Monthly Archives: November 2011

Menelusuri Jejak Kapal Perang Belanda Berouw Yang Hanyut Oleh Tsunami Krakatau Di Sungai Kuripan


Dua besi hitam berkarat dengan tuas panjang teronggok di tepi kolam ikan di belakang rumah Suwardi (61), warga Kampung Brau, Teluk Betung, Lampung. Berkali-kali datang pemburu besi tua menawar, tetapi Suwardi bersikukuh tak menjualnya.

“Ada yang menawarkan dua juta rupiah, tetapi saya tak cari uang lagi dari barang ini,” kata Suwardi. Ia menemukan besi tua berbentuk segitiga itu saat menjala ikan di Sungai Kuripan di belakang rumahnya pada awal 2001. Butuh empat orang untuk mengangkatnya dari sungai. Bobot besi tersebut diperkirakan lebih dari 150 kilogram.

Suwardi bukannya tak butuh uang. Namun, baginya, besi tua itu adalah sejarah berharga yang mesti dipelihara. Satu-satunya kenangan tersisa, yang membuat nama desanya, Brau—diambil dari kataberouw, dalam bahasa Belanda berarti penyesalan—dikenal hingga luar negeri dan ditulis dalam buku.

“Besi ini sisa Kapal Berouw yang dulu pernah terdampar di Sungai Kuripan,” katanya. Suwardi lalu menunjukkan posisi kapal perang Angkatan Laut Belanda tersebut, yang dulu melintang di badan Sungai Kuripan selebar 7 meter. Saat ini, tempat terdamparnya kapal itu telah berubah menjadi bendungan PDAM Way Rilau.

Lokasi terdamparnya kapal tersebut, 3,3 kilometer dari Pantai Teluk Betung, menjadi saksi kedahsyatan tsunami akibat letusan Krakatau, 27 Agustus 1883. “Sekitar pukul tujuh pagi, kami melihat gelombang sangat tinggi. Kapal Berouw terangkat melewati pohon kelapa,” demikian catatan Kapten TH Lindeman, nakhoda Kapal GG Loudon. Saat ombak tinggi menerjang, Lindeman yang dalam perjalanan dari Anyer ke Sibolga bermaksud menepikan kapal berpenumpang 111 orang itu ke Pelabuhan Teluk Betung.

Namun, kapten Kapal Berouw memperingatkan Lindeman agar jangan mendarat. Kapten Lindeman membuang sauh agak di tengah laut. Bagi pelaut, ombak di tengah laut lebih tidak berbahaya ketimbang di dekat daratan.

Berhasil menyelamatkan Kapal GG Loudon, kapten Kapal Berouw ternyata gagal menyelamatkan kapalnya. NH van Sandick, penumpang Kapal GG Loudon, menyaksikan ombak tinggi mengangkat Kapal Berouw dan memutuskan rantai sauhnya. Kapal perang tersebut diempaskan ke muara Sungai Kuripan, lalu ombak besar kembali menghantam sehingga Kapal Berouw diempaskan ke lembah nun jauh di tengah hutan.

Pada September 1883, tim dari Belanda mengunjungi Sungai Kuripan dan melaporkan kapal itu terdampar dalam kondisi utuh di ketinggian 38 meter dari permukaan laut.

Jejak yang dijual

Setelah bertahan puluhan tahun, awal 1970-an, tubuh kapal mulai rusak. Bukan oleh tsunami atau cuaca, melainkan karena dipereteli. Warga pendatang, yang kebanyakan dari Jawa, melihat kapal itu mengganggu aliran sungai lalu memereteli dan menjual bagian-bagiannya.

“Saya pernah menjual baut dan lempengan besi dari kapal itu. Beratnya 130 kilogram,” kata Suwardi. Ia juga pernah menemukan balok kayu kapal yang sudah membatu, yang kemudian diminta Pemerintah Provinsi Lampung.

Pada tahun 1979, menurut Suwardi, kapal yang telah dipereteli ini dihanyutkan banjir bandang hingga ke bawah jembatan di Desa Olok Gading. Di lokasi inilah nasib kapal perang ini tamat. “Warga berebut memereteli sisa tubuh kapal dan menjualnya,” kata Imron (56), warga Olok Gading.

Pemerintah melupakan kapal ini dan tutup mata terhadap perusakan itu. Namun, peneliti dan turis asing, terutama dari Belanda, sering berkunjung ke sana melihat sisa-sisa Kapal Berouw atau sekadar melihat bekas lokasi terdamparnya.

Setelah tubuh Kapal Berouw habis, barulah Suwardi dan warga desa yang lain mulai menyadari pentingnya Kapal Berouw dalam sejarah. Pemerintah Provinsi Lampung meratapi hilangnya Berouw. Mereka kini berancang-ancang membangun tiruan kapal. “Kami berharap replika ini akan menjadi ikon baru Lampung untuk memajukan pariwisata,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampung Gatot Hadi. Namun, pembuatan replika tak mudah. “Kami pelajari dulu bentuk kapalnya dulu seperti apa,” katanya.

Merawat ingatan

Kapal Berouw hanyalah satu drama kecil dibandingkan dengan kedahsyatan letusan Krakatau pada 1883. Tsunami yang terjadi setelah keluarnya awan panas dari Krakatau menghancurkan pesisir Banten dan Lampung. Setidaknya 36.417 orang tewas dan 163 desa hancur.

Jejak petaka itu dikisahkan samar-samar oleh Ratu Supiah (90), warga Caringin, Kabupaten Pandeglang, Banten. Dengan suara pelan dan terpatah-patah dia bercerita. “Waktu itu langit tiba-tiba gelap. Air laut mendadak surut,” kata Supiah, menirukan cerita kakeknya, Sheikh Asnawi. “Kakek yang curiga dengan keanehan itu mengajak tetangga dan keluarga lari ke tempat lebih tinggi. Namun, mereka tak mau pergi. Tetangganya tergiur melihat banyak ikan di pantai.”

Tiba-tiba air laut datang menggulung hingga 4 kilometer ke daratan. Asnawi memandu keluarganya lari ke Menes, Desa Muruy. Setelah petaka reda, Asnawi kembali ke kampungnya yang rata dengan tanah dan dipenuhi mayat. Nyaris semua warga desa meninggal. “Asnawi mengajarkan kepada keturunannya untuk selalu waspada jika Krakatau meletus, terutama jika laut surut karena pasti akan ada gelombang besar,” tutur Supiah.

Namun, petuah dan kisah dari Asnawi tak banyak diketahui lagi. Putra Supiah, HRA Syaukatuddin Inayah, mengatakan, generasi muda tak banyak lagi yang peduli. Bahkan, Syaukatuddin juga hanya tahu sedikit kisah Krakatau. Dia harus memanggil ibunya yang sudah sepuh itu untuk mengisahkan gelombang raksasa yang pernah menghancurkan desanya itu.

Sebagaimana Kapal Berouw habis dipereteli, ingatan warga tentang petaka yang diwariskan secara lisan oleh para tetua itu pun memudar. Pudarnya ingatan berarti hilangnya pula kewaspadaan terhadap Anak Krakatau yang tengah membangun kembali kekuatan.

Kini, Suwardi hanya bisa menyesali hilangnya Kapal Berouw, kapal “penyesalan” itu, dengan mempertahankan dua tuas yang tersisa. Suwardi dengan bagian terakhir Kapal Berouw yang dia temukan di Lembah Sungai Kuripan, Kampung Berouw, Kelurahan Negeri Olok Gading, Teluk Betung, Bandar Lampung, Kamis (11/8/2011). Di lembah sungai tersebut, ia mendapati sisa bagian dari kapal yang hanyut terbawa tsunami dari meletusnya Krakatau tahun 1883. Kampung di lembah itu kemudian diberi nama Kampung Berouw.

Advertisements

Polisi Sita Dokumen Daftar Target Teroris dan Telusuri Keterlibatan Oknum Mahasiswa Universitas Indonesia


Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Boy Rafli Amar mengungkapkan, pihaknya menemukan dokumen perencanaan target korban aksi teror. Dokumen tersebut ditemukan dari hasil penangkapan enam tersangka teroris jaringan Abu Omar di wilayah Tangerang pada Sabtu (12/11/2011) dan Minggu (13/11/2011).

Enam orang tersangka itu berinisial DAP (34), BH alias Dodi (35), AA alias Agung (31) S, DWT (50), dan SGO alias Sugih. Kantor polisi termasuk target dari serangan kelompok teroris itu.

“Penyerangan terhadap petugas. Itu yang pertama. Sudah ada dokumen-dokumen perencanaannya di beberapa kantor polisi. Itu didapat dari dokumen yang diperoleh dari petugas,” ujar Boy di Markas Besar Polri, Jakarta, Senin (14/11/2011).

Selain polisi, kata Boy, dalam dokumen itu juga berisi target jaringan ini terhadap beberapa kelompok masyarakat. Namun, ia tak menyebutkan kelompok mana yang dimaksud oleh jaringan Kalimantan Timur tersebut. Hal ini karena polisi masih mendalami lebih jauh barang bukti tersebut dalam penyelidikan. Namun, ia menyatakan target kelompok ini tak ada yang berhubungan dengan perhelatan olahraga akbar SEA Games maupun kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN.

“Ada kelompok masyarakat juga yang masih kita dalami. Ini belum ada keterkaitan untuk mengganggu penyelenggaraan SEA Games dan KTT ASEAN,” jelasnya.

Seperti yang diketahui, selain dokumen berisi target penyerangan, pasukan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri juga menyita dua pucuk senjata api jenis M16, satu pucuk senpi jungle, satu pucuk senpi FN. Selain itu juga, 888 butir peluru berbagai caliber dan enam buah magazin.

Dari hasil interogasi polisi terhadap tersangka BH diketahui bahwa ia pernah menerima senpi 2 pucuk dari Abu Omar yaitu satu pucuk senjata api jungle, satu pucuk F dan 20 peluru yang diakuinya disembunyikan di kawasan hutan Universitas Indonesia, Depok. Kelompok teroris ini juga tercatat pernah mendatangkan senjata dari Filipina selatan dan terkait peledakan bom di Bali.

Kepala Polisi Negara RI Jenderal Timur Pradopo menyatakan, pihaknya belum bisa memastikan apakah ada oknum mahasiswa dari Universitas Indonesia yang terkait dengan penemuan senjata api milik tiga terduga teroris dari kelompok Abu Omar. Hal ini disampaikan Kapolri seusai menghadiri upacara peringatan HUT Korps Brimob Polri Ke-66 di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Senin (14/11/2011).

“Masih penyelidikan kita tunggu hasil secara utuh. Saya kira tidak ada (keterkaitan dengan mahasiswa UI),” ujar Kapolri.

Dalam penyelidikan tindakan terorisme ini, kata Timur, Polri juga tetap membutuhkan informasi dari masyarakat yang mengetahui pergerakan dari jaringan teroris itu. “Segala bentuk informasi apa pun yang selama ini kita terima tidak lepas dari peran masyarakat. Semua kaitan masih penyelidikan. Informasi sekecil apa pun kita tindak lanjuti masyarakat tidak perlu khawatir,” sambungnya.

Seperti diberitakan, Sabtu lalu Detasemen Khusus 88 Antiteror menangkap tiga tersangka yang berinisial DAP (34), yang beralamat di Cipondoh, Kota Tangerang, serta BHD (35) dan A (32), yang beralamat di Karawaci, Kota Tangerang.

BHD mengaku pernah menerima 2 pucuk senjata api dari tersangka AO. Kedua senjata itu adalah satu pucuk senjata api jungle dan satu pucuk senjata jenis FN, beserta 20 butir peluru. Kedua senjata itu disembunyikan dengan cara ditanam di kawasan hutan Universitas Indonesia di daerah Depok.

Senjata-senjata yang ditemukan dalam penangkapan terhadap enam orang yang diduga sebagai bagian dari jaringan teroris diduga dipasok dari Filipina. Senjata-senjata itu dimasukkan ke Indonesia melalui jalur Nunukan, Balikpapan, Makasar, dan Surabaya.

Demikian disampaikan Direktur Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Petrus Golose, di Jakarta, Senin (14/11/2011). “Tersangka yang ditangkap masih terkait jaringan Abu Omar yang membawa senjata dari Filipina,” kata Golose.

Senjata-senjata itu, lanjut Golose, berasal dari Filipina dan dimasukkan ke Indonesia melalui Nunukan, Balikpapan, Makasar, dan Surabaya. Ia menambahkan, polisi antiteror masih mencari senjata yang disimpan di Depok. “Belum tahu jumlahnya berapa,” katanya.

Dari penangkapan terhadap enam orang itu, Sabtu dan Minggu lalu, polisi antiteror telah menyita dua pucuk senjata jenis M16, satu pucuk senjata jenis jungle, dan satu pucuk jenis FN.

Keenam orang yang ditangkap itu berinisial DAP, BH, AA, S, D alias N, dan S. Mereka ditangkap di daerah Tangerang, Bekasi, dan Duren Sawit di Jakarta Timur.

Kepolisian Sektor Tanah Abang Kembali Tangkap Preman Berkedok Juru Parkir Di Gelora Bung Karno


Kepolisian Sektor Tanah Abang kembali menangkap preman yang biasa berkeliaran di lingkungan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat. Dalam lanjutan Operasi Among Raga yang dilaksanakan Sabtu sore, 12 November 2011, lima preman diamankan dan dibawa ke Markas Polsek Tanah Abang.

“Operasi itu dilaksanakan untuk menjaga keamanan saat pelaksanaan SEA Games yang beberapa cabang olahraga digelar di kompleks Gelora Bung Karno,” kata Kepala Polsek Tanah Abang, Ajun Komisaris Besar Johanson Simamora, Ahad, 13 November 2011.

Namun Johanson tidak memerinci identitas lima orang yang diamankan saat operasi kemarin. Ia hanya mengatakan lima orang itu dibawa ke Markas Polsek untuk diperiksa dan diberi pengarahan untuk tidak mengulangi perbuatan. Lingkungan GBK, terang Johanson, memang banyak ditempati preman yang berdalih sebagai juru parkir.

“Sebelum SEA Games, kami juga telah mengamankan 18 preman. Mereka biasa berkeliaran di sana (GBK) dan meresahkan masyarakat karena meminta tarif parkir seenaknya,” kata Johanson lagi.

Saat ditanya apakah Polsek Tanah Abang memberikan penanganan khusus untuk mengamankan lingkungan GBK saat SEA Games, Johanson menjawab tidak. Menurutnya, teknis pengamanan lokasi pertandingan olahraga multicabang negara Asia Tenggara itu ditangani langsung oleh Kepolisian Daerah Metro Jaya.

Sebelumnya, beberapa waktu lalu, Polsek Tanah Abang juga mengamankan 18 orang preman yang berpura-pura menjadi juru parkir di lingkungan GBK. Mereka ditangkap karena meresahkan pengunjung dengan meminta uang parkir yang melewati tarif normal. Padahal dalam lingkungan GBK pengelola juga telah mempunyai petugas parkir.

Beberapa cabang olahraga memang akan digelar di kompleks Gelora Bung Karno saat SEA Games ke-26 tahun ini, seperti sepakbola di Stadion Utama Gelora Bung Karno dan bulutangkis di Istora GBK. SEA Games akan berlangsung 11 hingga 22 November 2011.

Pemda DKI Jakarta Akan Batasi Usia Kendaraan Di Jalan Ibu Kota


Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini sedang menggodok peraturan mengenai pembatasan usia kendaraan yang boleh beroperasi di wilayahnya.

“Jakarta akan punya aturan pembatasan usia kendaraan,” kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Ahad, 13 November 2011.

Menurut Fauzi Bowo, pembatasan usia kendaraan ini diperlukan untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan pengguna jalan selain juga untuk mengurangi tingkat emisi. “Kami pikirkan berlakukan itu, seperti juga yang berlaku di negara-negara maju,” ujar pria berkumis ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan DKI Udar Pristono menyatakan pembatasan usia kendaraan ini akan diutamakan untuk kendaraan umum. Nantinya peraturan ini akan dituangkan dalam sebuah Peraturan Gubernur.

Rencana yang sedang digodok Dinas Perhubungan adalah usia maksimal 10 tahun untuk bus-bus besar, 8 tahun untuk bus sedang (Metromini dan Kopaja), serta 7 tahun untuk mikrolet dan taksi. “Saat ini kami sedang menunggu masukan dari pihak-pihak terkait seperti Organda dan para operator,” kata Pristono.

Hanya, Pristono belum bisa menyebutkan kapan peraturan ini akan disahkan. “Kan masih digodok,” ujar dia.

Pristono juga enggan menyebut berapa persen kendaraan umum yang beroperasi di Jakarta saat ini yang sudah terlalu tua. Pasalnya, setelah peraturan gubernur disahkan pun, mobil-mobil rongsok itu tak akan serta-merta dipensiunkan. “Itu kan tidak drastis. Kami kasih tenggat dulu,” kata dia lagi.

Harga Tanah Di Cibesut Cipinang Besar Utara Melonjak Tajam Hingga 400 persen Karena Bebas Banjir


Sejak pembangunan Kanal Banjir Timur (KBT) menembus laut tahun 2009, sebagian besar wilayah Kelurahan Cipinangbesar Utara terbebas dari banjir. Maka tak mengherankan jika harga tanah di kawasan ini melonjak tajam.

Harga pasaran tanah yang dulunya antara Rp 300.000 sampai Rp 1 Juta permeter persegi, kini melonjak menjadi Rp 2 Juta sampai diatas Rp 3 Juta per meter persegi. Bukan itu saja, sejumlah warga yang dulu berniat menjual rumah dan tanahnya kini justru mempertahankannya. Bahkan sekalipun sebagian wilayahnya merupakan kawasan padat penduduk, sejumlah orang mulai melirik untuk membeli tanah dan rumah tinggal di kawasan ini.

“Dulu, sewaktu wilayah kita selalu kena banjir saban tahun, boro-boro ada yang mau nawar tanah atau rumah di sini. Sekarang wilayah kita justru diminati orang untuk bermukim,” kata Ketua RW 13, Cipinangbesar Utara, Sidik WS saat ditemui Warta Kota di Kantor Kelurahan Cipinangbesar Utara, Selasa (8/11).

Menurut Sidik harga NJOP tanah di wilayahnya yang rata-rata sekitar Rp 1 Juta atau bahkan jauh di bawahnya, kini naik menjadi sekitar Rp 2 Juta permeter persegi. Karenanya harga pasaran tanah di wilayahnya juga melonjak tajam. Bahkan di beberapa titik yang dekat dengan jalan besar bisa mencapai lebih Rp 3 Juta per meter persegi atau bahkan lebih.

“Warga berterimakasih sama pemerintah dengan beroperasi KBT, sebab banjir tidak lagi jadi rutinitas kita setiap tahun,” kata Sidik.

Menurut Sidik, banjir terakhir yang melanda wilayahnya terjadi tahun 2007, di mana 10 RT dari 15 RT di RW 13 terendam banjir. “Banjirnya bisa sampai 1,5 meter lebih,” kata Sidik.

Menurut Sidik dari luas wilayahnya sekitar 3.000 meter persegi, 70 persen terendam banjir. “Sekalipun ada wilayah yang tidak kena banjir, warga di sana juga nggak bisa kemana-mana karena mereka dikepung banjir,” kata Sidik.

Sidik menuturkan beberapa transaksi jual beli tanah dan rumah terjadi di wilahnya sejak KBT bebas banjir. Dia mencontohkan, ada rumah sederhana di atas lahan 68 meter persegi yang jauh dari jalan utama dibeli seharga Rp 120 Juta. Padahal sewaktu masih terkena banjir rumah itu ditawarkan dengan harga Rp 50 Juta. “Itupun nggak ada yang mau waktu itu, karena kena banjir. Tapi sekarang berebut, dan yang punya naikin sampai dua kali lipat lebih,” kata Sidik.

Menurut Sidik hampir 70 persen warga di RW 13 memiliki surat hak milik tanah dan sebagian lainnya sedang dalam proses. “Dulu warga banyak yang mau jual rumah dan tanahnya di sini. Sekarang justru sayang dan nggak mau. Mereka jadi bertahan dan senang tinggal di sini,” kata Sidik.

Di wilayahnya, lanjut Sidik, terdapat 3.000 jiwa warga yang terbagi dalam 1.050 KK. Sidik menjelaskan wilayah RW 13 berada agak jauh di sebelah barat Kali Cipinang yang dulu menjadi penyebab banjir. Wilayahnya dilintasi Kali Baru yang merupakan kali sodetan Kali Cipinang. “Waktu belum ada KBT, Kali Baru itu yang meluap dan merendam rumah warga. Tapi sekarang tidak lagi,” kata Sidik.

Hal senada diungkapkan Ketua RW 04, Cipinangbesar Utara, Djunaedi Martha. Menurut Djunaedi wilayahnya berada tepat di sisi barat Kali Cipinang. “Jadi kalau banjir dan Kali Cipinang meluap, 100 persen wilayah kami terendam banjir,” kata Djunaedi.

Namun sejak KBT beroperasi dan tembus ke laut, praktis wilayahnya bebas banjir. “Kantong-kantong air penyebab banjir di wilayah kami otomatis hilang,” katanya.

Menurut Djunaedi hal ini juga membuar harga pasaran tanah dan bangunan di wilayahnya melonjak, sekalipun merupakan permukiman padat penduduk. “Dulu kalau ada yang jual rumah dan tanah, orang mau nawar aja ogah. Tapi sekarang nggak lama ditawarin, paling sebulan sudah ada yang beli,” kata Djunaedi.
Namun begitu, menurut Djunaedi, sebagian kecil warga saja yang ingin melepas tanah dan rumahnya. “Justru sebagian warga yang dulu mau jual tanah dan rumahnya nggak jadi, karena sudah bebas banjir,” kata Djunaedi.

Saat ini tercatat jumlah. warga di RW 04 sebanyak 4.429 jiwa yang tersebar di 15 RT. Sebelum tahun 2009 jumlah warganya sebanyak 4.863 jiwa.

Wakil Lurah Cipinangbesar Utara, Bambang Novianto, mengakui sejak KBT dioperasikan, seluruh wilayahnya yang memiliki luas lahan 115,2 hektar terbebas dari banjir. “Jadi jelas karena ini harga pasaran tanah di sini melonjak,” kata Bambang.

Dari total 14 RW, tercatat hanya lima RW yang tidak pernah terkena banjir karena berada di dataran tinggi, yakni RW 03, 06, 07, 08 dan RW 09. “Itupun warga disana jadi terisolir, karena wilayah sekelilingnya dikepung banjir,” kata Bambang. Sedangkan titik banjirnya, dahulu terdapat di RW 01, 02, 04, 05, 10, 11, 12, 13 dan RW 14.

“Hampir 80 persen wilayah kami dulu, selalu kena banjir kalau musim hujan tiba,” katanya.

Kini dia berharap 51.692 jiwa warganya untuk menjaga kebersihan Kali Cipinang dan Kalibaru yang melintas pemukiman mereka. “Juga menjaga kebersihan KBT,” kata Bambang. Setidaknya warga tak lagi membuang sampah sembarangan ke kali. Sebab jika warga tak disiplin maka ancaman banjir bisa datang kapan saja dan menimpa warga kembali.

Fotografer Kontan Cheppy A Muchlis dan Istrinya Suci Wulandini Dianiaya Psikopat Pengendara Kijang Di Kalimalang Duren Sawit


Senggolan di jalan raya, fotografer Kontan, Cheppy A Muchlis, 33, dan istrinya, Suci Wulandini, 32, dianiaya pengendara Kijang Innova hitam bernomor polisi B 2510 EJ, yang merupakan karyawan Wika In Trade, di lampu merah Transito di Jl. Raya Kalimalang, Durensawit, Jatim, Minggu (6/11) sore sekitar pk: 18.00.

Akibatnya Cheppy mengalami benjol di kepala bagian kiri, gusi atas berdarah, serta lengan kiri dan dadanya memar. Sementara istri Cheppy, Suci, luka memar di rahang kanan dan telinga kanan serta dagu robek.

Peristiwa tersebut terjadi saat korban yang mengendarai mobil BMW 520, kala itu ia dan keluarga akan pulang ke rumahnya di Jl. Ganesha, Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jaktim, usai berkunjung ke rumah kerabat mereka di Jl. H Naaman, Pondok Kelapa, Jaktim. “Hari itu kita habis berhari raya Idul Adha ,” kata Cheppy.

Tepat di lampu merah Transito, di persimpangan Jl. H Naaman dengan Jl. Raya Kalimalang, di depan mobil sedan yang dikendarai Cheppy, ada mobil Kijang Innova warna hitam bernopol B 2510 EJ. Namun tiba-tiba sopir mobil Innova Simon, sekitar 40 tahun, yang ada di depan mobil Cheppy, turun. “Ia merasa mobil Innovanya ditabrak oleh mobil saya, padahal saya sama sekali tidak menabrak,” ujar Cheppy.

Menurut Cheppy, si sopir langsung memukul kap mobilnya dengan senter sambil memaki-maki. Merasa kurang puas dengan memukul kap, Simon yang berpenampilan rapi tersebut menuju kaca mobil Cheppy sambil berteriak, “Lu punya SIM enggak,” kata Cheppy menirukan ucapan pelaku.

Istri Cheppy berinisiatif untuk turun dan berbicara kepada sang sopir untuk minta maaf kalau terbukti bersalah. Namun si sopir yang memiliki tinggi badan lebih kurang 170 cm tersebut malah memukul istri Cheppy sambil mengatakan yang pantas minta maaf seharusnya adalah yang membawa mobil.

Saat itulah lanjut Cheppy, pelaku dua kali memukul istrinya. Melihat istrinya dipukul Cheppy geram dan turun dari mobil. Ia lalu untuk mengamankan istrinya. Namun usai memukul Suci, sang pelaku tetap kalap. Sopir Innova itu beberapa kali memukulkan senter yang dibawanya ke arah Cheppy. “Dia pukul pakai senter dan pakai tangan kosong juga,” kata Cheppy.

Melihat suasana itu, sejumlah warga dan pengendara berusaha melerai. Atas bantuan warga, penganiayaan tersebut berhasil dihentikan. Setelah dilerai, sang sopir pergi begitu saja dengan Kijang Innovanya. Cheppy yang tidak terima penganiayaan tersebut melapor ke Polsek Duren Sawit, Jaktim.

Kapolsek Duren Sawit, Kompol Titik Setyowati, membenarkan kejadian tersebut, dan pihaknya sudah menerima laporan penganiayaan dari Cheppy dan istrinya. “Sudah kita terima laporannya, korban juga sudah divisum dan di BAP,” kata Titik.

Hendrick Jagoan neon Keluarkan Pistol Di Bandara Soekarno Hatta Terkena Serangan Jantung Ketika Ditangkap Polisi


Petugas sekurity Bandara Soekarno Hatta merasa diancam senjata api walther 9mm oleh pengunjung di Terminal 2 keberangkatan bandara,Selasa (8/11).

Menurut Kapolres Kota Bandara Soetta, Kombes Reynhard Silitonga kasus itu bermula ketika Hendrick,64 memarkir mobilnya di jalur jalan Terminal 2.pada Senin malam (7/11) sekitar pk.22.30.

Petugas sekurity kemudian menegur Hendrick agar memindahkan kendaraannya. Atas teguran itu Hendrick marah dan mengeluarkan senjata api berisi peluru karet ditaruh di atas dasboard mobil. “Kalo mobil mau digembok silahkan saja,”ucap Henrick.

Atas kejadian ini Abdilah melaporkan ke Polres Kota Bandara Soetta. “Kami menyita senjata api dan peluru milik Hendrick untuk barang bukti,”jelas Kasatreskrim Kompol Roberto Gom gom Pasaribu,Sik. sambil menyebutkan Hendrick belum bisa diperiksa karena sakit jantung dirawat di rumah sakit usai dibawa ke Polres Bandara