Monthly Archives: December 2011

Survey Membuktikan Bahwa 47 Persen Siswa SMU Palu Sudah Tidak Perawan Alias Sudah Sering Berhubungan Seks


Hasil penelitian dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako, (Untad) Palu, Sulawesi Tengah, menyatakan 47 persen siswa Sekolah Menengah Atas di wilayah Kota Palu mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks bebas. Baik yang dilakukan sekali maupun berkali-kali dengan pasangannya. Penelitian dilakukan pada Agustus hingga Oktober 2010 dengan sampel sebanyak 15 persen dari 15.542 jumlah siswa SMA/SMK di kota Palu.

Ikhlas Rasido, peneliti dari FKIP Untad, mengatakan sebanyak 43,5 persen remaja melakukan hubungan badan dengan lawan jenisnya karena pengaruh lingkungan, seperti ajakan pacar, teman, atau nonton film porno. Sementara faktor kematangan secara seksual hingga memiliki keinginan atau coba-coba, menjadi alasan kuat selanjutnya.

Ikhlas mengatakan, sebagian besar siswa atau siswi yang melakukan seks bebas tersebut tinggal di kos-kosan, namun ada juga yang tinggal bersama keluarga. Ada juga yang sekolah di SMA favorit di Palu. “Maaf, kami tidak bisa sebutkan sekolah tersebut,” katanya usai salat Jumat, 21 Oktober 2011.

Menurut dosen bimbingan konseling ini, perilaku seksual diawali dari sekadar ciuman, kemudian ciuman yang disertai birahi, hingga terakhir menjadi percintaan badan atau making love. Yang menarik dari penelitian tersebut, sebagian remaja merasa bangga jika telah melakukan hubungan seks dengan pacarnya atau dengan orang lain. Ini terutama terjadi pada laki-laki, dimana secara psikologis ingin menampilkan sesuatu yang lebih dari lelaki yang lain, termasuk soal seks tersebut.

Selain itu, sebagian besar remaja tidak menggunakan pengaman saat berhubungan badan. Demikian halnya dari pengakuan yang diperoleh, kebanyakan pelaku tidak memiliki pengetahuan yang mendalam soal HIV/AIDS atau dampak yang ditimbulkan akibat berhubungan seks tersebut. Pascapengakuan tersebut, ketika pelaku diarahkan untuk melakukan pemeriksaan HIV melalui VCT, tak ada satupun yang bersedia.

Melihat data yang cukup mencengangkan ini, Ikhlas berharap penelitian tersebut bisa ditindaklanjuti para pihak terkait yang peduli dengan remaja, khususnya Dinas Pendidikan melalui program-program sekolah. “Tapi selama ini belum ada tindaklanjutnya. Ini kami sudah publikasikan dan kami sudah seminarkan,” katanya.

Selain itu belum juga ada koordinasi dengan instansi terkait, seperti antara BKKBN dengan Dinas Kesehatan soal remaja yang melakukan hubungan seks bebas ini. Di sekolah juga perlu diaktifkan kembali bimbingan konseling dan Pusat Informasi dan Konsultasi Kesehatan Reproduksi Remaja (PIKKRR). Penelitian ini, kata Ikhlas, semata-mata dilakukan untuk melakukan pencegahan terhadap penyakit HIV/AIDS di kalangan remaja akibat perilaku seks bebas. Untuk itu, dalam penelitian ini, pihaknya juga melibatkan konselor HIV/AIDS.

Kisah Denok Taviperiana Pegawai Pajak Dengan Rekening Mencurigakan Senilai 5,5 Milyar Rupiah


Denok Taviperiana, pegawai pajak yang memiliki rekening mencurigakan, akhirnya buka suara. Sambil duduk bersandar di sofa hitam ruang tamu Kantor Pajak Wilayah Bekasi, dia menjawab pertanyaan Tempo seputar kasus yang menyeret namanya. “Semua itu tidak benar,” ujarnya, Kamis 29 Desember 2011.

Perempuan berusia 47 tahun ini sudah setahun lebih menjadi Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Pajak Bekasi. Sebelum dimutasi, ia adalah pemeriksa pajak di Kantor Pajak Khusus Perusahaan Masuk Bursa di Jakarta.

Kasus ini berawal ketika Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan transaksi mencurigakan pada rekening Denok. Temuan itu kemudian diserahkan kepada Kepolisian Daerah Metro Jaya pada 23 Juli 2007. Namun pada 22 November 2007 polisi menghentikan kasusnya. Alasan polisi adalah tidak ditemukan bukti adanya tindak pidana.

Tiga tahun kemudian, pada April 2010, PPATK kembali menyerahkan laporan transaksi mencurigakan yang dilakukan Denok ke Kementerian Keuangan. Setelah dilakukan investigasi, Kementerian menemukan bukti Denok menerima uang dari wajib pajak. Nilainya lebih dari Rp 500 juta. Dia juga ditengarai memiliki rekening mencurigakan dengan nilai miliaran rupiah. Tim investigasi merekomendasikan pegawai pajak ini diberhentikan.

Semua tudingan itu dibantah Denok. “Saya sudah diperiksa Kementerian. Semuanya sudah saya sampaikan,” ujarnya. Bahkan hingga kini ia masih dalam pemeriksaan Kementerian. “Saya ikuti semua.”

Namun Denok enggan mengungkapkan asal-usul hartanya yang per 2008 mencapai Rp 5,5 miliar. “Saya sudah jelaskan semuanya, sudah kasih bukti, semua bisa dipertanggungjawabkan,” katanya. “Itu kan nilai. Nilai berubah setiap tahun,” Denok menambahkan. Dia mencontohkan nilai tanah setiap tahun naik.

Dalam laporan kekayaannya, Denok tercatat memiliki harta berupa rumah sebanyak tujuh unit. Rumah itu tersebar di Jakarta, Bandung, Malang, dan Lumajang. Harta bergerak terdiri atas 2 unit mobil Honda, 1 unit Toyota Kijang Innova, 1 unit Yamaha Mio, dan harta bergerak lainnya. Kekayaannya masih ditambah surat berharga Rp 1,38 miliar, giro dan setara kas Rp 1,17 miliar, serta piutang Rp 274 juta.

Denok mengaku tudingan terhadap hartanya merupakan hal biasa. “Kerja 20 tahun lebih, dihantam masalah sudah biasa sehari-hari,” katanya. Dengan kekayaan sebesar Rp. 5,5 Milyar rupiah selama kerja 20 tahun berarti tabungan bersih perbulan selama 240 bulan adalah Rp. 27,5 juta sementara gaji PNS tertinggi (masa kerja dan pangkat tertinggi) hanya Rp. 4,1 juta perbulan. Bagi yang berminat melihat besarnya gaji PNS seperti Denok bisa melihat daftarnya di: GAJI PNS.

Polisi mengaku telah menghentikan penyidikan kasus rekening jumbo dan transaksi mencurigakan milik pegawai negeri sipil dari Direktorat Pajak Denok Taviperiana. Juru Bicara Polda Metro Jaya Komisaris Besar Baharudin Djafar beralasan, kasus dihentikan karena mereka kerepotan menemukan bukti untuk menjerat Denok Taviperiana ke persidangan.

Kasus dugaan manipulasi uang tersebut dilaporkan oleh Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) pada 2007. Pada tahun yang sama pengusutan kasus tersebut dihentikan menyusul terbitnya Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). “Karena tidak cukup buktinya,” kata Baharudin kepada Tempo, Rabu 28 Oktober 2011 malam.

Mantan Kepala Satuan Fiskal Moneter dan Devisa pada Satuan Reserse dan Kriminal Khusus (Reskrimsus) Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Aris Munandar enggan menjawab pertanyaan Tempo. Sambungan telepon kepada Aris langsung diputus setelah ia mengetahui bahwa ia berbicara dengan wartawan. Aris memangku jabatan tersebut saat kasus tersebut bergulir di Reskrimsus Polda Metro Jaya.

Kasus Denok di Polda Metro Jaya berawal dari transaksi mencurigakan yang dilaporkan oleh PPATK. Pegawai pajak itu diketahui membeli polis asuransi dengan premi tunggal sebesar Rp 1 miliar. Premi tersebut dibayarkan dengan memindahbukukan uang dari rekening miliknya dari bank ke asuransi.

Laporan Hasil Analisis (LHA) milik Denok yang dibikin PPATK diserahkan pada polisi pada 23 Juli 2007. Tapi pada 22 November 2007 penyidikan kasus Denok dihentikan.

Pada 2010, PPATK menyerahkan laporan yang sama ke Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan pada April 2010. Inspektorat melakukan investigasi pada pertengahan 2010. Mereka menemukan bukti bahwa Denok menerima suap dari wajib pajak senilai lebih dari Rp 500 juta. Ia juga ditengarai memiliki rekening mencurigakan bernilai miliaran rupiah.

Masyarakat Semakin Kerap Berbuat Sadis Karena Menjadikan Uang Sebagai Berhala


Kesenjangan sosial kian tajam. Yang kaya makin kaya, si miskin tambah miskin. Kondisi ini membuat banyak orang tak mampu mengendalikan emosi. Pengadilan jalanan terhadap pelaku kejahatan yang berakhir dengan kematian, kerap terjadi. Selain itu, tindak kejahatan terjadi dimana-mana. Bahkan anak tak berdosa pun menjadi korban.

Hal ini antara lain menimpa Puroh. Bocah 4 tahun anak tukang pisang, digorok pemuda tetangga yang hanya sekolah sampai kelas 2 SD, Muhtadin, 20, Rabu (28/12) pagi. Kejadian di Bogor itu dilatarbelakangi kejengkelan pelaku yang tak dibelikan motor oleh kakaknya.

Selain itu, Ira Yuniriyanti, 7, juga menjadi korban penculikan Yudi Irawan, 30, mantan tetangga di Kranji, Bekasi. Selama 32 jam disekap dalam angkot bobrok, bocah itu tak diberi makan dan dipukul. Korban dibuang di Pasar Kranji setelah seorang wanita teman penculik menilai korban dekil, Selasa (28/12) malam.Bahkan ada yang tega memperkosa pedagang sayur di angkot disaksikan pacarnya sendiri

Dua kasus kejahatan itu hanya bagian dari banyaknya tindak kriminal yang terjadi belakangan ini. Mudahnya orang gelap mata hingga berprilaku jahat dianggap Lia Sutisna Latif, psikolog forensik, sebagai ketidakmampuan mengendalikan diri. “Lingkungan bagai menekan seseorang untuk sama dengan mereka sehingga orang yang tak mampu mengontrol emosi akan terjerumus hingga bertindak nekat demi memenuhi ambisinya,” kata dosen Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) ini, Rabu (28/12) malam.

Kecenderungan bertindak kriminal, lanjutnya, juga dilatarbelakangi masa lalu yang buruk. “Seseorang dengan riwayat pola asih uang buruk akan bisa bertindak anarkis dan kejam,” ujarnya. “Karenanya, sangat diperlukan lingkungan keluarga dengan pola asuh yang baik untuk membuat seseorang tumbuh dengan emosi dan nilai moral yang terkendali.”

PELAMPIASAN EMOSI
Secara terpisah, sosiolog dari Universitas Islam negeri (UIN), Husni Thamrin, berpandangan belum terbukanya demokrasi ekomoni menjadi pemicu timbulnya masalah sadisme tersebut. Dengan demikian, masalah kecil yang timbul akan menjadi besar seiring tindakan kriminalitas yang dibuatnya.

Menurutnya, gap ekonomi kaum berada dengan golongan pinggiran terlalu kentara hingga dengan kasat mata mudah terlihat. Cara ini akan memancing stres kaum yang sehari-hari sulit memenuhi kebutuhan hidupnya.

Akibatnya, kemarahan mudah terpicu. “Sasarannya bisa apa saja. Setiap ada kesalahan maka emosi akan naik lalu dilampiaskan kepada siapa saja dan apa saja,” katanya. “Ini gejala masyarakat yang stres. Jika ekonomi membaik secara keseluruhan maka angka kejahatan akan berkurang dengan sendirinya.”

BPPT Ungkap Penyebab Runtuhnya Jembatan Tenggarong Kutai Kartanegara Yang Dibangun PT. Hutama Karya


Hasil kajian Tim Investigasi lapangan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terhadap Jembatan Kutai Kertanegara menyebutkan ada kesalahan pada geometri sistem sambungan dari jembatan tersebut.

“Ada kesalahan pada geometri sistem sambungan yang menimbulkan stress konsentrasi ketika kelebihan beban,” kata Ketua Tim Investigasi lapangan BPPT Sudarmadi usai Refleksi Akhir Tahun BPPT di Jakarta, Selasa.

Kesalahan berikutnya adalah material sambungan yang getas atau tidak ulet di mana material untuk sistem sambungan antara penggantung, dan kabel utama terbuat dari besi cor padahal seharusnya berbahan baja.

Selain itu ada kesalahan metode perbaikan ketika jembatan itu melengkung. Diperbaiki dengan cara dinaikkan padahal belum diketahui penyebab turunnya, ujarnya.

“Posisi baut stopper pada bagian bawah penggantung dinaikkan untuk recambering jembatan. Akibatnya terjadi pemusatan beban pada penggantung tersebut dan pin klem penggantung ke kabel utama patah,” katanya.

Setelah penggantung yang mengalami pemusatan beban gagal, penggantung ini menerima limpahan beban dari penggantung lainnya, ditambah beban kejut.

Akibatnya pin klem penggantung ke kabel utama patah dan demikian seterusnya sehingga seluruh rangka jembatan baja runtuh, ujarnya.

Menurut dia seharusnya ketika terjadi penurunan, keenam penggantung secara bersama diangkat, kemudian dipasang sensor-sensor agar diketahui tegangan pada penggantung.

Dari sampel bekas patahan dari pin yang ditemukan, urainya, bisa diketahui kekuatan dari jembatan dalam menanggung beban yang terus-menerus, atau adakah cacat bawaan dari disain atau adakah korosi pada sistem sambungannya.

Deputi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT Ridwan Djamaluddin, mengatakan, BPPT juga telah meminjamkan peralatan sonar dan multibeam echosounder dalam melakukan survei bawah air di runtuhan jembatan Kukar.

“Tanpa alat ini disebutkan mereka, tim penyelamat korban tak bisa berbuat banyak dan seperti tak memiliki mata di tengah air keruh di kedalaman 40 meter,” katanya.

Jembatan di atas Sungai Mahakam itu dibangun 10 tahun lalu oleh PT Hutama Karya dan diawasi PT Bukaka, namun runtuh pada 26 November 2011

Kepolisian Negara RI melakukan gelar perkara terkait runtuhnya Jembatan Kartanegara di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

“Polri telah melakukan gelar perkara terkait kasus jembatan Kartanegara di Polres Kukar pada hari Jumat (16/12),” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution di Jakarta, Senin.

Polisi juga telah memeriksa 53 saksi dan meminta keterangan saksi ahli di luar tim independen yang dibentuk. Saksi ahli yang dimintai keterangan dari Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Gadjah Mada (UGM), ujarnya.

“Untuk hasil pemeriksaan saat ini belum dipublikasikan,” kata Saud, saat ditanya mengenai siapa saja calon tersangkanya.

Polisi juga mengumpulkan dokumen-dokumen yang dihimpun pada saat pembangunan jembatan Kartanegara pada awalnya, dokumen tentang bagaimana perkembangan situasi di jembatan itu sebelum rubuh atau kondisi terakhir, katanya.

“Kemudian juga dokumen pada saat kontrak pemeliharaan, itu yang sedang kita himpun,” kata Saud.

Jembatan Kartanegara yang diresmikan pada tahun 2001, dan pembangunannya memakan waktu lima tahun pada masa pemerintahan Bupati Kukar, Syaukani Hasan Rais.

Jembatan Kartanegara yang membentang sepanjang 470 meter di atas sungai Mahakam yang menghubungkan antara Tenggarong Seberang dan Kota Tenggarong.

Jembatan Kartanegara ambruk mengakibatkan 23 orang tewas dan 14 lainnya dinyatakan masih hilang.

Hingga saat ini, proses pencarian korban jembatan ambruk masih terus dilakukan oleh tim SAR dan para penyelam tradisional dari pedalaman Kaltim.

Cara PNS dan Pejabat Daerah Gendutkan Rekening Pribadi dan Kuruskan Rekening Negara dan Rakyat Indonesia


Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkap ada ribuan laporan transaksi mencurigakan yang berhubungan dengan pejabat di pemerintah daerah. Transaksi yang diduga tindak pencucian uang tersebut melibatkan 1.287 rekening bendahara pemerintah daerah, 376 rekening bupati dan pejabat daerah, serta 729 rekening pegawai negeri sipil (PNS) pengelola keuangan daerah.

Banyak dari mereka, kata Wakil Ketua Kepala PPATK Agus Santosa, terindikasi memiliki rekening miliaran rupiah. Namun bagaimana modus para pejabat daerah dan PNS muda mengendutkan rekening mereka?

Modus transaksi bisa dilakukan dengan menarik dan mencairkan dana dari rekening bendahara. Dana itu kemudian disetorkan kepada rekening milik pribadi. “Yang memindahkan bisa bendahara, kepala seksi bagian pembangunan, atau pegawai yang mengelola penerimaan pajak,” ujarnya.

Berapa besar dana yang digangsir? Sumber Tempo di Kementerian Keuangan menyebutkan dana yang digangsir bisa sebagian atau keseluruhan. Para pejabat nakal ini lalu mengambil keuntungan dari hasil investasi dana negara yang ditempatkan pada rekening pribadinya. “Mereka memanfaatkan selisih waktu pencairan anggaran dan pembayaran proyek,” katanya.

Tak hanya dana anggaran proyek, pejabat daerah nakal ini juga memanfaatkan sisa anggaran yang berada di rekening bendahara sebelum diambil oleh pemerintah pusat. “Mereka masukkan sisa anggaran ke rekening pribadi,” ujar dia.

Selain melalui transaksi perbankan, terdapat transaksi tunai mencurigakan sebanyak 220 transaksi. Transaksi tunai tersebut yaitu menarik dana tunai dari rekening kas daerah sebesar Rp 500 juta hingga Rp 20 miliar. “Transaksi dalam jumlah besar menimbulkan risiko penyimpangan,” katanya. Pejabat yang diduga menggangsir dana semacam ini berasal dari PNS golongan III-B hingga gubernur. “Dan tersebar merata di Indonesia,” katanya.

Pelanggaran ini telah disampaikan kepada Kementerian Dalam Negeri sejak 2005, 2007, dan tahun ini. Namun pelanggaran dengan modus ini tetap berlangsung hingga tahun ini. Rentang jabatan pejabat pemerintah daerah yang dicurigai melakukan penyimpangan adalah dari staf golongan III B sampai dengan gubernur provinsi tingkat satu dengan wilayah tersebar di seluruh indonesia.

Daftar PNS Dengan Rekening Milyaran Rupiah


Pegawai negeri dengan rekening gendut bukan monopoli Gayus Tambunan semata. Banyak pegawai biasa yang juga memiliki “privileges” seperti itu. Mella–bukan nama sebenarnya–adalah salah satu contohnya. Dia baru berusia 24 tahun. Sebagai pegawai negeri sipil, golongannya juga golongan pasaran, yakni III-A. Dia juga baru bekerja selama dua tahun di salah satu lembaga pemerintah di Jakarta.

Menjelang akhir tahun, bukan cuma kesibukannya yang bertambah, rekeningnya pun bertambah tambun. Gara-garanya, ada berbagai program selama satu tahun yang harus dikebut bulan ini. Akibatnya, jarak satu program dengan program lain sangat dekat, bahkan bersamaan.

Pegawai bagian keuangan ini kebagian tugas tambahan. Dia harus membuat surat pertanggungjawaban keuangan senilai Rp 700 juta dalam hitungan hari. “Ini permintaan atasan,” ujarnya kepada Tempo kemarin. Untuk memperlancar penggunaan anggaran, Mella juga memiliki rekening pribadi pada salah satu bank pemerintah, khusus untuk menampung uang negara. Kebetulan kantor bank tersebut membuka cabang di kantornya. Pembuatan rekening atas nama dirinya, kata dia, dilakukan atas perintah atasan. “Khusus tahun ini, diminta membuat rekening untuk kelancaran serapan anggaran.”

Dia mengungkapkan, atasannya, sebagai penanggung jawab pengelola uang muka, juga memiliki rekening yang sama. Bosnya ini, kata Mella, mengatur lalu lintas anggaran belanja penelitian sebesar Rp 8,5 miliar. Dari hasil penempatan dana itu, bosnya menerima bunga sebesar 10 persen atau Rp 85 juta.

Hasil bunga itu dikelola sang bos untuk mendanai kegiatan di luar program anggaran. “Misalnya, sewa kendaraan dan pengemudi saat kunjungan ke daerah.”

Yang menarik, kata Mella, tak semua bunga dipakai untuk kegiatan di luar program. Sebagian dana dipakai untuk menyuap oknum pegawai Kantor Pelayanan Perbendaharaan V Jakarta. “Agar anggaran cair tepat waktu.”

Kini kondisinya berbeda setelah Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) melansir rekening gendut sejumlah pegawai muda. Sejumlah pegawai, termasuk atasannya, langsung menutup rekening pribadi. “Mereka ketakutan.”

Mella menilai rekening pribadi atau biasa disebut rekening penampung sangat diperlukan karena pengelolaan anggaran butuh tiga tahapan. Padahal setiap satuan kerja hanya memiliki satu rekening resmi, yakni rekening bendahara.

Uang dari bendahara ini dicairkan ke pengelola uang muka, yang kemudian membuat rekening penampung. Dari sini, uang masih mengalir ke bagian administrasi, yang juga membuat rekening yang sama. Menurut Mella, rekening ini dipakai agar lalu lintas anggaran dari bendahara, pengelola uang muka, dan administrasi memiliki bukti. “Kalau tunai, rawan direkayasa.”

Wakil Ketua PPATK Agus Santoso, sebelumnya, menyatakan banyak pegawai negeri sipil muda memiliki rekening pribadi dengan nilai miliaran rupiah. Kepemilikan rekening jumbo tersebut dinilai tidak wajar.

Kisah Korban Letusan Gunung Agung


suara gemuruh mendekat. Suasana menjadi gelap pekat. Udara panas menyengat. ”Saya mulai ketakutan,” kisah Turut. Remaja ini pun tak kuasa bertahan. Dia tinggalkan para pemain gamelan yang lain. ”Saya lari bersembunyi di ceruk sempit di belakang pura sambil menutup mata.”

Dia tak ingat lagi dengan rekan-rekannya. Yang ada dalam benaknya hanyalah bagaimana menyelamatkan diri. Ceruk batu yang menghadap ke selatan, membelakangi Gunung Agung, itu melindunginya dari empasan langsung awan panas. Namun, tetap saja tangan dan sebagian mukanya melepuh.

”Sekitar 30 menit suasana gelap. Gemuruh terus terdengar. Setelah itu, suasana kembali terang, tapi sepi,” kata Turut. Sunyi mencekam. Tak ada lagi bunyi gamelan. Bahkan, tak terdengar suara apa pun. Dia keluar dari lubang persembunyian dan menyaksikan teman-temannya tewas bergelimpangan.

Ia berjalan tertatih meninggalkan pura. Panas di wajahnya tak terperikan. Kakinya melepuh, menginjak tanah berselimut kerikil membara. Jejak luka bakar itu masih terlihat hingga kini. Saat itu, dia mengira seluruh keluarga dan rekannya telah tewas. Turut putus asa dan nyaris bunuh diri. Dia berjalan tanpa arah sambil mencari-cari senjata tajam.

Saat itulah, ia melihat Drasni, gadis muda tetangganya yang baru saja menikah, menusukkan pisau ke leher. Drasni bunuh diri melihat suaminya, Itawa, mati diterjang awan panas. ”Drasni sempat berjalan sekitar 500 meter sebelum tersungkur dan mati,” ujar Turut.

Melihat cara Drasni mati, Turut mengurungkan niatnya bunuh diri. Dia meneruskan perjalanan menuju Sekeluwih, menjauhi aliran awan panas. Di sana, ia bertemu ayah dan ibunya.

Dari 25 penabuh gamelan di Sogra, hanya delapan orang, termasuk dirinya, yang selamat. Mereka yang selamat itu ternyata lari lebih dulu menuju Sekeluwih sesaat sebelum awan panas menerjang. Hanya Turut yang masih selamat walaupun bertahan di dalam pura.

Jero Mangku Wayan Ginda termasuk yang selamat karena berlari sesaat sebelum awan panas menerjang. ”Bapak saya waktu itu juga di pura bersama Pak Mangku Turut,” ujar Mangku Gde Umbara, Bendesa Adat Desa Sebudi, anak Wayan Ginda. ”Menjelang kejadian, bapak keluar dari pura dan berlari ke rumah menyelamatkan saya,” kisah Umbara, yang waktu itu berumur 3 bulan.

Wayan Ginda meninggal beberapa tahun lalu. ”Bapak saya keluar dari pura begitu melihat gumpalan awan turun dengan cepat,” ujar Umbara.

Sementara Ketut Sudana selamat dari awan panas karena kebetulan. Pagi itu, dia mendapat giliran memasak. Dia pulang ke rumah untuk menyiapkan makanan bagi lebih kurang 100 warga yang khusyuk berdoa dan menabuh gamelan di Pura Badeg Dukuh.

Saat terdengar suara gemuruh, Sudana masih duduk di depan tungku masak. Dia menggigil dan tidak kuasa beranjak. Lututnya bergetar keras seperti dinding rumahnya.

Suara gamelan dan doa-doa dari arah pura di belakang rumahnya semakin tenggelam oleh bunyi gemuruh dan letusan yang mendekat. Sudana juga mulai mendengar bunyi gemeretak di atas atapnya. Hujan kerikil telah mengguyur.

Ketut Sudana segera tersadar. Ia mengambil nare, nampan bambu, untuk melindungi kepala. Ia membuka pintu dan pandangannya menatap gelap. Ia mengikuti nalurinya, berlari memasuki kebun-kebun warga, menjauh dari puncak Gunung Agung. Nasi sela (ketela rambat rebus) yang sudah matang ditinggalkannya.

Nare yang dibawa sangat berjasa melindungi kepalanya dari hujan kerikil sebesar kacang tanah hingga kepalan tangan orang dewasa. Namun, telapak kakinya melepuh disengat panas kerikil yang berjatuhan di tanah. Dalam pelarian, ia bertemu warga lain. Ia terus berlari turun, diiringi ratapan tangis ibu-ibu serta anak-anak. Sudana membantu semampunya. ”Saya berlari selama dua jam hingga mencapai Rendang,” ujar Sudana.

Sudana mengungsi di Rendang hingga 15 hari kemudian. Ketika pulang ke Badeg Dukuh, ia mendapati 100-an rekannya tewas di dalam pura. Umat Hindu usai sembahyang di Pura Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali, Kamis (6/10/2011). Pura terbesar di Bali yang mengalami perkembangan sejak masa pra-hindu, ini berorientasi ke Gunung Agung yang dianggap sebagai tempat tinggal para dewata.

AWAN panas sudah mendekat, tetapi warga Sogra dan Badeg Dukuh di lereng selatan Gunung Agung tak mau beranjak. Mereka bertahan di pura. Dengan memanjatkan doa-doa sambil menabuh gamelan, mereka berharap dewa-dewa gunung akan melindungi. Semakin dekat awan panas itu, semakin keras tabuhan gamelan.

Badeg Dukuh dan Sogra, Minggu pagi, 17 Maret 1963. Di dua dusun yang dipisahkan oleh Tukad (sungai) Lengu dan hanya berjarak 4 kilometer dari puncak Gunung Agung itu, bunyi gamelan terdengar bersahutan. ”Kami sudah tiga hari berdoa di dalam pura,”Ketut Sudana (73), warga Badeg Dukuh, berkisah. ”Kami percaya akan dilindungi”

Mangku Turut (63), yang saat itu masih remaja, juga berdoa di dalam pura. Warga Sogra ini kebagian peran memainkan alat musik ceng-ceng dalam ritual yang telah digelar sejak beberapa hari sebelumnya di pura. ”Setiap malam, kami berdoa sambil memainkan gamelan hingga pagi hari. Kami berdoa semoga Gunung Agung tidak meletus. Kalaupun meletus, tidak akan menimpa kampung kami,” kata Turut.

Bagi warga Sogra dan Badeg Dukuh, Gunung Agung dipercaya tak akan membawa petaka. Walaupun sempat mengungsi pada awal letusan, mereka segera kembali. ”Kami tidak mendengar cerita bahwa Gunung Agung pernah meletus dan membawa bencana,” kata Turut.

Sejak kecil, Turut diajarkan bahwa petaka gunung api disebabkan kurangnya doa dan persembahan. ”Selama kami masih melakukan upacara, tidak akan terjadi bencana,” ujarnya.

Keyakinan itu sedemikian kuat dipegang warga Badeg Dukuh dan Sogra sehingga saat Gunung Agung mulai menggeliat, mereka tak bergegas pergi.

Setelah 120 tahun tertidur, Gunung Agung bangun pada 16 Febuari 1963. Djajadi Hadikusumo (1963) dari Direktorat Geologi, Bandung, mencatat, pada 18 Febuari sekitar pukul 23.00, warga Tianyar di lereng utara Gunung Agung untuk pertama kali mendengar suara gemuruh dari dalam bumi. Esok harinya, sekitar pukul 03.30, asap terlihat keluar dari kawah Gunung Agung. Letusan kemudian terdengar pada pukul 05.50, disusul lontaran kerikil dan batu serta embusan awan panas.

Saat letusan pertama ini, sebagian warga Sogra yang terkejut sempat mengungsi ke Desa Selat sebelum pindah ke kota Karangasem. Hanya semalam di Karangasem, mereka kembali lagi ke Sogra. ”Sam – pai di kampung, banyak rumah ambruk, tidak kuat menahan abu tebal dan kerikil,” kata Mangku Turut mengenang.

Warga segera membersihkan abu dan memperbaiki rumah yang rusak. Gempa masih saja berlangsung, demikian pula bunyi gemuruh dan hujan abu. Namun, mereka menganggapnya biasa. ”Wa r g a terus bekerja dan malamnya berdoa di pura,” ujar Turut.

Namun, letusan pada pertengahan Febuari 1963 itu ternyata baru awal dari sebuah paroksimal (letusan besar) yang tengah disiapkan Gunung Agung.

Pagi itu, tanda-tanda datangnya letusan besar telah dikabarkan. Bunyi gemuruh dan getaran gempa semakin kerap terjadi dan terasa semakin dekat. Anjing berlarian dari lereng atas gunung dengan ekor terbakar. Sebagian warga mulai mengungsi. ”Namun, kami tetap bertahan di dalam pura,” kata Turut.

Pertanda yang kasatmata itu tidak menggoyahkan keyakinan sebagian warga Sogra dan Badeg Dukuh untuk bertahan. Mereka semakin khusyuk berdoa dan gamelan ditabuh keras- keras.

Kepala Badeg Dukuh Mangku Kadek Raja sebagai pemangku adat sebenarnya menyadari, bahaya telah dekat. Karena itulah, ia menyuruh anak-anaknya pergi meninggalkan dukuh, mengungsi ke desa di bawah.

Namun, dia sendiri tak mau pergi. Dia memegang teguh prinsip hidup-mati bersama Gunung Agung. ”Ia sampai bertengkar dengan saudaranya kerena tidak mau diajak meninggalkan pura,” ungkap Sudana. Sekitar 100 orang lainnya memilih bertahan di pura bersama sang pemimpin.