Sakit Hati Anak Diperkosa … Bapak Di Bekasi Kirim Bom Pada Pelaku


Tim Detasemen Khusus 88 Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia mengungkap misteri paket bom di Kampung Ciketing Asem RT 02/03, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi. Pelaku bernama Eko Suprapto, 47 tahun, menyerahkan diri, Kamis dinihari, 26 Februari 2015.

“Sebelumnya anggota sudah ke rumahnya, tapi tersangka tidak ada,” kata Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Unggung Cahyono, Kamis, 26 Februari 2015. Setelah Eko menyerah, petugas membekuk seorang perempuan teman dekat Eko yang menitipkan paket bom bernama C. Via Triwi, 45 tahun, di Jakarta Selatan.

Unggung memastikan aksi teror bom yang dilakukan tersangka tak berkaitan dengan aksi terorisme pada umumnya. Akan tetapi, menurut dia, motif tersangka karena sakit hati kepada orang yang diteror. Sebab, orang yang diteror itu diduga telah memperkosa anaknya sebanyak dua kali. “Dia (Eko) sakit hati degan C (Cece) karena memperkosa putrinya dua kali,” kata Unggung.

Unggung mengatakan bom yang digunakan untuk meneror memiliki daya ledak rendah. Tersangka, kata dia, merakit sendiri bom tersebut di rumah, lengkap dengan detonator, timer, dan bahan peledaknya. “Tersangka belajar di kampung, pernah membuat bom ikan,” kata Unggung.

Meski memiliki daya ledak rendah, jika mengenai orang dari jarak dekat bom ini bisa mengakibatkan luka parah. Karena itu, pada saat Eko menyerahkan ke kepolisian, tim Gegana segara meledakkan paket di sekitar Pos Polisi Mustikajaya. “Bom dilengkapi dengan anti sentuh dan goyang. Jika dibuka akan terjadi ledakan,” kata Unggung.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bekasi Kota Komisaris Ujang Rohanda mengatakan Cece, si penerima bom, telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pemerkosaan. Penyidik telah menahannya dan menjerat dia dengan pasal Undang-Undang Perlindungan Anak. “Diperkosanya ketika korban masih berusia 14 tahun atau lima tahun lalu,” kata Ujang.

Menurut Ujang, peristiwa pemerkosaan dilakukan pada saat Cece masih berprofesi sebagai tukang las keliling. Ketika melintas di sekitar rumah korban, tersangka Cece membujuk dan membawa korban ke hotel di kawasan Tambun, Kabupaten Bekasi, untuk digauli. “Sampai sekarang korban masih trauma,” kata Ujang.

Kepada wartawan, tersangka Eko mengatakan bahwa aksi teror bom yang ia lakukan murni sakit hati. “Saya lakukan karena anak,” kata Eko singkat. Kini Eko dan temannya, Via, mendekam di sel tahanan Polresta Bekasi Kota. Keduanya dijerat dengan pasal tindak pidana terorisme.

Sebelumnya, Cece, pengusaha las di Ciketing Asem, Mustikajaya, menerima paket bom yang dibungkus kado. Paket itu diantarkan oleh juru parkir, Tasrip, dengan imbalan Rp 50 ribu. Tasrip mengantarnya dari minimarket di Bantargebang. Tasrip mengaku disuruh oleh perempuan yang tak menyebutkan identitasnya.

Bom Meledak Di Mal ITC Depok


Kepala Kepolisian Resor Kota Depok Komisaris Besar Ahmad Subarkah mengatakan penyidik masih menelisik penemuan bom rakitan di Mal ITC Depok. Sejauh ini sudah tujuh saksi diperiksa. “Rekaman kamera CCTV juga masih dipelajari,” kata Ahmad, Jumat, 27 Februari 2015. Menurut Ahmad, sebagian besar proses penyelidikan diambil oleh Detasemen Khusus Anti Teror. Alasannya, tim Densus lebih berpengalaman dalam menangani kasus-kasus semacam ini. “Karena ini berkaitan dengan teror, kan,” kata Subarkah.

Bom rakitan yang sempat menimbulkan ledakan itu ditemukan di toilet pria lantai dua Mal ITC Depok pada 23 Februari 2015. Tidak ada kerusakan dan korban akibat ledakan itu. Namun, pengunjung mal menjadi panik dan berhamburan keluar. Bom rakitan itu ditempatkan dalam kardus bekas minuman kemasan. Seorang petugas kebersihan sebenarnya sudah melihat kardus tersebut sejak pukul 16.00. Namun karena mengira benda itu adalah barang pengunjung yang tertinggal, petugas hanya membiarkan saja. Setelah benda itu mengeluarkan ledakan sekitar pukul 17.30, barulah isi kardus menjadi perhatian.

Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail meyakinkan Kota Depok tetap aman meskipun sebuah aksi pengeboman terjadi di sebuah mal di Kota Depok. “Sebagaimana yang sudah dijelaskan, bahwa Depok masih tetap aman,” kata Nur Mahmudi di Balai Kota Depok, Selasa, 24 Februari 2015. Nur Mahmudi memastikan kepolisian tetap bekerja untuk mengamankan Kota Depok. Dalam kesempatan yang sama, Nur Mahmudi juga mengimbau warga Depok tetap tenang dengan situasi yang ada saat ini.

Semalam, sebuah ledakan kecil terjadi di ITC Depok sekitar pukul 17.30 WIB, Senin, 23 Februari 2015. Ledakan itu diketahui terjadi di toilet pria di lantai 2 ITC Depok. Seorang petugas kebersihan mal tersebut, Sony, mengatakan sudah melihat bungkusan benda mencurigakan itu berada di area toilet sekitar pukul 16.00. Sony awalnya menduga barang tersebut adalah milik pengunjung yang tertinggal. Kemudian, sekitar pukul 18.00, benda itu mengeluarkan ledakan ringan sebanyak satu kali.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Saat meledak, pengunjung langsung berhamburan keluar. Kepala Kepolisian Resor Depok Komisaris Besar Ahmad Subarkah mengatakan polisi telah memeriksa lima saksi dalam peristiwa ledakan di ITC Depok. Pemeriksaan saksi dilakukan sejak malam hingga Selasa pagi. Namun, sejauh ini, keterangan saksi belum mengarah kepada orang yang diduga meletakkan benda menyerupai bom rakitan di tempat itu.

Kepolisian masih melakukan penyelidikan terhadap ledakan yang terjadi di ITC Depok. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan polisi sudah mendapat bukti berupa rekaman CCTV. “Sedang kami periksa dan analisis,” ujar Martinus, Selasa, 24 Februari 2015. Selain memeriksa saksi dan CCTV, polisi masih menyelidiki barang yang membuat ledakan di pusat perbelanjaan tersebut. “Barang buktinya sudah diserahkan ke Gegana Korps Brimob,” ucapnya.

Sementara ini, secara kasat mata, barang yang menimbulkan letupan ini disimpan di dalam kardus. Terdapat komponen berupa detonator, timer, kabel, dan baterai. “Kalau dirangkai, memang bisa menimbulkan ledakan,” tuturnya. Ada pula komponen cairan dalam kardus tersebut. “Cairan itu masih kami dalami mengandung apa (yang menimbulkan letupan),” kata Martinus. Letupan ini terjadi di area toilet lantai 2 ITC Depok, Senin petang, 23 Februari 2015. Sebelumnya, petugas kebersihan sempat menemukan kardus mencurigakan di lokasi tersebut.

Kepala Kepolisian Resor Depok Komisaris Besar Ahmad Subarkah mengatakan polisi telah memeriksa lima saksi dalam peristiwa ledakan di ITC Depok. Pemeriksaan saksi dilakukan sejak malam hingga Selasa pagi. Namun, sejauh ini, keterangan saksi belum mengarah kepada orang yang diduga meletakkan benda menyerupai bom rakitan di tempat itu.

“Saksi hanya mengetahui barang itu ada, mendengar suara ledakan. Sebatas mendengar suara ledakan saja,” ujar Ahmad Subarkah, Selasa, 24 Februari 2015. Para saksi adalah pekerja ITC, petugas kebersihan, pekerja wahana permainan anak di ITC Depok, dan petugas keamanan. Tidak satu pun dari mereka yang melihat atau mengetahui ciri-ciri pelaku. Kepolisian berencana memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV yang dipasang di mal tersebut.

Semalam, sebuah ledakan kecil terjadi di ITC Depok sekitar pukul 17.30. Ledakan diketahui terjadi di toilet pria lantai 2 ITC Depok. Toilet itu bersebelahan dengan arena bermain anak-anak. Tidak ada korban dan kerusakan dalam peristiwa tersebut.

Banjir 2015 Di Jakarta Bukan Karena Masalah Pompa Air dan Bukan Banjir Kiriman


Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyebut banjir di tahun 2015 ini bergantung pada peran pompa air. Namun pengamat perkotaan Nirwono Joga berpandangan berbeda. Menurut dia, yang sebenarnya terjadi adalah genangan-genangan lokal akibat drainase yang buruk. “Saya garis bawahi, banjir kemarin tidak banyak sangkut pautnya dengan pompa. Ini terkait dengan genangan lokal sebenarnya. Tidak ada sungai dan waduk yang meluap,” kata Nirwono Joga, Rabu (25/2/2015).

Hal-hal yang membuktikan bahwa pompa tidak berperan banyak adalah tidak banyak air mengalir ke pantai utara Jakarta. Peristiwa yang terjadi adalah air tergenang di kawasan-kawasan yang seharusnya menjadi daerah resapan air, namun berubah fungsi menjadi tempat lain, seperti permukiman. Joga menilai, beberapa daerah yang terkena banjir cukup parah adalah Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur. Ketiga wilayah itu dianggap memiliki drainase yang sangat buruk. Tidak mengherankan, bila banjir di ketiga wilayah tersebut lebih lama surut dibandingkan dengan wilayah lainnya.

Joga juga tidak sepandangan dengan Ahok yang mengatakan ukuran darurat banjir di Jakarta adalah kawasan Kampung Pulo. Menurut Joga, Ahok tidak mengerti dan tidak bisa membedakan karakteristik banjir tahun ini dengan tahun sebelumnya.

Tahun 2014, banjir disebabkan oleh tiga faktor, yaitu faktor banjir kiriman dari Bogor dan sekitarnya, hujan lebat di daerah Kampung Pulo dan Bidara Cina, serta ditambah dengan terjadinya bulan purnama yang mengakibatkan rob tinggi di pantai utara Jakarta. Jika mendapat banjir kiriman, kemungkinan besar air di sungai akan meluap.

“Makanya enggak bisa bilang Kampung Pulo belum banjir. Orang-orang di sana marah kan waktu dengar Pak Gubernur bilang begitu. Tapi dari sini jelas terlihat kalau banjir tahun ini terjadi di tempat-tempat yang drainasenya buruk,” tambah Joga. Menurut Joga, jika indikator banjir Jakarta dari banjir di Kampung Pulo yang meluap, maka pemerintah provinsi (Pemprov) DKI akan menggunakan alasan banjir kiriman. Namun banjir 2015 ini tidak ada banjir kiriman sehingga semua banjir yang terjadi menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari Pemprov DKI.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dianggap tidak mengerti akar masalah banjir yang melanda Jakarta setiap tahunnya. Pria yang kerap disapa Ahok itu pun mengingkari janji bahwa banjir di Jakarta akan surut hanya dalam waktu satu hari. “Yang dijanjikan dalam waktu satu hari genangan air akan hilang, bahkan kenyataannya lebih dari empat hingga lima hari air tidak hilang. Berarti kan di sini ada sistem yang tidak bekerja,” ujar pengamat perkotaan, Nirwono Joga, Rabu (25/2/2015).

Joga menilai, Basuki menganggap banjir di Jakarta sama dengan banjir tahun kemarin. Namun, kondisinya berbeda. Banjir tahun 2014 disebabkan oleh hal eksternal, seperti curah hujan yang tinggi di daerah hulu, seperti Bogor dan sekitarnya, sehingga ada banjir kiriman dan efek bulan purnama mengakibatkan rob yang cukup tinggi.

Bahkan, Basuki menyamakan banjir di Jakarta dalam keadaan darurat apabila banjir di Kampung Pulo sudah parah. Padahal, sebut Joga, banjir beberapa waktu kemarin tidak merendam Kampung Pulo, malahan tempat lain seperti perumahan-perumahan mewah yang seharusnya jadi tempat peresapan air. “Kampung Pulo yang biasa banjir justru aman kan. Statement Pak Ahok soal Kampung Pulo itu menunjukkan tidak bisa membedakan banjir 2014 dengan 2015,” tambah dia.

Joga menyayangkan bahwa selama 100 hari pemerintahannya, Basuki terkesan tidak berdaya menghadapi pihak developer dan perusahaan properti besar di Jakarta. Padahal, dengan maraknya pembangunan yang dilakukan terus-menerus, Jakarta semakin kehilangan daerah peresapan air. Maka, banjir Jakarta kemarin disebut Joga sebagai konsekuensi logis dari perubahan tata ruang.

Ketegasan Basuki mengontrol pembangunan di Jakarta juga ikut dipertanyakan. Sampai kapan pembangunan akan menyasar daerah-daerah peresapan air dan sampai kapan ruang terbuka hijau (RTH) dipangkas terus-menerus? “Itu menunjukkan Pemprov DKI belum siap untuk mengatasi banjir. Kalau saya kasih nilai, cuma 6,” kata Joga.

Kisah Kampung Maling Di Lampung dan Hubungannya Dengan Kelompok Begal Motor Di Jabotabek


Para begal beraksi hampir di semua wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang. Mereka tak hanya mengincar sepeda motor, tapi juga memperdaya pemiliknya. Tak sedikit korban yang nyawanya melayang. Polisi kewalahan mengejar dan menghentikan kebrutalan mereka. Kasus terbaru menimpa mantan Pemimpin Redaksi Jurnas.com Rihad Wiranto di jalan layang Klender, Jakarta Timur, Selasa, 24 Februari 2015.

Berikut ini gambaran kelompok, aksi, dan berbagai modus mereka.

Kelompok Lampung
Modus: Mencuri sepeda motor di rumah kos.
Jumlah peristiwa: delapan kali di Jakarta Utara, tujuh kali di Jakarta Timur, dan lima kali di Bekasi.
Komplotan: Kenni alias Bagas, Gani alias Meku, dan Komeng.
Penangkapan: Jalan Kincir Koja, Jakarta Utara, pada Mei 2014.
Sebutan polisi: Kelompok Lampung.

Kelompok Depok
Modus: Merekrut dan melibatkan anak sekolah untuk menjadi bagian dari jaringan begal.
Daerah operasi: Depok dan sekitarnya.
Jumlah komplotan: tujuh orang, lima orang diringkus Polda Metro Jaya.
Jejak kejahatan: Membegal Bambang Syarif Hidayatullah, 23 tahun, di Jalan Juanda, Depok, Jawa Barat, pada 5 Januari 2015.
Sebutan polisi: Kelompok Depok.
Barang bukti: 16 senjata rakitan, 46 butir peluru, 4 pucuk senjata tajam, 1 pisau komando, 3 unit ponsel, 1 unit televisi, dan 26 kendaraan bermotor.

Kelompok Bekasi
Modus: Setiap beraksi sering menembak korban sampai tewas.
Jumlah komplotan: 13 orang; 3 ditembak mati, 10 diringkus. Di antaranya berinisial AS, 34 tahun, DM (29), CS (33), dan IH (21).
Lokasi kejadian: Dua di antaranya di Karawang, Jawa Barat, dan di Jalan Pulo Siri Barat Raya, Jaga Setia, Bekasi.
Barang bukti: Empat senjata api rakitan.

Kelompok Tangerang
Modus: Mencuri sepeda motor di kawasan perumahan di Tangerang Selatan.
Anggota komplotan: AR alias RD, 26 tahun, RN, HR, dan CN.
Korban: Djuli Ervano, wartawan TVRI, yang ditembak dan meninggal di Villa Bintaro Indah, Jombang, Tangerang Selatan, pada 17 Maret 2012.

Dua desa itu bernama Tebing dan Negara Bathin. Desa Tebing berada di Kecamatan Mlinting dan Negara Bathin di Kecamatan Jabung. Tak ada akses roda empat atau angkutan umum menuju dua desa tersebut. Yang ada hanyalah ojek sepeda motor. Dari Bandar Lampung, dua desa itu bisa dijangkau dengan waktu tempuh sekitar empat jam perjalanan sepeda motor. Desa Tebing berpenduduk tak kurang dari 5.000 jiwa. Sedangkan Negara Bathin mendekati 10 ribu orang.

Sebagian penduduknya bekerja di ladang. “Warga kami kebanyakan sebagai petani,” kata Bukhori, Kepala Desa Tebing, suatu ketik. Kepolisian setempat kerap menyebut Kecamatan Mlinting dan Jabung lokasi aman bagi penjahat, termasuk begal sepeda motor, yang akhir-akhir ini merajalela di Jakarta dan sekitarnya.

Pamor Desa Tebing dan Negara Bathin menjadi suram karena aparat kepolisian sering datang ke tempat ini untuk mencari komplotan begal. Misalnya, dalam kasus tewasnya satpam di Bogor bernama Suhardi pada 2012, yang ditembak begal. Kepolisian Resor Bogor kemudian mencari pelaku begal jaringan Sandi alias Unyil ke dua desa tadi. Berkali-kali pula Unit Kejahatan dan Kekerasan Kepolisian Daerah Lampung menangkap pembegal di sana. Petugas menyita amunisi dan senjata api dari warga desa ini.

Cap “Kampung Begal” sepertinya sudah begitu melekat pada dua desa ini. Maraknya aksi begal sepeda motor dalam sebulan terakhir di Jakarta dan sekitarnya membuat nama jaringan Lampung kembali muncul. Kelompok ini mencuri sepeda motor di berbagai rumah kos. Menurut catatan Polda Metro Jaya, mereka 8 kali beraksi di Jakarta Utara, 7 kali di Jakarta Timur, dan 5 kali di Bekasi. Kepala Desa Tebing, Bukhori, menolak jika dikatakan desanya dicap sebagai kampung bramacorah. Walaupun, ia mengakui, sebagian kecil warganya memang pernah terlibat dalam tindak kejahatan. “Ada yang menjadi begal, tapi itu hanya 10 persen,” katanya.

Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Makassar Komisaris Besar Fery Abraham menginstruksikan kepada semua anggotanya untuk menembak di tempat pelaku kriminal jalanan yang semakin meresahkan. Kejahatan jalanan yang dimaksud adalah begal dan geng motor. “Semua kejahatan yang membahayakan, tembak di tempat,” kata Feri seusai pelantikan pengurus Bantuan Komunikasi Polisi (Bankompol) Merpati dan peluncuran mobil Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) di Markas Polrestabes Makassar, Selasa, 24 Februari 2015. Ia menegaskan kebijakan itu diambilnya guna merespons keresahan masyarakat.

Fery mengatakan instruksi tembak di tempat berlaku bagi pelaku kejahatan tanpa memandang umur, baik dewasa maupun remaja. Bila sudah mengancam maupun membahayakan keselamatan warga dan petugas, Fery memerintahkan anggotanya untuk melumpuhkan pelaku. Fery mengatakan kondisi Kota Makassar sebenarnya masih cukup kondusif. Buktinya, aktivitas masyarakat dari pagi sampai subuh masih berlangsung. Hanya, memang ada beberapa kejadian. “Namun beberapa pelakunya sudah kami tangkap,” tuturnya.

Wali Kota Makassar Moh Ramdhan “Danny” Pomanto mendukung dan mengapresiasi program kepolisian. Danny pun menuding isu Makassar tidak aman dibangun secara sistematis oleh kelompok tertentu melalui media sosial. “Kenapa jadi heboh? Itu karena ada propaganda di medsos,” katanya. Guna membantu kepolisian menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat, Danny sudah menempuh beberapa cara. Di antaranya, memerintahkan pihak sekolah untuk merazia tas siswa yang dikhawatirkan membawa senjata tajam maupun obat terlarang, serta mengantisipasi apotek yang menjual obat daftar G.

Danny menambahkan, pihaknya juga mengantisipasi peredaran lem yang terkadang digunakan remaja serta mewajibkan pengusaha untuk memasang kamera pengawas dan lampu terang di depan tokonya. “Kami juga mendatangi rumah-rumah dari anak-anak yang diduga terlibat geng motor,” ucapnya.

Kronologi Pembakaran Begal Motor Di Pondok Aren


Sebelum dibakar warga di Pondok Aren, Tangerang Selatan, begal motor yang tertangkap sempat dipukuli terlebih dahulu. Begal ini juga sempat ditelanjangi warga yang kesal akan aksi bandit ini. Bagaimana kronologinya? “Pelakunya sempat dipukuli dulu,” kata Kanit Reskrim Polsek Pondok Aren Iptu Agung, Selasa (24/2/2015). Begal motor yang dibakar warga ini membawa pedang saat beraksi. Berikut ini adalah kronologi pembakaran maling motor tersebut berdasrakan data Humas Polda Metro Jaya:

– Pukul 01.00 WIB
Sehabis membeli makanan, korban pembegalan Wahyu (22) dan Sri (20) menaiki motor Honda Beat untuk kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang mereka diikuti empat orang yang menaiki dua sepeda motor.

– Pukul 01.15 WIB
Keempat pelaku pembegalan lalu menghadang motor korban di Jalan Masjid Baiturrahim RT 02/RW 03 Kelurahan Pondok Karya, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan. Mereka menghadang Wahyu dan Sri dengan mengacungkan pedang sambil meminta korban untuk berhenti

– Pukul 01.30 WIB
Namun Wahyu dan Sri memberikan perlawanan. Pedang yang digunakan salah seorang pelaku pembegalan ini dirampas Sri, akibatnya salah satu pelaku yang memegang pedang terjatuh. Korban pun berteriak hingga didengar warga sekitar yang kemudian mengepung pelaku. Tiga orang pelaku pembegalan bisa kabur, namun satu orang begal yang tertinggal jadi bulan-bulanan warga. Setelah itu, massa kemudian membakar pelaku pembegalan yang belum diketahui identitasnya itu.

Saat ini petugas masih memeriksa saksi-saksi. Petugas juga mengamankan barang bukti Sepeda Motor milik korban dan sebilah samurai milik pelaku. Begal motor adalah pelaku kejahatan jalanan yang akhir-akhir ini terus mengganggu kenyamanan masyarakat. Aksi mereka terdengar mulai dari Depok hingga kawasan Tangerang Selatan. Saat ada yang tertangkap, warga melampiaskan kemarahannya lewat api.

Sejak tiga bulan terakhir, isu begal motor selalu menjadi pemberitaan. Lokasinya tak hanya di Jakarta, tapi menyebar dari Depok, Bekasi, Tangerang Selatan, hingga Bogor. Ada yang beraksi sendiri, berkelompok, bahkan membentuk sindikat tertentu. Sasaran mereka para pengendara motor, mobil box, pasangan yang sedang pacaran, termasuk penjual makanan.

Para pembegal ini tak peduli dengan jenis motor yang dirampok. Ada yang mengambil motor bebek, sampai juga motor sport. Mereka biasanya menyasar para pengendara pada malam sampai dinihari di lokasi-lokasi sepi. Kejadian terakhir, kawanan begal beraksi di Ciracas, Jakarta Timur. Mereka merampok seorang karyawan SPBU ketika hendak menyetor uang Rp 250 juta ke bank. Peristiwa terjadi di Jl Taruna Jaya RT 001/014 No 17 Ciracas, Jakarta Timur, pada pukul 08.30 WIB, Senin (23/2). Saat itu, korban bernama Mulya (30) mengendarai motor Honda Supra X bernopol B 3807 TNT membawa tas berisi uang Rp 250 juta.

Korban saat itu hendak menyetorkan uang hasil penjualan SPBU Radar Auri tersebut ke sebuah bank. Di perjalanan, korban dipepet para pelaku yang diperkirakan berjumlah 4 orang yang mengendarai motor. Salah satu pelaku kemudian merebut tas korban. Korban mencoba mempertahankan tas tersebut, namun pelaku kemudian menyerangnya.

Salah satu pelaku membacok korban hingga mengenai kepalanya. Tidak hanya itu, pelaku juga menembakkan senjata api ke arah korban dan mengenai perut kirinya. Korban pun tersungkur. Tas berhasil dirampas para pelaku yang melarikan diri. Warga sekitar lalu membawanya ke RS Tugu Ibu, Jl Raya Bogor, Ciracas.

Kejadian lainnya pada Jumat (13/2) lalu, Denis (35), seorang pengantar cireng jadi korban begal motor di Jalan Raya Citayam, Bojong Pondok Terong, Cipayung Kota Depok. Dua pelaku, yang mengendarai sepeda motor Satria FU, memepet korban, langsung menodong kepala korban dengan pistol.Motor kantor yang dibawa korban, Honda Blade merah B 3224 BKL dirampas pelaku. Kejadian berlangsung pada pukul 04.00 WIB. Polisi sudah berupaya menangkap para begal dengan cara razia hingga operasi penangkapan besar-besaran. Sebagian ada yang sudah tertangkap dan diadili. Namun sepertinya para pelaku lain tidak takut melihat hal ini.

Buktinya, Selasa (24/2/2015) sekitar pukul 01.30 WIB, empat orang begal masih beraksi di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Namun saat hendak memepet korban, satu orang berhasil diringkus warga. Sontak, warga yang sudah jengah dengan kejahatan ini, langsung menghakiminya.Kanit Reskrim Polsek Pondok Aren Iptu Agung mengatakan, pencuri motor tersebut dipukuli lalu ditelanjangi, hingga akhirnya dibakar hidup-hidup oleh warga.

“Saat beraksi seorang begal motor ini kemudian dibakar oleh warga,” katanya. Foto-foto pembegal yang gosong itu beredar luas di media sosial. Terlihat di beberapa gambar, pemuda yang belum jelas identitasnya tersebut, tidak mengenakan pakaian dan api masih menyala di tubuh pemuda tersebut. Banyak respons dari para pengguna twitter terhadap aksi warga. Ada sebagian yang setuju karena sudah tak tahan dengan aksi begal yang merajalela, namun sebagian besar tak sepakat dengan sikap main hakim sendiri.

“Tukang begal ditangkep, dipukulin, ditelanjangin, dibakar. Moga aja tukang begal yg lainnya ciut liat temennya digituin dan insaf,” tulis seorang pengguna akun twitter. Seorang begal motor gosong dibakar warga di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Polisi mengatakan begal yang dibakar ini membawa sebilah pedang yang biasa digunakan para samurai Jepang.

“Dia membawa samurai (pedang katana), saat ini rekan-rekannya masih kita cari,” kata Kanit Reskrim Polsek Pondok Aren Iptu Agung, Selasa (24/2/2015). Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 01.30 WIB di Jl Masjid Baiturohiim, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Saat itu ada sebuah motor yang dipepet oleh empat orang begal yang memakai dua motor di kawasan itu. “Saat beraksi seorang begal motor ini kemudian dibakar oleh warga,” katanya.

Foto-foto pembegal yang gosong itu beredar luas di media sosial. Terlihat di beberapa gambar, api masih menyala di tubuh pemuda tersebut. Ada beberapa pengguna twitter yang pro, namun tak sedikit yang menyesalkan tindakan warga. Polisi belum bisa memastikan identitas begal motor yang dibakar massa di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Kondisi jenazah yang gosong membuat proses identifikasi menjadi sulit.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Martinus Sitompul mengatakan, hingga kini belum diketahui nama si pembegal. Namun dari ciri fisik-fisiknya, dia diperkirakan masih berusia muda.

“Identitas belum kita dapatkan karena memang habis, gosong terbakar. Kita sudah lakukan autopsi dan kita akan mencari keterangan lain siapa korban ini dan mendapatkan identitasnya dan jaringan kelompoknya. Apabila ada masyakat yang mengetahui agar memberitahukan polisi,” kata Martinus di Polda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jaksel, Selasa (24/2/2015).

Saat ini, jenazah berada di rumah sakit di kawasan Tangerang. Petugas masih menunggu kedatangan keluarga si pembegal untuk mengenali identitasnya. “Kalau wajah itu memang sudah tak bisa dikenal, identitas juga tak ada sama sekali,” imbuhnya. Polisi berusaha menggali identitas begal motor dari pedang yang digunakannya untuk beraksi. Diharapkan, ada sidik jari di sana yang bisa dikenali.

Aksi pembakaran begal motor ini terjadi sekitar pukul 01.00 WIB dinihari tadi. Awalnya, ada empat orang yang beraksi dan berusaha merebut motor milik seorang wanita bernama Sri. Kala itu, Sri dibonceng oleh pria bernama Wahyu. Sempat terjadi perlawanan oleh Sri terhadap salah satu pelaku. Pedang yang hendak dihujamkan pada Sri ditepis, lalu pelaku terjatuh. Warga yang mendengar aksi ini, lalu menghampiri. Tiga pelaku lain kabur, satu orang jadi bulan-bulanan hingga akhirnya tewas dibakar.

Korban begal motor yang dibakar warga di Pondok Aren sempat memberikan perlawanan. Sri (20), yang motornya hendak dibegal, sempat merebut pedang yang digunakan bandit itu saat beraksi. “Korbannya menderita luka di bagian tangan,” kata Kanit Reskrim Polsek Pondok Aren Iptu Agung, Selasa (24/2/2015). Data yang ada di Humas Polda Metro Jaya menyebutkan saat itu Sri sedang dibonceng Wahyu. Mereka dihadang empat orang begal yang menggunakan dua motor ini di Jl Masjid Baiturohiim, Pondok Aren, Tangerang Selatan.

Para begal itu menghadang motor yang dipakai Wahyu dan Sri sambil mengacungkan pedang, mereka meminta korbannya ini untuk berhenti. Namun pedang yang digunakan salah seorang pelaku pembegalan ini dirampas Sri, akibatnya salah satu pelaku yang memegang pedang terjatuh. Korban pun berteriak hingga didengar warga sekitar yang kemudian mengepung pelaku.

Tiga orang pelaku pembegalan bisa kabur, namun satu orang begal yang tertinggal jadi bulan-bulanan warga. Setelah itu, massa kemudian membakar pelaku pembegalan yang belum diketahui identitasnya itu. Saat ini petugas masih memeriksa saksi-saksi. Petugas juga mengamankan barang bukti Sepeda Motor milik korban dan sebilah samurai milik pelaku.

Kisah Tatang Koswara Sniper Legendaris Indonesia Yang Berada Diurutan 14 Sniper Terhebat Dunia


Tatang Koswara (68) hidup seadanya. Pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu) membuat uang pensiunnya tak besar. Kakek tujuh orang cucu ini pun membuka warung makan di lingkungan Kodiklat TNI AD di Bandung. Tatang pensiun pada 1994, bersama istrinya Tati Hayati yang dinikahi pada 1968, mereka tinggal di sebuah rumah sederhana di Cibaduyut. Di ruang tamu berjejer sejumlah medali, sertifikat dan brevet tanda pendidikan yang pernah diikutinya.

Selain uang pensiun dan membuka warung makan, dia juga kadang melatih para sniper TNI. Meski di tanah air tak banyak yang mengenalnya, di dunia militer internasional justru mengakui reputasi Tatang sebagai sniper. Dalam buku “Sniper Training, Techniques and Weapons” karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat dunia. Di situ disebutkan bila Tatang dalam tugasnya berhasil melumpuhkan sebanyak 41 target orang-orang Fretilin.

“Tahun lalu saya selama dua bulan melatih 60-an calon sniper Kopassus. Juga ada permintaan dari Komandan Paskhas di Soreang untuk melatih,” kata Tatang yang ditemui, 3 Februari lalu di rumahnya. Setahun sebelum pensiun, ia pernah memamerkan kemahirannya sebagai sniper dengan menembak pita balon di atas kepala Jenderal Wismoyo Arismunandar. “Waktu itu saya diminta memutus pita dengan peluru yang melintas di atas kepala KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat). Pak Wismoyo tak marah, malah memberi saya uang ha-ha-ha,” ujar Tatang.

Mantan Inspektur Jenderal Mabes TNI Letnan Jenderal (Purn) Gerhan Lantara mengakui reputasi Tatang sebagai pelatih sniper. “Pak Tatang adalah salah satu pelatih menembak runduk terbaik yang dimiliki Indonesia. Mungkin saya salah satu muridnya yang terbaik he-he-he,” ujarnya. Sementara Kolonel (Purn) Peter Hermanus, 74 tahun, mantan ahli senjata di Pindad, menyebut Tatang sebagai prajurit yang lurus. Dia mengingatkan agar bekas anak buahnya itu tetap mensyukuri kondisi yang ada sekarang.

“Dia hidup sederhana karena tidak pandai korupsi, tapi itu lebih baik ketimbang punya rekening gendut ha-ha-ha,” ujar Peter melalui telepon. Tatang Koswara (68) tercatat sebagai sniper legendaris asal Indonesia. Pada 1977-1978 dia beroperasi di Timor Timur, kini Timor Leste. Ada lebih dari 40 orang fretilin yang menjadi korban tembakannya.

Nama Tatang tercatat dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat dunia. Ada satu trik unik yang dilakukan Tatang untuk mengelabui pasukan patroli musuh. Dia membuat sepatu khusus dengan alas dalam posisi terbalik sehingga jejak yang ditinggalkan menjadi berbalik arah. “Cibaduyut kan dikenal sebagai pabrik sepatu, saya juga mampu membuat sendiri,” ujar Tatang saat ditemui di rumahnya di kawasan Kodiklat TNI di Bandung, 3 Februari lalu.

masih tampak bugar dan kekar, ingatan Tatang Koswara pun masih jernih. Kakek tujuh cucu ini beroperasi di Remexio, Lautem, Viqueque, Aileu, Becilau, dan Bobonaro di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat. “Saya pernah tiga kali menjalankan misi, termasuk seorang diri,” ujar Tatang yang memiliki sandi S-3 alias ‘Siluman 3′.

Tatang pernah terluka dalam satu pertempuran. Dia dikepung musuh dan betisnya tertembak peluru. Dengan gunting yang dia miliki, peluru dia cabut sendiri. Tatang yang seorang sniper ini kemudian bisa lolos dan menembak beberapa musuhnya “Sambil bersembunyi di kegelapan, saya congkel sendiri kedua peluru itu dengan gunting kuku,” ujar Tatang seraya memperlihatkan bekas luka di kakinya. Tatang masuk tentara melalui jalur tamtama di Banten pada 1966. Kala itu sebetulnya dia cuma mengantar sang adik, Dadang, yang ingin menjadi tentara. Tapi karena saat di lokasi pendaftaran banyak yang menyarankan agar dirinya ikut, dia pun mendaftar. Saat tes, ternyata cuma dia yang lulus.

Meski punya ijazah Sekolah Teknik (setara SMP), Tatang melamar sebagai prajurit tamtama menggunakan ijazah SR (Sekolah Rakyat) atau Sekolah Dasar. Selang beberapa tahun ia mengikuti penyesuaian pangkat sesuai ijazah yang dimiliknya itu. Sebagai bintara, ia ditempatkan di Pusat Kesenjataan Infantri (Pusenif). Di sana pula ia mendapatkan mengikuti berbagai pelatihan, mulai kualifikasi raider hingga sniper.

Seorang sniper, kata Tatang, harus berani berada di wilayah musuh. Fungsinya antara lain mengacaukan sekaligus melemahkan semangat tempur musuh. Target utama biasanya selain sniper musuh adalah komandan, pembawa senapan mesin, dan pembawa peralatan komunikasi. Tatang yang biasa menggunakan senjata laras panjang Winchester M-70 selama bertugas. Senjata ini mampu membidik sasaran hingga jarak 900-1000 meter. Kemahiran menembak Tatang secara alami sudah terlatih sejak remaja. Setiap Jumat, ia biasa membantu orang tuanya berburu bagong (babi hutan) yang kerap merusak lahan pertanian dan perkebunan. Bidikannya lewat senapan locok nyaris tak pernah meleset.

Berbeda dengan warga lain yang biasa bergerombol saat memburu babi, Tatang justru lebih suka menyendiri. dia juga sengaja mengejar babi yang lari ke hutan. “Sasaran bergerak lebih menantang saya. Itu terbawa saat memburu Fretilin di Timtim,” ujarnya. Tatang Koswara kini sudah pensiun dari TNI. Usianya pun sudah 68 tahun, namun dia tetap bugar, ingatannya juga masih kuat. Pada 1977-1978, Tatang beroperasi di Timor Leste melawan pasukan fretilin di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat. Tatang, satu-satunya sniper Indonesia yang diakui dunia. Namanya masuk dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat dunia.

“Saya biasa membidik kepala. Cuma sekali saya menembak bagian jantung, dia pembawa alat komunikasi. Sekali tembak, alat komunikasi rusak orangnya pun langsung ambruk,” kata Tatang yang ditemui, pada 3 Februari lalu. Tatang biasa menggunakan senjata laras panjang Winchester M-70 selama bertugas. Senjata ini mampu membidik sasaran hingga jarak 900-1000 meter. Kemahiran menembak Tatang secara alami sudah terlatih sejak remaja. Setiap Jumat, dia biasa membantu orang tuanya berburu bagong (babi hutan) yang kerap merusak lahan pertanian dan perkebunan. Bidikannya lewat senapan locok nyaris tak pernah meleset.

Berbeda dengan warga lain yang biasa bergerombol saat memburu babi, Tatang justru lebih suka menyendiri. Ia juga sengaja mengejar babi yang lari ke hutan. “Sasaran bergerak lebih menantang saya. Itu terbawa saat memburu Fretilin di Timtim,” ujarnya. Tatang tinggal di Bandung. Sebagai pensiunan dia masih tetap berolahraga untuk menjaga kesehatannya. Tatang sesekali mengisi pelatihan menembak bagi TNI.

Anda sudah menonton film American Sniper? Atau Enemy at The Gates? Dua film sniper itu diangkat dari kisah nyata. American Sniper menceritakan kisah Chris Kyle seorang marinir Amerika yang beroperasi di Irak. Kyle bahkan mendapat julukan Setan Ramadi. Kemudian dalam film Enemy at The Gates mengisahkan sniper Soviet di perang dunia kedua Vasily Zaytsev. Ketepatannya menembak dalam pertempuran Stalingrad membuat tentara Jerman gentar mendengar namanya.

Indonesia juga punya seorang sniper, namanya Tatang Koswara. Kini pria asal Bandung itu berusia 68 tahun, namun dia tetap bugar. Ingatannya pun masih kuat. Saat menemui Tatang, dengan penuh ekspresi kakek tujuh cucu itu mengisahkan pengalamannya bertempur di Timor Timur pada 1977-1978. Remexio, Lautem, Viqueque, Aileu, Becilau, dan Bobonaro adalah daerah operasinya di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat.

“Saya waktu itu menjadi pengawal Pak Edi, sekaligus ditugasi sebagai sniper,” kata Tatang saat ditemui di kediamannya di lingkungan Kompleks TNI Angkatan Laut, Cibaduyut-Bandung, Selasa (3/2). Meski di tanah air tak banyak yang mengenalnya, di dunia militer internasional justru mengakui reputasi Tatang sebagai sniper. Dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat dunia.

Di situ disebutkan bila Tatang dalam tugasnya berhasil melumpuhkan sebanyak 41 target orang-orang Fretilin. “Itu sebetulnya cuma dalam satu misi operasi. Saya pernah tiga kali menjalankan misi, termasuk seorang diri,” ujar Tatang yang memiliki sandi S-3 alias ‘Siluman 3′. Kata siluman dimaksudkan karena misi yang diembannya bersifat sangat rahasia. Sementara angka tiga merujuk ranking yang didapatnya saat mengikuti pendidikan sniper dari Kapten Conway anggota Green Barets Amerika Serikat pada 1973.

Sang legenda sniper dunia asal Indonesia, Tatang Koswara, rupanya pernah menciptakan alat yang berfungsi untuk mengasah latihan menembak malam. Pria berusia 68 tahun ini menyematkan label ABTEM. “ABTEM itu singkatan dari Alat Bantu Tembak Malam,” kata Tatang sewaktu ditemui di rumahnya, kawasan Dayeuhkolot, Kota Bandung, Kamis (26/2/2015).

Tatang membuat ABTEM pada tahun 90-an atau sebelum pensiun dari kesatuan Pusat Kesenjataan Infantri (Pusenif) TNI AD dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu). Kakek tujuh cucu yang pernah bertempur di Timor Leste pada 1977-1978 itu merasa bangga bisa meracik alat tersebut. “Sebelum pensiun (1994) saya ingin buat kenang-kenangan. Ya inilah alat ciptaan saya,” ujarnya. Dia menenteng koper hitam. Tatang membuka isi koper dan memperlihatkan ABTEM. Alat sebagai sentra kendali ini terdiri sejumlah deretan tombol dan saklar.

“Saya ingin prajurit TNI itu tidak hanya jitu menembak ketika siang, tapi juga jitu menembak saat malam hari,” kata Tatang. ABTEM ini disalurkan menggunakan kabel listrik yang bisa dipararelkan ke satu arah atau bagian depan di area lapangan. Di ujung tiap kabel itu dipasang alat berupa lampu mengarah ke lesan atau sasaran tembak bergambar tubuh. “Nah, nanti saya atur dan pencet tombol yang menempel di alat sentra kendali. Ketika lampunya menyorot bekedip ke arah lesan, lalu prajurit menembak lesan,” tutur Tatang yang pernah mengawal Edi Sudrajat.

Namun kini perangkat sederhana buatan Tatang itu mengalami sedikit kerusakan. Padahal ABTEM sering digunakan latihan oleh prajurit TNI seluruh kesatuan. “Mesti diservis lagi alatnya,” ujar Tatang. Ke depan, Tatang berharap alat tersebut bisa diproduksi massal. Menurut Tatang, perangkat teknologi tersebut pernah diperlihatkan kepada Luhut Pandjaitan (mantan Komandan Pussenif). “Beliau (Luhut) merasa bangga anak buahnya seperti saya bisa membuat alat tersebut,” ujar Tatang. “Kalau negara keadaan darurat, saya sebagai veteran siap diterjunkan di medan perang,” tutur Tatang menggebu-gebu.

Tatang Koswara menunjukkan foto-foto saat bertempur di Timor Leste 38 tahun silam. Saat itu, dia masih muda, tampil dengan seragam berkamuflase sambil menenteng senjata dan tentu saja, berbahaya. Di kediamannya, Kamis (26/2/2015), pria kelahiran Medan 12 Desember 1946 itu mengenang pertempuran melawan Fretilin. Dia menceritakan bagaimana perjuangannya untuk menembak musuh dengan berperan sebagai penembak jitu. Tak lama kemudian, dia menunjukkan sebuah flash disk yang berisi kenangan perang, namun sempat disembunyikan selama 25 tahun belakangan. Isinya, sejumlah foto-foto ketika dia masih muda, bersenjata laras panjang dan berbahaya.

Berbaju Kamuflase
Tatang bercerita soal atribut yang melekatnya di tengah pertempuran. Tatang berbalut pakaian ghillie suit atau busana kamuflase guna mengelabui lawan dan tidak terlihat musuh. Ada dua foto saat Tatang berbaju kamuflase. Pertama, ketika dia melihat ke kamera sambil menunjukkan wajahnya. Foto yang kedua, dia sedang berjalan dengan membelakangi kamera. “Bajunya buatan Amerika. Jadi bisa menyamar menyerupai alang-alang, rumput, dan tumbuhan,” tutur Tatang.

Mengendap Bersama Rekan
Legenda sniper dunia ini juga menunjukkan foto ketika dia sedang mengendap di perbukitan Timor Leste. Saat itu, Tatang tampak sedang berjalan menunduk di bagian depan. Sementara rekannya di belakang. Keduanya tampak siaga mengantisipasi serangan musuh. “Ada foto saya ketika mengendap di suatu perbukitan daerah Remexio (Timor Timur). Di belakang saya itu ada personel Batalion 410,” ucap Tatang.

Naik Helikopter
Nama Tatang masuk urutan ke-14 sniper hebat versi buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapon’ yang ditulis Peter Brookersmith (2000). Menurut Tatang, dia pernah bertugas di darat dan di udara. Salah satu foto menunjukkan Tatang sedang berada di helikopter sambil menenteng senjata. Di belakangnya, terlihat seorang rekannya. “Nah, kalau ini foto di helikopter. Saya pernah operasi udara,” ujarnya.

Bergerilya di Pegunungan
Satu foto lainnya memperlihatkan Tatang sedang berjalan di antara sungai di sebuah pegunungan. Dia selalu membawa senjata kesayangannya untuk menembak jitu. Senjata yang kerap digunakannya adalah Winchester model 70.

Dengan mata nyalang yang tajam bak elang, para penembak jitu mengintai dari teropong senapan musuh, mengendap di semak-semak atau di atas gedung. Mereka dianggap pahlawan bagi negaranya. Buku “Sniper Training, Technique and Weapon” yang ditulis Peter Brookesmith tahun 2000 lalu, mencatat beberapa sniper hebat. Siapa saja mereka?

Di buku tersebut, ada nama sniper legendaris Indonesia, Tatang Koswara, di dalamnya. Dia menempati urutan ke-14, sebagai penembak jitu terhebat sepanjang masa.Akan menyajikan 14 nama sniper terhebat dalam dua artikel. Berikut 7 nama terakhir dari 14 penembak jitu yang ada di buku Peter Brookesmith

8. Carlos N Hatchcock
Bakal Carlos N Hatchcock sebagai penembak jitu sudah terendus saat berlatih di pusat pendidikan US Marine Corps (USMC), tempat di mana dia bergabung sejak berusia 17 tahun. Dia beberapa kali memenangi kejuaran elite menembak di kalangan USMC. Saat Carlos ditempatkan di Vietnam tahun 1966, dia ditempatkan di wilayah yang paling berbahaya, Bukit 55. Tugasnya pun khusus, yakni melumpuhkan petinggi Vietkong, Pasukan Vietnam Utara plus sniper lawan. Carlos berhasil menuntaskan 2 tugas besar, yakni menghabisi interogator Prancis di Pasukan Vietkong yang suka menyiksa para pilot AS dan membunuh Jenderal Vietnam Utara. Dia juga sempat berduel dengan sniper Vietkong tangguh yang membunuh sejumlah marinir AS. Selama menjadi sniper, Carlos berhasil membunuh 93 tentara Vietkong. Atas jasanya, dia mendapatkan bintang jasa Silver Star dari Pemerintah AS. Namun luka yang didapatnya saat Perang Vietnam akhirnya berkembang menjadi penyakit Multiple Sclerosis yang menyebabkan kelumpuhan. Akhirnya setelah beberapa lama melawan penyakitnya, Carlos meninggal pada 23 Februari 1999 dalam usia 57 tahun.

9. Thomas R Leonnard
Thomas R Leonard adalah sniper dari US Marine Corps (USMC) yang juga terjun dalam perang Vietnam. Dalam situs snipercentral.com, disebutkan Thomas berhasil menembak 74 musuh. Sedangkan dalam buku “Sniper Training, Technique and Weapon” yang ditulis Peter Brookesmith tahun 2000, disebutkan berhasil menembak 94 musuh.

11. George Filyaw
Lagi-lagi dari satuan US Marine Corps (USMC) yang berlaga di Perang Vietnam, adalah George Filyaw. Dalam situs snipercentral.com, dia terkonfirmasi menewaskan 56 musuh dan 20 orang lain yang belum terkonfirmasi. Data 56 musuh yang ditembak Filyaw ini sama dengan data di buku “Sniper Training, Technique and Weapon” yang ditulis Peter Brookesmith tahun 2000. Foto di atas adalah foto saat Filyaw di lapang pada 26 Mei 1967.

12. Philip G Moran
Philip G Moran juga adalah penembak jitu di Perang Vietnam dari kesatuan AD AS. Jumlah tembakan Philip yang berhasil mengenai musuh menurut snipercentral.com adalah 53 tembakan, sama dengan yang disebutkan di buku “Sniper Training, Technique and Weapon” yang ditulis Peter Brookesmith tahun 2000.

13. Tatang Koswara
Indonesia juga punya seorang sniper, namanya Tatang Koswara. Kini pria asal Bandung itu berusia 68 tahun, namun dia tetap bugar. Ingatannya pun masih kuat. Saat menemui Tatang, dengan penuh ekspresi kakek tujuh cucu itu mengisahkan pengalamannya bertempur di Timor Timur pada 1977-1978. Remexio, Lautem, Viqueque, Aileu, Becilau, dan Bobonaro adalah daerah operasinya di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat. “Saya waktu itu menjadi pengawal Pak Edi, sekaligus ditugasi sebagai sniper,” kata Tatang saat ditemui di kediamannya di lingkungan Kompleks TNI Angkatan Laut, Cibaduyut-Bandung, Selasa (3/2).

Meski di tanah air tak banyak yang mengenalnya, di dunia militer internasional justru mengakui reputasi Tatang sebagai sniper. Dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-13 sniper hebat dunia. Di situ disebutkan bila Tatang dalam tugasnya berhasil melumpuhkan sebanyak 41 target orang-orang Fretilin. “Itu sebetulnya cuma dalam satu misi operasi. Saya pernah tiga kali menjalankan misi, termasuk seorang diri,” ujar Tatang yang memiliki sandi S-3 alias ‘Siluman 3′. Kata siluman dimaksudkan karena misi yang diembannya bersifat sangat rahasia. Sementara angka tiga merujuk ranking yang didapatnya saat mengikuti pendidikan sniper dari Kapten Conway anggota Green Barets Amerika Serikat pada 1973.

14. Thomas D Ferran
Thomas Ferran adalah penembak jitu dari kesatuan US Marince Corps (USMC). Tembakan tepatnya terhitung mengenai 41 musuh saat perang Vietnam. Thomas dilatih oleh sniper kawakan Carlos Hatchcock, untuk menembak musuh dari jarak jauh, 1.200 meter. Namun saat diterjunkan di Chu Lai, Vietnam, dia melihat musuh dalam jarak 1.300 meter. Bersama rekannya, akhirnya tentara Vietkong itu bisa ditembak mati dalam tembakan yang kedua. Thomas pernah menuliskan bahwa sniper ini dilimpahkan tugas ketuhanan palsu yang bisa menentukan nasib seseorang. “Kau melihat melalui teropongmu, dan Anda melihat seperti apa manusia itu. Anda menyadari mereka manusia. Anda memegang kendali penuh untuk mengakhiri hidup mereka,” jelas Thomas seperti dikutip dalam Telegraph, edisi 11 April 2004.

3 Sukhoi TNI AU Mendarat Di Bandara Ngurah Rai Untuk Kawal Terpidana Mati Duo Bali Nine


Di Base Ops Lapangan Udara Ngurah Rai, Bali, masih disiagakan tiga pesawat Sukhoi SU-30MKI yang mendarat pada Minggu (21/2/2015) kemarin dari Lanud Makassar, Sulawesi Tengah. Kedatangan di Bali disebut untuk pengamanan wilayah menjelang pemindahan terpidana mati duo “Bali Nine”, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan, dari Lapas Kerobokan menuju Lapas Nusakambangan.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari Danlanud Ngurah Rai Bali Kolonel Penerbang Sugiarto Prapto Waluyo. “Bapak masih rapat. Nanti saja ya. Saya tidak berwenang memberikan komentar soal pesawat,” kata salah satu petugas, Senin (23/2/2015). Hingga menjelang siang ini, Base Ops Lanud Ngurah Rai terlihat dijaga ketat. Pintu gerbang menuju Kantor Base Ops yang biasanya dibuka saat ini ditutup dengan penjagaan berlapis. Begitu pun pintu gerbang samping Base Ops menuju landasan juga disiagakan personel TNI AU.

Puluhan personel TNI berpakaian loreng hijau terlihat di sekitar Base Ops. Namun, sampai berita ini ditayangkan, belum ada kejelasan dari pihak terkait. Tiga jenis Sukhoi SU-30MKI yang saat ini bertahan di Lanud Ngurah Rai beregistrasi TS-3007b, TS-3003c, dan TS-3004d. Dua pesawat Hercules juga sempat singgah di Ngurah Rai, tetapi telah kembali ke Jakarta dan Yogyakarta.

Tiga pesawat Sukhoi SU-30MKI yang diterbangkan dari Lapangan Udara Sultan Hasanuddin Makassar mendarat di Bandara Ngurah Rai, Bali, Minggu (22/2/2015). Kini ketiga pesawat tempur buatan Rusia itu terparkir di lapangan base Ops Lanud Ngurah Rai. Ketiga pesawat itu disiapkan terkait pengamanan pemindahan dua terpidana mati kelompok “Bali Nine’ Myuran Sukumaran dan Andrew Chan. “Ya, tadi pagi tiba. Tiga pesawat Sukhoi dari Lanud Hasanuddin. Untuk pengamanan pemindahan Bai Nine,” ungkap sumber Kompas.com, di Tuban, Badung, Bali, siang tadi.

Ketiga pesawat Sukhoi yang mendarat sekitar pukul 9.53 Wita itu tercatat memiliki nomor registrasi TS-3007b, TS-3003c, dan TS-3004d. Selain ketiga pesawat tersebut, juga disiagakan sebuah helikopter Colibri. Dalam waktu yang hampir bersamaan juga datang dua pesawat Hercules yang membawa kru pesawat. Kedua pesawat itu kini sudah meninggalkan Bali. Pesawat Hercules A1319 kembali ke Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan A1317 berangkat menuju Yogyakarta.

Menurut sumber tersebut, tiga Sukhoi dan helikopter Colibri tetap berada di Bandara Ngurah Rai untuk menunggu perintah lanjutan. Seperti yang sempat dikatakan Kepala Kejaksaan Tinggi Bali, Momock Bambang Samiarso, pemindahan Myuran dan Andrew akan segera dilakukan. Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan sudah siap menampung mereka untuk segera dieksekusi.

“Ya sabar saja, kita menunggu kesiapan Lapas Nusakambangan, secepatnya,” kata Momock saat berkunjung di Lapas Kerobokan beberapa hari lalu. Belum ada penjelasan resmi mengenai jenis pesawat yang akan digunakan untuk mengangkut terpidana mati “Bali Nine”, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan, dari Lapas Kerobokan ke Nusakambangan.

Namun, Kepala Kejaksaan Tinggi Bali, Momock Bambang Samiarso, menegaskan bahwa ada perubahan rencana pesawat angkut yang akan digunakan. Meski demikian, Momock masih ogah mengungkapkan jenis pesawat yang dimaksud. “Untuk pesawat angkutnya mengalami perubahan (dari rencana semula). Nanti, ini baru kita koordinasikan kembali, tapi tetap melalui jalur udara,” katanya, Senin (23/2/2015).

Awalnya, sesuai rencana, duo “Bali Nine” itu akan dibawa menggunakan pesawat komersil carteran, seperti Lion Air dan Garuda Indonesia. Ketika ditanyai kemungkinan pesawat Sukhoi SU-30MKI yang diterbangkan dari Lapangan Udara Sultan Hasanuddin Makassar ke Bandara Ngurah Rai, Momock tetap ogah buka mulut.

“Ditunggu saja, kita masih koordinasi. Sedianya kan pekan kemaren, tapi karena Lapas Nusakambangan belum siap, jadi belum bisa dipindah. Bisa jadi pekan ini, ya tunggu saja, secepatnya, saya mau secepatnya,” tambahnya.

Hari ini, Kejaksaan Tinggi Bali melakukan koordinasi dengan pihak terkait seperti Pemerintah Provinsi Bali yang diwakili Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikerta dan pihak TNI di Makorem 163/Wirasatya Bali. Hasil dari koordinasi ini tidak disampaikan kepada media karena masih akan kembali dilakukan pertemuan lagi untuk mendapatkan keputusan bersama mengenai pemindahan dua terpidana mati “Bali Nine”.

Tiga pesawat tempur Sukhoi SU-30MKI yang bermanuver di udara membuat alarm mobil-mobil yang diparkir di sekitar Base Ops Lanud Ngurah Rai berbunyi. Banyak orang berhamburan ke jalan depan bandara untuk melihat bagaimana Sukhoi menunjukkan kegagahannya. “Wuihhh dasyat. Mobil-mobil sampai bunyi alarmnya. Keras banget suaranya,” kata Wayan Ar, salah satu pegawai di bandara yang ikut menyaksikan manuver pesawat buatan Rusia itu, Senin (23/2/2015).

Seperti diberitakan, tiga Sukhoi tersebut akan berada di Bali selama seminggu dalam rangka Operasi Tangkis Sergap 15 untuk pengamanan udara di perbatasan Indonesia Timur. Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas.com, hal ini juga menyusul rencana eksekusi dua terpidana mati duo “Bali Nine”, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan.

Personel yang ikut dalam operasi ini berjumlah 57 orang, termasuk tujuh penerbang. “Sesuai dengan perintah, kita melaksanakan kegiatan selama tujuh hari, akan melakukan pantauan di wilayah selatan sampai ke NTT dan perbatasan Nusa Tenggara Timur,” kata Komandan Lanud Ngurah Rai, Kolonel Penerbang Sugiarti Prapto Waluyo.

Sukhoi SU-30MKI tiba di Bali sejak Minggu kemarin dengan nomor registrasi TS-3007b, TS-300c, dan Ts-3004d. Kehadiran tiga Sukhoi tersebut juga disertai sebuah helikopter Colibri. Hingga saat ini, pesawat tempur itu belum bisa didekati oleh awak media yang ingin mengambil gambar. Larangan terkait alasan keamanan. Pihak Lanud Ngurah Rai berjanji akan memberikan akses masuk bandara bagi awak media untuk mengambil gambar lain waktu, sebelum ketiga pesawat itu kembali dikandangkan di Lanud Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.