Categories
Terorisme

16 WNI Hilang Di Turki


Dua saudara kandung asal Solo, yang hilang di Turki diketahui bekerja sebagai pedagang kain gorden. Keduanya juga dikenal ramah dan aktif dalam kegiatan kampung. Salah satu penjahit gorden mengaku kakak beradik ini kerap memesan kain gorden kepadanya. Namun sebulan terakhir memang sudah tidak pernah muncul lagi. “Sudah agak lama tidak ke tempat saya, untuk memesan gorden,” kata Solihin, Sabtu (7/3/2015).

Warga Kelurahan Gajahan, Solo, pun kaget dengan kabar hilangnya dua orang tersebut. Apalagi rumor yang beredar, Hafid dan Fauzi bergabung dengan kelomPok radikal, ISIS. Mereka berdua beserta istri dan dua anak Hafid adalah lima dari 16 warga negara Indonesia yang hilang tanpa kabar saat pergi bersama rombongan ke Turki. Kakak beradik Hafid Umar Babher dan Fauzi Umar diketahui pernah mengontrak di sebuah rumah di Jalan Nogogini, Gajahan, Solo. Warga sekitar pun mengenal sosok kedua kakak beradik karena tergolong ramah dan tidak berulah di kampung.

“Lama Mas ngontrak di Gajahan, terus mereka pindah ke Sukoharjo. Kaget juga kok hilang di Turki,” kata Priyono, salah satu warga Gajahan. Seperti diberitakan, 16 WNI dikabarkan hilang saat pergi bersama rombongan 25 WNI di Turki. Rombongan yang berangkat ke Turki dengan menggunakan jasa perjalanan Smailing Tour, Jakarta. Namun, saat berada di bandara Ataturk, 16 WNI itu memisahkan diri dari rombongan dan hingga saat ini belum diketahui keberadaannya. Saat itu, pemimpin rombongan yang mencoba mengontak salah satu orang dari 16 WNI hanya mendapatkan jawaban bahwa mereka tidak akan bergabung kembali dengan rombongan.

Rombongan berangkat pada tanggal 24 Februari 2015 dari Jakarta. Rombongan sepakat untuk berkumpul kembali pada tanggal 26 Februari 2015 di Kota Pamukkale, Turki. Namun, ke-16 orang itu tidak kunjung datang. Setelah mencoba dihubungi dan gagal mendapatkan kepastian, akhirnya sembilan orang lainnya memutuskan pulang ke Indonesia.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan bahwa pemerintah tidak pernah mendukung warga negara Indonesia untuk bergabung dalam kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Ucapan Kalla menanggapi informasi 16 WNI yang memisahkan diri di Turki saat mengikuti tur wisata. Ada kekhawatiran bahwa ke-16 WNI tersebut bergabung dengan ISIS.

“Kalau ISIS, kita tak pernah mendukung agar orang Indonesia Ikut ISIS. Itu kan suatu hal yang tak sesuai dengan prinsip kita dan agama, ya kita harapkan mereka bisa ketemu kembali,” kata Kalla di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Jumat (6/3/2015). Kendati demikian, Kalla meminta masyarakat tak langsung mengambil kesimpulan jika 16 WNI itu memisahkan diri karena tergabung dengan ISIS. Sejauh ini, pemerintah belum memastikan keberadaan WNI tersebut.

“Kan belum tentu hilang, mungkin saja mereka tur ke mana,” sambung Kalla.

Sebelumnya diberitakan, sebanyak 16 WNI memisahkan diri saat ikut tur ke Istanbul, Turki. Setibanya di Bandara Attaturk, Turki, pada tanggal 24 Februari 2015, mereka memisahkan diri dan tidak bergabung kembali dengan rombongan tur hingga waktunya pulang ke Indonesia. Menurut pimpinan rombongan tur, pada 28 Februari 2015, ke-16 WNI itu memisahkan diri dari rombongan tur dengan alasan ada acara keluarga.

Lima warga Solo yang diketahui hilang bersama 11 warga negara Indonesia lainnya di Turki ternyata masih memiliki hubungan keluarga. Nama lima warga Solo tersebut tercatat berasal dari Kelurahan Gajahan, Solo. “Dari 16 nama yang dikabarkan hilang, beberapa di antaranya ada dalam catatan penduduk warga sini,” kata Susanto, Lurah Gajahan, Sabtu (7/3/3015). Kelima warga tersebut adalah Hafid Umar Babher (32), istrinya, Soraiyah Cholid, dan kedua anak mereka, Hamsah Hafid (6) dan Utsman Hafid (4). Satu orang lainnya adalah Fauzi Umar (36) yang adalah kakak dari Hafid Umar Babher. Susanto menambahkan bahwa Fauzi berstatus masih bujangan.

Dari informasi yang diperoleh, Hafid dan Fauzi merupakan saudara kandung dan cukup lama tinggal di Gajahan. Keduanya cukup lama mengontrak di salah satu rumah. Namun sudah beberapa tahun pindah rumah. “Hafid dan Fauzi dulu kontrak bersama keluarganya, lalu sudah pindah sekitar dua tahun lalu. Tapi belum memberikan surat pindah,” katanya.

Seperti diberitakan, 16 WNI dikabarkan hilang saat pergi bersama rombongan 25 WNI di Turki. Rombongan yang berangkat ke Turki dengan menggunakan jasa perjalanan Smailing Tour, Jakarta. Namun, saat berada di bandara Ataturk, 16 WNI itu memisahkan diri dari rombongan dan hingga saat ini belum diketahui keberadaannya. Saat itu, pemimpin rombongan yang mencoba mengontak salah satu orang dari 16 WNI hanya mendapatkan jawaban bahwa mereka tidak akan bergabung kembali dengan rombongan.

Categories
Terorisme

Indonesia Keluar Dari Daftar Hitam Negara Rawan Pencucian Uang Untuk Danai Teroris


Indonesia kini tidak lagi masuk dalam daftar hitam negara yang rawan pencucian uang untuk pendanaan teroris. Wakil Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Agus Santoso mengatakan, salah satu alasan Indonesia tak lagi di-black list yaitu setelah total 328 rekening teroris warga negara Indonesia dan warga asing dibekukan.

Teroris asing tersebut di antaranya berasal dari Malaysia dan Jerman. Sementara dari ratusan rekening tersebut, tiga di antaranya adalah milik Encep Nurjaman alias Hambali, Zulkarnaen, dan Umar Patek. “Mula-mula kami bekukan 19 rekening WNI dan warga asing. Kami lakukan bertahap, tetapi Dewan Keamanan PBB menginginkan 328 itu langsung dibekukan,” kata Agus saat berbincang dengan di ruang kerjanya, Selasa lalu (3/3).

Agus menjelaskan, pembekuan rekening dilakukan secara bertahap karena berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pidana Terorisme, pembekuan seluruhnya tak mudah dilakukan. Pembekuan rekening terduga teroris versi United Nation Security Council (UNSC) 1267 secara bertahap tersebut membuat Dewan Keamanan PBB menilai Indonesia tidak serius memberantas aksi teror. “Nama yang ada di daftar itu adalah mereka yang diduga terlibat Al Qaida dan Taliban. Tetapi selama ini tidak mudah bagi Indonesia untuk langsung membekukan rekening mereka,” ujar Agus.

Jumlah dana yang ada di dalam rekening itu tidak besar yaitu hanya di kisaran puluhan dolar Amerika Serikat dan tidak ada yang sampai ribuan dolar. “Karena pendanaan teroris juga tidak seluruhnya dilakukan lewat transaksi perbankan, tetapi lebih banyak transaksi bawah tanah,” tutur Agus. Menyiasati hal itu, PPATK bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorism (BNPT), Kapolri, Menteri Luar Negeri, dan Ketua Mahkamah Agung (MA) menandatangani surat keputusan bersama (SKB) yang mengatur setidaknya tiga hal. Tiga hal itu juga menjadi penyebab Indonesia dapat keluar dari daftar hitam.

Ketiga poin tersebut yaitu proses pembekuan aset terduga teroris yang ada dalam daftar UNSC 1267 sudah bisa dilakukan dalam waktu tiga hari, dari sebelumnya butuh 30 hari; Indonesia telah melakukan renewal process untuk memperpanjang aset teroris yang dibekukan, dari sebelumnya pembekuan hanya bisa dilakukan enam bulan dan diperpanjang tiga bulan sebanyak dua kali; dan sistem peradilan di Indonesia menyetujui hanya untuk melakukan delisting terduga terors jika nama mereka telah dikeluarkan oleh UNSC.

Financial Action Task Force (FATF) mengonfirmasi bahwa Indonesia secara resmi telah keluar dari daftar hitam (black list) negara rawan pendanaan teroris. Wakil Kepala PPATK Agus Santoso menjelaskan tiga alasan yang membuat Indonesia akhirnya dikeluarkan dari daftar negara yang rentan dalam pencucian uang terkait pendanaan teroris. “Ada tiga isu strategis yang akhirnya diselesaikan Indonesia. Tiga hal ini sebelumnya menjadi penyebab kita masuk daftar hitam tahun 2012,” kata Agus saat berbincang di ruang kerjanya, Selasa (3/3).

Ketiga hal yang menjadi alasan Indonesia keluar dari daftar hitam telah tertuang dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) antara lima lembaga yaitu PPATK, Badan Nasional Penanggulangan Terorism (BNPT), Kapolri, Menteri Luar Negeri, dan Ketua Mahkamah Agung (MA). Alasan pertama, proses pembekuan aset terduga teroris yang ada dalam daftar United Nation Security Council (UNSC) 1267 dilakukan hanya dalam waktu tiga hari. “Dalam peraturan di Indonesia, proses pembekuan aset terduga teroris bisa sampai 30 hari. Itu dinilai terlalu lama,” ujar Agus.

Alasan kedua, Indonesia telah melakukan renewal process untuk memperpanjang aset terduga teroris yang dibekukan. Agus menjelaskan, renewal process dilakukan karena jangka waktu pembekuan aset yang diatur dalam hukum positif di Indonesia adalah enam bulan dan diperpanjang tiga bulan sebanyak dua kali atau satu tahun.

Padahal, seseorang yang telah masuk dalam daftar terduga teroris UNSC 1267 itu belum tentu akan dikeluarkan dalam waktu satu tahun. “Jadi renewal process ini dilakukan oleh Kapolri satu bulan sebelum masa pembekuan aset selama satu tahun itu berakhir. Langkah ini diterima dalam sidang FATF,” tutur Agus. Alasan ketiga, sistem peradilan di Indonesia telah menyetujui untuk hanya melakukan delisting terhadap terduga teroris jika nama para terduga tersebut telah dikeluarkan oleh UNSC 1267. Hal ini dikuatkan dengan keterlibatan Ketua MA dalam penandatanganan SKB yang dilakukan pada 11 Februari 2015.

“Karene sistem peradilan di Indonesia independen dan bebas, jadi pengadilan merasa berhak melakukan delisting terhadap terduga teroris di Indonesia. Padahal, nama terduga tersebut kadang masih terdaftar di UNSC 1267,” ujarnya. Diberitakan sebelumnya, sidang FATF di Paris, Perancis pada 24 Februari 2015 secara bulat menyepakati untuk mengeluarkan Indonesia dari daftar hitam. Indonesia telah masuk daftar hitam sejak tahun 2012, bersama negara seperti Iran dan Korea Utara. Saat ini, Indonesia masuk dalam kategori grey list. Namun kategori ini juga dapat dihilangkan jika dalam onsite visit negara yang tergabung dalam Regional Review Group, tiga alasan tiga alasan yang menyebabkan Indonesia dikeluarkan dari daftar hitam dapat dikonfirmasi.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) melansir bahwa Indonesia telah resmi keluar dari daftar hitam (blacklist) negara rawan pencucian uang. Kepastian dikeluarkannya Indonesia dari daftar hitam dikonfirmasi dalam sidang Financial Action Task Force (FATF) di Paris, Perancis, Selasa lalu (24/2). “Indonesia disetujui untuk keluar dari blacklist FATF untuk implementasi penanganan anti pendanaan terorisme atau counter terorism financing,” kata Wakil Kepala PPATK Agus Santoso hari ini, Rabu (25/2).

Menurut Agus, sidang FATF yang berlangsung di markas Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), secara bulat mengakui upaya dan komitmen Indonesia dalam mencegah dan memberantas pendanaan terorisme. Usaha Indonesia untuk keluar dari daftar hitam dilakukan sejak tahun 2012. “Setelah melalui rangkaian evaluasi oleh review group selama dua tahun ini, akhirnya 35 negara anggota FATF secara bulat memutuskan Indonesia menjadi greylist,” ujar Agus.

Setelah masuk dalam kategori greylist, lanjut Agus, sejumlah negara yang tergabung dalam Regional Review Group on Indoensia akan melakukan penilaian setempat melalui onsite visit. “Keberhasilan ini akan berdampak langsung pada perspesi dan peringkat investasi terhadap Indonesia,” kata Agus. Hingga hari ini, Agus masih berada di Paris, Perancis, untuk mengikuti sidang FATF. Agus hadir dalam sidang tersebut bersama Direktur Jenderal Multilateral Kementerian Luar Negeri. “Banyak persiapan teknis yang kami lakukan selama dua tahun untuk bisa keluar dari blacklist,” ujarnya.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebelumnya mempertanyakan mengapa Indonesia bisa masuk dalam daftar hitam. Saat itu PPATK menjelaskan, Indonesia belum menjalankan sejumlah rekomendasi khusus yang diminta FATF, terutama mengenai pendanaan terorisme. Rekomendasi khusus dimaksud yaitu permintaan FATF agar Indonesia membekukan seluruh aset keluarga dari orang yang masuk daftar teroris. Pembekuan diminta dilakukan kepada seluruh keluarga tanpa terkecuali, termasuk anak tiri dari orang yang diduga teroris. Rekomendasi tersebut tidak mudah diterapkan di Indonesia karena membekukan rekening seseorang tanpa ada pelanggaran hukum, justru bertentangan dengan asas praduga tak bersalah yang diatur oleh hukum positif di Indonesia

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat membekukan rekening milik 201 teroris berkewarganegaraan asing dan tiga rekening atas nama warga negara Indonesia. Pembekuan aset dilakukan setelah 204 teroris tersebut masuk dalam daftar United Nation Security Council 1267.

“Pembekuan dilakukan untuk mencegah dan memberantas terorisme, serta mendukung rehabilitasi dan pengawasan aset,” kata Kepala Pusat Pelaporan dan Analasis Transaksi Keuangan (PPATK) Agus Santoso, Senin (24/11). Meski telah dibekukan, Agus menjelaskan, aset 204 teroris tersebut dapat kembali diaktifkan dengan dua cara. Pertama, para teroris mengajukan banding ke United Nation untuk mengeluarkan nama mereka dari daftar aset yang harus dibekukan.

“Kedua, jika negara pengusul mencabut pembekuan aset setelah para teroris tersebut dilakukan deradikalisasi atau dianggap tidak lagi mengancam,” ujar Agus. Menurut Agus, pembekuan aset teroris merupakan hal yang lazim dilakukan sebagai salah satu upaya mencegah masuknya pendanaan bagi aktivitas terorisme di suatu negara. Pasalnya, para teroris kerap kali kedapatan menerima transfer dana yang diduga untuk membiayai aksi teror. PPATK juga sebelumnya telah diminta membekukan aset tiga teroris atas nama Encep Nurjaman alias Hambali, Zulkarnaen, dan Umar Patek.

Categories
Terorisme

Sakit Hati Anak Diperkosa … Bapak Di Bekasi Kirim Bom Pada Pelaku


Tim Detasemen Khusus 88 Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia mengungkap misteri paket bom di Kampung Ciketing Asem RT 02/03, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi. Pelaku bernama Eko Suprapto, 47 tahun, menyerahkan diri, Kamis dinihari, 26 Februari 2015.

“Sebelumnya anggota sudah ke rumahnya, tapi tersangka tidak ada,” kata Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Unggung Cahyono, Kamis, 26 Februari 2015. Setelah Eko menyerah, petugas membekuk seorang perempuan teman dekat Eko yang menitipkan paket bom bernama C. Via Triwi, 45 tahun, di Jakarta Selatan.

Unggung memastikan aksi teror bom yang dilakukan tersangka tak berkaitan dengan aksi terorisme pada umumnya. Akan tetapi, menurut dia, motif tersangka karena sakit hati kepada orang yang diteror. Sebab, orang yang diteror itu diduga telah memperkosa anaknya sebanyak dua kali. “Dia (Eko) sakit hati degan C (Cece) karena memperkosa putrinya dua kali,” kata Unggung.

Unggung mengatakan bom yang digunakan untuk meneror memiliki daya ledak rendah. Tersangka, kata dia, merakit sendiri bom tersebut di rumah, lengkap dengan detonator, timer, dan bahan peledaknya. “Tersangka belajar di kampung, pernah membuat bom ikan,” kata Unggung.

Meski memiliki daya ledak rendah, jika mengenai orang dari jarak dekat bom ini bisa mengakibatkan luka parah. Karena itu, pada saat Eko menyerahkan ke kepolisian, tim Gegana segara meledakkan paket di sekitar Pos Polisi Mustikajaya. “Bom dilengkapi dengan anti sentuh dan goyang. Jika dibuka akan terjadi ledakan,” kata Unggung.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bekasi Kota Komisaris Ujang Rohanda mengatakan Cece, si penerima bom, telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pemerkosaan. Penyidik telah menahannya dan menjerat dia dengan pasal Undang-Undang Perlindungan Anak. “Diperkosanya ketika korban masih berusia 14 tahun atau lima tahun lalu,” kata Ujang.

Menurut Ujang, peristiwa pemerkosaan dilakukan pada saat Cece masih berprofesi sebagai tukang las keliling. Ketika melintas di sekitar rumah korban, tersangka Cece membujuk dan membawa korban ke hotel di kawasan Tambun, Kabupaten Bekasi, untuk digauli. “Sampai sekarang korban masih trauma,” kata Ujang.

Kepada wartawan, tersangka Eko mengatakan bahwa aksi teror bom yang ia lakukan murni sakit hati. “Saya lakukan karena anak,” kata Eko singkat. Kini Eko dan temannya, Via, mendekam di sel tahanan Polresta Bekasi Kota. Keduanya dijerat dengan pasal tindak pidana terorisme.

Sebelumnya, Cece, pengusaha las di Ciketing Asem, Mustikajaya, menerima paket bom yang dibungkus kado. Paket itu diantarkan oleh juru parkir, Tasrip, dengan imbalan Rp 50 ribu. Tasrip mengantarnya dari minimarket di Bantargebang. Tasrip mengaku disuruh oleh perempuan yang tak menyebutkan identitasnya.

Categories
Terorisme

Bom Meledak Di Mal ITC Depok


Kepala Kepolisian Resor Kota Depok Komisaris Besar Ahmad Subarkah mengatakan penyidik masih menelisik penemuan bom rakitan di Mal ITC Depok. Sejauh ini sudah tujuh saksi diperiksa. “Rekaman kamera CCTV juga masih dipelajari,” kata Ahmad, Jumat, 27 Februari 2015. Menurut Ahmad, sebagian besar proses penyelidikan diambil oleh Detasemen Khusus Anti Teror. Alasannya, tim Densus lebih berpengalaman dalam menangani kasus-kasus semacam ini. “Karena ini berkaitan dengan teror, kan,” kata Subarkah.

Bom rakitan yang sempat menimbulkan ledakan itu ditemukan di toilet pria lantai dua Mal ITC Depok pada 23 Februari 2015. Tidak ada kerusakan dan korban akibat ledakan itu. Namun, pengunjung mal menjadi panik dan berhamburan keluar. Bom rakitan itu ditempatkan dalam kardus bekas minuman kemasan. Seorang petugas kebersihan sebenarnya sudah melihat kardus tersebut sejak pukul 16.00. Namun karena mengira benda itu adalah barang pengunjung yang tertinggal, petugas hanya membiarkan saja. Setelah benda itu mengeluarkan ledakan sekitar pukul 17.30, barulah isi kardus menjadi perhatian.

Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail meyakinkan Kota Depok tetap aman meskipun sebuah aksi pengeboman terjadi di sebuah mal di Kota Depok. “Sebagaimana yang sudah dijelaskan, bahwa Depok masih tetap aman,” kata Nur Mahmudi di Balai Kota Depok, Selasa, 24 Februari 2015. Nur Mahmudi memastikan kepolisian tetap bekerja untuk mengamankan Kota Depok. Dalam kesempatan yang sama, Nur Mahmudi juga mengimbau warga Depok tetap tenang dengan situasi yang ada saat ini.

Semalam, sebuah ledakan kecil terjadi di ITC Depok sekitar pukul 17.30 WIB, Senin, 23 Februari 2015. Ledakan itu diketahui terjadi di toilet pria di lantai 2 ITC Depok. Seorang petugas kebersihan mal tersebut, Sony, mengatakan sudah melihat bungkusan benda mencurigakan itu berada di area toilet sekitar pukul 16.00. Sony awalnya menduga barang tersebut adalah milik pengunjung yang tertinggal. Kemudian, sekitar pukul 18.00, benda itu mengeluarkan ledakan ringan sebanyak satu kali.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Saat meledak, pengunjung langsung berhamburan keluar. Kepala Kepolisian Resor Depok Komisaris Besar Ahmad Subarkah mengatakan polisi telah memeriksa lima saksi dalam peristiwa ledakan di ITC Depok. Pemeriksaan saksi dilakukan sejak malam hingga Selasa pagi. Namun, sejauh ini, keterangan saksi belum mengarah kepada orang yang diduga meletakkan benda menyerupai bom rakitan di tempat itu.

Kepolisian masih melakukan penyelidikan terhadap ledakan yang terjadi di ITC Depok. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan polisi sudah mendapat bukti berupa rekaman CCTV. “Sedang kami periksa dan analisis,” ujar Martinus, Selasa, 24 Februari 2015. Selain memeriksa saksi dan CCTV, polisi masih menyelidiki barang yang membuat ledakan di pusat perbelanjaan tersebut. “Barang buktinya sudah diserahkan ke Gegana Korps Brimob,” ucapnya.

Sementara ini, secara kasat mata, barang yang menimbulkan letupan ini disimpan di dalam kardus. Terdapat komponen berupa detonator, timer, kabel, dan baterai. “Kalau dirangkai, memang bisa menimbulkan ledakan,” tuturnya. Ada pula komponen cairan dalam kardus tersebut. “Cairan itu masih kami dalami mengandung apa (yang menimbulkan letupan),” kata Martinus. Letupan ini terjadi di area toilet lantai 2 ITC Depok, Senin petang, 23 Februari 2015. Sebelumnya, petugas kebersihan sempat menemukan kardus mencurigakan di lokasi tersebut.

Kepala Kepolisian Resor Depok Komisaris Besar Ahmad Subarkah mengatakan polisi telah memeriksa lima saksi dalam peristiwa ledakan di ITC Depok. Pemeriksaan saksi dilakukan sejak malam hingga Selasa pagi. Namun, sejauh ini, keterangan saksi belum mengarah kepada orang yang diduga meletakkan benda menyerupai bom rakitan di tempat itu.

“Saksi hanya mengetahui barang itu ada, mendengar suara ledakan. Sebatas mendengar suara ledakan saja,” ujar Ahmad Subarkah, Selasa, 24 Februari 2015. Para saksi adalah pekerja ITC, petugas kebersihan, pekerja wahana permainan anak di ITC Depok, dan petugas keamanan. Tidak satu pun dari mereka yang melihat atau mengetahui ciri-ciri pelaku. Kepolisian berencana memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV yang dipasang di mal tersebut.

Semalam, sebuah ledakan kecil terjadi di ITC Depok sekitar pukul 17.30. Ledakan diketahui terjadi di toilet pria lantai 2 ITC Depok. Toilet itu bersebelahan dengan arena bermain anak-anak. Tidak ada korban dan kerusakan dalam peristiwa tersebut.

Categories
Terorisme

Kedubes AS Peringatkan Warganya di Surabaya


Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia mengeluarkan peringatan keamanan bagi warganya di Surabaya, Sabtu, 3 Januari 2015. “Kedutaan Besar Amerika Serikat menyadari potensi ancaman terkait hotel-hotel dan bank-bank AS di Surabaya, Indonesia,” kata Kedutaan AS dalam pernyataan di situsnya.

“Kedutaan AS merekomendasikan peningkatan kewaspadaan dan kehati-hatian saat mengunjungi fasilitas-fasilitas tersebut.” Tidak ada rincian lebih lanjut dalam pernyataan Kedubes AS itu. Amerika Serikat menganggap Indonesia berhasil memberantas kelompok militan lokal menyusul serangan tahun 2000-an yang menyasar warga negara asing dan fasilitas-fasilitas asing.

Namun baru-baru ini, aparat keamanan Indonesia mengkhawatirkan peningkatan jumlah WNI yang bergabung dengan gerakan negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Sutarman mengatakan sebanyak 110 warga negara Indonesia (WNI) pergi ke Timur Tengah untuk bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Categories
Terorisme

Majelis Mujahidin Indonesia Sebut ISIS Sesat


Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) menolak mengakui Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) sebagai sebuah Daulah Islamiyyah. Mereka juga menyebut bahwa isu tentang ISIS sengaja diembuskan di Indonesia untuk kepentingan pihak-pihak tertentu. “Belum lama ini kami berkesempatan berkunjung ke Suriah selama 12 hari,” kata Amir Majelis Mujahidin Indonesia, Muhammad Tholib saat ditemui di Surakarta, Sabtu, 16 Agustus 2014. Dia mengaku baru tiba di Indonesia awal Agustus lalu.

Menurut Tholib, dia bersama tiga petinggi MMI berangkat ke Suriah dalam rangka misi kemanusiaan. Di negara tersebut, kata Tholib, dia juga memperoleh banyak informasi mengenai sepak terjang ISIS yang dipimpin Abu Bakr Al Baghdadiy. “Kami menganggap bahwa ISIS tidak layak untuk disebut Daulah Islamiyyah,” kata Tholib. Alasannya, pengangkatan Al Baghdadiy sebagai khalifah tidak melalui musyawarah bersama dengan kelompok atau faksi yang ada di daerah konflik tersebut. Bahkan dia menyebut pengangkatan khalifah itu sebagai sebuah kesesatan.

Menurut dia, deklarasi ISIS justru memicu konflik antar-kaum muslimin. ISIS juga memaksa kelompok lain untuk berbaiat melalui berbagai cara. “Mereka mengkafirkan kelompok lain yang menolak untuk berbaiat,” katanya. Selain ke Suriah, Tholib juga mengaku sempat singgah ke Turki dan Malaysia sebelum pulang ke Indonesia. “Di negara tersebut tidak ada orang yang membicarakan ISIS,” katanya. Dia justru merasa heran isu ISIS justru berkembang dengan santer di Indonesia yang notabene jauh dari negara konflik tersebut.

Dia yakin ada pihak-pihak yang melakukan rekayasa agar isu ISIS berkembang di Indonesia. “Aksi dukungan terhadap ISIS juga bagian dari rekayasa tersebut,” katanya. Hanya saja, Tholib mengaku belum bisa memastikan pihak mana yang berkepentingan dengan berkembangnya isu ISIS di Indonesia.

Menurut Tholib, pihaknya telah berkirim surat ke sejumlah instansi pemerintah terkait berkembangnya isu mengenai ISIS di tanah air. “Pemerintah harus bertanggung jawab atas merebaknya isu ini,” katanya. Pernyataan yang dikeluarkan oleh sejumlah pejabat, kata dia, justru menyisakan sejumlah persoalan dan berdampak negatif lantaran bersifat diskriminatif dan bisa menimbulkan phobia terhadap Islam.

Salah satu yang disoroti adalah adanya ajakan dari pejabat untuk membakar bendera ISIS yang berkibar. Menurut Tholib, simbol yang ada dalam bendera tersebut merupakan simbol milik seluruh umat muslim dan bukan identik dengan ISIS.

Categories
Terorisme

Tifatul Sembiring Dan Menteri Yang Gamang Tentang Pemblokiran Video ISIS


Juru bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Ismail Cawidu, membeberkan alasan mengapa lembaganya hingga saat ini belum memblokir video Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Video yang beredar di Internet dan berisi ajakan kepada warga Indonesia untuk bergabung itu, dianggap banyak pihak merupakan ancaman serius dan harus segera dihentikan.

Tapi, menurut Ismail, lembaganya tidak bisa asal memblokir. “Karena kami hingga saat ini belum mendapatkan pengaduan dari pihak terkait,” kata Ismail, saat dihubungi, Sabtu, 2 Agustus 2014. “Sehingga kami belum bisa untuk memblokir.”Ismail mengatakan sesuai dengan Peraturan Menteri Nomor 19 Tahun 2014, situs yang bisa langsung diblokir oleh Kominfo adalah konten pornografi dan kekerasan seksual anak. Sedangkan untuk kasus seperti ini, lembaganya masih akan menunggu pengaduan dari pihak-pihak terkait seperti Kementerian Luar Negeri, Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, juga Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Sebelumnya, sebuah video berisi ajakan dari sekelompok warga Indonesia untuk bergabung ke ISIS beredar melalui situs YouTube. Dalam video berdurasi delapan menit berjudul ‘Join the Ranks’ itu, seseorang yang menyebut dirinya Abu Muhammad al-Indonesi meminta warga Indonesia untuk mendukung perjuangan ISIS untuk menjadi khilafah dunia. Dukungan itu pun disambut oleh sebagian warga Indonesia yang setuju terhadap pendirian kekhilafahan di Irak dan Suriah. Ratusan orang di Solo berbaiat dukung ISIS beberapa waktu lalu. Dukungan serupa juga muncul di kota-kota lain di Indonesia.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Amir Syamsudin mengatakan sedang mengakaji Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Ini dilakukan untuk mengetahui apakah lembaganya perlu meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir video ajakan bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di YouTube.

“Kami kaji dulu, apakah benar perlu ada aduan dari saya,” katanya saat dihubungi, Sabtu, 2 Agustus 2014. Kementerian Hukum, kata dia, memang memiliki otoritas. Namun menurut dia, untuk masalah video yang berpotensi mengancam ketertiban umum seperti itu, mestinya Kementerian Komunikasi memiliki otoritas sendiri untuk memblokir. “Kenapa harus berliku begitu jauh kalau kewenangan itu bisa dijalankan oleh Kementerian Komunikasi,” ujarnya.

Amir mengatakan pengkajian itu hanya membutuhkan waktu beberapa jam ke depan. Jika memang aturannya mewajibkan ada aduan dari lembaganya, ia akan segera melayangkan permohonan tersebut. “Tak ada masalah,” ujarnya. Ia berharap sikap itu bisa diberikan esok. Kementerian Komunikasi dan Informatika mendesak beberapa lembaga dan kementerian terkait untuk segera membuat pengaduan agar video ajakan kepada warga Indonesia untuk bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di situs YouTUbe bisa segera diblokir.

Juru bicara Kementerian Komunikasi, Ismail Cawidu, sebelumnya mengatakan lembaganya belum bisa memblokir video ajakan kepada warga untuk bergabung dengan ISIS. Alasannya, pemblokiran itu memerlukan aduan dari lembaga lain. Menurut dia, ada beberapa kementerian dan lembaga terkait yang berwenang untuk membuat pengaduan. Di antaranya adalah Kementerian Luar Negeri, Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, juga Kementerian Hukum dan HAM.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Amir Syamsudin, akan meminta penjelasan kepada Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring terkait desakan kepada lembaganya untuk mengirimkan aduan terkait video ajakan bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) diunggah situs YouTube. Soalnya, Amir tak menemukan aturan yang mengharuskan bahwa lembaganya perlu mengirimkan aduan itu agar video tersebut diblokir.

“Saya akan komunikasikan dengan Menteri Komunikasi untuk mendapat penjelasan dari mana dasarnya,” katanya melalui sambungan telepon, Sabtu, 2 Agustus 2014. Amir mengatakan telah mengkaji Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik untuk menemukan aturan itu. Namun menurut dia, tak ada ketentuan bahwa Kementerian Hukum harus membuat aduan. Ia menduga Kementerian Komunikasi menggunakan dasar Peraturan Menteri yang menyatakan bahwa pemblokiran video memerlukan aduan dari pihak terkait. Tapi, di situ pun tak dijelaskan bahwa pihak tersebut adalah Kementerian Hukum. “Itu tak secara eksplisit mengarah ke Kementerian Hukum,” ujarnya.

Jika memerlukan aduan, kata Amir, mestinya ada pihak yang lebih relevan dari Kementerian Hukum. Soalnya, meski lembaganya merupakan sentral otoritas, namun konteks itu dalam hubungan antarnegara. Juru bicara Kementerian Komunikasi, Ismail Cawidu, sebelumnya mengatakan lembaganya belum bisa memblokir video ajakan kepada warga untuk bergabung dengan ISIS. Alasannya, pemblokiran itu memerlukan aduan dari lembaga lain. Menurut dia, ada beberapa kementerian dan lembaga terkait yang berwenang untuk membuat pengaduan. Di antaranya adalah Kementerian Luar Negeri, Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, juga Kementerian Hukum dan HAM.

Categories
Kriminalitas Terorisme

Lagi Siswa SMAN 3 Setiabudi Meninggal Dunia Akibat Kegiatan Pecinta Alam


Siswa SMAN 3 Setiabudi, Padian Prawiro Dirya, meninggal dunia pada Kamis, 3 Juli 2014, pukul 04.30 WIB di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Padian merupakan teman Arfiand Caesary Al Irhami, korban penganiayaan yang tewas pada 20 Juni 2014. “Jenazah sudah disemayamkan di rumah duka, Mampang. Sore ini akan dimakamkan di TPU Menteng,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, Kamis, 3 Juli 2014.

Sama seperti Arfiand, Padian dirawat di rumah sakit sepulang kegiatan pencinta alam Sabhawana di Tangkuban Perahu, Jawa Barat. Rikwanto mengujarkan penyidik akan menggali rekam medis untuk mengetahui penyebab kematian Padian. Sebelumnya, saat penyidik mendatangi Rumah Sakit Hasan Sadikin, kondisi Padian sudah kritis ketika pulang dari kegiatan ekstrakulikuler itu. Padian bahkan mengalami koma sehingga langsung dirawat intensif.

Karena itu, tutur Rikwanto, orang tua Padian meminta agar penyidik tidak bertanya-tanya kepada anak mereka terlebih dulu ihwal sakit yang dialaminya. “Dari keterangan para saksi, Padian termasuk yang dianiaya,” ujarnya.

Sebelumnya, Sekretaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia Erlinda mengatakan Padian mengalami kondisi yang lebih parah ketimbang Arfiand. Tiga siswa lainnya, tutur Erlinda, dirawat di rumah sakit sepulang dari kegiatan pencinta alam Sabhawana. Mereka dirawat di Rumah Sakit Jakarta, Rumah Sakit Tria Dipa, dan Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.

“Anak yang di Rumah Sakit Hasan Sadikin bahkan masuk ruang ICU. Dia lebam-lebam juga. Kondisinya lebih parah daripada Arfiand,” kata Erlinda saat dihubungi pada Kamis, 26 Juni 2014. Menurut Erlinda, Padian, siswa kelas X IPA A yang dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin, disinyalir terkena gigitan ular pada tangannya. Adapun Aji, murid yang dirawat di Rumah Sakit Jakarta, diketahui mengalami luka pada punggung dan kaki. Namun ia sudah pulang ke rumahnya pada Selasa, 24 Juni 2014. Aji belum bisa dimintai keterangan.

Murid lainnya yang sedang dirawat yakni Sena. Ia mengalami abses dan dirawat di Rumah Sakit Tria Dipa. Mereka merupakan teman sekelas Arfiand yang dirawat di rumah sakit setelah mengikuti kegiatan pencinta alam. Dokter di Rumah Sakit Hasan Sadikin menolak membeberkan penyebab kematian Padian, siswa SMAN 3 Jakarta Selatan yang meninggal di rumah sakit itu tadi pagi, Kamis, 3 Juli 2014. Padian diduga merupakan korban penganiayaan seniornya setelah sepekan mengikuti perpeloncoan dalam acara pendidikan dan latihan pencinta alam Sabhawana di Gunung Tangkuban Parahu, Kabupaten Bandung Barat.

Juru bicara RS Hasan Sadikin, dr Nurul Wulandhany, mengatakan tidak bisa memberitahukan kepada media apa penyebab kematian ataupun luka-luka yang diderita Padian. Alasannya, RS Hasan Sadikin terikat perjanjian dengan keluarga Padian sejak pasien masuk rumah sakit. “Permintaan keluarga, hal-hal yang menyangkut anak mereka agar tidak diekspos kepada pers, dan kita terikat menjaga kerahasiaan pasien.”

Namun dia membenarkan bahwa pasien ICU atas nama Padian meninggal sekitar pukul 04.20 tadi setelah dirawat sejak 20 Juni lalu. Dari ruang ICU, korban dibawa ke instalasi jenazah untuk pemulasaraan. “Setelah menyelesaikan administrasi kematian dan membuat surat kematian, almarhum kemudian dibawa keluarganya ke rumah duka di Jakarta,” ujar Nurul. Dari data instalasi jenazah, jasad Padian meninggalkan rumah sakit pada pukul 06.30 WIB. Pagi tadi, jasad Padian dibawa ke rumah duka di RT 03 RW 01, Kelurahan Tegal Parang, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Siswa SMA 3 Jakarta, Padian Prawiro Dirya, 16 tahun, meninggal selang beberapa hari setelah mengikuti kegiatan pencinta alam Sabhawana. Padian meninggal di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. “Almarhum meninggal jam 4 pagi,” kata Pipit, tante Padian, saat ditemui di rumah duka, Kamis, 3 Juli 2014.

Padian adalah siswa kelas X IPA A yang juga teman sekelas Alfiand Caesar Irhami, korban pertama penganiayaan saat mengikuti kegiatan Sabhawana di Bandung, Jawa Barat. Padian dan Alfiand sama-sama mengikuti kegiatan tersebut. Padian meninggal setelah menjalani perawatan selama 13 hari di ruang ICU Rumah Sakit Hasan Sadikin. Menurut analisis dokter, kata Pipit, Padian meninggal karena gigitan ular. Tangan kiri Padian diduga tergigit ular saat mengikuti kegiatan tersebut.

“Saya lihat surat keterangan dari rumah sakit ditulis terkena gigitan ular. Tadi saya liat buat ngurus makam,” kata Kananu, Ketua RT 03 RW 01, saat ditemui di rumah duka, Kamis, 3 Juli 2014. Pihak keluarga sendiri tak mau menduga-duga apa yang mengakibatkan Padian meninggal. Pihak keluarga tidak mau mengambil langkah lain untuk mengetahui penyebab kematian Padian. Keluarga juga menolak jika Padian divisum. “Kasihan almarhum kalau begitu, biarkan saja. Yang penting almarhum meninggal dengan tenang,” tutur Pipit.

Pipit mengatakan pihak keluarga sudah ikhlas dan pasrah atas meninggalnya Padian. “Kami sudah ikhlas,” kata Pipit. Kepala Polisi Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Wahyu Hadiningrat. mengatakan belum mendapat laporan resmi terkait dengan meninggalnya Padian Prawiro Dirya, siswa kelas X IPA A SMA 3. “Kalau informasinya, sudah kita dengar, tapi laporan resmi belum masuk,” kata Wahyu pada 3 Juli 2014.

Wahyu mengatakan pemeriksaan sudah dilakukan sejak korban pertama, Alfiand Caesar, meninggal. Alfiand meninggal karena tindak penganiayaan yang dilakukan seniornya kelas XI. Polisi menetapkan lima tersangka dalam kasus tersebut, yaitu DW, TM, AM, KR, dan PU. Rute kegiatan pencinta alam Sabhawana di Tangkuban Perahu, Jawa Barat, kata Wahyu, sudah ditelusuri polisi. “Setelah mendapat informasi, kami coba untuk dalami lagi,” ujar Wahyu.

Saat ditemui di rumah duka di Mampang, Jakarta Selatan, pihak keluarga menolak melaporkan hal ini ke pihak berwajib. “Kami sudah ikhlas, biar Padian tenang,” tutur Pipit, tante Padian, 3 Juli 2014. Keluarga korban memilih untuk mengikhlaskan dan tidak mau menyalahkan pihak lain. “Kami semua sudah ikhlas,” kata Pipit. Sebelumnya, Padian mengikuti kegiatan pencinta alam Sabhawana di Tangkuban Perahu, Jawa Barat. Saat kegiatan berlangsung selama beberapa hari, Padian dilarikan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, karena kondisi kondisi fisiknya yang tak sehat. Ia dirawat di ruang ICU selama 13 hari dan meninggal pada pukul 04.00 WIB. Jenazah dimakamkan pukul 12.30 WIB di TPU Menteng Pulo.

Padian Prawiro Dirya, 16 tahun, siswa SMA 3 Jakarta, meninggal setelah beberapa hari mengikuti kegiatan pencinta alam Sabhawana di Bandung. Padian meninggal di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. “Padian anaknya pintar,” kata Lila Fairuz, 16 tahun, teman Padian saat sekolah menengah pertama, ditemui di rumah duka, 3 Juli 2014. Dulu, Padian bersekolah di SMP 19 Jakarta. Di SMP itu, ia masuk kelas unggulan. “Waktu SMP, Padian masuk kelas unggulan yang nilainya tinggi-tinggi,” ujar Lila.

Salah satu teman Padian di SMA 3, Lucia Natasya, 16 tahun, juga menuturkan hal serupa. “Di SMA, Padian juga masuk kelas unggulan IPA A,” kata Lucia. Selain sosoknya yang pintar dan ramah, Padian juga dikenal suka olahraga. “Waktu SMP, dia ikut futsal dan taekwondo,” ujar Lila Fairuz. Lila menuturkan Padian memiliki badan yang besar dan tinggi. Padian dikenal sebagai sosok yang rajin olahraga sehingga bentuk badannya atletis dan proposional. “Badannya tegap gitu. Memang dia suka olahraga anaknya,” katanya.

Hobi olahraga membawa Padian mengikuti kegiatan pencinta alam Sabhawana di Tangkuban Perahu, Bandung. Sebelum berangkat, Lucia sempat bertemu di sekolah dengan Padian. Padian sempat mengatakan mohon doa agar lulus menjadi anggota Sabhawana. “Doain, ya, semoga lulus,” kata Lucia mengulang perkataan Padian. Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Jakarta Selatan mengakui adanya tindak penganiayaan yang pernah dilakukan siswanya pada awal Februari 2014. “Memang dulu pernah ada laporan di Polda, namun semua sudah selesai dengan baik-baik,” kata La Ode Makbudu, Wakil Kepala SMA 3 Bidang Kesiswaan pada Tempo, Rabu, 2 Juli 2014.

La Ode tidak menampik adanya laporan dugaan penganiayaan yang dilakukan siswa kelas XI SMA 3 yang juga aktif sebagai pembina Sabhawana–nama ekstrakurikuler pencinta alam di sekolah itu. Laporan tersebut masuk ke Polda Metro Jaya. Dalam laporan tersebut dilaporkan tiga siswa yang diduga melakukan penganiayaan yaitu DW, PU, dan AM. Mereka adalah tiga dari lima tersangka yang ditetapkan polisi terkait penganiayaan terhadap Alfiand Caesar, siswa kelas X IPA A. “Memang, saya pernah ke Polda mendampingi Pak Isa, pembina Sabhawana,” ujar La Ode. La ode menuturkan laporan tersebut berakhir dengan cara kekeluargaan. “Saya sempat tanya anak-anak, mereka bilang sudah baik-baik lagi kok,” kata La Ode.

Ketiga tersangka, kata La Ode, yang sebelumnya sempat melakukan tindak penganiayaan sudah berkunjung ke rumah pelapor untuk meminta maaf dan pelapor mencabut laporannya. “Saya pikir sudah selesai, jadi sudah baik-baik saja.”

Categories
Beragama Berbudaya Kriminalitas Sistem Pertahanan Taat Hukum Terorisme

Rumah Pendeta Dirusak Massa … Polisi Dan Tentara Datang Hanya Untuk Menonton


Anggota DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta, Esti Wijayanti menilai, kepolisian tak tegas menindak pelaku perusakan bangunan milik pendeta di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (1/6/2014) siang. Meskipun polisi berada di lokasi, mereka tak melakukan tindakan tegas agar perusakan itu tak terjadi.

“Seharusnya, ketika ada pelanggaran, aparat harus bertindak tegas. Setidaknya, polisi harus menghalangi agar tidak terjadi perusakan,” kata Esti di lokasi kejadian, Minggu sore. Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang melihat langsung aksi perusakan itu mengaku sangat miris karena tindakan anarkistis itu ternyata tak bisa dicegah.

Seperti diberitakan, puluhan orang merusak sebuah bangunan di Dusun Pangukan, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman, yang dipakai sejumlah umat Kristen untuk menjalankan kebaktian. Bangunan itu milik seorang pendeta berinisial NL. Esti menilai, dalam peristiwa itu, sikap aparat kepolisian kurang tegas sehingga perusakan tak bisa dihindari. Padahal, sebelum massa penyerang datang, puluhan polisi dan tentara sudah berjaga-jaga di sekitar lokasi.

“Setidaknya, polisi dan pemerintah daerah melakukan komunikasi agar kasus macam ini tak terjadi,” kata dia. Setelah kasus itu terjadi, Esti berharap kepolisian melakukan penegakan hukum dengan menangkap pelaku penyerangan. Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Sleman juga dipersilakan menegakkan peraturan yang melarang rumah tinggal difungsikan sebagai tempat ibadah. “Tetap harus ada penegakan hukum terhadap pelaku perusakan,” tutur dia.

Kepala Kepolisian Resor Sleman Ajun Komisaris Besar Ihsan Amin menyatakan, pihaknya sebenarnya sudah menggelar mediasi agar masalah itu bisa diselesaikan. Dalam pengamanan, kepolisian mengutamakan keselamatan semua pihak. “Kita harapkan tidak ada yang ‘bermain di air keruh’ dalam masalah ini,” ujar dia.

Ihsan menambahkan, untuk menyelesaikan masalah itu, kepolisian akan mengutamakan musyawarah melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). “FKUB dan jajaran pemerintah nanti akan mencari solusi bersama yang menguntungkan semua pihak,” kata dia.

Aksi kekerasan bernuansa agama kembali terjadi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (1/6/2014) siang. Puluhan orang merusak sebuah bangunan di Dusun Pangukan, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman, yang dipakai sejumlah umat Kristen untuk menjalankan kebaktian.

Bangunan yang dirusak itu milik seorang pendeta berinisial NL. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian itu bermula saat NL dan sejumlah jemaahnya menjalankan ibadah di bangunan itu pada Minggu sekitar pukul 08.30 pagi. Sekitar setengah jam kemudian, belasan warga sekitar datang untuk memprotes kegiatan itu. “Warga protes karena bangunan itu tidak mendapat izin sebagai gereja. Sejak tahun 2012, bangunan itu juga disegel oleh Pemerintah Kabupaten Sleman,” kata Darojat (34), salah satu saksi mata.

Darojat menambahkan, setelah diprotes, para jemaah lalu meninggalkan bangunan itu. Setelah itu, sekitar pukul 11.30, sejumlah massa datang lalu melempari bangunan itu. Mereka mengenakan kain penutup wajah. Namun, beberapa menit kemudian, saat terdengar azan zuhur, massa membubarkan diri. Sekitar satu jam kemudian, massa kembali ke lokasi dengan jumlah yang lebih banyak. Mereka kembali melempari bangunan itu dengan batu. Mereka juga memukuli bangunan itu dengan palu.

Rumah NL yang berada di samping bangunan itu juga sempat dirusak. Puluhan polisi dan tentara yang berjaga tak berbuat banyak. Mereka hanya berupaya mengimbau massa untuk menghentikan perusakan. Akibat penyerangan itu, bangunan dan rumah milik NL mengalami kerusakan cukup parah. Kaca-kaca pecah dan pintu bangunan itu berlubang. “Massa yang merusak itu bukan dari warga Pangukan. Mereka orang luar,” kata Darojat. Hingga Minggu sore, puluhan polisi dan tentara masih berjaga-jaga di lokasi kejadian.

Categories
Terorisme

Dua Orang Tewas Dalam Baku Tembak Antara Teroris dan Brimob Di Poso


Kontak senjata antara kelompok yang diduga bersenjata dan polisi di Dusun 6, Desa Padalembara, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pecah sekitar pukul 11.00 Wita, Kamis, 6 Februari 2013. Dari informasi yang dihimpun, dua orang tewas dalam insiden itu. “Terduga teroris tersebut diduga kelompok jaringan Santoso yang bersembunyi di wilayah itu,” Kepala Kepolisian Resor Poso Ajun Komisaris Besar Susnadi, Kamis, 6 Februari 2014.

Informasi yang didapatkan dari kepolisian di lokasi menyebutkan, satu anggota Brimob tewas tertembak dalam peristiwa itu. Sementara dari kelompok bersenjata satu tewas dan satu lagi terluka. Hingga berita diturunkan, kontak senjata masih berlangsung. Jarak lokasi kontak senjata sekitar 1 kilometer dari Desa Lambara atau 20 kilometer dari Kota Poso.

Polisi mengevakuasi anggota Brimob Poso yang tewas tertembak dalam baku tembak dengan kelompok yang diduga bersenjata di Dusun 6, Desa Padalembara, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Kamis, 6 Februari 2014. Menurut informasi yang didapat di lapangan, korban tewas dari pihak polisi adalah Bhayangkara Dua Putu Surya asal Bali.

Evakuasi jenazah Putu dilakukan pukul 17.00 Wita setelah terjadi kontak senjata sejak pukul 11.00. Dari pihak kelompok yang diduga bersenjata, dikabarkan dua orang tertembak. Satu tewas, sedangkan yang lainnya terluka. Sebelumnya Kepala Kepolisian Resor Poso Ajun Komisaris Besar Susnadi mengatakan, “Terduga teroris tersebut diduga kelompok jaringan Santoso yang bersembunyi di wilayah itu.” Hingga berita ini diturunkan, kontak senjata masih berlangsung. Jarak lokasi kontak senjata sekitar 1 kilometer dari Desa Lambara atau 20 kilometer dari Kota Poso.

Santoso alias Abu Wardah diduga terlibat aksi teror di Indonesia. Dia diduga terlibat penembakan tiga anggota kepolisian di BCA Palu pada 25 Mei 2011. Ia juga disebut sempat memimpin pelatihan teroris di Poso. Santoso alias Abu Wardah diduga terlibat aksi terror di Indonesia. Dia diduga terlibat penembakan tiga anggota polisi di BCA Palu pada 25 Mei 2011. Ia juga disebut sempat memimpin pelatihan teroris di Poso. Santoso alias Abu Wardah diduga terlibat sejumlah teror belakangan ini. Bagaimana sosok Santoso di mata temannya?

Ketika duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Poso, Santoso dikenal sosok yang sangat jahil, suka bolos, dan malas ikut apel Senin. Namun demikian, Abdul Manan Abas yang mengaku berteman dengan Santoso dari kelas I sampai kelas III madrasah tsanawiyah, sama sekali tidak melihat adanya karakter keras berkenaan dengan pemahaman keyakinan pada diri Santoso saat itu.

“Pemahaman dasar agamanya sangat dasara. Tidak tahu kalau setelah tamat tsanawiyah,” kata Manan saat ditemui di kediamannya di Poso, Ahad, 21 Oktober 2012. Santoso diduga terlibat penembakan tiga anggota Polisi di BCA Palu pada 25 Mei 2011. Ia juga disebut sempat memimpin pelatihan teroris di Poso. Saat ini, dia paling diburu Datasemen Khusus 88 Antiteror. Santoso juga dikaitkan sebagai pentolan teroris kelompok Solo, Bojonggede, Tambora, serta Beji.

Dalam surat yang beredar di internet, Santoso mengirim surat tantangan kepada Detasemen Khusus 88 Antiteror untuk perang. Dalam surat itu, Santoso disebut sebagai Komandan Mujahidin Indonesia Timur. Meski demikian, Manan tidak sepenuhnya yakin Santoso adalah amir atau pimpinan kelompok teroris di Poso. Pasalnya, menurut dia, rekam jejak Santoso dalam serangkaian teror di Poso belum terlalu lama. Namun, Santoso sempat menjalani vonis 4 tahun dari Pengadilan Negeri Palu, Sulawesi Tengah, atas kasus kepemilikan senjata api dan percobaan pembunuhan pada 2003.

“Saya pernah ketemu 5 kali pada awal 2011, sebelum terjadi penembakan di BCA Palu. Saya kira Santoso sudah mau berubah, karena katanya saat itu menjalankan proyek sekolah,” ujar Manan, yang merupakan anggota tim pembela muslim di Poso. Saat terakhir ketemu, Manan melihat tubuh Santoso melar, jenggot semakin lebat, dan panjang. Sekali lagi, dia menegaskan tidak yakin jika Santoso dijadikan sebagai pemimpin kelompok teroris di Poso.

Saat ini, sosok Santoso bersama dengan kelompoknya JAT lainnya dicurigai kepolisian berada di kawasan Pegunungan Dusun Tamanjeka, Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir. Namun demikian, Muhaimin, pengamat teroris di Poso, mengatakan kecil kemungkinan kelompok Santoso yang melakukan pembunuhan terhadap dua anggota polisi Poso. “Kalau kelompok yang melakukan, pasti ada adab-adab. Dan biasanya paling lambat dua hari, polisi sudah menangkap pelaku. Tetapi ini belum ada hasil,” kata Muhaimin.

Kontak senjata antara kelompok yang diduga bersenjata dan polisi di wilayah hutan kampung baru Dusun 6, Desa Padalembara, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pecah sekitar pukul 11.00 Wita, Kamis 6 Februari 2013. Dalam insiden tersebut dua orang tewas. “Kelompok bersenjata tersebut diduga kelompok teroris jaringan Santoso yang bersembunyi di wilayah itu,” kata Kepala Kepolisian Resor Poso, Ajun Komisaris Besar Susnadi dilokasi kejadian, Kamis 6 Februari 2014.

Susnadi menyebutkan, dalam peristiwa tersebut, satu anggota Brimob dari satuan Gegana Poso tewas tertembak dalam insiden itu. Sementara dari kelompok bersenjata yang diperkirakan berjumlah 8 orang itu, kata Susnadi, satu tewas dan satu lagi terluka. Dia menjelaskan, peristiwa ini terjadi berawal dari sebelumnya ada laporan masyarakat yang melaporkan bahwa ada masyarakat setempat yang disandera oleh kelompok tertentu disalah satu gubuk perkebunan warga di wilayah itu, kemudian masyarakat tersebut dilepaskan, dan pada akhirnya melapor ke kepolisian, kata Susnadi.

Susnadi mengatakan kepolisian menerjunkan satu regu pasukan Brimob yang bertugas di Poso untuk melakukan patroli di wilayah tersebut. “Setelah pasukan tiba dilokasi perkebunan warga tersebut tiba-tiba ditembaki oleh kelompok bersenjata dan pasukan kembali membalas tembakan hingga terjadi kontak senjata saat itu,” kata Susnadi. Kontak senjata berlangsung sejak pukul 11.00 wita hingga pukul 15.30 wita.

Pada pukul 17.00 WITA, Polisi mengevakuasi anggota Brimob Poso yang tewas tertembak dalam baku tembak dengan kelompok bersenjata tersebut. Korban tewas itu adalah Bhayangkara Dua Putu Surya asal Bali. Informasi ditemukan, Jenazah Putu Surya, berencana diberangkatkan ke daerah asalnya di Bali, setelah dilakukan otopsi di Rumah Sakit Umum Daerah Poso. Hingga berita ini diturunkan, identitas dari kedua kelompok bersenjata yang tertembak dan satu tewas tersebut belum didapatkan keterangan resmi dari kepolisian. Jarak lokasi kontak senjata sekitar 1 kilometer dari Desa Padalambara atau 20 kilometer dari arah Kota Poso.