Tag Archives: Manggarai

Menikmati Persawahan Berbentuk Laba Laba Di Lodok Manggarai


Ratusan turis mancanegara dari Perancis, Belanda, Kanada, Austria, Rusia, Australia, Italia dan berbagai negara Eropa sudah mendaki Puncak Weol (Golo Weol) untuk melihat keindahan alam persawahan Lodok di hamparan persawahan Desa Meler. Orang Manggarai Raya menuangkan seninya dengan membuat persawahan Lodok (persawahan Laba-Laba). Persawahan ini langka dan unik yang hanya berada di Manggarai Raya (Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Manggarai Timur).

Turis dari berbagai negara Eropa mengagumi keunikan dan keindahan persawahan Lingko Lodok Manggarai Raya. Mereka menghabiskan ratusan juta rupiah hanya untuk melihat dan menyaksikan serta memotret keunikan persawahan yang satu-satunya berada di wilayah Manggarai Raya.

Dalam buku tamu dari Penjaga Puncak Weol (Golo Weol) terdapat nama-nama orang asing yang sedang berwisata di Flores Barat. Dan mereka menyempatkan diri untuk melihat keunikan persawahan Lingko Lodok di hamparan persawahan Cancar, di Desa Meler, Kecamatan Ruteng.

Di Hamparan persawahan Cancar, Desa Meler terdapat 11 lingko Lodok dari delapan Kampung di Desa Meler. Kedelapan lingko Lodok itu, Lingko Molo, Lingko Lindang, Lingko, Pon Ndung, Lingko Temek, Lingko Jenggok, Lingko Lumpung, Lingko Purang Pane, Lingko Sepe, Lingko Wae Toso, Lingko Ngaung Meler, Lingko Lumpung II.

Penjelasan itu disampaikan Penjaga Jalan Masuk Puncak Weol (Golo Weol), Blasius Nogot (56) kepada Kompas.com saat berwisata di Puncak Weol untuk melihat keindahan persawahan Lingko Lodok di hamparan persawahan Cancar, Desa Meler, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores Barat, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (16/11/2013).

Kompas.com berada di Cancar bersama General Manager PT PLN Nusa Tenggara Timur, Richard Safkaur dan Juru Bicara PT PLN NTT, Paul Bolla untuk berwisata di Puncak Weol melihat keindahan persawahan Lingko Lodok Manggarai Raya di persawahan Cancar.

Blasius Nogot, ayah dari tujuh anak ini, memaparkan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Persawahan Cancar dengan mendaki Golo Weol (Puncak Weol) selalu datang dari Labuan Bajo atau ketika melintasi Manggarai dari bagian Maumere, Flores Bagian Timur menuju ke Labuan Bajo. Turis selalu diantar pemandu wisata orang Manggarai Raya maupun orang dari luar Manggarai Raya.

”Saya membuat jalan setapak menuju ke Golo Weol untuk memberikan kenyamanan kepada wisatawan ketika mendaki Golo Weol. Bahkan saya sendiri yang mendampingi mereka. Selain melihat persawahan Lingko Lodok Cancar, wisatawan dapat menikmati pemandangan persawahan di Kota Ruteng dan sebuah gunung di dekat Kota Ruteng. Semuanya sangat indah apabila dilihat dari Golo Weol,” jelasnya.

Blasius menjelaskan, biasanya rombongan turis selalu datang tiap hari. Jumlah turis tak menentu. Namun, apabila kunjungan turis ke Kota Labuan Bajo meningkat maka kunjungan ke persawahan Lingko Lodok Cancar ikut membludak. Blasius hanya menunggu saja di samping rumah di jalan masuk menuju ke Golo Weol.

”Kadang-kadang saya menyediakan kopi Manggarai Raya kepada tamu dan juga buah-buahan lokal seperti pisang, durian dan manggis. Turis sangat menikmati suguhan yang sangat sederhana di meja yang terbuat dari bambu,” tuturnya.

Menyinggung soal penghasilan, Blasius mengatakan setiap bulan memperoleh Rp 1,5 juta dan itu pun merupakan sumbangan sukarela dari turis mancanegara maupun nusantara yang kembali dari Golo Weol untuk melihat keindahan tangan orang adat Manggarai Raya yang membuat persawahan berbentuk Lodok atau bahasa kerennya sekarang persawahan laba-laba.

”Saya belum menata dengan baik di Golo Weol karena banyak anak-anak yang bermain di Golo Weol dan apabila mereka melihat turis mendaki Golo Weol, mereka juga mendaki ke Golo Weol untuk berbincang-bincang dengan turis. Ke depannya, saya akan menata dengan baik dengan membuat rumah adat di puncak sehingga turis dapat berlama-lama di Golo Weol sambil menikmati suguhan minuman kopi dan buah-buahan lokal,” jelasnya.

General Manager PT PLN Nusa Tenggara Timur, yang orang Papua, Richard Safkaur menyempatkan diri berkunjung ke persawahan Lingko Lodok Cancar dari Golo Weol. ”Saya sangat kagum dan tersentak dalam hati ketika melihat persawahan yang unik berbentuk Lodok. Ternyata orang Manggarai Raya memiliki keterampilan yang tiada bandingnya sebab mereka menuangkan seninya dengan membuat persawahan berbentuk jaring laba-laba,” tuturnya.

Safkaur membandingkan, di Papua, ada pemahat tradisional yakni masyarakat Asmat yang mampu membuat patung bernilai tinggi. Dunia sangat terkagum-kagum dengan hasil pahatan masyarakat Asmat sehingga setiap tahun mereka menggelar festival Asmat. “Mengapa di Manggarai tidak dibuat juga event Festival Persawahan Lodok sehingga wisatawan dunia dan Nusantara dapat mengunjungi wilayah Manggarai Raya,” katanya.

Menurut Safkaur, wilayah Manggarai Raya sangat kaya dengan potensi wisata yang mendunia, selain binatang Komodo dan perkampungan rumah adat Wae Rebo yang juga sudah mendunia. Selain itu di wilayah Manggarai Raya, Rumah Adat Gendang yang unik mampu menyuguhkan keindahan bagi para pelancong dan orang Nusantara yang mengunjungi wilayah ini.

”Saya sangat kagum dengan keterampilan dan seni orang Manggarai Raya yang dituangkan dalam bentuk persawahan Lingko Lodok. Ini harus terus dipromosikan. Tiga Manggarai harus bekerja sama dalam mempromosikan potensi pariwisata di Flores Barat ini,” jelasnya.

Juru Bicara PT PLN NTT, Paul Bolla menyarakan, penjaga jalan masuk ke Golo Weol harus menata lebih baik lagi dengan menanam pohon di kiri kanan jalan setapak sehingga ada kesejukan bagi pengunjung yang mendaki ke Golo Weol untuk melihat keindahan persawahan Lingko Lodok Cancar. ”Saya sangat kagum dengan keindahan persawahan Lingko Lodok Cancar,” katanya.

Saat kami pulang dan berada di rumah Blasius Nogot, muncul turis dari Belanda, yakni Margaret dan Kym yang datang dari arah Maumere menuju ke Labuan Bajo dan menyempatkan diri berwisata di Golo Weol karena penasaran untuk melihat langsung keindahan persawahan Lingko Lodok.

Labuan Bajo Kupang Di Landa Gempa 6.0 Skala Ritcher


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) melaporkan telah terjadi gempa berkekuatan 6,0 Skala Richter (SR) di Labuan Bajo, ibu kota Manggarai Barat, Sabtu, 21 September 2013.

Gempa tersebut terjadi pada pukul 09.39 Wita dengan kedalaman 118 kilometer (km) berada pada koordinat 7.48 derajat Lintang Selatan (LS) dan 120.04 derajat Bujur Timur (BT). “Gempa itu hanya dirasakan warga Labuan Bajo,” kata Indah, staf BMKG El Tari Kupang.

Gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan terjadinya tsunami. Gempa ini berada di Laut Flores, atau 125 km timur laut Manggarai Barat, 131 km barat laut Manggarai, 148 km barat laut Manggarai Timur, NTT, dan 250 km tenggara Makassar-Sulawesi Selatan.

Dia mengaku telah melakukan pengecekan ke sejumlah kabupaten tetangga itu, tetapi tidak dirasakan gempa yang mengguncang. “Tidak ada laporan kerusakan karena gempa berada di kedalaman,” katanya.