Monthly Archives: August 2015

Kisah Kepahlawanan dr Achmad Mochtar Sang Pemimpin Yang Rela Dipancung Demi Bawahan Dalam Melawan Penjajahn Jepang


Pada Juli-Agustus 1944, sekitar 400-900 romusha di Klender, Jakarta bergelimpangan tewas satu per satu. Beberapa pekan sebelumnya, para romusha itu menerima vaksin tifus-kolera-disenteri (TCD). Siapakah penyuntik vaksin masih misterius saat itu. Penjajah Jepang ingin menyelidiki kematian romusha massal ini. Maka, minta tolonglah Jepang kepada Lembaga Eijkman yang kala itu sudah dipimpin oleh dr Achmad Mochtar.

“Dalam ilmu kedokteran waktu zaman Jepang, kalau ada yang mati begitu, mereka minta autopsi. Dokter-dokter kita saat itu kan didikan Belanda,” jelas Prof Sangkot Marzuki, ilmuwan biologi molekuler yang dipanggil Menristek saat itu, BJ Habibie, untuk menghidupkan kembali Lembaga Eijkman tahun 1992 dan memimpin lembaga itu hingga tahun 2014.

Hal itu dikatakan Sangkot kala berbincang di kantor Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Kompleks Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (25/8/2015) lalu. Sangkot menjelaskan, metode autopsi itu adalah menyayat tempat suntikan pada jasad-jasad para romusha. Para ilmuwan Eijkman melihat kemungkinan apakah ada bakteri tetanus yang membuat para romusha tewas.

“Nah memeriksanya di Lembaga Eijkman,” tuturnya.

Seorang ilmuwan yang terlibat memeriksa, menurut Sangkot, bernama Yatman. Saat diperiksa Kenpetai, polisi militer Jepang, Yatman mengatakan bahwa tidak ada bakteri tetanus yang ditemukan pada para jasad romusha itu.

Untuk membandingkannya, hasil autopsi jasad para romusha itu dibandingkan dengan sampel kontrol, alias sampel alami yang tak diberikan tindakan apapun, yakni memeriksa bakteri serupa pada penderita tetanus.

“Dan ada kontrolnya kebetulan, ada pasien di RS. Kebetulan ada kontrol, dari orang di kaki yang tetanusan itu diperiksa apakah betul ada tetanusnya. Diperiksa bersamaan. Dan dia (sampel kontrol) positif. Jadi tekniknya oke kan? Kalau nggak ada (sampel kontrol) kan bisa dituduhkan bahwa metode kamu nggak jalan,” jelas pria yang juga menjabat sebagai ketua AIPI ini.

Karena tidak ditemukan bakteri pada sayatan jasad tempat suntikan, misteri berikutnya yang harus dipecahkan, apakah ada toksin? Nah, menemukan ada atau tidaknya toksin itu harus mengekstraksi sayatan itu. Maka para ilmuwan di Lembaga Eijkman mengekstraksi sayatan tersebut. Setelah diekstraksi, kemudian hasil ekstraksi itu disuntikkan ke tikus. “Kalau ada toksinnya tikusnya kejang. Kalau tidak ada, normal. Ternyata, tikusnya kejang semua. Dan parahnya, mati. Berarti kan banyak toksinnya. Jadi di tempat itu (sayatan jasad tempat suntikan), masih banyak sekali toksinnya,” papar Sangkot.

Penjajah Jepang yang tadinya meminta Lembaga Eijkman untuk memeriksa dan mengautopsi jasad para romusha itu, kini malah balik menuduh bahwa Lembaga Eijkman yang dipimpin dr Achmad Mochtarlah yang mencemari vaksin TCD itu. dr Achmad Mochtar dituduh mempimpin gerakan sabotase melawan Jepang, dengan mencemari vaksin dengan bakteri dan toksin tetanus yang menyebabkan ratusan romusha tewas. Faktanya, yang kemudian ditelusuri oleh Profesor Dr J Kevin Baird, Kepala Eijkman-Oxford Clinical Research Unit bersama Sangkot, ternyata, vaksin mematikan itu merupakan percobaan medis yang dilakukan militer Jepang. Percobaan medis yang gagal.

Para romusha ternyata dijadikan ‘kelinci percobaan’ vaksin tetanus yang dibuat oleh dokter Jepang, sebelum vaksin itu disuntikkan kepada para tentara dan pilot tempur Jepang. Untuk menutupi kesalahan Jepang sendiri, penjajah Jepang mencari kambing hitam. Menuduh para ilmuwan di Lembaga Eijkman, yang memang saat itu juga tengah terlibat mengembangkan vaksin.

Kembali ke tahun 1944, dr Achmad Mochtar dan para ilmuwan yang dikomandaninya berada di ujung tanduk karena difitnah Jepang. Oktober 1944, semua ilmuwan di Lembaga Eijkman ditangkap Jepang.

dr Achmad Mochtar, namanya tertelan hiruk pikuk zaman. Perjuangannya tak mengangkat senjata namun melalui ilmu pengetahuan meski harus menyerahkan nyawa agar rekan-rekannya selamat. Nahas!

Namanya mungkin tak setenar nama-nama pahlawan yang menjadi nama-nama jalan protokol di ibu kota dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Namun perjuangannya tak bisa dinafikan.

Dialah dr Achmad Mochtar, orang Indonesia pertama yang menjadi Direktur Lembaga Eijkman, lembaga sains dan riset di bidang biologi molekuler pertama di Indonesia yang didirikan sejak zaman penjajahan Belanda tahun 1888.

Di lembaga yang namanya diambil dari nama penerima Nobel bidang kesehatan tahun 1929, Christiaan Eijkman ini, dr Achmad Mochtar diangkat menjadi Direktur Institut Eijkman (nama Lembaga Eijkman saat itu) pada tahun 1942.

Pada tahun 1942, penjajah Jepang mulai masuk ke Indonesia, menangkapi orang-orang berkebangsaan Belanda termasuk direktur Lembaga Eijkman pada masa itu yang bernama WK Martens, yang kemudian meninggal akibat beri-beri saat berada dalam penyekapan militer Jepang, demikian dilansir dari Wikipedia yang bersumber dari ScienceMag dalam artikel “HISTORY OF SCIENCE Righting a 65-Year-Old Wrong”.

dr Achmad Mochtar terlahir di Sumatra Barat tahun 1892, dan lulus dari sekolah kedokteran STOVIA tahun 1916. Dia kemudian mengambil 2 tahun penempatan wajib di klinik terpencil di Panyabungan Sumatera Utara (Sumut). Di Sumut bertemu dengan WAP Schuffner, peneliti mikroskopik longitudinal pertama pada parasit malaria. Berkat pengaruh Schuffner, administrasi kolonial Belanda di Indonesia (saat itu disebut Netherlands East Indies) memberangkatkan Mochtar ke Universitas Amsterdam untuk meraih gelar doktor.

Dalam tulisan tesisnya tahun 1927 dia menulis soal leptospira, di mana saat itu sebagian besar menyangkal bahwa leptospira menyebabkan demam kuning. Promotor utamanya adalah Hideyo Noguchi, ahli mikrobiologi Jepang yang pada tahun 1911 membuktikan bahwa ada jenis spirochete merupakan penyebab neuropati syphilis. Mochtar kembali ke Indonesia dan melanjutkan penelitian mengenai leptospirosis sebelum bergabung dengan fasilitas penelitian biomedis terbaik, the Central Medical Laboratory di Indonesia tahun 1937, yang pada tahun 1938 namanya berubah menjadi Institut Eijkman.

Menjadi direktur lembaga sains yang didirikan Belanda saat Indonesia berada dalam masa transisi ke dalam tangan Jepang bukanlah hal yang mudah. Namun dr Achmad Mochtar mengambil tanggung jawab itu dengan gagah. Tanggung jawab itu mesti ditebus dengan nyawanya sendiri yang akhirnya harus diserahkan ke penjajah Jepang yang membunuhnya dengan keji. dr Achmad Mochtar, direktur pribumi pertama Lembaga Eijkman dipaksa mengaku bersalah menyabotase vaksin yang menyebabkan ratusan romusha tewas. Dia kemudian dipancung dan jasadnya dilindas mesin.

Butuh waktu 65 tahun, sejak kematiannya, untuk mengungkap penyebab kematian dr Achmad Mochtar itu. Profesor Dr Sangkot Marzuki mulai mencari kebenaran dari kematian dr Achmad Mochtar, saat tahun 1992 dia dipanggil Menristek BJ Habibie, untuk menghidupkan kembali pusat riset biologi molekuler Lembaga Eijkman. “Kan mulainya ini bertingkat. Waktu saya mulai, bukan mau mengangkat awalnya sih, ingin mendapat kejelasan, lebih ke arah pribadi, waktu itu saya direktur Lembaga Eijkmen,” demikian kisah Prof Sangkot saat berbincang di kantor Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Kompleks Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (25/8/2015) lalu.

Saat hendak menghidupkan kembali Lembaga Eijkman, Sangkot menerima sebuah buku berwarna hijau. Buku itu berisi sejarah Lembaga Eijkman, termasuk tentang data dan sejarah dr Achmad Mochtar. “Itu menjadi obsesi untuk satu waktu saya ingin meluruskan sejarah mengenai direktur lembaga yang saya pimpin. Orang Indonesia yang dituduh oleh Jepang, melakukan kalau zaman sekarang namanya bioterorisme,” tegas Prof Sangkot.

Mulailah Prof Sangkot meneliti, mengumpulkan data, dibantu dengan koleganya dari Oxford, Profesor J Kevin Baird. Ide menuliskan buku ini bermula pada 2006, saat Prof Sangkot bercerita kepada Prof Baird yang ditindaklanjuti menggali fakta-fakta yang terjadi dalam peristiwa tewasnya ratusan romusha di Klender, Jakarta Timur, pada 1944, yang berujung pada eksekusi mati dr Achmad Mochtar. “Kevin masuknya belakangan, dia punya mahasiswa PhD yang mau dilibatkan, kerjanya di Eijkman tapi dia mau kuliah ke Oxford,” tutur Sangkot.

Mahasiswa doktoral bimbingan Baird itu kemudian diminta Baird untuk menulis sejarah Lembaga Eijkman. Mahasiswa ini kemudian datang ke Sangkot dan diberitahukanlah sejarah dr Achmad Mochtar. Hasil konsultasi dengan Sangkot, kemudian dilaporkan mahasiswa tersebut kepada Baird. Belakangan, justru Baird lah yang lebih terobsesi dan bergairah mencari fakta-fakta sejarah itu. “Tentang tidak fairnya Jepang segala macam. Dia (Baird) langsung dengan saya, ‘Ayo kita tulis’. Semua kerjaannya ditinggalkan untuk menulis itu 3 bulan. Draft pertama 3 bulan. Totalnya 3 tahun (menulis buku),” ungkap Sangkot.

Selama 3 tahun itu, Sangkot dan Baird mencari sumber, dokumentasi dan wawancara saksi yang masih hidup dan mencari dokumen hingga ke Australia. Dokumen yang secara tidak langsung mendukung dugaan tersebut adalah arsip pengadilan di Australia terkait kejahatan perang yang berlangsung tahun 1945. Pengadilan terebut menjatuhkan vonis 4 tahun penjara terhadap tokoh militer Jepang, Hirosato Nakamura.

Dalam peristiwa yang berbeda dari tragedi Klender, Nakamura dinyatakan bersalah karena menewaskan 15 dari 17 narapidana di Indonesia dalam sebuah uji coba vaksin tetanus. Sementara 2 narapidana lainnya dieksekusi mati, agar tidak membocorkan eksperimen yang gagal tersebut. “Setelah itu kan kita interview orang. Dia (Baird) 3 bulan nggak ngerjain apa-apa, kaya orang kesurupan. Staf-stafnya bilang, ‘Segera nih (menerbitkan buku), kalau nggak dia nggak ngurusin labnya’,” tutur Sangkot.

Buku tersebut akhirnya terbit pada Mei 2015 dengan judul “War Crimes in Japan-Occupied Indonesia: A Case of Murder by Medicine” dan diluncurkan lebih dulu dalam bahasa Inggris di Amerika Serikat. Bukunya belum beredar di Indonesia dan hanya bisa dipesan melalui Amazon. “Kisah tentang Prof. Achmad Mochtar merupakan drama kemanusiaan yang terjadi dalam kurun waktu yang amat bersejarah untuk Indonesia, dan terjalin dari berbagai peristiwa militer dan politik pada periode 1942-1945,” ujar Sangkot seperti dikutip dari situs AIPI, aipi.org, dalam artikel yang diunggah 3 Juli 2015 lalu.

Ia menyadari bahwa buku tersebut dapat dianggap membuka kembali luka lama saat hubungan antara Indonesia dan Jepang kini terjalin erat. Namun mereka merasa sejarah tetap perlu diluruskan. Terlebih, peristiwa tersebut tidak hanya mengakibatkan terhentinya aktivitas Lembaga Eijkman tetapi juga berpengaruh besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Achmad Mochtar kala itu merupakan salah satu ilmuwan terbaik yang dimiliki Indonesia. “Kalau sekiranya Mochtar tidak dipancung, mungkin ilmu pengetahuan Indonesia tidak habis begini,” katanya.

Oktober 1944, dr Achmad Mochtar dan para ilmuwan di Lembaga Eijkman ditangkap karena dituduh Jepang menyabotase vaksin yang menyebabkan ratusan romusha tewas. Takdir pilu itu pun terjadilah. Para ilmuwan itu dipukul, dibakar dan disetrum. Salah satu dari mereka mati. Pihak Jepang kemudian membebaskan para ilmuwan yang selamat dari siksaan itu kecuali dr Achmad Mochtar. Nasibnya kemudian berakhir tragis, dia dipancung Jepang pada 3 Juli 1945. Tak cukup dipancung, jasadnya dihancurkan dengan mesin gilas uap dan dibuang ke liang kuburan massal.

Fakta mengapa hanya dr Achmad Mochtar saja yang saat itu tidak dibebaskan Jepang kemudian dicari tahu oleh Profesor Dr J Kevin Baird, Kepala Eijkman-Oxford Clinical Research Unit bersama Profesor Dr Sangkot Marzuki, ilmuwan biologi molekuler yang menghidupkan kembali Lembaga Eijkman tahun 1992 dan memimpin lembaga itu hingga tahun 2014.

Temuan fakta itu membuat pilu. Baird menemukan bahwa dr Achmad Mochtar telah membuat negosiasi dengan Jepang. Achmad Mochtar bersedia menerima untuk disalahkan terkait tuduhan sabotase vaksin, asal, rekan-rekan ilmuwannya dibebaskan. “Achmad Mochtar tidak hanya seorang pahlawan di Indonesia namun juga pahlawan bagi sains dan kemanusiaan. Dia kehilangan segalanya, termasuk istrinya di rumah. Kemudian mengorbankan hidupnya untuk stafnya, koleganya dan teman-temannya,” demikian kata Baird seperti dilansir The Observer, edisi Minggu 25 Juli 2010. Salah satu ilmuwan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Sjamshidajat Ronokusumo dalam The Observer berujar, “Dia telah gugur sebagai martir, melindungi bawahannya”.

Butuh waktu 65 tahun, sejak kematiannya, untuk mengungkap penyebab kematian dr Achmad Mochtar itu. Kini, pada tahun 2015, tepat 70 tahun dr Achmad Mochtar gugur, proses pencarian kebenaran itu oleh 2 ilmuwan, Prof J Kevin Baird dan Prof Sangkot Marzuki diabadikan dalam buku “War Crimes in Japan-Occupied Indonesia: A Case of Murder by Medicine”.

Advertisements

Mobil Bertambah 4 Juta Per Tahun Di Jakarta dan Habiskan 90 Persen Badan Jalan


Penyebab utama tingginya kemacetan dan penggunaan kendaraan pribadi Jakarta diyakini pengamat angkutan umum Azas Tigor Nainggolan karena buruknya fasilitas alat transportasi massal yang disediakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “Belum layak. Dampaknya banyak orang masih memilih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang angkutan umum,” kata Tigor. Tigor pun meminta Pemprov DKI untuk rutin meremajakan angkutan umum agar masyarakat tertarik dan mau beralih dari kendaraan pribadi.

Menurut Tigor, pertumbuhan kendaraan di Jakarta mencapai 11 persen, membuat Jakarta menjadi kota termacet di dunia. “Paling tinggi, pertambahan sepeda motor kira-kira mencapai 12 juta per tahun,” ujarnya. Sedangkan menurut data dikepolisian pertambahan sepeda motor hanyalah mencapai 730 ribu unit per tahun.

Kepala Subdit Pendidikan dan Rekayasa (Kasubdit Dikyasa) Ditlantas Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Ipung Purnomo mengatakan perbandingan jumlah jalan dan kendaraan yang tidak sebanding menjadi salah satu penyebab kemacetan di Jakarta. Menurutnya, penambahan motor mencapai 2-3 ribu unit per hari, untuk mobil 7-10 ribu unit. Hal ini berbanding terbalik dengan penambahan jalan yang hanya 0,01 persen per tahun.

Kemacetan merupakan masalah klasik yang terus ada di Jakarta. Polda Metro Jaya mencoba berbagai cara untuk mengatasi macet salah satunya menerjunkan ribuan personel untuk mengatasi kemacetan setiap Senin Pagi dan Jumat Sore. Hal ini dikarenakan kemacetan terparah terjadi pada dua hari tersebut. Kepala Subdit Pendidikan dan Rekayasa (Kasubdit Dikyasa) Ditlantas Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Ipung Purnomo mengatakan kemacetan terjadi pada jam-jam sibuk. Namun, kemacetan yang terjadi kenaikannya tidak signifikan setiap harinya.

“Kalau dilihat kemacetan pasti ada, tapi tidak signifkan kenaikanya cuma 2-3 persen per hari, biasanya terjadi di jam sibuk seperti jam berangkat dan pulang kerja,” kata Ipung, kemarin. Selain itu, jalan rusak dan proyek pembangunan MRT (Mass Rapid Train) menjadi penghambat jalan yang menyebabkan semakin parahnya macet di Jakarta. Belum lagi ditambah pengendara yang tidak menaati rambu-rambu lalu lintas.

“Proyek pembangunan MRT menghambat pengendara, lajur yang tadinya dua jadi satu. Jalan rusak yang ada di Jakarta juga menghambat dan menyebabkan efek domino bagi kendaraan lainnya jika satu kendaraan mengerem akibat jalan rusak,” katanya. Untuk mengatasi kemacetan, Ipung mengatakan pihaknya menurunkan ratusan personel setiap harinya. Namun, ada pengecualian pada Senin Pagi dan Jumat Sore.

“Untuk Senin pagi kami tidak apel, semua personil diterjunkan untuk mengatur lalu lintas, jumlahnya 5 ribu. 5 ribu personel Biasanya Senin Sore dan Jumat Pagi karena merupakan waktu terparah macet di Jakarta. Kalau hari biasanya hanya 200 personel,” ujarnya. Upaya lainnya, pihaknya berkoordinasi dengan instansi terkait seperti Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Perhubungan. “Pedagang Kaki Lima (PKL) juga membuat macet, makanya kita koordinasi agar ditertibkan sehingga arus lalu lintas jadi lancar,” kata Ipung.

Ipung mengatakan dirinya mendukung Pemerintah Provinsi Jakarta yang membenahi transportasi umum sebagai salah satu solusi kemacetan. “Kami mendukung pembenahan transportasi massal yang dilakukan pemprov Jakarta agar aman dan nyaman sehingga masyarakat yang biasanya menggunakan kendaraan pribadi beralih ke transportasi umum,” katanya.

Sementara itu, untuk pengendara kendaraan dirinya menghimbau agar keselamatan menjadi prioritas utama. Sehingga harus menaati peraturan lalu lintas dan tata tertib dalam berkendara. Menurutnya, jika pengendara tertib, hal itu juga dapat mengurangi kemacetan di Jakarta.

Meski demikian, buruknya kondisi kendaraan umum di Jakarta memberi keuntungan bagi pihak-pihak tertentu, misalnya pengelola ojek berbasis aplikasi telepon pintar. Sebagai salah satu pelaku usaha angkutan baru, penyedia transportasi ojek berbasis ponsel ini dianggap dapat memberikan solusi mempersingkat waktu meski penggunanya harus mengeluarkan biaya lebih. “Ojek online itu sekarang diserbu orang. Masyarakat berpikir praktis daripada harus buang waktu naik angkutan umum seperti bus,” ujar Azas.

Kota Jakarta dinobatkan sebagai kota termacet di dunia berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Castrol Magnetec. Namun jauh sebelumnya, Jakarta yang kota metropolitan sudah dibayangi kecemasan menjadi sebuah kota gagal dalam hal dilanda kemacetan luar biasa. Prediksi Japan International Cooperation Agency (JICA) pada 2000 bahwa lalu lintas Jakarta pada 2014 akan macet total, mulai jadi kenyataan. Rasio jalan dengan luas wilayah dan jumlah kendaraan di Jakarta tak berbanding lurus.

Idealnya, menurut pengamat masalah perkotaan dari Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna, perbandingan panjang jalan dengan wilayah yaitu di atas 10 persen. Namun pada kenyataannya di Jakarta hanya 7 persen. “Panjang jalannya segitu-gitu saja, sementara jumlah kendaraan setiap saat bertambah, dan luas wilayahnya juga tetap segitu,” ujar Yayat kepada CNN Indonesia.

Dewan Transportasi Kota Jakarta mencatat, dalam sehari terdapat penambahan 500 hingga 700 unit kendaraan baru di ibu kota. Sementara kendaraan yang melintasi jalanan Jakarta bisa mencapai angka 7 juta.

Ironis karena di saat warga Jakarta dan penduduk daerah-daerah penyangganya mengandalkan kendaraan pribadi, kota-kota besar lain di dunia justru meninggalkan pola transportasi berbasis jalan raya. Jepang dan China misalnya mengandalkan alat transportasi massal berbasis rel. Subway lebih diminati ketimbang jalanan, membuat kemacetan tinggal kenangan di kota-kota besar berbagai negara

Seandainya Ciliwung Bisa Serindang Sungai Ogansugyo di Kota Seoul


Sungai Ogansugyo membelah padatnya gedung pencakar langit si Seoul, Korea Selatan (Korsel). Namun sungai ini kelihatan eksotis karena banyaknya pepohonan besar nan rindang hingga terlihat bersih dan jernih.

Sore itu terik mata hari bersinar penuh dengan suhu udara 29 derejat di kota Seoul tidak begitu terasa karena teduhnya pepohonan disana. Di negeri gingseng ini masih berada di musim panas. Berkesempatan menyinggahi sejenak kota Seoul ini bersama rombongan jurnalis lainnya bersama BNI yang akan membuka cabang di kota asal eletronik merek Samsung itu.

Tanpa sengaja, di kawasan pusat kota melihat sungai bernama Ogansugyo. Sungai ini membelah kawasan kota yang membujur dari barat ke timur. Sungai yang memanjang ini terlihat bersih dan rapi. Kanan dan kiri sungai yang terdapat banyak pohon besar ini diapit jalan dan gedung pencakar langit.

Sungai ini tidak terlalu besar, lebarnya hanya sekitar 7 sampai 9 meter saja. Kedalaman airnya juga sekitar 50 cm sampai 70 cm saja. Namun sebalah utara bibir sungai diberi jalan setapak. Untuk menuruni ke sungai ini diberikan tangga. Dindingnya dibeton dihiasi rerumputan. Bagian sisi selatan sungai dibiarkan pohon hijau tumbuh dengan alami dan bukan ditanam pohon palem seperti di Jakarta sehingga tetap panas dan terik tanpa nilai tambah sama sekali

Aliran air begitu jernih sehingga bebatuan di dasar kelihatan jelas. Ikan-ikan kecil menambah keindahan di dalam sungai yang tampak jelas. Kejernihan air si sungai ini bak ikan yang hidup di dalam aquarium. Tidak ada sampah berserakan di sekitarnya. Jangankan sampah, puntung rokok saja juga tidak ada di sekitar bantaran sungai tersebut.

Sore itu, sungai ini menjadi pemandangan tersendiri. Banyak warga menghabiskan waktunya duduk santai sejenak. Mereka berjalan kaki menelusuri jalan setapak di bantaran sungai. Ada juga warga yang duduk santai sambil menikmati makanan ringan. Namun warga yang duduk santai itu tidak akan meninggalkan sepotong sampah apapun di lokasi itu. Sesekali juga melintas warga yang lagi jogging.

Sekalipun sungai Ogansugyo ini membelah hiruk pikuknya kota Seoul, namun masyarakatnya dapat menjaga kebersihannya. Sungai itu dibiarkan mengalir tanpa harus dikotori. Tidak ada masyarakat yang memanfaatkan sungai ini sebagai tempat pembuangan sampah. Tidak terlihat juga jika sungai ini dijadikan tempat pemandian.

Sungai ini terbebas dari aktivitas pemandian warga atau dijadikan pencucian. Aliran mata air yang jernih dibiarkan begitu saja secara alami. Tak satu pengunjung pun yang berani merokok di kawasan ini. Bila saja dibandingkan sungai ini Nusantara, tentunya berbanding terbalik. Di Nusantara sungai adalah tempat pembuangan sampah paling efektif oleh masyarakat yang hidup di bantaran sungai.

Gara Gara Kirim SMS Adukan Lurah Ke Walikota …. Martua Saragih Dihukum Penjara


Martua Saragih (52) nyaris dipenjara karena SMS-nya yang melaporkan perilaku lurah di tempatnya ke Wali Kota Pekanbaru. Untung, majelis tinggi mengubah hukuman penjara menjadi hukuman percobaan. Kasus bermula saat Lurah Labuh Baru Barat, Pekanbaru, Riau, Lukman Hakim memberikan arahan kepada warganya soal pengelolaan sampah. Hal ini dilakukan untuk meneruskan kebijakan Wali Kota Pekanbaru yang meminta pengangkutan sampah dengan menggunakan mobil operasional kelurahan.

Maratua tidak sepakat dengan kebijakan tersebut dan mengajak warga RT 5/9 rapat di rumahnya pada 5 April 2013. Setelah itu ia mengirim SMS kepada Wali Kota Pekanbaru dan Asisten Pekanbaru I yang mengkritik kebijakan itu. Atas SMS ini, Lukman tidak terima dan mempolisikan Maratua.

Pada 20 Januari 2015, jaksa menuntut Maratua selama 1 tahun penjara. Maratua dijerat dengan Pasal 27 auat 3 jo Pasal 45 ayat 1 UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Gayung bersambut, Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru menjatuhkan hukuman kepada Maratua selama 6 bulan penjara pada 12 Februari 2015. Atas vonis ini, Maratua tidak terima dan mengajukan banding.

Siapa nyana, permohonannya dikabulkan. Pengadilan Tinggi (PT) Pekanbaru menganulir pidana penjara yang dijatuhkan PN Pekanbaru. “Menjatuhkan pidana selama 6 bulan dengan ketentuan bahwa pidana tersebut tidak usah dijalani kecuali jika dikemudian hari ada perintah lain dalam keputusan hakim sebelum masa percobaan berakhir selama 1 tahun,” ujar majelis sebagimana dilansir website Mahkamah Agung (MA), Senin (6/7/2015).

Duduk sebagia ketua majelis Nasruddin Tappi dengan anggota Ewit Soetriadi dan Erwan Munawar. Ketiganya meminta Maratua belajar dari hukuman percobaan ini agar berkelakuan baik dalam pergaulan masyarakat dengan saling cinta mencintai, menghormamati satu sama lain dan rukun damai. “Perbuatan terdakwa karena ketidakpuasan bathin sehingga terdakwa membuat pengaduan-pengaduan dan hal tersebut bisa diselesaikan secara bijak sesama warga tokoh masyarakat di kelurahan setempat,” putus majelis dengan suara bulat pada 22 Juni 2015 lalu.

3 Pelaku Mutilasi dan Kanibalisme Di Siak Riau Di Jatuhi Hukuman Mati


Masih ingat kasus mutilasi dengan korban 7 orang di Riau yang dagingnya dijadikan hidangan di warung tuak? Kini 3 pelaku biadab itu diganjar hukuman mati. Sidang ini berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Siak Sri Indrapura di Kabupaten Siak, Riau, Kamis (12/2/2015). Sidang ini menghadirkan tiga orang terdakwa yakni, Muhamad Delfis (19), Supian (25) dan Dita Sari (19). Sidang diketuai majelis hakim Sorta Ria Neva, Bartu Naibaho dan Rudi Wibowo.

Dalam persidangan ini, keluarga para korban juga turut hadir. Mereka ingin menyaksikan secara langsung jalannya persidangan para terdakwa yang telah membunuh anak-anak mereka secara keji. Polisi mengawal ketat jalannya sidang.

Ada padangan yang menarik dalam persidangan ini. Ketua majelis, Sorta Ria saat membacakan vonis pertama terhadap Muhamad Delfi sempat berderai air mata. Suaranya terisak ketika membacakan bahwa perbuatan terdakwa yang tega membunuh korbannya yang mayoritas anak-anak telah membuat duka mendalam buat keluarganya. “Dengan ini majelis hakim menjatuhkan hukuman mati,” kata Sorta dalam membacakan vonis.

Terdakwa Delvis selaku otak dalam kasus mutilasi ini hanya tertunduk lesu. Sidang dilanjutkan kembali dengan menghadirkan dua terdakwa lainnya yakni Supian dan Dita Sari. Untuk Delvis dan Supian vonis mati sesuai dengan tuntutan jaksa. Putusan majelis hakim terhadap Dita Sari berbeda dengan tuntutan jaksa yang hanya memberikan ancaman seumur hidup. Namun majelis hakim berpandangan berbeda. Dita yang saat kejadian turut serta membantu suaminya Delfi untuk membunuh para korbannya. Hanya saja belakangan Dita dan Delfi bercerai.

“Andai saja Dita ini setelah ikut membantu membunuh 3 korban setelah cerai mau memberitahukan kepada aparat keamanan, mungkin tidak ada korban selanjutnya. Tapi upaya itu tidak dia (Dita) lakukan. Karenanya terdakwa juga harus menerima hukuman mati,” kata Sorta Ria. Mendapat vonis hukuman mati, para terdakwa menyatakan akan melakukan upaya banding. Sedangkan keluarga korban, Misna Anggraini (45) merasa puas atas putusan yang diberikan majelis hakim.

Kasus mutilasi ini terbongkar pada Agustus 2014 lalu. Otak pelakunya adalah Delvis yang dibantu istrinya Dita. Mereka membunuh 3 orang, dua anak dan 1 pria dewasa yang memiliki keterbelakangan mental. Dia membunuh hanya untuk mengambil alat kelaminnya. Setelah membunuh 3 orang, Delvis kembali melakukan hal yang sama dengan korban 4 bocah warga Kecamatan Perawang, Siak. Saat aksi para bocah ini, Delvis meminta bantuan Supian. Delvis melakukan itu semua guna menuntut ilmu yang diajarkan almarhum ayahandanya. Almarhum orangtuanya dikenal sebagai dukun hebat. Sebelum orangtuanya meninggal, Delvis sempat mendapat bisikan untuk mengumpulkan 9 alat kelamin, dan baru 7 yang berhasil dia kumpulkan.

Ahok Marah Besar Ketika Ditantang Untuk Bongkar Rumahnya Yang Berada Di Daerah Resapan Air


Gubernur Jakarta Basuki Tjahjana Purnama alias Ahok sewot bukan kepalang terhadap JJ Rizal, sejarawan jebolan Universitas Indonesia. Maklum, JJ Rizal menuding kebijakan Ahok tidak humanis ketika menggusur warga Kampung Pulo pada Kamis, 20 Agustus 2015. Dalam cuitannya, JJ Rizal mengatakan, “Kalo Ahok konsisten menggusur (warga) Kampung Pulo karena dianggap tinggal di lahan hijau/resapan, maka dia harus menggusur juga dong lingkungan rumahnya di Pantai Mutiara.”

Pantai Mutiara merupakan lahan hasil reklamasi yang letaknnya di Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. “Sejarawan gak ngerti ilmu aja, sok ngerti ilmu banjir,” katanya, Minggu, 23 Agustus 2015. Ahok menyarankan agar JJ Rizal datang ke Kementerian Pekerjaan Umum dan berdiskusi soal proyek antisipasi banjir Ibu Kota dengan para ahli di sana. “Datang saja ke sana, supaya pinter,” katanya.

Namun dia menolak ajakan JJ Rizal untuk berdebat soal sejarah wilayah Pluit, Pantai Mutiara, dan Pantai Indah Kapuk, kawasan hutan mangrove yang kini sudah menjadi permukiman mewah di Jakarta Utara. “Apa yang mau diperdebatkan lagi?

Nah, siapa yang benar? Ahok atau JJ Rizal? Restu Gunawan, sejarawan yang pernah meneliti akar masalah banjir di Jakarta, punya pendapat. Penulis buku Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa ini membenarkan sinyalemen JJ Rizal bahwa daerah Teluk Gong, Pluit, Krendang, dan sekitarnya memang dulu merupakan kawasan resapan air.

Ketika dihubungi pada Minggu, 23 Agustus 2015, Restu menjelaskan, pada 1911, pemerintah kolonial Belanda pernah melakukan penelitian di sungai-sungai di Jakarta. Berdasarkan hasil riset itu, penjajah Belanda membuat rencana induk tata kota Batavia pada 1913. Pada cetak biru penanganan banjir Jakarta seratus tahun yang lalu itulah pertama kalinya pintu air Manggarai-Karet menuju utara digagas. Namun, zaman berubah, keinginan penguasa pun turut berubah. Restu bercerita bagaimana pemerintah Orde Baru bertindak sembrono dengan mengabaikan rencana tata ruang Jakarta.

Pada era Presiden Soeharto, keinginan para pengusaha untuk mengembangkan kawasan permukiman mewah di bibir Teluk Jakarta tak terbendung. Pembangunan masif dan reklamasi di pantai yang sebelumnya menjadi area hutan bakau pun dimulai. “Itu semua mulai terjadi pada 1990-an,” kata Restu

Kalau didaerah kampung pulo sudah dimulai pada tahun 1970 atau 20 tahun lebih awal.

Sejak saat itulah, kata Restu, problem banjir Jakarta makin runyam. “Sebenarnya, selama pembangunan di Pluit menyesuaikan dengan masterplan semula, tidak masalah. Artinya, harus tetap memperhatikan wilayah resapan,” tuturnya. Sebagai sejarawan, Restu rupanya punya pemahaman sendiri soal prinsip dasar penanganan banjir. “Kalau rumah manusia menggusur rumah air, ya, airnya akan ngamuk. Jadi, kalau mau bangun rumah manusia, airnya dibuatkan rumah dulu.”

Polisi Bandung Berikan Contoh Bahwa Melawan Arus Di Jalan Raya Boleh Dilakukan


Tiga mobil dinas polisi tertangkap tengah melawan arus lalu lintas di Jalan Dago, Bandung, Minggu (23/8/2015). Kejadian tersebut terekam oleh kamera salah seorang warga bernama Oginawa yang kebetulan sedang berada di lokasi tersebut.

Menurut Oginawa, hal ini terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Ia menyebutkan bahwa tiga mobil dinas polisi itu melawan arus bersama dengan empat mobil lainnya. Satu di antaranya merupakan mobil sedan putih dengan ornamen yang biasa digunakan untuk kendaraan pernikahan.

Jadi, mereka rombongan. Satu mobil polisi di depan, dua lagi di belakang. Di tengah-tengahnya ada mobil lain. Ada satu yang mencolok, sedan putih dengan pita-pita gitu. Kayaknya mobil pengantin, deh,” tutur Oginawa kepada , Minggu malam. Oginawa mengatakan, tujuh mobil yang melawan arus itu sedang menuju ke arah simpang Dago. Menurut dia, saat itu arus lalu lintas di sekitar Dago tidak macet.

“Arus lalu lintas enggak macet. Saya juga heran kenapa mereka sampai memilih contra flow begitu,” ujar dia.