Monthly Archives: November 2014

Daftar Lima Artis Ibukota Jalan Tes HIV Secara Sembunyi Sembunyi


Lima artis Ibu Kota dikabarkan menjalani voluntary counseling test (VCT) di Kota Salatiga, Jawa Tengah. VCT adalah serangkaian tes untuk memastikan apakah seseorang sudah positif terinfeksi HIV atau tidak.

Hal itu diungkap oleh aktivis HIV/AIDS Kabupaten Semarang, Andreas Bambang Santoso (56), Kamis (27/11/2014) siang, di Ungaran. Kelima artis dari Jakarta tersebut menghubungi dirinya, yang kebetulan berdomisili di Kota Salatiga, untuk berkonsultasi mengenai seluk-beluk penyakit HIV/AIDS dan penanganannya.

Namun, Andreas yang akrab dipanggil Babe itu menolak untuk membuka indentitas kelima artis tersebut. “Mereka rela datang menemui saya untuk bertanya-tanya sekaligus tes VCT. Mungkin lebih privasi, dibandingkan seandainya berkunjung ke rumah sakit atau klinik di Jakarta,” ujar Babe.

Sebagai aktivis atau relawan HIV/AIDS yang sudah terjun ke lapangan selama berpuluh-puluh tahun, Babe sangat mengapresiasi inisiatif kelima artis tersebut. “Yang jelas privasi lebih terjaga. Guna mendukung langkah ini, saya bekerja sama dan melaporkan hasilnya ke klinik yang sudah biasa jalan bareng dengan kami,” imbuhnya.

Babe menambahkan, selama tiga bulan terakhir, dia melakukan pelayanan VCT mandiri (non-klinik). Setidaknya, ada 30 orang yang dites dan hasilnya negatif. Selain kelima artis dari Jakarta tersebut, juga terdapat seorang pramugari dari Yogyakarta dan seorang anggota TNI.

Pangdam Bukit Barisan dan Dandim 0316/Batam Dicopot Karena Baku Tembak TNI Polri


Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Gatot Nurmantyo mencopot jabatan Pangdam I/Bukit Barisan Mayor Jenderal Winston Simanjuntak dan Dandim 0316 Batam Letkol Inf Josep Tarada Sidabutar. Keduanya dicopot karena bentrok antara TNI dan Polri di Mako Brimob Kepulauan Riau beberapa waktu lalu hingga menewaskan seorang personel TNI.

“Di posisi tentara sudah ada. Komda I, panglimanya sudah diganti. Dandim juga diganti,” ujar Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu seusai pertemuan Panglima Kodam di Istana Bogor, Jumat (28/11/2014). Ryamizard mengatakan bahwa pemecatan itu sudah sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo. Presiden ingin agar kasus Batam tidak terulang lagi.

“Beliau tegaskan, kalau harus pindah, ya dipindahkan. Kalau harus dihukum, ya dihukum. Harus dipecat, ya dipecat. Itu tegas tadi Pak Presiden,” imbuh Ryamizard.

Agar kasus serupa tidak terulang, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat itu menekankan pentingnya kedekatan komandan dan prajuritnya. Dia mengaku memiliki pengalaman yang mirip dengan kasus di Batam saat ia masih bertugas di Sumatera Utara dan memecat 20 anggotanya. Untuk memecat para anggota, kata Ryamizard, komandan harus bisa menjelaskan bahwa tindakan anak buahnya salah dan harus ada konsekuensi hukum yang wajib diterima.

“Saya bilang, ‘Hei prajurit, saya pemimpin kamu, pemimpin harus cinta dan sayang pada anak buah. Kalau saya tidak sayang kamu, saya bukan pemipmin. Tapi besok ada 20 orang di antara kalian akan dipecat. Bukan saya yang pecat, melainkan hukum yang berkata begini. Saya harus terima, dan kamu harus terima.’ Selesai sudah,” ujar Ryamizard.

Presiden Joko Widodo juga mengingatkan kembali perlunya sinergi antara TNI dan Polri. Secara khusus, Jokowi menegaskan bahwa bentrok di TNI dan Polri tidak boleh terulang. Jokowi menyampaikan hal tersebut seusai pertemuan dengan panglima daerah seluruh Indonesia di Istana Bogor, Jumat.

“Saya tadi juga sampaikan, friksi seperti yang ada di Batam jangan sampai terjadi lagi. Kita harus tegas, sesuatu yang memang sulit untuk diluruskan,” kata Jokowi. Dia meminta kedua institusi secepatnya menemukan solusi. Menurut Jokowi, persoalan TNI dan Polri tidak akan terjadi apabila komandan dan prajurit di kedua lembaga itu sudah sering bertemu.

“Tak hanya komandan-komandannya, tetapi juga prajurit, anak buah, harus saling ketemu sehingga kita semua merasa satu sehingga rukun, sehingga tidak ada lagi bentrokan, damai semuanya,” kata Jokowi.

Jakarta Diprediksi Akan Terendam Banjir Pada Minggu Ketiga Januari Dan Luasnya Akan Bertambah 15 Persen Dari Tahun Lalu


Memasuki musim hujan ini, kawasan Ibu Kota dihantui bencana banjir tahunan yang kerap melanda sebagian wilayah Jakarta. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksi puncak banjir akan melanda kawasan Jakarta pada awal Januari 2015 nanti. “Ancaman banjir di Jakarta terjadi pada awal minggu ketiga Januari 2015, dengan prediksi penambahan 15 persen daerah terdampak,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya kepada detikcom, Senin (1711/2014).

Sutopo mengatakan, prediksi banjir itu berdasar prakiraan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) terkait puncak hujan lebat yang diperkirakan terjadi pada minggu ketiga Januari 2015 sampai dengan akhir Minggu kedua Februari 2015. “Skenario yang dikembangkan dalam Rencana Kontinjensi ini adalah kejadian banjir Tahun 2014/2015,” ungkapnya.

BNPB sendiri memperkirakan, sebaran banjir 2015 nanti akan berdampak pada 37 kecamatan, 125 Kelurahan dan 634 RW dengan jumlah penduduk yang terdampak banjir sekitar 276.999 Jiwa. “Jumlah penduduk risiko tinggi diperkirakan 24.130 Jiwa atau 25% dari total pengungsi update data oleh Dinas Kesehatan,” imbuh Sutopo.

Sementara untuk wilayah terdampak banjir tahun 2015 mendatang, masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Catatan BNPB, wilayah Jakarta Timur masih menjadi wilayah yang paling rawan terdampak banjir pada tahun mendatang. Sementara berdasarkan hasil rekapitulasi data laporan Pusdalops BPBD tahun 2014, wilayah Jakarta Timur menjadi wilayah yang paling rentan terdampak banjir, di mana banjir menggenangi 10 kecamatan, 35 kelurana, 168 RW dan 607 RT di wilayah Jakarta Timur.

Selanjutnya, 10 Kecamatan, 30 Keluraan, 83 RW dan 263 RT di wilayah Jakarta Selatan terdampak banjir. Kemudian, di wilayah Jakarta Barat, 8 kecamatan, 25 kelurahan, 151 RW dan 411 RT terdampak banjir.

Di wilayah Jakarta Utara, terdapat 6 kecamatan, 25 kelurahan, 194 RW dan 288 RT terdampak banjir. Sedangkan di wilayah Jakarta Pusat, banjir menggenani 3 kecamatan, 10 kelurahan, 38 RW dan 168 RT.

“Sementara untuk perkiraan risiko penduduk wilayah terdampak banjir mencapai total 122.417 jiwa,” pungkasnya.

Tanah Longsor Pemakan Korban Jiwa Terbesar di 2014


Memasuki akhir tahun, musim hujan mulai tiba. Curah hujan yang lebat menjadi salah satu penyebab terjadinya longsor. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama 2014 ini telah terjadi 337 musibah longsor yang memakan korban jiwa sebanyak 267 orang. Sehingga, hal ini harus mendapat perhatian lebih serius lagi dari seluruh pihak.

“Longsor menjadi bencana yang menimbulkan korban jiwa terbesar selama 2014. Daerah yang terlanda longsor umumnya tidak luas dan menyebar luas di seluruh wilayah Indonesia yang bertopografi curam,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, melalui pesan singkatnya, Minggu (23/11/2014) dini hari.

Dia mengungkapkan, mustahil bila pemerintah membangun talud di seluruh daerah rawan longsor untuk meminimalisir kejadian tersebut. Pasalnya, ada 274 kabupaten/kota tercatat ada di kategori daerah bahaya sedang-tinggi terhadap longsor di Indonesia.

“Ada 124 juta jiwa penduduk yang terpapar dari bahaya sedang-tinggi dari longsor. Umumnya korban longsor adalah masyarakat yang kelas ekonominya rendah yang menempati daerah-daerah rawan longsor. Terbatasnya kemampuan untuk memproteksi diri dan lingkungannya, menyebabkan masyarakat selalu terancam dari longsor,” tutupnya.

Relokasi Masyarakat Di Daerah Rawan Bencana Alam Terkendala Perizinan Pemerintah


Pasca kehadiran Presiden Joko Widodo ke kawasan Gunung Sinabung, berbagai kementerian dan lembaga langsung bersinergi melakukan relokasi bagi warga. Proses relokasi ini sempat terhambat cukup lama karena masalah perizinan. Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, kendala relokasi tak hanya soal perizinan. Namun juga erat kaitannya dengan budaya dan kemauan masyarakat.

“Kesuksesan relokasi tergantung masyarakatnya,” kata Sutopo dalam jumpa pers di Kantor BNPB, Jl Juanda, Jakarta Pusat, Jumat (31/10/2014). Sutopo mencontohkan proses relokasi pasca erupsi Gunung Kelud di Jawa Timur. Proses relokasi yang melibatkan lebih dari 50 ribu warga ini berlangsung cukup efektif.

Menurut Sutopo, para korban erupsi Gunung Kelud tersebut dengan suka rela kembali ke rumahnya setelah mengungsi selama seminggu. Mereka bahkan tak memanfaatkan kendaraan yang disediakan pemerintah dan memilih menyewa kendaraan sendiri. “Waktu mereka lihat rumah hancur, mereka cuma minta genteng. Lalu kami siapkan 2 ribu lebih genteng, dan mereka bekerjasama dengan TNI membangun rumahnya,” ucap Sutopo.

Menurut Sutopo, para korban erupsi Gunung Kelud memiliki ‘willingnes’ atau kemauan yang kuat untuk memperbaiki nasibnya. Mereka juga menyadari bahwa bencana tersebut suatu saat akan menjadi berkah yang menyuburkan lahan-lahan pertanian mereka. “Dana yang kami habiskan hanya Rp 42 miliar untuk proses relokasi bencana sebesar itu. Hemat sekali,” katanya.

Sementara itu, yang terjadi dengan korban erupsi Gunung Sinabung cukup berbeda. Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan seng kualitas terbaik untuk membangun rumah, namun proses relokasi belum juga selesai.

“Menurut salah satu survei di Universitas Gajah Mada, semakin banyak pemerintah memberi bantuan untuk warga pasca bencana, willingnes mereka semakin rendah. Tapi masak kita mau menunda-nunda bantuan,” tuturnya.

Infografis Antisipasi Bencana Alam Per Provinsi Di Indonesia Versi BNPB


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) meluncurkan buku Infografis Provinsi Wilayah. Buku panduan ini dibuat sebagai bentuk antisipasi dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana dan respon kemanusiaan.

“Data dasar sangat penting dalam setiap tahapan dalam penanggulangan bencana. Dengan publikasi buku ini diharapkan bisa berkontribusi untuk pemerintah, pelaku kemanusiaan, dan masyarakat umum lain,” kata Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, Wisnu Wijaya di sela-sela seminar dan launching buku infografis bencana dan antisipasi bencana di Hotel Four Seasons, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (27/11/2014).

Wisnu menjelaskan sudah seharusnya Indonesia punya buku panduan terkait data infografis provinsi wilayah. Sebagai negara yang statusnya rawan gempa, masyarakat punya pegangan dalam mengantisipasi bencana. Menurutnya, peristiwa bencana Tsunami di Aceh dan sekitarnya pada 2004 lalu telah membuka kesadaran masyarakat akan bahaya bencana. Sejak bencana itu, mental masyarakat Indonesia dinilai lebih tangguh dalam menghadapi bencana.

“Kejadian bencana tsunami 10 tahun lalu itu membuat kita mengalami revolusi mental. Kita benar-benar menghayati korban kita yang paling banyak. Tidak dibayangkan korban sebanyak itu. Luar biasa bagaimana bencana ini,” sebutnya.

Buku infografis ini bersumber dari hasil sensus penduduk dan survei skala besar seperti Sendus Penduduk 2010 dan Potensi Desa 2011. Data ini kemudian diolah dan disajikan dengan tujuan untuk membantu penyusunan rencana dan analisis yang lebih tepat dalam menentukan jumlah populasi, termasuk kelompok rentan dan prasarana umum yang terdampak bahaya.

Dalam buku ini selain data wilayah provinsi, terdapat juga data ketahanan pangan hingga kejadian bencana alam pada 2008-2012. Selain BNPB dan BPS, buka panduan ini juga merupakan hasil dukungan lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) antar lain seperti United Nations Population Fund (UNFPA), United Nations Development Programmme (UNDP), dan OCHA Indonesia.

Daftar Daerah Di Jawa dan Sumatera Yang Rawan Banjir dan Longsor


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat selain Jakarta, terdapat sejumlah daerah yang rawan banjir di awal tahun 2015. Beberapa daerah itu ada di Sumatera dan Jawa. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan daerah yang rawan banjir berdekatan dengan sungai. Wilayah Sumatera, daerah rawan banjir terdapat di Kota Medan, Riau, dan Bengkulu.

“Pertama kota Medan, kedua wilayah Riau itu sepanjang Sungai Siak, Kampar, Rokan. Wilayah Jambi di Sungai Batanghari,” kata Sutopo di Hotel Four Season, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (27/11/2014). Adapun untuk wilayah Jawa daerah yang menjadi rawan banjir adalah Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Menurut Sutopo, kalau BNPB memprediksi puncak banjir di daerah Jawa dan Sumatera ini terjadi pada Januari 2015.

“Jakarta itu Sungai Ciliwung dan Pesangrahan, dan Angke. Di Banten itu sekitar Sungai Ciujung, Ciliman, Cidurian, dan Cisadane. Jawa barat sungai Citarum, Cimanuk. Sedangkan Jawa Tengah itu sungai Comal, Pamalih, Jeragung, Serayu, Bogowonto, dan Bengawan Solo. Kalau Jawa ada di Sungai Bengawan Solo dan Duduk Sampeyan,” katanya.

Selain banjir, potensi bencana longsor kemungkinan besar terjadi pada awal tahun ini. Sekedar informasi, BNPB mencatat mulai 1 Januari 2014 hingga hari ini telah terjadi 1136 bencana puting beliung, longsor, dan banjir. “Di mana dampaknya 355 orang tewas, lebih 1,7 juta jiwa menderita dan lebih dari 25 ribu rumah rusak. Longsor menjadi bencana yang paling mematikan pada periode 2014 ini,” katanya.

“Bencana longsor itu skalanya kecil tapi mematikan. Banyak kejadian di periode 2014 ini. Daerah yang terancam itu di Bukit Barisan dari Aceh, Sumatera Utara, Barat, Bengkulu. Ada Jawa bagian tengah, dan Selatan yang merupakan bagian perbukitan. NTT juga berpotensi,” ujar Sutopo menambahkan.

Sementara, terdapat beberapa daerah yang perlu mendapat perhatian khusus terkait ancaman bencana lahar dingin. Sejumlah daerah itu antara lain masyarakat yang tinggal berdekatan dengan Gunung Sinabung di Sumatara Utara, Gunung Merapi di Yogyakarta, Gunung Semeru dan Gunung Kelud di Jawa Timur.

“Ada juga Gunung Rokatenda di NTT, Gunung Lokon di Sulut, Gunung Gamalama di Maluku Utara. Karena terdapat material-material hasil erupsi yang ada di atas gunung, ketika terjadi curah hujan berpotensi meluncur jadi lahar dingin. Apalagi yang di Sinabung yang terus masih mengeluarkan erupsi,” tuturnya.