Category Archives: Pariwisata Bali

Sejarah Nyama Selam dan Peradaban Islam Di Buleleng Bali


Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali memiliki luas 1.584 hektare persegi. Seluruh penduduknya adalah umat Islam Bali. Penduduk Bali menyebut mereka dengan istilah nyama selam. Nyama berarti saudara, dan selam berarti Islam. Atau, bisa diartikan sebagai orang-orang Islam yang menjalankan tradisi Bali.

Penghulu imam Desa Pegayaman, Haji Nengah Abdul Ghofar Ismail, 53 tahun, menjelaskan keberadaan Nyema Salam di Desa Pegayaman tak lepas dari sejarah masuknya Islam ke desa itu. Menurut dia, pada saat itu Raja Buleleng Anglurah Ki Barak Panji Sakti diundang oleh Raja Mataram dalam rangka persahabatan. Saat kembali ke Bali, Ki Barak Panji Sakti dihadiahi seekor gajah dan delapan orang prajurit yang saat itu sudah beragama Islam untuk mengiringinya pulang.

Prajurit-prajurit inilah cikal bakal warga Islam di Desa Pegayaman. “Leluhur Desa Pegayaman disebut sitindih artinya orang-orang pembela kerajaan,” kata Nengah Abdul. Mengutip catatan sejarah, Nengah Abdul bercerita, pada 1711, terjadi perang antara Kerajaan Mengwi dan Kerajaan Buleleng. Pada saat itulah orang-orang Pegayaman menghadang di Desa Gitgit, hingga terjadi pertempuran hebat sampai ke Desa Pancasari.

Kabar pertempuran tersebut diketahui oleh pasukan Teruna Goak (Pasukan Gagak Hitam) milik Ki Barak Panji Sakti dari Desa Panji yang segera bergabung untuk memukul mundur pasukan Kerajaan Mengwi. Pada 1850 kapal kelompok imigran Bugis yang hendak menuju Jawa-Madura terdampar di pesisir Buleleng. Sebanyak 40 pasukan Bugis tersebut menghadap kepada Ki Barak Panji Sakti.

Oleh sang raja mereka diberikan kebebasan untuk memilih tinggal di pesisir atau di Desa Pegayaman mengingat mereka beragama Islam. Sebagian memilih tinggal di pesisir karena orang Bugis terkenal sebagai penjelajah laut dan sebagian lagi memilih bergabung dengan orang Pegayaman karena alasan agama. “Perpaduan tiga suku Jawa, Bugis, dan Bali inilah yang kini menjadi warga asli Desa Pegayaman,” ujar Negah Abdul.

Kisah masuknya agama Islam di Pegayaman diabadikan menjadi nama masjid, yaitu Masjid Jami Safinatussalam. Masjid Jami Safinatussalam merupakan masjid tertua di Pegayaman. Keberadaan masjid ini diperkirakan sudah ada sejak awal Desa Pegayaman. “Safinatussalam berarti perahu keselamatan. Diberi nama safinatussalam karena datangnya menggunakan perahu dari Jawa, sampai dengan selamat di Bali,” jelas pria lulusan Pesantren Darussalam, Banyuwangi dan Pesantren Al-Falah, Kediri, Jawa Timur ini.

Asal-usul nama Pegayaman pun ada dua versi. Pertama, berasal dari kata gayam (bahasa Jawa) yang merupakan jenis tumbuhan. Dalam bahasa Bali disebut buah gatep. “Dahulu sebelum dibuka menjadi pemukiman, wilayah desa ini banyak ditumbuhi pohon gatep atau gayam sehingga disebut Pegayaman,” katanya.

“Sedangkan versi kedua berasal dari nama senjata, Keris Gayaman yang ada pada zaman Kerajaan Mataram,” katanya. Matahari baru saja tenggelam, Kamis, 16 Juli 2015. Lalu lalang warga Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali mulai memadati jalan desa. Mereka bersiap mengikuti takbir keliling untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Acara dimulai sekitar pukul 21.00 Wita. Penghulu imam (sesepuh), kepala desa, dan warga desa bergerak dari Masjid Jami Safinatussalam mengelilingi desa. Sebagian dari mereka, terutama remaja, mengendarai sepeda motor. Irama alat musik rebana dan lantunan takbir menggema di antara dinginnya udara malam di desa yang berada 450 meter di atas permukaan laut itu. Luas wilayah Desa Pegayaman mencapai 1.584 hektare. Seluruh penduduknya adalah umat Islam Bali. “Istilahnya Nyama Selam. Nyama berarti saudara dan Selam berarti Islam. Atau bisa diartikan sebagai orang-orang Islam yang menjalankan tradisi Bali,” kata penghulu imam Desa Pegayaman, Haji Nengah Abdul Ghofar Ismail (53).

Warga di Desa Pegayaman sehari-hari berkomunikasi menggunakan bahasa Bali. Mereka juga mengenal sor singgih base Bali, termasuk dalam kegiatan keagamaan. Khatib di beberapa musala yang ada di desa ini terkadang menggunakan bahasa Bali ketika berkhotbah. Ketika Ramadan, saat dini hari menjelang sahur, dari Masjid Jami Safinatussalam terdengar himbauan membangunkan warga yang juga menggunakan bahasa Bali. “Ida dane warga ngiring metangi santukan galah imsyak sampun nampek.” Artinya, “Para warga mari bangun karena waktu imsyak sudah dekat.”

Tak beda dengan orang Bali pada umumnya yang beragama Hindu, dalam penamaan, warga Pegayaman juga memberi nama Wayan untuk anak pertama, Nengah untuk anak kedua, Nyoman untuk anak ketiga, dan Ketut untuk anak keempat. “Di sini kami tidak menggunakan I dan Ni di depan nama, juga tidak menggunakan nama Putu (anak pertama), Made (anak kedua), dan Wayan (setelah anak keempat). Lewat dari anak keempat, semuanya bernama Ketut,” jelasnya.

Daftar Acara Wisata Bulan Agustus Di Bali


Bulan Agustus mendatang, Bali akan menggelar dua festival budaya wisata. Salah satunya adalah Buleleng Festival 2015 pada 4-8 Agustus 2015. Festival ini bertempat di Tugu Singa Ambara Raja, Singaraja. Dalam festival ini, sebanyak 21 seka (grup) gong dari sembilan kecamatan di Kabupaten Buleleng ikut ambil bagian memeriahkan.

“Lewat festival itu Kami ingin membangkitkan kembali kesenian Gong Kebyar yang di tanah ‘Bumi Panji Sakti’,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Buleleng, Gede Suyasa, Sabtu (4/7/2015), seperti dikutip dari Antara. Ia menjelaskan seka gong itu akan tampil di sepanjang Jalan Ngurah Rai, mereka akan tampil berderet di sepanjang jalan utama di Kota Singaraja itu.

“Seniman akan tampil di Jalan Ngurah Rai sepanjang kurang lebih 300 meter, masing-masing seka gong kami tempatkan pada sebuah panggung khusus, satu panggung panjangnya sampai 15 meter,” jelasnya. Buleleng Festival 2015 selain menggunakan areal sekitar patung Singa juga memanfaatkan Gedung Sasana Budaya dan Puri Kanginan, untuk menampilkan beberapa acara tambahan. Buleleng Festival 2015 mengusung tema “Gurnitaning Denbukit”, yang bermakna gemuruh musik di Buleleng.

Nantinya di salah satu festival terbesar di Buleleng ini akan lebih banyak mengeksplorasi kesenian musik yang tumbuh dan berkembang di Buleleng, baik itu musik tradisional maupun musik modern. Sementara itu, perhelatan “Sanur Village Festival” 2015 yang ke-10 akan segera digelar pada 26-30 Agustus di Maisonette Area, Pantai Segara, Sanur Bali dengan mengangkat tema “Dasa Warsa”.

Dalam perhelatan tersebut akan diadakan beragam kegiatan, seperti program lingkungan hidup, festival kuliner, pameran seni rupa dan fotografi, kegiatan olahraga, serta dialog seni dan budaya. Seperti dikutip dari Antara, ada pula program lingkungan hidup yang akan dilaksanakan, antara lain bersih-bersih pantai, pelepasan tukik, dan penanaman terumbu karang yang melibatkan murid sekolah, pelaku wisata dan LSM setempat.

Selain itu, untuk kegiatan olahraga, pada 23 Agustus akan diadakan acara lari SanurRun dengan tiga kategori, yaitu lari 10 kilometer dan lima kilometer terbuka untuk umum, lari dengan rute sejauh 400 meter untuk anak umur 5-6 tahun, dan lari satu kilometer untuk anak usia 7-9 tahun.

Sementara Sanur Open Golf Tournament akan diadakan selama dua hari pada 29-30 Agustus di Bali Beach Golf Course. Untuk kegiatan festival dan pameran meliputi Sanur Kreatif Ekspo, Agrowisata Expo, Pagelaran musik dan Kesenian, Parade Budaya, dan Bazaar Tanaman Hias. Sanur Kreatif Expo akan memamerkan hasil seni kerajinan yang menjadi suguhan pendukung pariwisata industri sekaligus menjadi ajang temu kreatif, temu dagang, dan kontak bisnis.

Selain itu, akan diadakan lomba fotografi dengan dua kategori, yakni siswa dan umum. Pameran akan diadakan di Griya Santrian seminggu sebelum hingga seminggu setelah ajang Sanur Village Festival.

Meditasi Di Candi Tebing Tebing Tegallinggah Gianyar


PAGI belum sempurna. Pepohonan masih teguh dalam semadi. Tetapi burung-burung sudah berloncatan dari dahan ke dahan. Kicaunya disambut ricik air dari sebuah pancuran bambu. Tebing Tukad Pakerisan hening dalam doa suci semesta…. Situs Candi Tebing Tegallinggah, Desa Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, lokasi sempurna untuk melakukan laku meditasi. Di sini waktu seperti melambat menuju titik hening, sampai akhirnya kita tiba di lelumutan yang tumbuh merambat di dinding-dinding goa. Di dalam goa, yang dipahatkan di tebing-tebing sungai, dahulu para raja dan pengikutnya menjalani laku spiritual. Mereka bermeditasi mencari kesempurnaan diri untuk kemudian menebar kebaikan kepada rakyat.

Anak Agung Gde Rai meloncat-loncat indah menuruni anak tangga. Ia bahkan melintasi tubir tebing dengan penuh kelincahan. Sementara peneliti budaya asal Perancis, Dr Jean Couteau, dan penyair Warih Wisatsana, yang ikut serta menjalani laku yang disebut Agung Rai sebagai golden hours itu, tertatih-tatih. Jean bahkan harus dituntun berulang kali ketika melintasi tubir tebing. Kelihatan sekujur tubuhnya gemetar.

Selama puluhan tahun tinggal di Bali, Jean tak pernah tahu ada kehidupan ketika laku meditasi untuk mencari keheningan diri dilakukan di sepanjang Tukad Pakerisan. Sungai bertebing-tebing itu tak jauh dari pusat keriuhan pariwisata Bali, Ubud. Kami cuma butuh waktu 15 menit menuju anak tangga pertama di Tegallinggah sebelum turun menuju goa-goa di kanan-kiri tebing.

Mata air di Candi Tebing Tebing Tegallinggah, Kabupaten Gianyar, Bali.

Mata air di Candi Tebing Tebing Tegallinggah, Kabupaten Gianyar, Bali. Situs ini menurut catatan sejarah ditemukan oleh peneliti Belanda, Krisjman, ketika bersama penduduk sekitar membersihkan sebuah gapura. Saat dilakukan penggalian, muncullah dua candi yang dipahatkan di atas tebing sungai. Kedua candi ini mirip dengan pahatan candi di situs Gunung Kawi, Tampaksiring, yang masih berlokasi di Sungai Pakerisan.

Agung Rai, yang sering kali mengantar para peneliti dan pencinta kebudayaan menikmati ”Bali sebelum bangun”, memperkirakan situs Candi Tebing Tegallinggah sezaman dengan Gunung Kawi. Candi Gunung Kawi diperkirakan dibangun di masa pemerintahan raja Sri Aji Paduka Dhar mawangsa Marakata Pangkaja Stanattunggadewa (944-948 Saka) dan kemudian dilanjutkan saat raja Anak Wungsu (971-999 Saka) memerintah Bali. Keduanya adalah keturunan raja Udayana dari Dinasti Warmadewa. Prasasti Tengkulak (945 Saka) menyebut di tepi Sungai Pakerisan terdapat pertapaan bernama Amarawati. Para peneliti menafsirkan Amarawati mengacu pada Candi Gunung Kawi.

”Tetapi itu dari sisi arkeologi. Kini yang jelas situs ini membuat kita seperti menemukan diri. Bahwa pada abad ke-8 sampai ke-11, para leluhur Bali sudah mencari pencerahan diri untuk kemudian mengabdi kepada rakyat,” kata Agung Rai, yang juga pendiri Museum Arma Ubud. Di tebing-tebing sepanjang aliran Sungai Pakerisan itulah dahulu para raja membangun tempat-tempat suci, baik dalam mempererat relasi dengan Tuhan maupun menempa diri agar menjadi manusia yang berbudi.

Di atas rumah pertapaan di tebing Sungai Pakerisan, Bedulu, Gianyar, terdapat selokan kecil yang mengalirkan air terjun.
Di atas rumah pertapaan di tebing Sungai Pakerisan, Bedulu, Gianyar, terdapat selokan kecil yang mengalirkan air terjun. Bali lain Jean melihat Bali semakin riuh oleh komodifikasi. Seturut dengan gelombang gerakan new age yang berkembang sejak tahun 1960-an, kini daerah wisata seperti Bali sedang ”gaduh” oleh kecenderungan ”perdagangan” spiritual. ”Banyak sekali pelaku-pelaku spiritual yang berpraktik di Bali, terutama Ubud. Ya, memang karena itulah mata dagangan paling laku sekarang di dunia pariwisata…,” kata Jean, akhir Desember tahun lalu. Jean tak bermaksud sinis terhadap perilaku para pelaku pariwisata Bali sekarang ini. Ini memang tren, di mana-mana terjadi di dunia,” ujarnya.

Namun, situs-situs di sepanjang Sungai Pakerisan ibarat Bali yang lain. Mungkin karena letaknya yang tersembunyi dan sulit dicapai, tak banyak operator jasa wisata yang mempromosikannya. ”Tetapi justru karena itu kita menemukan Bali yang sesungguhnya,” ujar Jean, yang tak habis takjub menyelami kehidupan tebing sungai.

Situs Candi Tebing Tegallinggah dipahatkan di kedua sisi sungai. Di sisi sebelah barat terdapat dua gapura sebelum bertemu dengan dua pahatan candi. Selain itu terdapat juga tujuh ceruk yang atapnya dipahat menyerupai rumah-rumah kuno. Di dalamnya terdapat dudukan tempat seseorang bisa bersila untuk menjalani laku meditasi. Di timur sungai juga terdapat pahatan candi serta ceruk-ceruk menyerupai goa pertapaan. Kedua sisi sungai cuma dihubungkan jembatan papan kayu yang sudah berlumut dan lapuk. Terlihat jembatan ini sudah lama tidak difungsikan.

Warga memanfaatkan mata air yang ada di Candi Tebing Jukut Paku, Gianyar, Bali.

Warga memanfaatkan mata air yang ada di Candi Tebing Jukut Paku, Gianyar, Bali. Sebelum pagi benar-benar pergi, beberapa penduduk bersiap mandi di selokan kecil yang letaknya di atas tebing. Sementara aliran air Sungai Pakerisan tertutup semak, jauh di bawahnya. Sebelum mandi, warga Tegallinggah selalu menghaturkan canang (untaian bunga di atas janur) di pelinggih (tempat suci) di sekitar pancuran bambu. Begitulah keharmonian itu selalu dijaga. Alam memberi segala berkah berupa kelimpahan air yang menghidupi, pepohonan yang melindungi, burung-burung yang tak henti bernyanyi, dan aura yang membangkitkan energi.

Kami lantas coba duduk bersila. Gemuruh dada pertanda gelisah dan riuh pikiran pertanda kalut perlahan dihanyutkan aliran angin dan gemercik air. Ada cahaya yang diam-diam menyusup ke dasar batin. Itulah mungkin kehidupan suci yang dijalani para leluhur di masa lalu sebelum akhirnya benar-benar mengabdi untuk kesejahteraan rakyat

Tirta Empul Di Bali Jadi Obyek Wisata Terfavorit


Obyek wisata Tirta Empul Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali, 35 km timur Denpasar, saat ini ada perbaikan di kolam tempat permandian, masih terfavorit, karena ramai dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri.

Wisatawan asing tampak berbaur dengan masyarakat mandi di alam terbuka, meskipun sedikit ada gangguan akibat perbaikan. Turis tampaknya tidak merasa terganggu mengikuti masyarakat yang diawali dengan doa sesuai kepercayaannya masing-masing.

Made Lanus, seorang pemandu wisata, Kamis (2/7/2015), mengatakan wisatawan yang diantarnya datang dari Italia itu memang sengaja meminta mandi bersama dengan tata cara mengikuti masyarakat Bali mandi di pancuran yang airnya muncul dari mata air yang dianggap suci.

“Obyek wisata Tirta Empul yang bersebelahan dengan Istana Tampaksiring memiliki daya tarik tersendiri, sehingga banyak turis asing meminta bisa diantarkan ke tempat persembahyangan bagi umat Hindu di daerah ini,” tutur Made Lanus.

Adanya pengembangan lokasi wisata dikelola dengan apik itu memiliki sekitar seratus juru foto yang melayani masyarakat dalam mengabdikan permintaan masyarakat yang berkunjung ke sini, dan sebanyak 20 orang yang bertugas setiap hari.

Dinas Pariwisata Provinsi Bali mencatat Tirta Empul, termasuk sepuluh besar obyek wisata yang menerima kunjungan turis terbanyak, selain Tanah Lot di Kabupaten Tabanan, Uluwatu di Kabupaten Badung, Danau Beratan di Kabupaten Tabanan, kawasan wisata Penelokan Kintamani, Bangli dengan gunung dan Danau Baturnya.

“Pengunjung selama 2015 dari Januari-Mei ke obyek wisata ini sebanyak 163.406 orang atau rata-rata 32.000 per bulan, sementara selama 2014 tercatat 443.883 orang. Jumlah kunjungan sebanyak itu cukup bagus,” ujar Made Lanus.

Obyek wisata Tirta Empul selalu jadi primadona kunjungan wisatawan, selain lokasinya berada pada jalur wisata ke Denpasar-Kintamani, juga memiliki daya tarik tinggi dengan pancuran air suci dan Istana Tampaksiring yang bersebelahan.

Khusus di Kabupaten Gianyar, Tirta Empul menerima pengunjung terbanyak. Obyek wisata Goa Gajah Bedulu menduduki urutan kedua dengan rata-rata 19.321 pengunjung per bulan, diikuti Gunung Kawi Tampaksiring 9.381 pengunjung per bulan. Kemudian Gunung Kawi Sebatu 1.781 pengunjung, Yeh Pulu Bedulu 450 pengunjung. Sementara Stage Sidan dengan keindahan alamnya paling sedikit jumlah kunjungan yakni rata rata 22 orang setiap bulan karena masih dalam tahap promosi.

Gianyar yang dikenal daerah seninya di Bali, juga memiliki obyek meraik lainnya seperti museum lukisan, taman burung, rafting dan taman burung, sapi Desa Taro binatang yang disucikan masyarakat adat setempat.

Kesegaran Alam Bali di Sungai Gelar Negara


Di kota Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, untuk menemukan tempat yang alami dan sejuk adalah dambaan setiap orang. Terlebih kesan alami ini tidak jauh berada dari jantung kota. Untuk mendapatkan ini semua, obyek wisata Sungai Gelar adalah tempatnya. Untuk menjangkaunya pun cukup mudah tanpa harus berlama-lama membawa rasa penasaran yang terpendam.

Lokasi Sungai Gelar berada di Dusun Gelar Sari, Desa Batuagung, Kecamatan Jembrana. Untuk menjangkau tempat ini, pengunjung bisa melalui dua jalur pedesaan yakni bisa lewat Desa Batuagung dan melalui arah Gedung Olah Raga (GOR) Kresna Jvara di Dusun Sawe Rangsasa. Bila ditempuh dari jalan raya, obyek wisata ini berjarak sekitar 8 kilometer.

Di Jembrana, Sungai Gelar sudah begitu populer sebagai tempat untuk menghabiskan akhir pekan. Decak kagum pengunjung akan mulai terasa tatkala menemukan hamparan perkebunan hijau dan lembah berhiaskan nyiur bersanding mesra dengan hutan sebelum akhirnya betul-betul memasuki kawasan hutan di wilayah paling utara.

Kedua ujung jalan ini akan berakhir setelah menemukan jembatan merah hanya khusus dilalui oleh kendaraan roda dua. Bila dilalui, jembatan ini mengeluarkan bunyi tak beraturan dari benturan yang keras. Sehingga sangat jelas terdengar di kesunyian. Ini mencirikan sebagai pertanda bahwa ada pengunjung yang sedang melintasi jembatan.

Di bawah jembatan inilah, sungai yang cukup lebar memiliki air jernih dan segar bersumber dari pegunungan. Atas daya tarik inilah pengunjung dari berbagai wilayah berdatangan hanya untuk melihat serta menikmati suasana sambil menghirup udara segar.

“Kebanyakan pengunjung adalah anak muda bersama teman-temannya, mereka bukan saja datang dari Jembrana, bahkan ada pula yang datang dari jauh hanya sekadar melihat sekitar sini,” ujar Jero Wayan Suwarti. Jero Wayan Suwarti, pemilik warung di Sungai Gelar, Kabupaten Jembrana, Bali. Jero Wayan Suwarti adalah pemilik warung yang biasa berjualan tidak jauh dari ujung jembatan. Dia menggelar dagangannya khusus pada hari Sabtu dan Minggu, apalagi di hari raya seperti Galungan dan Kuningan adalah berkah baginya.

Menurut pengalamannya selama berjualan, Sungai Gelar mulai dikunjungi oleh wisatawan sejak dirinya masih belum berjualan. Kebanyakan yang datang adalah pengunjung untuk mandi di sungai serta menyusuri bibir sungai ke arah pinggiran sungai yang diapit oleh hutan dan tegal milik warga. Anak-anak bermain di tanah kosong dekat Monumen Gelar atau Lembah Merdeka di Kabupaten Jembrana, Bali.

Tak jauh dari tempat ini pula, terdapat sebuah Monumen Gelar atau Lembah Merdeka yang dipertegas lagi dengan papan nama yang ditancapkan sebelah selatan jembatan. Untuk melihatnya, pengunjung cukup dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang sudah dibeton.

Warga lainnya, Gusti Kade Wiadnyana mengungkapkan dulu tempat ini paling sering dikunjungi wisatawan asing. Mereka datang bersama dengan kendaraan Jeep melakukan aktifitas jalan-jalan ke hutan. Dan lanjut Gusti, beberapa lahan di wilayah tersebut bahkan dimiliki oleh orang Jepang. Lahan milik orang asing yang berupa tegalan ini berada persis di sebelah pagar tempatnya tinggal. Gusti Kade Wiadnyana yang menempati rumah beberapa meter dari bibir Sungai Gelar menjadikan suara gemericik air dengan serangkaian kelokan ibarat seperti cepatnya ritme hidup di desa.

Sungai Gelar juga sering dimanfaatkan oleh siswa yang gemar melakukan kegiatan alam. Namun untuk lebih nyaman di perjalanan dalam menjangkau tempat ini, Gusti Kade menyarankan pengunjung melewati Desa Batuagung agar terhindar dari jalan rusak parah dan berlobang.

Setiap pengunjung yang datang akan dikenakan ongkos parkir Rp 2.000 yang dipungut oleh petugas parkir yang memang berasal dari anggota banjar tersebut. Mereka akan ditugasi memungut parkir secara bergiliran khusus untuk akhir pekan dan hari raya saja.

Kendaraan bebas parkir dimana saja menempati lahan kosong dan pinggir jalan yang tak jauh dari kawasan obyek wisata alam Sungai Gelar. Di sini belum tersedia khusus lahan parkir bagi pengunjung pengguna roda dua dan empat.
Dulu jalan yang menghubungkan dari GOR memang bagus, namun semenjak kondisinya rusak sudah mulai jarang dilalui apalagi kendaraan pendek,“ kata Gusti Kade Wiadnyana.

Wisata Kuliner Sajian Nasi Campur Khas Bali


Bali, yang mendapat julukan Pulau Dewata, dikenal dengan pesona pantai-pantainya yang eksotis. Bali juga memiliki kekhasan dengan sawah teraseringnya, terutama di wilayah dataran tinggi seperti di kawasan Ubud.

Tak hanya itu. Bali menyuguhkan kuliner yang mengundang selera. Rasanya tidak lengkap bertandang ke sebuah daerah wisata di Indonesia bila tidak mencicipi makanan khasnya. Itulah yang saya lakukan saat melancong ke Bali apa akhir tahun lalu. Dengan semangat menggebu, saya berkeliling mencari sajian masakan dengan menu utama nasi di tiga tempat wisata di Bali, yaitu kawasan Sanur, Denpasar, dan Ubud. Dari tiga tempat itu, saya menjajal empat menu masakan nasi campur khas Pulau Dewata.

Nasi lauk ikan goreng dengan sambal dan sup ikan
Di kawasan wisata Sanur terdapat Rumah Makan Mak Beng. Lokasinya berada di dekat tempat keberangkatan speedboat menuju Nusa Lembongan, Ceningan atau Peninda. Restoran itu tepatnya terletak di Jalan Hang Tuah. Restoran Mak Beng buka pukul 08.00 hingga pukul 21.00. Di tempat makan ini hanya ada dua menu yang ditawarkan, yakni ikan goreng dengan sambal dan sup ikan. Untuk satu paket ikan goreng, sup ikan, dan nasi ditambah sambal, dipatok Rp 88 ribu.

Nasi campur Bali
Masih di kawasan wisata Sanur, saya mencicipi nasi campur di warung Men (Ibu) Weti. Lokasi warung ini tak jauh dari Pantai Sanur. Makanan disajikan di beberapa baskom besar yang diletakkan satu meja. Isinya berupa sayuran, ayam betutu, ayam goreng, urap, sate lilit, kerupuk kulit ayam, ikan laut, dan telur, serta sambal khas Bali. Harga makanan tergantung pada pilihan lauknya. Rata-rata untuk satu porsi cukup ditebus dengan kisaran Rp 15 ribu.

Nasi Jinggo
Di Denpasar, saya mencari menu nasi jinggo di Jalan Gajah Mada. Awalnya disebut “jenggo” berarti 1500. Kini harganya dua kali lipat pada kisaran Rp 3000. Bungkusannya kecil karena isinya sekepal nasi ditemani mi, suwiran ayam, dan sambal.

Nasi Kadewat Ibu Mangku
Di Ubud, tepatnya di Jalan Raya Kadewat, terdapat rumah makan Ibu Mangku. Begitu masuk rumah makan yang berada di depan Pura Kadewat itu, Anda akan disambut dengan bunyi gamelan khas Bali. Sajian yang ditawarkan diletakan berderet di balik kaca. Saat itu, saya memilih menu nasi campur seharga Rp 20 ribu dan makan lesehan di balai-balai di tengah taman. Sungguh asyik.

Tarif Obyek Wisata Bali Tahun 2015 Naik 100 Persen


Awal 2015, tiket masuk beberapa obyek wisata di Kabupaten Karangasem, Bali naik hingga 100 persen. Obyek wisata Taman Soekasada, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem meningkat 75 persen. Kenaikan tiket masuk juga di obyek Taman Tirta Gangga, Desa Ababi, Kecamatan Abang, Karangasem.

Tak tanggung-tanggung, pihak pengelola Taman Tirta Gangga berencana menaikkan tiket masuk 100 persen. Besaran tiket masuk untuk wisatawan domestik (wisdom) dari Rp 5.000 menjadi Rp 10.000. Sedangkan untuk wisatawan mancanegara (wisman) dari Rp 10.000 menjadi Rp 20.000.

“Tapi kenaikannya mulai besok (hari ini, Kamis 1/1/2015),” ujar pengelola Taman Tirta Gangga yang enggan disebutkan namanya, saat ditemui, Rabu (31/12/2014). Meski ada rencana kenaikan harga tiket, namun beberapa wisatawan menyatakan hal yang wajar. “Tiket masuk dinaikkan. Para wisatawan tak ada yang mengeluh. Pengunjung tetap datang ke sini,” tambah seorang penjual di kawasan obyek wisata Taman Tirta Gangga.

Pantauan, para wisatawan baik wisdom maupun wisman silih berganti berdatangan ke obyek wisata Taman Tirta Gangga. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Menjelang Tahun Baru 2015 jumlah pengunjung ke Taman Soekasada, Desa Ujung Hyang, Karangasem, Bali mengalami peningkatan. Pantauan, pada Jumat (27/12/2014), beberapa pengunjung datang dari Bali dan luar Bali terlihat berlalu-lalang di sekitar taman. Ratusan pengunjung keliling di sekitar area taman.

Pengunjung mengatakan menikmati keindahan alam di taman itu. Ada juga yang mengaku datang khusus berlibur usai hari raya Natal. Abraham, pengunjung asal Depok, Jawa Barat, mengaku baru pertama kali berkunjung ke Taman Soekasada. Namun ia merasa bahagia bisa melihat peninggalan bersejarah kerajaan di Karangasem ini. Selain karena suasana terlihat ramai, panorama alam di sekitar taman dinilai indah. Abraham keliling taman yang luasnya mencapai belasan hektare itu.

”Wajar ramai pengunjung. Pemandangan di sekitar taman bagus sekali,” kata Abraham. Ia pun tak kalah dengan pengunjung lainnya. Saat keliling area taman ia beserta keluarga mengabadikan momen di sekitar taman. Dari balai Lunjuk, Bundar, hingga Kapal yang berada di atas Taman Soekasada. ”Buat kenang-kenangan,” tambahnya. Kepala Pengurus Taman Soekasada, I Nyoman Matal mengaku saat hari raya Natal dan menjelang Tahun Baru 2015 jumlah pengunjung mengalami pengingkatan. Hal ini terlihat dari pendapatan yang masuk diperoleh per hari.

Pihaknya mengaku peningkatan pengunjung menjelang tahun baru diperkirakan hingga ratusan orang. Menurut Matal, pengunjung terbanyak masih dari wisatawan lokal seperti dari Bali dan luar Bali, antara lain Jawa dan Sumatera. ”Sekitar 25-30 persen peningkatannya, tetapi pengunjung kebanyakan dari daerah di Bali,” ungkapnya. Masuk Taman ini akan dikenakan pungutan apabila membawa Kamera DSLR (kamera mahal) tanpa mendapat fasilitas apapun.