Category Archives: Banjir Di Indonesia

Daerah Di Bandung Yang Dikepung Banjir Karena Luapan Sungai Cironggeng


Hujan cukup besar disertai petir dan hujan es di beberapa wilayah menyebabkan Sungai Cironggeng kembali jebol. Kota Bandung dikepung banjir sepanjang hari Sabtu (7/2/2015). Hampir di semua kecamatan memiliki titik banjir. Kepala Dinas Penanggulangan dan Pencengahan Kebakaran (DPPK) Kota Bandung Ferdy Ligaswara mengatakan jajaran siaga satu penanganan banjir.

“Tanggul Cironggeng yang jebol kemudian diperbaiki oleh TNI, Polri bahkan Pak Wali Kota Bandung Ridwan Kamil perbaiki tetapi jebol kembali” ujar Ferdy. Menurut Ferdy, tanggul yang semula jebol 20 meter kini melebar jadi 60 meter akibat luapan banjir yang bertambah besar seiring hujan cukup lebat. Ketinggian banjir di RW 06 setinggi dada orang dewasa.

Untuk pengamanan sebagian listrik dimatikan dan penerangan menggunakan light hidrolic milik DPPK. “Kami dari DPPK bersamaTNI Polri dan Barsanas mengevakuasi warga khususnya lansia dan anak-anak sedangkan lelaki dewasa jaga rumah masing-masing tidak ikut mngungsi,” ujar Ferdy.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Binamarga Pengairan Kota Bandung Didi Ruswandi mengatakan berdasarkan pantauan lokasi banjir ada di Cingised, Cisaranten, Antapani, Widyatama, Cicaheum, Cikadut, Margahayu, Pindad, Mercuri, Arcamanik Ciwastra, Manjahlega, Karang Pamulang, Sukamiskin, Cipagalo, Setra Dago, Sukapada,, Simpang Sari, Kiaraircon, Pasir Impun, Cigiringsing, Perempatan Gedebage, Rancabolang. Kawaluyaan, Jalan Jakarta, Jalan Sukabumi, Aswi, dan Margacinta.

Gresik Di Landa Banjir …. 3 Orang Tewas dan Ribuan Rumah Terendam


Banjir akibat hujan deras dan meluapnya Kali Lamong di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, merendam sedikitnya 1.245 rumah di 29 desa Kecamatan Benjeng, Cerme dan Menganti. Berdasarkan data yang diterima Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sabtu sore, banjir hingga kini masih merendam sejumlah desa dengan ketinggian air 30 cm hingga 60 cm.

Sementara itu, ribuan rumah yang tergenang tercatat milik 1.520 kepala keluarga (KK) atau 4.432 jiwa dan sawah yang terendam seluas 378 hektare. Sebelumnya diberitakan, banjir juga menewaskan tiga warga Desa Gadingwatu, Kecamatan Menganti, yakni Heni Pratama Putra (15), Sutris (17) dan M Martoni (21).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik Abu Hasan mengatakan tewasnya tiga warga akibat terseret arus deras usai mencari ikan di kawasan Menganti. “Mereka pulang melalui jalan pintas pematang sawah yang terendam banjir. Saat di pematang sawah ada seorang terpeleset, yang lain akan menolong tapi ikut tercebur, dan saat bersamaan debit banjir naik dengan cepat yang akhirnya menyeret 8 orang,” katanya.

Lima orang berhasil menyelamatkan diri, sementara tiga lainnya tenggelam terseret banjir dan ditemukan tewas.

Lima korban selamat dilarikan ke Rumah Sakit Islam Cahaya Giri, Kringkang, Menganti, untuk mendapat perawatan, masing-masing Jainuri Eri Erianto (17), Rama (16), Angga (20), Andy Romadhani (18), serta Eko Tri Cahyono (29).

Provinsi Bangka Belitung Ternyata Belum Bebas Banjir


Mobil dinas Wakil Bupati Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, Patrianusa Sjahrun terseret arus saat meninjau sejumlah titik banjir di Kecamatan Koba dan Lubuk Besar. Aun, teknisi mobil dinas Patrianusa merk Avanza Veloz BN 2803 CZ mengabarkan, Sabtu (7/2/2015), bahwa mobil dinas orang nomor dua di Bangka Tengah itu terseret arus banjir di ruas jalan menuju Lubuk Lingkuk.

“Air cukup tinggi meluap hingga ke badan jalan, mobil bapak memaksa untuk menerobos sehingga akhirnya terseret beberapa meter,” ujarnya. Namun, kata dia, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu karena mobil cepat diselamatkan dari dorongan air.

“Mobil tenggelam hingga membenamkan hampir seluruh mesin, akibatnya mesin mati total dan tidak bisa dihidupkan lagi,” ujarnya. Patrianusa Sjahrun bersama tim penanggulangan bencana berupaya menuju titik banjir di Kecamatan Lubuk Besar. Puluhan rumah warga dan fasilitas umum, di antaranya sekolah, tempat ibadah dan fasilitas lainnya terendam banjir. Ruas jalan raya menuju Lubuk Besar juga terendam banjir dengan ketinggian air mencapai satu meter.

Informasi sementara yang diperoleh di lapangan, dua kecamatan yaitu Koba dan Lubuk Besar dilanda banjir akibat tingginya curah hujan sepanjang Jumat (6/2/2015) dan Sabtu.

Terendam
Puluhan desa dan ratusan rumah di dua kecamatan itu dilaporkan terendam banjir. Ketinggian air dilaporkan mencapai leher orang dewasa, Sabtu siang. Kemarin, banjir menyebabkan aktivitas warga lumpuh total. “Pagi tadi daerah jembatan Lubuk Lingkuk sangat parah, ketinggian air mencapai satu meter. Ada beberapa kendaraan yang sempat hanyut akibat derasnya air banjir,” ujar Aris, seorang warga yang melintas di ruas jalan terkena banjir.

Ia mengatakan, banjir cukup parah terjadi di Desa Lubuk Lingkuk akibat hujan terus mengguyur dalam dua hari ini. “Selain itu, banjir juga dipicu meluapnya air dari kolong bekas penambangan bijih timah di desa ini, kendati hujan sudah berhenti namun ketinggian air malah bertambah karena luapan dari kolong,” ujarnya.

Sementara itu, sejumlah warga di desa tersebut terus berupaya mengamankan barang berharga dan perabotan rumah tangga dari ancaman banjir.

Sebagian warga sudah dievakuasi ke rumah penduduk terdekat yang tidak terkena hantaman banjir bandang tersebut.

Terpantau, titik yang terendam banjir khusus di Koba yakni Jalan By Pass Koba, Kantor Kelurahan Padang Mulya, Jalan Tanjung Langka, Jalan raya Desa Nibung.

Sedangkan di Lubuk Besar, banjir melanda jalan raya Desa Kulur tepatnya daerah jembatan, ujung Desa Perlang, daerah jembatan Rangau Dusun Nadi, depan SMA 1 Lubuk Besar. Selain itu, di daerah jembatan Lubuk Lingkuk yang sampai saat ini airnya masih meluap.

Tim penanggulangan bencana kabupaten dan provinsi sudah mendirikan tenda darurat untuk membantu korban bencana banjir itu.

Kali Lamong Meluap … Jalan Raya Gendong Lumpuh


Jalan Raya Gendong yang menghubungkan Romo Kalisari-Tandes ‘lumpuh’. Luapan Kali Lamong yang menyebabkan tingginya genangan air menjadi penyebabnya. Akibatnya ratusan motor mogok dan memaksa pengendaramya harus berjalan sambil menuntun kendaraannya dengan menerjang genangan air 50 cm dengan jarak sekitar 5 Km.

Hal ini langsung direspon cepat ratusan anggota Satpol PP Surabaya. Para polisi pamong praja itu hujan-hujanan membantu pengendara motor. “Tolong gajah barang (truk barang) digeser ke Gentong untuk mengangkut sepeda motor yang mogok agar dibawa ke Tandes,” ujar Kepala Satpol PP Kota Surabaya, Irvan Widyanto melalui handy talkie di lokasi, Jumat (6/1/2015).

Mantan Camat ini memimpin langsung pertolongan ke pengendara motor. Tanpa menggunakan mantel, Irvan bersama anggota Satpol PP lainnya harus basah kuyup untuk meninjau kawasan yang tergenang akibat luapan Kali Lamong. “Kami kerahkan 100 anggota, 5 truk barang dan 5 truk penumpang untuk mengangkut pengendara dan sepeda motornya. Kami juga siagakan 2 perahu karet,” ungkapnya.

Camat Pakal, Agus Setioko mengaku jika genangan yang terjadi di kawasan Gendong yang menghubungkan Romo Kalisari-Tandes terjadi sejak Jumat pagi akibat meluapnya Kali Lamong. Agus mengungkapkan, pihaknya sudah mengantisipasi dengan menahan beberapa kawasan yang rendah dengan karung pasir, namun upaya itu kurang ampuh.

“Disini selalu banjir kalau Kali Lamong meluap,” ujarnya. Menurut Agus, luapan Kali Lamong saat ini dianggapnya tidak terlalu parah jika dibandingkan dengan tahun 2013 yang ketinggian airnya mencapai 50 cm.‎

Sungai Welang Meluap … Jalur Pantura Kembali Lumpuh


Sungai Welang di Pasuruan kembali meluap hingga merendam ratusan pemukiman di wilayah Kecamatan Kraton. Selain merendam pemukiman, luapan air juga menyebabkan jalur pantura Pasuruan lumpuh. Pantauan di lokasi, Kamis (5/2/2015) pagi, akibat banjir yang merendam Jalan Raya Tambakrejo, Kraton ini membuat jalur lumpuh. Kendaraan dari arah Surabaya menuju Probolinggo dan sebaliknya tak bergerak hingga mencapai 7 kilometer.

Lumpuhnya jalur pantura ini terjadi sejak pukul 01.00 WIB dan puncaknya pukul 04.00 WIB, ketinggian air yang merendam jalan raya mencapai 1 meter. Kendaraan yang terjebak macet didominasi truk-truk besar yang melintas di malam hari.

“Saya sejak pukul 03.00 terjebak macet. Kenek saya sekarang tidur di mobil,” kata Hasim (32), sopir truk muat pasir asal Lumajang.

Untuk mengurai dan mengatur lalu-lintas, Sat Lantas Polres Pasuruan menerjunkan sekitar 15 personelnya ke lokasi. Selain personel dari Sat Lantas, puluhan personel Shabara juga diterjunkan untuk pengamanan. Total sebanyak 60 polisi berada di lokasi.

“Sejak tadi malam kita coba urai kendaraan. Baik kendaraan yang dari Surabaya maupun Probolinggo yang belum terjebak macet dialihkan ke jalur alternatif,” kata Kanit Turjawali Polres Pasuruan Kota, Aipda Nanang Abidin di lokasi.

Kemacetan di jalur pantura ini mencapai 9 jam. Dari pengamatan terakhir pukul 10.00 WIB, air di jalan raya mulai surut dan kendaraan mulai bergerak meskipun merambat.

Aceh Dilanda Banjir dan Longsor Setelah Hujan Sejak Sabtu


Hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah Aceh, menyebabkan ruas jalan Banda Aceh ke Calang (Aceh Jaya) dan sejumlah kabupaten lainnya di wilayah Barat dan Selatan Aceh terputus. Longsor terjadi di dua titik di pergunungan Paro dan Kulu, dalam wilayah Kecamatan Lhoong, Aceh Besar.

Warga Lhoong, Davi Abdullah mengatakan longsor di lokasi tersebut menyebabkan kenderaan tak bisa melintas dari Banda Aceh ke wilayah Barat Selatan Aceh dan sebaliknya. “Sejumlah aparat dan tim bantuan sudah berada di lokasi,” ujarnya Ahad, 2 November 2014.

Menurutnya, lokasi longsor Gunung Paro berada pada kilometer 37, yang membuat badan jalan amblas. Sementara longsor di Gunung Kulu pada kilometer 45, badan jalan tertutup tanah yang jatuh dari atas. Davi menambahkan, hujan deras sejak Sabtu, 1 November 2014, juga menyebabkan sejumlah desa tergenangi air di Kecamatan Lhoong, seperti di kompleks Puskesmas dan kantor kecamatan, Desa Blang Me, Desa Lamsujen dan Meunasah Tunong.

Di Desa Lamsujen, sejumlah rumah juga dikabarkan rusak akibat abrasi. Air umumnya berasal dari pegunungan di wilayah itu dan mengepung pemukiman. Sungai yang ada di sana tak sanggup lagi menampung air.”Di sini hujan masih mengguyur,” kata Davi.

Akibat terputusnya akses jalan ke sana, sejumlah warga yang akan bepergian ke Meulaboh, Aceh Barat maupun ke Nagan Raya dan Aceh Barat Selatan, terpaksa menunda kepergiannya. “Rencananya saya akan ke Meulaboh, tapi terpaksa menunda setelah mendapat kabar jalan tak bisa dilewati,” kata Sanusi, seorang warga Banda Aceh.

Jaringan telepon seluler ke sana juga terganggu. Saat menghubungi Davi, mencobanya belasan kali, baru tersambung. Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Lhoong, belum dapat dihubungi sampai Ahad malam.

Jokowi Mengerti Mengapa Warga Tidak Mau Direlokasi … Ahok Masih Sulit Memahaminya


Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memahami alasan warga menolak dipindah dari tempat tinggal mereka di bantaran Sungai Ciliwung, Kampung Pulo, Jakarta Timur. Namun Jokowi yakin, lambat laun warga Kampung Pulo bakal bersedia direlokasi ke rumah susun. “Paling baru didatangi lurah-camat satu-dua kali. Rampung pasti,” kata Jokowi di Balaikota Jakarta, Rabu (5/2/2014) siang.

Selain kurangnya pendekatan oleh lurah dan camat, Jokowi mengatakan bahwa warga tidak mau direlokasi ke rumah susun karena jauh dari tempat tinggal dan pekerjaan mereka. Warga hanya mau direlokasi ke rusun Jatinegara Barat.

Jokowi belum memikirkan untuk memenuhi tuntutan warga tersebut. Dia akan berkonsultasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum selaku penggarap normalisasi sungai. Hal itu dikarenakan rusun di Jatinegara Barat baru rampung pada Oktober 2014, sementara proyek normalisasi seharusnya dimulai pada awal tahun ini. “Mereka juga maunya nggak ganti rugi, tapi ganti untung. Maka itulah pembicaraan yang akan kita lakukan selanjutnya,” ujarnya.

Tahun ini, Pemprov DKI Jakarta akan mulai merelokasi warga bantaran kali. Namun, rencana itu menghadapi penolakan warga, termasuk warga bantaran Sungai Ciliwung di Kampung Pulo. Lurah Kampung Melayu Bambang Pangestu menyebutkan, dari 3.500 kepala keluarga yang ada di wilayah itu, hanya 150 kepala keluarga yang bersedia pindah ke rusun yang telah ada. Warga tidak bersedia pindah ke rusun yang jauh. Warga memilih pindah setelah rusun Jatinegara Barat rampung.

Bambang menyebutkan, Pemprov DKI Jakarta telah menyediakan rusun di Pinus Elok, Cipinang Besar Selatan, Komarudin Cakung, Jatinegara Kaum, serta Pulogebang, Jakarta Timur. “Seharusnya bulan ini sudah mau direlokasi. Tapi mereka nggak mau jauh-jauh. Kita beri formulir kesiapan pindah, nggak mau. Mereka memilih menunggu bulan Oktober untuk pindah,” kata Bambang.

Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta Yonathan Pasodung mengatakan, sejumlah rusun di Jakarta Timur itu sedianya disiapkan bagi warga Kampung Pulo. Namun, karena sampai saat ini belum ada data warga yang masuk ke dinasnya, rusun itu dialihkan untuk warga lain. Menurut Yonathan, warga yang akan mengisi rusun itu terlebih dahulu adalah warga bantaran Kali Sunter, Kemayoran, Jakarta Pusat; warga tepi Waduk Ria Rio, Pulogadung, Jakarta Timur; dan warga di tepi Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, warga yang tinggal di bantaran sungai atau waduk harus mau pindah sesuai instruksi Pemprov DKI. Menurut dia, pembangunan hunian vertikal merupakan satu-satunya jalan bagi para penghuni lahan negara seperti bantaran kali dan waduk.

“Kalau tidak mau di rusunawa (rumah susun sederhana sewa), ya silakan cari di luar Jakarta. Kalau di Jakarta, harus mau pindah ke rusun,” kata Basuki di Balaikota Jakarta, Selasa (4/2/2014).

Basuki berpendapat bahwa warga enggan direlokasi ke rusun karena sudah menetap puluhan tahun. Lokasi kerja warga juga dekat dari tempat tinggal mereka.

Basuki mengakui bahwa pindah dari rumah ke rusun bukanlah sebuah permasalahan sederhana. Secara sosial, manusia akan lebih senang tinggal di rumah pribadi daripada tinggal bersama dalam rumah susun. Harga tanah di Jakarta pun sudah sangat mahal. Sementara di seluruh dunia, kalangan menengah ke bawah telah menetap di hunian vertikal.

“Sekarang kalau kita pakai penilaian semua orang, apakah Anda mau tetap membiarkan orang tinggal di tempat banjir? Kan sudah enggak ada pilihan lagi,” kata Basuki. Di samping itu, ia memastikan bahwa setiap rusun yang dibangun Pemprov DKI Jakarta dilengkapi dengan elevator atau lift. Fasilitas itu dibangun di setiap rusun, khususnya yang memiliki lebih dari 6 lantai.

Menurut Basuki, Pemprov DKI Jakarta sedang membangun rusun dengan 20 lantai dan diperkirakan selesai tahun ini. Rusun itu lengkap dengan 6.000 unit kamar dan elevator. Basuki ingin mencontoh Singapura sebagai negara kecil yang memaksa warganya untuk menetap di hunian vertikal. Untuk bisa seperti itu, Pemprov DKI harus mempersiapkan 200.000 unit rusun.

“Kita bangun sebanyak-banyaknya, sehingga orang yang belum beruntung punya tempat berlindung. Kita tidak nyontek plek dari luar negeri, tapi kita manfaatkan,” kata Basuki. Total anggaran yang dialokasikan untuk membangun hunian vertikal mencapai Rp 2 triliun. Dana itu untuk pembangunan kampung deret di 70 lokasi sebesar Rp 1,1 triliun dan sisanya pembangunan rusunawa lengkap dengan pembebasan lahannya. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI 2014, pembangunan kampung deret dianggarkan sebesar Rp 800 miliar ditambah dengan anggaran Prasarana dan Sarana Umum serta Pengawasan Perbaikan Rumah sebesar Rp 397,5 miliar.