Monthly Archives: November 2010

Pemerintah Jawa Tengah Akan Hijaukan Gunung Dieng, Muria dan Clering


Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memprioritaskan penghijauan di Dataran Tinggi Dieng dan pemulihan daerah aliran sungai Bengawan Solo. Adapun khusus Jawa Tengah bagian timur, Pegunungan Muria dan Cagar Alam Gunung Clering menjadi sasaran penghijauan.

Program-program itu terungkap dalam pencanangan Program Penanaman Satu Miliar Pohon di Obyek Wisata Benteng Portugis, Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Selasa (30/11). Pencanangan itu dihadiri Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo dan sejumlah bupati di wilayah eks-Karesidenan Pati.

Bibit Waluyo mengaku prihatin dengan para petani kentang di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo. Pemerintah telah berulang kali mengimbau dan menyosialisasikan penanaman kentang yang tidak merusak lingkungan, namun para petani mengabaikan.

Misalnya, pemerintah telah meminta petani untuk membuat lahan kentang sistem terasering. Pematangnya bisa ditanami ko-pi, sedangkan lereng-lerengnya ditanami pepohonan berakar kuat.

”Kami sudah membuatkan lahan percontohan, tetapi tidak tahu mereka melanjutkannya atau tidak. Padahal, kalau patuh, mereka dapat memanen kentang sekaligus kopi. Untuk mewujudkannya memang butuh kesadaran berlingkungan dan kerja keras,” kata Bibit.

Dalam kesempatan itu, Bibit bersama Bupati Jepara Hendro Martojo, Bupati Kudus Musthofa, dan Bupati Pati Tasiman, menandatangani nota kesepahaman pemulihan daerah aliran sungai (DAS) Kawasan Muria. Bibit juga mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 522/71/2010 tentang Pembentukan Forum DAS Kawasan Muria.

Bibit menyerahkan surat keputusan itu kepada Ketua Forum DAS Kawasan Muria Hendy Hendro. Bibit meminta kepada forum dan kepala daerah yang mempunyai wilayah di kawasan Muria untuk berkomitmen memulihkan daerah itu.

Menanggapi hal itu, Bupati Jepara Hendro Martojo mengatakan, Pemerintah Kabupaten Jepara akan bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam untuk memulihkan kawasan Muria di Jepara. Selain itu, Pemkab Jepara juga sedang merehabilitasi kawasan Cagar Alam Gunung Clering dan hutan pantai.

Enam petinggi di kawasan Cagar Alam Gunung Clering telah bersepakat untuk menghijaukan lahan kritis dan melestarikan satwa. Hal itu telah ditindaklunjuti dengan peraturan desa tentang pemeliharaan dan pelestarian sumber daya alam desa.

”Lahan kritis di Jepara seluas 51.895,20 hektar. Saat ini yang sudah dipulihkan seluas 22.820,38 hektar atau baru 43,97 persen dari luas keseluruhan,” kata Hendro

Advertisements

7 TKW Di Makassar Dipaksa Pakai Jilbab


Rumah penampungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal di Kampung Makasar, Jaktim, Selasa (30/11) siang, digerebek. Tujuh calon Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Nusa Tenggara Timur dibawa ke kantor polisi.

Kasubnit Pengamanan Pencegahan TKI Ilegal BNP2TKI, Kombes Yunarlim Munir, mengatakan penggrebekan berdasarkan laporan warga yang menyebut rumah itu digunakan untuk penampungan TKI ilegal.

Selain itu, keluarga calon TKI yang berada di Kupang juga menyebutkan pengiriman TKI diberangkatkan melalui Bandara Hussein Satranegara, Bandung, bukan melalui Bandara Soekarno-Hatta. Keluarga juga keberatan karena TKW yang diberangkatkan diharuskan mengenakan jilbab padahal non-muslim.

Tujuh TKW yang diamankan petugas, rencananya akan diberangkatkan Rabu (1/12) menyusul sembilan TKW yang sudah diberangkatkan sebelumnya.

Hence, 14, satu calon TKW, dengan Bahasa Indonesia patah-patah mengaku berada di penampungan selama sebulan. Rencananya, mereka bekerja di Malaysia dengan gaji 600 ringgit atau sekitar Rp2,5 juta. “ Di penampungan tak ada pelatihan,” kata remaja buta huruf yang yang hanya bersekolah sampai kelas 1 SD ini.

Polisi juga mengamankan Herman Manave dan Listyanti, dua sponsor alias calo yang membawa calon TKI dari NTT. “Untuk sampai Malaysia, setiap orang mengeluarkan biaya Rp5 juta,” jelas Yunarlim Munir.

Sementara itu, 20 calon TKI juga digelandang ke Polsek Jatinegara dari sebuah tempat penampungan lainnya. Diketahui, mereka bukan TKI ilegal, tapi surat-surat kendaraan yang mengangkut mereka tak lengkap.

Letusan Gunung Bromo Semakin Membesar dan Meningkat


Material vulkanik yang keluar dari kawah Gunung Bromo terpantau dari udara dengan pesawat Cassa C-212-200 milik TNI Angkatan Udara yang dipiloti Letkol (Pnb) Meka Yudanto dan kopilot Mayor (Pnb) Yose Rida di atas Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Senin (29/11). Ketinggian material vulkanik yang keluar dari kawah Gunung Bromo mencapai 800 meter.

Ketinggian lontaran material vulkanik Gunung Bromo terus meningkat. Jika Jumat (26/11) lontaran material hanya mencapai ketinggian 500 meter, mulai Senin dini hari letusan Gunung Bromo meningkat hingga menghasilkan lontaran material setinggi 800 meter.

Kepala Bidang Pengamatan Gempa Bumi dan Gerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Gede Suantika di Dusun Cemaralawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur, Senin, mengatakan, selain ketinggian lontaran material vulkanik bertambah, kepulan asap abu-abu yang dihasilkan Gunung Bromo juga lebih pekat. Arah asap masih mengarah ke barat daya, tepatnya ke arah Kabupaten Malang.

Bandara Malang tutup

Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Bromo langsung melumpuhkan penerbangan dari dan ke Malang. Juru bicara Kementerian Perhubungan, Bambang S Ervan, kemarin, mengatakan, pihaknya memutuskan menutup penerbangan menuju Bandara Abdurrahman Saleh di Kota Malang.

Penutupan bandara ditetapkan mulai Senin pukul 03.19 hingga hari Sabtu (4/12) pukul 00.00. ”Demi keselamatan penerbangan, pemerintah menutup bandara itu. Tapi, keputusan ini hanya untuk penerbangan komersial, kami tak berhak untuk mengatur penerbangan militer,” kata Bambang.

Penutupan bandara hingga lima hari itu supaya ada kepastian bagi penumpang. ”Jika peninjauan dilakukan per hari malahan membingungkan jadwal penerbangan. Lagi pula Badan Vulkanologi menginformasikan kondisinya diperkirakan baru akan normal hari Jumat,” kata Bambang.

Operator bandara PT Angkasa Pura II menegaskan, mulai Senin pukul 10.20 hingga Sabtu (4/12) pukul 17.00, Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, tidak melayani penerbangan dari Jakarta menuju Malang.

Di Jakarta, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf berharap masyarakat mematuhi rambu, peringatan, dan jalur evakuasi yang ditetapkan para ahli dan petugas lapangan agar ancaman erupsi Gunung Bromo tidak menimbulkan korban.

Meski saat ini Gunung Bromo masih berstatus Awas dalam radius 3 kilometer, petugas-petugas telah mempersiapkan ”skenario” apabila status Awas meningkat hingga radius 6 kilometer dan 10 kilometer. Keduanya menyampaikan harapan mereka pada kesempatan terpisah seusai rapat koordinasi kebijakan penanggulangan kemiskinan di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Senin.

Sejak Senin meningkat

Gede Suantika mengatakan, sejak Senin pukul 00.00 hingga pukul 06.00 terjadi gempa vulkanik delapan kali, dengan amplitudo getaran 12-36 milimeter (mm) dan berlangsung 10-28 detik. Sementara gempa tremor juga terjadi terus-menerus dengan amplitudo hingga 35 milimeter.

Selanjutnya, mulai pukul 06.00 hingga 12.00 kembali terjadi delapan kali gempa vulkanik dengan amplitudo yang lebih besar, yakni 22-38 mm. Gempa ini berlangsung lebih lama, yaitu 22-31 detik, disertai gempa tremor beramplitudo 20-30 mm. ”Letusan masih terus-menerus terjadi dengan ketinggian lontaran material vulkanik kini mencapai 800 meter. Dari pandangan mata, hujan abu terlihat di tangga menuju kawah serta bagian utara Gunung Batok yang sekarang telihat hitam,” kata Suantika.

Berdasarkan pantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, secara visual kepulan asap Gunung Bromo, sejak Minggu dini hari kemarin, lebih tinggi. Artinya, material letusan yang dikeluarkan lebih banyak.

Pantau debu dan gas

Menurut teknisi Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular Surabaya, Dwi Sulaksono, hasil pemantauan kadar udara sejak Jumat lalu menunjukkan, kadar debu dan gas di daerah terdampak hujan abu, seperti Poncokusumo di Kabupaten Malang dan Penanjakan di Kabupaten Probolinggo, masih di bawah ambang batas. ”Sampai sekarang belum ada ancaman serius dari debu maupun gas vulkanik Gunung Bromo,” kata Dwi.

Meski demikian, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional Syafii Maarif mengatakan, pihaknya punya hak paksa untuk mengamankan dan menyelamatkan masyarakat. ”Silakan menyaksikan Gunung Bromo, tapi tidak perlu masuk ke lautan pasir,” ujarnya.

Kepala Polres Probolinggo Ajun Komisaris Besar Zulfikar Tarius mengakui, pihaknya memiliki kendala untuk mengontrol masyarakat yang beraktivitas di kaldera Bromo. Sebab, sebagian masyarakat nekat melintasi kaldera untuk mempersingkat waktu perjalanan. ”Kami sudah menutup lima titik akses menuju kaldera dari Probolinggo,” kata Zulfikar.

Mayat Ditemukan Di Kolong Jalan TB Simatupang dan Tengkorak Tanpa Badan Di Depok


Warga di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (29/11), dikejutkan adanya mayat laki-laki dengan pisau menancap di perutnya yang ditemukan di bawah jalan layang TB Simatupang.

”Dari kondisi mayat, diduga ini adalah korban pembunuhan,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Budi Irawan, Senin.

Mayat laki-laki itu ditemukan warga setempat dalam keadaan tertutup koran pada Senin pagi. Seusai melakukan olah kejadian perkara, polisi segera membawanya ke Rumah Sakit Fatmawati sekitar pukul 10.00. Polisi menemukan KTP korban yang kemudian diketahui bernama Edwin, asal Padang, Sumatera Barat.

Dari hasil penyelidikan sementara, Edwin berusia sekitar 40 tahun dan beralamat di Maruyung, Pondok Labu. Dari keterangan beberapa saksi, korban kemungkinan adalah pedagang di Pasar Mede, Fatmawati. Korban juga diketahui pernah tinggal mengontrak di sekitar lokasi kematiannya sebelum pindah ke Maruyung.

Budi menambahkan, polisi belum bisa memastikan dugaan apa pun tentang kejadian ini. ”Semua masih dalam penyelidikan,” katanya.

Tengkorak

Seorang pencari rumput bernama Jamin (59) menemukan tengkorak kepala manusia tanpa rahang di Jalan Tumaritis RT 3 RW 4, Kelurahan Harjamukti, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok. Melihat kondisi tengkorak itu, polisi menilai, terdapat sejumlah kejanggalan. Di bagian kanan tengkorak kepala manusia itu retak, sementara gigi yang ada di tengkorak tinggal satu. Polisi menduga, tengkorak kepala manusia itu korban mutilasi.

”Tengkorak kepala manusia ini tidak wajar. Jika wajar, ke mana bagian kepala pemilik tubuh itu? Lalu, mengapa harus dibungkus plastik berlapis, mengapa ada di lahan kosong?” kata Kepala Unit Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Cimanggis Ajun Komisaris Narta.

Jamin menemukan tengkorak di lahan kosong itu pada Senin pukul 10.00. Ketika menyabit rumput di lahan itu, ia menemukan bungkus plastik warna biru tergeletak. Jamin kaget, di dalam bungkusan itu terdapat tengkorak manusia tidak lengkap berbau anyir dan ada belatungnya.

Narta menduga, tengkorak tersebut dibuang orang dari badan jalan. Untuk menguak misteri tengkorak itu, petugas identifikasi Polres Metro Depok membawa tengkorak tersebut ke Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur.

Selanjutnya, ahli forensik yang akan memastikan jenis kelamin ataupun usia tengkorak tersebut. ”Kami sedang membuat laporan penemuan ini ke Polda Metro Jaya. Barangkali penemuan tengkorak ini ada hubungannya dengan kasus mutilasi di tempat lain,” tutur Narta.

Untuk sementara, petugas Unit Reserse Kriminal Polsek Cimanggis baru meminta keterangan Jamin.

Lokasi penemuan tengkorak tersebut sepi dari aktivitas warga. Lahan kosong itu dibiarkan tidak terawat. Kondisi lahan tersebut ditumbuhi rumput, ilalang, ubi, dan pisang. Saat berada di tengah lahan kosong itu, aktivitas warga di permukiman ataupun di jalan juga tidak terlalu terlihat.

Slamet (48), warga Kecamatan Cimanggis, mengaku belum mendengar penemuan tengkorak kepala manusia di wilayahnya. Wilayah Cimanggis, katanya, merupakan wilayah padat penduduk. Lahan kosong yang ada berada di sekitar perumahan warga yang mudah terpantau. Kalaupun ada dugaan korban mutilasi, dia yakin kejadiannya berada di luar wilayah Depok

Penjualan Usus Ayam Berformalin Meningkat Di Jakarta


Penjual usus ayam berformalin harus mendapatkan sanksi hukum yang tegas agar penjualan makanan berbahaya kepada konsumen tidak terulang. Keputusan tersebut menunjukkan ketegasan dan kesungguhan pemerintah melindungi kesehatan konsumen.

Temuan atas usus ayam berformalin menyeruak sepanjang pekan lalu. Hari Kamis, polisi mendapati usus ayam berformalin seberat 650 kilogram di sebuah rumah potong ayam di Jakarta Barat. Usus itu dipasarkan oleh pelaku di Pasar Tambora. Seorang pemilik berinisial LTF ditetapkan sebagai tersangka.

Hari Sabtu, pemerintah merazia sejumlah pasar dan mendapati usus berformalin dengan berat total 24,5 kilogram. Usus yang mengandung bahan berbahaya itu ditemukan di Pasar Serdang, Kemayoran, serta di kelompok Arella, Jalan Penghulu Kelurahan Cipulir, Kebayoran Lama.

Selain itu, petugas juga menyita 5 liter formalin di Pasar Cipete. Formalin itu diduga digunakan untuk mengawetkan makanan. Berbeda dengan penanganan temuan usus berformalin di Jakarta Barat, pemerintah hanya memberikan peringatan kepada para penjual dan menyita usus berformalin itu.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Sudaryatmo, Senin (29/11), mengatakan, penggunaan formalin untuk mengawetkan makanan mentah sudah sering terjadi, termasuk pada kasus usus yang diawetkan dengan formalin.

”Razia makanan segar perlu sering dilakukan untuk mencegah peredaran makanan berformalin,” kata Sudaryatmo.

Pemerintah perlu menggandeng kepolisian sehingga pelaku yang tertangkap bisa langsung diproses secara hukum. ”Butuh penegakan hukum yang tegas untuk menindak penjual atau produsen yang menjual bahan makanan dengan formalin,” ujar Sudaryatmo.

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, konsumen mempunyai sejumlah hak, antara lain berhak mendapatkan kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi makanan.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta Ipih Ruyani mengatakan, penjual usus ayam yang berformalin diberi sanksi berupa peringatan. Apabila pelaku mengulangi perbuatan mereka hingga tiga kali, pemerintah baru mengambil langkah hukum.

Di sisi lain, Sudaryatmo berpendapat, pemerintah juga perlu menyediakan saluran pengaduan apabila masyarakat menemukan atau curiga dengan adanya makanan berpengawet formalin.

”Selama ini, masyarakat bingung harus mengadu ke mana jika mereka menemukan atau ragu dengan makanan yang dijual di pasar. Kalau ada saluran pengaduan, mereka bisa segera menyampaikan masalah ini kepada pemerintah dan pemerintah menindaklanjuti dengan merazia tempat yang dimaksud,” kata Sudaryatmo.

Pentingnya menindak tegas pengguna formalin untuk pengawetan bahan makanan juga datang dari Guru Besar Ilmu Kedokteran Komunitas dan Keluarga Universitas Indonesia Firman Lubis.

”Pelaku perlu diberi sanksi tegas karena penggunaan formalin sangat membahayakan kesehatan manusia. Kalau tidak diberi sanksi keras, kejadian seperti ini akan terulang,” ujarnya.

Firman mengatakan, selain pada kasus usus, penggunaan formalin untuk bahan pengawet makanan juga beberapa kali ditemukan dalam makanan mentah, seperti ikan, daging ayam, daging sapi, bahkan juga tahu dan tempe.

Tidak hilang

Formalin yang digunakan untuk pengawet bahan makanan ini tidak hilang kendati makanan sudah dicuci. ”Makanan yang sudah kena formalin tidak bisa dibersihkan meski sudah dimasak sekalipun,” kata Firman.

Efek formalin yang terkonsumsi manusia tidak langsung terasa. Zat berbahaya itu mengendap dan terakumulasi.

Penyakit akibat formalin bisa saja terdeteksi bertahun-tahun setelah orang mengonsumsi makanan. Sejumlah penyakit bisa timbul akibat formalin dalam tubuh, antara lain kanker.

Di sisi lain, calon konsumen juga perlu mengenali makanan berformalin, antara lain makanan itu bertekstur lebih kenyal serta tidak dihinggapi lalat kendati makanan itu berbau amis.

Apabila dibiarkan dalam suhu ruangan, makanan itu juga tidak membusuk bahkan hingga tiga hari kemudian. Kemampuan pengawetan formalin ini, menurut Firman, yang juga menjadi pilihan bagi penjual bermodal pas-pasan untuk mengawetkan makanan segar.

”Apalagi, sebagian pedagang tidak punya mesin pembeku makanan yang bisa menampung bahan makanan yang tidak laku terjual pada hari itu,” katanya.

Masalah pengawetan ini, menurut Firman, juga perlu disosialisasikan kepada penjual agar mereka tidak lagi memakai bahan berbahaya.

DKI dan Polda Metro Jaya Bentuk Satgas untuk Atasi Kemacetan dan Sterilisasi Jalur Busway


Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Polda Metro Jaya menandatangani nota kesepahaman untuk membentuk satuan tugas bersama guna mengatasi kemacetan, Senin (29/11) di Balaikota DKI Jakarta. Satuan tugas itu akan melanjutkan sterilisasi di empat jalur bus transjakarta dan menertibkan parkir liar.

Nota kesepahaman itu ditandatangani Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Sutarman. Sebanyak 468 petugas gabungan dari Polda Metro, Dinas Perhubungan DKI, Garnisun TNI, dan satuan polisi pamong praja disiapkan menjadi anggota satgas anti-kemacetan itu.

Fauzi Bowo mengatakan, sterilisasi koridor I, III, V, dan VI akan dilanjutkan karena terbukti efektif untuk memperlancar laju angkutan massal itu. Sterilisasi yang dilakukan sejak 2 Agustus itu membuat jumlah penumpang naik 20 persen, waktu perjalanan lebih cepat 28 persen, selang waktu kedatangan antarbus lebih cepat 15 persen, dan pelanggaran turun sampai 58 persen.

”Sterilisasi terbukti meningkatkan kinerja bus transjakarta sehingga akan dilanjutkan sampai tahun depan. Kesadaran masyarakat untuk tidak menyerobot jalur bus transjakarta juga meningkat sehingga harus dijaga,” kata Fauzi.

Menurut Sutarman, satgas itu juga diberi wewenang untuk memberikan surat bukti pelanggaran (tilang) kepada pengguna kendaraan yang parkir di sembarang tempat. Jika perlu, satgas tersebut juga diizinkan menggunakan mobil derek untuk memindahkan mobil yang parkir sembarangan dan menyebabkan kemacetan.

Berdasarkan pemantauan Polda Metro Jaya, 30 persen kendaraan yang diparkir di lokasi parkir liar memicu kemacetan parah di sekitar kawasan itu. Dengan demikian, penertiban parkir liar akan menjadi prioritas sampai tahun depan.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan, pada tahun 2011 satgas itu akan diarahkan untuk melakukan sterilisasi di 12 koridor bus transjakarta, mencegah pengendara sepeda motor berteduh di jembatan layang, dan mengatasi kemacetan di sejumlah perempatan.

Pada tahap awal, terdapat 14 perempatan yang menjadi fokus operasi untuk mengurai kemacetan parah. Para petugas akan ditempatkan secara rutin pada pagi dan sore hari untuk mengatur lalu lintas agar tidak macet.

Gunung Bromo Terus Keluarkan Asap Letusan dan Gempa Vulkanik Selalu Terjadi


Erupsi minor Gunung Bromo sepanjang Sabtu (27/11/2010) berlangsung hampir sepanjang hari. Sejak erupsi minor pada pukul 5.09 sampai berita ditulis sekitar pukul 17.00, kawah Bromo terus mengeluarkan asap kelabu tebal dan bergulung-gulung.

“Akumulasi energi masih cenderung naik,” kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Bromo Muhammad Syafi’i. Pada 27 November, tercatat 19 gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo maksimal 7-38 mm dan lama gempa 10-50 menit.

Tremor terjadi menerus dengan amplitudo mencapai 28 mm. Pada Sabtu pagi juga terdeteksi satu gempa vulkanik dalam dengan amplitudo maksimal 38 mm dengan gempa sekunder primer 5 mm dan lama 28 detik.

Deformasi Gunung Bromo juga terus terjadi. Sepanjang 13-27 November terjadi penggembungan 12 mikroradian. Secara kasat mata, kawah Bromo terus mengeluarkan asap kelabu kehitaman yang bergulung-gulung dengan intensitas berbeda-beda.

Sabtu pagi sampai siang, Gunung Bromo tampak jelas. Namun menjelang sore, gerimis dan kabut menutupi kawah. Sehari sebelumnya, Gunung Bromo meletus kecil pada pukul 17.22.

Saat itu asap kelabu kehitaman membubung sampai ketinggian 600-700 meter dari bibir kawah. Erupsi minor ini berlangsung selama 3 jam 56 menit.

Menurut Ketua Tim Tanggap Darurat Gunung Bromo Gde Suantika, ancaman terbatas di kaldera Bromo atau radius 3 km dari kawah.

Sejauh ini, masih belum diperlukan evakuasi dan aktivitas di ring I atau radius 3 km dari kawah masih normal. Kendati demikian, warga diminta tetap waspada. “Letusan yang terjadi sejak kemarin masih mungkin terjadi di hari-hari ke depan seperti pada letusan tahun 2000,” tutur Gde

Hingga siang ini, Sabtu, 27 November 2010, gempa tremor Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, masih terus terjadi. Getaran ini terdeteksi secara jelas dari Pos Pantau Bromo di Desa Ngadisari, Sukapura, Probolinggo.

“Sejak pukul 08.00 WIB tadi, tercatat 90 kali gempa vulkanik B. Dengan amplitudo maksimal 38 milimeter. Sementara lama gempa 5 per 25 detik,” kata M Syafii, Petugas Pemantau dan Pengawasan Gunung Bromo, kepada VIVAnews.com, Sabtu, 27 November 2010.

Gempa yang terjadi di gunung yang juga menjadi obyek wisata andalan Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS) ini juga dibarengi keluarnya asap tebal kehitaman.

“Ketinggiannya 600 sampai 700 meter dari bibir kawah gunung,” kata Syafii.

Begitu aktivitas gunung ini meningkat, pemerintah setempat mengeluarkan imbauan kepada warga, khususnya di sekitar Kecamatan Sukapura.

Dalam poster yang disampaikan kepada warga itu tertulis lima poin yang menjadi perhatian warga, terutama jika sewaktu-waktu Gunung Bromo benar-benar membahayakan keselamatan.

Kelima langkah itu, yakni (1) warga harus tetap tenang dan waspada terhadap perkembangan yang terjadi di Gunung Bromo. (2) Masyarakat wajib mengikuti petunjuk dan instruksi pemerintah. (3) Bila ada peringatan untuk evakuasi melalui sirine maupun kentongan, diharapkan segera mengikuti langkah-langkah yang telah disiapkan pemerintah. (4) Menuju arah evakuasi dan kendaraan yang telah disiapkan untuk kemudian dibawa ke Pos Tanggap Darurat di Desa Sukapura. (5) Saat evakuasi, hanya diperbolehkan membawa barang-barang penting atau surat berharga.