak. Kelompok yang dianggap bertanggung jawab atas aksi teror di Indonesia ini menjadikan kawasan itu sebagai lahan jihad baru. “Itu akan menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang berjihad di dunia,” kata Tito. “Bahayanya adalah saat mereka kembali ke negaranya.” Tito mengatakan, satu kelompok yang sebagian anggotanya mendukung ISIS adalah Mujahidin Indonesia Timur. Orang yang dituding Tito adalah Santoso, yang dianggap bertanggung jawab atas pelatihan di Poso. “Video pelatihan digunakan sebagai pengkaderan dan promosi juga,” kata dia. Santoso dianggap sebagai pelatih dari, antara lain, Iswahyudi, terpidana terorisme Bekasi Timur; dan Khairul Anam, terdakwa terorisme di masjid Kepolisian Resor Cirebon, Jawa Barat, pada 2011.

Video kekerasan oleh kelompok yang mengklaim sebagai pendukung ISIS diedarkan di Internet. Baik Badan Nasional Penanggulangan Terorisme maupun Kepolisian menganggap video itu disebarkan oleh kelompok ini. Sedangkan pendukung ISIS yang berangkat ke Turki dan Suriah terus bertambah. Terakhir, polisi mencatat jumlah mereka mencapai 514 orang yang sebagian bersama keluarganya.

Juru bicara BNPT, Irfan Idris, mengaku upaya mencegah kegiatan radikal sudah dilakukan sejak 2010. BNPT, kata dia, memberdayakan masyarakat di pesantren maupun di rumah ibadah, di lembaga pemasyarakatan, dan dialog damai dengan sejumlah pentolan kelompok tersebut. Namun, Irfan mengatakan, umumnya pemuda yang berangkat memang sudah terpengaruh.

Kepolisian berharap pemerintah menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang dalam penanggulangan terorisme. “Ketika orang sudah menyatakan akan bergabung dengan ISIS, bisa kami pidana,” kata Inspektur Jenderal Tito Karnavian kepada Tempo di Mabes Polri kemarin. Tito mengatakan, pendukung ISIS bisa dicabut kewarganegaraannya. Mereka yang kembali dari Irak dan Suriah bisa dipidana lantaran dianggap mendukung ISIS. “Kami bisa selidiki itu dari intelijen. Pasti ketahuan siapa-siapa yang mendukung ISIS,” kata dia.

Dukungan untuk jaringan teroris Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) di Indonesia diorganisir oleh sejumlah kelompok Islam radikal lokal. Motor utamanya Jemaah Anshorut Tauhid yang dipimpin Abu Bakar Baasyir, terpidana kasus terorisme. “Saya takut menuding tapi Baasyir jelas telah menyatakan dukungan pada ISIS. Kalau pimpinan sudah mendukung, anak buahnya akan ikut,” kata pengamat terorisme Nasir Abas dalam diskusi tentang radikalisme di Jakarta Pusat, Ahad, 22 Maret 2015.

Selain itu kelompok Mujahidin Indonesia Barat dan Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso juga telah berbaiat pada ISIS. Menurut Nasir, banyak pihak luar yang bukan anggota kelompok ini namun mendukung ISIS akhirnya memutuskan bergabung. MIB dan MIT tidak terafiliasi dengan JAT. Selanjutnya, kelompok Bima yang disebut Nasir sebagai gabungan anggota MIT dan MIB juga mendukung ISIS. Kelompok lain seperti Jundullah dikatakan Nasir tak terlibat ISIS. “Jundullah sudah tidak ada,” ujar mantan anggota kelompok teroris Daulah Islamiyah itu

Bentuk dukungan kelompok ini, ujar Nasir, dengan menyetujui perjuangan ISIS. Banyak anggota kelompok tersebut yang berhasrat berangkat ke Suriah untuk memberi dukungan langsung. Anggota kelompok Indonesia juga melakukan eksekusi langsung seperti di Poso. Nasir menyebut kelompok tersebut dapat terkoneksi dengan ISIS melalui internet. Dia belum dapat memastikan apakah teror yang dilakukan kelompok di Indonesia seperti ancaman melalui telepon dan SMS adalah perintah langsung dari ISIS di Suriah. “Yang jelas mereka mendukung dan ingin melakukan apa yang dilakukan ISIS di sana,” kata Nasir.

Kepala Badan Penanggulangan Terorisme Saud Usman menyebut ada lebih dari 10 kelompok di Indonesia yang menyatakan dukungan pada ISIS. Di dalam negeri, mereka membantu proses rekrutmen orang untuk dikirim ke Suriah, menyebarkan propaganda ISIS, serta menggalang bantuan keuangan. Media sosial disebut Saud sebagai sarana penyebaran paham tersebut.

Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara Asad Ali menyebut kelompok inti pendukung ISIS adalah Jamaah Anshorut Tauhid dan Tauhid Wal Jihad. Selain itu juga ada kelompok Mujahidin Indonesia Barat, Mujahidin Indonesia Timur, dan Al Mujahirun yang merupakan fraksi radikal dari Hizbut Tahrir Indonesia. Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Unggung Cahyono mengatakan polisi telah menangkap orang-orang yang diduga berkaitan dengan jaringan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di sejumlah tempat.

Mereka yang ditangkap antara lain Koswara dan Furqon di Tambun, Bekasi, serta Amin Mude di Perumahan Legenda Wisata, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor. Sedangkan Aprimul Hendri ditangkap di Petukangan, Jakarta Selatan, dan Tuah Febriwansyah bin Arif Hasruddin alias Fahri di Pamulang, Tangerang Selatan. “Mereka masih menjalani pemeriksaan,” kata Unggung saat menggelar barang bukti salah satu tersangka di Perumahan Puri Cendana, Tambun, Bekasi, kemarin.

Dalam penggeledahan itu, polisi menyita beberapa barang bukti, seperti buku-buku jihad, seragam, dan bendera ISIS. Barang-barang lain yang disita adalah 5 unit laptop, 9 telepon seluler, paspor dan tiket pesawat, senjata tajam, serta senjata api mainan. “Seragam ini diduga yang dipakai salah satu anak dalam tayangan video ISIS yang disebar di YouTube,” ujar Unggung.

Belum ada penjelasan apakah orang-orang yang ditangkap itu berkaitan dengan penyebar teror. Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Agus Rianto mengatakan polisi belum dapat memastikan pengirim short message service (SMS) yang mengaku anggota Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) betul-betul terkait dengan kelompok itu. Sebab, kata dia, diperlukan penyidikan yang lebih mendalam untuk melihat keterkaitan tersebut. “Semoga cepat tertangkap untuk mempercepat identifikasi,” kata Agus, Ahad 22 Maret 2015.

Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan penyidik telah berhasil melacak nomor ponsel yang digunakan untuk meneror. Dalam pesan, peneror mengaku anggota ISIS yang berasal dari Lampung Timur. Ancaman yang disebar antara lain meledakkan pesawat di Bandar Udara Soekarno-Hatta dan membunuh Presiden Joko Widodo.

Teror dimulai sejak menyebarnya pesan berantai dari nomor 085758905xxx pada Rabu, 18 Maret lalu, yang berisi pesan “Pesawat Lufthansa rute jakarta-berlin tergelincir saat take off di Bandara Soetta pukul 10.25 diperkiraan semua tewas. Pak Nur Rakhman, Pegawai Atc Soetta 085758905xxx”.

16 WNI Hilang Di Turki


Dua saudara kandung asal Solo, yang hilang di Turki diketahui bekerja sebagai pedagang kain gorden. Keduanya juga dikenal ramah dan aktif dalam kegiatan kampung. Salah satu penjahit gorden mengaku kakak beradik ini kerap memesan kain gorden kepadanya. Namun sebulan terakhir memang sudah tidak pernah muncul lagi. “Sudah agak lama tidak ke tempat saya, untuk memesan gorden,” kata Solihin, Sabtu (7/3/2015).

Warga Kelurahan Gajahan, Solo, pun kaget dengan kabar hilangnya dua orang tersebut. Apalagi rumor yang beredar, Hafid dan Fauzi bergabung dengan kelomPok radikal, ISIS. Mereka berdua beserta istri dan dua anak Hafid adalah lima dari 16 warga negara Indonesia yang hilang tanpa kabar saat pergi bersama rombongan ke Turki. Kakak beradik Hafid Umar Babher dan Fauzi Umar diketahui pernah mengontrak di sebuah rumah di Jalan Nogogini, Gajahan, Solo. Warga sekitar pun mengenal sosok kedua kakak beradik karena tergolong ramah dan tidak berulah di kampung.

“Lama Mas ngontrak di Gajahan, terus mereka pindah ke Sukoharjo. Kaget juga kok hilang di Turki,” kata Priyono, salah satu warga Gajahan. Seperti diberitakan, 16 WNI dikabarkan hilang saat pergi bersama rombongan 25 WNI di Turki. Rombongan yang berangkat ke Turki dengan menggunakan jasa perjalanan Smailing Tour, Jakarta. Namun, saat berada di bandara Ataturk, 16 WNI itu memisahkan diri dari rombongan dan hingga saat ini belum diketahui keberadaannya. Saat itu, pemimpin rombongan yang mencoba mengontak salah satu orang dari 16 WNI hanya mendapatkan jawaban bahwa mereka tidak akan bergabung kembali dengan rombongan.

Rombongan berangkat pada tanggal 24 Februari 2015 dari Jakarta. Rombongan sepakat untuk berkumpul kembali pada tanggal 26 Februari 2015 di Kota Pamukkale, Turki. Namun, ke-16 orang itu tidak kunjung datang. Setelah mencoba dihubungi dan gagal mendapatkan kepastian, akhirnya sembilan orang lainnya memutuskan pulang ke Indonesia.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan bahwa pemerintah tidak pernah mendukung warga negara Indonesia untuk bergabung dalam kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Ucapan Kalla menanggapi informasi 16 WNI yang memisahkan diri di Turki saat mengikuti tur wisata. Ada kekhawatiran bahwa ke-16 WNI tersebut bergabung dengan ISIS.

“Kalau ISIS, kita tak pernah mendukung agar orang Indonesia Ikut ISIS. Itu kan suatu hal yang tak sesuai dengan prinsip kita dan agama, ya kita harapkan mereka bisa ketemu kembali,” kata Kalla di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Jumat (6/3/2015). Kendati demikian, Kalla meminta masyarakat tak langsung mengambil kesimpulan jika 16 WNI itu memisahkan diri karena tergabung dengan ISIS. Sejauh ini, pemerintah belum memastikan keberadaan WNI tersebut.

“Kan belum tentu hilang, mungkin saja mereka tur ke mana,” sambung Kalla.

Sebelumnya diberitakan, sebanyak 16 WNI memisahkan diri saat ikut tur ke Istanbul, Turki. Setibanya di Bandara Attaturk, Turki, pada tanggal 24 Februari 2015, mereka memisahkan diri dan tidak bergabung kembali dengan rombongan tur hingga waktunya pulang ke Indonesia. Menurut pimpinan rombongan tur, pada 28 Februari 2015, ke-16 WNI itu memisahkan diri dari rombongan tur dengan alasan ada acara keluarga.

Lima warga Solo yang diketahui hilang bersama 11 warga negara Indonesia lainnya di Turki ternyata masih memiliki hubungan keluarga. Nama lima warga Solo tersebut tercatat berasal dari Kelurahan Gajahan, Solo. “Dari 16 nama yang dikabarkan hilang, beberapa di antaranya ada dalam catatan penduduk warga sini,” kata Susanto, Lurah Gajahan, Sabtu (7/3/3015). Kelima warga tersebut adalah Hafid Umar Babher (32), istrinya, Soraiyah Cholid, dan kedua anak mereka, Hamsah Hafid (6) dan Utsman Hafid (4). Satu orang lainnya adalah Fauzi Umar (36) yang adalah kakak dari Hafid Umar Babher. Susanto menambahkan bahwa Fauzi berstatus masih bujangan.

Dari informasi yang diperoleh, Hafid dan Fauzi merupakan saudara kandung dan cukup lama tinggal di Gajahan. Keduanya cukup lama mengontrak di salah satu rumah. Namun sudah beberapa tahun pindah rumah. “Hafid dan Fauzi dulu kontrak bersama keluarganya, lalu sudah pindah sekitar dua tahun lalu. Tapi belum memberikan surat pindah,” katanya.

Seperti diberitakan, 16 WNI dikabarkan hilang saat pergi bersama rombongan 25 WNI di Turki. Rombongan yang berangkat ke Turki dengan menggunakan jasa perjalanan Smailing Tour, Jakarta. Namun, saat berada di bandara Ataturk, 16 WNI itu memisahkan diri dari rombongan dan hingga saat ini belum diketahui keberadaannya. Saat itu, pemimpin rombongan yang mencoba mengontak salah satu orang dari 16 WNI hanya mendapatkan jawaban bahwa mereka tidak akan bergabung kembali dengan rombongan.

Indonesia Keluar Dari Daftar Hitam Negara Rawan Pencucian Uang Untuk Danai Teroris


Indonesia kini tidak lagi masuk dalam daftar hitam negara yang rawan pencucian uang untuk pendanaan teroris. Wakil Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Agus Santoso mengatakan, salah satu alasan Indonesia tak lagi di-black list yaitu setelah total 328 rekening teroris warga negara Indonesia dan warga asing dibekukan.

Teroris asing tersebut di antaranya berasal dari Malaysia dan Jerman. Sementara dari ratusan rekening tersebut, tiga di antaranya adalah milik Encep Nurjaman alias Hambali, Zulkarnaen, dan Umar Patek. “Mula-mula kami bekukan 19 rekening WNI dan warga asing. Kami lakukan bertahap, tetapi Dewan Keamanan PBB menginginkan 328 itu langsung dibekukan,” kata Agus saat berbincang dengan di ruang kerjanya, Selasa lalu (3/3).

Agus menjelaskan, pembekuan rekening dilakukan secara bertahap karena berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pidana Terorisme, pembekuan seluruhnya tak mudah dilakukan. Pembekuan rekening terduga teroris versi United Nation Security Council (UNSC) 1267 secara bertahap tersebut membuat Dewan Keamanan PBB menilai Indonesia tidak serius memberantas aksi teror. “Nama yang ada di daftar itu adalah mereka yang diduga terlibat Al Qaida dan Taliban. Tetapi selama ini tidak mudah bagi Indonesia untuk langsung membekukan rekening mereka,” ujar Agus.

Jumlah dana yang ada di dalam rekening itu tidak besar yaitu hanya di kisaran puluhan dolar Amerika Serikat dan tidak ada yang sampai ribuan dolar. “Karena pendanaan teroris juga tidak seluruhnya dilakukan lewat transaksi perbankan, tetapi lebih banyak transaksi bawah tanah,” tutur Agus. Menyiasati hal itu, PPATK bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorism (BNPT), Kapolri, Menteri Luar Negeri, dan Ketua Mahkamah Agung (MA) menandatangani surat keputusan bersama (SKB) yang mengatur setidaknya tiga hal. Tiga hal itu juga menjadi penyebab Indonesia dapat keluar dari daftar hitam.

Ketiga poin tersebut yaitu proses pembekuan aset terduga teroris yang ada dalam daftar UNSC 1267 sudah bisa dilakukan dalam waktu tiga hari, dari sebelumnya butuh 30 hari; Indonesia telah melakukan renewal process untuk memperpanjang aset teroris yang dibekukan, dari sebelumnya pembekuan hanya bisa dilakukan enam bulan dan diperpanjang tiga bulan sebanyak dua kali; dan sistem peradilan di Indonesia menyetujui hanya untuk melakukan delisting terduga terors jika nama mereka telah dikeluarkan oleh UNSC.

Financial Action Task Force (FATF) mengonfirmasi bahwa Indonesia secara resmi telah keluar dari daftar hitam (black list) negara rawan pendanaan teroris. Wakil Kepala PPATK Agus Santoso menjelaskan tiga alasan yang membuat Indonesia akhirnya dikeluarkan dari daftar negara yang rentan dalam pencucian uang terkait pendanaan teroris. “Ada tiga isu strategis yang akhirnya diselesaikan Indonesia. Tiga hal ini sebelumnya menjadi penyebab kita masuk daftar hitam tahun 2012,” kata Agus saat berbincang di ruang kerjanya, Selasa (3/3).

Ketiga hal yang menjadi alasan Indonesia keluar dari daftar hitam telah tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) antara lima lembaga yaitu PPATK, Badan Nasional Penanggulangan Terorism (BNPT), Kapolri, Menteri Luar Negeri, dan Ketua Mahkamah Agung (MA). Alasan pertama, proses pembekuan aset terduga teroris yang ada dalam daftar United Nation Security Council (UNSC) 1267 dilakukan hanya dalam waktu tiga hari. “Dalam peraturan di Indonesia, proses pembekuan aset terduga teroris bisa sampai 30 hari. Itu dinilai terlalu lama,” ujar Agus.

Alasan kedua, Indonesia telah melakukan renewal process untuk memperpanjang aset terduga teroris yang dibekukan. Agus menjelaskan, renewal process dilakukan karena jangka waktu pembekuan aset yang diatur dalam hukum positif di Indonesia adalah enam bulan dan diperpanjang tiga bulan sebanyak dua kali atau satu tahun.

Padahal, seseorang yang telah masuk dalam daftar terduga teroris UNSC 1267 itu belum tentu akan dikeluarkan dalam waktu satu tahun. “Jadi renewal process ini dilakukan oleh Kapolri satu bulan sebelum masa pembekuan aset selama satu tahun itu berakhir. Langkah ini diterima dalam sidang FATF,” tutur Agus. Alasan ketiga, sistem peradilan di Indonesia telah menyetujui untuk hanya melakukan delisting terhadap terduga teroris jika nama para terduga tersebut telah dikeluarkan oleh UNSC 1267. Hal ini dikuatkan dengan keterlibatan Ketua MA dalam penandatanganan SKB yang dilakukan pada 11 Februari 2015.

“Karene sistem peradilan di Indonesia independen dan bebas, jadi pengadilan merasa berhak melakukan delisting terhadap terduga teroris di Indonesia. Padahal, nama terduga tersebut kadang masih terdaftar di UNSC 1267,” ujarnya. Diberitakan sebelumnya, sidang FATF di Paris, Perancis pada 24 Februari 2015 secara bulat menyepakati untuk mengeluarkan Indonesia dari daftar hitam. Indonesia telah masuk daftar hitam sejak tahun 2012, bersama negara seperti Iran dan Korea Utara. Saat ini, Indonesia masuk dalam kategori grey list. Namun kategori ini juga dapat dihilangkan jika dalam onsite visit negara yang tergabung dalam Regional Review Group, tiga alasan tiga alasan yang menyebabkan Indonesia dikeluarkan dari daftar hitam dapat dikonfirmasi.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) melansir bahwa Indonesia telah resmi keluar dari daftar hitam (blacklist) negara rawan pencucian uang. Kepastian dikeluarkannya Indonesia dari daftar hitam dikonfirmasi dalam sidang Financial Action Task Force (FATF) di Paris, Perancis, Selasa lalu (24/2). “Indonesia disetujui untuk keluar dari blacklist FATF untuk implementasi penanganan anti pendanaan terorisme atau counter terorism financing,” kata Wakil Kepala PPATK Agus Santoso hari ini, Rabu (25/2).

Menurut Agus, sidang FATF yang berlangsung di markas Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), secara bulat mengakui upaya dan komitmen Indonesia dalam mencegah dan memberantas pendanaan terorisme. Usaha Indonesia untuk keluar dari daftar hitam dilakukan sejak tahun 2012. “Setelah melalui rangkaian evaluasi oleh review group selama dua tahun ini, akhirnya 35 negara anggota FATF secara bulat memutuskan Indonesia menjadi greylist,” ujar Agus.

Setelah masuk dalam kategori greylist, lanjut Agus, sejumlah negara yang tergabung dalam Regional Review Group on Indoensia akan melakukan penilaian setempat melalui onsite visit. “Keberhasilan ini akan berdampak langsung pada perspesi dan peringkat investasi terhadap Indonesia,” kata Agus. Hingga hari ini, Agus masih berada di Paris, Perancis, untuk mengikuti sidang FATF. Agus hadir dalam sidang tersebut bersama Direktur Jenderal Multilateral Kementerian Luar Negeri. “Banyak persiapan teknis yang kami lakukan selama dua tahun untuk bisa keluar dari blacklist,” ujarnya.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebelumnya mempertanyakan mengapa Indonesia bisa masuk dalam daftar hitam. Saat itu PPATK menjelaskan, Indonesia belum menjalankan sejumlah rekomendasi khusus yang diminta FATF, terutama mengenai pendanaan terorisme. Rekomendasi khusus dimaksud yaitu permintaan FATF agar Indonesia membekukan seluruh aset keluarga dari orang yang masuk daftar teroris. Pembekuan diminta dilakukan kepada seluruh keluarga tanpa terkecuali, termasuk anak tiri dari orang yang diduga teroris. Rekomendasi tersebut tidak mudah diterapkan di Indonesia karena membekukan rekening seseorang tanpa ada pelanggaran hukum, justru bertentangan dengan asas praduga tak bersalah yang diatur oleh hukum positif di Indonesia

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat membekukan rekening milik 201 teroris berkewarganegaraan asing dan tiga rekening atas nama warga negara Indonesia. Pembekuan aset dilakukan setelah 204 teroris tersebut masuk dalam daftar United Nation Security Council 1267.

“Pembekuan dilakukan untuk mencegah dan memberantas terorisme, serta mendukung rehabilitasi dan pengawasan aset,” kata Kepala Pusat Pelaporan dan Analasis Transaksi Keuangan (PPATK) Agus Santoso, Senin (24/11). Meski telah dibekukan, Agus menjelaskan, aset 204 teroris tersebut dapat kembali diaktifkan dengan dua cara. Pertama, para teroris mengajukan banding ke United Nation untuk mengeluarkan nama mereka dari daftar aset yang harus dibekukan.

“Kedua, jika negara pengusul mencabut pembekuan aset setelah para teroris tersebut dilakukan deradikalisasi atau dianggap tidak lagi mengancam,” ujar Agus. Menurut Agus, pembekuan aset teroris merupakan hal yang lazim dilakukan sebagai salah satu upaya mencegah masuknya pendanaan bagi aktivitas terorisme di suatu negara. Pasalnya, para teroris kerap kali kedapatan menerima transfer dana yang diduga untuk membiayai aksi teror. PPATK juga sebelumnya telah diminta membekukan aset tiga teroris atas nama Encep Nurjaman alias Hambali, Zulkarnaen, dan Umar Patek.

Sakit Hati Anak Diperkosa … Bapak Di Bekasi Kirim Bom Pada Pelaku


Tim Detasemen Khusus 88 Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia mengungkap misteri paket bom di Kampung Ciketing Asem RT 02/03, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi. Pelaku bernama Eko Suprapto, 47 tahun, menyerahkan diri, Kamis dinihari, 26 Februari 2015.

“Sebelumnya anggota sudah ke rumahnya, tapi tersangka tidak ada,” kata Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Unggung Cahyono, Kamis, 26 Februari 2015. Setelah Eko menyerah, petugas membekuk seorang perempuan teman dekat Eko yang menitipkan paket bom bernama C. Via Triwi, 45 tahun, di Jakarta Selatan.

Unggung memastikan aksi teror bom yang dilakukan tersangka tak berkaitan dengan aksi terorisme pada umumnya. Akan tetapi, menurut dia, motif tersangka karena sakit hati kepada orang yang diteror. Sebab, orang yang diteror itu diduga telah memperkosa anaknya sebanyak dua kali. “Dia (Eko) sakit hati degan C (Cece) karena memperkosa putrinya dua kali,” kata Unggung.

Unggung mengatakan bom yang digunakan untuk meneror memiliki daya ledak rendah. Tersangka, kata dia, merakit sendiri bom tersebut di rumah, lengkap dengan detonator, timer, dan bahan peledaknya. “Tersangka belajar di kampung, pernah membuat bom ikan,” kata Unggung.

Meski memiliki daya ledak rendah, jika mengenai orang dari jarak dekat bom ini bisa mengakibatkan luka parah. Karena itu, pada saat Eko menyerahkan ke kepolisian, tim Gegana segara meledakkan paket di sekitar Pos Polisi Mustikajaya. “Bom dilengkapi dengan anti sentuh dan goyang. Jika dibuka akan terjadi ledakan,” kata Unggung.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bekasi Kota Komisaris Ujang Rohanda mengatakan Cece, si penerima bom, telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pemerkosaan. Penyidik telah menahannya dan menjerat dia dengan pasal Undang-Undang Perlindungan Anak. “Diperkosanya ketika korban masih berusia 14 tahun atau lima tahun lalu,” kata Ujang.

Menurut Ujang, peristiwa pemerkosaan dilakukan pada saat Cece masih berprofesi sebagai tukang las keliling. Ketika melintas di sekitar rumah korban, tersangka Cece membujuk dan membawa korban ke hotel di kawasan Tambun, Kabupaten Bekasi, untuk digauli. “Sampai sekarang korban masih trauma,” kata Ujang.

Kepada wartawan, tersangka Eko mengatakan bahwa aksi teror bom yang ia lakukan murni sakit hati. “Saya lakukan karena anak,” kata Eko singkat. Kini Eko dan temannya, Via, mendekam di sel tahanan Polresta Bekasi Kota. Keduanya dijerat dengan pasal tindak pidana terorisme.

Sebelumnya, Cece, pengusaha las di Ciketing Asem, Mustikajaya, menerima paket bom yang dibungkus kado. Paket itu diantarkan oleh juru parkir, Tasrip, dengan imbalan Rp 50 ribu. Tasrip mengantarnya dari minimarket di Bantargebang. Tasrip mengaku disuruh oleh perempuan yang tak menyebutkan identitasnya.

Bom Meledak Di Mal ITC Depok


Kepala Kepolisian Resor Kota Depok Komisaris Besar Ahmad Subarkah mengatakan penyidik masih menelisik penemuan bom rakitan di Mal ITC Depok. Sejauh ini sudah tujuh saksi diperiksa. “Rekaman kamera CCTV juga masih dipelajari,” kata Ahmad, Jumat, 27 Februari 2015. Menurut Ahmad, sebagian besar proses penyelidikan diambil oleh Detasemen Khusus Anti Teror. Alasannya, tim Densus lebih berpengalaman dalam menangani kasus-kasus semacam ini. “Karena ini berkaitan dengan teror, kan,” kata Subarkah.

Bom rakitan yang sempat menimbulkan ledakan itu ditemukan di toilet pria lantai dua Mal ITC Depok pada 23 Februari 2015. Tidak ada kerusakan dan korban akibat ledakan itu. Namun, pengunjung mal menjadi panik dan berhamburan keluar. Bom rakitan itu ditempatkan dalam kardus bekas minuman kemasan. Seorang petugas kebersihan sebenarnya sudah melihat kardus tersebut sejak pukul 16.00. Namun karena mengira benda itu adalah barang pengunjung yang tertinggal, petugas hanya membiarkan saja. Setelah benda itu mengeluarkan ledakan sekitar pukul 17.30, barulah isi kardus menjadi perhatian.

Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail meyakinkan Kota Depok tetap aman meskipun sebuah aksi pengeboman terjadi di sebuah mal di Kota Depok. “Sebagaimana yang sudah dijelaskan, bahwa Depok masih tetap aman,” kata Nur Mahmudi di Balai Kota Depok, Selasa, 24 Februari 2015. Nur Mahmudi memastikan kepolisian tetap bekerja untuk mengamankan Kota Depok. Dalam kesempatan yang sama, Nur Mahmudi juga mengimbau warga Depok tetap tenang dengan situasi yang ada saat ini.

Semalam, sebuah ledakan kecil terjadi di ITC Depok sekitar pukul 17.30 WIB, Senin, 23 Februari 2015. Ledakan itu diketahui terjadi di toilet pria di lantai 2 ITC Depok. Seorang petugas kebersihan mal tersebut, Sony, mengatakan sudah melihat bungkusan benda mencurigakan itu berada di area toilet sekitar pukul 16.00. Sony awalnya menduga barang tersebut adalah milik pengunjung yang tertinggal. Kemudian, sekitar pukul 18.00, benda itu mengeluarkan ledakan ringan sebanyak satu kali.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Saat meledak, pengunjung langsung berhamburan keluar. Kepala Kepolisian Resor Depok Komisaris Besar Ahmad Subarkah mengatakan polisi telah memeriksa lima saksi dalam peristiwa ledakan di ITC Depok. Pemeriksaan saksi dilakukan sejak malam hingga Selasa pagi. Namun, sejauh ini, keterangan saksi belum mengarah kepada orang yang diduga meletakkan benda menyerupai bom rakitan di tempat itu.

Kepolisian masih melakukan penyelidikan terhadap ledakan yang terjadi di ITC Depok. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan polisi sudah mendapat bukti berupa rekaman CCTV. “Sedang kami periksa dan analisis,” ujar Martinus, Selasa, 24 Februari 2015. Selain memeriksa saksi dan CCTV, polisi masih menyelidiki barang yang membuat ledakan di pusat perbelanjaan tersebut. “Barang buktinya sudah diserahkan ke Gegana Korps Brimob,” ucapnya.

Sementara ini, secara kasat mata, barang yang menimbulkan letupan ini disimpan di dalam kardus. Terdapat komponen berupa detonator, timer, kabel, dan baterai. “Kalau dirangkai, memang bisa menimbulkan ledakan,” tuturnya. Ada pula komponen cairan dalam kardus tersebut. “Cairan itu masih kami dalami mengandung apa (yang menimbulkan letupan),” kata Martinus. Letupan ini terjadi di area toilet lantai 2 ITC Depok, Senin petang, 23 Februari 2015. Sebelumnya, petugas kebersihan sempat menemukan kardus mencurigakan di lokasi tersebut.

Kepala Kepolisian Resor Depok Komisaris Besar Ahmad Subarkah mengatakan polisi telah memeriksa lima saksi dalam peristiwa ledakan di ITC Depok. Pemeriksaan saksi dilakukan sejak malam hingga Selasa pagi. Namun, sejauh ini, keterangan saksi belum mengarah kepada orang yang diduga meletakkan benda menyerupai bom rakitan di tempat itu.

“Saksi hanya mengetahui barang itu ada, mendengar suara ledakan. Sebatas mendengar suara ledakan saja,” ujar Ahmad Subarkah, Selasa, 24 Februari 2015. Para saksi adalah pekerja ITC, petugas kebersihan, pekerja wahana permainan anak di ITC Depok, dan petugas keamanan. Tidak satu pun dari mereka yang melihat atau mengetahui ciri-ciri pelaku. Kepolisian berencana memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV yang dipasang di mal tersebut.

Semalam, sebuah ledakan kecil terjadi di ITC Depok sekitar pukul 17.30. Ledakan diketahui terjadi di toilet pria lantai 2 ITC Depok. Toilet itu bersebelahan dengan arena bermain anak-anak. Tidak ada korban dan kerusakan dalam peristiwa tersebut.