Polisi Berhasil Tangkap Reza Muhammad Zam Pembunuh dan Pemerkosa Maya Alumnus UGM


Barang bukti dan keterangan saksi di tempat pembunuhan Eka Mayasari, alumnus Universitas Gadjah Mada yang didapat polisi minim. Namun akhirnya siapa pembunuh Maya terungkap. Bagaimana cara polisi menemukan si pembunuh? Polisi menelisik siapa saja yang berada di dekat lokasi di Karang Jambe, Banguntapan, Bantul, pada pukul 00.00-01.00, Sabtu 2 Mei 2015. Meskipun sudah banyak saksi yang ditanya polisi, hasilnya nihil. Hingga akhirnya, sopir taksi menjadi petunjuk kunci menemukan Reza Muhammad Zam, 20 tahun. Setelah membunuh sekitar pukul 01.00 waktu itu, tersangka naik taksi menuju Gamping, Sleman.

Baca : Eka Mayasari Lulusan UGM Ditemukan Tewas Dibunuh Di Jalan Janti 65 Karang Jambe Bantul

“Barang bukti dan saksi di lokasi sangat minim. Tapi ada sopir taksi yang bisa menunjukkan ada penumpang dari lokasi menuju Gamping,” kata Ajun Komisaris Besar Djuhandani Rahardjo Puro, Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah (Polda) Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis 21 Mei 2015.

Dari Gamping, tersangka kelahiran Aceh itu menuju ke Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah. Ia melarikan diri ke kos ibunya yang berada di Kutoarjo itu. Bahkan, kata dia, polisi juga mencari keterangan dari penumpang bus yang menuju ke Kutoarjo pada saat tersangka melarikan diri. Dari situlah polisi dengan data-data temuan awal mencari pelaku.

Pembunuh dan pemerkosa itu merupakan pengamen yang sering mangkal di sekitar jembatan layang Janti, lokasi dekat kos korban. Dari pengakuan tersangka, dia sudah mengenal korban. Sudah tiga kali datang ke warung angkringan milik Maya, panggilan Eka Mayasari. “Pengakuannya, pelaku sudah tiga kali datang ke warung korban,” kata dia.

Pelaku menggasak uang milik Maya sebesar Rp 757 ribu. Juga membawa telepon selular beberapa barang lainnya. Uang itu digunakan untuk membayar sewa kos ibunya di Kutoarjo. Telepon selular milik korban sudah dijual. “Kami akan menelisik kepada siapa barang korban dijual,” kata Djuhandani.

Polisi menjerat pelaku dengan pasal berlapis, yaitu pasal 365 tentang pencurian dengan kekerasan KUHP juncto pasal 338 tentang pembunuhan dan pasal 285 tentang pemerkosaan. Ancaman hukumannya di atas 10 tahun penjara. “Pelaku kami jerat dengan pasal berlapis,” kata Ajun Komisaris Besar Anny Pudjiastuti, Kepala Bidang Humas Polda Daerah Istimewa Yogyakarta.

Polisi menangkap pembunuh Eka Mayasari, alumnus Universitas Gadjah Mada. RMZ, yang berusia 20 tahun dan sehari-hari sebagai pengamen itu ditangkap di Kutoarjo, Jawa Tengah pada Rabu petang, 20 Mei 2015 Pembunuhan di warung angkringan milik Maya, 27 tahun di Karang Jambe, Bantul itu terjadi pada Sabtu 2 Mei 2015. Pukul 24.00 WIB, warung itu masih buka. RMZ bercerita, malam itu dia datang ke warung Maya. Itu kunjungannya yang ketiga kali. Dia meminjam uang kepada korban, namun ditolak. Maya sempat sempat membuatkan kopi untuknya dan membungkus minuman kopi untuk dibawa pelaku.

Tak lama kemudian, dia memukul Maya hingga lemas. Tubuh Maya lalu dibawa masuk ke kamar tidur dan diperkosa. “Dia sempat meronta, namun tak berdaya,” katanya. Pelaku yang cuma lulusan SD itu menggasak uang milik Maya sebesar Rp 757 ribu. Juga membawa telepon selular dan beberapa barang lainnya. Uang itu digunakan untuk membayar sewa kos ibunya di Kutoarjo. Telepon selular milik korban sudah dijual. Saya tidak punya uang, untuk makan sehari-hari,” kata RMZ kepada wartawan.

Polisi menjerat pelaku dengan pasal berlapis. Yaitu pasal 365 (pencurian dengan kekerasan) KUHP jo 338 (pembunuhan) KUHP dan 285 (pemerkosaan) KUHP. Ancaman hukumannya di atas 10 tahun penjara. “Pelaku kami jerat dengan pasal berlapis,” kata Ajun Komisaris Besar Anny Pudjiastuti, Kepala Bidang Humas Polda Daerah Istimewa Yogyakarta.

Supir Taski Blue Bird B 1199 QU Junaedi Apriansyah Dibunuh Di Desa Babakan Bogor


Perusahaan taksi PT Blue Bird Group Tbk menyerahkan sepenuhnya penelusuran pembunuhan salah satu sopir mereka, Junaedi Apriansyah, 54 tahun, ke polisi. Junaedi ditemukan tewas dalam kondisi kedua tangan dan kaki terikat serta mulut disumpal menggunakan handuk. “Untuk masalah pengusutan atau kronologi kami serahkan ke kepolisian,” kata Humas Blue Bird Teguh Wijayanto saat dihubungi, Jumat, 22 Mei 2015.

Menurut Teguh, PT Blue Bird akan segera meningkatan pengamanan taksi dan pengendara. Selama ini, menurut Teguh, Blue Bird sudah melengkapi setiap armada dengan perangkat emergency. Sopir sudah mengetahui apa yang harus dilakukan apabila ada ancaman kejahatan mengintai mereka. Tombol emergency tersebut ada di posisi strategis dan dirahasiakan tempatnya.

Lewat perangkat yang ada, perusahaan dapat mendengar suara di kendaraan dalam kondisi darurat. “Hal itu bisa membantu untuk mengecek posisi dan kondisi yang dialami sopir,” kata Teguh. Namun peristiwa kriminal, kata Teguh, tak selamanya terjadi di dalam kendaraan. Ada kemungkinan juga sopir tak sempat memencet tombol emergency, sehingga terlambat mendapatkan bantuan. “Tapi data rute-rute yang dilalui, tujuan kendaraan ke mana saja dan berapa lamanya sudah disampaikan pada kepolisian,” kata Teguh.

Sulit bagi sopir armada untuk menolak calon pelanggan. Menurut Teguh, tidak mungkin sopir menolak orang yang ingin menggunakan jasa begitu saja. “Kami tak bisa begitu saja menilai dari penampilan luar. Kadang yang rapi bisa berbuat jahat,” kata Teguh. Jenazah Junaedi ditemukan tergeletak di semak-semak oleh warga Kampung Singabraja Lame, RT 03/02, Desa Babakan, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Kamis, 21 Mei 2015, sekitar pukul 06.00 WIB. Korban pertama kali ditemukan oleh Samsuri, 46 tahun, petani asal Tenjo, saat akan berangkat ke sawah.

Saksi hanya menemukan beberapa barang korban berupa sepatu dan handuk kecil berwarna putih. Beberapa saat kemudian polisi mendapatkan informasi jika warga Legok, Tangerang, menemukan kendaraan taksi Blue Bird dengan nomor polisi B 1199 QU. Pada saat dilakukan pengecekan ternyata kendaraan tersebut dikemudikan oleh Junaedi Apriansyah, yang mayatnya ditemukan terikat dan mulut disumpal handuk di semak-semak.

Junaedi Apriansyah, 54 tahun, sopir taksi Blue Bird, ditemukan dalam kondisi kedua tangan dan kaki terikat, serta mulut disumpal menggunakan handuk. Junaedi pertama kali ditemukan oleh Samsuri, 46 tahun, petani asal Tenjo saat akan berangkat ke sawah. “Awalnya di lokasi kejadian tidak ditemukan identitas, namun kami hanya menemukan beberapa barang korban yakni sepatu dan handuk kecil berwarna putih,” kata Kepala Polisi Sektor Parungpanjang, Komisaris Nur Ichsan, saat dihubungi melalui telepon genggamnya, Kamis malam 21 Mei 2015.

Beberapa saat kemudian polisi mendapatkan informasi jika warga Legok, Tanggerang menemukan kendaraan taksi Blue Bird dengan nomor polisi B 1199 QU. “Kami masih melakukan penyidikan, dan kami belum bisa memastikan apakah temuan mayat ini merupakan korban perampokan atau memang korban pembunuhan karena dendam,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polisi Resor Bogor, Ajun Komisaris Achmad Faisal Pasaribu.

Penemuan jasad ini membuat warga Kampung Singabraja Lame, RT 03/02, Desa Babakan, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor geger. Polisi sudah melakukan olah TKP dan proses identifikasi. Jasad Junaedi dibawa ke RSUD Tangerang untuk otopsi. Junaedi Apriansyah, 54 tahun, sopir taksi Blue Bird, ditemukan dalam kondisi kedua tangan dan kaki terikat, serta mulut disumpal menggunakan handuk. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polisi Resor Bogor, Ajun Komisaris Achmad Faisal Pasaribu mengatakan pihaknya sudah melakukan olah TKP dan proses identifikasi. “Jasad dibawa ke RSUD Tangerang untuk otopsi,” kata Achmad, Kamis malam 21 Mei 2015.

Warga Kampung Singabraja Lame, RT 03/02, Desa Babakan, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor digegerkan dengan temuan mayat pria yang menjadi korban pembunuhan. “Korban ditemukan tergeletak di semak-semak oleh warga, Kamis 21 Mei 2015, sekitar pukul 06.00 WIB,” kata Kepala Polisi Sektor Parungpanjang, Komisaris Nur Ichsan, saat dihubungi melalui telepon genggamnya, Kamis 21 Mei 2015. Korban pertama kali ditemukan oleh Samsuri, 46 tahun, petani asal Tenjo saat akan berangkat ke sawah. “Awalnya di lokasi kejadian tidak ditemukan identitas, namun kami hanya menemukan beberapa barang korban yakni sepatu dan handuk kecil berwarna putih.”

Beberapa saat kemudian polisi mendapatkan informasi jika warga Legok, Tanggerang menemukan kendaraan taksi Blue Bird dengan nomor polisi B 1199 QU. “Pada saat dilakukan pengecekan ternyata kendaraan tersebut dikemudikan oleh Junaedi Apriansyah, yang mayatnya ditemukan terikat dan mulut disumpal handuk di semak-semak,” kata dia.
Warga Kampung Singabraja Lame, RT 03/02, Desa Babakan, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor digegerkan dengan temuan mayat pria yang menjadi korban pembunuhan. Korban diketahui bernama Junaedi Apriansyah, 54 tahun, sopir taksi Blue Bird, ditemukan dalam kondisi kedua tangan dan kaki terikat, serta mulut disumpal menggunakan handuk.

“Korban ditemukan tergeletak di semak-semak oleh warga, Kamis 21 Mei 2015, sekitar pukul 06.00 WIB,” kata Kepala Polisi Sektor Parungpanjang, Komisaris Nur Ichsan, saat dihubungi melalui telepon genggamnya, Kamis 21 Mei 2015 malam. Kapolsek mengatakan, korban pertama kali ditemukan oleh Samsuri, 46 tahun, petani asal Tenjo saat akan berangkat ke sawah. “Awalnya di lokasi kejadian tidak ditemukan identitas, namun kami hanya menemukan beberapa barang korban yakni sepatu dan handuk kecil berwarna putih,” kata dia.

Beberapa saat kemudian polisi mendapatkan informasi jika warga Legok, Tanggerang menemukan kendaraan taksi Blue Bird dengan nomor polisi B 1199 QU. “Pada saat dilakukan pengecekan ternyata kendaraan tersebut dikemudikan oleh Junaedi Apriansyah, yang mayatnya ditemukan terikat dan mulut disumpal handuk di semak-semak,” kata dia.
Jenazah Junaedi Apriansyah, 54 tahun, sopir taksi Blue Bird yang ditemukan tewas dalam kondisi kedua tangan dan kaki terikat serta mulut disumpal menggunakan handuk, akan dimakamkan pagi ini.

Juru bicara PT Blue Bird Group Tbk Teguh Wijayanto mengatakan usai pemakaman perusahaan akan ikut mengurus keberlanjutan hidup anggota keluarga almarhum Junaedi. “Kami sudah bantu mengurus pemakaman. Selanjutnya sedang dipersiapkan untuk memberikan tunjangan bagi anak dan istri almarhum,” kata Teguh saat dihubungio, Jumat, 22 Mei 2015. Menurut Teguh, Junaedi meninggalkan seorang istri dan empat orang anak. Ketiga anak Junaedi masih duduk di bangku sekolah. “Kami akan coba bantu beri beasiswa khusus untuk pendidikan anak-anaknya. Juga bantuan jika istrinya akan membuka usaha,” tutur Teguh.

Anak pertama Junaedi, ujar Teguh, kini masih duduk di sekolah menengah atas. Sedangkan adik-adiknya masih ada yang duduk di sekolah menengah pertama, sekolah dasar, dan satu lagi belum sekolah. Jenazah Junaedi ditemukan tergeletak di semak-semak oleh warga Kampung Singabraja Lame, RT 03/02, Desa Babakan, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor, Kamis, 21 Mei 2015 sekitar pukul 06.00 WIB. Korban pertama kali ditemukan oleh Samsuri, 46 tahun, petani asal Tenjo, saat akan berangkat ke sawah.

Saksi hanya menemukan beberapa barang korban berupa sepatu dan handuk kecil berwarna putih. Beberapa saat kemudian polisi mendapatkan informasi jika warga Legok, Tangerang, menemukan kendaraan taksi Blue Bird dengan nomor polisi B 1199 QU. “Pada saat dilakukan pengecekan ternyata kendaraan tersebut dikemudikan oleh Junaedi Apriansyah, yang mayatnya ditemukan terikat dan mulut disumpal handuk di semak-semak,” kata saksi.

Hasil Test Sucofindo Membuktikan Beras Plastik Terbuat Dari Polyvinyl Paralon


Walikota Bekasi Rahmat Effendi memastikan sampel beras yang diambil dari Pasar Mutiara Gading Timur terbukti mengandung plastik. Hal tersebut sesuai dengan hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bekasi di laboratorium Sucofindo, di Cibitung, Jawa Barat.

“Plastik polivinil yang digunakan untuk membuat beras itu bahan yang sama untuk membuat pipa paralon. Jadi kalau kita makan beras tersebut, sama saja kita menelan pipa paralon,” kata Rahmat di Bekasi, dikutip dari Kantor Berita Antara, Kamis (21/5).

Menurut Rahmat, laboratorium Sucofindo telah melakukan uji kandungan beras tersebut selama dua hari yaitu mulai Selasa (19/5) sampai Rabu (20/5). Hasilnya, kata dia, beras yang dijual pedagang bernama Sembiring di Pasar Mutiara Gading itu terbukti mengandung bahan baku plastik yang berbahaya bagi kesehatan.

Rahmat menjelaskan, beras yang diuji di laboratorium ada sebanyak 250 gram dan berasal dari kios milik Sembiring yang sehari-hari berjualan beras di Pasar Mutiara Gading Timur. Sedangkan Dewi Septiani (29) adalah warga Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi yang pertama kali melaporkan keganjilan yang dirasakannya saat memasak dan mencicipi beras tersebut.

Komisi IV DPR RI meminta pemerintah membentuk tim khusus untuk mengurusi masalah beras impor bercampur plastik yang ditemukan di Bekasi, Jawa Barat. Komisi yang di antaranya mengurusi pertanian itu juga akan memanggil pihak terkait yakni Kementerian Pertanian untuk membahas masalah beras palsu tersebut. Anggota Komisi IV DPR Firman Soebagyo menyatakan pemerintah perlu membentuk tim untuk melakukan suatu evaluasi. “Apakah beras palsu yang diimpor itu merupakan selundupan,” kata Firman kepada CNN Indonesia, Rabu malam (20/5).

Politikus Partai Golkar ini mengatakan tim terdiri dari sejumlah pihak yang terkait dengan persoalan ini. “Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, kepolisian, dan pihak pabean,” ujarnya. “Komisi IV akan memanggil Menteri Pertanian,” lanjut dia.

Menurut Firman Komisi IV selama ini sudah sering menyampaikan ke pemerintah dalam hal ini Kemendag mengenai masalah produk-produk hasil pertanian yang masuk ke Indonesia. “Saya sampaikan secara langsung maupun tidak langsung untuk mengawasi pihak yang bisa memgimpor sesuai izin dan juga yang ilegal,” tutur dia. Firman meminta Kemendag segera melakukan koordinasi dengan pabean terkait validasi produk hasil pertanian. “Beras yang mengandung plastik itu sangat berbahaya bagi kesehatan, dibuat dari limbah, menimbulkan penyakit kanker dan bisa membunuh manusia,” kata Firman yang menduga kuat beras tersebut berasal dari Tiongkok.

Dia menjelaskan semua masalah tersebut sudah diatur dalam undang-undang pangan. “Pelanggarannya pidana, pemerintah harus bertanggung jawab,” ujar Firman yang sudah dua periode di DPR menduduki Komisi IV.

Kriminolog: Indonesia Hadapi Bentuk Kejahatan Baru


Kriminolog Universitas Indonesia, Arthur Josias Simon Runturambi, mengingatkan ancaman bentuk kejahatan baru dari era globalisasi. Kasus Warga Negara Asing yang memakai dokumen palsu untuk membuka rekening bank, menurut dia, adalah alarm yang harus diwaspadai. “Indonesia mesti mewaspadai jaringan internasional yang memanfaatkan celah hukum sehingga muncul kejahatan baru,” kata dia, Kamis 14 Mei 2015.

Sebelumnya diberitakan seorang WNA berkebangsaan Kongo memiliki enam paspor palsu untuk membuka empat rekening bank swasta di DKI Jakarta. Kyandomanya Vikono Ephratient, WNA tersebut, juga memalsukan KITAS untuk membuka rekening bank. “KITAS itu yang mengeluarkan imigrasi tapi dicek di sistem tidak ada namanya,” kata Bambang Satrio, Kepala Kantor Imigrasi Kelas l Jakarta Barat.

Josias tak menampik dugaan WNA tersebut terlibat jaringan atau sindikat pencucian uang atas aktivitas ilegal tertentu. “Dugaan ke sana ada tetapi ini perlu diuji dulu,” kata dia. Ia juga menyebutkan aktivitas ini sebagai salah satu aktivitas ilegal yang mesti diwaspadai oleh Indonesia.

Ephratient memiliki dua rekening dengan nama Kenneth Jack Haycock yang berpaspor Cili, Paul Adam yang berpaspor Portugal dan Yotnapla Mahahing. Saldo di buku tabungan yang tercetak hanya sebesar saldo pembukaan awal, Rp 500 ribu. Petugas imigrasi belum dapat mengetahui perputaran uang dalam rekening tersebut karena belum dapat izin dari bank bersangkutan untuk mengecek transaksi yang ada. Petugas imigrasi juga kesulitan mendapatkan password dari Ephratient yang tak terlalu fasih berbahasa Inggris.

Saat diwawancarai, Ephratient mengatakan sumber uang berasal dari ayah dan saudara-saudaranya. “Dia mengaku paspor palsu itu milik saudara kembarnya yang sedang ia cari keberadaannya,” kata Bambang. Sementara itu, Ephratient berkata, “saya janjian dengan saudara kembar saya untuk menjemputnya pulang kembali ke rumah. Saya diminta ayah untuk menjemput dia,” kata Ephratient.

Ephratient mengaku baru satu setengah bulan berada di Indonesia. Tetapi kepada petugas imigrasi ia mengaku sudah dua tahun menetap di Indonesia dan berbisnis garmen di sini. Di Kongo, ia mengaku bekerja sebagai petani biasa.

Atas tindakan ini, kata Bambang, Ephratien melanggar pasal 119 huruf b dengan ancaman hukuman pidana penjara lima tahun. Pasal tersebut mengatur soal penggunaan dokumen perjalanan palsu. “Besar kemungkinan dideportasi,” kata dia. Bambang juga mengatakan akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk mengembangkan unsur pidana terkait dengan kepemilikan rekening tersebut.

Jakarta Fashion & Food Festival Telah Dibuka


Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku heran Pemerintah DKI Jakarta belum pernah menyelenggarakan acara promosi bertaraf internasional. Perhelatan tersebut selalu digelar oleh pihak swasta di pusat-pusat perbelanjaan.

“Kenapa acara-acara besar itu justru miliknya swasta?” kata Ahok, sapaan Basuki, saat menyampaikan sambutan di Jakarta Food & Fashion Festival di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis, 14 Mei 2015.

Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) digelar sebagai pembuka rangkaian acara perayaan hari ulang tahun ke-488 Kota Jakarta yang jatuh pada 22 Juni 2015. Acara ini menghadirkan 200 ragam masakan dari 117 pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Pesta kuliner bertajuk Kampoeng Tempo Doeloe ini mengusung tema Pelabuhan Sunda Kelapa yang menjadi salah satu ikon wisata Ibu Kota.

Ahok menuturkan, Pemerintah DKI sebenarnya memiliki anggaran untuk mempromosikan Jakarta ke mancanegara. DKI pun sebenarnya pernah mencoba menggelar acara serupa. Hanya saja, ia berujar pelaksanaannya tak sempurna.

Menurut Ahok, pegawai negeri sipil menyalahgunakan anggaran tersebut. Alih-alih menggelar acara berkualitas, anggaran tersebut kerap digunakan untuk membiayai kunjungan kerja ke luar negeri tanpa membuahkan hasil nyata. Ia mengatakan aksi tersebut membuat tak ada lagi mata anggaran kegiatan promosi ke luar negeri pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2015.

Akibatnya, Ahok berujar banyak warga asing yang belum mengetahui Jakarta memiliki potensi wisata di Kepulauan Seribu yang bisa menjadi andalan. “Orang asing tak tahu kalau Jakarta punya pulau untuk wisata keluarga,” ucap dia.

Ahok berharap kelak Pemerintah DKI bisa menyelenggarakan acara serupa JFFF. Selain itu, ia juga meminta anak buahnya agar bekerja sama dengan pihak-pihak swasta yang berpengalaman menghelat acara promosi besar. “Lewat kerja sama juga lebih baik,” kata Ahok.

Beranikah Indonesia Mengkriminalisasi Pria Hidung Belang Untuk Memberantas Prostitusi ?


Siapapun yang mengatakan bahwa melegalkan prostitusi adalah cara ampuh mengurangi pelacuran harus lebih dulu berkaca pada Swedia. Negara ini mampu mengurangi angka prostitusi dengan kebijakannya yang terbilang sangat jitu, tanpa perlu menghalalkan pelacuran. Menurut lembaga pejuang hak-hak perempuan Women’s Justice Center, kebijakan ini membuat prostitusi di Swedia, khususnya di ibukota Stockholm berkurang hingga dua pertiga dalam waktu hanya lima tahun. Jumlah pria hidung belang yang menyewa jasa PSK berkurang hingga 80 persen.

Di ruas jalan yang terkenal sebagai “distrik merah” di beberapa kota Swedia juga tidak terlihat lagi para wanita penjaja seks berderet di jalan. Sebagian besar rumah bordil dan panti pijat “plus-plus” yang beroperasi sejak 30 tahun lalu juga tutup, bangkrut. Jumlah wanita asing yang diselundupkan ke Swedia untuk menjadi penjaja seks juga kini hampir nihil. Pemerintah Swedia memperkirakan, dalam beberapa tahun terakhir hanya 200 hingga 400 wanita asing yang masuk menjadi PSK di negara itu per tahunnya. Bandingkan dengan negara tetangga, Finlandia, yang kedatangan 15 ribu hingga 17 ribu PSK asing tiap tahun.

Rahasia apa yang membuat Swedia sukses memangkas prostitusi? Ternyata semua berkat kebijakan yang mereka buat pada 1999. Enam belas tahun lalu, setelah melalui beberapa tahun riset dan studi, pemerintah Swedia menelurkan peraturan yang menyatakan: Pengguna jasa pekerja seks melakukan tindak kriminal, dan penjaja seks bukan tindakan kriminal.

Artinya berdasarkan undang-undang ini, menyewa prostitusi adalah tindakan ilegal, para pengguna jasa PSK dianggap telah melakukan tindak kekerasan terhadap perempuan. Sementara para PSK dianggap sebagai korban kekerasan yang memerlukan bantuan. Itulah sebabnya, undang-undang prostitusi di Swedia masuk ke bagian kekerasan terhadap wanita.

“Di Swedia prostitusi dianggap sebagai bagian dari kekerasan pria terhadap wanita dan anak. Secara resmi dianggap bentuk eksploitasi wanita dan anak-anak dan merupakan masalah sosial yang besar,” tulis undang-undang tersebut. Tidak berhenti sampai di situ. UU ini juga mengatur soal bantuan dana sosial untuk membantu para pekerja seks yang ingin berhenti menjajakan tubuhnya. Selain itu, tersedia juga dana bagi sosialisasi dan pendidikan bagi masyarakat soal undang-undang ini.

Kriminalisasi vs legalisasi
Sebuah studi yang dilakukan University of London di Inggris pada 2013 menunjukkan bahwa cara kriminalisasi pengguna jasa PSK yang diterapkan Swedia lebih manjur mengurangi penyakit masyarakat ketimbang melegalisasi prostitusi seperti yang dilakukan Australia, Belanda dan Irlandia.Dalam studi tersebut, legalisasi prostitusi malah justru menyuburkan praktik ini dan memicu berbagai masalah baru.

Ambil contoh negara bagian Victoria di Australia yang melegakan rumah bordil. Hukum ini memicu semakin banyaknya rumah bordil di Victoria sehingga tidak bisa lagi dikendalikan. Berbagai masalah baru muncul, seperti kejahatan terorganisir, korupsi dan berbagai tindak kriminal lainnya.Survei dalam studi juga menunjukkan bahwa legalisasi prostitusi juga membuat para pekerja seks merasa tidak aman dan dipaksa melakukan pekerjaan ini.

Sebanyak 79 persen PSK di Belanda mengaku ingin meninggalkan pekerjaan ini. Namun program rehabilitasi yang dijanjikan Belanda terbukti tidak terealisasi. Sementara di Swedia, 60 persen PSK yang bertaubat telah difasilitasi melalui program yang didanai pemerintah dan berhasil mengeluarkan mereka dari bisnis hitam tersebut.

Namun Women’s Justice Center menggarisbawahi bahwa tidak semua negara yang menerapkan peraturan serupa bisa sesukses Swedia. Negara ini terkenal dengan “Agar para penjaja seks bisa diposisikan sebagai korban kekerasan pria, maka pemerintah harus lebih dulu mengubah sudut pandang prostitusi dari sudut pandang pria ke sudut pandang wanita,” ujar lembaga pelindung wanita dari Amerika Latin ini.

Horee … Polisi Akhirnya Berhasil Tembak Mati Begal Pembunuh Haji Rahmat Juragan Beras Di Ciracas


Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan Polda Metro Jaya menangkap dua buronan kasus begal yang menewaskan juragan beras, Haji Rahmat, di Ciracas, Jakarta Timur. Polisi pun menembak mati seorang tersangka karena mencoba melawan petugas saat akan ditangkap. “Total dua orang, tapi yang satu tewas ditembak karena berniat kabur dan melawan,” kata Kasubdit Jatanras Polda Ajun Komisaris Besar Herry Heryawan saat dihubungi, Senin, 11 Mei 2015.

Kedua tersangka diketahui bernama Abdullah alias Dul dan Abdillah Ihsan. Tersangka tewas bernama Dul karena melawan petugas saat akan ditangkap. Dul ditangkap Senin siang, 11 Mei 2015.Herry mengatakan, penangkapan itu berawal saat polisi meringkus Abdillah, di kamar kosnya di Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu malam, 10 Mei 2015. Saat diperiksa, Abdillah menyebutkan keberadaan Dul yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. “Dua-duanya tinggal di Cilangkap,” ujar dia.

Namun saat akan ditangkap, Dul mencoba melawan dan berniat melarikan diri. Tembakan peringatan yang diberikan polisi tidak diindahkan oleh tersangka. “Jadi kami terpaksa menembak tersangka hingga akhirnya dia tewas di tempat,” kata dia.Selain dua tersangka, polisi juga masih memburu tujuh orang terduga pelaku begal komplotan Dul. Herry mengatakan polisi sudah mengidentifikasi para pelaku dan bakal segera diringkus. “Mereka juga sudah masuk dalam DPO (daftar pencarian orang),” ujar dia.

Menurut Herry, kedua pelaku dikenal sadis saat beraksi merampok korbannya. Mereka tidak segan-segan melukai bahkan membunuh sang target jika dianggap melawan. Mereka tercatat sudah lima kali merampok dan selalu melukai korbannya. “Terakhir yang ramai itu mereka merampok juragan beras di Ciracas (Jakarta Timur),” ujar Herry.

Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan Polda Metro Jaya berhasil mencokok dua buronan kasus begal yang menewaskan juragan beras pada Senin, 11 Mei 2015. Satu begal bernama Dul, tewas terkena timah panas setelah mencoba melawan.

Kasubdit Jatanras Polda Ajun Komisaris Besar Herry Heryawan mengatakan dua begal dikenal sadis saat beraksi merampok korbannya. Mereka tidak segan-segan melukai bahkan membunuh sang target jika dianggap melawan. Mereka tercatat sudah lima kali merampok dan selalu melukai korbannya.

“Yang ramai itu mereka merampok juragan beras di Ciracas (Jakarta Timur),” ujar Herry saat dihubungi, Senin sore, 11 Mei 2015. Sepak terjang pelaku diketahui merampok pertama kali di SPBU di kawasan AURI, Ciracas, Jakarta Timur, pada Februari 2015. Saat itu korbannya ditembak dan dibacok saat akan menyetorkan uang milik SPBU ke bank. Beruntung korban bisa diselamatkan jiwanya.

Pada Maret 2015, komplotan itu kembali beraksi di Ciracas dan merampok seorang juragan beras. Uang milik juragan bernama Rahmat alias Mamat sebesar Rp 500 juta dibawa kabur pelaku. Korban sendiri tewas akibat tembakan pelaku.Sedangkan pada April 2015, mereka beraksi di kawasan Tapos, Depok, dan menembak korbannya yang menyimpan uang di dalam jok motor. Namun korban yang ditembak di bagian paha dan dada berhasil diselamatkan oleh warga sekitar.

Selain itu, kelompok sadis itu juga pernah merampok di Cipayung, Depok, tepatnya di depan Toko Bangunan Abadi. Uang tunai sebesar Rp 185 juta milik korban raib dibawa kabur pelaku. Sedangkan korban mengalami luka serius di bagian pelipis. Dari penangkapan itu, polisi menyita sepucuk senjata api rakitan kaliber 22 mm beserta lima butir peluru. Selain itu, satu unit sepeda motor Suzuki Satria F150 berkelir hitam dan satu buah ponsel juga disita petugas sebagai barang bukti. “Tersangka digiring ke polda dan yang tewas dibawa ke RS Polri Kramat Jati,” kata dia.

Atas perbuatannya, tersangka bakal dijerat dengan Pasal 365 KUHP tentang Pencurian dengan Kekerasan. Pelaku terancam hukuman selama tujuh tahun penjara.

Saat ini, polisi mencari tujuh kawanan Dul lainnya.