Category Archives: Tokoh Indonesia

Marwah Daud Anggota ICMI Minta Dimas Kanjeng Untuk Tunjukan Kemampuan Ganda Uang Di Depan Publik


Marwah Daud mengamini dirinya merupakan santri dari Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Sejak 2011 dia sudah bergabung dengan Dimas Kanjeng, dan kini menjadi Ketua Yayasan. Marwah menuturkan, sebelum bergabung dengan Dimas Kanjeng, dia mempelajari dahulu mengenai sepak terjang padepokan itu. Demikian juga, Marwah berdoa memohon petunjuk.

“Saya pelajari 1 tahun, saya juga istikharah,” jelas Marwah, Selasa (27/9/2016). Bagi Marwah, bukan keputusan mudah akhirnya bergabung dengan Dimas Kanjeng yang kini disangka kasus pembunuhan dua santrinya. “Saya rasional sekali, saya pertaruhkan nama besar organisasi ada ICMI, MUI, saya di kerukunan Warga Sulsel, asosiasi penerima beasiswa Habibie, saya juga lulusan Amerika. Kemudian keluarga saya, anak saya. Yang saya takut kalau saya meninggal kemudian bagaimana. Jadi saya pelajari benar,” urai dia.

Jadi keputusan matang diambil Marwah. Dia tak begitu saja bergabung dengan Dimas Kanjeng dari Probolinggo yang dikenal bisa menggandakan uang. “Saya kemudian dipertemukan dengan beliau, orangnya humble, masih muda, usia 40-an tahun. Dan saya diperlihatkan karomahnya,” tutur dia.

Hanya santrinya yang diperlihatkan kemampuan Dimas Kanjeng soal mengambil uang itu. Di YouTube sudah beredar bagaimana Dimas Kanjeng mengambil uang dari balik badannya. “Saya istikharah dan pelajari, kemudian ternyata yang namanya Sunan Bonang itu bisa mengubah daun menjadi emas. Dan ini adalah karomah yang diberikan Allah kepada orang yang dipilihnya,” tegasnya.

Dimas Kanjeng sendiri menurut Marwah tak sembarangan dan asal saja menunjukkan karomahnya. Jadi Marwah menilai, sosok Dimas Kanjeng dipilih Tuhan dengan karomah. “Di zaman nabi Sulaiman juga ada manusia suci yang bisa memindahkan singgasana Ratu Balqis,” sambung dia. “Jadi yang di YouTube, saya melihat langsung. Kemudian saya tanya tokoh agama, mereka mengatakan itu ada jin ada tuyul,” lanjutnya.

Namun hasil istikharah, Marwah yakin dengan sosok Dimas Kanjeng. Dia pun kerap hadir pada pengajian, shalawat, khataman Alquran dan lainnya. Marwah punya cita-cita uang yang didapatkan dari Dimas lewat kemampuannya digunakan membiayai pendidikan anak Indonesia dan kalangan tidak mampu. “Dan saya berpikir ini mungkin jalannya membantu orang lain. Beliau sendiri tidak bisa mempergunakan uangnya, kalau digunakan sendiri akan sakit,” bebernya.

Bagaimana dengan proses hukum dan tuduhan pada Dimas? “Itu kami serahkan kepada hukum. Tapi tolong jaga nama baiknya, perlakukan dengan baik,” tutup Marwah yang kenal Dimas Kanjeng dari temannya. Marwah Daud, tokoh perempuan yang juga merupakan anggota ICMI meyakini klaim Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang bisa menarik uang. Seharusnya akademisi seperti Marwah tak percaya begitu saja terhadap klaim itu.

“Penggandaan uang potensial menjadi kejahatan penipuan yang menimbulkan keresahan sosial. Akademis sebaiknya menjauhi cara berpikir yang takhayul,” ujar Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas saat dihubungi, Rabu (28/9/2016). Busyro mengatakan, rasionalitas dan kerja keras harus dikendepankan di era seperti sekarang ini. Percaya terhadap hal-hal di luar akal sehat, salah satunya seperti yang menjadi klaim Dimas Kanjeng bisa menggandakan uang, merupakan langkah mundur.

Busyro mengatakan rasionalitas dalam bekerja secara profesional itu menjadi modal penting untuk berkompetisi dalam dunia kerja. Hal-hal berbau takhayul dengan klaim yang tidak masuk akal, akan merusak iklim kerja profesional tersebut. “Sehingga diperlukan iklim dan budaya yang kondusif untuk mendidik masyarakat terbiasa kerja keras dan mengindari cara-cara takhayul yang melawan nalar sehat dan kemampuan teknologi bangsa modern,” kata Busyro. Marwah merupakan Ketua Yayasan Dimas Kanjeng.

Dimas mengklaim memiliki karomah yang mana bisa membuatnya menggandakan uang. Dia sempat medapatkan sejumlah pengikut di padepokannya. Belakangan banyak pengikutnya yang mulai sadar. Para pengikut yang kecele akhirnya mengadu ke polisi. Kini, ada 21 posko pengaduan telah dibuka polisi untuk masyarakat yang menjadi korban Padepokan Dimas Kanjeng. Direktur Tipidum Bareskrim Polri Brigjen Agus Adrianto mengatakan tindakan Dimas Kanjeng ini dikategorikan penipuan bermodus penggandaan uang. Dia memperkirakan jumlah korban penipuan Dimas Kanjeng mencapai ribuan orang. Kerugiannya ditaksir miliaran rupiah.

Polisi bahkan akan menggandeng Bank Indonesia (BI) untuk menyelidiki keaslian dan jumlah serta asal uang Dimas Kanjeng. Marwah Daud Ibrahim yakin Dimas Kanjeng memiliki kemampuan menarik uang. Marwah yang mengaku sebagai santri Dimas Kanjeng ini juga mendorong agar penarikan uang dibuktikan di depan publik. “Saya menyarankan ke penasihat hukum sebaiknya diberi kesempatan di depan wartawan atau polisi. Ini agar tidak disebut sebagai penipuan,” jelas Marwah, Rabu (28/9/2016).

Marwah mengungkapkan, dia tiga kali melihat kemampuan Dimas Kanjeng menghadirkan uang. Yang pertama uang keluar dari tangannya, kedua uang muncul di peti yang awalnya kosong, dan ketiga uang bertumpuk di ruangan yang sebelumnya kosong. “Demi rasul saya melihat sendiri. Dan di dalam ruangan kosong kemudian di kunci lalu beliau ditutup, nggak ada orang lain dan beberapa lama kemudian ada uang,” jelas dia.

Ada juga ketika sedang istigosah, tiba-tiba Dimas Kanjeng menyampaikan kalau ada uang, lalu ada di peti. Namun memang uang ini tidak bisa digunakan sepenuhnya, hanya digunakan terbatas. Uang yang menumpuk itu juga kemudian raib lagi. “Jadi memang dikatakan belum waktunya,” tegas pendiri ICMI ini yang juga aktif di Habibie Center.

“Dan awalnya saya nggak percaya, tapi saya lihat dengan mata kepala sendiri. Saya ini orangnya rasional, ya tapi kalau Allah berkehendak,” tegas dia. Polda Jatim menyita uang yang ditemukan di padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Namun belum diketahui jumlah pastinya. Uang tersebut bukan disita dari bungker milik Kanjeng.

“Kalau tentang (uang) di bungker belum tahu. Tapi kemarin saat penggeledahan dan penangkapan memang ditemukan uang berserakan,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono, Rabu (28/9/2016). Argo mengatakan, uang tersebut ditemukan di ruangan Dimas Kanjeng. Polisi pun menyitanya sebagai barang bukti dan dibawa ke polda.

“Saat kita kumpulkan disaksikan ketua RT dan Kepala Desa sama lawyernya (Dimas Kanjeng) yang diamankan ke koper,” tuturnya. Ia menegaskan, uang itu disita dan dimasukkan ke koper karena khawatir dapat hilang. Namun, sampai saat ini, polisi belum mengetahui berapa jumalh uang yang berserakan dan dimasukkan ke dalam koper.

“Sampai sekarang belum dibuka dan belum tahu berapa isinya,” jelasnya. Terkait mencari keberadaan bungker beserta isinya, rencananya minggu depan penyidik akan mendatangi padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Advertisements

Daftar Nama Pejabat Indonesia Yang Jadi Target Pembunuhan ISIS


Sejumlah pejabat sipil dan militer di Indonesia termasuk di dalam daftar target pembunuhan oleh jaringan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Informasi itu dirilis Daily Mirror, Kamis (9/6/2016), dengan merujuk informasi dari kelompok peretas pro-ISIS, United Cyber Caliphate (UCC), yang diperoleh grup media Vocativ.

Grup media Vocativ mengkhususkan dirinya dalam usaha menyelidiki sisi-sisi tersembunyi dari web. Namun, media ini tak mau memberikan nama-nama target serangan ISIS itu. Daftar nama-nama target ditulis dalam bahasa Inggris dan Arab sebagaimana diungkap oleh grup media tersebut. Menurut Daily Mirror, yang mengacu pada grup media Vocativ, kelompok peretas pro-ISIS telah merilis 8.318 warga Amerika Serikat pada “daftar target pembunuhan”.

Bersama para pejabat militer dan pemerintah, pengusaha, dan selebriti AS, terdapat juga nama-nama warga Kanada, Australia, dan Inggris. Mereka itu terdiri dari 7.848 warga AS, 312 warga Kanada, 39 warga Inggris, dan 69 warga Australia. Mereka menjadi target prioritas.

Detail target
Kelompok peretas UCC yang pro-ISIS itu merilis tidak saja nama-nama target, tetapi juga termasuk rincian alamat, kontak surat elektronik, pada aplikasi layanan pesan rahasia. ISIS mendesak para pendukungnya untuk “mengikuti ” mereka yang telah terdaftar dan “membunuh mereka sebagai balas dendam bagi umat Islam”. Demikian lapor Daily Mirror.

Para peretas pro ISIS relah merilis daftar nama, alamat, dan kontak surat elektronik orang-orang yang menjadi target pembunuhan oleh militan ISIS Daftar yang terungkap itu merupakan deretan terpanjang yang pernah dirilis kelompok yang berafiliasi dengan ISIS dan telah didistribusikan kepada militan mereka di berbagai negara target.

Namun, secara keseluruhan, target yang tercantum dalam daftar ISIS juga berasal dari berbagai negara, yakni Indonesia, China, Korea Selatan, Belgia, Brasil, Estonia, Perancis, Jerman, Yunani, Guatemala, Irlandia, Israel, Italia, Jamaika, Selandia Baru, Trinidad dan Tobago, serta Swedia. Sebagian besar mereka (yang menjadi target) adalah pejabat militer atau pemerintah atau orang-orang terkenal di mata publik, seperti keluarga raja atau selebriti.

Vocativ menemukan daftar target ISIS itu pada layanan aplikasi pesan bernama Telegram, awal pekan ini. Namun, Vocativ menolak merinci nama-nama target pembunuhan ISIS itu. Sebuah laporan dari perusahaan intelijen AS, Flashpoint, menyebutkan, UCC dibentuk pada April 2015 setelah beberapa kelompok peretas Islam radikal lain bergabung.

Kisah Kepahlawanan dr Achmad Mochtar Sang Pemimpin Yang Rela Dipancung Demi Bawahan Dalam Melawan Penjajahn Jepang


Pada Juli-Agustus 1944, sekitar 400-900 romusha di Klender, Jakarta bergelimpangan tewas satu per satu. Beberapa pekan sebelumnya, para romusha itu menerima vaksin tifus-kolera-disenteri (TCD). Siapakah penyuntik vaksin masih misterius saat itu. Penjajah Jepang ingin menyelidiki kematian romusha massal ini. Maka, minta tolonglah Jepang kepada Lembaga Eijkman yang kala itu sudah dipimpin oleh dr Achmad Mochtar.

“Dalam ilmu kedokteran waktu zaman Jepang, kalau ada yang mati begitu, mereka minta autopsi. Dokter-dokter kita saat itu kan didikan Belanda,” jelas Prof Sangkot Marzuki, ilmuwan biologi molekuler yang dipanggil Menristek saat itu, BJ Habibie, untuk menghidupkan kembali Lembaga Eijkman tahun 1992 dan memimpin lembaga itu hingga tahun 2014.

Hal itu dikatakan Sangkot kala berbincang di kantor Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Kompleks Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (25/8/2015) lalu. Sangkot menjelaskan, metode autopsi itu adalah menyayat tempat suntikan pada jasad-jasad para romusha. Para ilmuwan Eijkman melihat kemungkinan apakah ada bakteri tetanus yang membuat para romusha tewas.

“Nah memeriksanya di Lembaga Eijkman,” tuturnya.

Seorang ilmuwan yang terlibat memeriksa, menurut Sangkot, bernama Yatman. Saat diperiksa Kenpetai, polisi militer Jepang, Yatman mengatakan bahwa tidak ada bakteri tetanus yang ditemukan pada para jasad romusha itu.

Untuk membandingkannya, hasil autopsi jasad para romusha itu dibandingkan dengan sampel kontrol, alias sampel alami yang tak diberikan tindakan apapun, yakni memeriksa bakteri serupa pada penderita tetanus.

“Dan ada kontrolnya kebetulan, ada pasien di RS. Kebetulan ada kontrol, dari orang di kaki yang tetanusan itu diperiksa apakah betul ada tetanusnya. Diperiksa bersamaan. Dan dia (sampel kontrol) positif. Jadi tekniknya oke kan? Kalau nggak ada (sampel kontrol) kan bisa dituduhkan bahwa metode kamu nggak jalan,” jelas pria yang juga menjabat sebagai ketua AIPI ini.

Karena tidak ditemukan bakteri pada sayatan jasad tempat suntikan, misteri berikutnya yang harus dipecahkan, apakah ada toksin? Nah, menemukan ada atau tidaknya toksin itu harus mengekstraksi sayatan itu. Maka para ilmuwan di Lembaga Eijkman mengekstraksi sayatan tersebut. Setelah diekstraksi, kemudian hasil ekstraksi itu disuntikkan ke tikus. “Kalau ada toksinnya tikusnya kejang. Kalau tidak ada, normal. Ternyata, tikusnya kejang semua. Dan parahnya, mati. Berarti kan banyak toksinnya. Jadi di tempat itu (sayatan jasad tempat suntikan), masih banyak sekali toksinnya,” papar Sangkot.

Penjajah Jepang yang tadinya meminta Lembaga Eijkman untuk memeriksa dan mengautopsi jasad para romusha itu, kini malah balik menuduh bahwa Lembaga Eijkman yang dipimpin dr Achmad Mochtarlah yang mencemari vaksin TCD itu. dr Achmad Mochtar dituduh mempimpin gerakan sabotase melawan Jepang, dengan mencemari vaksin dengan bakteri dan toksin tetanus yang menyebabkan ratusan romusha tewas. Faktanya, yang kemudian ditelusuri oleh Profesor Dr J Kevin Baird, Kepala Eijkman-Oxford Clinical Research Unit bersama Sangkot, ternyata, vaksin mematikan itu merupakan percobaan medis yang dilakukan militer Jepang. Percobaan medis yang gagal.

Para romusha ternyata dijadikan ‘kelinci percobaan’ vaksin tetanus yang dibuat oleh dokter Jepang, sebelum vaksin itu disuntikkan kepada para tentara dan pilot tempur Jepang. Untuk menutupi kesalahan Jepang sendiri, penjajah Jepang mencari kambing hitam. Menuduh para ilmuwan di Lembaga Eijkman, yang memang saat itu juga tengah terlibat mengembangkan vaksin.

Kembali ke tahun 1944, dr Achmad Mochtar dan para ilmuwan yang dikomandaninya berada di ujung tanduk karena difitnah Jepang. Oktober 1944, semua ilmuwan di Lembaga Eijkman ditangkap Jepang.

dr Achmad Mochtar, namanya tertelan hiruk pikuk zaman. Perjuangannya tak mengangkat senjata namun melalui ilmu pengetahuan meski harus menyerahkan nyawa agar rekan-rekannya selamat. Nahas!

Namanya mungkin tak setenar nama-nama pahlawan yang menjadi nama-nama jalan protokol di ibu kota dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Namun perjuangannya tak bisa dinafikan.

Dialah dr Achmad Mochtar, orang Indonesia pertama yang menjadi Direktur Lembaga Eijkman, lembaga sains dan riset di bidang biologi molekuler pertama di Indonesia yang didirikan sejak zaman penjajahan Belanda tahun 1888.

Di lembaga yang namanya diambil dari nama penerima Nobel bidang kesehatan tahun 1929, Christiaan Eijkman ini, dr Achmad Mochtar diangkat menjadi Direktur Institut Eijkman (nama Lembaga Eijkman saat itu) pada tahun 1942.

Pada tahun 1942, penjajah Jepang mulai masuk ke Indonesia, menangkapi orang-orang berkebangsaan Belanda termasuk direktur Lembaga Eijkman pada masa itu yang bernama WK Martens, yang kemudian meninggal akibat beri-beri saat berada dalam penyekapan militer Jepang, demikian dilansir dari Wikipedia yang bersumber dari ScienceMag dalam artikel “HISTORY OF SCIENCE Righting a 65-Year-Old Wrong”.

dr Achmad Mochtar terlahir di Sumatra Barat tahun 1892, dan lulus dari sekolah kedokteran STOVIA tahun 1916. Dia kemudian mengambil 2 tahun penempatan wajib di klinik terpencil di Panyabungan Sumatera Utara (Sumut). Di Sumut bertemu dengan WAP Schuffner, peneliti mikroskopik longitudinal pertama pada parasit malaria. Berkat pengaruh Schuffner, administrasi kolonial Belanda di Indonesia (saat itu disebut Netherlands East Indies) memberangkatkan Mochtar ke Universitas Amsterdam untuk meraih gelar doktor.

Dalam tulisan tesisnya tahun 1927 dia menulis soal leptospira, di mana saat itu sebagian besar menyangkal bahwa leptospira menyebabkan demam kuning. Promotor utamanya adalah Hideyo Noguchi, ahli mikrobiologi Jepang yang pada tahun 1911 membuktikan bahwa ada jenis spirochete merupakan penyebab neuropati syphilis. Mochtar kembali ke Indonesia dan melanjutkan penelitian mengenai leptospirosis sebelum bergabung dengan fasilitas penelitian biomedis terbaik, the Central Medical Laboratory di Indonesia tahun 1937, yang pada tahun 1938 namanya berubah menjadi Institut Eijkman.

Menjadi direktur lembaga sains yang didirikan Belanda saat Indonesia berada dalam masa transisi ke dalam tangan Jepang bukanlah hal yang mudah. Namun dr Achmad Mochtar mengambil tanggung jawab itu dengan gagah. Tanggung jawab itu mesti ditebus dengan nyawanya sendiri yang akhirnya harus diserahkan ke penjajah Jepang yang membunuhnya dengan keji. dr Achmad Mochtar, direktur pribumi pertama Lembaga Eijkman dipaksa mengaku bersalah menyabotase vaksin yang menyebabkan ratusan romusha tewas. Dia kemudian dipancung dan jasadnya dilindas mesin.

Butuh waktu 65 tahun, sejak kematiannya, untuk mengungkap penyebab kematian dr Achmad Mochtar itu. Profesor Dr Sangkot Marzuki mulai mencari kebenaran dari kematian dr Achmad Mochtar, saat tahun 1992 dia dipanggil Menristek BJ Habibie, untuk menghidupkan kembali pusat riset biologi molekuler Lembaga Eijkman. “Kan mulainya ini bertingkat. Waktu saya mulai, bukan mau mengangkat awalnya sih, ingin mendapat kejelasan, lebih ke arah pribadi, waktu itu saya direktur Lembaga Eijkmen,” demikian kisah Prof Sangkot saat berbincang di kantor Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Kompleks Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (25/8/2015) lalu.

Saat hendak menghidupkan kembali Lembaga Eijkman, Sangkot menerima sebuah buku berwarna hijau. Buku itu berisi sejarah Lembaga Eijkman, termasuk tentang data dan sejarah dr Achmad Mochtar. “Itu menjadi obsesi untuk satu waktu saya ingin meluruskan sejarah mengenai direktur lembaga yang saya pimpin. Orang Indonesia yang dituduh oleh Jepang, melakukan kalau zaman sekarang namanya bioterorisme,” tegas Prof Sangkot.

Mulailah Prof Sangkot meneliti, mengumpulkan data, dibantu dengan koleganya dari Oxford, Profesor J Kevin Baird. Ide menuliskan buku ini bermula pada 2006, saat Prof Sangkot bercerita kepada Prof Baird yang ditindaklanjuti menggali fakta-fakta yang terjadi dalam peristiwa tewasnya ratusan romusha di Klender, Jakarta Timur, pada 1944, yang berujung pada eksekusi mati dr Achmad Mochtar. “Kevin masuknya belakangan, dia punya mahasiswa PhD yang mau dilibatkan, kerjanya di Eijkman tapi dia mau kuliah ke Oxford,” tutur Sangkot.

Mahasiswa doktoral bimbingan Baird itu kemudian diminta Baird untuk menulis sejarah Lembaga Eijkman. Mahasiswa ini kemudian datang ke Sangkot dan diberitahukanlah sejarah dr Achmad Mochtar. Hasil konsultasi dengan Sangkot, kemudian dilaporkan mahasiswa tersebut kepada Baird. Belakangan, justru Baird lah yang lebih terobsesi dan bergairah mencari fakta-fakta sejarah itu. “Tentang tidak fairnya Jepang segala macam. Dia (Baird) langsung dengan saya, ‘Ayo kita tulis’. Semua kerjaannya ditinggalkan untuk menulis itu 3 bulan. Draft pertama 3 bulan. Totalnya 3 tahun (menulis buku),” ungkap Sangkot.

Selama 3 tahun itu, Sangkot dan Baird mencari sumber, dokumentasi dan wawancara saksi yang masih hidup dan mencari dokumen hingga ke Australia. Dokumen yang secara tidak langsung mendukung dugaan tersebut adalah arsip pengadilan di Australia terkait kejahatan perang yang berlangsung tahun 1945. Pengadilan terebut menjatuhkan vonis 4 tahun penjara terhadap tokoh militer Jepang, Hirosato Nakamura.

Dalam peristiwa yang berbeda dari tragedi Klender, Nakamura dinyatakan bersalah karena menewaskan 15 dari 17 narapidana di Indonesia dalam sebuah uji coba vaksin tetanus. Sementara 2 narapidana lainnya dieksekusi mati, agar tidak membocorkan eksperimen yang gagal tersebut. “Setelah itu kan kita interview orang. Dia (Baird) 3 bulan nggak ngerjain apa-apa, kaya orang kesurupan. Staf-stafnya bilang, ‘Segera nih (menerbitkan buku), kalau nggak dia nggak ngurusin labnya’,” tutur Sangkot.

Buku tersebut akhirnya terbit pada Mei 2015 dengan judul “War Crimes in Japan-Occupied Indonesia: A Case of Murder by Medicine” dan diluncurkan lebih dulu dalam bahasa Inggris di Amerika Serikat. Bukunya belum beredar di Indonesia dan hanya bisa dipesan melalui Amazon. “Kisah tentang Prof. Achmad Mochtar merupakan drama kemanusiaan yang terjadi dalam kurun waktu yang amat bersejarah untuk Indonesia, dan terjalin dari berbagai peristiwa militer dan politik pada periode 1942-1945,” ujar Sangkot seperti dikutip dari situs AIPI, aipi.org, dalam artikel yang diunggah 3 Juli 2015 lalu.

Ia menyadari bahwa buku tersebut dapat dianggap membuka kembali luka lama saat hubungan antara Indonesia dan Jepang kini terjalin erat. Namun mereka merasa sejarah tetap perlu diluruskan. Terlebih, peristiwa tersebut tidak hanya mengakibatkan terhentinya aktivitas Lembaga Eijkman tetapi juga berpengaruh besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Achmad Mochtar kala itu merupakan salah satu ilmuwan terbaik yang dimiliki Indonesia. “Kalau sekiranya Mochtar tidak dipancung, mungkin ilmu pengetahuan Indonesia tidak habis begini,” katanya.

Oktober 1944, dr Achmad Mochtar dan para ilmuwan di Lembaga Eijkman ditangkap karena dituduh Jepang menyabotase vaksin yang menyebabkan ratusan romusha tewas. Takdir pilu itu pun terjadilah. Para ilmuwan itu dipukul, dibakar dan disetrum. Salah satu dari mereka mati. Pihak Jepang kemudian membebaskan para ilmuwan yang selamat dari siksaan itu kecuali dr Achmad Mochtar. Nasibnya kemudian berakhir tragis, dia dipancung Jepang pada 3 Juli 1945. Tak cukup dipancung, jasadnya dihancurkan dengan mesin gilas uap dan dibuang ke liang kuburan massal.

Fakta mengapa hanya dr Achmad Mochtar saja yang saat itu tidak dibebaskan Jepang kemudian dicari tahu oleh Profesor Dr J Kevin Baird, Kepala Eijkman-Oxford Clinical Research Unit bersama Profesor Dr Sangkot Marzuki, ilmuwan biologi molekuler yang menghidupkan kembali Lembaga Eijkman tahun 1992 dan memimpin lembaga itu hingga tahun 2014.

Temuan fakta itu membuat pilu. Baird menemukan bahwa dr Achmad Mochtar telah membuat negosiasi dengan Jepang. Achmad Mochtar bersedia menerima untuk disalahkan terkait tuduhan sabotase vaksin, asal, rekan-rekan ilmuwannya dibebaskan. “Achmad Mochtar tidak hanya seorang pahlawan di Indonesia namun juga pahlawan bagi sains dan kemanusiaan. Dia kehilangan segalanya, termasuk istrinya di rumah. Kemudian mengorbankan hidupnya untuk stafnya, koleganya dan teman-temannya,” demikian kata Baird seperti dilansir The Observer, edisi Minggu 25 Juli 2010. Salah satu ilmuwan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Sjamshidajat Ronokusumo dalam The Observer berujar, “Dia telah gugur sebagai martir, melindungi bawahannya”.

Butuh waktu 65 tahun, sejak kematiannya, untuk mengungkap penyebab kematian dr Achmad Mochtar itu. Kini, pada tahun 2015, tepat 70 tahun dr Achmad Mochtar gugur, proses pencarian kebenaran itu oleh 2 ilmuwan, Prof J Kevin Baird dan Prof Sangkot Marzuki diabadikan dalam buku “War Crimes in Japan-Occupied Indonesia: A Case of Murder by Medicine”.

Tatang Koswara Sniper Legendaris Terbaik Indonesia Wafat


Tatang Koswara, sniper atau penembak jitu terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, wafat pada Selasa, 3 Maret 2015 pukul 19.30. Ia meninggal setelah menjadi bintang tamu progam Hitam Putih Trans7. Presenter Hitam Putih, Deddy Corbuzier dalam cuitan di akun Twitternya @corbuzier menuliskan, Tatang meninggal setelah menceritakan perjuangannya sebagai sniper terbaik dunia. “Sebelum meninggal beliau berkata pada saya:”darahku di merah putih’ sejenak stlh itu beliau terkena serangan jantung. #hitamputihberduka.

Baca : Kisah Legendaris Tatang Koswara … Sniper No 14 Di Dunia

Di laman **** yang juga mewawancarainya sebelum jatuh pingsan menuliskan, Tatang sempat berujar, “sepertinya saya jantungnya terganggu nih Pak.” Sekitar 30 menit berselang ia pingsan dan dilarikan ke RS Medistra, tak jauh dari kantor Transcorps. Ia kritis dan kemudian meninggal.

Tatang, masuk jajaran penembak jitu terbaik di dunia. Dalam buku Sniper Training, Techniques and Weapons karya Peter Brookesmith terbitan 2000, nama Tatang masuk dalam daftar 14 besar Sniper’s Roll of Honour di dunia. Tatang mulai masuk militer melalui jalur tamtama di Banten pada 1966. Pada 1977 – 1978 Tatang beroperasi di Timor Timur. Di bekas provinsi Indonesia itu, lebih dari 40 orang fretilin menjadi korban tembakan jitunya.

Meski punya ijazah Sekolah Teknik (setara SMP), Tatang melamar sebagai prajurit tamtama menggunakan ijazah SR (Sekolah Rakyat) atau Sekolah Dasar. Selang beberapa tahun ia mengikuti penyesuaian pangkat sesuai ijazah yang dimiliknya itu.

Sebagai bintara, ia ditempatkan di Pusat Kesenjataan Infanteri (Pusenif). Di sana pula ia mendapatkan mengikuti berbagai pelatihan, mulai kualifikasi raider hingga sniper. Ia menggunakan sandi S-3 alias siluman 3. Suami Tati Hayati yang dinikahinya pada 1968 ini pensiun tentara pada 1994 dan menetap di Bandung.

Kisah Tatang Koswara Sniper Legendaris Indonesia Yang Berada Diurutan 14 Sniper Terhebat Dunia


Tatang Koswara (68) hidup seadanya. Pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu) membuat uang pensiunnya tak besar. Kakek tujuh orang cucu ini pun membuka warung makan di lingkungan Kodiklat TNI AD di Bandung. Tatang pensiun pada 1994, bersama istrinya Tati Hayati yang dinikahi pada 1968, mereka tinggal di sebuah rumah sederhana di Cibaduyut. Di ruang tamu berjejer sejumlah medali, sertifikat dan brevet tanda pendidikan yang pernah diikutinya.

Tatang Koswara Meninggal Dunia

Selain uang pensiun dan membuka warung makan, dia juga kadang melatih para sniper TNI. Meski di tanah air tak banyak yang mengenalnya, di dunia militer internasional justru mengakui reputasi Tatang sebagai sniper. Dalam buku “Sniper Training, Techniques and Weapons” karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat dunia. Di situ disebutkan bila Tatang dalam tugasnya berhasil melumpuhkan sebanyak 41 target orang-orang Fretilin.

“Tahun lalu saya selama dua bulan melatih 60-an calon sniper Kopassus. Juga ada permintaan dari Komandan Paskhas di Soreang untuk melatih,” kata Tatang yang ditemui, 3 Februari lalu di rumahnya. Setahun sebelum pensiun, ia pernah memamerkan kemahirannya sebagai sniper dengan menembak pita balon di atas kepala Jenderal Wismoyo Arismunandar. “Waktu itu saya diminta memutus pita dengan peluru yang melintas di atas kepala KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat). Pak Wismoyo tak marah, malah memberi saya uang ha-ha-ha,” ujar Tatang.

Mantan Inspektur Jenderal Mabes TNI Letnan Jenderal (Purn) Gerhan Lantara mengakui reputasi Tatang sebagai pelatih sniper. “Pak Tatang adalah salah satu pelatih menembak runduk terbaik yang dimiliki Indonesia. Mungkin saya salah satu muridnya yang terbaik he-he-he,” ujarnya. Sementara Kolonel (Purn) Peter Hermanus, 74 tahun, mantan ahli senjata di Pindad, menyebut Tatang sebagai prajurit yang lurus. Dia mengingatkan agar bekas anak buahnya itu tetap mensyukuri kondisi yang ada sekarang.

“Dia hidup sederhana karena tidak pandai korupsi, tapi itu lebih baik ketimbang punya rekening gendut ha-ha-ha,” ujar Peter melalui telepon. Tatang Koswara (68) tercatat sebagai sniper legendaris asal Indonesia. Pada 1977-1978 dia beroperasi di Timor Timur, kini Timor Leste. Ada lebih dari 40 orang fretilin yang menjadi korban tembakannya.

Nama Tatang tercatat dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat dunia. Ada satu trik unik yang dilakukan Tatang untuk mengelabui pasukan patroli musuh. Dia membuat sepatu khusus dengan alas dalam posisi terbalik sehingga jejak yang ditinggalkan menjadi berbalik arah. “Cibaduyut kan dikenal sebagai pabrik sepatu, saya juga mampu membuat sendiri,” ujar Tatang saat ditemui di rumahnya di kawasan Kodiklat TNI di Bandung, 3 Februari lalu.

masih tampak bugar dan kekar, ingatan Tatang Koswara pun masih jernih. Kakek tujuh cucu ini beroperasi di Remexio, Lautem, Viqueque, Aileu, Becilau, dan Bobonaro di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat. “Saya pernah tiga kali menjalankan misi, termasuk seorang diri,” ujar Tatang yang memiliki sandi S-3 alias ‘Siluman 3’.

Tatang pernah terluka dalam satu pertempuran. Dia dikepung musuh dan betisnya tertembak peluru. Dengan gunting yang dia miliki, peluru dia cabut sendiri. Tatang yang seorang sniper ini kemudian bisa lolos dan menembak beberapa musuhnya “Sambil bersembunyi di kegelapan, saya congkel sendiri kedua peluru itu dengan gunting kuku,” ujar Tatang seraya memperlihatkan bekas luka di kakinya. Tatang masuk tentara melalui jalur tamtama di Banten pada 1966. Kala itu sebetulnya dia cuma mengantar sang adik, Dadang, yang ingin menjadi tentara. Tapi karena saat di lokasi pendaftaran banyak yang menyarankan agar dirinya ikut, dia pun mendaftar. Saat tes, ternyata cuma dia yang lulus.

Meski punya ijazah Sekolah Teknik (setara SMP), Tatang melamar sebagai prajurit tamtama menggunakan ijazah SR (Sekolah Rakyat) atau Sekolah Dasar. Selang beberapa tahun ia mengikuti penyesuaian pangkat sesuai ijazah yang dimiliknya itu. Sebagai bintara, ia ditempatkan di Pusat Kesenjataan Infantri (Pusenif). Di sana pula ia mendapatkan mengikuti berbagai pelatihan, mulai kualifikasi raider hingga sniper.

Seorang sniper, kata Tatang, harus berani berada di wilayah musuh. Fungsinya antara lain mengacaukan sekaligus melemahkan semangat tempur musuh. Target utama biasanya selain sniper musuh adalah komandan, pembawa senapan mesin, dan pembawa peralatan komunikasi. Tatang yang biasa menggunakan senjata laras panjang Winchester M-70 selama bertugas. Senjata ini mampu membidik sasaran hingga jarak 900-1000 meter. Kemahiran menembak Tatang secara alami sudah terlatih sejak remaja. Setiap Jumat, ia biasa membantu orang tuanya berburu bagong (babi hutan) yang kerap merusak lahan pertanian dan perkebunan. Bidikannya lewat senapan locok nyaris tak pernah meleset.

Berbeda dengan warga lain yang biasa bergerombol saat memburu babi, Tatang justru lebih suka menyendiri. dia juga sengaja mengejar babi yang lari ke hutan. “Sasaran bergerak lebih menantang saya. Itu terbawa saat memburu Fretilin di Timtim,” ujarnya. Tatang Koswara kini sudah pensiun dari TNI. Usianya pun sudah 68 tahun, namun dia tetap bugar, ingatannya juga masih kuat. Pada 1977-1978, Tatang beroperasi di Timor Leste melawan pasukan fretilin di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat. Tatang, satu-satunya sniper Indonesia yang diakui dunia. Namanya masuk dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat dunia.

“Saya biasa membidik kepala. Cuma sekali saya menembak bagian jantung, dia pembawa alat komunikasi. Sekali tembak, alat komunikasi rusak orangnya pun langsung ambruk,” kata Tatang yang ditemui, pada 3 Februari lalu. Tatang biasa menggunakan senjata laras panjang Winchester M-70 selama bertugas. Senjata ini mampu membidik sasaran hingga jarak 900-1000 meter. Kemahiran menembak Tatang secara alami sudah terlatih sejak remaja. Setiap Jumat, dia biasa membantu orang tuanya berburu bagong (babi hutan) yang kerap merusak lahan pertanian dan perkebunan. Bidikannya lewat senapan locok nyaris tak pernah meleset.

Berbeda dengan warga lain yang biasa bergerombol saat memburu babi, Tatang justru lebih suka menyendiri. Ia juga sengaja mengejar babi yang lari ke hutan. “Sasaran bergerak lebih menantang saya. Itu terbawa saat memburu Fretilin di Timtim,” ujarnya. Tatang tinggal di Bandung. Sebagai pensiunan dia masih tetap berolahraga untuk menjaga kesehatannya. Tatang sesekali mengisi pelatihan menembak bagi TNI.

Anda sudah menonton film American Sniper? Atau Enemy at The Gates? Dua film sniper itu diangkat dari kisah nyata. American Sniper menceritakan kisah Chris Kyle seorang marinir Amerika yang beroperasi di Irak. Kyle bahkan mendapat julukan Setan Ramadi. Kemudian dalam film Enemy at The Gates mengisahkan sniper Soviet di perang dunia kedua Vasily Zaytsev. Ketepatannya menembak dalam pertempuran Stalingrad membuat tentara Jerman gentar mendengar namanya.

Indonesia juga punya seorang sniper, namanya Tatang Koswara. Kini pria asal Bandung itu berusia 68 tahun, namun dia tetap bugar. Ingatannya pun masih kuat. Saat menemui Tatang, dengan penuh ekspresi kakek tujuh cucu itu mengisahkan pengalamannya bertempur di Timor Timur pada 1977-1978. Remexio, Lautem, Viqueque, Aileu, Becilau, dan Bobonaro adalah daerah operasinya di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat.

“Saya waktu itu menjadi pengawal Pak Edi, sekaligus ditugasi sebagai sniper,” kata Tatang saat ditemui di kediamannya di lingkungan Kompleks TNI Angkatan Laut, Cibaduyut-Bandung, Selasa (3/2). Meski di tanah air tak banyak yang mengenalnya, di dunia militer internasional justru mengakui reputasi Tatang sebagai sniper. Dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat dunia.

Di situ disebutkan bila Tatang dalam tugasnya berhasil melumpuhkan sebanyak 41 target orang-orang Fretilin. “Itu sebetulnya cuma dalam satu misi operasi. Saya pernah tiga kali menjalankan misi, termasuk seorang diri,” ujar Tatang yang memiliki sandi S-3 alias ‘Siluman 3’. Kata siluman dimaksudkan karena misi yang diembannya bersifat sangat rahasia. Sementara angka tiga merujuk ranking yang didapatnya saat mengikuti pendidikan sniper dari Kapten Conway anggota Green Barets Amerika Serikat pada 1973.

Sang legenda sniper dunia asal Indonesia, Tatang Koswara, rupanya pernah menciptakan alat yang berfungsi untuk mengasah latihan menembak malam. Pria berusia 68 tahun ini menyematkan label ABTEM. “ABTEM itu singkatan dari Alat Bantu Tembak Malam,” kata Tatang sewaktu ditemui di rumahnya, kawasan Dayeuhkolot, Kota Bandung, Kamis (26/2/2015).

Tatang membuat ABTEM pada tahun 90-an atau sebelum pensiun dari kesatuan Pusat Kesenjataan Infantri (Pusenif) TNI AD dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu). Kakek tujuh cucu yang pernah bertempur di Timor Leste pada 1977-1978 itu merasa bangga bisa meracik alat tersebut. “Sebelum pensiun (1994) saya ingin buat kenang-kenangan. Ya inilah alat ciptaan saya,” ujarnya. Dia menenteng koper hitam. Tatang membuka isi koper dan memperlihatkan ABTEM. Alat sebagai sentra kendali ini terdiri sejumlah deretan tombol dan saklar.

“Saya ingin prajurit TNI itu tidak hanya jitu menembak ketika siang, tapi juga jitu menembak saat malam hari,” kata Tatang. ABTEM ini disalurkan menggunakan kabel listrik yang bisa dipararelkan ke satu arah atau bagian depan di area lapangan. Di ujung tiap kabel itu dipasang alat berupa lampu mengarah ke lesan atau sasaran tembak bergambar tubuh. “Nah, nanti saya atur dan pencet tombol yang menempel di alat sentra kendali. Ketika lampunya menyorot bekedip ke arah lesan, lalu prajurit menembak lesan,” tutur Tatang yang pernah mengawal Edi Sudrajat.

Namun kini perangkat sederhana buatan Tatang itu mengalami sedikit kerusakan. Padahal ABTEM sering digunakan latihan oleh prajurit TNI seluruh kesatuan. “Mesti diservis lagi alatnya,” ujar Tatang. Ke depan, Tatang berharap alat tersebut bisa diproduksi massal. Menurut Tatang, perangkat teknologi tersebut pernah diperlihatkan kepada Luhut Pandjaitan (mantan Komandan Pussenif). “Beliau (Luhut) merasa bangga anak buahnya seperti saya bisa membuat alat tersebut,” ujar Tatang. “Kalau negara keadaan darurat, saya sebagai veteran siap diterjunkan di medan perang,” tutur Tatang menggebu-gebu.

Tatang Koswara menunjukkan foto-foto saat bertempur di Timor Leste 38 tahun silam. Saat itu, dia masih muda, tampil dengan seragam berkamuflase sambil menenteng senjata dan tentu saja, berbahaya. Di kediamannya, Kamis (26/2/2015), pria kelahiran Medan 12 Desember 1946 itu mengenang pertempuran melawan Fretilin. Dia menceritakan bagaimana perjuangannya untuk menembak musuh dengan berperan sebagai penembak jitu. Tak lama kemudian, dia menunjukkan sebuah flash disk yang berisi kenangan perang, namun sempat disembunyikan selama 25 tahun belakangan. Isinya, sejumlah foto-foto ketika dia masih muda, bersenjata laras panjang dan berbahaya.

Berbaju Kamuflase
Tatang bercerita soal atribut yang melekatnya di tengah pertempuran. Tatang berbalut pakaian ghillie suit atau busana kamuflase guna mengelabui lawan dan tidak terlihat musuh. Ada dua foto saat Tatang berbaju kamuflase. Pertama, ketika dia melihat ke kamera sambil menunjukkan wajahnya. Foto yang kedua, dia sedang berjalan dengan membelakangi kamera. “Bajunya buatan Amerika. Jadi bisa menyamar menyerupai alang-alang, rumput, dan tumbuhan,” tutur Tatang.

Mengendap Bersama Rekan
Legenda sniper dunia ini juga menunjukkan foto ketika dia sedang mengendap di perbukitan Timor Leste. Saat itu, Tatang tampak sedang berjalan menunduk di bagian depan. Sementara rekannya di belakang. Keduanya tampak siaga mengantisipasi serangan musuh. “Ada foto saya ketika mengendap di suatu perbukitan daerah Remexio (Timor Timur). Di belakang saya itu ada personel Batalion 410,” ucap Tatang.

Naik Helikopter
Nama Tatang masuk urutan ke-14 sniper hebat versi buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapon’ yang ditulis Peter Brookersmith (2000). Menurut Tatang, dia pernah bertugas di darat dan di udara. Salah satu foto menunjukkan Tatang sedang berada di helikopter sambil menenteng senjata. Di belakangnya, terlihat seorang rekannya. “Nah, kalau ini foto di helikopter. Saya pernah operasi udara,” ujarnya.

Bergerilya di Pegunungan
Satu foto lainnya memperlihatkan Tatang sedang berjalan di antara sungai di sebuah pegunungan. Dia selalu membawa senjata kesayangannya untuk menembak jitu. Senjata yang kerap digunakannya adalah Winchester model 70.

Dengan mata nyalang yang tajam bak elang, para penembak jitu mengintai dari teropong senapan musuh, mengendap di semak-semak atau di atas gedung. Mereka dianggap pahlawan bagi negaranya. Buku “Sniper Training, Technique and Weapon” yang ditulis Peter Brookesmith tahun 2000 lalu, mencatat beberapa sniper hebat. Siapa saja mereka?

Di buku tersebut, ada nama sniper legendaris Indonesia, Tatang Koswara, di dalamnya. Dia menempati urutan ke-14, sebagai penembak jitu terhebat sepanjang masa.Akan menyajikan 14 nama sniper terhebat dalam dua artikel. Berikut 7 nama terakhir dari 14 penembak jitu yang ada di buku Peter Brookesmith

8. Carlos N Hatchcock
Bakal Carlos N Hatchcock sebagai penembak jitu sudah terendus saat berlatih di pusat pendidikan US Marine Corps (USMC), tempat di mana dia bergabung sejak berusia 17 tahun. Dia beberapa kali memenangi kejuaran elite menembak di kalangan USMC. Saat Carlos ditempatkan di Vietnam tahun 1966, dia ditempatkan di wilayah yang paling berbahaya, Bukit 55. Tugasnya pun khusus, yakni melumpuhkan petinggi Vietkong, Pasukan Vietnam Utara plus sniper lawan. Carlos berhasil menuntaskan 2 tugas besar, yakni menghabisi interogator Prancis di Pasukan Vietkong yang suka menyiksa para pilot AS dan membunuh Jenderal Vietnam Utara. Dia juga sempat berduel dengan sniper Vietkong tangguh yang membunuh sejumlah marinir AS. Selama menjadi sniper, Carlos berhasil membunuh 93 tentara Vietkong. Atas jasanya, dia mendapatkan bintang jasa Silver Star dari Pemerintah AS. Namun luka yang didapatnya saat Perang Vietnam akhirnya berkembang menjadi penyakit Multiple Sclerosis yang menyebabkan kelumpuhan. Akhirnya setelah beberapa lama melawan penyakitnya, Carlos meninggal pada 23 Februari 1999 dalam usia 57 tahun.

9. Thomas R Leonnard
Thomas R Leonard adalah sniper dari US Marine Corps (USMC) yang juga terjun dalam perang Vietnam. Dalam situs snipercentral.com, disebutkan Thomas berhasil menembak 74 musuh. Sedangkan dalam buku “Sniper Training, Technique and Weapon” yang ditulis Peter Brookesmith tahun 2000, disebutkan berhasil menembak 94 musuh.

11. George Filyaw
Lagi-lagi dari satuan US Marine Corps (USMC) yang berlaga di Perang Vietnam, adalah George Filyaw. Dalam situs snipercentral.com, dia terkonfirmasi menewaskan 56 musuh dan 20 orang lain yang belum terkonfirmasi. Data 56 musuh yang ditembak Filyaw ini sama dengan data di buku “Sniper Training, Technique and Weapon” yang ditulis Peter Brookesmith tahun 2000. Foto di atas adalah foto saat Filyaw di lapang pada 26 Mei 1967.

12. Philip G Moran
Philip G Moran juga adalah penembak jitu di Perang Vietnam dari kesatuan AD AS. Jumlah tembakan Philip yang berhasil mengenai musuh menurut snipercentral.com adalah 53 tembakan, sama dengan yang disebutkan di buku “Sniper Training, Technique and Weapon” yang ditulis Peter Brookesmith tahun 2000.

13. Tatang Koswara
Indonesia juga punya seorang sniper, namanya Tatang Koswara. Kini pria asal Bandung itu berusia 68 tahun, namun dia tetap bugar. Ingatannya pun masih kuat. Saat menemui Tatang, dengan penuh ekspresi kakek tujuh cucu itu mengisahkan pengalamannya bertempur di Timor Timur pada 1977-1978. Remexio, Lautem, Viqueque, Aileu, Becilau, dan Bobonaro adalah daerah operasinya di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat. “Saya waktu itu menjadi pengawal Pak Edi, sekaligus ditugasi sebagai sniper,” kata Tatang saat ditemui di kediamannya di lingkungan Kompleks TNI Angkatan Laut, Cibaduyut-Bandung, Selasa (3/2).

Meski di tanah air tak banyak yang mengenalnya, di dunia militer internasional justru mengakui reputasi Tatang sebagai sniper. Dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-13 sniper hebat dunia. Di situ disebutkan bila Tatang dalam tugasnya berhasil melumpuhkan sebanyak 41 target orang-orang Fretilin. “Itu sebetulnya cuma dalam satu misi operasi. Saya pernah tiga kali menjalankan misi, termasuk seorang diri,” ujar Tatang yang memiliki sandi S-3 alias ‘Siluman 3’. Kata siluman dimaksudkan karena misi yang diembannya bersifat sangat rahasia. Sementara angka tiga merujuk ranking yang didapatnya saat mengikuti pendidikan sniper dari Kapten Conway anggota Green Barets Amerika Serikat pada 1973.

14. Thomas D Ferran
Thomas Ferran adalah penembak jitu dari kesatuan US Marince Corps (USMC). Tembakan tepatnya terhitung mengenai 41 musuh saat perang Vietnam. Thomas dilatih oleh sniper kawakan Carlos Hatchcock, untuk menembak musuh dari jarak jauh, 1.200 meter. Namun saat diterjunkan di Chu Lai, Vietnam, dia melihat musuh dalam jarak 1.300 meter. Bersama rekannya, akhirnya tentara Vietkong itu bisa ditembak mati dalam tembakan yang kedua. Thomas pernah menuliskan bahwa sniper ini dilimpahkan tugas ketuhanan palsu yang bisa menentukan nasib seseorang. “Kau melihat melalui teropongmu, dan Anda melihat seperti apa manusia itu. Anda menyadari mereka manusia. Anda memegang kendali penuh untuk mengakhiri hidup mereka,” jelas Thomas seperti dikutip dalam Telegraph, edisi 11 April 2004.

Profile Sugianto Pelapor Wakil KPK Yang Juga Mantan Anggota DPR Fraksi PDI-P


Sugianto, nama pelapor Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto tercatat pernah menjadi anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan periode 2009-2014. Anggota Komisi Hukum DPR itu menyelesaikan pendidikan hingga SMEA di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringinbarat, Kalimantan Tengah.

Pada pemilihan umum 2009, Sugianto terpilih dari Dapil Kalimantan Tengah dengan perolehan suara mencapai 41.337 suara (35,8%). Pengusaha kelahiran Sampit 5 Juli 1973 tercatat pernah menikah dengan artis Ussy Sulistiawaty pada 12 Agustus 2005 sampai bercerai setahun kemudian.

Nama Sugianto sempat mencuat saat terjadi kasus penyiksaan investigator lingkungan hidup Faith Doherty dari Environmental Investigation Agency, London dan Ruwidrijanto, anggota lembaga swadaya masyarakat Telapak Indonesia. Sugianto juga diduga memiliki kaitan dengan penyiksaan Abi Kusno Nachran, wartawan tabloid Lintas Khatulistiwa. Abi ternyata masih kakek Sugianto.

Penyiksaan yang diterima Faith Doherty waktu itu cukup kejam. Empat jari tangan kirinya terpotong, menyisakan hanya jempol. Sedangkan Abi Kusno Nachran, jari di tangan kanannya utuh, tapi sekujur lengannya menyimpan bekas luka. Abi menyebut dua nama yang bertanggung jawab atas kekerasan itu: Sg dan AR

Selain itu Sugianto juga pernah diduga memiliki kaitan dengan kasus kerusakan hutan di Taman Nasional Tanjung Puting. Waktu itu tahun 2002 Sugianto dipercaya pamannya Rasyid mengelola perusahaan Tanjung Lingga yang mendapat hak pengusahaan hutan seluas 40 ribu hektare lebih di Kalimantan Tengah.

Terbongkarnya kerusakan hutan itu diakui sendiri oleh Sugianto. Ia terekam video pabrik-pabrik ramin milik Rasyid yang dibuat oleh tim investigasi Environmental Investigation Agency bersama Ruwidrijanto, anggota Telapak Indonesia, pada tahun 1999. Ketika itu, mereka menyamar sebagai pengusaha kayu yang melihat-lihat pabrik milik Rasyid. Sugianto, sendiri yang mengantar tim ini berkeliling saat itu.

Dalam rekaman itu Sugianto juga memaparkan bagaimana seluk beluk mengekspor kayu-kayu secara ilegal dari Taman Nasional Tanjung Puting. Tindakan itu menghindari pajak ekspor yang mencapai 25 persen.

Soal isu-isu itu, Sugianto belum berhasil dimintai komentar. Kepada wartawan yang menemuinya di kantor di Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri, Sugianto yakin dirinya benar dalam soal pelaporan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto. Dia mengaku menjadi korban Bambang Widjojanto saat tim kuasa hukum KPK tengah menjawab pertanyaan awak media di Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri, Jumat.

“Ibu jangan bela-bela dia, saya jadi korban,” teriak Sugianto kepada Nursyahbani Katjasungkana di belakang awak media.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengatakan kasus penangkapan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto oleh Badan Reserse Kriminal Polri memerlukan cara pengusutan yang mendalam. Alasannya, kedua lembaga yakni KPK dan Polri memiliki bukti dan pembelaannya masing-masing. “Dua-duanya punya bukti sendiri,” kata Ahok, sapaan Basuki, di Balai Kota, Jumat malam, 23 Januari 2015.

Jumat pagi, 23 Januari 2015, Bambang ditangkap Badan Reserse Kriminal Polri saat sedang mengantarkan anak keempatnya pergi sekolah. Bambang ditangkap sekitar pukul 07.30 WIB di daerah Cimanggis, Depok. Ahok menjelaskan, KPK berperan penting dalam mengusut tindak pidana korupsi di Indonesia. Di Ibu Kota, ia berujar komisi antirasuah pernah membantu Pemerintah DKI mengungkap aksi pungutan liar di Balai Uji Kir Kedaung, Jakarta Barat. (Baca: Eks Pimpinan KPK Minta Jokowi Tegas Soal Bambang

Selain itu, ia bertutur KPK juga merupakan mitra kerja Pemerintah DKI. Kedua institusi pemerintahan menandatangani perjanjian kerja sama untuk memberantas korupsi di lingkungan Pemerintah DKI. Ahok enggan berkomentar banyak ihwal penangkapan ini. Namun ia berharap masalah ini cepat selesai dan keberadaan KPK kembali kokoh di Indonesia. “Saya ingin KPK tetap ada,” kata Ahok.

Di Istana Bogor, Presiden Joko Widodo menyatakan proses hukum terhadap Bambang harus berjalan obyektif dan sesuai dengan peraturan. Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Jaksa Agung, beberapa menteri, Ketua KPK Abraham Samad dan Wakapolri, Komisaris Jenderal Badrodin Haiti.

“Saya menyampaikan kepada Ketua KPK dan Wakapolri, sebagai kepala negara saya meminta institusi Polri dan KPK memastikan bahwa proses hukum yang ada harus obyektif dan sesuai aturan Undang-undang yang ada,” kata Jokowi. Presiden Jokowi meminta kepada KPK dan Polri agar tidak terjadi gesekan dalam menjalankan tugas. Jokowi melanjutkan, “Sebagai Kepala Negara, saya minta agar institusi Polri dan KPK tidak terjadi gesekan dalam menjalankan tugas masing-masing,” kata Jokowi.

Jokowi juga menegaskan media agar obyektif dalam menyuguhkan liputan penangkapan Bambang. “Kita berharap semuanya juga, media terutama, menyampaikan hal-hal objektif,” katanya.

Foto Cut Nyak Dien Berjilbab Beredar Di Dunia Maya


foto-cut-nyak-dien-di-akun-seuramoe-mekkah-_141224102014-268

Berdasarkan penelusuran Republika, ternyata foto yang terpampang di sebelah foto Cut Nyak Dien adalah istri Panglima Polim. Di laman, media-kiltv.nl disebutkan bahwa ia adalah ‘Vrouw van Teukoe Panglima Polim te Sigli’.

Dan apabila dilihat lebih jelas, foto yang terpampang disebelah foto Cut Nyak Dien tersebut bukanlah mengenakan hijab seperti yang kita kenal sekarang, melainkan hanya kedurung. Karena pada foto tersebut dapat terlihat jelas telinga dan rambut dari pemakainya.

Jagat dunia maya khususnya laman Facebook dihebohkan dengan foto Cut Nyak Dien berjilbab. Pemilik akun Seuramoe Mekkah menampilkan foto pahlawan perempuan Aceh itu dengan menggunakan hijab panjang. Melalui akunnya, ia menyatakan pemerintah sekuler menyesatkan sejarah Aceh. Tujuannya menurut dia ingin menyesatkan generasi muda Aceh. “Jahatnya skenario kaum penjajah,terus ditanamkan kepada anak-anak bangsa Aceh, sehingga sejarahpun diplintirkan dan disuguhkan dengan bahasa yang manis,” tutur dia di akun Facebooknya.

Ia menambahkan dalam pelajaran sejarah,Banyak pahlawan perempuan Aceh yang digambarkan bersanggul, seperti Cut Nyak Din,Cut Meutia, dan Laksamana Malahayati. Ia menambahkan saking alerginya pemerintah sekuler pada Islam yang benar, foto seorang muslimah diubah menjadi gambar wanita yang terbuka auratnya. Walaupun itu seorang wanita pahlawan nasional sekalipun.

Sebagian masyarakat menanggapi dengan menjawab bahwa itu adalah HOAX yang tidak terlalu penting yang disebarkan oleh orang yang tidak paham sejarah dan benci kebenaran yang timbul akibat rasa frustasi dan malu yang akut karena ketidak mampuan diri untuk mengubah keadaanny sendiri hingga menjadi benci dan destruktif terhadap apapun kecuali dirinya sendiri.