Terkuatnya Pembunuhan dan Pemerkosaan Pasangan Kekasih Yang Direkayasa Jadi Kecelakaan Lalu Lintas


Awalnya, pasangan kekasih RR (16) dan V (16) disimpulkan sebagai korban kecelakaan lalu lintas. Keluarga dan polisi sepakat. Namun ternyata keduanya korban penganiayaan geng motor. Bagaimana cerita terkuaknya ‘fakta’ itu? Kapolresta Cirebon AKBP Indra Jafar menceritakan, Sabtu (27/8) lalu, mayat RR dan V ditemukan di dekat jembatan fly over Desa jembatan Desa Kepongpongan, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. Keduanya tersungkur di aspal.

Polisi dan keluarga korban sepakat RR dan V itu meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Disebutkan, sejoli itu menabrak tiang listrik setelah korban hilang keseimbangan. Keduanya tewas di tempat. Namun anggota Polresta Cirebon menaruh curiga atas luka yang didera oleh korban pria (RR). Bentuk luka tidak seperti bekas kecelakaan lalu lintas. Selanjutnya, ada teman yang melapor ke polisi soal kejadian sebelum RR dan V ditemukan menjadi mayat.

“Dalam tiga hari, anggota kami terus bekerja dan ternyata kecurigaan kami benar. Mereka tewas dibuang bukan kecelakaan. Karena luka yang ada di tubuh pria sangat tidak wajar untuk kecelakaan,” terang Indra di Mapolda Jabar, Jumat (2/9/2016) 8 Anggota geng motor ditangkap di tempat biasa nongkrong. 3 Lainnya diburu.

Ternyata penganiayaan itu dilatari dendam lama. Pelaku dan korban pernah dalam satu kelompok geng. Mereka bertemu di depan SMP 11 Kali Tanjung. Mereka berhasil kabur dan dikejar pelaku hingga dipepet lalu dipukul menggunakan bambu. “Setelah jatuh mereka dibawa ke tempat gelap. Mereka dianiaya, yang pria dikeroyok. Ada yang menggunakan batu, ada yang memakai pedang samurai. Dan yang wanita diperkosa lalu dianiaya sampai tewas,” beberr Indra

Mereka dikenakan pasal berlapis sesuai peran. Ada yang dijerat pasal pembunuhan berencana. Ada juga pasal pemerkosaan dan pengeroyokan. Ancaman hukumannya minimal 20 tahun. 1 Anggota geng motor di Cirebon disangka terlibat dalam pembunuhan dan pemerkosaan, RR (pria) dan V. 8 Orang di antaraya sudah ditangkap, 3 masih masih buron.

RR dan V sempat dikira korban kecelakaan. Sebab, menurut Kabidhumas Polda Jabar, Kombes Yusri Yunus, kedua korban ditemukan di jembatan flyover Kepongpongan, Cirebon, Sabtu (27/8). Ada beberapa luka di tubuh mereka seperti korban kecelakaan lalu lintas. Kecurigaan muncul saat kedua korban hendak dimakamkan. Ditambah lagi, beberapa teman korban menyebut korban dianiaya sekelompok anggota geng motor.

Pembunuhan sadis berawal saat 2 korban dan teman-temannya melintas di SMP 11 Kali Tanjung, Cirebon. Entah bagaimana ceritanya, korban dilempari batu oleh sekelompok anggota geng motor Moonraker. Korban dan teman-temannya tunggang langgang. Nah, korban yang berboncengan terpisah dari temannya. Lalu dipukul pakai bambu dan dibawa ke tempat sepi oleh para pelaku. Di situlah, RR yang merupakan anggota Sat Narkoba Polres Cirebon ini dianiaya hingga tewas. V menerima perlakuan lebih sadis lagi: diperkosa oleh pelaku.

“RR diduga dianiaya, dikeroyok juga, ada juga bekas benda tajam kayak luka bacok di bagian belakang dekat punggung korban. Korban V diperkosa dan ada penganiayaan juga,” ujar Kapolresta Cirebon AKBP Indra Jafar di Mapolda Jabar, dalam rangka perayaan HUT Polwan tingkat Polda Jabar, Jumat (2/9/2016). Tak berhenti di situ, untuk menghilangkan jejak, pelaku membuang mayat korban ke jembatan Kepongpongan. Maka itu, kedua korban sempat dikira korban kecelakaan lau lintas.

Setelah dipastikan RR dan V bukan korban kecelakaan, polisi bergerak. 8 Anggota, yakni Jaya (23), Supriyanto (19), Eka Sandi (23), Hadi Saputra (23), Eko Ramadani (27), Sudirman, Saka, dan Rifalso Wardhana, ditangkap di dekat SMP 11 Kali Tanjung, Rabu (31/8/2016). “Itu tempat berkumpulnya anggota geng motor Moonraker,” jelas Indra.

3 Pelaku lainnya kini diburu. Mereka dikenakan pasal berlapis sesuai peran. Ada yang dijerat pasal pembunuhan berencana. Ada juga pasal pemerkosaan dan pengeroyokan. Ancaman hukumannya minimal 20 tahun. RR (16) dan V (16) dibunuh secara keji oleh sekelompok geng motor di Cirebon. Mayatnya dibuang di wilayah Talun, Kabupaten Cirebon. Dalam menganiaya kedua korban tersebut mereka menggunakan senjata tajam berupa pedang samurai dan batu.

Kapolresta Cirebon AKBP Indra Jafar mengatakan, saat kedua pasangan ini melintas di depan SMP 11 Kali Tanjung yang tak jauh dari tempat nongkrong para pelaku ini, mereka dilempari batu kecil.Mereka berhasil kabur dan dikejar pelaku hingga dipepet lalu dipukul menggunakan bambu. Mereka tersungkur ke aspal jembatan Desa Kepongpongan, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. “Setelah jatuh mereka dibawa ke tempat gelap. Mereka dianiaya, yang pria dikeroyok ada yang menggunakan batu untuk dipukul ke badannya terus mendapatkan luka bacok di bagian belakang, dan yang wanita diperkosa lalu dianiaya sampai tewas,”ujar Indra di Mapolda Jabar, Jumat (2/9/2016).

Saat ini, 8 orang yang disangka terlibat dalam pembunuhan itu sudah ditangkap. Tiga lainnya masih diburu. “Kami masih terus periksa, nanti perkembangannya kita sampaikan lagi,” tutupnya. 8 Dari 11 anggota geng motor yang diduga terlibat dalam kasus penganiayaan sepasang kekasih, RR (16) dan V (16), ditangkap. Kepada polisi, mereka mengaku bertindak brutal karena dendam lama.

“Mereka mengakui perbuatannya. Dari hasil pemeriksaan sementara, motifnya karena dendam lama. Mereka (korban) ini kan mantan anggota geng motor,” ujar Kapolresta Cirebon AKBP Indra Jafar di Mapolda Jabar, Jum’at (2/9/2016). Tak dijelaskan, ada masalah apa antara pelaku dan korban. Sabtu (27/8) malam, para pelaku melihat korban melintas bersama teman-temannya di depan SMP 11 Kali Tanjung, Cirebon. Pelaku melempari korban dengan batu. Korban dan teman-temannya kocar-kacir.

Korban RR dan V yang berboncengan pakai motor terpisah dari rombongan dan dianiaya hingga tewas di sebuah lahan kosong yang gelap tak jauh show room mobil bekas di Jalan Perjuangan Kota Cirebon. Ada luka bacok di tubuh RR. Sedangkan, V, selain dianiaya juga diperkosa. Menurut Indra, sebetulnya geng motor Moonraker sudah bubar sejak lama. Namun sebagian masih kerap berkumpul. Polisi masih mengejar 3 pelaku lain dalam kasus ini.

“Yang tiga orang ini tidak ada di lokasi saat 8 pelaku diamankan,” tutup Indra yang hadir di Mapolda Jabar untuk mengikuti peringatan HUT Polwan ini. Polresta Cirebon terus menyelidiki kasus pembunuhan seorang remaja pria inisal RR yang merupakan anak polisi dan teman wanitanya, V. Polisi tengah bergerak untuk mengejar pelaku yang ikut terlibat aksi brutal terhadap sejoli tersebut.

Keduanya dibunuh secara keji oleh anggota geng motor Moonraker. Korban dieksekusi para pelaku di Jalan Perjuangan depan SMP 11 Kali Tanjung, Cirebon. Pelaku mengeroyok RR hingga tewas. Sementara V tewas setelah diperkosa secara bergiliran oleh para pelaku. “RR diduga dianiaya, dikeroyok juga, ada juga bekas benda tajam kayak luka bacok gitu di bagian belakang dekat punggung korban. Kalau V ini diperkosa dan ada penganiayaan juga,” ujar Kapolresta Cirebon AKBP Indra Jafar saat ditemui di Mapolda Jabar, dalam rangka perayaan HUT Polwan tingkat Polda Jabar, Jumat (2/9/2016)

Indra menyebut telah menangkap delapan orang dari total 11 pelaku yang melakukan penganiayaan dan pemerkosaan terhadap RR dan V. “Masih ada 3 yang buron, karena kan ini awalnya dikira kecelakaan lalu lintas pertamanya, ternyata setelah diselidiki mereka betul korban pembunuhan,” lanjutnya. Kedelapan orang yang ditangkap, saat itu, tengah berkumpul di dekat SMP 11 Kali Tanjung. Lokasi tersebut menurut Indra merupakan tempat berkumpulnya para anggota geng motor Moonraker.

“Mereka ditangkap saat sedang berkumpul, karena kita pantau juga sebelumnya,” kata dia. Saat ini langkah kepolisian masih terus melakukan pemeriksaan terhadap para tersangka dan beberapa saksi. Termasuk rencananya pada hari ini, pihak penyidik dari Polresta Cirebon akan melakukan autopsi. Dirinya mengklaim jika, pihak keluarga telah menyetujui untuk mengangkat kembali kedua jenazah yang telah dikebumikan.

“Untuk persyaratan atas prosedur pelaksanaan autopsi rencananya akan dimulai pada hari ini. Untuk proses autopsi nya akan segera dilakukan secepatnya,” kata dia. Para pelaku akan dikenakan pasal berlapis. Tidak menutup kemungkinan kedelapan pelaku ini akan mendekam di balik jeruji besi dalam waktu yang lama.

“Kalau pasal kita kenakan berlapis, ada kita kenakan pasal pembunuhan berencana, pemerkosaan, pengeroyokan, belum lagi unsur lainnya kalau terbukti. Penjaranya itu 20 tahun, itu minimal yah,” pungkasnya. Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Bambang Waskito berang akibat ulah para aksi kejahatan jalanan, yang dilakukan oleh sekelompok geng motor Moonraker di Cirebon. Mereka menganiaya RR dan melakukan pemerkosaan terhadap V, kekasih korban.

“Saya sudah instruksikan secara langsung kepada anggota di sana tidak lanjuti kasus tersebut,” ujar Bambang saat ditemui di sela-sela kegiatan peringatan HUT Polwan ke-68 di Mapolda Jawa Barat, Jum’at (2/9/2016).
Buntut dari kejadian tersebut Bambang menegaskan, untuk seluruh anggota kepolisian yang bertugas di lapangan agar bisa memberikan tindakan tegas dan terukur, bagi para geng motor yang berulah di jalanan dan meresahkan masyarakat.

“Kenapa masih ada kejahatan seperti itu, saya sudah suruh Kapolresnya buat tindak tegas hal ini,” jelasnya.
Bambang ingin, wilayahnya tidak ada lagi aksi kelompok geng motor yang bermunculan baik dalam skala kecil atau skala besar. “Sikat habis! Jangan ada lagi geng motor!,” tegasnya.

RR dan V dibunuh setelah melintas SMP 11 Kali Tanjung bersama teman-temannya, Sabtu (27/8) malam. Mereka dilempar batu oleh kelompok Moonraker, lalu kabur. Korban terpisah dan jadi bulan-bulanan di tempat sepi. V tak cuma dianiaya, tapi juga diperkosa. Kini 8 dari 11 pelaku sudah diamankan. Polisi akan mengenakan pasal berlapis ke pelaku.

Advertisements

Kursus Makeup Glamour Party Workshop Beauty with Reza Azru


Glamour Party Make Up Workshop dan Kursus sehari bersama Makeup Artist Reza Azru

Glamour Party Make up Workshop with Reza Azru

Bagaimana mendapatkan hasil makeup yang glamour untuk ke pesta tanpa terlihat medok. Dibimbing secara ekslusif oleh Reza Azru. Tempat terbatas hanya untuk 30 Orang. Tempat duduk berdasarkan nomor pendaftaran.

Materi : Blending Foundation, Contouring, Perfect Brows, Bleding Eye Shadow, Lipstick Application.

Peserta wajib membawa model sendiri, makeup tool dan bulu mata.

Kursus seminar workshop diadakan di Jakarta Design Center – Slipi Lantai 6, Lotus 3 pada hari Jumat, 23 September 2016 (09:00 – 17:00)

Keamanan 74 Halte TransJakarta Rawan Tindakan Melawan Hukum Ditingkatkan Pasca Pengeroyokan


Pengeroyokan yang terjadi di Halte Transjakarta Senayan JCC membuat keamanan di setiap halte dipertanyakan. Direktur Operasional PT Transjakarta Daud Joseph mengungkapkan, saat ini ada 74 halte yang mendapat prioritas lebih dari perusahaan tersebut. Angka tersebut tak menyentuh setengah dari total jumlah halte Transjakarta yang ada di angka 232 halte.

“Ada 232 halte yang tersebar di seluruh Jakarta dan 74 di antaranya adalah priotitas,” kata Joseph saat ditemui di Markas Polda Metro Jaya, Kamis (1/9). Joseph menjelaskan, 74 halte itu masuk dalam prioritas bukan hanya kerena sering terjadi tindakan melawan hukum tapi juga ada perilaku penumpang yang tidak taat aturan.

Biasanya para penumpang yang mau menggunakan Transjakarta harus masuk melalui pintu yang telah ditentukan dan harus memiliki kartu khusus. Namun di beberapa halte masih sering terjadi warga yang masuk lewat dermaga (pintu penghubung halte dengan Transjakarta) yang artinya mereka tak membayar tiket masuk. Joseph mengungkapkan hingga saat ini PT Transjakarta sudah memasang peralatan CCTV yang tersebar hampir di seluruh infrastruktur yang ada, mulai dari bus hingga halte.

Untuk CCTV di halte, gambar yang ditampilkan tak hanya soal keadaan di dalam halte melainkan juga di jalur Transjakarta. CCTV itu pula yang digunakan aparat kepolisian untuk membekuk pelaku pengeroyokan terhadap Andrew Budikusuma.

Demi menunjang peralatan itu, Transjakarta juga menyediakan petugas yang berpatroli di sekitaran halte. Dengan adanya kejadian pengeroyokan, Joseph menegaskan pihaknya akan melakukan evaluasi terkait sistem patroli tersebut.

“Kami ulas kembali dan akan meningkatkan frekuensi pengamanan yang akan berlangsung 24 jam,” kata dia. Penganiayaan terjadi sekitar pukul 20.30 WIB saat Andrew menumpang TransJakarta dari Halte Kuningan Barat menuju Halte Pluit. Para penganiaya masuk ke dalam bus dan berteriak ‘Ahok’ sebelum mengeroyok Andrew.

Kelima orang penganiaya yang dibekuk itu berinisial MA (32 tahun), HBP (27), AR (21), DS (21), dan S (17). Mereka diringkus di Tambora, Jakarta Barat, Kamis dini hari (1/9). Berdasarkan keterangan awal yang didapat aparat kepolisian, diketahui bahwa kelima pelaku awalnya hanya berniat melontarkan candaan pada Andrew.

Kepala Subdit Resmob Ajun Komisaris Besar Budi Hermanto mengatakan, karena candaan yang para pelaku lontarkan tak ditanggapi Andrew maka mereka kesal dan berakhir dengan pengeroyokan. Setelah candaannya tak digubris oleh Andrew, para pelaku terlibat cek-cok hingga terlontarlah kata-kata yang menyinggung nama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ucapan tersebut muncul karena kebetulan Andrew merupakan warga keturunan seperti Ahok.

Sebelum melakukan penangkapan, polisi menganalisis CCTV yang merekam aksi para pelaku saat menganiaya Andrew di halte kawasan Senayan, Jakarta Selatan. Polisi juga menyita pakaian yang dikenakan para tersangka ketika mengeroyok Andrew. Andrew sendiri mengalami luka pada bagian wajah, telinga, dan mulut. Ia sempat melawan dengan memukul salah satu pelaku dengan botol vitamin

Polisi Berhasil Bongkar Sindikat Prostitusi Paedofil Oleh Kaum Gay Homoseksual


Penyidik Badan Reserse Kriminal Polri kembali menangkap dua tersangka kasus prostitusi paedofil penyuka sesama pria (gay). “Ditangkap di Pasar Ciawi (Bogor, Jawa Barat), kemarin malam,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Brigadir Jenderal Agung Setya di Markas Besar Polri, Jakarta, Kamis (1/9).

Baca Juga : Wasapada, Paedofil Disekitar Kita

Tersangka yang ditangkap berinisial U dan E. Tersangka E diduga membantu tersangka yang lebih dulu ditangkap, AR, dalam menyiapkan rekening untuk menampung dana yang masuk. Selain itu, E juga diduga turut melakukan kegiatan seksual terhadap anak-anak yang jadi korban. Sementara U diduga mengeksploitasi anak, berperan sebagai muncikari seperti AR. Mereka berbeda jaringan, tapi Agung menyebut keduanya berhubungan.

Berdasarkan pengakuan U kepada penyidik, ada empat bocah yang jadi korban eksploitasinya. Agung menduga masih ada jaringan lain dalam bisnis prostitusi ini. “Kami bekerja mengungkap ini sampai jaringannya. Saya ingin temukan lingkup luas dari AR, U dan E,” kata Agung. Sebelumnya AR ditangkap di sebuah hotel di Cipayung, Bogor, Jawa Barat. Bersamanya ditemukan tujuh anak yang jadi korban eksploitasi seksual.

Para bocah laki-laki itu dijajakan untuk pelanggan sesama jenis lewat media sosial Facebook dengan tarif Rp1,2 juta. Sementara para korban hanya diberi imbalan Rp100-200 ribu. Penyidik menduga ada 99 korban secara keseluruhan yang dieksploitasi oleh AR. Namun mereka hingga saat ini masih belum diketahui keberadaannya.

Markas Besar Polri mengungkapkan tersangka pelaku prostitusi anak yang menyasar pelanggan homoseksual adalah seorang residivis. “Tersangkanya AR, sudah ditangkap. Ternyata seorang residivis perkara yang sama beberapa tahun lalu,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, Selasa malam (30/8), mengungkapkan inisial sang pelaku.

AR yang biasa bergerak melalui media sosial Facebook, kata Boy, sudah pernah dihukum penjara dua tahun enam bulan atas perkara prostitusi. Sama seperti kali ini, saat itu dia juga ditangkap penyidik Cyber Crime Bareskrim Polri. Kata Boy, AR ditangkap di sebuah hotel di Km 75 Jalan Raya Puncak, Cipayung, Bogor. “Hotel itu tempat menyimpan anak-anak yang jadi korban.” Bersama tersangka, turut diamankan tujuh orang anak yang jadi korban kejahatan ini. Saat ini, pelaku dan korban masih diperiksa oleh penyidik.

Pantauan CNNIndonesia.com di Markas Besar Polri, Jakarta, sejumlah anggota keluarga korban juga mendatangi gedung Bareskrim untuk menghadap penyidik. Di Facebook, lanjut Boy, AR punya komunitas pelanggan tersendiri. Mereka diduga saling mengenal satu sama lain. Boy mengatakan para pelanggan juga bisa dikenakan sanksi hukum. Namun, hal itu butuh penelusuran lebih lanjut.

“Nanti pasti (dijerat) kalau berhasil ditemukan. Sementara yang ditemukan kan korban dan pelaku,” ujarnya. Penyidik Badan Reserse Kriminal Polri menangkap tersangka pelaku prostitusi daring dengan korban anak-anak, Selasa (30/8). Ketika dikonfirmasi oleh CNNIndonesia.com, Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Brigadir Jenderal Agung Setya membenarkan penangkapan ini, meski enggan memberikan rincian lebih lanjut. “Besok akan kami rilis,” ujarnya singkat.

Pantauan di Markas Besar Polri, Jakarta, sejumlah anggota keluarga korban terlihat mendatangi Gedung Bareskrim, Selasa malam. Mereka hendak bertemu dengan penyidik Subdirektorat Cyber Crime di lantai IV. Seperti Agung, Asrorun juga tidak menampik, namun enggan merinci. “Besok saja ya,” ujarnya sambil terus berjalan. Polisi menyebut ada 99 orang korban yang diperalat oleh tersangka AR untuk melayani para pria paedofil dan homoseksual. AR mematok tarif 1,2 juta untuk satu kali layanan prostitusi. Para korban oleh AR dibayar sebesar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu.

“Tidak hanya tujuh (anak), dari daftar dia korban ada 99 orang. Ini kami tangani secara berkelanjutan,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Agung Setya di Markas Besar Polri, Jakarta, Rabu (31/8). Saat ini polisi masih terus mengidentifikasi para korban. Namun untuk sementara diketahui sebagian besar dari mereka berasal dari Jawa Barat.

AR diketahui menjalankan bisnis haramnya sekitar satu tahun. Meski sudah memiliki istri, AR juga diduga memiliki perilaku menyimpang. Dengan korban yang begitu banyak, Agung mengatakan penyidik masih mendalami kemungkinan adanya sindikat yang bekerjasama dengan AR. Terlebih, untuk merekrut anak laki-laki sebanyak ini dinilai Agung bukan perkara mudah. “Untuk dapat merekrut anak ada satu hal tidak seperti yang lain, apalagi ini anak laki-laki. Kami identifikasi lebih dalam.”

Tersangka AR ditangkap penyidik Subdirektorat Cyber Crime, Selasa (30/8). Berawal dari patroli siber Kepolisian, dia diketahui menjajakan anak laki-laki di bawah umur kepada pelanggan sesama jenis lewat media sosial Facebook. AR ditangkap di Cipayung, Bogor. Saat penangkapan, turut diamankan delapan korban. Tujuh masih berusian di bawah umur dan satu korban berusia dewasa. Agung belum mau merinci soal 99 korban yang dia maksud. Ketika ditanya soal ini, dia hanya mengatakan penyidik masih memeriksa tujuh anak yang sudah ditemukan.

Pemeriksaan kesehatan juga dilakukan untuk mengantisipasi penularan penyakit seksual dan gangguan kejiwaan. “Kami akan lakukan proses penanganan komprehensif, bekerjasama dengan Kemensos ditempatkan di rumah singgah bersama psikiater,” kata Agung. AR adalah seorang residivis yang sebelumnya ditangkap untuk kasus yang serupa. Hanya saja, sebelumnya dia mengeksploitasi anak perempuan.

Atas perlakuannya, dia dihukum 2,5 tahun. Namun, seolah tak kapok kini AR justru kembali menjalankan bisnisnya. Karena itu, dia terancam hukuman 12 tahun penjara karena diduga melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pornografi, Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Perlindungan Anak. Badan Reserse Kriminal Polri membongkar aksi prostitusi anak laki-laki untuk pelanggan laki-laki (gay) di kawasan Bogor, Jawa Barat. Dalam pendalaman yang dilakukan, polisi menemukan bahwa pelaku yang berinisial AR tidak bekerja sendiri.

“Dari keterangan yang ada mereka ini ada muncikari yang lain, jika stok mereka habis maka dia akan menghubungi rekannya,” ujar Kepala Bareskrim Polri Komisaris Jenderal Ari Dono saat menggelar jumpa pers di Mabes Polri, Rabu (31/8). Ari menuturkan AR sudah bekerja sebagai muncikari anak laki-laki selama satu tahun. Namun berdasarkan penelusuran terbukti bahwa dia baru saja keluar dari penjara sekitar dua bulan lalu.

Pelaku di penjara di lembaga permasyarakatan di Bogor atas tuduhan melakukan tindak pidana perdagangan orang berjenis kelamin perempuan. Dia harus mendekam di penjara selama dua tahun enam bulan dan baru bebas dua bulan lalu. Dengan berbagai fakta tersebut terbukti bahwa AR bisa melakukan aktivitas jual beli anak laki-laki saat dia masih di penjara. Dengan bantuan temannya, dia menjajakkan anak laki-laki kepada pria yang memiliki kelainan seks.

Namun untuk teman-teman AR sesama muncikari, polisi masih melakukan pelacakan di mana mereka melakukan aksinya tersebut. Sementara itu hingga saat ini total baru sembilan orang yang diamankan oleh pihak kepolisian, yaitu tujuh anak yang menjadi korban prostitusi, satu korban dewasa, dan satu orang pelaku. Sedangkan 99 anak yang kabarnya juga menjadi korban penjualan, Ari mengatakan bahwa polisi masih mendalami di mana lokasi mereka semua.

“99 anak itu kan data hasil penyidikan, anaknya ada di mana kami belum tahu,” kata Ari. Meski begitu, Ari menegaskan tujuh anak yang saat ini masih diberi pendampingan oleh satuan kepolisian akan diberikan pemulihan oleh Kementerian Sosial. Namun untuk saat ini yang mesti dilakukan terlebih dahulu adalah cek kesehatan dari anak-anak tersebut. “Korban akan diperiksa kesehatan untuk selanjutnya diwawancara oleh unit anak Polri dan juga pemulihan dari Kemensos,” ujar jenderal bintang tiga tersebut.

Tersangka AR ditangkap penyidik Subdirektorat Cyber Crime, Selasa (30/8). Berawal dari patroli siber Kepolisian, dia diketahui menjajakan anak laki-laki di bawah umur kepada pelanggan sesama jenis lewat media sosial Facebook. AR ditangkap di Cipayung, Bogor. Saat penangkapan, turut diamankan delapan korban. Tujuh masih berusian di bawah umur dan satu korban berusia dewasa. AR adalah seorang residivis yang sebelumnya ditangkap untuk kasus yang serupa. Hanya saja, sebelumnya dia mengeksploitasi anak perempuan.

Atas perlakuannya, dia dihukum 2,5 tahun. Namun, seolah tak kapok kini AR justru kembali menjalankan bisnisnya. Karena itu, dia terancam hukuman 12 tahun penjara karena diduga melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pornografi, Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Perlindungan Anak. Kementerian Sosial RI ambil bagian dalam terkuaknya aksi prostitusi anak laki-laki untuk pelanggan laki-laki (gay) yang baru diungkap oleh Badan Reserse Kriminal Polri. Kemensos rencananya akan memberikan terapi bagi anak laki-laki yang menjadi korban perdagangan orang tersebut.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menjelaskan tugas Kemensos memang memberikan rehabilitasi bagi para korban dan nama terapi yang akan diberikan adalah psycho social therapy. “Tugas kami memang untuk rehabilitasi, korban akan diberi terapi psikologi sosial di tempat kami,” kata Khofifah di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (31/8). Menurut Khofifah, anak-anak yang akan diterapi adalah mereka yang orang tuanya ada dan hadir selama pendampingan dilakukan oleh aparat kepolisian. Namun bagi mereka yang orang tuanya tak ada maka polisi akan menyerahkan mereka ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Meski begitu, saat ini tim Kementerian Sosial belum bisa melakukan terapi karena anak-anak yang menjadi korban tersebut masih harus melalui cek kesehatan. Khofifah menuturkan pengecekan kesehatan, terutama cek darah, penting dilakukan untuk melihat apakah anak-anak itu terjangkit penyakit atau tidak. “Semoga tak ada dari mereka yang terinfeksi penyakit HIV/AIDS,” ujar Khofifah.

Bareskrim Polri membongkar aksi prostitusi gay dengan tersangka yang diamankan berinisial AR. Tersangka AR ditangkap penyidik Subdirektorat Cyber Crime, Selasa (30/8). Berawal dari patroli siber Kepolisian, dia diketahui menjajakan anak laki-laki di bawah umur kepada pelanggan sesama jenis lewat media sosial Facebook. AR ditangkap di Cipayung, Bogor. Saat penangkapan, turut diamankan delapan korban. Tujuh masih berusian di bawah umur dan satu korban berusia dewasa.

AR adalah seorang residivis yang sebelumnya ditangkap untuk kasus yang serupa. Hanya saja, sebelumnya dia mengeksploitasi anak perempuan. Atas perlakuannya, dia dihukum 2,5 tahun. Namun, seolah tak kapok kini AR justru kembali menjalankan bisnisnya. Karena itu, dia terancam hukuman 12 tahun penjara karena diduga melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pornografi, Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Perlindungan Anak.

Tak hanya akan memberi terapi, sebagai langkah pencegahan Kemsos juga sudah membuka layanan call center di nomor 1500771. Nomor tersebut disediakan bagi siapa saja yang membutuhkan bantuan dari Kemensos. Khofifah mengungkapkan layanan tersebut akan aktif selama 24 jam dan akan terus menerima pengaduan setiap hari. “Jadi kalau ada anak terlantar, korban eksploitasi baik ekonomi dan seksual silakan hubungi kami,” katanya.

Menurut politisi Partai Kebangkitan Bangsa tersebut masyarakat juga boleh mencurahkan isi hatinya dengan menghubungi nomor tersebut. Selama itu berkaitan dengan hal sosial petugas di balik telepon akan melayani sebaik-baiknya. Tak hanya call center, untuk lebih mendekatkan diri ke masyarakat Kemsos juga menyediakan mobil anti galau yang disediakan di berbagai kota di Indonesia.

“Di acara car free day mobil itu akan muncul demi mendekatkan diri ke khalayak dan sekaligus memberi konseling,” katanya.

Narkotika Aa Gatot Brajamusti Dipasok Dari Jakarta


Tim penyidik Direktorat Reserse Narkoba Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat terus mendalami asal usul narkotik yang ditemukan dalam saku kanan celana Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Gatot Brajamusti dan tas milik istrinya, Dewi Aminah. “Sementara ini jawabannya, barang bukti dibawa dari Jakarta, cuma dari siapa dia dapat, dia belum sebut,” kata Kapolda NTB Brigjen Pol Umar Septono di Mataram, Kamis (1/9).

Umar Septono pun memerintahkan tim Ditresnarkoba Polda NTB untuk mencari tahu kronologi dan alur perjalanan narkotik tersebut hingga bisa lolos ke Lombok, termasuk salah satunya menelusuri pihak-pihak bandara. Bandara di Lombok bernama Bandara Udara Internasional Lombok-Praya di bawah pengelolaan PT. Angkasa Pura I.

“Nantinya akan mengarah kesana, pihak bandara akan kita periksa,” kata Umar seperti dilansir dari Antara.
Lihat juga:Polisi Terbangkan Aa Gatot dari Mataram ke Jakarta Siang Ini Lebih lanjut dalam pengembangan kasusnya, Polda NTB sudah menjalin koordinasi dengan Polda Metro Jaya, yang juga telah melakukan pengembangan dari hasil temuan di Lombok. “Yang jelas kami tangani TKP di sini, nantinya kalau ada pengembangan di luar itu, kita akan berkoordinasi dengan pihak lainnya, termasuk Polda Metro Jaya,” ucapnya.

Di tempat terpisah, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono mengatakan Gatot dan istrinya akan dibawa ke Jakarta untuk mendampingi proses penggeledahan di rumahnya. Rumah Gatot beralamat di Jalan Niaga Hijau X Nomor 1 Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Rencananya, kepolisian beserta Gatot dan istrinya berangkat pada jam 14.00 WITA.”Informasi dari Polres Mataram, Aa Gatot akan dibawa ke Jakarta, mungkin langsung ke rumahnya. Terbang dari Mataram pukul 14.00 WITA,” ujar Awi. Awi mengatakan polisi mencurigai Gatot menyimpan narkotik di suatu tempat tersembunyi di rumahnya.

“Ya kami tidak tahu ada apa di dalamnya (rumah Gatot), makanya dibawa ke rumahnya untuk penggeledahan, mana tahu ada narkoba di rumahnya,” jelas Awi. Rencananya, Gatot akan langsung digelandang ke rumahnya, setibanya di Jakarta sore nanti. Polres Mataram, NTB akan bekerjasama dengan Polda Metro Jaya dalam penggeledahan tersebut. Gatot dan istrinya telah ditetap sebagai tersangka pada Rabu (31/8) lalu oleh tim penyidik Polres Mataram. Keduanya dijerat Pasal 112 Ayat 1 dan Pasal 127 Ayat 1 Huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman penjara pidana paling singkat empat tahun.

Pada Minggu (28/8) malam Gatot Brajamusti dan istrinya ditangkap bersama enam orang lain, di antaranya YY, DN, RN, dan RZ (Reza Artamevia) di kamar 1100 Hotel Golden Tulip, Kota Mataram. Di lokasi penggerebekan itu, tim gabungan dari Mabes Polri didampingi anggota Polres Mataram dan Lombok Barat, mengamankan dua paket kecil berupa plastik bening berisi kristal putih yang diduga narkotika jenis sabu-sabu seberat 0,98 gram dan 0,68 gram.

Selain itu, dua klip plastik bening kecil yang diduga berisi narkotika, pihak kepolisian juga turut mengamankan sejumlah barang bukti berupa alat hisap. Polisi memastikan kristal putih seberat 9,7 gram yang ditemukan di kediaman Gatot Brajamusti adalah sabu. Kepastian itu didapatkan setelah polisi melakukan uji laboratorium forensik pada barang bukti yang ditemukan saat penggeledahan. “Barang bukti dinyatakan positif. Satu bungkus plastik bening jenis sabu diselotip hitam,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Awi Setiyono di Markas Polres Jakarta Selatan, Rabu (31/8).

Selain sabu, polisi juga menemukan ekstasi di rumah Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) itu saat penggeledahan hari Minggu lalu. Ekstasi yang ditemukan berbentuk kapsul dan tablet. Polisi juga menemukan empat buah alat hisap yang telah digunakan untuk mengisap sabu. Temuan barang bukti ini akan dilimpahkan Polda Nusa Tenggara Barat yang menangani perkara Gatot. Bersama istrinya, Dewi Aminah, Gatot sudah ditetapkan sebagai tersangka penyalahgunaan kasus narkotik.

“Kami disini hanya membantu,” ujar Awi. Penetapan tersangka Gatot dan Dewi berdasarkan barang bukti sabu yang ditemukan saat penangkapan serta positifnya kandungan narkotik dalam urine mereka. “Berdasarkan pemeriksaan saksi-saksi dan gelar perkara, Polres Mataram telah menetapkan GA (Gatot Brajamusti) dan istrinya DA (Dewi Aminah) sebagai tersangka,” kata Kepala Bidang Humas Polda Nusat Tenggara Barat Ajun Komisaris Besar Tri Budi Pangastuti di Mataram.

Gatot dan Dewi dijerat dengan Pasal 112 Ayat 1 dan Pasal 127 Ayat 1 Huruf a Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman penjara pidana paling singkat empat tahun. Sementara empat orang yang turut diamankan yakni YY, RN, DN, dan RZ, akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tim forensik diperbantukan dari Polda Bali. “Tim penyidik bekerjasama dengan Tim Forensik Polda Bali akan kembali melanjutkan pemeriksaan darah mereka,” ujarnya

Polisi “menyembunyikan” tersangka kasus narkotik Gatot Brajamusti di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. Awak media gagal menemukan batang hidung pemilik sapaan akrab Gatot itu setelah diinformasikan mendarat pada pukul 14.50 WIB. Gatot tiba di ibu kota setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit dari Bandara Internasional Lombok. Ia menumpangi maskapai Batik Air. Namun, selepas mendarat, Gatot tak menampakkan wajahnya di area kedatangan. Awak media yang menantikan kemunculannya pun dibuat kocar-kacir untuk menemukannya.

Berdasakan informasi yang dihimpun, selepas mendarat, Gatot sempat dibawa ke Ruang VVIP Terminal 1 Bandara Soekarno Hatta. Namun, setelah memeriksa seluruh tiga titik kedatangan yang berada di Terminal 1, Bandara Soekarno Hatta, wajah Gatot tak kunjung terlihat.Kabid Humas Polda NTB AKBP Tri Budi Pangastuti mengatakan Gatot pada Rabu siang dibawa ke Jakarta bersama tim dari Polda Metro Jaya. Tri Budi menuturkan, tujuan Gatot dibawa ke Jakarta hanya untuk mendampingi tim penyelidik Polda Metro Jaya dalam kegiatan olah tempat kejadian perkara (TKP) yang akan dilakukan di kediamannya yang beralamat di jalan Niaga Hijau X Nomor 1, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

“Jadi hanya Gatot Brajamusti saja yang dibawa ke Jakarta untuk melengkapi bahan olah TKP Polda Metro Jaya. Sedangkan istrinya tetap di sini,” ujarnya di Mataram, Kamis, seperti dilansir dari Antara. Walaupun dibawa ke Jakarta, kata dia, penanganan kasus Gatot Brajamusti tetap dilaksanakan di Polda NTB oleh Subdit I Direktorat Reserse Narkoba. “Nantinya kalau kebutuhan tim penyelidik Polda Metro Jaya sudah selesai, Gatot akan dikembalikan lagi ke sini (Polda NTB),” kata Tri Budi.

Saat disinggung apakah kasus Gatot berpeluang akan dilimpahkan ke Polda Metro Jaya, Tri Budi tidak dapat memastikannya. Melainkan, hal itu tergantung dari perkembangan penanganan kasusnya. “Apakah dilimpahkan kita lihat nanti. Yang jelas penanganan kasusnya hingga saat ini masih di Polda NTB, karena dia diamankan di sini.”

Pada Minggu (28/8) malam Gatot Brajamusti dan istrinya ditangkap bersama enam orang lain, di antaranya YY, DN, RN, dan RZ (Reza Artamevia) di kamar 1100 Hotel Golden Tulip, Kota Mataram. Gatot dan istrinya pun telah ditetapkan sebagai tersangka pada Rabu (31/8) lalu oleh tim penyidik Polres Mataram. Keduanya dijerat Pasal 112 Ayat 1 dan Pasal 127 Ayat 1 Huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Di lokasi penggerebekan itu, tim gabungan dari Mabes Polri didampingi anggota Polres Mataram dan Lombok Barat, mengamankan dua paket kecil berupa plastik bening berisi kristal putih yang diduga narkotika jenis sabu-sabu seberat 0,98 gram dan 0,68 gram. Selain itu, dua klip plastik bening kecil yang diduga berisi narkotika, pihak kepolisian juga turut mengamankan sejumlah barang bukti berupa alat hisap.

Pihak kepolisian akan membawa Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Gatot Brajamusti dan istrinya, Dewi Aminah ke Jakarta setelah ditahan Kepolisian Daerah NTB terkait kasus dugaan penyalahgunaan narkotika. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono mengatakan Gatot akan dibawa ke Jakarta untuk mendampingi proses penggeledahan di rumahnya. Rumah Gatot beralamat di Jalan Niaga Hijau X Nomor 1 Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Rencananya, kepolisian beserta Gatot dan istrinya berangkat pada jam 14.00 WITA.”Informasi dari Polres Mataram, Aa Gatot akan dibawa ke Jakarta, mungkin langsung ke rumahnya. Awi mengatakan polisi mencurigai Gatot menyimpan narkoba di suatu tempat tersembunyi di rumahnya. “Ya kami tidak tahu ada apa di dalamnya (rumah Gatot), makanya dibawa ke rumahnya untuk penggeledahan, mana tahu ada narkoba di rumahnya,” jelas Awi.

Rencananya, Gatot akan langsung digelandang ke rumahnya, setibanya di Jakarta sore nanti. Polres Mataram, NTB akan bekerjasama dengan Polda Metro Jaya dalam penggeledahan tersebut. Gatot dan istrinya telah ditetap sebagai tersangka pada Rabu (31/8) lalu oleh tim penyidik Polres Mataram. Keduanya dijerat Pasal 112 Ayat 1 dan Pasal 127 Ayat 1 Huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

“Mereka ditetapkan sebagai tersangka karena terindikasi memiliki barang bukti,” ujar Kapolda NTB Brigjen Pol Umar Septono di Mataram seperti dikutip dari Antara. Saat disinggung asal barang bukti tersebut, Kapolda NTB mengatakan bahwa pihaknya masih mendalami keterangan tersangka dan saksi lainnya. “Sementara ini jawabannya, barang bukti dibawa dari Jakarta, cuma dari siapa dia dapat, dia belum sebut,” ucapnya.

Pada Minggu (28/8) malam Gatot Brajamusti dan istrinya ditangkap bersama enam orang lain, di antaranya YY, DN, RN, dan RZ (Reza Artamevia) di kamar 1100 Hotel Golden Tulip, Kota Mataram. Di lokasi penggerebekan itu, tim gabungan dari Mabes Polri didampingi anggota Polres Mataram dan Lombok Barat, mengamankan dua paket kecil berupa plastik bening berisi kristal putih yang diduga narkotika jenis sabu-sabu seberat 0,98 gram dan 0,68 gram.

Selain itu, dua klip plastik bening kecil yang diduga berisi narkotika, pihak kepolisian juga turut mengamankan sejumlah barang bukti berupa alat hisap

Eks Teman Ahok Bongkar Manipulasi Pengumpulan KTP Untuk Dukung Ahok


Sejumlah eks relawan Teman Ahok yang kecewa dan merasa tak dianggap membongkar manipulasi pengumpulan KTP dukungan untuk Ahok di Pilgub DKI. Mereka buka-bukaan meluapkan kekecewaan. Rabu (22/6/2016) siang sejumlah eks relawan Teman Ahok menggelar konferensi pers di Restoran Dua Nyonya, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat. Mereka bergantian memaparkan keluh kesahnya di forum tersebut, salah satunya mantan penanggung jawab pengumpulan KTP di daerah Kamal, Jakarta Utara, Paulus Romindo. Eks relawan Teman Ahok lainnya seperti Dodi Hendaryadi yang tercatat sebagai penanggung jawab wilayah Pinang Ranti, Jakarta Timur, juga ikut bicara.

Sembari menegaskan permintaan maaf kepada warga DKI yang tak merasa KTP-nya diserahkan untuk mendukung Ahok dan menampik ada kepentingan tertentu yang mendesak, mereka ramai-ramai menyampaikan ‘keluh kesah’ sebagai berikut:

Kami adalah orang orang yang direkrut oleh Teman Ahok dengan Surat Tugas untuk mengumpulkan KTP untuk Ahok maju dari independen. Beberapa nama dan nomor HP kami hingga hari ini masih tercantum dalam situs http://www.temanahok dot com. Kami mau sampaikan secara terbuka apa yang kami kerjakan dan apa yang kami terima dari Teman Ahok. Hal ini kami lakukan karena beberapa pertimbangan:

1. Teman Ahok tidak demokratis dan transparan dalam keuangan. Kami tidak pernah diberitahu dari mana uang didapatkan dan berapa jumlahnya.

2. Teman Ahok menyampaikan beberapa hal yang tidak sesuai fakta dan bagi kami itu kebohongan pada orang banyak.

3. Kami takut tersangkut perkara korupsi dengan ramainya berita adanya indikasi uang Teman Ahok berasal dari aliran dana pengembang yang terkait dengan rencana reklamasi.

4. Hati nurani kami memaksa kami untuk secara terbuka menyampaikan kesaksian ini sebagai wujud permintaan maaf kami pada masyarakat.

Kalau Teman Ahok mengatakan bahwa kami adalah relawan maka seharusnya Teman Ahok transparan dalam keuangan dan tidak memaksa kami mengejar target tertentu dengan bayaran tertentu. Ketika kami dipaksa mengejar target tertentu dengan bayaran tertentu dan tidak transparan maka kami bukan relawan tapi karyawan dan Teman Ahok adalah perusahaan yang memperkerjakan kami.

Karena dikejar target dan kami perlu tambahan uang serta tidak ada penjelasan yang jelas maka KTP yang kami kumpulkan kami dapatkan dengan bermacam-macam cara antara lain menggunakan data KTP yang dikumpulkan untuk program KKS Jokowi, membeli dari oknum-oknum kelurahan atau RT, barter KTP dengan sesama rekrutan Teman Ahok di wilayah lain, membeli KTP dari beberapa counter pulsa dan cara-cara yang lain.

Dengan demikian maka sekian banyak KTP yang kami kumpulkan sebagian adalah KTP ganda dan sebagian besar lagi tidak diberikan oleh pemilik KTP karena kesadaran mereka. Untuk apa yang kami kerjakan kami sebagai PJ (penanggung jawab) kelurahan dibayar per 140 KTP per minggu sebesar Rp 500.000 atau Rp 2.000.000 per minggu dan jika mencapai target 140 x 4 minggu yaitu 560 KTP maka kami diberikan bonus Rp 500.000. Total PJ ada 153 (tercantum di situs http://www.temanahok dot com).

Di atas kami ada yang disebut korpos atau koordinator posko yabg mengawasi kerja kerja kami. Korpos membawahi antara 5 hingga 10 PJ. Korpos dibayar oleh Teman Ahok Rp 500.000 per bulan untuk tiap PJ di bawahnya. Kalau di bawah Korpos ada 5 PJ maka Korpos dapat Rp 2.500.000 per bulan. Kalau 10 PJ, maka korpos mendapatkan Rp 5.000.000 per bulan. Jumlah Korpos kami perkirakan ada 40 orang tersebar di 40-an kecamatan.

Selain upah atas KTP yang kami kumpulkan, kami juga mendapatkan upah untuk membagikan koran-koran Teman Ahok. Untuk setiap kali pembagian koran kami dibayar Rp 350.000. Sampai saat ini kami sudah 2 kali membagikan koran. Kami yang menjadi PJ diberikan juga printer dan laptop. Sementara untuk Korpos diberikan smartphone sebagian merek Lenovo.

Kalau Teman Ahok mengatakan bahwa jumlah KTP sudah mencapai 1 juta maka dugaan kami itu hanya klaim saja karena pengumpulan KTP tetap dilakukan sampai tanggal 28 Juni 2016. Kalau Teman Ahok mengatakan bahwa pengeluaran mereka untuk mengumpulkan 1 juta KTP hanya sekitar Rp 2,5 miliar atau Rp 5 miliar maka kami sampaikan bahwa itu tidak benar. Sebagai gambaran kasarnya kami akan sampaikan perkiraan perhitungan yang kami dapatkan dari apa yang kami terima, perkiraan harga dari jumlah barang-barang yang dicetak maupun barang-barang yang kami terima dan lain-lain.

Dalam perhitungan kasar dan sementara kami, kami perkirakan uang yang dikeluarkan oleh Teman Ahok dalam satu tahun berkisar paling sedikit Rp 12 miliar. Perincian perkiraan kami lampirkan.
Sebagian besar teman-teman kami yang direkrut Teman Ahok sudah mau keluar tetapi beberapa waktu lalu kami menerima informasi bahwa Teman Ahok akan memberikan THR. Sebagian teman-teman kami masih menunggu THR itu.

Selain alasan itu sebagian teman-teman kami yang belum mau keluar disebabkan adanya informasi ada bayaran yang lebih besar untuk pekerjaan selanjutnya. Pastinya kami tidak tahu tapi informasi yang beredar di orang-orang yang direkrut Teman Ahok nilainya antara Rp 20.000.000 hingga Rp 25.000.000 untuk setiap PJ. Dan ada nilai tertentu juga tapi belum kami ketahui yang diberikan untuk Korpos.
Jujur saja bahwa kami tidak bermaksud untuk membohongi rakyat, tapi kami perlu uang untuk kebutuhan hidup kami. Untuk itu kami mohon maaf pada orang orang yang tidak tahu KTP nya kami serahkan ke Teman Ahok.

Demikian pernyataan ini kami buat dengan sadar dan tanpa paksaan mana pun.

Lampiran:

Komponen biaya yang tidak dimasukkan dalam laporan keuangan Teman Ahok.
1. Honor PJ Posko : @ Rp. 2.500.000 x 153 posko = Rp. 382.000.000,- per bulan
2. Koordinator Posko : @ Rp. 500.000 x 153 PJ Posko = Rp. 76.500.000,- per bulan.
Total : Rp. 459.000.000,- per bulan
Total 1 Tahun : Rp. 459.000.000 x 12 bulan = Rp. 5.508.000.000,-

3. Biaya distribusi Koran TA : @Rp. 350.000,- x 2 terbitan x 153 Posko = Rp. 107.100.000,-
4. Biaya Cetak Koran TA : @Rp. 1600 x 200.000 eksemplar = Rp. 320.000.000,-
5. Pengadaan Laptop : @Rp. 5.000.000 x 40 unit = Rp. 200.000.000,-
6. Pengadaan Printer : @Rp. 700.000 x 153 unit = Rp. 107.100.000,-
7. Pengadaan HP : @Rp. 2000.000 x 46 unit = Rp. 92.000.000,-
8. Biaya Cetak Spanduk : @Rp. 100.000 x 500 buah = Rp. 50.000.000,-
9. Biaya Cetak Sticker : @Rp. 100 x 1.000.000 buah = Rp. 200.000.000,-
10. Biaya Pengadaan Seragam : @Rp. 100.000 x 500 org relawan = Rp. 50.000.000,-
Total : Rp.1.126.200.000,-

Total komponen biaya yang tidak dimasukkan dalam laporan Keuangan Teman Ahok : Rp. 5.508.000.000 + 1.126.200.000,- = Rp. 6.634.200.000,-

Klaim Catatan Laporan Keuangan Pengeluaran Teman Ahok Periode Juni 2015 s/d Desember 2015 yang dipublikasikan di situs http://www.temanahok dot com tercatat sejumlah Rp. 2.984.487.838,- Jika apa yang kami hitung tersebut ditambahkan dengan apa yang dituliskan dalam situs http://www.temanahok dot com dalam periode penghitungan mulai Juni 2015 s/d Desember 2015 (6 Bulan) adalah Rp. 6.634.200.000,- + Rp. 2.984.487.838,- = Rp. 9.618.687.838,-

Tetapi jika di penghitungan laporan keuangan http://www.temanahok dot com dihitung selama 12 bulan (Juni 2015 s/d Juni 2016) dengan asumsi dan kecenderungan pengeluaran serupa dengan 6 bulan pertama maka perkiraan total pengeluaran adalah : 6.634.200.000,- + Rp. 2.984.487.838,- (Juni s/d Desember 2015) + Rp. 2.984.487.838,- (asumsi kecenderungan pengeluaran Jan 2016 s/d Juni 2016) menjadi TOTAL Rp. 12.603.175.676

Eks relawan Teman Ahok buka-bukaan soal manipulasi pengumpulan KTP dukungan untuk Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Mereka menampik disetir kepentingan pihak mana pun. “Tidak ada. Acara hari ini kita patungan,” kata salah seorang eks relawan Teman Ahok yang membacakan pernyataan sikap eks Teman Ahok, Paulus Rominda, usai konferensi pers di Restoran Dua Nyonya, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Rabu (22/6/2016).

Dalam paparannya, Paulus mengungkap bahwa relawan Teman Ahok sebenarnya seperti karyawan saja. Mereka digaji bulanan dan juga ditarget. Mereka mendapat sejumlah perlengkapan untuk mengejar target itu. Namun karena mengejar target yang berat, mereka akhirnya melakukan banyak cara. Termasuk barter KTP dengan beberapa pihak. “Karena dikejar target dan kami perlu tambahan uang serta tidak ada penjelasan yang jelas, maka KTP yang kami kumpulkan kami dapatkan dengan bermacam-macam cara, antara lain menggunakan data KTP yang dikumpulkan untuk program KKS Jokowi, membeli dari oknum-oknum kelurahan atau RT, barter KTP dengan sesama rekrutan Teman Ahok di wilayah lain, membeli KTP dari beberapa counter pulsa dan cara-cara yang lain. Dengan demikian maka sekian banyak KTP yang kami kumpulkan sebagian adalah KTP ganda dan sebagian besar lagi tidak diberikan oleh pemilik KTP karena kesadaran mereka,” kata Paulus yang membacakan siaran pers.

Karena itu mereka meminta maaf kepada warga DKI yang tak tahu KTP-nya dimasukkan dalam KTP dukungan untuk Ahok. Mereka lagi-lagi menegaskan tidak dipaksa pihak mana pun untuk muncul dan membuat kehebohan seperti saat ini. “Jujur saja bahwa kami tidak bermaksud untuk membohongi rakyat, tapi kami perlu uang untuk kebutuhan hidup kami. Untuk itu kami mohon maaf pada orang orang yang tidak tahu KTP-nya kami serahkan ke Teman Ahok. Demikian pernyataan ini kami buat dengan sadar dan tanpa paksaan mana pun,” ungkap Paulus.

Eks relawan yang kecewa dengan Teman Ahok membongkar ‘rahasia’ di balik pengumpulan KTP dukungan untuk Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) maju Pilgub DKI. Sembari mengungkap kejanggalan itu, mereka meminta maaf kepada warga DKI yang tidak tahu KTP-nya diserahkan ke Teman Ahok. “Jujur saja bahwa kami tidak bermaksud untuk membohongi rakyat, tapi kami perlu uang untuk kebutuhan hidup kami. Untuk itu kami mohon maaf pada orang orang yang tidak tahu KTP-nya kami serahkan ke Teman Ahok. Demikian pernyataan ini kami buat dengan sadar dan tanpa paksaan mana pun,” demikian siaran pers eks relawan Teman Ahok yang juga dibacakan dalam konferensi pers di Restoran Dua Nyonya, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Rabu (22/6/2016).

Mereka mengawali konferensi pers dengan memaparkan pertimbangan mereka membongkar rahasia tentang manipulasi pengumpulan KTP dukungan untuk Ahok.

“Hal ini kami lakukan karena beberapa hal. Teman Ahok tidak demokratis dan transparan dalam keuangan. Kami tidak pernah diberitahu dari mana uang didapatkan dan berapa jumlahnya. Teman Ahok menyampaikan beberapa hal yang tidak sesuai fakta dan bagi kami itu kebohongan pada orang banyak. Kami takut tersangkut perkara korupsi dengan ramainya berita adanya indikasi uang Teman Ahok berasal dari aliran dana pengembang yang terkait dengan rencana reklamasi. Hati nurani kami memaksa kami untuk secara terbuka menyampaikan kesaksian ini sebagai wujud permintaan maaf kami pada masyarakat,”

kata salah satu eks relawan Teman Ahok yang mengenakan baju Teman Ahok, Paulus Romindo. Paulus dulunya adalah penanggung jawab di daerah Kamal, Jakarta Utara. Dalam siaran pers itu mereka mengungkap bahwa mereka sebagai relawan tetap menerima gaji, juga ditarget dalam mengumpulkan KTP. Nah karena target inilah mereka menggunakan beragam cara untuk mengumpulkan KTP.

“Karena dikejar target dan kami perlu tambahan uang serta tidak ada penjelasan yang jelas maka KTP yang kami kumpulkan kami dapatkan dengan bermacam-macam cara antara lain menggunakan data KTP yang dikumpulkan untuk program KKS Jokowi, membeli dari oknum-oknum kelurahan atau RT, barter KTP dengan sesama rekrutan Teman Ahok di wilayah lain, membeli KTP dari beberapa counter pulsa dan cara-cara yang lain. Dengan demikian maka sekian banyak KTP yang kami kumpulkan sebagian adalah KTP ganda dan sebagian besar lagi tidak diberikan oleh pemilik KTP karena kesadaran mereka,” katanya.

“Untuk apa yang kami kerjakan kami sebagai PJ Kelurahan (penanggung jawab) dibayar per 140 KTP per minggu sebesar Rp 500.000 atau Rp 2.000.000 per minggu dan jika mencapai target 140 x 4 minggu yaitu 560 KTP maka kami diberikan bonus Rp 500.000. Total PJ ada 153 (tercantum di situs http://www.temanahok dot com). Di atas kami ada yang disebut korpos atau Koordinator Posko yang mengawasi kerja kerja kami. Korpos membawahi antara 5 hingga 10 PJ. Korpos dibayar oleh Teman Ahok Rp 500.000 per bulan untuk tiap PJ di bawahnya. Kalau di bawah korpos ada 5 PJ maka korpos dapat Rp 2.500.000 per bulan. Kalau 10 PJ maka korpos dapatkan Rp 5.000.000 per bulan. Jumlah korpos kami perkirakan ada 40 orang tersebar di 40-an kecamatan,” bebernya.

Selain upah atas KTP yang mereka kumpulkan, mereka juga mendapatkan upah untuk membagikan koran-koran Teman Ahok. “Untuk setiap kali pembagian koran kami dibayar Rp 350.000. Sampai saat ini kami sudah 2 kali membagikan koran,” katanya. “Kami yang menjadi PJ diberikan juga printer dan laptop. Sementara untuk Korpos diberikan smartphone sebagian merek Lenovo,”j elasnya. “Kalau Teman Ahok mengatakan bahwa jumlah KTP sudah mencapai 1 juta, maka dugaan kami itu hanya klaim saja karena pengumpulan KTP tetap dilakukan sampai tanggal 28 Juni 2016,” demikian bagian kesimpulan mereka.

Dalam siaran pers ini mereka juga menyebut anggaran pengeluaran Teman Ahok yang diklaim hanya sekitar Rp 2,5 – 5 miliar tidak benar. Mereka juga memaparkan anggaran pengeluaran Teman Ahok. Di saat Teman Ahok merayakan terkumpulnya satu juta KTP dukungan, ada sejumlah eks relawan Teman Ahok yang membuka ‘rahasia’ di balik pengumpulan KTP. Ada apa sebenarnya?

Sejumlah eks relawan Teman Ahok menggelar konferensi pers di Restoran Dua Nyonya, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Rabu (22/6/2016). Mereka mengungkap bagaimana teknis pengumpulan KTP dukungan Ahok yang kini diklaim tembus 1 juta itu. Mereka menyebut ada sejumlah manipulasi dalam pengumpulan KTP. “Tidak sesuai fakta karena mereka banyak melakukan manipulasi terhadap 1 juta KTP,” kata salah satu eks pengurus Teman Ahok yang mengenakan baju Teman Ahok, Paulus Romindo, yang dulunya adalah penanggung jawab di daerah Kamal, Jakarta Utara.

“Di depan kita ada teman-teman yang berangkat dari bulan Juni 2015 sampai 2016 sebagai pengumpul KTP. Bagaimana mendapatkan KTP tersebut dan bagaimana memanipulasi KTP tersebut,” imbuhnya. Dia juga mengungkap bahwa Teman Ahok bukanlah relawan. Mereka juga digaji mingguan dan ditarget mengumpulkan KTP. Selain itu pengurus Teman Ahok di tingkatan tertentu juga mendapatkan fasilitas seperti laptop dan handphone.

Baca juga: Eks Teman Ahok Beri Pengakuan Digaji Rp 500 Ribu/Minggu dan Ditarget KTP. Mereka kemudian mengungkap alasan mereka membuka rahasia itu. “Karena kita tergerak, karena kita cinta sama Pak Ahok,” kata Paulus. “Kami mau sampaikan secara terbuka apa yang kami kerjakan dan apa yang kami terima dari Teman Ahok,” imbuhnya.Mereka punya alasan khusus kenapa akhirnya buka-bukaan. Rupanya mereka menilai Teman Ahok tidak demokratis dan tidak transparan dalam mengelola keuangan.

“Kami tidak pernah diberi tahu dari mana uang didapatkan dan berapa jumlahnya. Teman Ahok menyampaikan beberapa hal yang tidak sesuai fakta dan bagi kami itu kebohongan pada banyak orang. Kami takut tersangkut perkara korupsi dengan ramainya berita indikasi soal aliran dana pengembang. Hati nurani kami memaksa untuk secara terbuka menyampaikan kesaksian ini sebagai wujud permintaan maaf kepada masyarakat,” kata Paulus.

Lalu apakah ada pihak lain di belakang mereka? Mereka membantah dan menegaskan kegiatan hari ini dibiayai patungan. ebagian eks relawan Teman Ahok yang kecewa dengan transparansi Teman Ahok mbalelo dengan mengungkap rahasia manipulasi pengumpulan KTP. Sebagian di antara mereka ternyata masih terdaftar sebagai relawan Teman Ahok.

Sejumlah eks relawan Teman Ahok menggelar konferensi pers di Restoran Dua Nyonya, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Rabu (22/6/2016). Mereka mengungkap bagaimana teknis pengumpulan KTP dukungan Ahok yang kini diklaim tembus 1 juta itu. Mereka menyebut ada sejumlah manipulasi dalam pengumpulan KTP. Selain itu mereka juga mengungkap bahwa Teman Ahok bukanlah relawan. Mereka digaji mingguan dan ditarget mengumpulkan KTP. Selain itu relawan Teman Ahok di tingkatan tertentu juga mendapatkan fasilitas seperti laptop dan handphone.

Memang mereka pernah menjadi relawan Teman Ahok di wilayah. Bahkan ada yang masih terdaftar di website resmi Teman Ahok sebagai salah satu koordinator wilayah. Salah satunya adalah Dodi Hendaryadi yang tercatat sebagai penanggung jawab wilayah Pinang Ranti, Jakarta Timur. Nomor teleponnya juga terpampang. “Saya bulan Maret sudah keluar, menurut saya kalau saya sudah keluar ya dihapus sehingga tidak ditelepon lagi,” kata Dodi dalam konferensi pers itu.

Dodi bergabung dengan Teman Ahok tahun 2015 silam. Baginya pengumpulan KTP teman Ahok realnya tak sampai sejuta. “Nggak ada data real dan benar, karena saya baru ikut bulan Juni 2015, perlengkapan sudah ditarik semua. Intinya kalau pengumpulan KTP itu ya nggak ada yang real sampai korpos-nya juga,” ungkapnya.

Daftar Nama Pejabat Indonesia Yang Jadi Target Pembunuhan ISIS


Sejumlah pejabat sipil dan militer di Indonesia termasuk di dalam daftar target pembunuhan oleh jaringan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Informasi itu dirilis Daily Mirror, Kamis (9/6/2016), dengan merujuk informasi dari kelompok peretas pro-ISIS, United Cyber Caliphate (UCC), yang diperoleh grup media Vocativ.

Grup media Vocativ mengkhususkan dirinya dalam usaha menyelidiki sisi-sisi tersembunyi dari web. Namun, media ini tak mau memberikan nama-nama target serangan ISIS itu. Daftar nama-nama target ditulis dalam bahasa Inggris dan Arab sebagaimana diungkap oleh grup media tersebut. Menurut Daily Mirror, yang mengacu pada grup media Vocativ, kelompok peretas pro-ISIS telah merilis 8.318 warga Amerika Serikat pada “daftar target pembunuhan”.

Bersama para pejabat militer dan pemerintah, pengusaha, dan selebriti AS, terdapat juga nama-nama warga Kanada, Australia, dan Inggris. Mereka itu terdiri dari 7.848 warga AS, 312 warga Kanada, 39 warga Inggris, dan 69 warga Australia. Mereka menjadi target prioritas.

Detail target
Kelompok peretas UCC yang pro-ISIS itu merilis tidak saja nama-nama target, tetapi juga termasuk rincian alamat, kontak surat elektronik, pada aplikasi layanan pesan rahasia. ISIS mendesak para pendukungnya untuk “mengikuti ” mereka yang telah terdaftar dan “membunuh mereka sebagai balas dendam bagi umat Islam”. Demikian lapor Daily Mirror.

Para peretas pro ISIS relah merilis daftar nama, alamat, dan kontak surat elektronik orang-orang yang menjadi target pembunuhan oleh militan ISIS Daftar yang terungkap itu merupakan deretan terpanjang yang pernah dirilis kelompok yang berafiliasi dengan ISIS dan telah didistribusikan kepada militan mereka di berbagai negara target.

Namun, secara keseluruhan, target yang tercantum dalam daftar ISIS juga berasal dari berbagai negara, yakni Indonesia, China, Korea Selatan, Belgia, Brasil, Estonia, Perancis, Jerman, Yunani, Guatemala, Irlandia, Israel, Italia, Jamaika, Selandia Baru, Trinidad dan Tobago, serta Swedia. Sebagian besar mereka (yang menjadi target) adalah pejabat militer atau pemerintah atau orang-orang terkenal di mata publik, seperti keluarga raja atau selebriti.

Vocativ menemukan daftar target ISIS itu pada layanan aplikasi pesan bernama Telegram, awal pekan ini. Namun, Vocativ menolak merinci nama-nama target pembunuhan ISIS itu. Sebuah laporan dari perusahaan intelijen AS, Flashpoint, menyebutkan, UCC dibentuk pada April 2015 setelah beberapa kelompok peretas Islam radikal lain bergabung.