Categories
Transportasi

Penumpang Lion Air Yang Delay Membludak … Penumpang AirAsia Terpaksa Pindah Terminal


Ratusan penumpang yang masih tertahan di Terminal 3 Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, berimbas kepada penumpang Air Asia. Penerbangan internasional Air Asia terpaksa harus pindah konter check in. “Penumpang Air Asia dengan destinasi luar negeri dipindahkan ke Terminal 2 untuk check in,” kata juru bicara Indonesia Air Asia, Malinda Yasmin, saat dihubungi Jumat, 20 Februari 2015.

Menurut Malinda, penumpang yang kena imbas adalah penumpang dengan tujuan Jakarta-Kuala Lumpur, Jakarta-Bangkok, dan Jakarta-Singapura. Namun, mereka masih tertahan di Terminal 3 karena persiapan konter check in Terminal 2 belum selesai. “Untuk sementara masih diusahakan check in di Terminal 3, nanti kami yang akan bawa mereka ke Terminal 2,” kata dia.

Selain itu, ada beberapa keberangkatan Air Asia yang terpaksa tertunda. Penerbangan domestik tersebut adalah QZ7556 Jakarta-Yogyakarta (waktu keberangkatan 05.50 WIB, tertunda 158 menit), QZ7510 Jakarta-Denpasar (waktu keberangkatan 06.00 WIB, tertunda 130 menit), QZ7680 Jakarta-Surabaya (waktu keberangkatan 07.20 WIB, tertunda 90 menit). Dia mengatakan saat ini seluruh penerbangan tersebut sudah diberangkatkan.

Adapun penumpang Lion Air dengan berbagai tujuan keberangkatan masih memenuhi Terminal 3 Soekarno-Hatta. Mereka adalah penumpang yang telantar mulai dari kemarin hingga hari ini. Berdasarkan pantauan, Kementerian Perhubungan ikut turun mengurai keruwetan tersebut. Direktur Keamanan Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Yurlis Hasibuan sudah berada di Terminal 3 untuk berdiskusi dengan Lion Air, Angkasa Pura II, dan ratusan penumpang.

Akibat delay berkepanjangan dari maskapai Lion Air di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, pemerintah hari ini langsung memeriksa kesiapan sejumlah pesawat Lion Air. “Ini kami mau periksa. Itu, kok, banyak pesawat Lion yang parkir?” kata Muzaffar Ismail, Direktur Keselamatan dan Kelaikan Pesawat Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, sambil menunjuk ke arah apron Terminal 3 Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, Jumat, 20 Februari 2015.

Berdasarkan pantauan, terdapat sembilan pesawat Lion yang saat ini sedang terparkir di apron Terminal 3. Muzaffar mengaku ingin memeriksa kelaikan terbang pesawat-pesawat tersebut. Menurut Muzaffar, pemeriksaan itu sekalian dilakukan karena ada tiga pesawat Lion terkena foreign object damage (diduga burung), enam pesawat juga sedang masuk perawatan, dan satu pesawat rusak. Kondisi tersebut menjadi penyebab delay berkepanjangan sejak Rabu, 18 Februari 2015.

Sebelumnya, Direktur Umum PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) Edward Sirait menjelaskan, akibat dua pesawat Lion rusak kena obyek asing pada Rabu pagi, 18 Februari 2015, sejumlah jadwal penerbangan Lion hingga kemarin mengalami keterlambatan. “Ada dua pesawat kena foreign object damage Rabu pagi kemarin. Rentetannya sampai hari ini (Kamis),” kata Edward saat dihubungi, Kamis, 19 Februari 2015.

Menurut Edward, akibat serangan benda asing itu, sejumlah komponen pesawat harus diganti. Selain itu, ada enam pesawat yang sedang dalam perawatan. Akibatnya, total ada sekitar 1.200 penumpang yang terkena dampak dari keterlambatan atau penundaan keberangkatan maskapai tersebut.

Penumpukan penumpang di Bandara Soekarno-Hatta karena kacaunya penerbangan maskapai Lion Air masih terjadi hingga pagi ini. Ribuan penumpang yang menumpuk di Terminal IA, B, dan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta menunggu kepastian untuk diterbangkan. “Kondisinya masih penuh sesak. Ribuan penumpang masih memenuhi terminal keberangkatan 1A, B, dan 3,” ujar Manajer Senior Pelayanan Bandara Soekarno-Hatta Andika Nuryaman.

Belum terurainya masalah penumpukan penumpang ini, menurut Andika, karena jadwal penerbangan Lion Air belum normal. Sejak tadi malam hingga pagi ini, kata Andika, para penumpang pesawat tujuan Kalimantan, Padang, Jambi, Banjarmasin, Semarang, Solo, Yogyakarta, Bali, dan Lombok masih tertahan di Soekarno-Hatta. “Kalau semalam dari enam flight yang delay, baru satu penerbangan ke Surabaya yang diberangkatkan pukul 06.45 tadi,” kata Andika.

Andika mengakui situasi di Terminal IA tadi malam hingga dinihari nyaris tidak terkendali karena penumpang pesawat marah dan menyandera petugas Lion Air. “Ratusan penumpang yang telah berjam-jam menunggu minta kepastian untuk terbang. Karena tak dapat informasi yang jelas, mereka marah, melawan petugas dan polisi, serta menyandera petugas,” katanya. Amarah penumpang tujuan Surabaya itu mulai surut sekitar pukul 3 dinihari ketika pihak Lion Air menyampaikan bahwa mereka akan diterbangkan pukul 06.45.” Sudah terbang,” kata Andika.

Namun masih banyaknya penerbangan yang delay membuat ruang tunggu, ruang check-in, dan lobi di Terminal IA dan B, serta Terminal 3 penuh sesak. “Karena banyaknya penumpang yang menunggu, jadi cukup mengganggu layanan lainnya,” kata Andika. Ini berdampak pada kenyamanan pengguna jasa bandara lainnya. “Kami berusaha menenangkan para penumpang dengan memberikan makan dan minuman,” katanya. Manajer Humas dan Protokol Bandara Soekarno-Hatta menambahkan, ruang check-in penumpang Lion Air dibatasi dengan tali agar tidak mengganggu proses check-in penerbangan maskapai lainnya. “Sekarang lebih tertib,” katanya.

Bayi Meninggal Dalam Pesawat Lion Air Tujuan Jakarta Padang


Bayi yang berusia belum genap satu tahun meninggal di pesawat Lion Air tujuan Jakarta-Padang pagi tadi, Ahad, 13 April 2014. Belum diketahui apa penyebab kematian bayi itu, namun Lion Air menganggap kejadian tersebut sebagai natural death (kematian alami).

“Saya cek memang ada yang meninggal, kami prihatin dan turut berdukacita, tapi tidak ada insiden dalam penerbangan tersebut, sehingga dalam istilah kami, kejadian tersebut natural death,” kata Direktur Umum Lion Air Edward Sirait kepada Tempo, Ahad, 13 April 2014.

Menurut Edward, penerbangan tujuan Padang yang berangkat pada pukul 08.10 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta tersebut tidak mengalami kendala apa pun. “Semua berjalan normal, tidak ada insiden sampai ketika mendarat,” ujar dia.

Karena itu, pihak maskapai juga belum memberi kompensasi kepada keluarga almarhum. Kejadian ini pun tidak merupakan kategori yang dijamin asuransi karena bukan tergolong kecelakaan pesawat. “Sama saja seperti orang sakit jantung yang meninggal di pesawat,” ujar dia.

Ia enggan mengomentari lebih lanjut soal isu kekurangan oksigen yang menyebabkan bayi meninggal. “Kalau ada kekurangan oksigen, artinya ada korban lain, tapi ini tidak,” ujar dia. Sejauh ini, pihak keluarga juga tidak menuntut pertanggungjawaban. “Tadi setelah mendarat, jenazah langsung dibawa oleh keluarga.”

Categories
Berbudaya Transportasi

Lion Air Tidak Dapat Sanksi Tegas Dari Menteri Perhubungan Meski Bagasi Penumpang Kerap Hilang


Para penumpang maskapai penerbangan Lion Air sering sekali dirugikan karena hilangnya dan rusaknya bagasi. Namun, sayangnya Kementerian Perhubungan tidak memberikan sanksi tegas. “Kita serahkan kepada masyarakat,” jelas Kapuskom Kemenhub Bambang S Ervan saat berbincang Senin (10/2/2014).

Bambang mengelak dengan mengatakan sudah ada Peraturan Menteri (Permen) yang mengatur mengenai tanggung jawab bagasi. Masyarakat diminta berinisiatif menempuh jalur hukum secara mandiri. “Karena kan sudah jelas dalam Permen no 77 2011 itu. Jadi jika masyarakat tidak puas ya berhak membawa ke jalur hukum,” ujar Bambang.

Dalam Peraturan Menteri No 77 Tahun 2011 ayat tiga tentang Penerbangan disebutkan bahwa tanggung jawab pengangkut adalah kewajiban perusahaan angkutan udara untuk mengganti kerugian yang diderita oleh penumpang dan atau pengirim barang serta pihak ketiga.

Bambang mengatakan penumpang berhak membawa permasalahan tersebut ke jalur hukum jika penumpang tidak puas. Walaupun barang atau kerugian yang dialami sudah diganti oleh pihak penerbangan. “Maka masyarakat jangan diam saja jika merasa dirugikan,” imbuh Bambang.

Diberitakan sebelumnya, belasan penumpang Lion Air yang mendarat dari Palembang dan Padang di Bandara Soekarno Hatta protes karena barang bawaan mereka di bagasi hilang. Pihak Lion Air berjanji akan menelusuri kasus tersebut. “Informasinya akan saya cek terlebih dahulu di lapangan,” kata Direktur Umum Lion Air Edward Sirait saat dikonfirmasi, Minggu (9/2/2014). Edward berjanji memberikan informasi namun hingga pukul 18.30 WIB, dia tak bisa dihubungi kembali.

Para penumpang yang kehilangan itu menunggu hingga 1,5 jam di Lost And Found Terminal 1 B Bandara Soekarno Hatta, Tangerang. Sekitar 4 pegawai Lion Air yang menemui mereka mencatat protes-protes penumpang dan berjanji akan menyelesaikannya dalam dua minggu. Namun, para penumpang tidak terima dengan opsi yang ditawarkan pihak Lion Air. “Mana ini tanggung jawab atasan Bapak. Jangan hanya diam, Pak,” kata salah seorang ibu berambut pendek yang mengaku kehilangan beberapa celana dalam.

Para penumpang maskapai penerbangan yang merasa dirugikan karena kehilangan atau bagasi mengalami kerusakan berhak menerima ganti rugi. Dan pihak maskapai juga wajib membayarkan uang tunggu jika ada masa tunggu ganti rugi. “Pihak maskapai diwajibkan untuk melakukan penggantian dan memberikan uang tunggu jika ada masa tunggu,” jelas Kapuskom Kemenhub Bambang S Ervan saat dihubungi, Senin (10/2/2014).

Bambang mengutarakan, peraturan tersebut sudah jelas tertuang dalam Peraturan Menteri No 77 Tahun 2011 ayat tiga tentang Penerbangan. Bunyi ayat itu yaitu Tanggung jawab pengangkut adalah kewajiban perusahaan angkutan udara untuk mengganti kerugian yang diderita oleh penumpang dan atau pengirim barang serta pihak ketiga.

“Jika tidak direspon, masyarakat berhak melakukan komplain dan masyarakat berhak menuntut jalur hukum,” imbuh Bambang. Bambang menjelaskan, penumpang berhak membawa permasalahan tersebut ke jalur hukum jika penumpang tidak puas. Walaupun barang atau kerugian yang dialami sudah diganti oleh pihak penerbangan. “Maka masyarakat jangan diam saja jika merasa dirugikan,” imbuh Bambang.

Para penumpang yang kehilangan atau mengalami rusak bagasi jangan hanya diam. Anda berhak menuntut maskapai penerbangan yang merugikan tersebut.

Kapuskom Kemenhub Bambang S Ervan menjelaskan dalam Peraturan Menteri No 77 Tahun 2011 ayat tiga tentang penerbangan, tanggung jawab pengangkut adalah kewajiban perusahaan angkutan udara untuk mengganti kerugian yang diderita oleh penumpang dan atau pengirim barang serta pihak ketiga. Untuk itu, pihak maskapai diwajibkan untuk melakukan penggantian dan memberikan uang tunggu jika ada masa tunggu.

“Jika tidak direspon, masyarakat berhak melakukan komplain dan masyarakat berhak menuntut jalur hukum,” jelas Bambang saat dihubungi, Senin (10/2/2014). Bambang menjelaskan, penumpang berhak membawa permasalahan tersebut ke jalur hukum jika penumpang tidak puas. Walaupun barang atau kerugian yang dialami sudah diganti oleh pihak penerbangan.

“Maka masyarakat jangan diam saja jika merasa dirugikan,” imbuh Bambang. Diberitakan sebelumnya, belasan penumpang Lion Air yang mendarat dari Palembang dan Padang di Bandara Soekarno Hatta protes karena barang bawaan mereka di bagasi hilang. Pihak Lion Air berjanji akan menelusuri kasus tersebut.

Para penumpang yang kehilangan itu menunggu hingga 1,5 jam di Lost And Found Terminal 1 B Bandara Soekarno Hatta, Tangerang. Sekitar 4 pegawai Lion Air yang menemui mereka mencatat protes-protes penumpang dan berjanji akan menyelesaikannya dalam dua minggu. Namun, para penumpang tidak terima dengan opsi yang ditawarkan pihak Lion Air.

Categories
Transportasi

Perhiasan Emas Senilai 500 Juta Hilang Di Bagasi Pesawat Lion Air


Polisi menangkap tiga porter Lion Air yang membongkar bagasi berisi perhiasan milik istri perwira di Polda Kalimantan Barat (Kalbar). Pihak Lion Air menyatakan akan mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan group handling yang menaungi tiga pelaku tersebut. “Kita pasti akan tegur perusahaannya agar secara kontinyu mengawasi dan mengecek setiap porter di bandara seluruh Indonesia,” kata Direktur Utama Lion Air Edward Sirait, Minggu (5/1/2014).

Tiga porter itu adalah Sopandi, Agung Suheri, dan Pitriadi yang sehari-hari bertugas di bandara Pontianak. Bila perusahaan Pratita Titian Nusantara yang menaungi para pelaku itu tidak mengindahkan teguran, tak menutup kemungkinan Lion Air akan memutuskan hubungan kerja. “Kita kirimi surat dan kalau perlu ancaman pemutusan kerja sama. Karena peristiwa ini juga merugikan pihak kami,” kata Edward.

Edward menambahkan, pelaku mengaku melihat gembok koper korban bernama Titi Yusnawati itu telah rusak. Namun polisi tidak percaya keterangan itu hingga akhirnya pelaku mengakui perbuatannya. “Waktu lapor di Jakarta, kita langsung sweeping ternyata tidak ada. Lalu dikejar di Pontianak, hampir nggak ketemu, tapi akhirnya dapat. Dia mengaku gembok kopernya sudah rusak dan ada barang hilang isi perhiasan gitu. Kalau nilai barangnya kita tak ada dokumennya,” tutup Edward.

Titi adalah istri dari Kasubdit III Dirnarkoba Polda Kalbar AKBP Idha Endi Prasetyono. Para pelaku pun sudah ditahan di Polda Kalbar. Emas ratusan juta itu disebutkan bukan milik Titi atau suaminya, melainkan keluarganya. Emas-emas itu rencananya akan digunakan adik Titi dalam acara pernikahan di Bekasi, Jawa Barat.

Peristiwa penangkapan tiga porter Lion Air yang mencuri perhiasan senilai Rp 500 juta dari bagasi istri seorang perwira Polda Kalbar dilakukan kurang dari tiga hari. Polri pun menjelaskan hal ini terjadi bukan karena korbannya memiliki relasi dengan pimpinan polisi di daerah.

“Tolong diberikan informasi ke saya, kasus mana yang tidak bisa diungkap polisi? Artinya tidak boleh ada diskriminasi dalam pengungkapan kasus,” kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Ronny F Sompie, Minggu (5/1/2014). Korban bernama Titi Yusnawati berangkat dari Pontianak, Kalbar, menggunakan Lion Air JT 715 pada hari Jumat (3/1) menuju Jakarta. Ia baru sadar perhiasan ratusan juta di bagasinya hilang saat meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta.

“Jadi ini cepat karena korban langsung melapor ke kepolisian bandara. Diterima dan ditindaklanjuti ke perusahaan penerbangan. Lalu berkoordinasi antara bandara keberangkatan dengan bandara kedatangan jadi ketemu,” kata Ronny.

Ronny mengatakan kasus bagasi hilang atau barang di dalam bagasi hilang tidak semuanya cepat terungkap. Cepat atau tidaknya kasus ini terungkap tergantung pada korban yang membuat laporan segera atau menundanya. “Artinya petugas yang menerima laporan masyarakat, siapa pun dia, harus bertindak sama kecepatannya. Berikan respons yang sama sehingga bisa cepat mengungkap kasus. Kalau korban tidak merespons segera dan menunda besok ya kan sulit menemukan,” ujar Ronny menambahkan.

Jenderal polisi bintang dua ini menambahkan, korban langsung melapor maka petugas di bandara asal dan bandara tujuan bisa mengecek semua hal terkait. Namun jika tidak langsung melapor maka sulit untuk mengungkap dalam tempo singkat. “Kalau lama menunda laporan itu menyulitkan polisi juga untuk mengungkapkannya. Tidak semua kasus pencurian serta merta langsung terungkap, ini kan harus intens,” ujar Ronny.

“Polri juga terbuka terhadap kritikan, teguran, dan koreksi dari masyarakat. Terutama yang menilai ada diskriminasi dalam penanganan perkara. Tapi informasi itu harus fair dan jujur, jadi kita bisa saling membantu sama lain,” tutup Ronny. Titi adalah istri dari Kasubdit III Dirnarkoba Polda Kalbar AKBP Idha Endi Prasetyono. Polisi juga telah menangkap tiga tersangka pelaku pencurian emas-emas tersebut yang ternyata pegawai porter Lion Air di Pontianak. Emas ratusan juta itu disebutkan bukan milik Titi atau suaminya, melainkan keluarganya. Emas-emas itu rencananya akan digunakan adik Titi dalam acara pernikahan di Bekasi, Jawa Barat.

Categories
Transportasi

MA Hukum Lion Air untuk Ganti Bagasi Penumpang yang Hilang Senilai 19 Juta


Mahkamah Agung (MA) kembali menghukum maskapai penerbangan swasta terbesar di Indonesia, Lion Air, dalam kasus hilangnya bagasi penumpang. Vonis ini merupakan vonis kesekian kalinya dalam kasus serupa.

Hukuman ini dijatuhkan atas gugatan penumpang Lion Air rute Medan-Semarang, Robert Mangatas Siltonga dengan Ruth Elin Pujiati. Warga Jalan Hanoman Raya, Perumahan Krapyak, Semarang Barat, itu terbang dari Polonia Medan pada 12 Juli 2011 pukul 14.00 WIB dengan transit terlebih dahulu di Jakarta.

Sesampainya di Semarang, dari 3 bagasi hanya 2 yang didapat. Satu bagasi lainnya tidak ditemukan. Robert melaporkan hal itu ke manager Lion Air setempat. Setelah satu bulan tidak ada kabar berita, Robert mengajukan langkah hukum atas raibnya koper Polo warna hitam beserta isinya senilai Rp 19,1 juta.

Pada 7 Maret 2011, Pengadilan Negeri (PN) Semarang mengabulkan gugatan Robert. PN Semarang menghukum Lion Air membayar ganti ruri Rp 19,1 juta dan kerugian immateril Rp 19,1 juta. Putusan ini dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Semarang 7 bulan setelahnya.

Atas hukuman ini, Lion Air mengajukan kasasi. Namun MA bergeming. “Menolak kasasi PT Maskapai Lion Air Jakarta cq PT Maskapai Lion Air Cabang Semarang,” putus majelis kasasi yang terdiri dari I Made Tara, Prof Dr Takdir Rahmadi dan Sultoni Mohdally.

Sebelum putusan ini, MA juga menghukum Lion Air dalam kasus serupa. Penumpang Herlina menang melawan Lion Air hingga tingkat kasasi. Lion Air dihukum mengganti Rp 25 juta atas hilangnya koper Herlina pada penerbangan 4 Agustus 2011.

Categories
Transportasi

Lion Air Pakai Ban Rekondisi … 4 Kontainer Ditahan Bea dan Cukai Karena Dalam Dokumen Disebut Ban Baru


4 Kontainer ban rekondisi Lion Air masih ditahan pihak Bea dan Cukai karena tak ada izin dari Kementerian Perdagangan (Kemendag). Kemenhub sudah mengirimkan surat yang menjelaskan mengenai kelayakan suku cadang kepada Kemendag. “Lion Air sudah menghubungi Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub. Dan Kemenhub sudah mengirimkan surat kepada Kemendag,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhub Bambang S Ervan kepada wartawan di Jakarta, Rabu (23/10/2013).

Lion kepada Kemenhub mengatakan sedang mengurus izin ban rekondisi dan ban baru. Sebagai kementerian teknis yang memeriksa kelaikan bengkel perawatan dan suku cadang pesawat, Kemenhub sudah mengirimkan surat kepada Kemendag. “Lion memasukkan ban rekondisi bersama-sama ban baru, ada beberapa kontainer. Seingat saya, Ditjen Perhubungan Udara sudah mengeluarkan surat yang ditujukan kepada Kemendag mengenai ban tersebut,” jelas Bambang.

Kemenhub sebagai kementerian teknis, lanjut dia, belum dihubungi pihak Bea dan Cukai. “Terkait penyelundupan atau nggak, saya nggak tahu. Itu kewenangan Bea dan Cukai,” jelas dia. Humas Ditjen Bea Cukai, Haryo Limanseto, menjelaskan ada empat kontainer ban yang diimpor Lion Air. Waktu pengiriman mulai dari bulan September hingga terakhir 2 Oktober lalu.

“Mungkin bukan cuma ban isinya, ada barang-barang lain juga,” kata Haryo. Berdasarkan hasil nota intelijen, Bea Cukai mendapat laporan barang-barang itu tak sesuai dengan dokumen pengiriman barang. Pihak Lion Air menyebutkan ban-ban itu baru, namun setelah diperiksa ternyata bekas.

“Saat kami periksa, berdasarkan hasil nota intelijen, kedapatan bekas. Kalau bekas, kita ada aturan dari Kementerian Perdagangan harus ada izin, mereka belum punya,” jelas Humas Bea Cukai, Haryo Limanseto. Hingga Selasa (21/10) kemarin, barang tersebut masih ditahan pihak Bea Cukai. Sebelum ada izin dari Kementerian Perdagangan, maka barang itu tak bisa dikeluarkan. “Harusnya mereka kalau pesan baru, datang baru,” imbuhnya.

Menurut Haryo, pihak Lion Air sudah ada yang merespons soal ini. Mereka berjanji akan mengurus izin dari Kemendag. Namun sementara itu, barang-barang selain ban yang ada di dalam kontainer, diharapkan bisa segera diambil. “Mereka mengajukan permohonan yang bukan ban. Kemungkinan barang itu akan kita keluarkan,” imbuhnya.

Masalah ban ini sebelumnya memicu beberapa penerbangan Lion Air delay belasan jam pada Kamis (17/10) di Terminal I Bandara Soekarno-Hatta. Penumpang yang sudah menunggu dari sore, baru diterbangkan pada Jumat (18/10) dinihari.

Sempat terjadi kericuhan antara penumpang dan petugas Lion Air. Salah seorang penumpang bahkan ada yang pingsan. Keterlambatan penerbangan di Jakarta juga berdampak pada penerbangan Lion Air rute Padang-Jakarta. “Jadi pilotnya nggak mau nerbangkan pesawat karena bannya belum diganti,” kata Kapuskom Kemenhub Bambang S Ervan saat dihubungi detikcom, Selasa (22/10/2013).Saat kejadian, Lion Air tidak mempunyai ban cadangan. Stok ban mereka ditahan Bea Cukai karena ada persoalan dokumen impor yang tidak sesuai.

Kericuhan terjadi pada Kamis (17/10) pekan lalu di Bandara Soekarno-Hatta. Para penumpang mengamuk ke maskapai Lion Air karena penerbangan tertunda selama 12 jam. Apa pemicunya? Kementerian Perhubungan sudah meminta keterangan pihak Lion Air soal insiden ini, Senin (21/10) kemarin. Dalam penjelasannya, maskapai low cost carrier itu menyebut ada persoalan ban. “Jadi pilotnya nggak mau nerbangkan pesawat karena bannya belum diganti,” kata Kapuskom Kemenhub Bambang S Ervan saat dihubungi detikcom, Selasa (22/10/2013).

Saat kejadian, Lion Air tidak mempunyai ban cadangan. Stok ban mereka ditahan Bea Cukai karena ada persoalan dokumen impor yang tidak sesuai. “Jadi itu ban bekas punya Lion Air terus direkondisi di Hong Kong. Saat tiba ke Indonesia, ada persoalan. Tapi itu detailnya urusan Bea Cukai,” jelas Bambang. Pihak Ditjen Bea Cukai saat dikonfirmasi membenarkan kabar ini. Lion Air dalam dokumennya menyebut ban yang didatangkan adalah baru, namun saat dicek, ban itu ternyata bekas.

“Saat kami periksa, berdasarkan hasil nota intelijen, kedapatan bekas. Kalau bekas, kita ada aturan dari Kementerian Perdagangan harus ada izin, mereka belum punya,” jelas Humas Bea Cukai, Haryo Limanseto. Ratusan penumpang Lion Air mengalami delay selama belasan jam pada Kamis (17/10) lalu di terminal I Bandara Soekarno-Hatta. Penumpang yang sudah menunggu dari sore, baru diterbangkan pada Jumat (18/10) dinihari.

Sempat terjadi kericuhan antara penumpang dan petugas Lion Air. Salah seorang penumpang bahkan ada yang pingsan. Keterlambatan penerbangan di Jakarta juga berdampak pada penerbangan Lion Air rute Padang-Jakarta. Untuk ban Lion, laporan yang saya terima, pekerjaan rekondisi dilakukan di pabrik ban Bridgestone Hong Kong yang sudah memiliki persetujuan CASR 145 di Indonesia,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhub Bambang S Ervan kepada wartawan, Rabu (23/10/2013).

Civil Aviation Safety Regulation (CASR) 145 adalah standar peraturan keselamatan penerbangan internasional tentang Approved Maintenance Organization (MRO) atau bengkel perawatan yang telah diperiksa dan disetujui Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub. Pihak maskapai yang ingin merawat pesawat atau bagian suku cadang, imbuhnya, diinspeksi Kemenhub dulu persyaratannya.

“Semua pengadaan suku cadang dan penggunaan suku cadang dilakukan pengecekan. Seperti dijelaskan di awal pengerjaan, ban rekondsii harus dilakukan di MRO yang disetujui. MRO diberi sertifikasi. Sebelum disertifikasi diaudit oleh inspektur,” paparnya.

Saat ban digunakan, dilakukan pengecekan juga oleh inspektur. Pengecekan berupa kondisi suku cadang juga sejarah suku cadang. Beli dari mana, buatan tahun berapa, dll. Pengecekan juga dilakukan di tempat penyimpanan. Ramp check atau pengecekan rutin pesawat oleh inspektur dilakukan 3-4 hari sekali, dan di masa sibuk dilakukan setiap hari.

Retread tire atau ban rekondisi yang divulkanisir ini lazim digunakan dalam dunia penerbangan dengan syarat di atas. Di Indonesia, Bambang mengatakan bukan hanya Lion Air yang memakai ban rekondisi ini.

“Ban rekondisi atau retreat biasa digunakan dalam penerbangan bila pengerjaan memenuhi standar. Di Indonesia tak hanya Lion, namun saya belum memeriksa maskapai apa saja. Mungkin di Indonesia jarang (bengkel/pabrik perawatan ban), makanya ada beberapa yang ke Bangkok dan ke Hong Kong. Ban pesawat kan ada 3 mereknya, Bridgestone, Michellin dan Goodyear,” tuturnya

Categories
Transportasi

Ketentuan Ganti Rugi Apabila Pesawat Delay Lebih Dari 3 Jam


Kementerian Perhubungan menyatakan pembayaran kompensasi keterlambatan atau delay penerbangan oleh maskapai kepada penumpang hanya ada di Indonesia. “Di luar negeri, tidak ada praktek seperti itu,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan, Bambang S. Ervan, saat dihubungi, Sabtu, 19 Oktober 2013.

Ia menjelaskan, di luar negeri, jika ada penerbangan yang terlambat, maka yang dilakukan maskapai adalah memberi fasilitas akomodasi atau penginapan dan mengganti jadwal penerbangan, bukan membayar tunai. Selain itu, Bambang melanjutkan, maskapai-maskapai di luar negeri memiliki aturan tersendiri. “Jadi memang tidak ada aturan dari pemerintahnya, kalau delay harus bagaimana,” ucapnya.

Di Indonesia, ketentuan mengenai tanggung jawab maskapai dimuat dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara.

Pasal 2 huruf e menyatakan maskapai wajib bertanggung jawab atas kerugian terhadap keterlambatan angkutan udara. Sementara itu Pasal 9 menjelaskan, keterlambatan angkutan udara mencakup keterlambatan penerbangan atau flight delayed, tidak terangkutnya penumpang dengan alasan kapasitas pesawat atau denied boarding passenger, serta pembatalan penerbangan atau cancelation of flight.

Berikut ini ketentuan mengenai jumlah ganti kerugian untuk penumpang atas keterlambatan penerbangan yang dicantumkan pada Pasal 10 peraturan tersebut.

1. Maskapai memberi ganti rugi sebesar Rp 300 ribu per penumpang jika keterlambatan lebih dari empat jam.

2. Maskapai memberi ganti rugi 50 persen dari Rp 300 ribu, yaitu Rp 150 ribu, apabila menawarkan tujuan lain yang terdekat dengan tujuan akhir penumpang atau rerouting. Maskapai juga wajib menyediakan tiket penerbangan lanjutan atau transportasi lain sampai ke tempat tujuan jika tidak ada moda transportasi selain angkutan udara.

3. Jika maskapai mengalihkan penerbangan ke penerbangan selanjutnya atau penerbangan milik badan usaha niaga berjadwal lainnya, penumpang dibebaskan dari biaya tambahan, termasuk peningkatan kelas pelayanan atau upgrading class. Apabila terjadi penurunan kelas atau subkelas pelayanan, maskapai wajib memberi sisa uang kelebihan dari tiket yang dibeli penumpang.

Jika penumpang tidak terangkut, seperti dalam poin nomor 2 di atas, maka maskapai harus mengalihkan penumpang ke penerbangan lain tanpa biaya tambahan atau menyediakan konsumsi, akomodasi, dan biaya transportasi apabila tidak ada penerbangan lain ke tempat tujuan. Ketentuan ini tercantum dalam Pasal 11.

Categories
Transportasi

Lion Air Kembali Mendarat Setelah Terbang 10 Menit Karena AC Pesawat Mati


Pesawat Lion Air rute Kupang-Surabaya-Jakarta yang sempat terbang selama 10 menit, Sabtu, 19 Oktober 2013, kembali mendarat di Bandara El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Penyebabnya, AC pesawat tidak berfungsi atau mati. Aikbatnya ratusan penumpang terlantar di bandara tersebut.

Informasi yang dihimpun, menyebutkan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan 0693 mengangkut penumpang sebanyak 206 orang, sembilan di antaranya adalah bayi. Pesawat itu pun batal diberangkatkan dan seluruh penumpang diminta turun dari pesawat dan menunggu informasi selanjutnya.

“Informasinya AC mati, sehingga pesawat kembali ke bandara, dan batalkan penerbangan,” kata seorang petugas bandara yang enggan namanya disebutkan.

Menurut dia, pihak Lion Air mengumumkan akan mengangkut penumpang tersebut menggunakan pesawat lainnya pada pukul 22.00 Wita malam ini. Namun, dari ratusan penumpang itu, 20 di antaranya telah batalkan penerbangan karena takut. “Ada 20-an penumpang yang telah batal perjalanan gunakan Lion Air,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan belum ada pihak Lion yang bersedia memberikan keterangan. Sementara itu, ratusan penumpang masih menunggu di bandars tersebut untuk melanjutksn perjalanan.

Categories
Transportasi

Penumpang Lion Air Ngamuk Di Bandara Soekarno Hatta Karena Delay 7 Jam


Lion Air menyebutkan ada lebih dari 300 penumpang yang berkumpul di Terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta, Banten, dan mengajukan protes ke counter Lion Air. “Total 370 penumpang. Mereka yang penerbangannya kena delay semalam dari Padang,” kata Direktur Airport Operation and Services Lion Air, Daniel Putut, saat dihubungi Tempo, Jumat, 18 Oktober 2013.

Daniel menjelaskan, penerbangan dari Padang ke Cengkareng semalam dijadwalkan antara pukul 20.00 hingga 21.00 WIB. Namun, karena pesawat mengalami gangguan dan harus diperbaiki, penerbangan ditunda hingga pukul 02.00 WIB. Para penumpang pun baru tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 03.30 WIB, atau lebih dari enam jam terlambat. “Untuk keselamatan, pesawat memang harus diperbaiki dulu,” ucapnya.

Para penumpang pun pagi ini memenuhi area check-in counter di Terminal 1A Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, untuk meminta kompensasi. Mereka, kata Daniel, berdiri di depan 10 dari 24 check-in counter yang ada di bandara itu. “Jadi ini ramai-ramai karena penumpang minta ganti rugi, bukan pada demo staf kami,” ujarnya.

Daniel menuturkan, dalam mekanisme, seharusnya Lion Air membayar ganti rugi dengan sistem transfer. Namun, ia melanjutkan, penumpang meminta pembayaran tunai. “Sedangkan kami tidak ada dana cash, jadi mereka harus mengisi voucher Rp 300 ribu per orang,” kata dia.

Ratusan penumpang maskapai penerbangan Lion Air mengamuk sejak pagi di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Akibatnya, semua counter tiket Lion Air yang berada di Terminal 1 tutup.

Salah seorang penumpang pesawat yang hendak terbang ke Solo, Wahyu Muryadi, mengatakan penumpang yang mengamuk adalah penumpang Lion Air rute Padang-Jakarta, yang penerbangannya terlambat sekitar tujuh jam. “Seharusnya pesawat yang terbang dari Padang pukul 20.20, mendarat pukul 22.00, tapi baru mendarat pukul 04.00 di Bandara Soekarno-Hatta. Dilaporkan ada dua pesawat. Penumpang mau minta kompensasi, tapi pihak Lion Air sepertinya tidak ada koordinasi, pihak accounting tidak jalan. Begitu counter pertama dibuka, para penumpang langsung mengamuk, bahkan ada yang melempar botol minuman. Akhirnya, karena takut, maka semua counter ditutup,” kata Wahyu, yang masih berada di Terminal 1 ketika dihubungi Jumat, 18 Oktober 2013.

Menurut Wahyu, berdasarkan cerita salah seorang penumpang, Novis Indra, penumpang awalnya hendak minta klaim keterlambatan sebesar Rp 300 ribu karena telah mendapat faktur klaim dari Padang untuk dicairkan setelah tiba di Jakarta. Tapi petugas counter tidak begitu paham prosedur. Selain itu, penumpang merasa diabaikan dan tidak dilayani. Hal inilah yang menyulut kemarahan penumpang tersebut.

Tapi, pihak Lion Air telah menemui para penumpang untuk mengatasi keributan tersebut. Chief Pasasi Lion Air, Ronaldo Caesar, mengatakan para penumpang kini telah masuk ke ruang tunggu atau Lounge Lion Air. Lion Air telah memproses klaim keterlambatan sebesar Rp 300 ribu. “Sembari menunggu, mereka kita sediakan sarapan di Lounge. Jumlah penumpang kira-kira 215. Kami kini memberikan apa yang menjadi hak penumpang,” katanya kepada Tempo.

Ketika ditanya mengenai keterlambatan pesawat dari Padang dan penyebabnya, Ronaldo mengaku belum mengetahui hal tersebut karena ia baru masuk shift pagi. “Mengenai penyebab, yang tahu yang di Padang. Kami hanya memenuhi yang diminta penumpang di sini,” katanya.

Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) menyatakan belum mengetahui informasi tentang keterlambatan Lion Air di Bandara Soekarno-Hatta hingga enam jam malam ini. “Dari navigasi tidak ada masalah, “traffic”nya normal,” kata Direktur Keselamatan dan Standar LPPNPI, Wisnu Darjono, saat menghubungi Tempo, Kamis malam, 17 Oktober 2013.

Ia pun mengatakan tidak mengetahui kondisi di Terminal 1B bandara itu. Ratusan penumpang Lion Air dikabarkan terlantar di terminal tersebut akibat keterlambatan atau “delay” penerbangan hingga enam jam. Sampai saat ini, Lion Air dan PT Angkasa Pura II belum bisa dihubungi untuk dimintai konfirmasi.

Sebelumnya, para penumpang Lion Air juga mengalami “delay” panjang pada September silam.

Seorang penumpang Lion Air, Brianna Simorangkir, mengalami “delay” empat kali dalam penerbangannya kala itu. “Jadwal penerbangan saya seharusnya jam 14.15 WIB dari Jakarta ke Bali, “delay” empat kali,” ujarnya saat dihubungi Tempo, Senin malam, 2 September 2013.

Categories
Transportasi

Demi Menghemat 1 Juta Rupiah … Lion Air Tidak Mengisi AC Pesawat Hingga Penumpang Kepanasan


Tidak berfungsinya AC dalam kabin pesawat Lion Air JT775 yang gagal berangkat Senin (30/9/2013) siang ternyata disebabkan pihak manajemen yang tidak mau mengisi pendingin udara. Hal itu ditegaskan Manajer Bandara Samratulangi Haslin Panggabean kepada wartawan.

“Pesawat itu tidak ada kerusakan, hanya mereka lalai tidak melakukan charging pendingin ruangan pesawat,” ujar Panggabean, Senin (30/9/2013) malam.

Menurut Panggabean, pihaknya telah memperingatkan Lion Air untuk tidak memaksakan penerbangan. Pihak bandara sebelumnya telah berkomunikasi dengan Lion Air perihal permintaan pengisian pendinginan udara dalam pesawat.

Permintaan itu sudah disampaikan oleh teknisi engine Lion Air ke bagian keuangannya. Namun, dengan alasan mau mengirit, permintaan tersebut tidak disetujui. Menurut informasi, harga untuk charging tersebut hanya Rp 1,1 juta.

“Masa hanya gara-gara mau mengirit Rp 1,1 juta, maskapai harus menanggung kerugian yang besar. Rugi materi, rugi nama, dan itu luar biasa. Mahal sekali jika dibandingkan dengan biaya charging yang hanya satu juta itu,” tanda Panggabean.

Panggabean menyesalkan pihak Lion Air yang tidak menyiapkan mobil charging pendingin udara sejak pagi hari. Pihak otoritas bandara juga menyarankan untuk tidak memberangkatkan pesawat JT775 sebelum pintu darurat yang dipaksa dibuka diperbaiki.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, sebanyak 198 penumpang Lion Air dengan nomor penerbangan rute Manado-Jakarta gagal berangkat gara-gara penumpang membuka paksa pintu darurat di bagian belakang. Insiden itu terjadi karena protes penumpang terhadap pendingin kabin yang tidak berfungsi diabaikan kru pesawat.

Bukannya mendengar keluhan penumpang, pilot malah membawa pesawat ke landasan pacu untuk siap terbang. Beruntung pintu darurat tersebut dipaksa dibuka sebelum pesawat mengudara. Tidak ada laporan adanya korban dalam peristiwa tersebut.

Di Jakarta, Corporate Secretary Lion Air Ade Simanjuntak menjelaskan, salah satu penyebab pendingin udara (AC) pesawat JT775 rute Manado-Jakarta tak terasa dingin karena pesawat parkir di luar dan panas matahari masuk ke dalam pesawat.

Manajemen PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) menjelaskan, salah satu penyebab pendingin udara (AC) pesawat JT775 rute Manado-Jakarta tak terasa dingin karena pesawat parkir di luar dan panas matahari masuk ke dalam pesawat.

Namun, menurut Corporate Secretary Lion Air Ade Simanjuntak, yang dihubungi, saat ini pihak Lion Air masih menyelidiki penyebab pasti AC yang tidak optimal pada pesawat JT775, yang terjadi pada Senin (30/9/2013).

Ia juga mengatakan, meskipun udara dalam kabin terasa panas, hal itu tidak bisa dijadikan alasan bagi para penumpang membuka paksa pintu darurat pesawat, terutama saat pesawat sudah bergerak mundur. “Sistem pendingin dalam pesawat akan semakin dingin dan optimal bila pesawat sudah take off,” kata Ade melalui surat elektronik yang diterima, Selasa (1/10/2013).

Ia menjelaskan, pesawat membutuhkan 100 persen daya dari mesin untuk tenaga dorong pada saat di darat lalu tinggal landas. Sebelumnya, Manajer Bandara Samratulangi Haslin Panggabean mengemukakan, tidak berfungsinya AC disebabkan karena pihak manajemen Lion Air tidak mau mengisi pendingin udara.

“Pesawat itu tidak ada kerusakan, hanya mereka lalai tidak melakukan charging pendingin ruangan pesawat,” ujar Panggabean, Senin (30/9/2013) malam. Menurut Panggabean, pihaknya telah memperingatkan Lion Air untuk tidak memaksakan penerbangan.

Pihak bandara sebelumnya telah berkomunikasi dengan Lion Air perihal permintaan pengisian pendinginan udara dalam pesawat. Permintaan itu sudah disampaikan oleh teknisi engine Lion Air ke bagian keuangannya. Namun, dengan alasan mau mengirit, permintaan tersebut tidak disetujui