Category Archives: Pariwisata Bali

Wisata Kuliner Sajian Nasi Campur Khas Bali


Bali, yang mendapat julukan Pulau Dewata, dikenal dengan pesona pantai-pantainya yang eksotis. Bali juga memiliki kekhasan dengan sawah teraseringnya, terutama di wilayah dataran tinggi seperti di kawasan Ubud.

Tak hanya itu. Bali menyuguhkan kuliner yang mengundang selera. Rasanya tidak lengkap bertandang ke sebuah daerah wisata di Indonesia bila tidak mencicipi makanan khasnya. Itulah yang saya lakukan saat melancong ke Bali apa akhir tahun lalu. Dengan semangat menggebu, saya berkeliling mencari sajian masakan dengan menu utama nasi di tiga tempat wisata di Bali, yaitu kawasan Sanur, Denpasar, dan Ubud. Dari tiga tempat itu, saya menjajal empat menu masakan nasi campur khas Pulau Dewata.

Nasi lauk ikan goreng dengan sambal dan sup ikan
Di kawasan wisata Sanur terdapat Rumah Makan Mak Beng. Lokasinya berada di dekat tempat keberangkatan speedboat menuju Nusa Lembongan, Ceningan atau Peninda. Restoran itu tepatnya terletak di Jalan Hang Tuah. Restoran Mak Beng buka pukul 08.00 hingga pukul 21.00. Di tempat makan ini hanya ada dua menu yang ditawarkan, yakni ikan goreng dengan sambal dan sup ikan. Untuk satu paket ikan goreng, sup ikan, dan nasi ditambah sambal, dipatok Rp 88 ribu.

Nasi campur Bali
Masih di kawasan wisata Sanur, saya mencicipi nasi campur di warung Men (Ibu) Weti. Lokasi warung ini tak jauh dari Pantai Sanur. Makanan disajikan di beberapa baskom besar yang diletakkan satu meja. Isinya berupa sayuran, ayam betutu, ayam goreng, urap, sate lilit, kerupuk kulit ayam, ikan laut, dan telur, serta sambal khas Bali. Harga makanan tergantung pada pilihan lauknya. Rata-rata untuk satu porsi cukup ditebus dengan kisaran Rp 15 ribu.

Nasi Jinggo
Di Denpasar, saya mencari menu nasi jinggo di Jalan Gajah Mada. Awalnya disebut “jenggo” berarti 1500. Kini harganya dua kali lipat pada kisaran Rp 3000. Bungkusannya kecil karena isinya sekepal nasi ditemani mi, suwiran ayam, dan sambal.

Nasi Kadewat Ibu Mangku
Di Ubud, tepatnya di Jalan Raya Kadewat, terdapat rumah makan Ibu Mangku. Begitu masuk rumah makan yang berada di depan Pura Kadewat itu, Anda akan disambut dengan bunyi gamelan khas Bali. Sajian yang ditawarkan diletakan berderet di balik kaca. Saat itu, saya memilih menu nasi campur seharga Rp 20 ribu dan makan lesehan di balai-balai di tengah taman. Sungguh asyik.

Tarif Obyek Wisata Bali Tahun 2015 Naik 100 Persen


Awal 2015, tiket masuk beberapa obyek wisata di Kabupaten Karangasem, Bali naik hingga 100 persen. Obyek wisata Taman Soekasada, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem meningkat 75 persen. Kenaikan tiket masuk juga di obyek Taman Tirta Gangga, Desa Ababi, Kecamatan Abang, Karangasem.

Tak tanggung-tanggung, pihak pengelola Taman Tirta Gangga berencana menaikkan tiket masuk 100 persen. Besaran tiket masuk untuk wisatawan domestik (wisdom) dari Rp 5.000 menjadi Rp 10.000. Sedangkan untuk wisatawan mancanegara (wisman) dari Rp 10.000 menjadi Rp 20.000.

“Tapi kenaikannya mulai besok (hari ini, Kamis 1/1/2015),” ujar pengelola Taman Tirta Gangga yang enggan disebutkan namanya, saat ditemui, Rabu (31/12/2014). Meski ada rencana kenaikan harga tiket, namun beberapa wisatawan menyatakan hal yang wajar. “Tiket masuk dinaikkan. Para wisatawan tak ada yang mengeluh. Pengunjung tetap datang ke sini,” tambah seorang penjual di kawasan obyek wisata Taman Tirta Gangga.

Pantauan, para wisatawan baik wisdom maupun wisman silih berganti berdatangan ke obyek wisata Taman Tirta Gangga. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Menjelang Tahun Baru 2015 jumlah pengunjung ke Taman Soekasada, Desa Ujung Hyang, Karangasem, Bali mengalami peningkatan. Pantauan, pada Jumat (27/12/2014), beberapa pengunjung datang dari Bali dan luar Bali terlihat berlalu-lalang di sekitar taman. Ratusan pengunjung keliling di sekitar area taman.

Pengunjung mengatakan menikmati keindahan alam di taman itu. Ada juga yang mengaku datang khusus berlibur usai hari raya Natal. Abraham, pengunjung asal Depok, Jawa Barat, mengaku baru pertama kali berkunjung ke Taman Soekasada. Namun ia merasa bahagia bisa melihat peninggalan bersejarah kerajaan di Karangasem ini. Selain karena suasana terlihat ramai, panorama alam di sekitar taman dinilai indah. Abraham keliling taman yang luasnya mencapai belasan hektare itu.

”Wajar ramai pengunjung. Pemandangan di sekitar taman bagus sekali,” kata Abraham. Ia pun tak kalah dengan pengunjung lainnya. Saat keliling area taman ia beserta keluarga mengabadikan momen di sekitar taman. Dari balai Lunjuk, Bundar, hingga Kapal yang berada di atas Taman Soekasada. ”Buat kenang-kenangan,” tambahnya. Kepala Pengurus Taman Soekasada, I Nyoman Matal mengaku saat hari raya Natal dan menjelang Tahun Baru 2015 jumlah pengunjung mengalami pengingkatan. Hal ini terlihat dari pendapatan yang masuk diperoleh per hari.

Pihaknya mengaku peningkatan pengunjung menjelang tahun baru diperkirakan hingga ratusan orang. Menurut Matal, pengunjung terbanyak masih dari wisatawan lokal seperti dari Bali dan luar Bali, antara lain Jawa dan Sumatera. ”Sekitar 25-30 persen peningkatannya, tetapi pengunjung kebanyakan dari daerah di Bali,” ungkapnya. Masuk Taman ini akan dikenakan pungutan apabila membawa Kamera DSLR (kamera mahal) tanpa mendapat fasilitas apapun.

Pemerintah Timor Leste Adakan Kerjasama Pariwisata Dengan Pemprov Bali


Pemerintah Timor Leste mulai tertarik menjajaki kerja sama bidang pariwisata dan tenaga kerja dengan Pemerintahan Provinsi Bali. Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyambut baik rencana kerja sama ini.

“Saya menyambut baik penjajakan ini. Orang Bali banyak yang memiliki ikatan psikologis dengan Timor Leste, oleh karenanya kita harus saling membantu. Timor Leste memiliki potensi yang tinggi dalam bidang parwisata, namun membutuhkan suatu sentuhan yang paham akan pariwisata untuk melengkapi itu semua,” kata Pastika saat menerima kunjungan Menteri Muda Tenaga Kerja Republik Demokrasi Timor Leste, Ilidio Ximenes da Costa, di Denpasar, Bali, Senin (29/12/2014).

Ilidio Ximenes da Costa di ruang kerjanya, menyampaikan, dipilihnya Bali sebagai tempat untuk belajar dan bekerja sama adalah atas saran dari Perdana Menteri RDTL Xanana Gusmao, mengingat Bali dianggap sudah sangat berpengalaman dalam mengembangkan bidang kepariwisataan dan ketenagakerjaan. “Timor Leste memiliki SDM yang memadai, namun masih kurang dalam pemanfaatannya. Oleh karenanya kami berharap dapat berlatih di Bali, untuk kemudian dapat menerapkan ilmunya untuk kemajuan di negara kami,” kata Ilidio Ximenes.

Setelah menikmati kemeriahan perayaan pergantian tahun semalam, Kamis (1/1/2015), masyarakat kota Denpasar, Bali, menikmati indahnya Pantai Sanur di awal tahun 2015. Pantai Sanur yang mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun umum salah satu alternatif sebagai tempat kunjungan wisata.

“Semalam kan hujan, jadi kami sekeluarga hanya di rumah saja, bakar jagung, bakar ikan, dan pesta kecil-kecilan. Nah sekarang mumpung cuaca cerah, kami sekeluarga jalan-jalan ke Pantai Sanur, rumah kami juga di Denpasar, malas main jauh-jauh, macet,” kata Ketut Ardika Candra, salah satu pengunjung Pantai Sanur.

Ardika yang memboyong keluarganya ke Pantai Sanur mengaku mendatangi pantai ini lebih hemat dan bisa meneerapkan wisata murah meriah. Tidak harus menempuh perjalanan jauh, menghabiskan waktu, tenaga dan uang. Pada prinsipnya tidak terlalu bergembira berlebihan untuk menyambut pergantian tahun. “Yang terpenting kan maknanya, bahwa di tahun baru harus bisa lebih baik dari tahun sebelumnya. Bukan harus berpesta, foya-foya, mabuk-mabukan. Memaknai tahun baru dengan baik,” katanya.Lain Ardika lain halnya Ni Luh Indayani asal Kabupaten Buleleng. Indayani mengaku sejak kemarin sudah berada di Denpasar untuk merayakan tahun baru. Hari ini bisa mengunjungi Pantai Sanur sebelum pulang ke Singaraja.

“Saya sejak kemarin sudah di Denpasar. Kebetulan ada keluarga di sini (Denpasar). Kalau saya ke Denpasar, pasti mampir ke Pantai Sanur. Main kano, mandi ramai-ramai. Apalagi masuknya gratis, hanya bayar parkir saja. Murah dan meriah,” katanya sambil tersenyum. Dalam kesempatan ini, Pastika berjanji akan menurunkan kepala SKPD terkait seperti Dinas Pariwisata dan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Bali agar dapat berkoordinasi lebih lanjut dengan tim dari Timor Leste.

Pastika juga menyampaikan bahwa dirinya mungkin akan memimpin delegasi pertama dari Provinsi Bali berkunjung ke Timor Leste, untuk meninjau peluang kerja sama yang dapat dilakukan.

Pastika menyampaikan bahwa Bali memiliki organisasi Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Provinsi Bali untuk menindaklanjuti kerja sama ini. Bali juga memiliki balai latihan kerja, hotel untuk magang dan fasilitas lainnya yang dapat disiapkan untuk mendukung pelaksanaan kerja sama ini

Tarif Hotel Bintang Tiga Horison Nusa Dua Yang Dibuka Di Bali


Bali menambah lagi hotel bintang tiga, kali ini di kawasan Nusa Dua. Horison Nusa Dua, merupakan hotel dengan dekorasi elegan minimalis dengan menggabungkan unsur dekorasi khas Bali. Hotel ini menyediakan 103 kamar dan suite dengan enam tipe kamar dengan tarif murah.

“Dengan lokasi strategis yaitu 15 menit dari Bandar udara Internasional Ngurah Rai melalui tol, 15 menit dari Pantai Pandawa, 10 menit ke Pantai Jimbaran, serta 1 km ke Pantai Nusa Dua, kami yakin Horison Nusa Dua merupakan pilihan yang tepat untuk kegiatan berlibur maupun kegiatan bisnis Anda,” ujar Nyoman Wija selaku General Manager Horison Nusa Dua, Bali, seperti termuat dalam siaran pers tanpa menyebut berapa tarifnya.

Hotel berlokasi di Jalan By Pass Ngurah Rai 1001x Nusa Dua, Badung, Bali. Dengan waktu pembangunan selama kurang lebih 1 tahun, hotel ini akan dioperasikan secara bertahap. Mulai dengan 79 kamar dan akan berlanjut hingga pengoperasian keseluruhan jumlah kamar. Pengoperasian awal hotel ditandai dengan acara soft opening pada hari Minggu, 21 Desember 2014.

Hotel dilengkapi dengan fasilitas Malabar Coffee Shop, Putri Lounge, serta Sky Lounge yang berada di lantai tiga hotel. Sky Lounge serta keseluruhan total kamar akan mulai dapat dinikmati di awal tahun 2015 ini. Hotel juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung kegiatan bisnis, yaitu 3 meeting room dan 1 ballroom yang memiliki kapasitas 20 hingga 280 orang.

Metropolitan Golden Management (MGM) yang merupakan manajemen hotel untuk jaringan Horison Hotel, memutuskan untuk tetap melirik Bali sebagai lokasi pengembangan usaha bisnis perhotelan. MGM bekerja sama dengan PT. Erina Anugrah Dewata mengembangkan Hotel Horison Nusa Dua, Bali. Sedangkan untuk tarifnya data masih belum tersedia saat ini.

Bernhard Manfred Erich Lubke Bule Asal Jerman Yang Hilang Di Bali Saat Merayakan Ulang Tahunnya


Bule asal German Bernhard Manfred Erich Lubke (71) yang dilaporkan hilang oleh istrinya, Kamis (30/10). Hingga kini belum ditemukan oleh tim SAR Kabupaten Badung.

Bahkan seluruh tim yang dilibatkan, belum menemukan tanda-tanda keberadaan wisatawan yang sudah sering berkunjung ke Bali ini. “Kita sudah sampai lakukan penyisiran arah arus laut hingga keluar daerah, diwilayah Nusa Penida, Pandawa dan pantai Uluwatu,” Kata Ketua Badan penyelamatan dan Pengawasan Wisata Air (Balawista) Kabupaten Badung, Ketut Ipel, di Bali, Minggu (2/11).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban sering melakukan aktivitas snorkling tanpa pemandu, khususnya di wilayah Nusa Dua. Erich Lubke selalu sendiri tanpa pemandu kendati di umurnya usianya yang sudah 71 tahun per-akhir bulan kemarin, 31 Oktober.

Dari laporan istrinya, dia sudah terbiasa melakukan aktivitas snorkeling sendiri karena memang hobinya adalah wisata dalam air. Bahkan sejumlah tempat yang menjadi tempatnya ber-snorkeling selalu diabadikan dalam sebuah foto. “Tidak hanya di Bali. Pernah juga ke Bunaken dan Raja Ampat Papua,” ujar istri dari Erich Lubke di Nusa Dua Beach Hotel, Minggu (2/11).

Hal ini juga dibenarkan oleh pihak hotel. Bahwa selama menginap di Nusa Dua Beach Hotel, kamar 2134, nyaris setiap hari korban melakukan kegiatan di pantai. Sayangnya pihak hotel enggan berkomentar banyak untuk menerangkan alat snorkeling yang digunakan korban, apakah milik salah satu usaha yang mangkal dalam hotel atau milik pribadi.

Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, diketahui kedatangan bule asal Jerman tersebut adalah untuk merayakan ulang tahun pernikahannya dengan sang istri yang juga bertepatan dengan hari ulang tahunnya.

Namun, rencana dan impian kedua pasutri kakek nenek asal Jerman ini untuk merayakan hari jadinya di Nusa Dua Beach Hotel, Nusa Dua Bali gagal sudah akibat hilangnya Erich Lubke. Itu setelah, suami Mrs Erich Lubke lenyap ditelan samudra pantai selatan Nusa Dua, Kamis (30/10) lalu, sehari sebelum hari kelahirannya yang genap 71 tahun.

“Kami seminggu lagi juga akan merayakan pernikahan kami. Sudah 41 tahun,” singkatnya penuh kesedihan.

Reklamasi Pantai Sudah Sering Dilakukan Di Bali


Sejumlah tokoh Bali mengungkapkan bahwa reklamasi bukan barang baru karena sebenarnya sudah dilakukan sejak lama di kawasan Pulau Dewata tersebut. “Airport Ngurah Rai itu reklamasi, Bypass Ngurah Rai itu reklamasi, semenjak adanya reklamasi itu Rakyat Nusa Dua itu menjadi maju baik dalam perekonomian, kesehatan, pendidikan. Kenapa sekarang reklamasi Teluk Benoa diributkan?” tanya I Gusti Ngurah Harta, seorang tokoh masyarakat Bali.

Budayawan Bali itu mengatakan sebelum adanya reklamasi itu masyakarat lokal sangat susah sekali, sebab rumah sakit sangat jauh sekali. Menunggu perahu itu tidak gampang, jadi sering ibu-ibu menjadi korban saat melahirkan. “Kini dengan adanya jalan hasil reklamasi, semuanya jadi mudah. Ibu-ibu yang mau melahirkan tidak perlu lagi dibawa dengan perahu. Kematian ibu dan anak saat melahirkan berhasil dikurangi,” katanya.

Ketua Yayasan Bumi Bali Bagus I Komang Gede Subudi mengakui dalam hal reklamasi di Bali pasti ada yang setuju dan yang tidak setuju. Yang belum setuju itu perlu diberi pemahaman seandainya Teluk Benoa itu tidak direklamasi, 15 tahun lagi akan terjadi apa. “Teluk Benoa itu sebaiknya direklamasi. Mungkin nanti ada tempat-tempat yang lebih modern, baik dari segi arsitektur, bangunan mungkin, dan seterusnya tapi itu tetap dalam kawasan Bali yang akan menjaga budaya Bali,” kata Subudi .

Ketua Yayasan Dibia Amerta I Made Mangku juga mendukung reklamasi. Teluk Benoa terjadi proses sendimentasi yang begitu tinggi. Teluk Benoa jadi bak sampah, karena Daerah Aliran Sungai. “Kita harus jujur, asal reklamasi itu untuk kepentingan Bali dimasa yang akan datang, dan tidak merusak tatanan kehidupan masyarakat Bali, termasuk sosial, budaya, dan berjalannya proses keagamaan disana, saya rasa tidak ada masalah,” katanya.

Sebelumnya, tokoh dari PDIP Bali Made Arjaya juga sampaikan bahwa Ia yakin kalau Presiden terpilih Jokowi akan melanjutkan proyek reklamasi Teluk Benoa karena sewaktu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sangat berharap proyek reklamasi 17 pantai di utara Jakarta bisa terlaksana karena banyak membawa manfaat.

“Iya, saya yakin Jokowi akan meneruskan projek reklamasi karena beliau tahu betul manfaat dari reklamasi ini,” katanya di Denpasar, Bali. Menurut dia, di berbagai daerah di Indonesia banyak dilakukan reklamasi, bukan hanya di Bali. Termasuk juga di Pulau Nipah yang menjadi pembatas jalur terluar perairan Indonesia.

“Di sejumlah negara ada reklamasi seperti ini, karena tidak mengganggu lingkungan, tapi membawa kemanfaatan,” katanya lagi. Made Arjaya juga menambahkan bahwa Keterlibatan masyarakat dalam projek ini perlu dilakukan sejak awal. Sebaiknya masyarakat kawal projek ini, dikritisi boleh, tapi jangan antipati. Hal itu supaya pembangunannya bisa berjalan dengan baik tanpa ada pihak yang merasa dirugikan. Maksudnya mungkin boleh dikritisi asal jangan sampai menunda projek yang sedang dilaksanakan.

3 Jenis Makanan Yang Wajib Di Nikmati Di Pecatu Bali


Pengelola Restoran Klapa, Pecatu, Kuta Selatan, Badung, Bali menyadari benar keberagaman tamu yang datang. Karena itu, restoran kemudian dibagi tiga. Ada yang bergaya western bagi pengunjung asal Eropa dan Amerika, serta menu bergaya menu bergaya Balinese bagi yang suka menu dengan cita rasa lokal. Terakhir ada menu Chinese food untuk wisatawan Asia.

Masing–masing resto memiliki dapur, sehingga pengunjung tidak harus menunggu lama jika memesan menu kesukaan. Salah satu menu andalan di sini adalah bamboo lobster.

Berbahan dasar lobster segar dengan berat 300 gram. Diolah ala Chinese. Untuk menu satu ini, isi lobster dikeluarkan terlebih dahulu kemudian diolah dengan menggunakan vegetable oil dan beberapa bumbu rahasia.

Tampilannya sangat menarik. Kulit atau bagian terluar lobster dijadikan hiasan. Disajikan bersama potongan brokoli dan saus spesial. Sementara daging lobster sendiri disajikan di atas fresh mi. Yaitu mi garing berbetuk piring.

Di dalamnya terdapat potongan daging lobster dan sayuran. Saat dicicipi terasa nikmat di lidah. Empuknya lobster dipadukan dengan segranya sayuran hijau. Apalagi makannya sambil menyaksikan sunset.

Bagi yang suka cita rasa lokal, Restoran Klapa menyajikan sate lilit ayam. Sate lilit satu ini terbilang spesial. Jika kebanyakan tempat sate lilit memasukan kelapa sebagai salah satu bahan campuran, tapi tidak demikian di Restoran Klapa.

Tidak menggunakan kelapa tapi cita rasa bumbu khas Bali terasa di lidah. Terasa pedas rempah dan segarnya daging ayam