Burung Hantu Andalan Petani untuk Basmi Hama Tikus


Dinas Pertanian Kabupaten Kudus menilai penggunaan burung hantu sebagai pembasmi alami hama tikus meningkatkan produktivitas panen padi petani. Dalam sehari, satu burung hantu dapat menangkap 10-15 tikus. “Saat ini populasi tikus di wilayah penangkaran burung hantu mulai berkurang,” kata Kepala Dinas Pertanian Budi Santoso, Kamis, 23 Oktober 2014.

Budi daya serta penangkaran burung hantu ini sudah dimulai sejak 2012 dan saat ini telah tersebar di 25 desa di enam kecamatan di Kabupaten Kudus. Rencananya, budi daya dan penangkaran ini akan terus ditambah mengingat banyaknya manfaat yang dirasakan petani. Burung hantu yang dibiakkan merupakan jenis Tyto alba (serak jawa). Jenis burung ini dipilih karena mampu melihat dalam kegelapan. Selain itu, cara terbang burung ini tak menimbulkan suara, sehingga tikus tak menyadari kehadirannya.

Bahkan keberadaan burung hantu ini akan dimasukkan dalam peraturan desa (perdes). “Hal ini untuk menjaga populasi burung predator tikus,” kata Budi. Peraturan desa ini berisi larangan memburu burung hantu dan menggunakan perangkap tikus yang dialiri listrik. Camat Undaan, Mundhir, setuju peraturan desa itu dibuat untuk melindungi populasi burung hantu. Saat ini masih ada perburuan burung hantu di desanya. “Dengan adanya perdes ini, kami jadi bisa melindungi populasinya. Tapi dari jauh hari Kami sudah memberitahukan warga untuk tidak membeli burung dari para pemburu,” kata Mundhir.

Sejauh ini, penggunaan burung hantu sebagai predator tikus terbukti efektif. Di kecamatan Undaan, kelompok petani yang memanfaatkan burung hantu mengatakan mengalami peningkatan jumlah panen. “Setelah adanya burung hantu selama dua tahun ini, jarang terlihat ada tikus menyerang tanaman petani,” kata Mundhir. Di Kecamatan Undaan ada tiga desa yang memanfaatkan burung hantu sebagai pembasmi tikus. Yakni Desa Undaan Lor, Undaan Tengah, dan Karangrowo. Menurut Mundhir, pembiakan burung hantu ini sangat didukung petani karena selama ini serangan hama tikus mengkhawatirkan petani.

Saat ini sudah puluhan ekor burung hantu yang dibiakkan. Selain itu juga dibuat rumah burung hantu di sekitar kawasan pertanian warga yang mengundang kedatangan burung hantu liar. “Jumlahnya jadi bertambah,” katanya.

Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Kudus menilai penggunaan burung hantu sebagai pembasmi alami hama tikus meningkatkan produktivitas hasil panen padi para petani. Dalam sehari, satu ekor burung hantu dapat menangkap 10-15 ekor tikus. “Saat ini populasi tikus di wilayah penangkaran burung hantu mulai berkurang,” kata Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Budi Santoso, Kamis, 23 Oktober 2014. Dengan adanya manfaat burung hantu tersebut, Budi mengatakan, keberadaan hewan ini akan dimasukkan ke dalam peraturan desa guna menjaga populasinya. Peraturan desa ini berisi larangan memburu burung hantu dan melarang penggunaan perangkap tikus beraliran listrik.

Kini, sebanyak 25 desa di enam kecamatan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, telah menerapkan budi daya burung hantu sejak 2012. Rencananya budi daya dan penangkaran ini akan terus ditambah karena banyak manfaat yang dirasakan petani padi. Burung hantu yang dikembangbiakan merupakan jenis Tyto alba. Jenis burung ini dipilih karena mampu melihat di kegelapan. Selain itu, cara terbang Tyto alba tak menimbulkan suara, sehingga tikus-tikus itu tidak mendengar kehadirannya.

Sejauh ini, penggunaan burung hantu sebagai predator tikus terbukti efektif. Di Kecamatan Undaan para kelompok petani yang memanfaatkan burung hantu mengaku mengalami peningkatan jumlah panen. “Setelah adanya burung hantu selama dua tahun ini, jarang terlihat ada tikus menyerang tanaman petani,” kata Camat Undaan Mundhir. Di Kecamatan Undaan ada tiga desa yang memanfaatkan burung hantu sebagai pembasmi tikus. Di antaranya Desa Undaan Lor, Undaan Tengah, dan Karangrowo. Menurutnya adanya pengembangbiakkan burung hantu ini sangat didukung oleh petani karena selama ini serangan hama tikus cukup mengkhawatirkan.

Mengenai peraturan desa terkait dengan penangkaran burung hantu, Mundhir sangat setuju. Aturan ini akan melindungi jumlah populasi burung hantu karena masih ada perburuan burung hantu di sekitar desanya. “Dengan adanya peraturan desa ini, kami bisa melindungi populasi burung hantu dan memberitahukan warga agar tidak membeli burung hantu dari para pemburu,” kata Mundhir.

Menikmati Tingkah Laku Geisha di Kyoto


pa yang ada di benak kita mendengar kata Geisha? Perempuan penghibur tradisional Jepang ini tidak sama dengan konsep wanita penghibur modern. Di Kyoto, kita bisa melihat mereka di waktu malam dan memang bikin penasaran. Pada Sabtu malam (18/10/2014) menjelajah daerah Gion di Kyoto. Ini adalah kawasan di mana terdapat Geisha. Bahkan bisa dibilang Geisha aslinya dari Kyoto, kota yang pernah menjadi ibukota Jepang.

Dari depan Kuil Yasaka Shrine, kami berjalan menyusuri Shijo Dori, dari situ kami belok kiri ke Jalan Hanamikoji Dori. Suasananya bagaikan Kyoto di masa silam. Kanan dan kiri jalan ada kedai-kedai tradisional yang disebut Ochaya, penandanya adalah lampion merah.

Di sela-sela kedai ini ada gang-gang kecil di mana para Geisha tinggal. Lantas bagaimana menjumpai mereka? Gampang, tunggu saja. Itu yang kami lakukan bersama sekitar puluhan wisatawan lain yang bertebaran di sepanjang jalan itu. Hawa musim gugur yang mulai dingin menusuk tulang, kami tahan-tahan saja.

Menunggu Geisha harus sabar. Biasanya sambil menunggu taksi lewat. Geisha datang dan pulang dari kliennya naik taksi atau mobil, biasanya semua diatur oleh maminya. Nah, kebetulan ada sebuah taksi berhenti, dan seorang Geisha turun. Wajahnya bermake up putih maksimal. Jeprat! Jepret! Wisatawan yang kebetulan dekat posisinya bisa memfoto. Namun Geisha cepat menghilang masuk ke dalam gang atau ke dalam kedai menjumpai kliennya.

Teman saya mengobrol sambil menunggu Geisha adalah Miyako. Perempuan cantik ini menjadi penjaga pintu sebuah kedai. Dari Miyako, saya mempelajari banyak hal. “Geisha yang asli itu sendalnya bakiak. Kalau sendal karet dia masih Maiko (calon Geisha-red),” kata Miyako. Menurut Miyako, Geisha memang tinggal di gang-gang kecil di kawasan Gion. Kadang tamu mereka menunggu di kedai atau Geisha dibawa ke tempat lain.

“Tapi kamu nggak bisa sembarangan masuk ke kedai,” kata Miyako dengan bahasa Inggris patah-patah. Ah, saya baru ingat. Kedai tradisional semacam ini sangat menjunjung tinggi privasi tamunya. Anda bisa menjadi tamu sebuah kedai jika sebelumnya diajak oleh orang yang sudah menjadi pelanggan di kedai itu. Semacam member get member.

Beberapa tamu keluar dari dalam kedai. Bajunya necis dengan jas serta dasi. Mereka menuju ke sebuah mobil yang sudah menunggu. Mami sang Geisha menyusul untuk melepas tamunya pergi dengan salam membungkuk. Sejujurnya saya tidak tahu persis apa yang dilakukan Geisha bersama kliennya. Tapi jangan membayangkan yang aneh-aneh dulu. Geisha bukan lady escort dalam istilah modern. Aspek kultural melekat terus pada Geisha, ketika bertemu klien mereka menghibur dengan cara menyanyi, berbincang dan menemani para tamunya.

Usai mengucap selamat tinggal untuk Miyako, kaki ini saya bawa melangkah kembali ke Jalan Shijo Dori, bagian kota Kyoto yang lebih modern dengan aneka lampu reklame, mobil dan bus hilir mudik. Ini kontras dengan kawasan Geisha yang bernuansa zaman dulu.

Tak disangka saya melihat seorang Geisha dibawa sejumlah pria ke sebuah sedan mewah berwarna hitam yang parkir di pinggir jalan. Entah kenapa mobil sedan ini tidak masuk ke Jalan Hanamikoji Dori. Saya menatap kamera di tangan. Hingga beberapa saat lalu, rasanya saya hanya menjadi seorang paparazzi yang menunggu selebriti lewat. Tapi mungkin Geisha juga sudah biasa dengan wisatawan yang menjeprat-jepret foto tatkala mereka lewat.

Ah, Geisha memang membikin penasaran.

KPK Siapkan Sanksi Tegas Buat Tahanan Yang Memiliki HP Dan Bukan Sanksi Buat Penjaga Penjaranya


Minggu lalu KPK melakukan sidak rutin di rutan Guntur dan rutan KPK. Hasilnya, beberapa telepon seluler ditemukan di kamar milik tahanan. KPK menyiapkan sanksi tegas untuk tahanan yang memiliki telepon seluler itu. “Siapapun yang melakukan pelanggaran akan mendapatkan sanksi sesuai derajat kesalahannya,” kata Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto saat berbincang, Jumat (24/10/2014).

Beberapa sanksi bisa diberlakukan kepada para tahanan korupsi yang bandel itu. Salah satu sanksi yang bisa diterapkan adalah mengisolasi tahanan untuk jangka waktu tertentu. Menurut Bambang, sidak yang dilakukan adalah kegiatan rutin. Sidak dilakukan apakah peraturan yang ada telah dijalankan secara konsisten. “Sidak adalah program rutin yang dilakukan di KPK untuk memastikan peraturan di rutan dilakukan secara konsisten,” jelasnya.

KPK akan meneliti siapa saja yang telah melanggar peraturan membawa HP ke dalam rutan. Bahkan, KPK bisa saja melacak pihak-pihak yang berkomunikasi dengan tahanan yang berada di rutan menggunakan HP. “Jumlahnya yang jelas lebih dari satu dan kita akan mendalami,” tegas komisioner bidang penindakan itu.

Berdasarkan keterangan yang terungkap dalam persidangan dengan terdakwa eks Kepala Bappebti Syahrul Raja Sempuna Jaya, dua tahanan di rutan Guntur yang tertangkap basah membawa HP adalah Raja Bonaran Situmeang dan Tubagus Chaery Wardhana alias Wawan. HP itu disimpan dalam tumpukan berkas perkara yang biasanya dibawa oleh para tersangka dan terdakwa di dalam rutan.

Sementara itu, dalam sidak di rutan KPK juga ditemukan beberapa HP di kamar tahanan. Namun, pihak KPK belum mengkonfirmasi siapa pemilik HP yang ditemukan di rutan KPK itu. Dugaan sementara, HP dimasukkan oleh para pembesuk dengan menyelipkannya ke berkas perkara. Oleh karena itu, KPK akan memperketat aturan jenguk. Selain itu, KPK juga telah melarang para tahanan membawa berkas perkara ke dalam rutan.

Kronologi Sukhoi TNI AU Cegat dan Paksa Pesawat Australia Mendarat


Dua pesawat tempur milik TNI Angkatan Udara jenis Sukhoi SU-30 MK2 memaksa sebuah pesawat yang dikemudikan dua warga negara Australia mendarat di Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, kemarin. Pesawat sipil berjenis Beachcraft 95 berwarna putih itu terbang tanpa izin melintasi wilayah udara Indonesia.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto mengatakan pesawat sipil berkode FHRLS DE55 tersebut bertolak dari Darwin, Australia, menuju Cebu, Filipina. Awalnya pesawat bermesin baling-baling ganda itu terdeteksi oleh Satuan Radar 245 Saumlaki di Pulau Yamdena, Maluku Tenggara Barat, sekitar pukul 06.59 WIT.

“Satuan Radar Saumlaki mencoba cek perizinan pesawat, tapi hasilnya nihil,” kata Hadi saat dihubungi, Kamis, 23 Oktober 2014. Satuan Radar Saumlaki lantas berkoordinasi dengan petugas di Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, untuk menginterogasi pilot pesawat asing itu melalui kontak radio. Hasilnya sama, kedua pilot pesawat itu tak mengantongi satu pun surat izin melintas di Indonesia.

Sesuai standar tugas TNI AU, Hadi melanjutkan, pesawat tempur dikerahkan untuk mengejar pesawat Beachcraft itu. Dua unit pesawat tempur Sukhoi SU-30 MK2 yang dikemudikan Mayor Wanda, Mayor Fauzi, Letnan Satu Idris dan Letnan Satu Ali pun mengudara dari Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar. Melesat dengan kecepatan tinggi, kedua Sukhoi mengepung pesawat Beachcrat hanya dalam waktu beberapa menit.

Pilot-pilot tempur TNI AU pun meminta pesawat Beachcraft untuk mendarat di landasan terdekat, yakni di Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara. Pesawat asing itu mendarat dengan selamat di Bandara Sam Ratulangi sekitar pukul 10.53 WIT. “Di bawah, puluhan prajurit TNI sudah siap mengamankan penumpang pesawat,” kata Hadi.

Usai mendarat, baru diketahui bahwa pesawat itu hanya ditumpangi dua orang, yakni Jacklin Graeme Paul sebagai pilot dan Maclean Richard Wanye sebagai kopilot. Kedua orang itu lantas diperiksa oleh penyidik pegawai negeri Bandara Sam Ratulangi. Penyidik akan menginterogasi tujuan, maksud, dan alasan kedua warga negara Australia itu melintas di Indonesia tanpa izin. “Selanjutnya pesawat asing diamankan di Bandara Sam Ratulangi dan kedua Sukhoi pulang ke markas mereka di Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar,” kata Hadi.

Pesawat jet tempur Sukhoi milik TNI AD memaksa pesawat Australia jenis BV 95 Beechcraft berkekuatan 101 knot untuk mendarat di Bandar Udara Sam Ratulangi Manado, Rabu, 22 Oktober 2014. Pilot Sukhoi sempat mengunci sasaran pesawat Australia untuk ditembak lantaran menolak mendarat. “Kami sudah lock pesawat itu. Jika ada perintah menembak saya langsung tembak. Tapi alhamdulillah rupanya si pilot takut juga dan akhirnya mau mendarat di Manado,” kata pilot pesawat Sukhoi yang melakukan pengejaran, Mayor Penerbang Wanda Suriansyah, Kamis, 23 Oktober 2014.

Pesawat Australia yang diterbangkan Jacklyn Grame Paul dan Maclean Richard Wayne itu tidak memiliki izin untuk terbang di wilayah udara Indonesia. Pesawat tersebut akhirnya dipaksa mendarat di Bandar Udara Sam Ratulangi Manado setelah dikawal selama empat jam oleh pesawat Sukhoi. Suriansyah mengatakan mereka langsung mencegat pesawat Australia tersebut di wilayah Makassar. Pesawat Australia tersebut langsung diperintahkan untuk mendarat di Ambon sebagai lokasi terdekat setelah terdeteksi dalam radar. Namun, pilot pesawat Australia mengabaikan instruksi tersebut.

Karena menolak mendarat di Ambon, pesawat Australia tersebut langsung dikunci untuk ditembak. “Posisinya ketika saya lock itu ada 250 kilometer sebelah timur tenggara Manado,” kata Suriansyah. Selama empat jam, pesawat jet tempur Sukhoi milik TNI AD mengawal pesawat Australia jenis BV 95 Beechcraft berkekuatan 101 knot, Rabu, 22 Oktober 2014. Pesawat Australia yang diterbangkan Jacklyn Grame Paul dan Maclean Richard Wayne itu dipaksa mendarat di Bandar Udara Sam Ratulangi Manado.

“Terdeteksi pertama kali di Makassar,” kata Komandan Landasan Udara Sam Ratulangi Kolonel Penerbang Hesly Paath, Kamis, 23 Oktober 2014. Menurut Hesly, pesawat tersebut tidak memiliki izin untuk melintas di wilayah udara Indonesia. Karena itu, pesawat tersebut diperintahkan melapor dan mendarat. Namun, perintah tersebut tak diindahkan. Hesly mengatakan setelah empat jam melintas di Ambon, Kupang, dan seterusnya, pesawat Australia itu akhirnya berhasil dipaksa turun di Manado.

Pilot pesawat Sukhoi yang melakukan pengejaran, Mayor Penerbang Wanda Suriansyah, mengatakan jika mereka langsung menghalangi pesawat Australia tersebut ketika dideteksi berada di wilayah Makassar. Menurut Suriansyah, pesawat Australia tersebut awalnya diperintahkan mendarat di Ambon, sebagai lokasi terdekat setelah terdeteksi dalam radar. “Tapi karena psikologis orang Australia yang agak keras kepala, dia tak indahkan permintaan itu,” kata Suriansyah.

Pembunuhan Sadis Satu Keluarga Di Jombang Didalangi Oleh Karyawannya Sendiri


Polisi melakukan otopsi terhadap tiga korban pembunuhan terdiri dari ibu dan dua anak-anaknya yang masih bocah di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Rabu malam, 22 Oktober 2014. Pembunuhan yang terjadi Rabu dinihari itu menyisakan si ayah kini kritis dan bocah dua tahun, si bungsu, terancam sebatang kara.

Otopsi dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang. Ketiga korban adalah Delta Fitriani, 34 tahun, Rifan, 11 tahun, dan Yoga, 9 tahun. Ketiganya adalah anggota keluarga dari Hendriadi, 40 tahun, pemilik sebuah toko pakaian. “Korban meninggal akibat luka bacok dan tusuk terutama di bagian ulu hati dan perut,” kata Kepala Sub-Bagian Hubungan Masyarakat Kepolisian Resor Jombang Ajun Komisaris Lely Bachtiar, Rabu, 22 Oktober 2014.

Pembunuhan sadis itu terjadi di rumah korban di Perumahan Sambong Permai Blok E Nomor 11, Kecamatan/Kabupaten Jombang, Rabu dinihari. Tersangka pelaku adalah Ikhsan, bekas karyawan yang menyewa rumah di perumahan yang sama. Informasi dari kepolisian menyebutkan bahwa Ikhsan kesal karena beberapa kali dituduh mencuri pakaian di toko milik korban saat ia bekerja sebagai penjaga toko. Ikhsan sudah lima tahun bekerja di toko Hendriadi dan baru saja berhenti.

Kepada polisi, Ikhsan menceritakan mendatangi rumah Hendriadi pada Selasa malam sekitar pukul 20.00 WIB. Saat itu Ikhsan dan Hendriadi terlibat cekcok. Ikhsan lalu pulang dengan kondisi marah. Sekitar pukul 24.00 WIB, Ikhsan yang sudah gelap mata datang kembali ke rumah Hendriadi dengan membawa sejumlah senjata tajam. Ikhsan sempat mencongkel jendela rumah korban untuk masuk. Namun ternyata pintu rumah korban tidak terkunci dan ia masuk lewat pintu.

Mendengar suara jendela dicongkel, istri Hendriadi, Delta Fitriani, terbangun. Melihat Ikhsan masuk rumahnya, Delta teriak minta tolong. Ikhsan yang panik langsung menusuk korban hingga tewas. Teriakan Delta didengar dua anaknya, Rivan dan Yoga. Keduanya terbangun dan teriak minta tolong karena melihat ibunya bersimbah darah. Ikhsan pun langsung menusuk keduanya hingga tewas.

Terakhir, Hendriadi terbangun dan sempat melakukan perlawanan. Hendriadi juga teriak minta tolong sambil memekikkan takbir. Teriakan Hendriadi didengar para tetangganya. Mereka langsung menuju rumah korban dan menyelamatkan Hendriadi. Warga juga menemukan tiga korban tewas dan satu lagi, Clara, dua tahun, putra bungsu Hendriadi-Delta selamat karena tidak terbangun.

Meski melarikan diri, Ikhsan akhirnya tertangkap warga sekitar. “Pelaku bisa ditangkap dan sudah kami amankan di Polres,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Jombang Ajun Komisaris Harianto Rantesolu.
Adapun Ikhsan mengaku kesal karena beberapa kali dituduh mencuri saat jadi penjaga toko pakaian korban. Dari tangannya polisi menyita tiga senjata tajam yang digunakan untuk menghabisi para korban, antara lain sabit, sangkur, dan pedang.

Pelaku pembunuhan satu keluarga di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Ikhsan Pratama, 19 tahun, bakal menghadapi ancaman hukuman mati. Sebab, tindakan kejinya terhadap keluarga bekas majikannya, Hendriadi, 40 tahun, itu diduga telah dirancang. “Tersangka dijerat Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dengan ancaman pidana maksimal hukuman mati,” kata Kepala Sub-Bagian Hubungan Masyarakat Kepolisian Resor Jombang Ajun Komisaris Lely Bachtiar, Kamis, 23 Oktober 2014.

Istri Hendriadi, Della Fitriani, 36 tahun, serta dua anak mereka, Rivan Hernanda, 11 tahun, dan Yoga Saputra, 9 tahun, tewas di ujung senjata Ikhsan. Adapun Hendriadi, yang menjadi sasaran utama pembunuhan, berhasil selamat. Hendriadi mengalami luka berat dan masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Jombang. Anak bungsu mereka, Nazwa, 2 tahun, serta dua keponakan Hendriadi, Desi, 18 tahun, dan Susi, 20 tahun, tak diusik karena tidur di kamar belakang.

Lely mengatakan polisi telah memeriksa kondisi kejiwaan tersangka. Hasil pemeriksaan menyatakan tersangka tidak mengalami gangguan jiwa. “Tersangka melakukan pembunuhan secara sadar. Motifnya karena dendam pada korban,” kata Lely. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jombang Ajun Komisaris Harianto Rantesolu menambahkan, Ikhsan mengaku pembunuhan tersebut telah dia rencanakan. “Tersangka dendam pada korban yang menuduhnya mencuri di toko,” katanya. Polisi mengamankan tiga senjata tajam yang digunakan tersangka, yaitu sabit, pedang, dan sangkur.

Hendriadi adalah pemilik sebuah toko pakaian di Jombang. Dia dan Ikhsan sama-sama perantau dari Padang, Sumatera Barat. Ikhsan sudah lima tahun bekerja sebagai penjaga toko Hendriadi, namun berhenti karena tak betah dituduh mencuri. “Saya dua kali dituduh mencuri,” kata Ikhsan, yang ditahan di Polres Jombang

Bangkai Kapal Perang Amerika USS Houston Ditemukan Tenggelam Di Selat Sunda


Sejumlah arkeolog bawah laut Angkatan Laut Amerika Serikat dan tim penyelam TNI AL dalam penelitian terhadap sebuah bangkai kapal di dasar Laut Jawa pada Juni lalu akhirnya menyimpulkan bahwa bangkai kapal itu sesuai dengan identifikasi kapal perang AS, USS Houston (CA 30), yang merupakan peninggalan Perang Dunia II. Mereka juga menemukan bukti kuat bahwa situs peninggalan tersebut pernah diusik oleh pihak yang tidak berwenang.

“Kami berterima kasih kepada mitra-mitra dari Indonesia yang telah mendukung upaya menjaga USS Houston,” kata Komandan Armada Pasifik AS Laksamana Harry Harris seperti dilansir dalam siaran pers Kedutaan Besar Amerika Serikat, Selasa, 19 Agustus 2014.

Sebagai bagian dari rangkaian latihan bersama Cooperation Afloat Readiness and Training (CARAT) 2014 Juni silam, penyelam AL AS yang tergabung dalam tim Mobile Diving and Salvage Unit One, Kompi 1-5, bersama personel TNI AL, memeriksa bangkai kapal tersebut. Mereka melakukan 19 kali penyelaman dan menandai kedua ujung kapal dengan pelampung dan mendokumentasikan sisi kiri dan geladak kapal dengan video.

Data-data yang masuk dikaji oleh dinas kesejarahan AL AS (Naval History and Heritage Command). Kesimpulan mereka: bahwa bangkai kapal tersebut sesuai dengan identifikasi USS Houston.

Situs tenggelamnya USS Houston merupakan salah satu lokasi menyelam paling populer. Namun, situs itu juga merupakan “tempat beristirahat”-nya sekitar 700 awak kapal dan marinir. Hasil pengkajian juga menunjukkan orang-orang yang tidak berwenang telah melepaskan paku keling lambung kapal dan pelat besi dari kapal perang tersebut. Pihak AS dan Indonesia tengah bekerja sama untuk merancang langkah-langkah pencegahan agar situs itu tidak diusik lagi.

Pada 11 Juni, di sela-sela aktivitas survei, tim gabungan AS-Indonesia juga melakukan upacara tabur bunga untuk mengenang mereka yang telah gugur. Upacara ini dipimpin oleh Wakil Duta Besar AS untuk Indonesia, Kristen Bauer.

Hasil pengkajian juga mengungkapkan “barang bukti memperlihatkan penemuan amunisi yang belum diledakkan yang diambil dari bangkai kapal oleh pihak yang tidak berwenang, meresahkan keselamatan dan keamanan publik” dan “terdapat rembesan minyak yang masih aktif dari paku keling lambung kapal”. Para arkeolog bawah laut masih mengkaji data penyelaman tersebut dan laporan terakhir dijadwalkan rampung pada musim gugur tahun ini.

USS Houston, yang diberi julukan Hantu Berderap Pesisir Jawa, karam dalam Pertempuran Selat Sunda pada 1942, ketika Perang Dunia II berkecamuk. Komandan kapal Kapten Albert H. Rooks yang gugur dalam pertempuran itu dianugerahi Medal of Honor atas jasa kepahlawanannyayang luar biasa, sedangkan USS Houston dianugerahi dua bintang perang dan Presidential Unit Citation.

Ribuan Koin China Kuno Ditemukan di Sungai Komering


Ribuan koin kuno ditemukan penambang pasir di Desa Negeri Agung, Kecamatan Buay Pemuka Peliung, Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan, pada Sabtu, 18 Oktober 2014. Temuan tersebut diduga merupakan mata uang Cina kuno yang menjadi alat pembayaran pada abad ke-10.

“Hari ini (temuan itu) kami konsultasikan kepada pihak Balai Arkeolog (Palembang),” kata Ketua Jaringan Masyarakat Adat Komering (Jamak) OKU Timur Leo Budi Rachmadi, Rabu, 22 Oktober 2014.

Menurut Leo, ribuan keping koin yang beratnya mencapai 25 kilogram ditemukan penambang pasir di Sungai Komering sekitar pukul 12.00 WIB, Sabtu lalu. Saat itu, warga dikagetkan dengan suara tak lazim yang keluar dari penyedot pasir. Warga setempat makin takjub ketika mendapatkan uang receh berwarna hitam dan kekuning-kuningan.

Saat ini Jamak OKU Timur, sedang menginventarisasi koin Cina kuno itu. Leo Budi mengatakan pihaknya membawa 11 keping koin dengan motif bebeda. Tujuannya meminta pendapat dari para ahli. Selain itu, hari ini mereka akan menemui tokoh Tionghoa untuk memahami hasil temuan itu.

Leo menunjukkan kepingan koin dengan motif berbeda namun dengan ukuran sama. Pada salah satu sisi koin terdapat tulisan Cina. Sementara pada bagian tengah koin terdapat lubang persegi empat.

Dari warnanya cokelat kehitam-hitaman dan kuning kehitam-hitaman, sepertinya koin terbuat dari tembaga dan kuningan. “Tulisan dan warnanya tidak sama dari sampel yang kami bawa ini,” kata Leo.