Monthly Archives: February 2014

Pesawat Tempur TNI AU T-50i Mendarat Darurat … Bandara Ahmad Yani Semarang Lumpuh


Pendaratan darurat pesawat jet tempur T-50i milik TNI AU sempat membuat aktivitas di Bandara Ahmad Yani dihentikan sementara. Penutupan berlangsung selama 45 menit. Pelaksana Air Traffic Control (ATC) Bandara Ahmad Yani Semarang, Bakti Yuda, mengatakan pendaratan tersebut berimbas penutupan karena ada sejumlah prosedur yang perlu dilakukan.

“Menyebabkan bandara close 45 menit. Pesawat itu kan tidak bisa serta merta keluar, ada beberapa prosedur sebelum keluar landasan,” kata Yuda saat ditemui di kantornya, Bandara Ahmad Yani Semarang, Jumat (28/2/2014). “Tadi sekitar jam 09.00 sampai jam 10.00-an. Sekarang sudah normal,” imbuhnya.

Akibatnya, sejumlah penerbangan pun mengalami penundaan. Salah satunya pesawat Lion Air yang menuju ke Jakarta. “Keberangkatan jam 09.45. Ditunda sampai jam 13.00. Saya ada acara di Jakarta jam 13.00, ya tidak jadi, saya pulang,” ujar anggota Komisi D DPRD Jateng, Hadi Santoso, salah seorang penumpang.

Diketahui Pesawat jet tempur T-50i milik TNI AU itu hendak ke bandara Iswahjudi, Madiun, Jatim. Namun menjelang langit Semarang, indikator generator pesawat menyala. Kadispen TNI AU Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto mengatakan ada kemungkinan persoalan teknis yang muncul bila indikator menyala. Bisa jadi generatornya terganggu, atau memang indikatornya ada masalah. Yang jelas, pilot masih bisa mendarat dengan mulus, tanpa ada gangguan apa pun.

Pesawat jet tempur T-50i milik TNI AU yang hendak ke bandara Iswahjudi, Madiun, Jatim, mendarat darurat di Semarang, Jawa Tengah. Ada persoalan teknis di bagian indikator generator yang membuat pilot harus memisahkan diri dari rombongan. Kadispen TNI AU Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto mengatakan, kejadian ini berlangsung pada pukul 09.30 WIB tadi. Ada empat pesawat T-50i yang terbang dari Halim Perdanakusumah, Jaktim, menuju Madiun. Namun di menjelang langit Semarang, indikator generator pesawat menyala.

“Sebenarnya pesawat masih bisa ke Iswahjudi kalau dalam kondisi perang. Tapi dalam kondisi damai seperti ini kita cari safe saja. Yang tiga melanjutkan, hanya satu yang mendarat,” kata Marsekal Pertama Hadi Jumat (28/2/2014).

Menurut Hadi, ada kemungkinan persoalan teknis yang muncul bila indikator menyala. Bisa jadi generatornya terganggu, atau memang indikatornya ada masalah. Yang jelas, pilot masih bisa mendarat dengan mulus, tanpa ada gangguan apa pun. “Tidak dianggap terlalu darurat, hanya kita jaga-jaga saja. Pesawatnya juga landing normal,” terang Hadi.

Pesawat T50i ini baru tiba di Indonesia pada Kamis (13/2/2014). Presiden SBY datang ke atraksi pertunjukan pesawat yang digelar di Bandara Halim Perdanakusumah tersebut. Pesawat tersebut memang akan ditempatkan di pangkalan udara Iswahjudi.

Pesawat ini akan digunakan sebagai pesawat Fighter Lead in Trainer atau untuk melatih calon penerbang tempur. Pesawat T-50i memiliki panjang 43 kaki, lebar sayap 31 kaki dan tinggi 16 kaki. Dengan total kapasitas angkut persenjataan 5 ton, pesawat ini dilengkapi dengan kanon gatling internal 3 laras General Dynamics 20mm. Dengan spesifikasi ini, pesawat tempur T-50i mampu menyemburkan 2.000 peluru per menit.

Kerinci Surga Wisata Dunia Yang Terlupakan


KERINCI, di perbatasan Jambi dan Sumatera Barat, bisa dibilang surga dunia wisata. Kawasan ini tak saja memiliki banyak pesona alam dan budaya, tetapi semuanya hadir bersama: gunung, danau, air terjun, kebun teh, hutan taman nasional, peninggalan bersejarah, dan seni tradisional. Mari kita daki Bukit Kayangan, satu kawasan puncak di Sungai Penuh, pusat kota kabupaten yang telah dimekarkan dan berjarak 10 kilometer dari pusat kota.

Memandang ke arah barat, pepohonan rimbun memenuhi gugusan Bukit Barisan. Berpaling ke timur, Kota Sungai Penuh terhampar di sebuah lembah bepermukiman padat. Tampak pula Danau Kerinci dengan airnya yang kebiruan. Di puncak bukit itu kita bisa merasakan udara dingin yang segar. Kabut dengan cepat menyelimuti seluruh pemandangan. Bak berada dalam dunia mimpi. ”Bukit ini jadi favorit wisatawan yang ingin menikmati seluruh kawasan Kerinci dari kejauhan,” papar Sofa, warga Sungai Penuh, awal Mei lalu.

Turun dari Bukit Kayangan, kita bisa menuju Kayu Aro, sentra pertanian hortikultura dan perkebunan teh di kaki Gunung Kerinci. Hamparan kebun teh tua membentuk petak-petak seperti motif beludru. Tak hanya menawan, kebun ini juga punya banyak keunikan. Didirikan Belanda tahun 1928, Kebun Teh Kajoe Aro menjadi satu hamparan teh terluas di dunia, 2.624 hektar, yang mencakup 29 desa. ”Teh Kajoe Aro menjadi langganan para bangsawan di Eropa,” kata Saiful Kholik Tanjung, Asisten Kepala Perkebunan Teh PTPN VI di Kayu Aro.

Di atas beludru hijau itu, Gunung Kerinci terlihat gagah. Menjulang setinggi 3.805 meter di atas permukaan laut. Ini adalah gunung vulkanik tertinggi di Sumatera. Tak jauh dari kawasan ini terdapat Danau Gunung Tujuh pada ketinggian 1.950 meter di atas permukaan laut, sebagai danau vulkanik tertinggi di Asia Tenggara. Indahnya….

Kerinci terasa semakin sempurna ketika kita mengetahui bahwa daerah itu juga kaya akan seni dan budaya tradisional, terutama tari dan lagu, yang rutin digelar pada Festival Danau Kerinci di pelataran danau. Selain itu, ada pula sejumlah batu besar peninggalan zaman megalitik pada awal Masehi, Danau Kaca, Rawa Bento, Air Terjun Telung Berasap, dan Air Panas Sumurup.

Daftar wisata alam di Kerinci sekitar 20 obyek. Semuanya punya pesona kuat karena umumnya masih perawan alias terpelihara dengan baik. Saking indah dan lengkapnya pesona alam di kawasan ini, muncul sebutan yang agak bombastis: Kerinci bagaikan sekepal tanah surga di dunia. ”Pokoknya, jangan mati sebelum ke Kerinci,” demikian pesan Bustomi (45), warga Gunung Tujuh, Kerinci.

Akses sulit
Sayangnya, berbagai potensi alam itu tak didukung infrastruktur memadai. Sarana pendukung seperti jalan raya, angkutan umum, dan penginapan kurang menunjang. Ini problem klasik yang menimpa banyak pengembangan wisata di Tanah Air. Soal akses jalan raya bisa menjadi masalah serius.

Kerinci saat ini bisa diakses dari tiga lokasi, yaitu dari Tapan dan Solok Selatan, Sumatera Barat, serta Bangko, Jambi. Di antara ketiga akses itu, hanya jalan dari Solok Selatan menuju Sungai Penuh yang kondisinya baik, walaupun berkelok-kelok. Sementara, dari Tapan dan Bangko, jalannya hancur-hancuran.

Jalan dari Kota Bangko menuju Kerinci sepanjang 60-an kilometer sudah lama rusak. Begitu pula ruas dari Tapan menuju Sungai Penuh. Lubang besar, aspal terkelupas dan retak-retak sangat mengganggu perjalanan. Beberapa titik di jalanan yang berkelok-kelok di atas bukit itu juga longsor. Saat hujan deras, longsoran kerap menyelimuti badan jalan. Kendaraan sulit melintas, bahkan jika melintas bisa tertimbun reruntuhan tanah merah.

”Jalan di sini deg-degan terus. Takut tergelincir masuk jurang atau terkena runtuhan longsoran,” ujar Faisal, pengunjung dari Jakarta. Sebenarnya ada juga transportasi udara, dari Bandar Udara Depati Parbo di Sungai Penuh. Setelah hampir tiga tahun ditutup, bandara itu belakangan ini beroperasi kembali.

Perjalanan udara dari Kota Jambi ke Kerinci dapat ditempuh satu jam saja. Namun, frekuensi penerbangannya rendah. Sebulan terakhir ini satu-satunya maskapai penerbangan dari Jambi menuju Kerinci, Riau Airlines, bahkan tidak lagi beroperasi, dari semula dua kali seminggu. Transportasi umum lainnya juga minim. Untuk menempuh perjalanan darat selama 10-12 jam dari Jambi ke Kerinci hanya tersedia sejumlah minibus dan bus ekonomi. Tingkat kenyamanannya jauh dari memadai.

Hotel yang berfasilitas baik masih terbatas. Tapi, di Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro, ada sejumlah rumah warga yang dijadikan home stay. Tamu bisa menginap di sana sambil larut dalam kehidupan warga yang sebagian besar bekerja sebagai petani sayur. Lemahnya infrastruktur membuat pesona alam Kerinci menjadi terabaikan, bahkan seperti terisolasi. Akibatnya, Kerinci belum menjadi tujuan wisata favorit bagi wisatawan domestik, apalagi mancanegara

Cara Berkunjung Ke Tanam Nasional Wisata Ujung Kulon


Anda ingin merasakan sensasi suasana hutan alam dengan beragam tumbuhan dan satwa liar di dalamnya? Atau hendak menikmati keindahan perairan dengan debur ombak dan panorama pantai yang menawan? Datang saja ke Taman Nasional Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Banten. Mencapai lokasi ini tidak sulit. Wisatawan Jakarta dapat memilih rute jalan darat Jakarta-Serang-Labuan sejauh 120 kilometer dengan lama tempuh 4-5 jam. Bisa juga rute Jakarta-Cilegon-Labuan sejauh 140 kilometer dengan lama tempuh 5-6 jam. Namun, jika tak ingin lelah dan akan menggunakan kendaraan umum, itu juga tak masalah karena dua rute itu dilayani angkutan umum bus dan minibus.

Apabila ingin meneruskan perjalanan ke kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) dengan naik kapal cepat berkapasitas sekitar delapan orang, pengunjung dapat berangkat dari Carita. Tarif sewa kapal cepat ini Rp 3,5 juta per hari. Pilihan lain, perahu motor berkecepatan sedang dengan kapasitas angkut sekitar 25 orang yang berangkat dari Sumur atau Tamanjaya. Tarif sewanya lebih murah, yakni Rp 1,8 juta per kapal per hari.

Pilihan transportasi sudah diputuskan, sekarang tinggal mempersiapkan diri untuk menikmati taman nasional tersebut. Para pelancong bisa menikmati keindahan laut dan pulau-pulau kecil dengan perairan di sekelilingnya. Pengunjung yang gemar berselancar dapat memuaskan tingginya gelombang ombak di Teluk Pulau Panaitan. Keindahan terumbu karang dapat dinikmati di taman laut Pulau Peucang dan Kepulauan Handeuleum.

Pengunjung yang berminat menyelam dapat melakukannya di perairan sekitar Pulau Peucang dan pantai utara serta timur Pulau Panaitan. Atau ada yang ingin bersantai dengan naik kano? Kegiatan mendayung perahu langsing ini dapat dilakukan di sepanjang Sungai Cigenter, Sungai Pamanggangan, dan Cikabeumbeum.

Sebagai catatan, tidak di setiap waktu pengunjung bisa memasuki hutan Semenanjung Ujung Kulon karena kawasan ini merupakan habitat satwa langka badak bercula satu. Pastikan agar jadwal kunjungan tidak berbarengan dengan masa kawin badak. Jadwal dan rute kunjungan ini harus dikonfirmasikan dulu ke Balai Taman Nasional di Labuan. Selain itu, karena lokasi taman nasional dikelilingi perairan Selat Sunda dan Samudra Hindia, faktor cuaca harus benar-benar diperhatikan demi keselamatan. Jangan memaksakan jika cuaca buruk dan gelombang tinggi.

Pemandangan di darat pun tidak kalah memesona. Bicara mengenai hutan, ada perbedaan antara hutan di Pulau Peucang dan di Semenanjung Ujung Kulon. ”Di Pulau Peucang dapat ditemui hutan primer, sedangkan di semenanjung ini adalah hutan sekunder,” kata Dodi Sumardi, pegawai Balai TNUK. Hutan primer dicirikan dengan lantai hutan yang relatif bersih dari semak belukar karena tumbuhan rendah tidak mampu berfotosintesis. Sementara itu, hutan sekunder, lantai hutannya penuh dengan semak belukar. Hutan sekunder di Semenanjung Ujung Kulon adalah hasil suksesi alami pascameletusnya Gunung Krakatau tahun 1883. Beragam jenis pohon menghiasi rimba Ujung Kulon yang merupakan hutan hujan tropis dataran rendah ini.

Ketika memasuki hutan di Gardu Buruk—salah satu blok di taman nasional—terlihat pohon kiara pencekik (Ficus sp) yang diameter jalinan akarnya lebih dari sepuluh rangkulan orang dewasa. Sebutan kiara pencekik karena pohon itu awalnya menempel di batang pohon inang. Namun, lambat laun, sembari mengisap sari makanan dari tubuh pohon inang, akar-akar kiara itu terus menjalar ke bawah hingga dapat menyedot hara dari dalam tanah. Pohon inang pun tercekik hingga mati, sementara kiara terus menjulang tinggi. Gambaran persaingan untuk bertahan hidup di alam.

Aneka satwa liar pun kerap dijumpai di taman nasional. Seekor ular pucuk dengan kepala berbentuk segitiga, tanda jenis ular berbisa, kami jumpai pula ketika mengikuti rombongan tim identifikasi badak tahun 2010 masuk ke hutan Ujung Kulon pertengahan Juni. Belum lagi burung-burung dari berbagai jenis. Diperkirakan, ada 250 jenis burung yang memiliki habitat di taman nasional sehingga lokasi ini menjadi tempat ideal untuk menyalurkan hobi mengamati burung. Jika berkunjung ke taman ini, jangan lupa bawa teropong.

Kegiatan lintas alam masuk keluar hutan merupakan paket wisata yang disukai beberapa kalangan. Wisata ini selain menuntut kesiapan fisik menembus hutan belukar, pengunjung pun harus sabar apabila bertemu satwa liar. ”Kegiatan tracking di alam liar banyak disukai pengunjung, terutama yang muda dan berjiwa petualang. Kalau wisatawan keluarga, kebanyakan lebih suka berwisata ke pulau-pulau di kawasan TNUK yang ada penginapannya,” kata Edi Bachtiar, pemandu.

Khusus di Pulau Handeuleum, kemungkinan besar pengunjung bertemu rusa dan monyet. Hal ini karena ada belasan rusa di pulau tersebut. Apabila beruntung, bisa bertemu rusa yang muncul dari balik pagar belukar tempat penginapan wisatawan. Rusa-rusa ini kerap mendekat dan menjulurkan kepalanya menyantap makanan yang diberikan para wisatawan.

Akan halnya dengan monyet, primata satu ini juga kerap terlihat di pepohonan, termasuk yang tumbuh di sekitar penginapan. ”Pada hari-hari tertentu, sering ada sekelompok monyet bermain ayunan di sulur-sulur pohon dan kemudian ramai-ramai menceburkan diri ke kubangan sekitar sungai,” kata Mustari, petugas di resor Handeuleum.

ADA beberapa kewajiban dan larangan bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Taman Nasional Ujung Kulon. Sebelum berkunjung ke taman nasional ini, konfirmasikan dulu rencana kedatangan Anda ke Pusat Kunjungan Balai Taman Nasional Ujung Kulon di Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 51 Labuan dengan nomor telepon (0253) 804681 atau 801731.

Selain sebagai laporan, langkah ini penting untuk memastikan masih adanya kamar di penginapan kawasan taman nasional agar pengunjung tidak kerepotan mencari tempat bermalam. Konfirmasi ini juga berguna agar ada kesiapan dari pemandu yang akan mendampingi, baik dari petugas taman nasional maupun pemandu dan portir yang telah ditunjuk Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Sebelum melakukan perjalanan lebih lanjut, jangan lupa menanyakan detail apa saja yang harus dipersiapkan dan dibawa selama berkunjung ke taman nasional tersebut.

Ketika masuk ke kawasan TNUK, seperti halnya di tempat wisata lainnya, setiap pengunjung dipungut biaya tiket masuk sebesar Rp 2.500 per orang untuk warga Indonesia dan Rp 20.000 per orang untuk warga negara asing serta biaya asuransi Rp 3.000. Selain itu, tiket masuk untuk kendaraan air besarannya bervariasi antara Rp 50.000 dan Rp 100.000 per kapal motor sesuai kekuatan mesin. Kedua pungutan ini merupakan bagian dari penerimaan negara bukan pajak.

Larangan
Mengingat Ujung Kulon berstatus sebagai taman nasional yang harus dijaga keaslian dan kelestariannya, pengunjung harus maklum dengan seabrek larangan yang harus dipatuhi. Hal itu, misalnya, larangan membawa senjata api, binatang peliharaan, benih tanaman, dan bahan kimia. Saat berkunjung ke TNUK ditabukan untuk berburu, menangkap, menebang, memotong, membawa, serta memiliki binatang, tumbuhan, dan biota laut serta bagian-bagiannya, baik dalam keadaan hidup maupun mati yang didapat dari kawasan taman nasional tersebut.

Aksi vandalisme pada tumbuhan, batu, dan bangunan pun dilarang. Selain itu, pantang bagi pengunjung untuk membuang sampah yang dapat mencemari lingkungan dan menyalakan api yang bisa menimbulkan kebakaran hutan. Para wisatawan yang berkunjung ke taman nasional jangan lupa mempersiapkan keperluan pribadi demi keselamatan, misalnya, obat-obatan ringan maupun obat pribadi serta losion antinyamuk. Jangan lupa membawa jaket, jas hujan, dan barang-barang personal lainnya.

Ketika masuk ke kawasan TNUK, pengunjung disarankan mengenakan baju atau kaus lengan panjang dan sepatu lars sebatas lutut untuk menghindari goresan duri rotan yang banyak tumbuh di hutan. Untuk mencegah menempelnya lintah atau pacet di kaki, pengunjung disarankan juga mengenakan kaus kaki tebal. Ujung celana panjang dimasukkan ke dalam kaus kaki tersebut agar tidak memberi ruang terbuka masuknya lintah atau binatang kecil lainnya

Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Pandeglang, Banten, terbuka bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke kawasan tersebut, dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. “Siapa pun boleh berkunjung ke kawasan TNUK, yang penting aturan yang ada dipatuhi demi kelestarian lingkungan,” kata Kepala Balai TNUK Pandeglang, Haryono di Pandeglang, Kamis (27/2/2014).

TNUK merupakan habitat badak jawa atau badak bercula satu yang harus dipelihara kelestariannya, dan kawasan itu juga ditetapkan sebagai tempat eko wisata. Namun, menurut Haryono, pengunjung yang datang ke taman nasional tersebut jangan berpikir untuk bisa dengan mudah melihat badak jawa yang merupakan hewan sangat dilindungi itu.

“Badak itu sulit ditemui. Hewan itu memiliki penciuman tajam, dan ketika mengetahui ada manusia datang mereka akan langsung melarikan diri,” katanya. Selain itu, lanjut Haryono, berdasarkan hasil monitoring hewan langka yang spesiesnya hanya ada di TNUK, tidak ada di negara lain itu, banyak melakukan aktivitas pada malam hari.

“Badak banyak beraktivitas pada malam hari. Pada siang hari justru kurang, ini berbeda dengan hewan lain seperti banteng,” katanya. Haryono juga menyatakan, berdasarkan hasil monitoring 2013, populasi badak jawa di TNUK sebanyak 58 ekor. “Dari hasil monitoring yang kita lakukan selama 2013 diketahui kalau jumlah badak jawa yang hudup di kawasan TNUK 58 ekor, yakni delapan anak dan 50 ekor badak remaja dan dewasa,” katanya.

Haryono memaparkan, dari delapan anak badak itu, sebanyak tiga di antaranya merupakan betina dan lima pejantan. Sedangkan dari 50 ekor badak jawa remaja dan dewasa, sebanyak 20 betina dan 30 jantan. Teknik monitoring yang dilakukan untuk mengetahui populasi badak jawa, yakni dengan memasang kamera video di semenanjung kawasan TNUK.

“Sebanyak 120 unit kamera video kita pasang dalam kegiatan monitoring tersebut. Pemasangan dilakukan dengan mengikatnya pada batang pohon pada lokasi yang sering dilewati dan didatangi badak, seperti padang pengembalaan dan kubangan,” katanya. Kamera video yang dipasang sudah didesain sedemikian rupa sehingga bisa berfunsi pada malam hari, dan kalau ada gerakan di sekitarnya akan aktif dengan sendirinya.

Gunung Marapi Di Tanah Datar Sumatera Barat Kembali Semburkan Abu Vulkanik


Gunung Marapi di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mengeluarkan abu vulkanik sore tadi. Kabut dan cuaca berawan menghalangi pantauan arah abu tersebut. “Sekitar pukul 16.15 WIB tadi, ketinggian dan arah abu tidak teramati karena kabut dan cuaca berawan,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho .

Gunung berapi setinggi 2.800 meter dari atas permukaan laut ini mengeluarkan abu selama 38 detik. Menurut Sutopo, aktivitas ini kerap dilakukan Marapi sejak dua tahun lalu namun sudah ditetapkan tak ada aktivitas dalam radius 3 km dari puncak gunung.

“Fenomena biasa karena sudah sering meletus sejak 3 Agustus 2011. Yang penting tidak ada aktivitas di radius 3 km dan sekitar situ memang tidak ada pemukiman,” kata Sutopo. Sutopo menyebutkan status Gunung Marapi saat ini adalah waspada atau level II. Pengawasan aktivitas Gunung Marapi terus dipantau hingga saat ini.

Siang tadi, terjadi letusan kecil di Gunung Marapi, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Abu vulkanik yang meletus diperkirakan mencapai ketinggian 200 meter. “Tadi siang pukul 13.00 WIB, kurang lebih 200 meter,” kata Warsono, petugas posko pemantauan Gunung Marapi. Warsono saat ini sedang melakukan pengecekan lebih jauh soal peristiwa tersebut. Namun demikian, dia memastikan letusan itu tidak terjadi dalam waktu yang lama.

“Cuman sebentar kok,” imbuhnya.

Gunung Marapi terletak di antara Kabupaten Tanahdatar dan Agam, Sumatera Barat. Gunung tersebut memiliki ketinggian 2.891 meter dari permukaan laut. Salah satu gunung aktif di Sumatera Barat itu mengalami peningkatan aktivitas sejak 3 Agustus 2011 sekitar pukul 09.00 WIB. Gunung Marapi terakhir kali meletus pada 2005. Dalam kondisi aktif normal, gunung yang berdampingan dengan Gunung Singgalang dan Tandikek itu menjadi salah satu tujuan pendakian.

Gunung Marapi di Kabupaten Tanah Datar dan Agam, Sumatera Barat (Sumbar) meletus. Namun meletusnya Gunung Marapi ini adalah aktivitas yang wajar. Penduduk tak perlu panik. “Sudah meletus memang, sudah lama beberapa bulan yang lalu,” ujar Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono ketika dikonfirmasi.

Letusan materi vulkanik Gunung Marapi maksimum bisa mencapai 300-1.000 meter. Penduduk di sekitar Gunung Marapi, imbuh Surono, berada dalam radius 6 km. “Radius amannya 3 km, statusnya waspada. Itu wajar, nggak perlu (evakuasi),” tegas Surono. Sementara Kepala Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar Ade Edward mengatakan sejak Agustus 2011, Gunung Marapi mengeluarkan debu. Gunung Marapi mengeluarkan debu 4-5 kali.

“Ini kita waspadai terus sambil mempersiapkan masyarakat di sana kalau terjadi letusan yang sifatnya merusak. Sekarang masker sudah didistribusikan karena debu. Masyarakat dan aparat sudah kita siapkan kalau ada tindakan darurat, sudah disosialisasikan,” jelas Ade.

Begitu pun juga jalur evakuasi, sudah disiapkan bila letusan gunung itu merusak dan mengeluarkan awan panas. “Kalau debu masih aman. Kalau sudah mulai batu dan pasir harus dievakuasi. Kalau sudah ada awan panas itu tidak aman, karena lontaran materinya sampai radius 5 Km. Ini belum mengkhawatirkan, tapi tetap diwaspadai,” jelas Ade.

Oven Di Sevel Seven Eleven Matraman Meledak


Belasan pegawai dan pengunjung di dalam minimarket Seven Eleven, di Jl. Matraman Raya, Matraman, Jakarta Timur, berlari kocar-kacir, Rabu (26/2) dinihari. Mereka terkejut hingga kemudian berlarian menyelamatkan diri ke luar dari minimarket itu setelah mendengar dan menyaksikan suara ledakan dari sebuah oven di atas meja kasir.

Peristiwa itu terjadi sekitar Pk. 01:00. Kejadiannya bermula dari munculnya asap pada oven yang sedang aktif memanaskan makanan siap saji pesanan salah seorang pengunjung.

Spontan salah satu pegawai dibantu seorang pengunjung kemudian mencoba mengatasi keluarnya asap dengan menggunakan alat pemadam api ringan (Apar). “Tapi begitu mau disemprot malah muncul ledakan disertai api yang lumayan besar, asap pun kemudian dengan cepat mengebul di area dalam,” kata Rio, seorang pengunjung yang saat kejadian sedang memilih-milih makanan bersama temannya di minimarket itu, Rabu (26/2) dinihari.

Rio dan kawannya itu kemudian berlari ke luar minimarket untuk menyelamatkan diri. “Pegawai dan belasan pengunjung lain termasuk yang lagi nongkrong di atas juga ikut lari ke luar. Kami takut apinya merembet ke bagian lain,” sambungnya.

Santika, petugas kemanan, membenarkan, kejadian itu. Namun, ia menambahkan, api tidak sampai merembet ke benda lain di sekitarnya lantaran keburu berhasil dipadamkan oleh petugas Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Sudin Damkar dan PB) Jaktim.

“Jadi, setelah melihat ada asap mengebul di bagian dalam, saya langsung menghubungi petugas pemadam kebakaran. Beruntung, pemadam cepat datang dan berhasil memadamkan api yang hanya membakar oven,” katanya.

Meski pegawai dan pengunjung sempat panik, Santika menjelaskan, tidak ada korban jiwa maupun luka . Namun, menurutnya, beberapa pegawai wanita sempat menangis setelah melihat salah satu oven di tempat mereka bekerja terbakar.

Sujiono, salah seorang perwira Sudin Damkar dan PB Jaktim mengatakan ada tiga mobil pemadam yang dikerahkan untuk mengatasi kebakaran tersebut. Mereka datang setelah menerima kabar kebakaran itu dari petugas keamanan setempat.

Kasus ini ditangani Polsek Matraman. Sementara, kerugian diperkirakan mencapai jutaan rupiah

Sopir Kopaja AC Baku Hantam Dijalur Busway Diduga Karena Rebutan Penumpang dan Setoran


Dua orang sopir Kopaja AC trayek P-20 terlibat baku pukul pagi tadi di Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Menurut keterangan salah seorang saksi, Maryati, 27 tahun, keduanya berkelahi setelah sempat terlibat adu salip. “Busnya berhenti di busway, sopirnya turun terus pukul-pukulan,” ujarnya kepada Tempo, Selasa, 25 Februari 2014. Ia menyatakan kejadian tersebut tak berlangsung lama, sekitar sepuluh menit, tapi sempat membuat macet jalan menuju Buncit, Mampang, dan Kuningan.

“Jadi mobilnya saling salip, keluar masuk jalur busway, terus di depan (dekat halte bus Transjakarta Kosgoro) baru berantem sopirnya,” ujarnya. Banyak warga, termasuk kernet, melerai perkelahian kedua sopir ini. “Setelah itu, langsung damai terus pada bubar, polisi juga belum sempat datang,” katanya.

Menurut salah seorang petugas halte bus Transjakarta Kosgoro, Imam, 26 tahun, Kopaja AC yang diperbolehkan masuk busway tak boleh saling salip. “Setahu saya kalau masuk sini (busway), aturannya sama kayak bus Transjakarta,” ujarnya. Namun perilaku pengemudi bus sedang ini tak bisa dimengerti olehnya. “Padahal di halte juga penumpang antre. Saya bingung juga kenapa harus saling susul,” katanya.

Dari pantauan, di sekitar halte tersebut, separator busway masih belum tinggi, sehingga kendaraan dengan leluasa keluar-masuk busway. Menurut salah seorang pengguna bus, ada dua cara agar hal tersebut tak terulang.

“Pertama, separatornya ditinggikan. Kedua, si sopirnya harus dididik lagi. Ya, harus beda dong sopir Kopaja AC dengan Kopaja biasa. Kita masih sanggup kok bayar lebih mahal lagi, ya, kalau ugal-ugalan ya mending saya bawa mobil pribadi aja, ” ujarnya.

Ketua Umum Kopaja Nanang Basuki mengklaim perkelahian dua orang sopir Kopaja AC P-20 yang terjadi di ruas busway kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, bukan disebabkan berebut penumpang.

Nanang juga mengklaim perkelahian dua anak buahnya itu bukan disebabkan masalah setoran. “Mungkin ada masalah lain, yang pasti bukan soal berebut penumpang,” kata Nanang saat dihubungi, Selasa, 25 Februari 2014. “Keduanya sudah kami bawa ke kantor untuk segera diproses.”

Nanang mengatakan, memang, Kopaja AC P-20 jurusan Senen-Lebak Bulus masih menggunakan sistem setoran. Dalam satu hari, kata Nanang, para sopir harus menyetor Rp 750-800 ribu. “Sanksi buat mereka bisa dikeluarkan,” ujarnya. “Kami sudah banyak mengeluarkan sopir akibat perilakunya di jalan yang ugal-ugalan.”

Meski melewati jalur Transjakarta, Nanang mengaku setoran ini diberlakukan karena pihaknya tidak mendapat subsidi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “Dan kami sudah mendapat izin dari Dishub DKI,” ujar Nanang. “Mana berani kalau tidak mendapat izin, kami lewat busway. Untuk urusan teknisnya Dishub yang berwenang.”

Nanang juga mengklaim sudah ada beberapa sopir Kopaja AC yang diberi intensif. Namun dia enggan memberi tahu berapa uang intensif yang diberikan kepada sopirnya itu. “Seperti Kopaja S-602 jurusan Ragunan-Monas dan S-13 jurusan Ragunan-Grogol,” kata Nanang.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyatakan akan menindak tegas Kopaja AC yang melintasi jalur bus Transjakarta apabila masih menggunakan sistem setoran. Ahok mengatakan seharusnya bus Kopaja AC bersistem setoran sudah tidak boleh melintasi busway.

“Bukan undang-undang yang mengatur, tapi memang selain Transjakarta tidak bisa melintasi jalur busway,” kata Ahok di Balai Kota, Selasa, 25 Februari 2014. “Tapi kalau Kopaja AC lewat jalur busway masih pakai setoran itu tidak boleh, harusnya ditilang.”

Sebelumnya, dua sopir Kopaja AC P-20 jurusan Senen-Lebak Bulus berkelahi di ruas buswayd di wilayah Pejaten, Jakarta Selatan. Kedua sopir ini diduga berkelahi karena berebut penumpang.

Menanggapi hal ini, Ketua Umum Kopaja Nanang Basuki membantah bahwa pertikaian itu terkait dengan masalah rebutan penumpang dan setoran. Menurut dia, pertikaian yang terjadi tak lebih dari masalah pribadi antarkedua sopir itu.

Nanang mengaku izin Kopaja AC sudah diberikan Dinas Perhubungan DKI. Mengenai setoran, dia menyatakan sistem itu masih harus diterapkan karena pihaknya belum mendapat subsidi dari pemerintah DKI.

LBH Mawar Saron Akan Laporkan Panti Asuhan Samuel


Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Mawar Saron melaporkan panti asuhan Samuel di Gading Serpong, Tangerang ke Polda Metro Jaya. Pengurus panti itu diduga menyiksa, melecehkan, dan mengeksploitasi 30 anak yang tinggal di sana. Kepala Divisi Non-Lit LBH Mawar Saron, Jecky Tengens mengatakan dugaan itu bermula dari laporan salah satu anak asuh di sana berinisial H. “Dua pekan lalu H berhasil kabur dan melapor ke donatur panti, mereka lalu meminta bantuan kami,” ujar Jecky ketika dihubungi, Ahad, 23 Februari 2014.

Menurut laporan itu, berbagai sumbangan dari donatur seperti makanan dan pakaian tak sampai ke atangan anak-anak panti. “Donatur itu memang bingung karena anak-anak terlihat lusuh, kurus, dan tidak terurus padahal sudah sering diberi bantuan,” ujar Jecky. Ternyata, bukan hanya tak dirawat, anak-anak itu juga sering mengalami memar, luka bekas sabetan, bahkan bekas gigitan. “Menurut H, mereka sering diberi makanan basi, minum air mentah, juga sering diikat , diseret, dan dikurung oleh pemilik panti,” kata dia.

Bahkan ada satu anak perempuan yang mengaku dilecehkan dan diperkosa. LBH Mawar Saron kemudian melaporkan kasus ini ke Mabes Polri namun akhirnya kasus ditangani oleh Polda Metro Jaya. “Besok, enam orang anak yang sudah berhasil kabur akan dimintai keterangan polisi,” ujar Jecky. Menurut dia, LBH Mawar Saron juga sudah bertemu dengan sejumlah tetangga panti asuhan itu. “Mereka sudah tahu tetapi takut melapor,” katanya. “Mereka menyarankan memberi donasi makanan yang bisa cepat dihabiskan, soalnya kalau makanan awet suka dijual lagi,” kata Jecky.

Rencananya, besok LBH Mawar Saron akan menggelar konferensi pers terkait kasus ini. “Tetapi saksi kami sekarang masih berada di safe house, setelah itu mereka akan dimintai keterangan di Polda Metro Jaya,” kata dia. Komnas Perlindungan Anak menemukan adanya indikasi penelantaran anak-anak di Panti Asuhan Samuel, Gading Serpong, Kabupaten Tangerang. “Setelah kami datang dan mengecek lokasi, ada indikasi penelantaran anak-anak di panti asuhan ini,” ujar Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait di lokasi, Senin, 24 Februari 2014.

Indikasi penelantaran anak, kata Arist, di antaranya ditemukan dua balita sakit dengan demam tinggi tapi tidak segera ditangani. “Semestinya segera opname ke rumah sakit,” katanya. Oleh pemilik yayasan, bayi berusia 3 bulan dan 1 tahun itu dibiarkan saja dan hanya diberi obat penurun panas. Indikasi lainnya, kata Arist, 32 anak yang tinggal di sana tidak diberi tempat dan fasilitas yang memenuhi standar nasional dan internasional untuk anak. “Sebagai tempat penampungan anak, tempat ini tidak memenuhi standar,” kata Arist.

Menurut Arist, semestinya panti itu dilengkapi dengan ruangan khusus bayi dan kamar anak. Fasilitas penunjang seperti ruang bermain anak juga tidak ada. Berdasarkan pantauan, bangunan tiga lantai yang diberi nama Samuel Home itu memang sama sekali tidak memiliki kamar dan ruang anak. Dari empat kamar yang ada, hanya terdapat tempat tidur tingkat empat. Jadi seluruh anak di panti itu menempati kamar beramai-ramai.

Samuel Watulinggas, pemilik yayasan, mengaku tidak tahu soal standardisasi dan kelayakan yang dimaksud Arist. “Itu kan kata dia (Arist), bagi kami itu sudah layak,” katanya. Menurut Samuel, dia tidak tahu apakah panti yang ia dirikan sejak 14 tahun lalu itu memenuhi standar perlindungan anak atau tidak. “Saya tidak tahu, tapi selama ini saya selalu berusaha mencapai standar, meski kadang terkendala dana,” katanya.

Sekretaris Jenderal Komnas Anak Samsul Ridwan mengungkapkan bahwa perlakuan buruk terhadap anak-anak asuh oleh Panti Asuhan kerap terjadi tiap tahunnya. “Untuk data berjalan tahun ini belum ada ya. Tapi tahun 2012 ada 11 laporan tentang panti asuhan dan tahun 2013 ada 8 laporan,”ujar Samsul ketika dihubungi, Senin, 24 Februari 2014.

Samsul berkata, jenis laporan terkait panti asuhan itu beragam. Samsul mengatakan, beberapa laporan yang ia ingat adalah ada laporan soal anak-anak disakiti, anak-anak ditelantarkan, dan anak-anak tidak diberi makan. Meski menerima banyak laporan, Samsul mengaku belum semua laporan itu ditindaklanjuti. Alasannya, kata ia, karena sejumlah lokasi berada di luar Jakarta. “Tapi ini belum memberikan gambaran besar berapa panti asuhan yang bermasalah ya. Kami menghitung berdasarkan laporan yang masuk,” ujar Samsul.

Hal senada diucapkan oleh Sekretaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia Muhammad Ihsan. Ihsan berkata, tahun lalu, dirinya menerima lima laporan tentang perlakuan kasar di Panti Asuhan Samuel, Gading Serpong, Tangerang, Banten. Panti Asuhan Samuel adalah panti yang diduga melakukan tindak kekerasan terhadap anak-anak asuhnya. Hal ini mencuat setelah sejumlah anak asuhnya kabur karena merasa tak betah lagi di sana. Total ada 7 anak dari 30 anak asuh yang kabur karena tak betah. Mereka mengaku diperlakukan kasar seperti diberi makanan basi, dipukul, dan dipaksa tidur di kandang anjing.

“Awalnya kami dapat laporan berupa hasil investigasi dari salah satu media nasional dan Kementerian Sosial, lalu ada laporan masuk juga yang sama,” ujar Ihsan. Sekretaris Jenderal Komnas Anak Samsul Ridwan mengatakan bahwa munculnya kasus-kasus kekerasan di panti asuhan seperti di Panti Asuhan Samuel, Gading Serpong, Tangerang, Banten, karena kurangnya pengawasan dari pemerintah. “Pemerintah selama ini kurang memperhatikan apakah panti asuhan yang berdiri itu memiliki izin atau tidak,” ujar Samsul saat dihubungi, Senin, 24 Februari 2014.

Selain karena pemerintah kurang mengawasi, Samsul mengatakan bahwa munculnya kasus penyiksaan juga karena pemerintah kurang memfasilitasi para anak terlantar. Alhasil, banyak berdiri panti-panti swasta yang kurang terjamin operasionalnya. Panti-panti yang ada sekarang, kata Samsul, sebagian besar juga tak layak. Adapun tak layaknya karena fasilitas tak lengkap dan kapasitas ruangan tak memadai. “Seharusnya ada standar pelayanan untuk Panti Asuhan. Kalau pemerintah tak bisa, minta bantuan masyarakat juga,” ujarnya.

Hal senada diucapkan oleh Sekretaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia Muhammad Ihsan. Ihsan berkata, kasus panti asuhan yang merawat anak secara tak layak muncul karena pemerintah tak menjamin nasib anak terlantar. “Siapkan infrastruktur untuk menjamin anak terlantar. Kalau gak ada panti, bahas dengan masyarakat sekitar apa yang kira-kira bisa dilakukan. Anak terlantar tanggung jawab pemerintah juga,” ujarnya.

Ihsan juga meminta pemerintah untuk lebih awas dalam mengawasi pembentukan panti-panti asuhan swasta. Ini untuk mencegah terbentuknya panti asuhan illegal yang menyiksa anak dan menyalahgunakan donasi. “Jangan kasih izin sembarangan.” Kasus terbaru tentang kekerasan terhadap anak-anak asuh panti asuhan adalah kasus penganiayaan di Panti Asuhan Samuel, Gading Serpong, Tangerang, Banten. Di sana, dikabarkan sejumlah anak disakiti dan donasi disalahgunakan.

Kasus ini mencuat karena ada 7 anak kabur dari panti yang kemudian melapor ke donatur bahwa mereka diperlakukan tak layak. Siksaan yang mereka hadapi mulai dari dipukuli, tak diberi makan, hingga dipaksa tidur di kandang anjing. Ihsan melanjutkan, laporan itu sudah mereka lanjutkan ke Dinas Sosial dan Polres Tangerang. Namun, hingga sekarang, kata Ihsan, belum ada laporan baru dari mereka.

Panti Asuhan Samuel sudah beroperasi sejak 14 tahun lalu dan sudah tiga kali berpindah tempat. Panti ini pindah karena selalu ditolak dan dikecam masyarakat sekitar lokasi. “Dari isu kristenisasi sampai eksploitasi menjadi alasan lingkungan menolak kami,” ujar Samuel Watulingas, pemilik Panti Asuhan itu, Senin 24 Februari 2014.

Panti Asuhan yang dikelola langsung oleh Samuel dan istrinya, Yuni Winata, dimulai pada 2000 menempati sebuah Ruko di kawasan Great Western Serpong, Cipondoh, Kota Tangerang. Tiga tahun beroperasi di tempat itu, mereka pindah ke Cihuni, Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Akhir 2013, Samuel membangun rumah di Sektor 6 Gading Serpong. Pembangunan rumah tiga lantai di atas lahan 164 meter persegi itu baru selesai satu bulan yang lalu. “Rumah ini hasil dari uang saya sendiri dan para donatur,” katanya.

Untuk membangun Samuel Home itu, menurut Samuel, dia telah menghabiskan dana Rp 2 Miliar. Rumah yang menampung 32 anak yatim itu terdiri dari tiga lantai dengan empat kamar tidur. Setiap kamar tidur hanya dilengkapi ranjang susun tiga dan anak-anak di panti itu tidur beramai ramai. Tak ada ruang khusus bayi maupun kamar anak.

Warga sekitar mengaku tidak tahu persis kegiatan di dalam rumah panti asuhan itu. “Yang kami tahu banyak anak-anak saja,” kata Yopi, 40 tahun tetangga Samuel. Sepak terjang Samuel selama ini juga banyak diketahui warga. “Sisi negatifnya banyak dan sering kami dengar salah satunya soal eksploitasi anak,” kata Yopi. Yopi mengaku mengetahui kegiatan Samuel sejak Panti Asuhan itu berada di Cihuni.

Anak-anak asuh Panti Asuhan Samuel mengatakan bahwa orang tua asuh mereka di panti, Pendeta Samuel Watulingan dan Yeni Winata, menggunakan uang donasi untuk belanja di mal. “Ayah dan bunda pergi ke mal menggunakan uang donatur,” ujar salah satu anak asuh, Y (13), di kantor Lembaga Bantuan Hukum Mawar Saron, Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin, 24 Februari 2014. Panti Asuhan Samuel adalah panti yang dilaporkan telah melakukan penyiksaan terhadap anak asuhnya dan menyalahgunakan uang donasi. Adapun pelaporan ini dilakukan oleh sejumlah anak asuhnya yang kabur karena sudah tak betah tinggal di panti. Y adalah salah satunya.

Y melanjutkan bahwa ayah dan bunda tak hanya menyalahgunakan uang donasi. Donasi berupa sembako pun, kata Y, juga disalahgunakan dengan cara dijual. Meski begitu, Y menambahkan bahwa dia bisa kabur lantaran ayah dan bundanya itu tengah membelanjakan uang donasi. “Waktu siang, Ayah dan Bunda sedang pergi ke mal menggunakan uang donatur, saya lalu kabur bersama YU dan O. Mereka memang jarang di panti malah lebih sering di apartemennya,” ujar Y.

Hal senada diucapkan oleh pengacara LBH, Jecky Tengens. Jecky berkata, anak asuh dijadikan alat oleh pengelola untuk mengeruk donasi sebesar-besarnya. Jika donasi yang didapat makanan atau pakaian, Jecky mengatakan keduanya dijual kembali. “Betapa tidak, sembako maupun uang tak pernah dinikmati anak-anak. Mereka terus saja diberi makanan mie kering basi. Anak-anak sampai minta dikasih makanan yang langsung habis,” ujarnya.

Jecky menambahkan, kedua pemilik panti juga kerap pelesiran dan tinggal di apartemen mewah, kontras dengan kondisi panti dan anak-anak. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) telah mengevakuasi 12 dari 32 anak asuh Panti Asuhan Samuel di Gading Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin, 24 Februari 2014. Dua belas anak-anak itu yang terdiri atas sebelas balita dan satu anak beranjak remaja dititipkan di tempat aman bekerja sama dengan Kementerian Sosial.

Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait mengatakan dua dari sebelas balita belum dapat ditempatkan ke tempat aman karena masih dirawat di Rumah Sakit Betsaida, Serpong. “Demamnya tinggi sampai 38 derajat, bagi anak suhu setinggi itu bisa saja step. Jadi untuk sementara diopname sampai sembuh,” ujarnya. Sementara itu, anak-anak lainnya yang belum dievakuasi karena masih sekolah akan dijemput pada Selasa, 25 Februari 2014. “Sisanya masih ada sekitar delapan anak lagi akan kami evakuasi,” ujarnya. “Intinya, kami akan selamatkan anak-anak terlebih dahulu, tapi kasusnya tetap berjalan.”

Panti Asuhan Samuel menjadi sorotan karena adanya laporan penyiksaan, penyekapan, dan eksploitasi anak. Ditemui di kantor Komnas Anak, anak-anak ini tampak riang bermain tanpa alas kaki. Mereka belum paham perlakuan apa yang dialami selama tinggal di panti asuhan itu. Sebab, usia mereka masih balita. Padahal, dilihat secara fisik, ada beberapa luka di bagian tubuh mereka. Luka dan benjolan di sekitar dahi pun masih tampak di beberapa anak. Salah satu anak yang sudah cukup besar, N, 14 tahun, pun tak lancar berbicara.

Ternyata anak-anak Panti Asuhan Samuel, Gading Serpong, Tangerang, Banten, tak hanya mendapat penyiksaan fisik saja, tapi juga menerima tindak kekerasan seksual.”Ada dua anak yang menjadi korban kekerasan seksual,” ujar salah satu donatur yang ikut menampung anak-anak asuh, Deborah, 47 tahun, Senin, 24 Februari 2014.

Panti Asuhan Samuel adalah panti yang dilaporkan telah melakukan tindak kekerasan terhadap anak-anak asuhnya. Hal ini mencuat setelah sejumlah anak asuh dari panti itu kabur untuk melaporkan tindak kekerasan tersebut. Deborah mengatakan kedua anak yang menjadi korban kekerasan seksual adalah perempuan. Usia mereka adalah 13 dan 14 tahun. Menurut Deborah, orang yang melakukan pelecehan seksual tersebut ialah salah satu pemilik Panti Asuhan Samuel atau yang sering dipanggil ayah oleh anak-anak panti asuhan. (Baca: Anak Panti Asuhan Samuel Tidur di Kandang Anjing).

Secara terpisah, Wakil Direktur Divisi Pidana LBH Mawar Saron, Yuliana Rossalina, mengatakan salah satu korban pelecehan seksual telah dilakukan visum. “ternyata hasilnya positif (mengalami pelecehan),” ujar Yuliana.