Category Archives: Sejarah

Sejarah Nyama Selam dan Peradaban Islam Di Buleleng Bali


Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali memiliki luas 1.584 hektare persegi. Seluruh penduduknya adalah umat Islam Bali. Penduduk Bali menyebut mereka dengan istilah nyama selam. Nyama berarti saudara, dan selam berarti Islam. Atau, bisa diartikan sebagai orang-orang Islam yang menjalankan tradisi Bali.

Penghulu imam Desa Pegayaman, Haji Nengah Abdul Ghofar Ismail, 53 tahun, menjelaskan keberadaan Nyema Salam di Desa Pegayaman tak lepas dari sejarah masuknya Islam ke desa itu. Menurut dia, pada saat itu Raja Buleleng Anglurah Ki Barak Panji Sakti diundang oleh Raja Mataram dalam rangka persahabatan. Saat kembali ke Bali, Ki Barak Panji Sakti dihadiahi seekor gajah dan delapan orang prajurit yang saat itu sudah beragama Islam untuk mengiringinya pulang.

Prajurit-prajurit inilah cikal bakal warga Islam di Desa Pegayaman. “Leluhur Desa Pegayaman disebut sitindih artinya orang-orang pembela kerajaan,” kata Nengah Abdul. Mengutip catatan sejarah, Nengah Abdul bercerita, pada 1711, terjadi perang antara Kerajaan Mengwi dan Kerajaan Buleleng. Pada saat itulah orang-orang Pegayaman menghadang di Desa Gitgit, hingga terjadi pertempuran hebat sampai ke Desa Pancasari.

Kabar pertempuran tersebut diketahui oleh pasukan Teruna Goak (Pasukan Gagak Hitam) milik Ki Barak Panji Sakti dari Desa Panji yang segera bergabung untuk memukul mundur pasukan Kerajaan Mengwi. Pada 1850 kapal kelompok imigran Bugis yang hendak menuju Jawa-Madura terdampar di pesisir Buleleng. Sebanyak 40 pasukan Bugis tersebut menghadap kepada Ki Barak Panji Sakti.

Oleh sang raja mereka diberikan kebebasan untuk memilih tinggal di pesisir atau di Desa Pegayaman mengingat mereka beragama Islam. Sebagian memilih tinggal di pesisir karena orang Bugis terkenal sebagai penjelajah laut dan sebagian lagi memilih bergabung dengan orang Pegayaman karena alasan agama. “Perpaduan tiga suku Jawa, Bugis, dan Bali inilah yang kini menjadi warga asli Desa Pegayaman,” ujar Negah Abdul.

Kisah masuknya agama Islam di Pegayaman diabadikan menjadi nama masjid, yaitu Masjid Jami Safinatussalam. Masjid Jami Safinatussalam merupakan masjid tertua di Pegayaman. Keberadaan masjid ini diperkirakan sudah ada sejak awal Desa Pegayaman. “Safinatussalam berarti perahu keselamatan. Diberi nama safinatussalam karena datangnya menggunakan perahu dari Jawa, sampai dengan selamat di Bali,” jelas pria lulusan Pesantren Darussalam, Banyuwangi dan Pesantren Al-Falah, Kediri, Jawa Timur ini.

Asal-usul nama Pegayaman pun ada dua versi. Pertama, berasal dari kata gayam (bahasa Jawa) yang merupakan jenis tumbuhan. Dalam bahasa Bali disebut buah gatep. “Dahulu sebelum dibuka menjadi pemukiman, wilayah desa ini banyak ditumbuhi pohon gatep atau gayam sehingga disebut Pegayaman,” katanya.

“Sedangkan versi kedua berasal dari nama senjata, Keris Gayaman yang ada pada zaman Kerajaan Mataram,” katanya. Matahari baru saja tenggelam, Kamis, 16 Juli 2015. Lalu lalang warga Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali mulai memadati jalan desa. Mereka bersiap mengikuti takbir keliling untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Acara dimulai sekitar pukul 21.00 Wita. Penghulu imam (sesepuh), kepala desa, dan warga desa bergerak dari Masjid Jami Safinatussalam mengelilingi desa. Sebagian dari mereka, terutama remaja, mengendarai sepeda motor. Irama alat musik rebana dan lantunan takbir menggema di antara dinginnya udara malam di desa yang berada 450 meter di atas permukaan laut itu. Luas wilayah Desa Pegayaman mencapai 1.584 hektare. Seluruh penduduknya adalah umat Islam Bali. “Istilahnya Nyama Selam. Nyama berarti saudara dan Selam berarti Islam. Atau bisa diartikan sebagai orang-orang Islam yang menjalankan tradisi Bali,” kata penghulu imam Desa Pegayaman, Haji Nengah Abdul Ghofar Ismail (53).

Warga di Desa Pegayaman sehari-hari berkomunikasi menggunakan bahasa Bali. Mereka juga mengenal sor singgih base Bali, termasuk dalam kegiatan keagamaan. Khatib di beberapa musala yang ada di desa ini terkadang menggunakan bahasa Bali ketika berkhotbah. Ketika Ramadan, saat dini hari menjelang sahur, dari Masjid Jami Safinatussalam terdengar himbauan membangunkan warga yang juga menggunakan bahasa Bali. “Ida dane warga ngiring metangi santukan galah imsyak sampun nampek.” Artinya, “Para warga mari bangun karena waktu imsyak sudah dekat.”

Tak beda dengan orang Bali pada umumnya yang beragama Hindu, dalam penamaan, warga Pegayaman juga memberi nama Wayan untuk anak pertama, Nengah untuk anak kedua, Nyoman untuk anak ketiga, dan Ketut untuk anak keempat. “Di sini kami tidak menggunakan I dan Ni di depan nama, juga tidak menggunakan nama Putu (anak pertama), Made (anak kedua), dan Wayan (setelah anak keempat). Lewat dari anak keempat, semuanya bernama Ketut,” jelasnya.

Kisah Losmen Lampu Merah … Lokalisasi Pertama Di Batavia


“Jika Anda tidak bisa mengirimkan perempuan baik-baik yang pernah menikah, mohon kirimkan kami para perempuan muda,” tulis Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen dalam surat tertanggal 11 Mei 1620. “Kami berharap hal itu akan menjadi lebih baik ketimbang pengalaman kami berkencan dengan perempuan yang lebih tua.”

Coen menyampaikan surat tersebut kepada para direktur VOC. Sebagai seorang pendiri Kota Batavia—koloni Kerajaan Belanda di Timur—Coen mendesak terpenuhinya persyaratan kebutuhan dasar bagi warga kota yang beradab. Dia dengan gemas melarang keras pergundikan, perzinahan, dan pelacuran. Kota yang beradab, demikian hemat Coen, harus dimulai dari warga yang beradab.

Sedikitnya jumlah warga perempuan di Batavia disebabkan VOC memberikan aturan ketat dalam menerima pemukim baru. Namun, selepas Coen, pada periode 1632-1669, maskapai dagang itu menghentikan migrasi perempuan ke Hindia Timur.

Dengan jumlah warga lelaki yang jauh melebihi warga perempuannya, Batavia mengalami krisis sosial yang tak terelakkan: pelacuran yang merajalela. Peraturan Sang Gubernur Jenderal pun kandas dalam penegakan hukumnya.

Hendrik E Niemeijer, sejarawan asal Belanda yang telah mengarungi samudra arsip VOC di Indonesia, mengungkapkan soal pelacuran di Batavia zaman VOC dalam Batavia: een koloniale samenleving in de zeventiende eeuw yang terbit pada 2005. Dua tahun silam, buku tersebut telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia—Batavia: Masyarakat Kolonial Abad XVII.

Adriana Augustijn, perempuan mardijker atau budak yang telah dimerdekakan, tercatat sebagai salah satu pelacur di Batavia yang terjerat kasus hukum. Demikian berkas yang merekam risalah pernyataan Adriana tertanggal 29 Agustus 1689. Kini, berkas lawas itu berada di ruang penyimpanan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Koleksi lembaga tersebut tentang arsip pemerintahan tertinggi selama 1602-1811—kalau direndeng—bisa mencapai sekitar 450 meter!

Orang-orang mardijker memang dikenal urakan di Batavia. Adriana, perempuan berkulit gelap, dilaporkan oleh para tetangganya sebagai perempuan yang bekerja dengan memanfaatkan tubuhnya. Lelaki yang mengencaninya beragam, dari budak hingga orang bebas. Tempat tinggalnya pun berpindah-pindah.

Di Batavia abad ke-17, pilihan menjadi pelacur atau gundik tampaknya lebih menjanjikan bagi para budak perempuan ketimbang harus menjadi budak rumahan yang kerap jadi sasaran sumpah serapah sang nyonya majikan.

Berbeda dengan Adriana yang merupakan pelacur jalanan, Lysbeth Jansz bekerja menjual tubuhnya sebagai pelacur di losmen merah di luar tembok kota. Lysbeth merupakan perempuan asal Rotterdam dan sudah kerap didera hukuman, bahkan pernah dibuang di Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Namun, Batavia tetap menjadi daya tarik baginya untuk kembali.

Losmen-losmen lampu merah itu awalnya di dalam tembok kota, sekitar Kastel Batavia. Setiap saat, serdadu-serdadu VOC dapat berkencan dengan perempuan pilihan mereka, tanpa harus membawa masuk ke dalam barak. Dalam perkembangannya, losmen itu pun tumbuh di luar tembok kota.

Akta risalah pernyataan tertanggal 8 dan 11 September 1682, yang kini tersimpan di ANRI, juga menunjukkan salah satu losmen merah yang sohor di Batavia. Losmen itu menawarkan keliaran yang bertajuk “De Berebijt”—artinya gigitan beruang.

Lokasinya di Jacatraweg, kini Jalan Pangeran Jayakarta, sebelah selatan tembok kota. Dari arsip zaman VOC itu, Niemeijer mengungkapkan bahwa “De Berebijt” merupakan salah satu rumah bordil yang kerap rusuh karena menjadi ajang duel. Sejumlah losmen merah lainnya yang dimiliki mucikari Eropa dan Asia membuka praktik di sekitar Niewpoort, kini sekitar Jalan Pintu Besar Selatan.

Tidak hanya pelacuran, tetapi juga pemerasan seksual telah terjadi di Batavia. Pada 1644, sebanyak lebih dari dua lusin warga Batavia terbukti menjadi germo. Mereka mendandani para budak perempuan mereka bagai noni-noni terhormat dan memaksa para budak itu untuk melacurkan diri.

Kasus pemerasan seksual juga diungkap oleh Leonard Blussé, sejarawan Belanda, dalam Strange Company: Chinese Settlers, Mestizo Women and Dutch in VOC Batavia. Blussé mengisahkan perkara seorang istri yang bersaksi kepada dewan pengadilan pada pertengahan 1625 karena hak-haknya sebagai perempuan justru lenyap setelah menikah. Sang istri mengadukan suaminya yang bejat. Demi imbalan uang, setiap hari sang suami memaksa dia dan budak perempuannya untuk melayani kebutuhan seks para lelaki Belanda.

Mengapa pelacuran sulit dicegah dan justru menjamur di luar tembok Kota Batavia? Salah satu penyebabnya adalah sindikat antara pemilik losmen dan pegawai kehakiman yang korup dengan mengambil keuntungan dari bisnis lendir itu.

Tampaknya keberadaan losmen lampu merah yang disokong penegak hukum bukan hal baru di kawasan yang kelak menjadi megapolitan Jakarta ini. Apakah kita sedang mewarisi keindahan negeri bebas korupsi di kaki pelangi?

Sejarah Asal Usul Nama Lokalisasi Gang Dolly dan Kisah Pilu Yang Terlupakan


Sejarah panjang kawasan lokalisasi prostitusi Dolly di Surabaya memang selalu membuat penasaran banyak orang sebab kawasan ini sangat terkenal dan telah ada sejak masa kolonial Belanda. Kini, kawasan itu juga dikatakan sebagai pusat pelacuran terbesar se-Asia Tenggara. Dolly berada di Kelurahan Putat Jata, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur. Beragam kisah tentang Dolly pun muncul. Ada yang menyebut perintis awal bisnis “esek-esek” di kawasan itu bernama Dolly van der Mart, seorang noni Belanda. Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa Dolly lebih dikenal dengan nama Dolly Khavit.

Lokalisasi prostitusi Dolly awalnya merupakan kompleks pemakaman Tionghoa. Sekitar tahun 1960, kawasan itu kemudian dibongkar dan dijadikan permukiman. Sekitar tahun 1967, seorang mantan pekerja seks komersial (PSK) bernama Dolly Khavit yang menikah dengan pelaut Belanda membuka sebuah wisma di kawasan itu. Di dalam buku berjudul Dolly, Kisah Pilu yang Terlewatkan karya penulis Cornelius Prastya R K dan Adir Darma terbitan Pustaka Pena, Yogyakarta, 2011, disebutkan tentang sosok Dolly Khavit yang tomboi.

Dikisahkan, Dolly Khavit mengawali bisnisnya karena kesepian dan merasa sakit hati akibat ditinggal suaminya yang seorang pelaut. Dolly dikenal sebagai sosok wanita cantik yang cukup tersohor kala itu. Hal itu jelas membuat banyak orang penasaran. Meski cantik, Dolly merupakan wanita yang berlagak seperti lelaki. Bahkan disebutkan ia bertransformasi menjadi laki-laki dan menikahi sejumlah perempuan yang kemudian dipekerjakan di rumah bordil yang dikelolanya.

Sebab itu, Dolly diceritakan lebih suka dipanggil “papi” daripada “mami”, sebagaimana biasanya sebutan seorang mucikari. Namun, kecantikannya memang disebut tidak mampu menutup sifat tomboinya. Oleh karena itu, Dolly dinilai bukan hanya sekadar wanita, melainkan juga seorang pria yang menyukai para wanita. Kondisi itu membuat usaha wisma milik “Papi Dolly” ini semakin berkembang. Awalnya hanya untuk melayani tentara Belanda, tetapi laki-laki hidung belang yang datang makin hari makin meluas. Ini sebab, konon pelayanan para anak buah “Papi Dolly” sangat memuaskan.

Bahkan, “Papi Dolly” kemudian tidak hanya memiliki satu wisma, tetapi memiliki empat wisma di kawasan itu. Empat wisma itu masing-masing diberi nama wisma T, Sul, NM, dan MR. Hal itu juga disebutkan dalam buku berjudul Dolly: Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Komplek Pelacuran Dolly yang ditulis Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar dan diterbitkan oleh Grafiti Pers, April 1982. Bisnis “Papi Dolly” awalnya sempat dilanjutkan oleh seorang anak hasil hubungan Dolly dengan pelaut Belanda. Namun, usaha itu tidak dilanjutkan setelah anak “Papi Dolly” tersebut meninggal dunia.

Keturunan Dolly disebutkan masih ada yang tinggal di Surabaya, tetapi tidak lagi melanjutkan bisnis itu. Kini, nama Dolly yang tersohor dalam dunia prostitusi sebentar lagi hanya tinggal cerita. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dengan tekad kuatnya akan menutup kawasan itu malam ini.

Semoga, setelah penutupan kompleks lokalisasi prostitusi Dolly di Surabaya, tidak ada lagi yang mengidentikkan nama Dolly sebagai tempat pelacuran. Harapan itu diungkapkan Handoyo yang mengaku sebagai adik Dolly A Chavid, yang ingin arwah kakaknya tenang di alam baka. ”Setiap hari saya selalu berdoa agar dia tenang. Saya sampai menangis kalau ingat dia,” imbuh anak terakhir dari tiga bersaudara itu.

Selama ini, tidak ada satu pun orang yang tahu dia adalah adik kandung Dolly. Satu adik Dolly lainnya juga masih hidup, dan kini dalam kondisi sakit-sakitan. Handoyo mengaku menyembunyikan identitasnya karena malu disebut sebagai famili dari mantan PSK dan mucikari paling kesohor se-Asia Tenggara itu. Kepada Handoyo, Dolly hanya bisa menangis. Dia sakit hati dengan orang yang mencetuskan agar namanya digunakan untuk kompleks pelacuran.

Namun, menurut Handoyo, Dolly pun mengaku tidak mengerti siapa yang awalnya memberikan nama itu untuk sebutan tempat tersebut. ”Sakit hati itu dibawa mati kakak saya,” kata pria kelahiran Surabaya, 1936, ini.
olly meninggal pada 1992. Pihak keluarga memakamkannya di kompleks pemakaman di Sukun, Kota Malang. Kini, makam tersebut ramai dicari para jurnalis, menyusul kebijakan Pemerintah Kota Surabaya yang menutup kawasan lokalisasi Dolly dan Jarak.

Seorang pekerja seks komersial (PSK), yang mengaku punya nama panggilan Rina dan tinggal di wisma Gang Dolly, mengaku hatinya luluh setelah mendengar dan ikut membaca doa-doa dalam istigasah saat deklarasi tandingan yang digelar di sepanjang Jalan Jarak, jalan masuk ke Gang Dolly, diikuti warga serta puluhan PSK setempat.

Deklarasi dengan membaca doa istigasah disertai dengan potong tumpeng itu adalah deklarasi tandingan melawan deklarasi yang digelar Pemerintah Kota Surabaya, di Gedung Islamic Centre, tak jauh dari lokalisasi Jarak dan Dolly, Rabu (18/6/2014) malam.

Istigasah itu dilangsungkan dengan harapan Dolly tetap buka dan penghuninya terhindar dari segala penganiayaan dari pihak lain yang berencana akan melakukan sweeping ke lokalisasi Dolly dan Jarak. Dari pantauan, saat istigasah berlangsung, yang dipimpin oleh seorang modin setempat, Rina menangis dan terlihat khusyuk membaca kalimat-kalimat istigasah. Seusai istigasah dan berhasil ditemui, Rina mengaku terharu setelah membaca kalimat-kalimat istigasah.

“Hati saya luluh setelah baca istigasah. Terasa banyak dosa. Tapi seakan berat mau meninggalkan kehidupan di Dolly,” katanya lirih. Ditanya soal mengapa bisa masuk ke Dolly, Rina tak mau mengisahkan perjalanan hidupnya hingga masuk Dolly. “Cukup saya yang tahu. Sekarang mumpung libur mau menenangkan diri dulu. Mau istirahat,” aku perempuan yang masih berumur 36 tahun itu.

Rina yang mengaku kelahiran Jember itu sudah lima tahun menghuni Dolly. “Mungkin pada saatnya saya harus meninggalkan profesi saya, tapi tidak sekarang. Bisa saja minggu depan atau bulan depan karena pemerintah sudah deklarasi penutupan Dolly, walau warga dan PSK di sini menolaknya,” katanya pasrah. Ketika ditanya apakah akan segera meninggalkan Dolly, Rina tak menjawab. Hanya menggelengkan kepalanya. “Maaf ya, saya mau balik ke wisma. Mau menenangkan diri,” katanya.

Sulastri, seorang wanita yang kini berumur 29 tahun, mengaku memilih menjadi perempuan bayaran di salah satu wisma di Gang Dolly, Surabaya, setelah diperkosa bapaknya. Kala itu, ayah Sulastri kesepian karena ibunya meninggal dunia akibat kecelakaan. Jadilah Sulastri sebagai tempat pelampiasan nafsu bapaknya. Masa depannya pun hancur. “Saya putuskan nekat ke Dolly. Saat itu, saya baru lulus SMA di kampung. Akibat bapak, saya hamil. Terpaksa saya gugurkan saat masih dua bulan hamil,” kata perempuan asal Tulungagung itu.

Sejak tahun 2004, Sulastri tak pernah pulang ke kampung halamannya. Ia tidak tahu lagi keberadaan sanak keluarganya di kampung. “Karenanya, saya berharap dan akan terus berjuang, bagaimana (supaya) Dolly tetap buka,” tekannya. Sulastri adalah salah satu PSK di Gang Dolly yang aktif mengikuti aksi blokade jalan. “Saya dan teman-teman akan berjuang mati-matian bagaimana (supaya) Dolly dan Jarak tetap buka,” kata Sulastri.

Ditanya soal besarnya uang kompensasi dari Pemerintah Kota Surabaya senilai Rp 5.050.000 untuk PSK dan Rp 5.000.000 untuk mucikari, Sulastri tegas menolaknya. “Kita menolak ditutup kok, ya harus tolak juga uang kompensasinya,” kata Sulastri. Sulastri mengaku baru akan berhenti bekerja di Dolly jika sudah menikah. “Banyak kok calon yang akan menikah dengan saya. Tapi masih saya persiapkan. Saya sudah punya pacar,” kata perempuan yang mengaku pernah diajak salah satu kepala desa di wilayah Surabaya ini.

Selama bekerja di Dolly, tarif Sulastri tergolong mahal. Per jamnya mencapai Rp 300.000. “Tapi uang itu masih dibagi tiga, untuk mucikari, dan pemilik wisma,” kata dia tanpa mau menyebutkan berapa persen yang ia dapat untuk sekali melayani tamu. “Tak ada kata lain selain tetap tolak penutupan Dolly. Walau sudah dideklarasikan oleh Wali Kota, Dolly dan Jarak ditutup, kita akan tetap beroperasi. Yang datang terima uang kompensasi itu mayoritas bukan PSK, melainkan anggota PKK,” selorohnya.

Setelah Pemerintah Kota Surabaya menggelar deklarasi menutup lokalisasi Jarak dan Dolly pada Rabu (18/6/2014) malam, suasana di dua lokalisasi belum ada perubahan signifikan. Hanya terlihat penjagaan dari warga setempat di sepanjang jalan Jarak dan gang Dolly masih dilakukan. Malam terakhir dua lokalisasi ditutup, menemui seorang pekerja seks komersial (PSK) yang menghuni lokalisasi Jarak. Ia sudah berumur 41 tahun.

“Saya jual diri di Dolly hanya untuk membiayai anak saya sekolah. Anak saya tiga yang semuanya masih sekolah. Suami saya sudah 2 tahun meninggal. Cari pekerjaan susah. Ya, saya kerja di Dolly untuk memenuhi kebutuhan saya dan anak-anak saya,” beber perempuan yang Rabu (18/6/2014) malam juga ikut istigasah bersama PSK lainnya.

Menurut perempuan yang mewanti-wanti tak disebutkan nama aslinya itu, dia masuk ke Dolly sejak 2005 lalu. Sejak ditinggal suaminya, dia harus menanggung biaya hidup tiga anaknya. “Soal dosa, Tuhan yang lebih tahu. Dosa tak ditentukan manusia,” ujarnya sembari menutupi wajahnya dengan sapu tangan. Berapa penghasilan yang didapatnya setiap hari, tidak tentu. “Di Jarak tarifnya beda dengan Dolly. Di Jarak tarifnya lebih murah. Paling mahal Rp 100.000. Kalau di Dolly di atas Rp 200.000. Jika ramai, paling ada tiga tamu yang saya layani,” akunya.

Tapi selama kerja di lokalisasi Jarak, dia mampu membiayai ketiga anaknya untuk sekolah. Kini ketiga anaknya ada di Malang. Setelah pemkot Surabaya menggelar deklarasi menutup dua lokalisasi, dia berharap wali kota Surabaya mau berdialog dengan para PSK dan warga di lima RW di Jarak dan di Dolly. “Jujur, tak ada yang mau menjual dirinya. Tapi karena ini soal kebutuhan ekonomi dan susahnya cari pekerjaan. Kerja apa saja bisa dilakukan,” katanya.

Ditanya apakah akan pulang kampung ke Malang? Dia mengaku jika di Jarak dan di Dolly sudah tak bisa dioperasi ia terpaksa harus pulang ke Malang. “Karena di Malang juga ada lokalisasi. Tapi jika ada pekerjaan lain, mungkin cari pekerjaan lain,” terangnya. Soal uang konvensasi dari Pemkot Surabaya senilai Rp 3 juta itu, perempuan yang tinggal di Kecamatan Sumbermanjing Wetan sepakat tidak akan mengambilnya. “Kita jaga solidaritas. Sepakat tak akan mengambil uang itu. Lebih baik kita terima tamu saja,” tegasnya.

Sementara itu, Pemkot Surabaya, pada Kamis (19/6/2014) pagi, akan memberikan uang konvensasi untuk PSK dan mucikari kepada 1.449 orang. Pembagian uang konvensasi itu akan diberikan di kantor Koramil Kecamatan Sawahan, tak jauh dari dua lokalisasi Jarak dan Dolly. Musik berdentam keras di salah satu tempat hiburan malam di Banyuwangi. Seorang perempuan mengenakan pakaian seksi tampak bergoyang mengikuti irama musik.

“Nunggu pelanggan,” ungkapnya. Sari, perempuan berusia 31 tahun itu, mengaku sudah hampir delapan bulan memilih beroperasi di tempat hiburan malam. “Sebelum di sini saya tinggal di kompleks lokalisasi. Ikut sama mucikari. Tapi sejak ditutup dan sering grebekan sama satpol PP, hidup saya enggak tenang. Akhirnya, saya kos saja dekat sini (menyebutkan nama lingkungan). Kalau malam, baru saya keluar cari pelanggan,” kata perempuan yang mengaku berasal dari Lumajang ini.

Sari mengatakan bahwa ia adalah salah satu wanita pekerja seksual yang mendapatkan bantuan dari pemerintah pada tahun 2013 lalu. Ia memilih kembali menjual diri karena uang bantuan yang ia dapatkan habis untuk membayar utang. “Sama mami saya yang dulu, saya punya utang banyak. Jadi uang bantuannya buat nutup utang biar bisa keluar dan pindah ke kompleks lokalisasi lain. Eh, sudah pindah ternyata banyak grebekan juga. Pernah saya sampai harus sembunyi di pohon-pohon jati sampai tengah malam agar enggak tertangkap, waktu tempat baru saya digerebek satpol PP. Kapok sih, tapi gimana lagi? Saya butuh uang buat hidup anak saya,” ungkap Sari.

Sari bercerita, anaknya ia titipkan pada saudaranya yang tinggal di Jember. “Seminggu sekali saya antar uang buat anak saya. Dia sekarang TK. Saya harus bekerja agar dia bisa sekolah. Ayahnya enggak tau ke mana, katanya sih nikah lagi. Dia meninggalkan saya, waktu anak saya masih umur tiga bulan. Saya bekerja seperti ini karena terpaksa, belum lagi suami saya meninggalkan utang cukup banyak. Rumah kami dipegang rentenir sekarang,” keluhnya.

Saat memutuskan untuk kos, Sari mengatakan bahwa ia harus mengeluarkan uang lebih dibandingkan saat tinggal di kawasan lokalisasi. “Kalo kos kan harus bayar uang kos setiap bulan, terus kadang juga harus beli minuman sendiri seperti ini. Tapi saya anti membawa tamu saya ke kamar kos. Saya maunya di hotel,” tambahnya.

Demi menghindari grebekan, Sari tidak menetap. Ia berpindah-pindah dari satu tempat hiburan ke tempat hiburan lain. “Nggak harus dugem seperti ini kok. Pindah-pindah. Kalau nggak gitu, gampang terdata sama petugas. Di kafe-kafe juga, tetapi biasanya janjian sama yang sudah kenal. Kalau kafe, biasanya saya di wilayah selatan,” ujar Sari lagi.

Agar pekerjaannya tidak diketahui oleh tetangga kos, Sari mengaku bekerja sebagai penjaga toko. “Saya pakai baju biasa aja. Dandan sama gantinya nanti di rumah teman,” ujarnya. Untuk menjaga kesehatan, dia masih rajin memeriksakan diri dan meminta pelanggannya menggunakan kondom.

“Istilahnya korekan. Paling lama tiga bulan sekali saya selalu periksa ke puskesmas langganan sejak di kompleks lokalisasi dulu. Saya tau kalau pekerjaan saya ini bisa jadi sumber penyakit. Siapa lagi yang peduli kalau bukan saya sendiri. Saya kerja ya kerja sendiri. Saya sakit ya sakit sendiri. Anak saya sekolah ya saya yang mati-matian kerja seperti ini. Jadi ya saya yang harus melindungi diri saya sendiri,” kata dia dengan mata berkaca-kaca.

Sari mengatakan, ia ingin berhenti dari pekerjaan yang sudah ia tekuni selama lima tahun terakhir ini. Namun, dia tidak tahu harus bekerja apa lagi. “Saya janji pada diri saya sendiri, setelah utang dari suami saya lunas, saya mau berhenti. Jadi pembantu pun saya enggak masalah. Sekarang perempuan mana yang mau dan mampu harus tidur dengan laki-laki yang berbeda setiap hari kalau bukan untuk bertahan hidup seperti saya,” kata Sari.

Kisah Kutukan Lembu Sura dan Letusan Gunung Kelud Yang Akhiri Kerajaan Majapahit


“Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping, yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, lan Tulungagung dadi kedung” ~Lembu Sura~

Kalimat di atas adalah “sepatan” alias kutukan yang diucapkan Lembu Sura, tokoh legenda yang mewarnai sejarah Kabupaten Kediri di Jawa Timur. Juga, sejarah kerajaan Majapahit. Ada beragam versi soal Lembu Sura yang berakhir dengan kutukan dan menjadi sejarah lisan kehadiran Gunung Kelud ini. Meski demikian, semua bertutur tentang cara seorang perempuan cantik menolak lamaran Lembu Sura.

Satu versi, adalah cerita dengan perempuan cantik Dewi Kilisuci yang adalah anak Jenggolo Manik. Versi lain, ini adalah kisah tentang Dyah Ayu Pusparani, putri dari Raja Brawijaya, penguasa tahta Majapahit. Ada versi-versi lain tetapi inti cerita sama. Kisah ini bermula dari kecantikan yang tersohor, mendatangkan para pelamar, sayangnya yang datang tak sesuai harapan. Tak enak menolak, maka cara sulit diterapkan. Tak beda dengan kisah Rorojonggrang dan legenda candi Prambanan.

Namun, dalam legenda Gunung Kelud, pelamar sang putri ini masih pula bukan manusia. Dia makhluk berkepala lembu. Itulah Lembu Sura. Untuk menolak lamaran Lembu Sura, dibuatlah syarat pembuatan sumur sangat dalam hanya dalam waktu semalam. Tak dinyana, Lembu Sura ini punya kekuatan dan kemampuan untuk mewujudkan syarat itu.

Melihat perkembangan tak menggembirakan, sang putri pun menangis. Ayahnya, dalam versi kisah yang mana pun, kemudian memerintahkan para prajurit untuk menimbun Lembu Sura yang masih terus menggali di sumur persyaratan itu. Batu demi batu dimasukkan ke lubang sumur, menjadi sebentuk bukit menyembul karena ada Lembu Sura di dalamnya. Saat batu dilemparkan, Lembu Sura masih memohon untuk tak ditimbun.

Begitu menyadari bahwa permohonannya akan sia-sia, keluarlah “sepatan” sebagaimana menjadi kutipan di atas. Sejak saat itulah legenda Gunung Kelud dan kedahsyatan letusan maupun dampaknya mengemuka.

Hancurnya Majapahit
Terlepas dari mitos Lembu Sura, tiga wilayah yang disebut dalam kutukannya itu memang kemudian luluh lantak. Para ahli sejarah memperkirakan letusan pada1586 yang menewaskan lebih dari 10.000 orang adalah akhir dari sejarah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Betul, catatan sejarah menyebutkan Kerajaan Majapahit diperkirakan runtuh pada kisaran angka tahun 1478. Namun, para sejarawan hari ini pun mengakui masih banyak yang belum terkuak soal sejarah kerajaan itu, seperti misalnya dugaan ada dua Majapahit pada satu masa.

Apa kaitannya dengan Gunung Kelud? Tentu saja letusannya.
Peta rawan bencana letusan Gunung Kelud, yang dirilis Badan Geologi Kementerian Energi, Sumber Daya Alam, dan Mineral menyusul peningkatan status kegunungapian Gunung Kelud menjadi Awas, Kamis (13/2/2014) malam. Gunung ini kembali meletus pada Kamis dengan letusan pertama terjadi pada pukul 22.50 WIB. Sebelum letusan pada 2007, setidaknya sejak awal abad 1900-an diketahui bahwa kawah Gunung Kelud memiliki danau. Kecuali letusan pada 2007, letusannya pun diketahui bertipe eksplosif, termasuk letusan pada Kamis (13/2/2014) malam.

Dalam sebuah wawancara mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi, Sumber Daya Alam, dan Mineral (ESDM) Surono mengatakan keberadaan danau di kawah ini sama bahayanya dengan lontaran material padat dari letusan gunung.

Surono yang pada Jumat (14/2/2014) diangkat menjadi Kepala Badan Geologi, mengatakan lontaran air dari danau kawah, bila masih ada, bisa mencapai sekitar 37,5 kilometer. Sudah air panas, bercampur magma, masih dipadukan dengan seratusan juta ton material padat yang terlontar.

Kira-kira, karena tak ada catatan sejarahnya, itulah yang terjadi pada letusan 1586. Namun, bukan pula letusan itu saja yang menyebabkan korban jiwa mencapai lebih dari 10.000 jiwa. Dampak sesudah letusan, tak kurang buruknya. Diduga, kematian puluhan ribu orang itu juga disebabkan kelaparan. Dengan muntahnya air danau kawah, lontaran material padat, dan abu vulkanik yang mematikan tanaman, dapat diduga tak ada pasokan makanan yang bisa disediakan dalam jumlah besar untuk jumlah warga pada saat itu.

Membaca simbol tradisi lisan untuk mitigasi bencana
Inilah yang kemudian diduga sebagai penyebab benar-benar paripurnanya sejarah kerajaan Majapahit, menutup beragam konflik politik internal zaman itu, maupun legenda kutukan Lembu Sura. Sebagai gambaran, letusan pada 1919 yang notabene relatif lebih modern dibandingkan kondisi pada 1586, juga menewaskan ribuan orang. Angka yang tercatat adalah 5.160 orang. Letusan pada 1919 inilah yang mengawali dilanjutkannya upaya pembangunan terowongan di kaki gunung berketinggian 1.731 meter tersebut.

Terowongan-terowongan tersebut berfungsi mengurangi volume air di kawah danau. Catatan tertua tentang upaya mengurangi dampak dari lahar cair, gabungan magma dan air danau yang mendidih, adalah “kelahiran” Sungai Harinjing yang sekarang dikenal sebagai Sungai Sarinjing di Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kediri. Sungai ini merupakan sudetan dari Sungai Konto.

Kehadiran Sungai Serinjing tercatat dalam prasasti Harinjing di Desa Siman. Dalam prasasti yang dikenal pula sebagai Prasasti Sukabumi itu, tertera angka tahun 921 M. Di situ diceritakan soal pembangunan bendungan dan sungai yang dimulai pertama kali pada 804 M. Terowongan pengalir air dari danau kawah buatan 1926, setelah letusan pada 1919, masih berfungsi sampai sekarang. Namun, setelah letusan 1966, Pemerintah Indonesia membangun terowongan baru yang lokasinya 45 meter di bawah terowongan lama.

Terowongan baru yang rampung dibangun pada 1967 ini diberi nama Terowongan Ampera. Fungsinya menjaga volume air danau kawah tak lebih dari 2,5 juta meter kubik. Volume air di kawah Gunung Kelud susut dan hanya menyisakan genangan pada letusan efusif 2007. Pada letusan Kamis (13/2/2014) malam, air danau bisa jadi bukan lagi ancaman. Namun, terbukti pada malam itu bawa Gunung Kelud masih memiliki ciri letusan eksplosif. Lontaran material padat vulkanik pada letusan terbesar pada pukul 23.30 WIB mencapai ketinggian 17 kilometer, ketika letusan pertama melontarkan material hingga setinggi 3 kilometer.

Jangkauan abu vulkanik letusan Gunung Kelud pada malam itu pun menyebar luas mengikuti arah angin, menyebar luas di Jawa Tengah dan menjangkau Jawa Barat. Bisa jadi gabungan antara pembangunan saluran-saluran air yang telah menghadirkan 11 sungai berhulu di gunung itu, letusan efusif yang menyurutkan air danau kawah, dan persiapan yang lebih baik menjadi faktor yang meminimalkan jumlah korban.

Namun, barangkali pekerjaan rumah tetap belum habis. Berdasarkan catatan sejarah, Gunung Kelud memiliki pola letusan berjeda pendek, antara 9 sampai 25 tahun. Walaupun korban jiwa yang jatuh dalam dua hari ini bukan karena dampak langsung letusan, tetapi fakta sangat pendeknya tenggat waktu antara peningkatan status Awas sampai terjadi letusan pada Kamis malam, tetap merupakan sebuah catatan baru.

Jarak waktu peningkatan status hingga terjadinya letusan, tak sampai dua jam. Kalaupun kutukan Lembu Sura tak lagi relevan sebagai mitos, barangkali perlu dibaca ada simbol-simbol budaya dalam tradisi lisan sebagai “kode” mitigasi bencana. Percaya atau tidak, hari ini selain 11 sungai ada di Kediri, di Tulungagung pun ada Bendungan Wonorejo, dan Blitar menjadi sebidang tanah datar di kawasan yang dikelilingi danau dan sungai itu. Agak terdengar familiar? Betul, kalimat dalam legenda Lembu Sura.

Mari Pelajari Peninggalan Bersejarah Kerajaan Gelang Gelang


Ada jejak peninggalan bersejarah di Ngurawan, Dolopo, Madiun, Jawa Timur yang seolah dilupakan. Peninggalan ini sisa-sisa Kerajaan Gelang Gelang yang berdiri pada tahun 1290-an lalu. “Lokasi ini seperti sejarah yang tidak diakui,” jelas aktivis Komunitas Bersejarah Madiun, Nunung Widia saat berbincang, Senin (27/1/2014).

Dahulu Kerajaan Gelang Gelang ini didirikan oleh Jayakatwang yang menghancurkan Kerajaan Singosari. Kini jejak-jejak kerajaan Jayakatwang itu masih tersisa, sayangnya tak terawat. “Dahulu pertama kali di tempat itu cikal bakal yang namanya bendera merah putih dikibarkan, dalam bentuk panji-panji. Ada situs-situs dan prasasti di tempat ini,” terang Widia.

Di desa di kawasan Madiun ini, situs kerajaan Gelang Gelang bertebaran. Bahkan ada yang di pekarangan dan persawahan rumah warga. “Kawasan ini semestinya ditetapkan menjadi kawasan cagar budaya agar melindungi peninggalan masa lalu,” terang dia. Hingga kini sisa-sisa peninggalan bersejarah itu teronggok begitu saja. Tak ada perawatan dan tak ada eskavasi. Pihak arkeologi menurut Widia hanya sekedar tahu saja. “Padahal bila melihat area sisa peninggalan kerajaan ini, diperkirakan ada candi dan berbagai sarana kota. Kita saja bisa melihat bekas pentirtaan atau tempat mandi raja-raja,” tuturnya.

ejak peninggalan bersejarah Kerajaan Gelang Gelang di Desa Ngurawan, Dolopo, Madiun benar-benar terlupakan. Keberadaan situs bersejarah itu hanya sekedar diketahui saja, untuk perawatan dan penjagaan, hanya Tuhan yang tahu. “Banyak kolektor datang ke tempat ini,” jelas aktivis komunitas bersejarah di Madiun, Nunung Widia saat berbincang, Senin (27/1/2014).

Kerajaan Gelang Gelang yang didirikan Jayakatwang pada 1290-an ini kini hanya menyisakan reruntuhan bekas istana. Kerajaan Gelang Gelang ini yang dahulu meruntuhkan Kerajaan Singosari. “Banyak arca di tempat ini yang kepalanya terpenggal,” jelas Nunung. Peninggalan bekas Kerajaan Gelang Gelang ini memang bercampur baur dengan kebun, pekarangan, dan persawahan warga. Tak jelas batasnya, hanya saja tersebar di sejumlah titik.

Diduga kawasan Desa Ngurawan ini dahulu kawasan istana serta perkotaan Kerajaan Gelang Gelang. Sebagai buktinya masih tersisa tembok-tembok istana. “Ini meliputi area sekitar 30-an hektar. Hanya penduduk saja yang berjaga di kawasan ini. Arca-arca seperti Ganesha tersebar, diduga ada candi dan tempat pemandian di kawasan ini,” jelasnya. Nunung bersama rekan-rekannya, hanya bisa peduli dan berupaya merawat sebisanya. Mereka berharap ada kepedulian lebih dari pemerintah akan peninggalan bersejarah ini.

Sejarah Kawasan Pluit dan Mengapa Dinamakan Pluit


Sejak dahulu Jakarta dikenal sebagai wilayah yang mempunyai banyak situ atau rawa. Di awal 1960-an, rawa berfungsi untuk menampung air hujan dan limpahan air dari daerah Bogor, Puncak, dan Cianjur sehingga dapat menyelamatkan Jakarta dari banjir besar, sekaligus penyuplai air tanah di sekitarnya.

Rawa umumnya, daerah resapan berada di dataran rendah. Secara geologis, seluruh dataran terdiri dari endapan Pleistocene ±50 m di bawah permukaan tanah, terutama dataran Pluit yang berada di bawah permukaan laut.

Nama Pluit berasal dari kata fluitschip yang artinya kapal (layar) panjang berlunas ramping. Dulu Belanda meletakkan sebuah fluitschip bernama Het Whitte Paert, yang sudah tidak laik laut di pantai sebelah timur muara Kali Angke. Tempat ini dijadikan kubu pertahanan dalam menghadapi serangan pasukan Banten. Kubu ini dikenal dengan nama De Fluit. Sekarang kita mengenalnya sebagai kawasan Pluit.

Kawasan Pluit berada di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Jakarta Utara merupakan tempat bermuaranya 13 sungai dan dua kanal. Pluit berada di dataran rendah di bawah permukaan laut berupa dataran rawa. Daerah ini baru berkembang pada zaman Ali Sadikin memimpin Jakarta. Kini kawasan ini dikenal dengan perumahan mewahnya, yang hanya dapat dibeli oleh orang-orang yang benar-benar kaya. Di antaranya kawasan modern Pluit, Pulo Mas dan Pantai Mutiara.

Di daerah utara, Kelurahan Pluit berbatasan dengan Teluk Jakarta; sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Penjaringan, dan Kelurahan Pejagalan; serta di sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Kapuk Muara dan Kelurahan Penjaringan di sebelah selatan.

Kelurahan Pluit mencakup Pluit, Muara Karang, Pantai Mutiara, Waduk Pluit, Kawasan Pergudangan Pluit, dan Pemukiman Nelayan Muara Angke. Perumahan serta mal mewah seperti Pluit Village (sebelumnya Mega Mall), Emporium Pluit, dan Pluit Junction.

Kelurahan Pluit memiliki penduduk sebanyak 16. 173 KK dengan 19 RW dan 232 RT. Luas wilayah kelurahan 7.79 kilometer persegi.

Daerah hamparan rawa yang direklamasi menjadi hamparan beton. Guna menampung air sementara dari aliran sungai sebelum ke laut dibangun Waduk Pluit dengan luas 80 hektare. Waduk ini juga untuk mencegah banjir. Pembangunan waduk selesai pada tahun 1981.

Perjalanan kawasan Pluit:

1960, kawasan Pluit dinyatakan sebagai kawasan tertutup. Kawasan ini direncanakan sebagai polder Pluit dan pekerjaan pengerukan kali melalui Keputusan Peperda Jakarta Raya dan Sekitarnya No 387/ Tahun 1960. Namun, di bawah Otorita Pluit, ada pengembangan Pluit Baru untuk pengembangan perumahan, industri, dan waduk. Adapun daerah Muara Karang, Teluk Gong dan Muara Angke untuk perumahan dan pembangkit listrik, serta kampung nelayan.

1971 – Proyek Pluit terus dilanjutkan dengan perluasan wilayah hingga ke Jelambar dan Pejagalan.

1976 – kawasan Pluit menjadi permukiman moderen dengan tempat rekreasi dan lokasi perindustrian

1981 – selesai pembangunan Waduk Pluit. Terjadi banjir besar di Pluit

1985, 1996, 2002, 2007, 2013 – Banjir besar melanda Pluit

Tercatat penurunan tanah hingga 4.1 meter di satu titik antara Pluit dan Muara Baru dari 1974-2010 sehingga tak heran jika Pluit selalu menjadi langgan banjir besar yang susah surut, baik saat air laut pasang maupun surut.

Ditemukan Makam Di Situs Megalitikum Gunung Padang


Situs megalitik Gunung Padang menjadi buah bibir setelah sejumlah peneliti dari berbagai disiplin ilmu berupaya menguak secara scientific situs yang diperkirakan berusia 500 tahun sebelum masehi tersebut. Baru-baru ini, arkeolog menemukan deretan makan tua yang ada di punden berundak tersebut.

Adalah Ali Akbar, Arkeolog dari Universitas Indonesia (UI) yang menemukan kelompok makam di dalam area penelitian situs yang ada di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sekitar 50 KM dari Kota Cianjur, Jawa Barat.

“Makam itu ada di tenggara teras kelima (teras puncak) Gunung Padang, agak menurun sedikit, ada beberapa makam di sana,” kata Ali saat berbincang dengan detikcom, Kamis (3/1/2013).

Berdasarkan pengamatannya, makam tersebut ada di areal situs megalitik sekitar tahun 1900-an. Dari beberapa makam yang ada, terdapat satu makam yang sedikit memberikan gambaran mengenai keberadaan makam dari sepasang nisan makam tersebut.

“Bila dilihat dari bentuk makamnya, itu adalah makam Islam. Satu nisan bertuliskan huruf latin dan satunya lagi bertuliskan huruf Arab,” terangnya.

Dari batu nisan itu tertulis Hadi Winata yang wafat pada tahun 1947 yang wafat di usia 68 tahun, artinya lahir pada tahun 1879 masehi. Di nisan lainnya, masih di makam yang sama, tertulis huruf Arab dan terdapat keterangan tahun hijriyah, yaitu 1356 H. Menurut Ali, dirinya masih meneliti keterkaitan keterangan tahun Hijriyah yang tertera dengan tahun masehi di nisan tersebut.

“Bila di nisan tulisan Arab tertulis Prabu,” terang Ali. Dia menambahkan, kemungkinan jasad yang dimakamkan itu merupakan dari golongan bangsawan bila sekilas diamati dari nama latin yang tercantum di nisan dan juga tulisan ‘Prabu’ di nisan berhuruf Arab.

Namun sayang, para peneliti belum bisa menaksir usia makam lainnya yang ada di areal Gunung Padang. “Ada yang lebih tua lagi, tapi tidak ada tulisan di nisannya, jadi belum bisa diprediksi berapa usia makam itu,” ujarnya.

Terkait penemuan tersebut, Ali sudah melaporkannya ke tim penelitian untuk kemudan ditindaklanjuti. Penelitian arkeologi situs Megalitik Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, mulai menempuh babak akhir. Seperti apa rupa dari punden berundak yang menjadi kontroversi ini akan segera terkuak.

Apa yang akan dilakukan Ke depan? Semua tim terus bekerja dengan titik konsentrasi di lokasi yang berada di luar situs. Tim arkeologi menjadi terdepan membuka ‘pintu peradaban’ leluhur yang sangat luar biasa ini. Adapun bentuk dan isi di dalamnya akan secara otomatis terkuak,” kata Erick Rizky, Asisten Stafsus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana, dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Rabu (19/12/2012)

Penelitian situs yang ditaksir berusia 500 tahun lebih ini terdiri dari berbagai unsur akademis. Menurut Erick, Tim Geologi sudha 99 persen memiliki data lengkap geolistrik dan alat bantu geofisika. Ditambah pemetaan satelit, kountur dan DEM.

“Dari hasil itu ditambah pembuktian di beberapa titik bor sampling serta analisa petrografi secara scientific bisa disimpulkan memang ada man made structure di bawah permukaan situs gunung padang,” papar Erick menambahkan hasil riset dipaparkan Selasa (18/12) malam dari pukul 19.00 hingga 00.00 WIB.

Erick menambahkan, dari penelitian para akademisi itu juga ditengarai memiliki chamber dan bentuk struktur lain dugaan goa dan lorong, serta kecenderungan adanya anomali magnetik di berbagai lintasan alat geofisika.

“Temuan ini makin diperkuat dengan temuan tim arkeologi yang berhasil menemukan artefak-artefak di barat dan timur bangunan Gunung Padang terutama di luar situs. Bahkan temuan awal batu melengkung di timur dipertunjukan yang kuat diduga sebagai ‘pintu’. Ini temuan yang luar biasa,” jelasnya.

Menurut Erick, dari paparan penelitian luasan situs diperkirakan memiliki luasan yang lebih besar dari data yang dimiliki saat ini. “Tim sudah hampir mirip dengan temuan di sumba Nusa Tenggara. Sebelumnya Tim arsitektur menemukan kemiripan yang sama dengan piramida Machupichu Mexico,” jelasnya.

Bapak arkeologi Indonesia yang juga Guru Besar UI Profesor Mundardjito tak habis pikir akan kabar yang ditiupkan soal piramida Gunung Padang di Cianjur. Menurutnya, isu itu malah merusak situs Gunung Padang. Ribuan orang datang berbondong dan berbuat tanpa kontrol di situs purbakala itu.

“Akibat isu piramida, semakin banyak pengunjung yang datang, semakin rusak. Manusia pakai sepatu menginjak-injak bebatuan, menggores dengan kunci mengukir nama. Ini akumulasi yang harus ditangani dengan serius,” kata Mundardjito saat berbincang dengan detikcom, Rabu (19/12/2012).

Mundardjito sedih, situs yang diperkirakan berusia 2.000 tahun itu malah kini tenar dengan isu piramida. Bukan pada sejarah keberadaan situs megalitik peninggalan nenek moyang itu. Mundardjito yang terlibat dalam restorasi Borobudur dan Prambanan ini sendiri tak yakni kalau Gunung Padang itu sebuah piramida.

“Kalau kita lihat, Gunung Padang itu unik, megah, dan monumental. Lokasi yang bagus, sebuah bukit yang dikelilingi bukit yang lain dan juga sungai. Rasanya ini memang menarik masyarakat. Kita juga bisa melihat kemampuan nenek moyang kita merancang dan menyiapkan batuan di atas bukit, sebelum kita dipengaruhi kebudayaan India,” terang Mundardjito yang kini berusia 76 tahun ini.

Arkeolog senior Indonesia yang pernah ikut eskavasi di Yunani ini menjelaskan, yang utama dalam sebuah situs adalah perlindungan. Kondisi Gunung Padang amat memprihatinkan. Hanya kabarnya saja yang disebarkan ada piramida tapi tak ada konservasi akan situs itu.

“Sekarang susunan batu di sana, banyak yang diatur manusia. Susunannya palsu, diatur-atur. Kondisi situs Gunung Padang juga belum ditangani kompehensif, batu-batu berserakan, miring, roboh. Erupsi tanah saat hujan juga terus terjadi. Kita tidak ingin ini terus terjadi,” terangnya.

Mundardjito menuturkan, keaslian bentuk harus dijaga. Apalagi situs itu merupakan bagian cagar budaya. Tentu perlindungan maksimal harus diupayakan. Janganlah hanya mencari sesuatu yang di luar perkiraan seperti piramida dengan merusak situs itu.

Dia juga mengusulkan membagi Gunung Padang dalam tiga zona. Zona inti yang harus diproteksi, benar-benar daerah ‘haram’ dari bangunan. Zona dua, menjadi penjaga zona inti, dan kemudian zoan tiga atau zona pengembangan yang bisa dipakai penduduk setempat untuk memberikan jasa kepada wisatawan.

“Heritage for all. Perlindungan hukum dibuat dengan SK Cagar Budaya oleh bupati, dan harus ada zona di kawasan itu. Cagar budaya itu tak ternilai. Selamatkan Gunung Padang,” tegasnya.

Selama ini catatan sejarah menulis penemu Situs Megalitik Gunung Padang Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sekitar 50 KM dari Kota Cianjur, Jawa Barat, adalah NJ Krom yang merupakan warga negara Belanda. Namun, ditemukannya deretan makam di areal yang kini menjadi objek penelitian itu, diharapkan dapat membuka tabir baru jika masyarakat sekitarlah yang pertama kali menemukan situs tersebut.

“Dengan adanya makam di situ (areal Gunung Padang), artinya ada masyarakat yang tinggal dan menetap di situ, kemudian ada jeda sampai MJ Krim menemukan situs tersebut dan melaporkannya ke pemerintah Belanda,” ujar Arkeolog UI, Ali Akbar, saat berbincang dengan detikcom, Kamis (3/1/2013).

Ali memaklumi, bila Belanda mencatat temuan Krom tahun 1914 itu dalam catatan pemerintahannya. Pasalnya, pemerintahan saat itu dipegang oleh Gubernur Hindia-Belanda, dimana Krom memiliki akses langsung ke pemerintah untuk memasukannya ke dalam temuan Belanda.

“Maksudnya ke depan, kita menghargai masyarakat setempat yang mereka sudah lebih dulu tahu dan menjaganya namun tidak masuk dalam laporan temuan,” kata Ali.

Berdasarkan temuan tim penelitian di Gunung Padang, terdapat beberapa makam yang terletak di teras kelima situs megalitik tersebut. Ali menyebut, makam yang ditemukan tersebut bergaya makam Islam yang masing-masing makamnya memiliki nisan. Namun, hanya satu makam yang tulisan di nisannya masih terbaca.

Di nisan satu tertera tulisan latin yang menerangkan nama jasad yang dimakamkan bernama Hadi Winata yang wafat pada tahun 1947. Almarhum tertulis juga wafat pada usia 68 tahun, artinya almarhum lahir pada tahun 1879. Di nisan lainnya makam yang sama, tertera pula tulisan Arab, di nisan tersebut terbaca ‘prabu’ serta terdapat tahun hijriyah, 1356 H.