Kronologi Jatuhnya Pesawat Hercules C-130 Di Jalan Djamin Ginting Medan


Pesawat Hercules jatuh di Jl Djamin Ginting, Medan. Pesawat ini terbang dari Lanud Suwondo. Menurut KASAU Marsekal TNI Agus Supriatna, pesawat membawa 12 awak. “Pesawat membawa 12 penumpang,” terang Marsekal Agus, Selasa (30/6/2015).

Berikut kronologi jatuhnya pesawat Hercules A1310 type C-130:

Pukul 11.48 WIB
– Pesawat take off dari runway 23 Suwondo.
– Kemudian saat akan ditransfer ke Medan APP, pilot request RTB

Pukul 11.50 WIB
– Pesawat berbelok ke kanan dan crashed di Pancur Batu sebelum kontak dengan medan APP

Pesawat ini diketahui sedang melakukan penerbangan militer. Pesawat ini hendak terbang ke Pangkal Pinang. Pesawat jatuh menimpa rumah, hotel, dan ruko. Ada 12 kru di dalam pesawat Hercules C130 yang jatuh di Medan, Sumatera Utara. Mereka terdiri dari 3 penerbang, satu navigator dan delapan teknisi.

“Ada 12 kru, terdiri dari 3 penerbang, satu navigator dan delapan teknisi,” kata Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Agus Supriyatna saat dihubungi, Selasa (30/6/2015). Misi pesawat hendak berangkat ke sejumlah pangkalan TNI. Pesawat jatuh sekitar pukul 11.50 WIB. Pesawat menimpa rumah dan hotel Berastapi. Belum diketahui berapa korban jiwa akibat kejadian ini. Yang pasti ada korban tewas dibawa ke RS Adam Malik.

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Agus Supriyatna menganalisis sementara penyebab jatuhnya pesawat Hercules di permukiman penduduk di Jl Djamin Ginting, Medan, Sumatera Utara. Ada dua analisis yang mungkin terjadi. “Ada dua analisa kira-kira, pada saat belok kurang speed, sehingga terjadi trouble. Lalu mungkin ada yang rusak,” kata Agus saat dihubungi via telepon, Selasa (30/6/2015). “Kira-kira seperti itu, setiap pesawat Hercules trouble after take off pasti ada sesuatu yang rusak,” sambung Agus menegaskan.

Meski demikian, lanjut Agus, pihaknya masih menunggu penyelidikan untuk menyimpulkan peristiwa kecelakaan itu. Hercules itu diketahui buatan tahun 1964. Kapuspen TNI Mayjen Fuad Basya sebelumnya menyatakan bahwa pesawat jatuh setelah terbang dua menit dari Lanud Soewondo, Polonia, Medan. Pesawat Hercules yang jatuh di Medan, Sumatera Utara, sedang dalam operasi. Pesawat itu dalam operasi Penerbangan Angkutan Udara Militer (PAUM).

“Pesawat ini melaksanakan operasi PAUM. PAUM itu adalah Penerbangan Angkutan Udara Militer,” kata Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriyatna, Selasa (30/6/2015).PAUM adalah penerbangan pesawat TNI AU dari satu daerah ke daerah lain. Operasi ini sebenarnya operasi rutin.Soal pesawat Hercules yang jatuh, Agus mengatakan pesawat itu terawat dengan baik. Meski diproduksi tahun 1964, pesawat itu dirawat dengan baik karena merupakan andalan TNI AU untuk mengangkut logistik dan personel. “Ini pesawat all weather, andalan kita untuk pesawat angkut,” ujarnya.

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Agus Supriyatna mengatakan Hercules C-130 yang jatuh di permukiman penduduk Jalan Djamin Ginting, Medan, buatan tahun 1964.”Kalau produksi pesawat Hercules tahun 1964,” kata Agus, Selasa (30/6/2015). Pesawat Hercules jatuh sekitar pukul 12.14 WIB. Pesawat ini diketahui membawa logistik, hendak terbang ke pangkalan-pangkalan militer termasuk ke Natuna dan Pangkal Pinang. Hercules yang merupakan buatan AS ini sangat diandalkan untuk mengangkut personel dan logistik.

Tim SAR Medan langsung menuju lokasi jatuhnya pesawat Hercules C130 yang jatuh di Jl Djamin Ginting, Medan. Namun hingga saat ini SAR masih belum mendapat informasi tentang korban.

“Personel kami sudah meluncur ke lokasi karena dekat dengan kantor. Jumlah korban belum ketahuan karena dijaga ketat polisi dan diberi police line jadi tidak bisa sembarangan ke lokasi,” kata anggota Tim SAR Sisar Tumit, Selasa (29/6/2015). Sisar menyebutkan bahwa pesawat menimpa hotel di kawasan Simalingkar tersebut. Namun dia belum dapat mengonfirmasi bagaimana kondisi bangunan yang tertimpa.

“Kejadian tadi sekitar pukul 12.00 WIB kebetulan dekat kantor dan kami lihat asapnya. Kami langsung ke TKP,” imbuh Sisar. Sementara itu Kepala SPKT Polresta Medan AKP Sitanggang sudah berada di lokasi. Namun Sitanggang belum dapat memberikan keterangan lengkap. “Nanti akan saya hubungi kembali,” kata Sitanggang. Pihak TNI AU telah menginformasikan bahwa pesawat Hercules membawa 12 prajurit. Bagaimana kondisi mereka belum diketahui, demikian juga dengan kemungkinan adanya korban jiwa dari penduduk sipil.

Pesawat Hercules yang jatuh di atas Jalan Jamin Ginting, Medan sempat meledak di udara sebelum jatuh. Staf Hotel Golden Eleven sempat mendengar ledakan di atas hotel itu. “Sebenarnya meledak di atas Golden Eleven, cuma tidak tahu, terlempar ke arah depan,” kata staf Hotel Golden Eleven, Evrida Karina saat dihubungi, Selasa (30/6/2015). Evrida menggambarkan, lokasi kecelakaan pesawat Hercules itu di seberang hotelnya, namun selisih 2 rumah. “Ada 1 rumah yang tertimpa, usaha pijat BS II,” kata dia.

Dia menyaksikan bahwa pesawat Hercules itu menimpa kabel listrik. Kini, ada asap membumbung. “Ledakan pertama besar, selanjutnya ledakan-ledakan kecil. Letupan-letupan begitu,” imbuhnya. Jalan Jamin Ginting sudah ditutup. Polisi, pemadam kebakaran, ambulans sudah ada di lokasi. Warga masih berkerubung.

Cara Membedakan Makanan Yang Pakai Zat Kimia Berbahaya


Kepala Balai Besar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) DKI Jakarta Dewi Prawitasari memberi tips untuk membedakan hidangan takjil berbahaya dengan yang tidak berbahaya. Makanan yang memiliki warna mencolok sudah dipastikan mengandung pewarna-pewarna tekstil. “Untuk makanan berwarna merah, biasanya warnanya cenderung pink. Anda suka lihat kerupuk merah pink di asinan? Jangan lagi konsumsi itu,” ujar Dewi ketika dihubungi, Minggu (28/6/2015).

Saat sidak bersama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Pusat Jajanan Bendungan Hilir kemarin, Dewi memang menemukan adanya asinan yang berbahaya. Dewi mengatakan, setelah diperiksa, asinan tersebut tidak terbuat dari bahan-bahan yang sehat. Kerupuk dalam asinan mengandung pewarna tekstil Rhodamine B, sementara tahu serta mi yang digunakan dalam asinan itu mengandung formalin.

Dewi mengatakan, hanya sayur-sayuran dalam asinan tersebut yang bisa dimakan karena tidak mengandung zat kimia berbahaya. Dia pun memberi tips untuk mengetahui kualitas asinan yang sering kita beli. Dia menyarankan kepada masyarakat untuk membeli sebungkus asinan dan meletakkannya di meja begitu saja, bukan di lemari es.

Kemudian, lihatlah kondisi tahu dan minya. “Jika tahu dan minya awet, berarti ya pakai formalin,” ujar Dewi. Dewi menyarankan, jika memang sangat ingin makan mi, masyarakat disarankan membeli mi telur saja. Sebab, mi tersebut memiliki sertifikasi BPOM dan dipastikan tidak mengandung formalin.

“Kalau Anda mau pakai mi, pakai mi telur saja yang terdaftar di BPOM. Jadi, tidak tergantung mi basah yang dijual di pasaran,” ujar dia.

Hampir Separuh Sepeda Motor Gede Indonesia Bodong Karena Pemiliknya Tidak Mau Keluar Uang Untuk Buat Surat Surat


Populasi sepeda motor besar (moge) cukup banyak di Indonesia. Sayangnya, dari jumlah yang cukup banyak itu, masih ada pemilik moge yang tidak memiliki kelengkapan surat-surat kendaraan (BPKB dan STNK). Situasi ini sudah menjadi polemik panjang, dan belum bisa terselesaikan hingga saat ini.

Lois Susanto, Wakil Ketua Motor Besar Club Indonesia (MBCI) mengemukakan, setidaknya masih terdapat 40 persen dari total pemilik sepeda motor besar belum memiliki surat-surat. Kenyataan ini juga sebenarnya sudah sejak lama jadi perbincangan. “Sudah sejak tahun 1999 ini dibicarakan, namun terkait dengan biaya yang cukup mahal, maka hal itu tidak dilakukan pemilik moge. Biaya untuk menyuratkan kendaraan ini bisa lebih dari harga belinya,” ucap Lois, Jumat (26/6/2016).

Lois menambahkan, sudah beberapa kali pihak berwenang melalui Korlantas Polri melakukan pemutihan surat. Namun tidak seluruhnya berhasil, terkait dengan kendala biaya yang dianggap masih terlalu besar. “Kami yang selalau proaktif terhadap hal ini, kami sendiri yang mengajukan permohonan untuk bisa menyuratkan kendaraan ini, serta meminta untuk diberikan keringanan melalui pemutihan, namun tetap tidak juga diberikan. Kami sangat ingin tentunya untuk ikut membayar pajak,” ujar pria yang akrab di sapa Aloy.

Alfa yang merupakan pendiri MBC Jakarta mengungkapkan bahwa sempat ada istilah lebih murah membeli motor yang ada suratnya, dibanding membeli sepeda motor bekas kemudian disuratkan. “Siapa juga yang tidak menginginkan kendaraannya bersurat sehingga bisa ikut membayar pajak. Itu merupakan suatu kewajiban, namun biayanya saja yang mungkin bisa dikurangi. Pernah pada tahun 2007 lalu terkumpul sekitar 3.000 motor untuk disuratkan, dan kami meminta biayanya di angka Rp 40 juta saja, namun usulan itu tidak diterima,” ujar Alfa.

Sepeda motor besar (moge) sudah banyak beredar di Indonesia. Sayangnya, masih banyak para pemilik moge yang tidak melengkapi kendaraannya dengan surat-surat resmi baik STNK ataupun BPKB. Seperti dijelaskan Lois Susanto, Wakil Ketua Motor Besar Club Indonesia (MBCI), saat ini hampir separuh atau sekira 40 persen pemilik moge dari total keseluruhan yang ada, tidak memiliki surat-surat. Bahkan, situasi ini sebenarnya sudah sejak lama menjadi perbincangan khusus.

“Sejak tahun 1999 situasi ini dibicarakan. Hanya saja, terkait dengan biaya yang cukup mahal, maka hal itu tidak dilakukan pemilik moge. Biaya untuk menyuratkan kendaraan ini bisa lebih dari harga belinya,” ucap Lois kepada , Jumat (26/6/2016). Beberapa kali pihak berwenang, dalam hal ini Korlantas Polri melakukan pemutihan surat. Namun tidak seluruhnya berhasil, karena biaya penutihan juga dianggap masih terlalu besar.

“Siapa juga yang tidak menginginkan kendaraannya bersurat sehingga bisa ikut membayar pajak. Itu merupakan suatu kewajiban, namun biayanya saja yang mungkin bisa dikurangi. Pernah pada tahun 2007 lalu terkumpul sekitar 3.000 motor untuk disuratkan, dan kami meminta biayanya di angka Rp 40 juta saja, namun usulan itu tidak diterima,” ujar Alfa. MBCI selalu proaktif terhadap hal ini. Beberapa kali MBCI mengajukan permohonan untuk bisa menyuratkan kendaraan, serta meminta untuk diberikan keringanan melalui pemutihan. Sayang, hal tersebut tidak juga dianggap meringankan.

Bulan Agustus Akan Diadakan Razia Pengemplang Pajak STNK


Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Polda Metro Jaya akan mengadakan razia terhadap kendaraan yang menunggak pajak pada Agustus mendatang. Kendaraan yang terjaring razia nantinya akan mengalami penyitaan surat tanda nomor kendaraan (STNK). Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Pajak Daerah Dinas Pelayanan Pajak Edi Sumantri mengatakan, setelah dilakukannya penahanan STNK, pemilik kendaraan akan diminta untuk segera menyelesaikan pembayaran pajaknya ke kantor Samsat terdekat.

“Kendaraan yang terjaring razia tidak akan dikasih surat tilang, tapi surat penagihan pajak. Nantinya STNK akan ditahan dan baru bisa diambil kalau pemilik sudah memperlihatkan surat bukti pembayaran pajak,” kata Edi di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (29/6/2015). Edi belum menjelaskan secara rinci mengenai waktu pelaksanaan razia. Namun ia mengindikasikan pelaksanaannya kemungkinan besar akan dilakukan setelah habisnya masa penghapusan denda keterlambatan pembayaran pajak kendaraan bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), yang berlaku dari tanggal 25 Juni-25 Agustus 2015.

“Karena itu kami mengimbau pada masyarakat yang belum membayar pajak kendaraannya untuk segera membayar kewajibannya itu sebelum dilaksanakannya razia,” ujar dia. Sebelumnya, Dinas Pelayanan Pajak mengumumkan mengenai adanya kebijakan penghapusan denda keterlambatan pembayaran pajak kendaraan bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Peraturan tersebut berlaku periodik, yakni hanya dari tanggal 25 Juni-25 Agustus 2015.

Tujuan dari pelaksanaan kebijakan tersebut adalah untuk memberi kesempatan pada masyarakat Jakarta yang belum membayar pajak kendaraan untuk segera membayar kewajibannya itu tanpa perlu diberikan sanksi denda.

Waduk Jatigede Siap Digenangi Air


Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat akan segera dialiri air pada 1 Agustus mendatang. Seiring dengan hampir selesainya proses ganti rugi terhadap lahan warga di area waduk tersebut. Di samping itu, sekarang juga tengah dilakukan pemotongan 800.000 pohon, sekaligus pembersihan. Dengan tujuan tidak lagi ada pohon yang membusuk bila terkena air nantinya. “Kalau kayu itu terkena air, begitu busuk kan menghasilkan gas methana. Itu menghasilkan efek gas rumah kaca. Makanya harus ditebang,” ungkap Mudjiadi, Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)

Beberapa pohon di antaranya adalah jati, mahoni dan pinus. Mudjiadi menuturkan proses ini tengah berlangsung dan akan selesai dalam waktu dekat. Sementara akar, tonggak dan sampah tebangan pohon, semuanya ditimbun di dalam tanah. “Pokoknya sebelum digenangi, masalah ini selesai,” sebutnya.Kemudian, satwa langka yang tadinya berada di dalam area waduk Jatigede sudah diselamatkan. Pengusiran satwa dilakukan oleh BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) dan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kab. Sumedang.

Ancaman-Bahaya-Waduk-Jatigedes

“Satwa itu sudah diusirkan, dihalau supaya keluar dari waduk. Itu sudah dilakukan,” terang Mudjiadi. Disamping itu, pemerintah juga menjalankan program reboisasi, khususnya di bagian hulu Cimanuk. Karena daerah tersebut sudah gundul dan sulit menyerap air dengan kapasitas besar. “Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup sudah punya program reboisasi. Tapi kita pastikan untuk sedimentasi tidak akan 0. Ini sudah diperhitungkan volume dan periode berapa tahun,” paparnya.Isu penolakan pembangunan waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat marak diperbincangkan di media sosial. Bahkan ada sebuah infografis yang memaparkan cukup rinci terkait risiko gempa serta kerusakan sejarah dan budaya dari pembangunan waduk.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mudjiadi menjelaskan pembangunan waduk sudah melalui proses studi kelayakan (feasibility study) yang sangat panjang dan rinci.Sama seperti pembangunan waduk lainnya, risiko gempa juga menjadi perhatian serius. Bila tidak, maka akan berbahaya untuk masyarakat di sekitarnya.”Waktu perencanaan, semua waduk itu sudah dihitung risikonya terhadap gempa. Bukan Jatigede saja, tapi semuanya. Bangunan tinggi itu juga ada perhitungannya,” ungkapnya

Risiko terjadinya gempa pada waduk Jatigede, kata Mudjiadi memang pasti ada. Namun sudah diminimalisir dengan teknologi serta berbagai perhitungan teknis lainnya. Bahkan dengan kondisi gempa sekian skala richter, antisipasinya telah disiapkan.”Risiko ada, tapi sudah meminimalisir. Jadi dengan gempa sekian skala richter masih bisa bertahan. Bangunan yang didesain tahan terhadap gempa,” jelasnya. Seperti diketahui waduk seluas 5.000 hektar tersebut akan selesai diairi 7 bulan setelah 1 Agustus, atau setara 219 hari proses pengairan. Jatigede merupakan waduk kedua terbesar di Indonesia setelah waduk Jatiluhur.

Waduk tersebut akan bermanfaat untuk mengairi persawahan 90.000 hektar, ketersediaan air bersih, dan PLTA 110 megawatt. Waduk Jatigede di Sumedang, Jawa Barat bakal segera diisi air dua bulan mendatang atau mulai 1 Agustus 2015. Ada empat fungsi utama waduk terbesar kedua di Indonesia ini bila telah beroperasi penuh. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung, Trisasongko Widiyanto mengatakan waduk seluas 5.000 hektar tersebut akan selesai diairi 7 bulan setelah 1 Agustus, atau setara 219 hari proses pengairan.

Ada manfaat utama dari ‎keberadaan waduk terbesar ke-2 di Indonesia, setelah Jatiluhur ini. Pria yang akrab disapa Widy ini mengatakan yang manfaat pertama adanya waduk Jatigede bisa mengairi persawahan hingga 90.000 hektar. “In take irigasinya 90.000 hektar dari sini. Bisa ke Majalengka,” kata Widy di Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat, Jumat (26/6/2015). Kedua, waduk berkapasitas hampir 1 miliar meter kubik ini juga bisa dijadikan sumber air baku dengan kecepatan 3,5 kubik per detik. Air baku ini bisa digunakan untuk kepentingan wilayah di Sumedang, Majalengkan, hingga ke Cirebon. “Termasuk Bandara Kertajati nanti pasokan air baku-nya dari sini,” tuturnya.

Ketiga, waduk Jatigede bisa menjadi sumber tenaga bagi PLTA dengan kapasitas hingga 110 megawatt (MW). “Keempat adalah bisa mencegah banjir di 14 ribu hektar kawasan di daerah sini. Air banjir itu yang biasanya bablas akan tertahan di waduk ini,” tutup Widy. Ada fenomena ‘rumah hantu’ yang mencapai ribuan unit di lahan proyek Waduk Jatigede di Sumedang, Jawa Barat. Rumah-rumah ini tak berpenghuni, lokasinya di wilayah yang akan digenangi air.

‎’Rumah-rumah hantu’ tersebut dibangun oleh warga sekitar agar dapat kompensasi atau uang santunan saat bangunannya akan digusur pemerintah untuk pembangunan waduk. ‎Sebagian rumah ada yang berukuran tak begitu besar, hanya pondasi kayu ditutupi dinding, kebanyakan terbuat dari bambu dan beratapkan genting. Namun di dalamnya tak ada ruangan apapun, kamar mandi ataupun kamar tidur, semuanya lowong. Menurut pihak Kementerian Pekerjaan Umum, masyarakat sengaja membangun rumah tersebut agar bisa mengklaim ganti rugi saat digusur.

Saat menelusuri keberadaan rumah hantu tersebut, Jumat (26/6/2015), beberapa ‘rumah hantu’ sudah diratakan dengan tanah. Ada beberapa yang masih berdiri kokoh khususnya yang berlokasi kecamatan Jatigede, tak jauh dari dasar cekungan kawasan bendungan. Bahkan ada beberapa di antaranya yang niat mengecat ‘rumah hantu’ tersebut, agar terlihat seperti asli. Namun, jangankan ditinggali, aliran listrik pun sama sekali tak ada di rumah tersebut. Semuanya berdiri di tengah-tengah semak belukar, benar-benar seperti rumah hantu.

Kepala Balai Besar wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung, Trisasongko Widianto mengatakan, ada sekitar 11.000 rumah hantu yang harus dibereskan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.”Ada banyak rumah hantu juga di area genangan, disebutnya rumah hantu,” tutur Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Mudjiadi di lokasi.Mulai hari ini, sebanyak 2.000 kepala keluarga (KK) dari 11.000 lebih KK di wilayah Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat diberikan santunan. Sebanyak 1.000 lebih KK diberikan santunan Rp 122 juta, dan sisanya diberikan Rp 29 juta/KK. Apa tanggapan warga?

Santunan ini diberikan, agar warga mau pindah dari kawasan waduk, sehingga waduk bisa diisi oleh air.Idi, seorang warga desa Ciraung, Kecamatan Jatinunggal mendapatkan santunan Rp 122 juta. “Saya sedang diberikan Rp 122 juta ini,” kata Idi saat pemberian santunan di SMPN 1 Jatigede, Sumedang, Jumat (26/6/2015).Bapak yang berprofesi sebagai buruh bangunan ini bercerita, dirinya tinggal di kawasan waduk sejak 1984. Pada 1987, dia pernah disuruh pindah namun tidak mau karena belum mendapatkan kompensasi yang pantas.

“Dulu dijanjikan uang untuk relokasi, tapi baru dibayarkan sekarang. Dulu saya dapatnya Rp 7.000 per tumbak. Sekarang akhirnya dapat segini. Ini buat tambah biaya-biaya sekolah anak. Saya punya 4 anak. Saya juga mau beli tanah untuk modal usaha,” jelas idi.Tumbak biasa digunakan sebagai media alat ukur pengukuran tanah secara tradisional. Biasanya 1 tumbak sama dengan 14 meter persegi.

Dia berharap, waduk ini bisa dijadikan tempat wisata, dan juga sarana pengairan sawah agar masyarakat bisa berusaha. “Saya tidak bisa menolak, saya ikut senang saja,” ujar idi. Sementara Dewi, warga lainnya mengatakan, dulu dirinya hanya mendapatkan uang ganti rugi Rp 8 juta untuk 1 hektar sawah dan 3 rumah. Dia senang mendapatkan santunan Rp 122 juta ini. “Dulu dapat Rp 8 juta mengorbankan 1 hektar sawah, 3 rumah. Tapi saya tidak dikasih uang untuk relokasi, jadi biaya bangunannya. Sekarang dapat Rp 122 juta untuk 6 bulan. Ada juga uang relokasi yang tidak dibayar. Ini untuk keperluan sehari-hari. Dicukup-cukupi lah, diambil barokahnya saja,” kata Dewi.

Ada juga warga yang diberikan santunan Rp 29 juta. Salah satunya Ajun, yang mendapatkan Rp 29 juta, karena neneknya sudah mendapatkan Rp 122 juta untuk santunan relokasi. Santunan sebesar itu diberikan kepada keluarga yang punya pecahan keluarga baru dari keluarga intinya.”Nenek saya Rp 122 juta tapi saya tidak dapat, karena saya pecahan KK. Saya memang bukan warga situ. Sekarang dapat santunan Rp 29 juta. Saya inginnya dapat seperti nenek saya. Tapi kalau sudah begini diterima saja. Harapannya biar bisa berkah,” ujar Ajun.

Setelah menunggu waktu yang cukup panjang, akhirnya Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat siap digenangi air pada 1 Agustus 2015. Waduk ini nantinya merupakan waduk kedua terbesar di Indonesia, setelah Jatiluhur. Akan tetapi menjelang operasional tersebut, menangkap isu penolakan di media sosial. Salah satunya, infografis mengenai ancaman bahaya serta kerusakan sejarah dan budaya dari pembangunan waduk.

Infografis tersebut memaparkan sekilas gambar dari waduk yang sudah digenangi air. Tertulis kutipan dari Dosen Geologi Unpad, Emi Sukiyah yang menyebutkan infrastruktur sebesar waduk jatigede tidak seharusnya dibangun di sana, lempeng tektonik aktif dan episentrum gempa, membahayakan.Kemudian diceritakan ada beberapa risiko bahaya. Seperti gempa yang dimungkinkan terjadi sebesar 8 SR dan ada lempeng tektonik aktif yang merupakan patahan aktif baribis.

Kondisi hulu cimanuk gundul membuat debit air berkurang 40%. Ada pedangkalan waduk yang membuat sedimentasi 16 juta ton/tahun, erosi tanah serta dampak ke kawasan di sekitar waduk. Di samping itu terkait dengan aspek kerusakan sejarah dan budaya yang ditimbulkan. Setidaknya 33 situs cagar budaya, ratusan rumah adat, 11.00 rumah warga, ribuan hewan ternak dan 31.000 sawah dan kebun subur akan tenggelam.

Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Bogor Tewas Setelah Berkelahi Dengan Sesama Pengedara Mobil Di Jalan Tol


Zuryawan Isvandiart Zoebir, Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Bogor, tewas setelah sempat terlibat perkelahian dengan sesama pengendara di terowongan tol Bogor Outer Ring Road (BORR), tepatnya di Kelurahan Tanah Baru Kecamatan Bogor Utara Kota Bogor. Korban tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit dengan luka lebam di dada kanan dan dahinya.

Perkelahian tersebut dipicu aksi saling salip antara Zuryawan yang mengendarai mobil Toyota Rush bernopol F 1217 G dengan seorang pengendara Toyota Innova bernopol B 2084 SFJ. Keduanya masuk ke pintu Tol BORR pada Sabtu (27/6/2015) sekitar pukul 16.00 WIB. Aksi saling salip tersebut berlanjut saat keduanya berada di dalam jalur Tol BORR. Kedua pengendara memilih menepi dan saling saling caci. Keributan itu terus berlangsung, hingga keduanya terlibat adu jotos.

Duel maut berakhir setelah Zuryawan terjatuh dan tak sadarkan diri. Pengendara yang melintas, berhenti dan membawa korban ke rumah sakit. Saat itu, lawan duel Zuryawan juga sempat ikut membawa korban ke rumah sakit. Namun sayang, Zuryawan meninggal saat tengah dalam perjalanan menuju RS Mulya Jl. Pajajaran yang berjarak sekitar 4 kilometer dari lokasi kejadian.

Korban yang sempat dibawa ke rumahnya di Jalan belimbing IV perumahan Vila Citra Kelurahan Tegalgundil Kecamatan Bogor Utara, kemudian dibawa ke RSUD Ciawi untuk diautopsi. Kasat Reskrim Polres Bogor Kota, AKP Hendrawan A Nugraha, membenarkan kejadian tersebut. Hingga saat ini, pihaknya belum melakukan memeriksa pengendara Innova berinisial OLA (37). Menurutnya, OLA maupun istrinya belum berstatus apapun dalam kasus perkelahian yang yang menewaskan PNS Pemkab Bogor tersebut.

“Kalau penyebab kematian kita tunggu keterangan medis, karena medis yang bisa menyimpulkan itu. Oliv (OLA) juga belum kita periksa. Belum ada status apa-apa. Saat itu ada istrinya (istri OLA) di dalam mobil, tapi belum kita mintai keterangan. Kita juga belum tahu apa dia (istri OLA) mau memberi keterangan atau tidak, gitu kan,” kata AKP Hendrawan saat dihubungi, Minggu (28/6/2015) sore.

Kronologi Pembunuhan Citra Khairiyah Iklas Di Kamar Kos Jalan Kemiri Raya Pondok Cabe


Pembunuhan Citra Khairiyah Iklas (20) diduga terjadi dalam waktu cepat dan pelaku melarikan diri tak lama usai membunuh di sebuah kamar kos. Tetangga sekitar kos sempat mendengar teriakan dan suara benturan dalam kamar kos pada Jumat (26/6/2015) dini hari. Namun, mereka tak menduga ternyata terjadi pembunuhan di kamar kos tersebut. Citra ditemukan tewas di kamar kos Jalan Kemiri Raya, Kelurahan Pondok Cabe Udik, RT 3/11, Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan pada Sabtu (27/6/2015) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Terkahir kali Citra diketahui masuk ke kamar kos bersama suaminya Nurtamzi Bayu Kusuma (21) alias Acil. Kini Acil sedang diburu Polisi.

Banyak penghuni kos yang melihat rentetan peristiwa sebelum peristiwa pembunuhan terjadi. Dede Fikih (25), penghuni kos yang kamarnya persis di depan kamar tempat Citra dibunuh, menceritakan, sejak Kamis (25/6/2015) sore, Acil sudah ada di kos tersebut. Kamar kos itu sebenarnya disewa seseorang yang akrab disapa Jawa. “Jawa sama Acil itu baru kenal sekitar sebulan. Sering sama-sama nongkrong di Bintaro katanya,” ucap Dede. Namun, kata Dede, Jawa tak selalu tinggal di kos itu. Dia sering pulang ke rumahnya di Cirendeu.

Dede mengatakan, pada Kamis (25/6/2015), Acil sudah ada di kamar kos yang disewa Jawa. Acil ada di sana sejak sore hari, sekitar pukul 17.00 WIB. “Saya sempat ngobrol, ngopi lama sama si Acil itu,” kata Dede. Kemudian pukul 23.00 WIB, Jawa baru tiba di rumah kos. Dia baru pulang kerja dan datang bersama pacarnya ke rumah kos itu. Setelah itu, seingat Dede, Acil sempat pergi menjemput istrinya. Lalu kembali pada Jumat (26/6/2015) sekitar pukul 02.00 dini hari. “Waktu Acil datang bersama istrinya, Jawa masih ada di sini bersama pacarnya. Tapi tak lama Jawa dan pacarnya pulang, lalu Acil dan istrinya masuk ke kamar,” kata Dede.

Kemudian pada Jumat (26/6/2015) sekitar pukul 04.00 WIB, terdengar teriakan dari dalam kamar kos. Hendi Hidayat (42), penghuni kos lainnya, mengingat ada satu kali teriakan minta tolong lalu sebuah suara benturan. Setelah itu seluruh penghuni kos keluar dari kamarnya. Tapi teriakan dan benturan tak terdengar lagi. “Itu semua penghuni kos langsung keluar dari kamar. Langsung ramai. Kita sempat menduga teriakan itu berasal dari kamar itu. Tapi saya sempat coba buka, tapi terkunci. Dan lampu mati,” ucap Hendi.

Makanya kemudian Hendi berkelakar ke seluruh penghuni kos lain yang keluar subuh itu. “Saya bilang, ah suara alam mungkin,” kata Hendi. Setelah itu seluruh penghuni kos kembali masuk ke kamar. Hendi pun kembali masuk ke kamar dan meneruskan memasak. Sebab tadinya dia memang sedang memasak. Hendi menduga, Acil baru keluar dari kamar kos itu di atas pukul 07.30 WIB. “Sebab rumah kos ini sudah sepi di jam 07.00. Banyak yang sudah pergi kerja. Dan mereka yang kerja malam sedang tidur,” kata Hendi.

Saat ini polisi telah memeriksa Jawa untuk diminta keterangan. Sementara Acil masih dicari keberadaannya. Seorang wanita ditemukan tewas di kamar mandi rumahnya di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Wanita bernama Citra Khairiyah Iklas tersebut ditemukan pada Sabtu (27/6/2015) sekitar pukul 01.00 WIB. Dia diduga korban pembunuhan.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Polisi Audi Latuheru membenarkan penemuan jasad wanita tersebut. “Iya benar,” kata dia saat dihubungi pada Sabtu. Berdasarkan informasi yang dihimpun, Citra ditemukan sudah tergeletak tidak bernyawa di kamar mandi dalam keadaan tanpa busana. Dia merupakan istri dari Tamji Bayu Kusuma alias Acil (21).

Aparat kepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara. Selain itu, dilakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dan penyitaan barang bukti berupa tulisan tangan di lokasi kejadian. Sampai saat ini, pelaku masih dalam pengejaran. “Kami masih memburu pelaku yang diduga kenal dengan korban. Atas dasar petunjuk, Tim Buser Polsek Pamulang dan Polres Jakarta Selatan melakukan pengejaran,” kata diaSeorang wanita ditemukan tewas di kamar mandi rumahnya di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Wanita bernama Citra Khairiyah Iklas tersebut ditemukan pada Sabtu (27/6/2015) sekitar pukul 01.00 WIB. Dia diduga korban pembunuhan.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Polisi Audi Latuheru membenarkan penemuan jasad wanita tersebut. “Iya benar,” kata dia saat dihubungi pada Sabtu. Berdasarkan informasi yang dihimpun, Citra ditemukan sudah tergeletak tidak bernyawa di kamar mandi dalam keadaan tanpa busana. Dia merupakan istri dari Tamji Bayu Kusuma alias Acil (21). Aparat kepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara. Selain itu, dilakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dan penyitaan barang bukti berupa tulisan tangan di lokasi kejadian. Sampai saat ini, pelaku masih dalam pengejaran.

“Kami masih memburu pelaku yang diduga kenal dengan korban. Atas dasar petunjuk, Tim Buser Polsek Pamulang dan Polres Jakarta Selatan melakukan pengejaran,” kata diaCitra Khairiyah Iklas ditemukan tergeletak di kamar mandi kamar kos milik kerabatnya, Jalan Kemiri Raya, Pondok Cabe Udik, Pamulang, Tangerang Selatan, Sabtu (27/6/2015) dini hari. Sebelum diketahui ada mayat, penghuni kos lainnya sempat mendengar suara teriakan seorang perempuan.

“Iya ada yang teriak, suara cewek, dia minta tolong, tetapi kata orang sini dengarnya samar-samar,” kata pengelola kos, Anto Kurniawan, Sabtu siang. Saat itu, penghuni kamar kos, yang adalah kerabat Citra, Jawa (nama samaran), sedang tidak di sana. Citra berada di kos tersebut bersama suaminya yang bernama Tamji Bayu Kusuma alias Acil (21). Belum diketahui apa tujuan mereka datang ke kos Jawa pada Kamis malam itu. Anto menambahkan, berdasarkan keterangan dari Jawa, Citra dan Bayu ditinggalkan oleh Jawa yang hendak berangkat pulang ke rumahnya di daerah Cirendeu.

Jawa tidak tahu apa saja yang dilakukan oleh mereka berdua sampai pada menjelang subuh, hari Sabtu, Bayu terlihat pergi meninggalkan kos itu. Saat ini, Jawa sudah dibawa ke Polsek Pamulang untuk dimintai keterangan. Mayat Citra ditemukan dalam kondisi tanpa busana. Selain ada suara teriak minta tolong, saksi lain, warga sekitar, yang tidak mau menyebutkan namanya, mengaku mendengar ada bunyi sesuatu yang menghantam tembok kamarnya.

Kamar warga itu berada tepat di sebelah kamar kos Jawa. Acil sendiri masih dalam pengejaran pihak kepolisian. Dengan kondisi Citra yang seperti itu, dia diduga merupakan korban pembunuhan.Suasana dan kesan kotor, kumuh, serta jorok ada di kamar kos tempat ditemukannya mayat Citra Khairiyah Iklas, Jalan Kemiri Raya, Pondok Cabe Udik, Pamulang, Tangerang Selatan.

Citra ditemukan sudah tidak bernyawa di kamar mandi dalam kamar kos itu yang penuh debu dan bau busuk. Pantauan di lokasi, kamar kos yang diketahui disewa oleh Jawa berukuran sebesar tiga kali tiga meter dengan pintu triplek yang rapuh. Kamar tersebut memiliki cat dinding berwarna biru yang penuh dengan coretan spidol bertinta hitam. Dari atas sampai bawah semua dinding di sana dicoret kata-kata seperti “semok”, “aku gila karena kamu”, “partner in crime”, “kapan kita pacaran”, cuma kamu dan aku yang tau”, dan sejumlah coretan nama-nama orang.

Tidak ada kasur di kosan itu. Hanya tikar yang dilapisi sprei berukuran kecil. Juga ada satu bantal besar yang sarungnya sudah penuh dengan noda warna coklat. Lantainya yang berwarna putih juga penuh kotor seperti bekas diinjak menggunakan sepatu yang kotor dengan tanah. Kemudian di kamar mandinya sendiri ada pakaian perempuan berikut pakaian dalamnya, yakni bra berwarna hitam, tergantung di sebelah atas dekat pintu.

Barang-barang lain yang ditemukan adalah kipas angin, speaker dua buah, dan satu jam tangan laki-laki yang rantainya putus. Polisi sudah mengamankan Jawa untuk dimintai keterangan. Sampai saat ini, polisi masih melakukan pengejaran terhadap Tamji Bayu Kusuma alias Acil (21), suami Citra yang diduga tahu betul soal meninggalnya Citra di sana.

Pengelola indekos di sana, Anto Kurniawan, menyebutkan Jawa baru menyewa kos di sana lima hari yang lalu. Penghuni kos lainnya, Dede Viki (24), melihat Jawa hanya datang ke kosan itu untuk beristirahat selepas kerja sebelum kembali ke rumahnya di daerah Cirendeu. Pada Kamis malam pun, Jawa memutuskan untuk pulang. Sementara Acil dan Citra datang ke sana. Belum diketahui apa tujuan pasangan suami-istri itu datang ke sana.

Namun yang pasti, mereka menggunakan kamar kos milik Jawa hingga kemudian Citra ditemukan telah meninggal dunia, Sabtu dini hari.Perwira unit (Panit) 1 Reskrim Polsek Pamulang Inspektur Dua Ahmad Mulyono mengungkapkan, Citra Khairiyah Ikhlas (19) adalah anak dari pimpinan organisasi masyarakat (ormas) Kembang Latar. Citra sendiri ditemukan meninggal dunia di kamar mandi kos teman suaminya, Novrianto (19) di Jalan Kemiri Raya, Pondok Cabe Udik, Pamulang, Tangerang Selatan, Sabtu (27/6/2015) dini hari.

“Iya, korban anak dari korwil (koordinator wilayah) Kembang Latar di Rempoa,” kata Ahmad, Sabtu sore. Tempat ditemukannya mayat Citra sendiri merupakan Sekretariat Kembang Latar wilayah Pondok Cabe yang merupakan di kos-kosan. Namun ketika penghuni kos di sana ditanya, kebanyakan mengaku tidak tahu dan tidak kenal dengan Citra. “Maaf, saya baru, belum kenal sama korban itu,” kata seorang penghuni yang tidak menyebutkan namanya, Sabtu sore.

Pantauan kondisi kos-kosan tersebut cukup ramai. Banyak penghuni yang adalah laki-laki dan perempuan berusia sekitar 20 tahun berkumpul di sana. Tim gabungan dari Polsek Pamulang dan Polres Jakarta Selatan sendiri masih berusaha mencari suami Citra, Tamji Bayu Kusuma alias Acil (21), yang keberadaannya belum ditemukan sampai saat ini. Acil diketahui terakhir kali masuk ke kos tersebut bersama Citra pada Kamis malam.