Category Archives: HIV AIDS Indonesia

Polisi Berhasil Bongkar Sindikat Prostitusi Paedofil Oleh Kaum Gay Homoseksual


Penyidik Badan Reserse Kriminal Polri kembali menangkap dua tersangka kasus prostitusi paedofil penyuka sesama pria (gay). “Ditangkap di Pasar Ciawi (Bogor, Jawa Barat), kemarin malam,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Brigadir Jenderal Agung Setya di Markas Besar Polri, Jakarta, Kamis (1/9).

Baca Juga : Wasapada, Paedofil Disekitar Kita

Tersangka yang ditangkap berinisial U dan E. Tersangka E diduga membantu tersangka yang lebih dulu ditangkap, AR, dalam menyiapkan rekening untuk menampung dana yang masuk. Selain itu, E juga diduga turut melakukan kegiatan seksual terhadap anak-anak yang jadi korban. Sementara U diduga mengeksploitasi anak, berperan sebagai muncikari seperti AR. Mereka berbeda jaringan, tapi Agung menyebut keduanya berhubungan.

Berdasarkan pengakuan U kepada penyidik, ada empat bocah yang jadi korban eksploitasinya. Agung menduga masih ada jaringan lain dalam bisnis prostitusi ini. “Kami bekerja mengungkap ini sampai jaringannya. Saya ingin temukan lingkup luas dari AR, U dan E,” kata Agung. Sebelumnya AR ditangkap di sebuah hotel di Cipayung, Bogor, Jawa Barat. Bersamanya ditemukan tujuh anak yang jadi korban eksploitasi seksual.

Para bocah laki-laki itu dijajakan untuk pelanggan sesama jenis lewat media sosial Facebook dengan tarif Rp1,2 juta. Sementara para korban hanya diberi imbalan Rp100-200 ribu. Penyidik menduga ada 99 korban secara keseluruhan yang dieksploitasi oleh AR. Namun mereka hingga saat ini masih belum diketahui keberadaannya.

Markas Besar Polri mengungkapkan tersangka pelaku prostitusi anak yang menyasar pelanggan homoseksual adalah seorang residivis. “Tersangkanya AR, sudah ditangkap. Ternyata seorang residivis perkara yang sama beberapa tahun lalu,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, Selasa malam (30/8), mengungkapkan inisial sang pelaku.

AR yang biasa bergerak melalui media sosial Facebook, kata Boy, sudah pernah dihukum penjara dua tahun enam bulan atas perkara prostitusi. Sama seperti kali ini, saat itu dia juga ditangkap penyidik Cyber Crime Bareskrim Polri. Kata Boy, AR ditangkap di sebuah hotel di Km 75 Jalan Raya Puncak, Cipayung, Bogor. “Hotel itu tempat menyimpan anak-anak yang jadi korban.” Bersama tersangka, turut diamankan tujuh orang anak yang jadi korban kejahatan ini. Saat ini, pelaku dan korban masih diperiksa oleh penyidik.

Pantauan CNNIndonesia.com di Markas Besar Polri, Jakarta, sejumlah anggota keluarga korban juga mendatangi gedung Bareskrim untuk menghadap penyidik. Di Facebook, lanjut Boy, AR punya komunitas pelanggan tersendiri. Mereka diduga saling mengenal satu sama lain. Boy mengatakan para pelanggan juga bisa dikenakan sanksi hukum. Namun, hal itu butuh penelusuran lebih lanjut.

“Nanti pasti (dijerat) kalau berhasil ditemukan. Sementara yang ditemukan kan korban dan pelaku,” ujarnya. Penyidik Badan Reserse Kriminal Polri menangkap tersangka pelaku prostitusi daring dengan korban anak-anak, Selasa (30/8). Ketika dikonfirmasi oleh CNNIndonesia.com, Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Brigadir Jenderal Agung Setya membenarkan penangkapan ini, meski enggan memberikan rincian lebih lanjut. “Besok akan kami rilis,” ujarnya singkat.

Pantauan di Markas Besar Polri, Jakarta, sejumlah anggota keluarga korban terlihat mendatangi Gedung Bareskrim, Selasa malam. Mereka hendak bertemu dengan penyidik Subdirektorat Cyber Crime di lantai IV. Seperti Agung, Asrorun juga tidak menampik, namun enggan merinci. “Besok saja ya,” ujarnya sambil terus berjalan. Polisi menyebut ada 99 orang korban yang diperalat oleh tersangka AR untuk melayani para pria paedofil dan homoseksual. AR mematok tarif 1,2 juta untuk satu kali layanan prostitusi. Para korban oleh AR dibayar sebesar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu.

“Tidak hanya tujuh (anak), dari daftar dia korban ada 99 orang. Ini kami tangani secara berkelanjutan,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Agung Setya di Markas Besar Polri, Jakarta, Rabu (31/8). Saat ini polisi masih terus mengidentifikasi para korban. Namun untuk sementara diketahui sebagian besar dari mereka berasal dari Jawa Barat.

AR diketahui menjalankan bisnis haramnya sekitar satu tahun. Meski sudah memiliki istri, AR juga diduga memiliki perilaku menyimpang. Dengan korban yang begitu banyak, Agung mengatakan penyidik masih mendalami kemungkinan adanya sindikat yang bekerjasama dengan AR. Terlebih, untuk merekrut anak laki-laki sebanyak ini dinilai Agung bukan perkara mudah. “Untuk dapat merekrut anak ada satu hal tidak seperti yang lain, apalagi ini anak laki-laki. Kami identifikasi lebih dalam.”

Tersangka AR ditangkap penyidik Subdirektorat Cyber Crime, Selasa (30/8). Berawal dari patroli siber Kepolisian, dia diketahui menjajakan anak laki-laki di bawah umur kepada pelanggan sesama jenis lewat media sosial Facebook. AR ditangkap di Cipayung, Bogor. Saat penangkapan, turut diamankan delapan korban. Tujuh masih berusian di bawah umur dan satu korban berusia dewasa. Agung belum mau merinci soal 99 korban yang dia maksud. Ketika ditanya soal ini, dia hanya mengatakan penyidik masih memeriksa tujuh anak yang sudah ditemukan.

Pemeriksaan kesehatan juga dilakukan untuk mengantisipasi penularan penyakit seksual dan gangguan kejiwaan. “Kami akan lakukan proses penanganan komprehensif, bekerjasama dengan Kemensos ditempatkan di rumah singgah bersama psikiater,” kata Agung. AR adalah seorang residivis yang sebelumnya ditangkap untuk kasus yang serupa. Hanya saja, sebelumnya dia mengeksploitasi anak perempuan.

Atas perlakuannya, dia dihukum 2,5 tahun. Namun, seolah tak kapok kini AR justru kembali menjalankan bisnisnya. Karena itu, dia terancam hukuman 12 tahun penjara karena diduga melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pornografi, Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Perlindungan Anak. Badan Reserse Kriminal Polri membongkar aksi prostitusi anak laki-laki untuk pelanggan laki-laki (gay) di kawasan Bogor, Jawa Barat. Dalam pendalaman yang dilakukan, polisi menemukan bahwa pelaku yang berinisial AR tidak bekerja sendiri.

“Dari keterangan yang ada mereka ini ada muncikari yang lain, jika stok mereka habis maka dia akan menghubungi rekannya,” ujar Kepala Bareskrim Polri Komisaris Jenderal Ari Dono saat menggelar jumpa pers di Mabes Polri, Rabu (31/8). Ari menuturkan AR sudah bekerja sebagai muncikari anak laki-laki selama satu tahun. Namun berdasarkan penelusuran terbukti bahwa dia baru saja keluar dari penjara sekitar dua bulan lalu.

Pelaku di penjara di lembaga permasyarakatan di Bogor atas tuduhan melakukan tindak pidana perdagangan orang berjenis kelamin perempuan. Dia harus mendekam di penjara selama dua tahun enam bulan dan baru bebas dua bulan lalu. Dengan berbagai fakta tersebut terbukti bahwa AR bisa melakukan aktivitas jual beli anak laki-laki saat dia masih di penjara. Dengan bantuan temannya, dia menjajakkan anak laki-laki kepada pria yang memiliki kelainan seks.

Namun untuk teman-teman AR sesama muncikari, polisi masih melakukan pelacakan di mana mereka melakukan aksinya tersebut. Sementara itu hingga saat ini total baru sembilan orang yang diamankan oleh pihak kepolisian, yaitu tujuh anak yang menjadi korban prostitusi, satu korban dewasa, dan satu orang pelaku. Sedangkan 99 anak yang kabarnya juga menjadi korban penjualan, Ari mengatakan bahwa polisi masih mendalami di mana lokasi mereka semua.

“99 anak itu kan data hasil penyidikan, anaknya ada di mana kami belum tahu,” kata Ari. Meski begitu, Ari menegaskan tujuh anak yang saat ini masih diberi pendampingan oleh satuan kepolisian akan diberikan pemulihan oleh Kementerian Sosial. Namun untuk saat ini yang mesti dilakukan terlebih dahulu adalah cek kesehatan dari anak-anak tersebut. “Korban akan diperiksa kesehatan untuk selanjutnya diwawancara oleh unit anak Polri dan juga pemulihan dari Kemensos,” ujar jenderal bintang tiga tersebut.

Tersangka AR ditangkap penyidik Subdirektorat Cyber Crime, Selasa (30/8). Berawal dari patroli siber Kepolisian, dia diketahui menjajakan anak laki-laki di bawah umur kepada pelanggan sesama jenis lewat media sosial Facebook. AR ditangkap di Cipayung, Bogor. Saat penangkapan, turut diamankan delapan korban. Tujuh masih berusian di bawah umur dan satu korban berusia dewasa. AR adalah seorang residivis yang sebelumnya ditangkap untuk kasus yang serupa. Hanya saja, sebelumnya dia mengeksploitasi anak perempuan.

Atas perlakuannya, dia dihukum 2,5 tahun. Namun, seolah tak kapok kini AR justru kembali menjalankan bisnisnya. Karena itu, dia terancam hukuman 12 tahun penjara karena diduga melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pornografi, Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Perlindungan Anak. Kementerian Sosial RI ambil bagian dalam terkuaknya aksi prostitusi anak laki-laki untuk pelanggan laki-laki (gay) yang baru diungkap oleh Badan Reserse Kriminal Polri. Kemensos rencananya akan memberikan terapi bagi anak laki-laki yang menjadi korban perdagangan orang tersebut.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menjelaskan tugas Kemensos memang memberikan rehabilitasi bagi para korban dan nama terapi yang akan diberikan adalah psycho social therapy. “Tugas kami memang untuk rehabilitasi, korban akan diberi terapi psikologi sosial di tempat kami,” kata Khofifah di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (31/8). Menurut Khofifah, anak-anak yang akan diterapi adalah mereka yang orang tuanya ada dan hadir selama pendampingan dilakukan oleh aparat kepolisian. Namun bagi mereka yang orang tuanya tak ada maka polisi akan menyerahkan mereka ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Meski begitu, saat ini tim Kementerian Sosial belum bisa melakukan terapi karena anak-anak yang menjadi korban tersebut masih harus melalui cek kesehatan. Khofifah menuturkan pengecekan kesehatan, terutama cek darah, penting dilakukan untuk melihat apakah anak-anak itu terjangkit penyakit atau tidak. “Semoga tak ada dari mereka yang terinfeksi penyakit HIV/AIDS,” ujar Khofifah.

Bareskrim Polri membongkar aksi prostitusi gay dengan tersangka yang diamankan berinisial AR. Tersangka AR ditangkap penyidik Subdirektorat Cyber Crime, Selasa (30/8). Berawal dari patroli siber Kepolisian, dia diketahui menjajakan anak laki-laki di bawah umur kepada pelanggan sesama jenis lewat media sosial Facebook. AR ditangkap di Cipayung, Bogor. Saat penangkapan, turut diamankan delapan korban. Tujuh masih berusian di bawah umur dan satu korban berusia dewasa.

AR adalah seorang residivis yang sebelumnya ditangkap untuk kasus yang serupa. Hanya saja, sebelumnya dia mengeksploitasi anak perempuan. Atas perlakuannya, dia dihukum 2,5 tahun. Namun, seolah tak kapok kini AR justru kembali menjalankan bisnisnya. Karena itu, dia terancam hukuman 12 tahun penjara karena diduga melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pornografi, Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Perlindungan Anak.

Tak hanya akan memberi terapi, sebagai langkah pencegahan Kemsos juga sudah membuka layanan call center di nomor 1500771. Nomor tersebut disediakan bagi siapa saja yang membutuhkan bantuan dari Kemensos. Khofifah mengungkapkan layanan tersebut akan aktif selama 24 jam dan akan terus menerima pengaduan setiap hari. “Jadi kalau ada anak terlantar, korban eksploitasi baik ekonomi dan seksual silakan hubungi kami,” katanya.

Menurut politisi Partai Kebangkitan Bangsa tersebut masyarakat juga boleh mencurahkan isi hatinya dengan menghubungi nomor tersebut. Selama itu berkaitan dengan hal sosial petugas di balik telepon akan melayani sebaik-baiknya. Tak hanya call center, untuk lebih mendekatkan diri ke masyarakat Kemsos juga menyediakan mobil anti galau yang disediakan di berbagai kota di Indonesia.

“Di acara car free day mobil itu akan muncul demi mendekatkan diri ke khalayak dan sekaligus memberi konseling,” katanya.

Advertisements

Daftar Lima Artis Ibukota Jalan Tes HIV Secara Sembunyi Sembunyi


Lima artis Ibu Kota dikabarkan menjalani voluntary counseling test (VCT) di Kota Salatiga, Jawa Tengah. VCT adalah serangkaian tes untuk memastikan apakah seseorang sudah positif terinfeksi HIV atau tidak.

Hal itu diungkap oleh aktivis HIV/AIDS Kabupaten Semarang, Andreas Bambang Santoso (56), Kamis (27/11/2014) siang, di Ungaran. Kelima artis dari Jakarta tersebut menghubungi dirinya, yang kebetulan berdomisili di Kota Salatiga, untuk berkonsultasi mengenai seluk-beluk penyakit HIV/AIDS dan penanganannya.

Namun, Andreas yang akrab dipanggil Babe itu menolak untuk membuka indentitas kelima artis tersebut. “Mereka rela datang menemui saya untuk bertanya-tanya sekaligus tes VCT. Mungkin lebih privasi, dibandingkan seandainya berkunjung ke rumah sakit atau klinik di Jakarta,” ujar Babe.

Sebagai aktivis atau relawan HIV/AIDS yang sudah terjun ke lapangan selama berpuluh-puluh tahun, Babe sangat mengapresiasi inisiatif kelima artis tersebut. “Yang jelas privasi lebih terjaga. Guna mendukung langkah ini, saya bekerja sama dan melaporkan hasilnya ke klinik yang sudah biasa jalan bareng dengan kami,” imbuhnya.

Babe menambahkan, selama tiga bulan terakhir, dia melakukan pelayanan VCT mandiri (non-klinik). Setidaknya, ada 30 orang yang dites dan hasilnya negatif. Selain kelima artis dari Jakarta tersebut, juga terdapat seorang pramugari dari Yogyakarta dan seorang anggota TNI.

Bali Masih Diskriminatif Terhadap Penderita HIV/AIDS


Diskriminasi terhadap Orang dengan HIV AIDS (ODHA) di Bali masih cukup tinggi. Bahkan saat mereka meninggal dunia. “Ketika ada warga yang meninggal dunia karena HIV , tidak ada yang mau memandikan,” kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Gianyar I Dewa Oka Sedana dalam Rapat Konsultasi (KPA) Bali dengan pejabat dan desa adat di Gianyar Bali, kemarin.

Menurut Sedana, dari rumah sakit mayat langsung dimasukkan ke peti yang sangat rapat karena dianggap HIV akan menular melalui udara. Mayat langsung dibawa ke kuburan untuk dimakamkan tanpa dibuka kembali. “Terpaksa kami yang membuka mayat dan memandikannya untuk menunjukkan bahwa tidak masalah menyentuh mayat ODHA,” kata Sedana.

Lebih buruk lagi, kata Sedana, keluarga yang ditinggalkan kemudian dijauhi oleh warganya. Bahkan anaknya pun seolah-olah tidak boleh ikut bersekolah. Baru setelah KPA Gianyar melakukan pendekatan, warga sekitar bersedia menerima kembali.

Sedana menjelaskan kondisi HIV AIDS di Gianyar kian mengkhawatirkan. Jika pada 2010 hanya ditemukan 181 kasus, pada 2011 meningkat menjadi 399 kasus. Bila tidak diantisipasi kasus-kasus diskriminasi akan semakin tinggi, sehingga mempersulit upaya penanggulangan HIV.

Penularan HIV diduga dipengaruhi oleh penyebaran kafe remang-remang yang menjadi tempat prostitusi terselubung. Kafe itu masuk ke pedesaan dan mengundang kehadiran pria dewasa dan remaja menjadi pengunjungnya. KPA sejauh ini belum dapat mengintervensi agar kesehatan para pekerja seks komersial (PSK) tetap terjaga dan tidak menjadi penular HIV.

Ketua Tim Advokasi KPA Bali Made Molin Yudiasa menegaskan diskriminasi terhadap ODHA harus ditekan agar gunung es dalam penyebaran HIV bisa diungkapkan. Diskriminasi menghambat niat orang-orang yang berisiko tinggi untuk melakukan tes sukarela. “Kalau terjadi pembiaran, kita akan mengalami lost generation karena terengut oleh virus ini,” ujarnya.

Molin mengatakan perlunya pengaturan kafe remang-remang di pedesaan. Kalaupun tak bisa dilarang harus ada aturan bahwa para pekerja wanita di kafe itu harus diperiksa secara rutin kesehatannya. Bila ditemukan mereka terkena penyakit infeksi menular seksual (IMS), bahkan HIV, kafe itu harus ditutup.

Wakil Bupati Gianyar Dewa Made Sutanaya menjanjikan melakukan penertiban kafe-kafe di Gianyar. “Kami sudah mengundang para pemilik kafe dan meminta yang illegal segera mengurus izin. Soal kesehatan akan diakomodasi dalam menentukan persyaratan perizinan,” katanya.

Survey Membuktikan Bahwa 47 Persen Siswa SMU Palu Sudah Tidak Perawan Alias Sudah Sering Berhubungan Seks


Hasil penelitian dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako, (Untad) Palu, Sulawesi Tengah, menyatakan 47 persen siswa Sekolah Menengah Atas di wilayah Kota Palu mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks bebas. Baik yang dilakukan sekali maupun berkali-kali dengan pasangannya. Penelitian dilakukan pada Agustus hingga Oktober 2010 dengan sampel sebanyak 15 persen dari 15.542 jumlah siswa SMA/SMK di kota Palu.

Ikhlas Rasido, peneliti dari FKIP Untad, mengatakan sebanyak 43,5 persen remaja melakukan hubungan badan dengan lawan jenisnya karena pengaruh lingkungan, seperti ajakan pacar, teman, atau nonton film porno. Sementara faktor kematangan secara seksual hingga memiliki keinginan atau coba-coba, menjadi alasan kuat selanjutnya.

Ikhlas mengatakan, sebagian besar siswa atau siswi yang melakukan seks bebas tersebut tinggal di kos-kosan, namun ada juga yang tinggal bersama keluarga. Ada juga yang sekolah di SMA favorit di Palu. “Maaf, kami tidak bisa sebutkan sekolah tersebut,” katanya usai salat Jumat, 21 Oktober 2011.

Menurut dosen bimbingan konseling ini, perilaku seksual diawali dari sekadar ciuman, kemudian ciuman yang disertai birahi, hingga terakhir menjadi percintaan badan atau making love. Yang menarik dari penelitian tersebut, sebagian remaja merasa bangga jika telah melakukan hubungan seks dengan pacarnya atau dengan orang lain. Ini terutama terjadi pada laki-laki, dimana secara psikologis ingin menampilkan sesuatu yang lebih dari lelaki yang lain, termasuk soal seks tersebut.

Selain itu, sebagian besar remaja tidak menggunakan pengaman saat berhubungan badan. Demikian halnya dari pengakuan yang diperoleh, kebanyakan pelaku tidak memiliki pengetahuan yang mendalam soal HIV/AIDS atau dampak yang ditimbulkan akibat berhubungan seks tersebut. Pascapengakuan tersebut, ketika pelaku diarahkan untuk melakukan pemeriksaan HIV melalui VCT, tak ada satupun yang bersedia.

Melihat data yang cukup mencengangkan ini, Ikhlas berharap penelitian tersebut bisa ditindaklanjuti para pihak terkait yang peduli dengan remaja, khususnya Dinas Pendidikan melalui program-program sekolah. “Tapi selama ini belum ada tindaklanjutnya. Ini kami sudah publikasikan dan kami sudah seminarkan,” katanya.

Selain itu belum juga ada koordinasi dengan instansi terkait, seperti antara BKKBN dengan Dinas Kesehatan soal remaja yang melakukan hubungan seks bebas ini. Di sekolah juga perlu diaktifkan kembali bimbingan konseling dan Pusat Informasi dan Konsultasi Kesehatan Reproduksi Remaja (PIKKRR). Penelitian ini, kata Ikhlas, semata-mata dilakukan untuk melakukan pencegahan terhadap penyakit HIV/AIDS di kalangan remaja akibat perilaku seks bebas. Untuk itu, dalam penelitian ini, pihaknya juga melibatkan konselor HIV/AIDS.

Sebagian Besar Penderita AIDS/HIV Di Sulawesi Selatan Adalah Ibu Rumah Tangga dan Anaknya Karena Perilaku Homoseksual Suami


Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengklaim ibu rumah tangga banyak terjangkit penyakit kelamin Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Data Badan Pencegahan dan Penanggulangan HIV AIDS, daerah ini berada pada peringkat ketiga penderita terbesar di Indonesia.

“Beberapa kasus yang muncul dipermukaan, banyak ibu rumah tangga yang terinfeksi,” kata Kepala Bagian Pencegahan dan Penanggulangan Napza HIV AIDS Biro Bina Napza Muh Nuhrahim, siang tadi.

Kalangan ibu rumah tangga, menurut Nuhrahim, terserang virus setelah berhubungan seks dengan pasangan resmi. Anak yang dikandung, juga harus menerima penyakit bawaan yang ditularkan melalui orangtua. “Kemungkinan prilaku sang suami yang melakukan hubungan seks bebas dengan pasangan homoseksualnya, yang membuat mereka tertular,” kata Nuhrahim.

Penemuan baru di 2011 ini, berdasarkan laporan hasil survei Komisi Penanggulangan AIDS Nasional dan Badan Narkotik Nasional (BNN). Peningkatan jumlah penderita tidak lagi didominasi penggunaan jarum suntik. Tapi mulai didominasi prilaku seks bebas homoseksual atau seks antar lelaki.

Prilaku seks menyimpan, menurut Nuhrahim, tidak lagi dilakukan dilokalisasi, tapi cenderung pada teman kencan secara bergantian. Seks bebas di daerah ini sudah mencapai 60 persen, sementara penggunaan jarum suntik sebesar 58,6 persen.

Jumlah penderita HIV AIDS di Sulawesi Selatan tahun ini mencapai 3.918 jiwa, mengalami peningkatan 60 persen dari 2010 yang hanya mencapai 2.400 jiwa. Penderita penyakit kelamin di daerah ini berada diurutan ketiga setelah Papua dan DKI Jakarta. Sulawesi Selatan juga menduduki urutan ketujuh penderita HIV dan kedelapan pengguna narkoba di Indonesia.

Tren Penyebaran AIDS/HIV Berubah Dari Pelaku Narkoba Ke Seks


Tren penyebaran HIV/AIDS telah berubah. Dulu tingkat prevelensi atau penyebaran infeksi baru HIV/ADIS paling tinggi oleh pelaku narkoba dengan penggunaan jarum suntik bersama-sama. Kini pola penyebaran paling tinggi diakibatkan perilaku seks beresiko kaum homoseksual yang telah menikah.

HIIV/AIDS kini tidak hanya diderita oleh orang dewasa saja. Bahkan pelaku seks beresiko dapat menularkan HIV/AIDS kepada pasangan di rumah. Sehingga ibu kelak yang mengandung, dapat menularkan HIV/AIDS kepada janin yang di kandungnya.

Perubahan tren di atas dikatakan oleh Sekretaris KPAN RI dr. Nafsiah Mboi, SpA., MpH di Ruang Rapat I, Balaikota Bogor,. Nafsiah memberikan pembekalan kepada aktivis HIV/AIDS sebelum melakukan observasi ke kantong-kantong pelaku seks beresiko di Kota Bogor, seperti Taman Topi, Jalan Bangka dan Terminal Bubulak.

Aktivis juga diterima langsung oleh Sekretaris Daerah Kota Bogor Bambang Gunawan, Kepala BPMKB Kota Bogor Nia Kurnaesih dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Triwandha Elan.

“Mengendalikan prevelensi akibat perilaku seks beresiko seperti ini tidak mudah,” jelas Nafsiah. Terlebih, berdasarkan hasil pengamatan, lebih dari 2000 pelabuhan di Indonesia, tidak ada satupun yang tidak ada tempat pelacuran. Tidak ada satu terminal pun yang tidak ada pelacuran.

Hal ini dipersulit dengan pembubaran lokalisasi. Pelacuran kini masuk ke dalam rumah-rumah penduduk sehingga sulit dipetakan. Hal ini diperparah dengan minimnya pemahaman pelaku seks beresiko terhadap pentingnya perlindungan diri, seperti pentingnya menggunakan kondom.

“Kita harus berpacu dengan perilaku seks beresiko. Kenyataannya di Indonesia prevelensi akibat perilaku seks beresiko meningkat, namun penggunaan kondom ditentang,” tambahnya. Untuk itu, lanjutnya, penggunaan kondom pada seks beresiko harus ditingkatkan untuk menyelamatkan bangsa ini dari epidemic HIV/AIDS.

Pencegahan primer yang harus dilakukan adalah kepada anak-anak. Agar tidak terkena HIV/AIDS, pelaku seks beresiko harus menggunakan kondom. Bila sudah terinfeksi, diusahakan agar tidak menularkan kepada pasangan. Dan bagi yang sudah terinfeksi HIV, harus meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah agar tidak berubah menjadi AIDS.

Senada dengan Nafsiah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Triwanda Elan mengatakan bahwa di Kota Bogor, HIV/AIDS masih menjadi fenomena gunung es. Dinas Kesehatan baru mencatat penderita HIV/AIDS 530 orang. Padahal ia yakin, realita di masyarakat lebih banyak lagi.

Sekretaris Daerah Pemerintah Kota Bogor Bambang Gunawan menambahkan bahwa hingga kini Pemerintah Kota Bogor terus berupaya mencegah penyebaran HIV/AIDS.Namun faktanya, jumlah penderita HIV/AIDS di KOta Bogor terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. “Bahkan berdasarkan angka estimasi tahun 2006, tercatat ada 22 ribu warga Kota Bogor yang masuk ke dalam resiko HIV/AIDS,” cetus Bambang.

Untuk itu, sejak tahun 2006, penanganan pencegahan HIV/AIDS telah masuk ke dalam Rencana Strategis KPAD Kota Bogor. Beragam upaya dan program telah dilakukan untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS meningkat. Salah satunya dengan sosialisasi kepada kelompok usia rendah dan pelaku seks beresiko. “Sedangkan kepada penderita, kami terus berupaya agar mereka mendapatkan penanganan klinis yang lebih serius,” ujarnya.

Bambang juga menjelaskan, bahwa sejak tahun 2009, pemerintah memiliki program agar para pelaku seks beresiko ini diikutsertakan dalam program pemberdayaan secara ekonomi berupa bantuan ekonomi produktif. Bagi penderita, kini Kota Bogor telah memiliki Puskesmas Bogor Timur yang menjadi rujukan penanganan penderita HIV/AIDS

Seks Antara Sesama Lelaki Menjadi Penyebab Terbesar Penyebaran HIV/AIDS


Perilaku lelaki berhubungan seks tidak aman dengan lelaki dapat menjadi bom waktu penyebaran HIV. Apalagi, hal itu cenderung tertutup sehingga sulit terjangkau program penanggulangan HIV/AIDS.

Jumlah lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL) di Indonesia diperkirakan 3.800.000 orang. Hal itu terungkap dalam acara diskusi mengenai ”Inisiatif Penanggulangan Epidemi HIV di Kalangan LSL, Gay, dan Waria di Kota Besar Asia” yang diselenggarakan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI Jakarta, Kamis (17/3).

Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan Gay, Waria, dan Lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (GWL-INA), Tono Permana Muhamad, mengatakan, ada perbedaan antara gay, waria, dan LSL. Pria gay umumnya mengidentifikasikan diri sebagai orang yang berorientasi seks sejenis dan berpenampilan sebagai lelaki. Waria mengidentifikasi dan mengekspresikan diri sebagai perempuan. Pada LSL, orang tidak mau dengan jelas mengidentifikasikan diri dan bisa merupakan seorang biseksual serta biasanya akan menikah seorang wanita sebagai istri sehingga menjadikan wanita baik-baik ini rentan terhadap HIV/AIDS, belum lagi bila memiliki anak.

Kelompok ini lebih sulit terjangkau karena cenderung tertutup karena cendrung menampilkan diri sebagai lelaki baik-baik, tidak melakukan tes HIV, sehingga tak terjangkau program. Padahal, sama dengan gay dan waria, seks tidak aman oleh LSL berisiko tinggi menularkan HIV.

Tono mengatakan, proyeksi di kota-kota besar di Asia, jika tidak ada intervensi penanggulangan HIV di kelompok gay, waria, dan LSL (GWL), separuh penularan HIV akan berada di kalangan tersebut pada 2020.

Secara nasional, kasus HIV pada GWL terus meningkat walau lebih kecil dibandingkan penularan lewat hubungan heteroseksual. Tahun 2002, HIV pada GWL secara nasional 2,4 persen dan tahun 2007 menjadi 5,2 persen. ”Diperkirakan jumlahnya terus meningkat,” kata Tono.

Sekretaris KPAP Jakarta Rohana Manggala mengatakan, ke depan DKI Jakarta akan memperkuat intervensi program penanggulangan AIDS pada GWL.

Beberapa program, antara lain peramahan fasilitas kesehatan untuk GWL dan memperluas sudut pandang program, tidak hanya sebatas masalah kesehatan, tetapi juga dimensi hak asasi manusia. Paradigma bahwa infeksi HIV sebagai akhir dari segalanya harus diubah menjadi awal baru untuk tetap produktif dan mencegah penularan lebih lanjut.