Tag Archives: Gunung Meletus

Gunung Sangiang Meletus … Aktivitas Wisata Pulau Komodo Lumpuh


Abu vulkanik akibat letusan Gunung Sangiang di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, menyebar hingga Taman Nasional Komodo dan Labuan Bajo. Di Taman Nasional Komodo, aktivitas kapal wisata dan nelayan berhenti. Di Labuan Bajo, abu vulkanik tak berdampak berarti.

“Yang terganggu di Pulau Komodo dan Pulau Rinca serta sejumlah desa di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Kapal wisata yang hendak ke Pulau Komodo dan Pulau Rinca serta kapal-kapal nelayan masih memantau abu vulkanik di sekitar wilayah Taman Nasional Komodo. Saat ini mereka belum berangkat karena masih memantau kondisi abu vulkanik,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Donatus Jabur saat dihubungi di Kota Labuan Bajo, Sabtu (31/5/2014).

Jabur menyampaikan, hari ini digelar rapat dengan berbagai stakeholder di Kabupaten Manggarai Barat untuk mengatasi bencana abu vulkanik yang sudah tersebar di Kota Labuan Bajo dan sejumlah kecamatan di bagian selatan Manggarai Barat. Menurutnya, hasil pengamatan petugas di lapangan, abu vulkanik Gunung Sangiang sangat mengganggu di sekitar Taman Nasional Komodo seperti di sejumlah desa di dalam kawasan tersebut.

Di Labuan Bajo, aktivitas masyarakat berjalan normal meski abu vulkanik menyebar di wilayah itu. Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, membentuk posko bencana di Kota Labuan Bajo. “Untuk saat ini kapal motor ferry penyeberangan dari Labuan Bajo ke pelabuhan Sape, Kabupaten Bima masih berlayar sesuai jadwal. Petugas Bencana di Kota Labuan Bajo terus memonitor abu vulkanik dari gunung Sangiang, Kabupaten Bima, Propinsi Nusa Tenggara Barat,” kata dia.

Gunung Sangiang di Sangaang Pulo, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, meletus pada pukul 15.55 Wita. Ketinggian asap mencapai 3.000 meter. Angin membawa asap ke arah barat hingga ke Kota Bima yang berjarak sekitar 70 kilometer. Kepala Badan Geologi Surono sewaktu dimintai konfirmasi di Mataram menjelaskan, status Gunung Sangiang waspada. “Masyarakat tidak boleh berada dalam radius 1,5 kilometer,” kata Surono melalui telepon, Jumat sore, 30 Mei 2014.

Saat berada di Gunung Ncai, sekitar 24 kilometer dari Gunung Sangiang, merasakan udara menjadi panas. Karena itu, penduduk di sekitar Kecamatan Wera telah mengungsi ke Kota Bima menggunakan kendaraan bermotor untuk menghindari awan panas. Tanda-tanda akan meletusnya Gunung Sangiang diketahui sejak pagi. Pagi tadi terjadi gempa. Lalu gunung itu mengeluarkan asap. “Tinggi sekali asapnya dan udara menjadi gelap. Kata warga sekitar, asapnya terasa agak pedas di mata,” ujar salah seorang staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bima, Wahab Usman.

Sangeang Pulo dihuni sekitar 42 kepala keluarga yang berprofesi sebagai petani. Sebagian warga yang yakin akan terjadi letusan sudah meninggalkan Sangeang Pulo menggunakan perahu motor. Kini aparat kepolisian dan TNI sedang berupaya melakukan penyelamatan warga. Sebanyak 133 warga yang tinggal di Sangeang Pulo, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, masih terjebak dan belum diketahui nasibnya hingga pukul 18.00 Wita. Jumat, 30 Mei 2014.

Gunung di pulau itu meletus pada sore harinya. Warga yang sebagian besar anak-anak itu masih menunggu evakuasi ke Sangeang Darat. Ke-133 orang tersebut berprofesi sebagai petani dan peternak sapi. Kawasan tersebut tertutup total oleh asap dan abu vulkanik. “Kita sedang melakukan evakuasi, dengan perahu milik nelayan, mulai pukul 17.00 Wita,” ujar Camat Wera Julfan Akbar malam ini, Jumat, 30 Mei 2014.

Ia membantah kabar dua orang meninggal dunia di Sangeang Pulo. “Ada satu yang terjatuh karena ketakutan, saya belum menerima laporan kepala desa,” kata Julfan. Sebelumnya dikabarkan dua orang yakni pria berusia 70 tahun bernama Ama Sandaka dan istrinya meninggal di lokasi. Kedua pasangan suami-istri tersebut memang tinggal di Sangeang Pulo sebagai penjaga Sangeang. “Menurut warga, Ama Sandaka juru kunci Gunung Sangiang,” kata Julfan.

Julfan mengatakan sejak gunung meletus sore tadi, petugas langsung mengevakuasi warga. Namun, tak sedikit yang tak dapat dievakuasi, “Hanya orang tua dan anak anak yang diselamatkan, terlebih dahulu,” ujar dia. Malam ini, di rumah sakit Kecamatan Wera terdapat 18 warga yang dirawat karena luka-luka. Sejumlah 15 orang di antaranya, memilih pulang karena hanya mengalami luka lecet. Sedangkan saat ini ada yang dirawat tiga orang. “Akan dievakuasi ke rumah keluarga mereka di Sangeang Darat,” ungkapnya.

Sementara itu, di pos Penanggulangan Bencana, ratusan warga Desa Sangeang Darat dievakuasi di rumah sanak keluarganya ke desa lain. Juru bicara Pemkab Bima Suryadin mengatakan pihaknya akan mengevakuasi warga ke lokasi yang aman. “Kami menghimbau warga tidak panik,” kata Suryadin. Rahmat, 30 tahun, salah satu warga yang mengungsi mengatakan alasan mengungsi karena takut letusan susulan yang mengeluarkan awan panas. “Lebih baik menghindar dulu mas, apalagi anak-anak saya masih kecil,” ujar dia. Pantauan di lapangan, warga tampak memadati jalanan.

Gempa Tektonik Picu Gunung Merapi Untuk Meletus Kembali


Aktivitas vulkanik Gunung Merapi meningkat sesaat sekitar pukul 04.25 – 04.35 WIB, Minggu (20/4/2014). Akibatnya, kawasan lereng Merapi di Kabupaten Magelang, sempat dilanda hujan pasir dan abu. Triyono, petugas pengamatan Gunung Merapi di Pos Ngepos, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, membenarkan bahwa ada pelepasan material yang cukup kencang dini hari tadi, dari puncak gunung teraktif di Indonesia itu.

“Sempat meningkat (aktivitas vulkanik Merapi), tapi sebentar sekitar 10 menit,” ujar Triyono, saat dihubungi, Minggu pagi. Triyono menyebutkan, kondisi puncak Merapi tidak terlihat jelas karena cuaca masih berkabut. Sehingga, pihaknya belum dapat memastikan ketinggian embusan material dari puncak Merapi. “Akan tetapi, hingga saat ini, status aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tetap normal,” tegasnya.

Ahmad Muslim, salah seorang warga Desa Srumbung, Kecamatan Srumbung mengaku merasakan hujan pasir dan abu di sekitar tempat tempat tinggalnya. Warga juga sempat berhamburan keluar rumah untuk melihat kondisi sebenarnya.

“Saya lihat ada embusan asap tebal berwarna kecokelatan membumbung tinggi dari puncak Merapi. Setelah itu hujan pasir dan abu,” ujar Muslim, yang rumahnya terletak di 12 kilometer dari puncak Merapi. Namun, Muslim bersama warga lainnya kembali melakukan aktivitas seperti biasanya karena hujan abu berangsur reda. Menurutnya, kondisi demikian sudah biasa terjadi sehingga warga tidak panik. “Kami sudah biasa, tapi kami juga tetap waspada,” katanya.

Hal yang sama dirasakan Irwanto Purwadi, warga Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan. Sekitar pukul 05.15 WIB, dia merasakan hujan abu meski masih tergolong tipis di sekitar rumahnya yang berjarak sekitar 11 kilometer dari puncak Merapi.

“Hujan abu tipis sekitar 10 menit tadi. Sekarang sudah reda. Warga sudah kembali beraktivitas seperti biasa,” kata Irwanto. Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Subandrio menyatakan, aktivitas erupsi kecil sebagai bentuk dari pelepasan gas dalam perut Gunung Merapi dipicu adanya gempa tektonik yang terjadi beberapa hari terakhir ini.

“Gempa tektonik yang beberapa hari ini terjadi memicu pelepasan gas yang ada di dalam perut Gunung Merapi,” kata Subandrio, Minggu (20/04/2014). Subandriyo menyebutkan, gempa tektonik yang terjadi mempercepat pelepasan gas dari dalam bumi sehingga pelepasan gas mendorong keluarnya material pijar. Kejadian itu antara lain berlangsung pada Minggu pukul 04.44 WIB. “Sebelum letusan kecil tadi pagi juga ada gempa tektonik,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa seusai erupsi kecil tersebut, aktivitas Merapi kembali normal. Untuk itu, masyarakat diimbau tidak khawatir berlebihan, tetapi tetap waspada. Meski tidak ada perubahan signifikan, Subandrio mengatakan bahwa sampai saat ini status Merapi masih dalam kondisi aktif normal.

Selain mengeluarkan material pijar, letusan kecil Merapi pada pagi tadi juga menimbulkan hujan abu di beberapa daerah di lereng Merapi. Letusan berlangsung selama kurang lebih 10 menit.

Gunung Api Lewotobi Perempuan Kini Dalam Status Waspada Akan Meletus


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan Gunung Api Lewotobi Perempuan yang terletak di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), berstatus waspada (level II).

Hal itu dikemukakan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT Tini Thadeus, Selasa, 11 Februari 2014. Mengutip data PVMBG, Tini menjelaskan bahwa naiknya status gunung itu karena terjadi peningkatan aktivitas vulkanik. “Gunung menyemburkan asap putih,” kata Tini.

Disebut Gunung Lewotobi Perempuan karena ada Gunung Lewotobi Laki-laki. Letak kedua gunung itu berdampingan di kawasan pegunungan di Kabupaten Flores Timur.

Menurut Tini, sesuai rekomendasi PVMBG, masyarakat yang bermukim di lereng Gunung Lewotobi Perempuan sudah diperingatkan untuk tetap waspada karena sewaktu-waktu bisa meletus. “Peringatan dini sudah kami sampaikan kepada masyarakat di kaki gunung itu,” ujarnya.

Tini menjelaskan, jika terjadi erupsi Gunung Api Lewotobi Perempuan, lahar yang menyembur akan mengarah ke bagian selatan Kabupaten Flores Timur atau ke arah lautan. Dia mengatakan masyarakat setempat sudah paham dan tahu cara menyelamatkan diri.

Meski demikian, BPBD NTT tetap menyiagakan pola penanggulangan bila benar-benar terjadi erupsi guna melakukan berbagai bentuk penanganan, termasuk mengevakuasi warga.

Adapun Gunung Api Rokatenda yang meletus pada akhir Desember 2013 lalu masih mengeluarkan api dari kawah gunung itu. Karena itu, masyarakat tetap diminta terus waspada dan tidak mendekati gunung tersebut. “Kami sudah memasang tanda larangan mendekati gunung api itu,” tutur Tini.

Masyarakat Pulau Palue, pulau yang menjadi lokasi Gunung Rokatenda, sebelumnya telah mengungsi ke Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka. Namun mereka memilih kembali ke tempat asal setelah status gunung itu diturunkan.

Gunung Sangiang Dalam Status Waspada Akan Meletus


Hasil pemantauan tiga gunung berapi di Nusa Tenggara Barat (NTB), Sangeang Api di Kabupaten Bima dinyatakan status waspada. Sedangkan Tambora di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima dinyatakan aktif normal. Demikian pula Rinjani di Lombok dalam keadaan aktif normal.

Penjelasan kondisi tiga gunung api tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pertambangan dan Energi NTB M Husni setelah melaporkan pemantauannya kepada Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi. Husni diminta memantau aktivitasnya setelah terjadinya letusan gunung Sinabung di SumatraUtara dan gunung Kelud di Kediri Jawa Timur. “Perkembangan keadaan ini perlu disosialisasikan kepada masyarakat,” kata Husni, melalui keterangan pers yang dib erikan kepada Tempo, Ahad 16 Februari 2014.

Gunung Sangiang yang berada di Pulau Sangiang sekitar 60 kilometer utara kota Bima. Memiliki ketinggian 1.842,05 meter. Luas pulaunya 215 kilometer persegi. Lokasinya ditempuh menggunakan perahu motor selama 1,5 jam dari daratan Wera. Semula diperkirakan ketinggiannya 4.000 meter di atas permukaan laut. Letusan terjadi mulai 1953, 1964, 1985, 1987, dan 1998.

Sementara Gunung Tambora letusannya mulai tercatat 1812-1813. Pada tahun 1815 tercatat sebagai letusan terdahsyat di dunia. Berlangsung selama tiga hari, 10-12 April 1815, mengakibatkan Surabaya dan Madura gelap gulita selama tiga hari.

Sewaktu meletusnya gunung Tambora 10 April 1815, menewaskan penduduk setempat diantara 10.000 jiwa penduduk Kerajaan Tambora atau 117.000 jiwa penduduk tiga kerajaan di sekitarnya. Lainnya adalah Kerajaan Pekat dan Kerajaan Sanggar. Akibat lainnya adalah hilangnya musim semi di Eropah dan hilangnya kota Tambora disebut sebagai Pompeii of the East. Pompeii dikubur sedalam 23 meter akibat letusan gunung Vesuvius di Italia. Letusan gunung api Tambora yang diperkirakan sebelum meletus tingginya 4.200 meter atau lebih tinggi dari gunung Rinjani di Lombok.

Gunung Rinjani, terakhir dikabarkan oleh para ahli kegunungapian, Rinjani tua diperkirakan semula memiliki ketinggian 5.000 meter. Letaknya di sebelah barat Rinjani yang sekarang. Akibat letusan besar dan kuat (paroximal eruption) diikuti runtuhnya tubuh gunung (collapse) telah mengakibatkan lebih dari sebagian tubuhnya hilang dan sisanya berupa kaldera Segara Anak yang diikuti degan pembentukan gunung api baru: Gunung Barujari dan Gunung Rombongan.

Berdasarkan sejarah erupsinya, Perekayasa Utama Fungsional Museum Geologi Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral Heryadi Rachmat, gunung api Rinjani, gunungapi Barujari dan gunung api Rombongan sebelum abad ke-19 tidak tercatat sejarah letusannya. Sehingga tidak diketahui sejauh mana gunung api ini pernah menimbulkan korban. “Baik berupa korban jiwa maupun kerugian harta benda,” ujarnya.

Kegiatan gunung api Rinjani mulai ditulis oleh Zollinger (1846) yang mengatakan bahwa pada waktu itu keadaan gunung dalam stadia fumarola. Selanjutnya letusan yang terjadi hanya berlangsung di Segara Anak.(gunung api Baru jari dan Rombongan)

Dari catatan sejarah letusannya, gunung api ini telah meletus sebanyak sembilan kali di antaranya adalah letusan 1884, 1901, 1906, 1909, 1915, 1944, 1966, 1988 dan terakhir 1994 yang menghasilkan beberapa kawah, kubah lava, endapan piroklastik, lahar disertai munculnya bukit kecil. Yang merupakan hasil letusan kawah samping terletak di sebelah barat 1.175 meter dari puncak gunung api Barujari. Di samping itu hembusan solfatara dan fumarola sekeliling dasar dan lereng kawah/kubah gunung api Barujari terlihat aktif mengeluarkan asap putih-tipis sampai tebal dengan suhu berkisar antara 45-110 C.

57 Penerbangan Dari Bali Ke Jawa Akibat Letusan Gunung Kelud


Dampak abu Kelud juga berimbas pada penerbangan di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Ada sejumlah tujuan penerbangan yang dibatalkan. “Memasuki hari kedua setelah erupsi Gunung Kelud, beberapa penerbangan masih mengalami pembatalan. 57 Penerbangan tujuan Cengkareng- Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya dibatalkan baik yang datang maupun yang berangkat dari Bandara I Gusti Ngurah Rai,” kata Co. General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai, I.G.N dalam siaran pers, Sabtu (15/2/2014).

Salah satu alasan pembatalan penerbangan itu, bandara-bandara yang terkena dampak erupsi Gunung Kelud diperpanjang penutupannya. Hal ini menyebabkan penerbangan dari dan tujuan Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Bandung dan Jakarta belum dapat beroperasi normal.

Penerbangan yang membatalkan penerbangannya antara lain, Garuda Indonesia sebanyak 14 penerbangan, Citilink 6, Air Asia 8 dan Lion Air (Wings Air) sebanyak 29 penerbangan. Sedang penerbangan dari Bali ke luar negeri hari ini sudah kembali normal, bahkan yang kemarin dibatalkan hari ini mengajukan penambahan penerbangan.

“Operasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai sendiri cukup stabil dan kondusif. Secara aktif, kami terus umumkan kepada penumpang dan calon penumpang atas keterlambatan atau pembatalan jadwal penerbangan” tambah Ardita. Aktivitas Gunung Kelud berangsur melemah. Jarak pandang untuk penerbangan juga sudah tidak mengalami masalah.

“Saya kira untuk saat ini setelah tidak adanya lagi erupsi dari Gunung Kelud, jarak pandang untuk penerbangan sudah tidak mengalami masalah,” ujar Kepala Pusat Komunikasi Kemenhub, Bambang S Ervan, Sabtu (15/2/2014). Menurut dia, pihak bandara masih sibuk membersihkan run off landasan pacu dari sisa abu Gunung Kelud. “Ya, kita harapkan tidak ada erupsi lagi. Sekarang ini pihak bandara tengah membersihkan landasan pacunya,” ujarnya.

“Kalau terkait debu, saya kira sudah tidak mengganggu lagi. Tetapi kalau faktor cuaca, kita tidak mengetahui karena itu juga bisa mengganggu jadwal penerbangan,” ujarnya.

Kediri Hujan Kerikil Akibat Letusan Gunung Kelud


Letusan Gunung Kelud yang baru saja terjadi sudah mulai berdampak kepada warga Kediri. Beberapa daerah hingga di kawasan Kota Pare, Kediri, mulai dilanda hujan kerikil.

Salah satu warga Pare, Ajeng Pinto, mengatakan, hujan kerikil terus berlangsung sejak pukul 23.30 WIB. “Semula saya kira suara hujan besar saja, ternyata hujan kerikil. Kerikilnya besar-besar, ini warga kampung sudah mulai panik,” ujar Ajeng saat dihubungi, Kamis (13/2/2014) malam.

Menurutnya, hujan kerikil terjadi sangat lebat sehingga warga mulai khawatir kekuatan atap tidak bisa menahan hujan kerikil tersebut.

Gunung Kelud mulai meletus dan mengeluarkan ratusan ribu kubik material vulkanik, Kamis (13/2/2014) sekitar pukul 23.00. Sebelumnya, gunung tersebut mengeluarkan beberapa kali dentuman disertai dengan beberapa kilatan.

Sementara itu, ribuan warga di lereng Kelud memadati jalan menuju tempat evakuasi. Mereka dari beberapa desa di Kecamatan Ngancar. Untuk saat ini, warga Kecamatan Ngancar ditempatkan di Balai Desa Tawang di Kecamatan Wates, Kediri.

Letusan Gunung Kelud juga berimbas ke Kota Batu di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Hujan abu telah membuat kota ini bak “kota mati”. Jalur dari Kota Batu di Kabupaten Malang menuju Kota Kediri pun ditutup untuk sementara.

Dalam pantauan, warga enggan meninggalkan rumah mereka karena pekatnya abu dari letusan Gunung Kelud. Jarak pandang jalanan di wilayah yang berjarak tak kurang dari 50 kilometer dari kawah Gunung Kelud ini hanya berkisar puluhan meter.

Kondisi tersebut mengakibatkan lalu lintas dari Kabupaten Malang ke Kota Kediri lumpuh. Para pengemudi tak berani ambil risiko menembus kepekatan abu. Kapolres Batu AKBP Windiyanto Pratomo kemudian juga memastikan jalur penghubung antara Kota Batu di Kabupaten Malang ke Kabupaten Kediri telah ditutup untuk sementara. “Ditutup dari Batu sampai Kasembon (kedua kecamatan ada di Kabupaten Malang, red), karena abu yang cukup tebal,” ujar dia, Jumat (14/2/2014) dini hari.

Pengungsi

Sementara itu, pengungsi dari kawasan terdampak letusan Gunung Kelud juga sudah mulai memenuhi pos-pos pengungsian. Salah satu pos pengungsian itu berada di kompleks kantor Kecamatan Tujon, Kabupaten Malang. Saat ini ratusan pengungsi telah memadati gedung kantor dan dua tenda di lapangan kompleks tersebut. Penanganan lokasi pengungsian dikoordinasi oleh personel TNI. Dapur umum juga sudah didirikan.

Beberapa pengungsi harus dilarikan ke rumah sakit di Kota Batu, setelah mereka pingsan karena mengalami sesak napas. Di antara mereka terdapat juga anak-anak.

Sejarah Panjang Letusan Gunung Kelud Beserta Keanehannya


Gunung Kelud yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Kediri, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Blitar, di Jawa Timur, meletus lagi pada Kamis (13/2/2014) pukul 22.50 WIB. Letusan ini mengembalikan ciri historis panjang letusan gunung ini, yang hanya berjeda perubahan letusan pada 2007. Gunung Kelud merupakan gunung api bertipe strato. Lokasinya berada di 7 derajat 56 menit Lintang Selatan dan 112 derajat 18 menit 30 detik Bujur Timur. Gunung Kelud memiliki ketinggian 1.731 meter di atas permukaan laut.

Letusan terakhir Gunung Kelud sebelum Kamis ini adalah pada 3-4 November 2007. Letusan tersebut ibarat jeda dari ciri khas letusan Gunung Kelud yang biasanya adalah eksplosif, termasuk letusan sekarang. Pada 2007, hanya terjadi letusan efusif, yang memunculkan kubah lava di tengah lokasi yang dulu adalah danau kawah Gunung Kelud.

Sejarah panjang dan anomali letusan Gunung Kelud

Catatan tentang letusan Gunung Kelud terlacak sejak tahun 1000, seperti termuat dalam buku Data Dasar Gunung Api Indonesia yang diterbitkan Kementerian Energi, Sumber Daya Alam, dan Mineral pada 2011. Ciri letusan eksplosif gunung ini setidaknya diketahui sejak 1901. Letusan pada 2007, merujuk ungkapan mantan Kepala Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Surono, adalah anomali.

“Penyelewengan” ciri khas pada 2007 itu pun menurut Surono bukan karena ada hal gaib atau tak dapat dijelaskan. Letusan pada 2007 tidak mempertontonkan letusan hebat sebagaimana setiap kali Gunung Kelud meletus lebih karena ternyata ada retakan di jalur lava gunung itu, yang membuat daya dorong letusan sudah merembes keluar. Karenanya, daya letus gunung pun jauh berkurang.

Pada 1990, letusan terakhir sebelum letusan Kamis malam, setidaknya 200 juta ton meter kubik material padat terlontar dari kawah Gunung Kelud. Sebagai pembanding, letusan Gunung Merapi pada 2010 “hanya” melontarkan 150 juta meter kubik material padat.

Ribuan korban jiwa dan terowongan Ampera

Dengan ciri letusan yang eksplosif, Gunung Kelud adalah salah satu gunung api aktif yang mencatatkan ribuan korban jiwa dalam sejarah panjang letusannya, meski dampaknya belum seluar biasa letusan Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat ataupun Gunung Krakatau di Selat Sunda yang sampai mengguncang dunia.

Sebelum letusan pada 2007, Gunung Kelud dikenal sebagai gunung api dengan kawah berupa danau. Menurut Surono dalam sebuah wawancara, kedahsyatan dampak letusan dengan tipe kawah semacam Gunung Kelud ini akan berbanding lurus dengan volume air pada danau kawah.

Letusan efusif pada 2007, telah menyurutkan danau kawah di Gunung Kelud, hanya menyisakan genangan yang bahkan nyaris kering. Namun, sebelumnya upaya untuk menyusutkan volume danau kawah ini juga sudah dilakukan pemerintah, yaitu dengan pembangunan terowongan pembuangan air. Proyek pertama dibangun pada masa pemerintahan kolonial, pada 1926.

Terowongan tersebut dibangun setelah letusan Gunung Kelud meletus pada 1919 yang menewaskan tak kurang dari 5.160 orang. Terowongan yang dibangun pemerintah kolonial itu sempat tertutup material vulkanik pada letusan 1966 meski lolos dari kerusakan akibat letusan pada 1951. Meski letusan 1919 sudah memakan korban jiwa sedemikian banyak, letusan Gunung Kelud yang paling banyak menewaskan berdasarkan catatan yang ada adalah letusan pada 1586, dengan lebih dari 10.000 orang jadi korban.

Terowongan pengalir air dari danau kawah buatan 1926 masih berfungsi sampai sekarang. Namun, setelah letusan 1966, Pemerintah Indonesia membangun terowongan baru yang lokasinya 45 meter di bawah terowongan lama. Terowongan baru yang rampung dibangun pada 1967 ini diberi nama Terowongan Ampera. Fungsinya menjaga volume air danau kawah tak lebih dari 2,5 juta meter kubik.

Pada letusan 1990 yang berlangsung selama 45 hari, material vulkanik yang dilontarkan letusan Gunung Kelud mencapai 57,3 juta meter kubik. Namun, lahar dinginnya mengalir sampai 24 kilometer melewati 11 sungai yang berhulu di Gunung Kelud. Terowongan Ampera pun sempat tersumbat, dan revitalisasinya baru rampung pada 1994.