Kronologi Pembunuhan Mayat Yang Disemen Hingga Meledak Di Perumahan Dharma Husada Indah I Blok B No. 154


Masyarakat di lingkungan proyek renovasi rumah Perumahan Dharma Husada Indah I Blok B, Surabaya, Jawa Timur, tak ada yang mengira, dua kawan karib yang setiap hari tidur satu atap di rumah nomor 154, berakhir dengan pembunuhan. Jasad korban ditanam oleh tersangka dan disemen di bawah paving rumah, yang sedianya akan digunakan Rumah Makan Roti Bonita oleh pemiliknya itu. Kronologis kejadiannya begini, pada Rabu sore (15/10), delapan dari 10 pekerja proyek renovasi rumah di Perumahan Dharma Husada Indah I Blok B, sudah kembali ke rumahnya masing-masing.

Seperti hari-hari biasa, mengisahkan dua pekerja, yaitu Nurhawi alias Awi (23) asal Dusun Mangga, Sentulan, Kecamatan Batuanyar, Probolinggo. Serta Nur Hadi Santoso (19) asal Sedaput Bakalan, Kecamatan Sumobito, Jombang. Dua kawan karib ini, sehari-hari memang tidur dan bertugas menjaga rumah yang tengah direnovasi tersebut.

Rabu malam sekitar pukul 20.00 WIB, dua kawan karib ini kerja lembur. Saat Awi asyik mengerjakan tugasnya, tiba-tiba, Nur masuk ke dalam, dan kakinya tersandung kabel lampu penerangan hingga lampu padam. Awi marah dan menampar muka Nur empat kali tanpa balas. Pemuda tanggung itu hanya bisa menyimpan sakit hatinya.

Kamis pagi (16/10), kedua kawan karib yang tengah berseteru semalam itu, kembali bekerja bersama delapan rekannya yang lain. Dibawa komando Yanto, sang mandor proyek, para kuli proyek itupun mengerjakan tugasnya masing-masing, hingga sore hari tiba. Ketika seluruh aktivitas di area proyek selesai, kembali hanya mengisahkan Awi dan Nur di lokasi. Sekitar pukul 17.00 WIB, Awi baru saja selesai mandi dan berpakaian. Dengan kemeja lengan panjang warna abu-abu dan sarung warna biru, dia menikmati suasana sore di teras rumah, yang bagian seluruh pagarnya tertutup seng atau plat tipis sehingga tak terlihat dari luar.

Dia duduk di atas kursi kayu panjang di depan pintu utama rumah. Dari dalam rumah, Nur yang melihat rekannya itu, tiba-tiba teringat kejadian Rabu malam. Sakit hatinya muncul, lalu mengambil paving blok di sekitar lokasi dan menghantam kepala korban tiga kali hingga terjungkal ke lantai bersimbah darah. “Sebenarnya tak ada rencana membunuh, saat melihatnya, sakit hati karena dipukul itu muncul. Sayapun memukulnya dengan paving,” aku Nur di hadapan Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Setija Junianta dengan logat Jawa, Minggu sore (19/10).

Kemudian Nur menyeret tubuh Awi yang sekarat masuk dalam rumah. Nafas Awi tersengal dan memuntahkan darah segar membasahi lantai rumah. Nur bingung, hendak diapakan tubuh Awi ini. Sambil terus berpikir, Nur mengambil timba kecil di depan rumah dan diisi dengan semen lalu dicampur dengan air. Semen cair itu, oleh Nur digunakan untuk menyiram darah Awi yang membasahi lantai rumah, dengan tujuan menghilangkan jejak. Kemudian Nur kembali menyeret tubuh Awi masuk ke ruang belakang rumah dan kembali berhenti di situ. Dia kembali berpikir: “Hendak diapain tubuh Awi?”

Dia lalu kembali menyeret tubuh korban yang telungkup menuju pintu samping kiri rumah. Di lorong rumah bekas garasi, Nur terus menyeret tubuh Awi yang masih bernafas dengan cara memegang kakinya. Nur berniat memasukkan tubuh Awi ke lubang septi tank berukuran sekitar 20 x 20 cm. Sayang, lubang itu tak cukup untuk ukuran tubuh Awi. Lubang hanya cukup untuk bagian kepalanya saja. Nurpun kembali menarik tubuh Awi, hingga dada korban terluka karena bergesekan dengan lubang yang terbuat dari semen cor tersebut.

“Karena korban masih bernafas, tersangka kembali memukul korban dengan cangkul hingga tak lagi bernafas (tewas), lalu menanam korban di dekat sapti tank sedalam 30 cm,” terang Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Setija Junianta di lokasi kejadian. Setelah memastikan korban tak bernyawa, tersangka membongkar paving yang sudah tersusun rapi dan menggali tanah, lalu menaruh jasad korban di dalamnya. Setelah itu, tersangka menyemen tubuh korban dan menutupnya dengan tanah lalu memasang kembali paving-paving yang dibongkarnya.

Usai kejadian, tersangka mengemasi barang-barangnya dan membawa handphone korban untuk dijual kepada temannya yang lain seharga Rp 50 ribu. Sebelum melarikan diri, tersangka sempat berpamitan ke pemilik warung di dekat lokasi sekitar pukul 20.00 WIB. Kepada pemilik warung, dia mengaku sudah tidak lagi bekerja dan akan pulang kampung.

Jumat pagi (17/10), Yanto, sang mandor dan delapan pekerja proyek bingung karena pagar rumah terkunci. Yanto menghubungi Awi dan Nur. Handphone Awi tak bisa dihubungi, sedang milik Nur terdengar nada sambung, tapi tak terangkat. Aktivitas terpaksa diliburkan hari itu juga. Hari Sabtu (18/10), selain kerja terakhir, juga jadwal pembagian jatah gaji selama sepekan. Namun, kedua penjaga rumah (Awi dan Nur) tak juga menampakkan batang hidungnya. Terpaksa pintu pagar rumah yang terkunci, atas izin Yanto, dicongkel gemboknya.

Sekitar pukul 11.00 WIB, Budi, satu dari para pekerja melihat ada kejanggalan pada susunan paving di lorong bekas garasi. Paving yang semula rata, bletat (rusak) membentuk gundukan. Budi lapor ke Yanto dan mengeceknya. Karena ada yang aneh, Yanto melapor satpam perumahan. Sudarsono, satpam yang mendapat giliran jaga waktu itu, bersama satpam perumahan yang lain mendatangi lokasi dan membongkar paving yang janggal tersebut. Mereka melihat ada secarik kain warna biru (sarung korban) menyembul di sela-sela gundukan tanah dan menarik kain tersebut. Saat sebagian kain tercabut, bau busuk ke luar dari dalam tanah. Mengetahui ada mayat terkubur di lokasi, mereka pun melapor ke Polsek Mulyorejo.

akit hati karena dipukul sebanyak empat kali oleh rekan seprofesinya, Nur Hadi Santoso (19) asal Sedaput Bakalan, Sumobito, Jombang, Jawa Timur terpaksa mengakhiri nyawa Nurhawi alias Awi (23) asal Dsn Mangga, Sentulan, Kecamatan Batuanyar, Probolinggo. Nur menghabisi nyawa Awi dengan cara memukul kepalanya dengan paving saat duduk di teras depan rumah sekitar pukul 17.00 WIB, pada hari Kamis (16/10).

Tak hanya itu, untuk melampiaskan sakit hatinya, Nur juga memukul Awi dengan cangkul hingga terjatuh bersimbah darah. Karena masih bernafas, Nur menyeret tubuh Awi yang tak berdaya ke halaman samping rumah serta memasukkan ke dalam lubang septic tank yang belum terpakai, hingga meninggal dunia. Kemudian, tersangka mengambil jenazah korban dan menguburkannya di sebelah septic tank sedalam 30 centimeter, lalu menyemennya dan ditutup kembali dengan paving.

Setelah mengubur jenazah korban, sekitar pukul 20.00 WIB, Nur berpamitan pulang ke Jombang kepada pemilik warung yang ada di sekitar TKP. Dikonfirmasi terkait masalah ini, Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sumaryono masih enggan membebarnya, sebab sore ini (19/10), Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Setija Junianta yang akan menyampaikannya ke media massa. Dia hanya membenarkan soal penangkapan tersangka di rumah orang tuanya di Jombang. “Iya benar sudah tertangkap. Nanti, Pak Kapolrestabes sendiri yang merilisnya,” kata Sumaryono singkat, Minggu (19/10). Sementara itu, hingga saat ini, di lokasi kejadian, pihak kepolisian tengah menggelar pra rekonstruksi di TKP bersama tersangka.

Pelaku pembunuhan mayat disemen dan ditanam sedalam 30 meter di bawah paving rumah di Perumahan Dharma Husada Indah Blok B/154, Surabaya, Jawa Timur, berhasil ditangkap. Pelaku ditangkap di rumah orang tuanya yang kini sudah menikah lagi. Rumah orang tua pelaku itu berjarak sekitar 40-60 kilometer dari rumah pelaku di Jombang. Dikonfirmasi terkait penangkapan pelaku ini, Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sumaryono membenarkannya. Hanya saja, dia masih enggan mengungkap secara detail proses penangkapan itu.

Alasannya, sore ini (19/10), Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Setija Junianta sendiri yang akan menyampaikannya ke media massa. “Iya benar sudah tertangkap. Nanti, Pak Kapolrestabes sendiri yang merilisnya,” kata Sumaryono singkat, Minggu (19/10). Dan siang ini, polisi juga tengah menggelar rekonstruksi kejadian di lokasi pembunuhan bersama pelaku. Diberitakan sebelumnya, Sabtu siang (18/10) kemarin, Perumahan Dharma Husada Indah Blok B digegerkan penemuan mayat terkubur di bawah paving.

Mayat di bawah paving itu, diketahui bernama Awi asal Probolinggo. Diduga, korban dibunuh rekan seprofesinya sendiri, yang sama-sama diberi tugas menjaga lokasi proyek renovasi rumah di Perum Dharma Husada Indah. Kasus ini terungkap saat paving block yang telah disemen tiba-tiba meledak. Ada ceceran darah sehingga akhirnya mayat bisa ditemukan.

Hanya dalam tempo 12 jam, pelaku pembunuhan pekerja proyek renovasi rumah di Perumahan Dharma Husada Indah I Blok B/154, Surabaya, Jawa Timur tertangkap. Tersangka Nur Hadi Santoso (19), asal Desa Sedaput Bakalan, Kecamatan Sumobito, Jombang, akan dijerat dengan pasal berlapis, yaitu Pasal 340, 338, 351 dan 365 KUHP.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Setija Junianta mengatakan, usai mendapat laporan peristiwa pembunuhan di Perumahan Dharma Husada Indah I Blok B itu, Sabtu sekitar pukul 11.30 WIB, pihaknya langsung melakukan pengejaran terhadap tersangka. Proses penangkapan terhadap tersangka, dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari empat anggota Jatanras Polrestabes Surabaya dan dua personel dari Reskrim Polsek Mulyorejo yang dipimpin Ipda Budianto.

Kali pertama, perburuan dilakukan di rumah tersangka Nur, yaitu di daerah Sumobito. Keberadaan tersangka di Jombang ini, didapat dari keterangan saksi-saksi yang ada di lokasi kejadian. Namun sayang, saat rumahnya disatroni polisi, tersangka tidak di tempat. Informasi yang diperoleh pihak kepolisian, Nur dikabarkan bersembunyi di rumah ayahnya, yang sudah menikah lagi di Dusun Tangkil, Desa Pait, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang.

Setelah menerima informasi itu, tim gabungan tersebut bergegas menuju Malang. Dan sekitar pukul 23.30 WIB, tersangka berhasil dibekuk dan dibawa kembali ke Surabaya. “Tersangka berhasil kita tangkap di tempat persembunyiannya, yaitu di rumah orang tuanya di daerah Kasembon, Kabupaten Malang, pada Sabtu malam,” kata Setija di lokasi kejadian, Minggu (19/10).

Setija melanjutkan, setelah melakukan pembunuhan terhadap rekannya sendiri, yaitu Nurhawi alias Awi (23), warga Dusun Mangga, Sentulan, Kecamatan Batuanyar, Kabupaten Probolinggo, pada Kamis malam (16/10) lalu, tersangka Nur berpamitan pulang kampung ke pemilik warung di sekitar TKP dan mengaku sudah tidak bekerja lagi di proyek yang ada di lokasi kejadian.

“Sebelum melarikan diri, tersangka sempat berpamitan ke pemilik warung di sekitar lokasi. Tersangka juga masih sempat menjual handphone milik korban ke rekannya yang lain seharga Rp 50 ribu. Kemudian melarikan diri ke Malang, di rumah orang tuanya,” jelas Setija. Motif pembunuhan yang dilakukan Nur terhadap Awi, karena dendam. “Rabu malam, keduanya kerja lembur dan kaki tersangka tanpa sengaja tersandung kabel lampu hingga lampu padam. Korban marah dan memukul tersangka.”

“Selanjutnya, pada hari Kamis sekitar pukul 17.00 WIB, tersangka memukul korban dengan paving. Kemudian pada hari Sabtu, kejadian ini terbongkar dan dilakukan pengejaran,” sambung Setija. Selain mengamankan tersangka, polisi juga menyita barang bukti berupa satu pavling block, satu unit cangkul, baju dan celana korban, sepasang baju milik tersangka, dan satu unit HP milik korban yang dijual tersangka. “Pasal yang akan kita sangkakan adalah Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, 338 KUHP tentang pembunuhan, 351 KUHP tentang penganiayaan dan Pasal 365 KUHP tentang pencurian dan kekerasan,” tegas Setija.

Kasus pembunuhan ini terungkap, saat salah satu pekerja proyek bernama Budi, mendapati paving yang sudah tersusun rapi di lorong bekas garasi sisi kiri rumah bletat (rusak), membentuk gundukan. Peristiwa pembunuhan itupun terungkap. Awi, pekerja proyek renovasi rumah di Dharma Husada Indah I, tewas dibunuh rekan seprofesinya, Nur.

Penemuan mayat terbungkus kain warna biru di bawah paving gegerkan warga Perumahan Dharma Husada Indah Blok B, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (18/10). Diduga, mayat yang terkubur di rumah nomor 154 yang tengah direnovasi itu adalah Awi asal Probolinggo. Awi sendiri merupakan pekerja bangunan di rumah yang informasinya hendak dijadikan Rumah Makan Roti Bonami oleh pemiliknya. Bersama rekannya bernama Nur asal Jombang, Awi diberi tugas menjaga rumah oleh mandornya yang bernama Yanto.

Namun, menurut satpam perumahan, Sudarsono, kedua orang tersebut sudah tidak terlihat di sekitar rumah pada Kamis malam (16/10) lalu. “Kemudian, pada hari Sabtunya, tadi sekitar pukul 11.00 WIB, mandornya lapor ke satpam perumahan, kalau paving yang dipasangnya bletat (semburat), ada gundukan tanah dan ceceran darah yang sebagian ditutupi dengan semen,” terang Sudarsono di lokasi kejadian.

Sementara Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya, Kompol Hartoyo mengatakan, sebelum penemuan mayat tersebut, pada hari Jumat kemarin (17/10), mandornya yang bernama Yanto sempat menelepon keduanya. Tapi tak tersambung. “Pada hari Kamis, kedua orang ini (Awi dan Nur) masih bekerja. Hari Jumatnya, mereka tidak bekerja, di situ (lokasi kejadian) hanya terlihat delapan pekerja saja. Sempat dicari-cari mandornya, termasuk ditelepon langsung oleh mandornya tapi tidak tersambung,” terang Hartoyo.

Hartoyo juga mengaku masih belum berani menyimpulkan motif kejadian tersebut, termasuk dugaan pembunuhan. “Belum, belum. Masih dilakukan olah TKP. Yang jelas, sampai saat ini, kedua orang tersebut tidak ada, yang terkubur diduga si Awi, sementara teman satunya belum diketahui di mana,” tuturnya. Sementara dari pantau di lapangan, atas kejadian ini, di sekitar lokasi banyak warga yang menonton peristiwa tersebut. Sedangkan pihak kepolisian, hingga sekitar pukul 16.00 WIB masih melakukan olah TKP.

Sebelumnya, warga Perumahan Dharma Husada digegerkan penemuan mayat yang terkubur di bawah paving salah satu rumah di perumahan elit di Surabaya. Polisi masih mendalami kasus penemuan mayat terkubur di bawah paving rumah di Perumahan Dharma Husada Indah I/154, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (18/10). Setidaknya sudah ada 10 orang saksi yang dimintai keterangan oleh pihak kepolisian.

“Kita masih mendalami kasus ini. Untuk motifnya kita belum tahu. Kita masih meminta keterangan saksi-saksi yang ada di TKP. Ada 10 orang. Semua pekerja bangunan di sini. Termasuk mandor dan pelaksana proyek,” terang Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sumaryono. Penemuan mayat itu sendiri, kata Sumaryono, awal mula diketahui oleh seorang pekerja, bernama Budi, yang kemudian dilaporkan kepada mandor proyek, bernama Yanto.

“Oleh mandornya dilaporkan ke satpam perumahan, yang kemudian dilakukan pengecekan, ternyata ada mayat di bawah paving. Baru setelah itu dilaporkan ke pihak kepolisian,” papar Sumaryono. Sebelumnya, warga Perumahan Dharma Husada Indah I Blok B digegerkan peristiwa penemuan mayat di rumah nomor 154, yang tengah direnovasi. Rencananya, rumah tersebut akan digunakan Rumah Makan Roti Bonami.

Proyek renovasi, dikerjakan 10 pekerja, satu mandor dan pengawas. Dari 12 orang tersebut, dua di antaranya ditugasi tinggal dan menjaga rumah setiap harinya. Dua orang tersebut adalah Awi (28), asal Probolinggo dan Nur (26) asal Jombang. Hari Kamis (16/10), kedua orang tersebut masih terlihat ikut bekerja. Namun, malam harinya, keduanya tidak ada di tempat. Hal ini diungkap, satpam perumahan, Sudarsono, yang biasa ikut nongkrong bersama dua orang tersebut di warung kopi dekat lokasi.

Keesokan harinya, pada hari Jumat, keduanya dipastikan menghilang dari proyek. Yanto, selaku mandor proyek mencari kedua kulinya yang menghilang tersebut. “Mandornya sempat mencari, sempat nelpon juga, tapi tidak nyambung,” kata Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya, Kompol Hartoyo. Hari Sabtu, rekan korban yang bernama Budi, curiga dengan kondisi paving di lorong sisi kiri rumah. Paving yang sudah tertata rapi rusak dan terdapat gundukan tanah. Budipun melapor ke Yanto.

Sekitar pukul 11.00 WIB, Yanto melapor ke satpam perumahan. Sudarsono dan beberapa satpam yang lain mendatangi lokasi. Sudarsono mengaku, di selah gundukan tanah di antara paving yang sudah rusak, dia melihat kain warna biru (sarung yang dikenakan korban). “Kain saya tarik, dan baunya pun langsung keluar. Kamipun akhirnya lapor ke polisi,” kata Sudarsono. Pada olah TKP yang dilakukan pihak kepolisian, korban Awi tewas karena dihantam benda tumpul di bagian dada dan kepala. Saat tewas korban masih mengenakan kemeja lengan panjang warna abu-abu lorek dan mengenakan sarung warna biru.

“Kondisi korban telungkup. Ada tiga bekas luka di bagian dada dan kepala. Di lihat dari kondisi luka korban, kemungkinan korban di bunuh sekitar dua atau tiga hari. Eksekusi dilakukan di depan rumah kemudian diseret ke belakang rumah. Ini bisa kita lihat dengan bekas ceceran darah,” terang AKBP Sumaryono saat masih berada di lokasi kejadian.

“Setelah itu, korban ditanam di bawah paving sedalam 30 centemiter, kemudian disemen. Setelah itu baru ditutup kembali dengan paving. Tapi kemudian paving ini mbletat (rusak) dan diketahui oleh Budi yang kemudian dilaporkan ke mandornya. Untuk pelaku sendiri, kita sudah mengantongi identitasnya, yaitu inisial N. Kita sedang melakukan pengejaran terhadap tersangka. Mudah-mudahan bisa cepat kita tangkap,” pungkas Sumaryono.

Sengketa Pengelolaan Bandara Halim Tunggu Diselesaikan Oleh Jokowi


Pemerintah baru agaknya tak bisa berbulan madu lama-lama. Sudah banyak masalah menumpuk, salah satunya adalah perselisihan antara PT Angkasa Pura II (Persero) dan Lion Group, terkait pengelolaan Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Tri Sunoko bahkan enggan memberikan komentar lebih jauh soal diserahkannya pengelolaan Halim Perdanakusuma pada Lion Group, sebuah grup di industri aviasi di bawah kemudi Rusdi Kirana.

Tri menyerahkan keberlanjutan nasib AP II atas pengelolaan Halim Perdanakusuma pada pemerintah baru. “Kami minta kepada pemerintah, silakan menentukan kebijakan pemerintah, apakah (dikelola) AP II, atau statusnya bagaimana? Saya cenderung menunggu keputusan pemerintah,” tegas Tri, di Jakarta, Senina (20/10/2014).

Tri bersikukuh AP II mengelola Halim Perdanakusuma berdasarkan peraturan pemerintah, peraturan menteri, dan berdasarkan izin operasi yang jelas. “Saya cenderung menunggu keputusan pemerintah. Mending nanya sama pemerintah saja, sama Kemenhub, sama Kementerian BUMN,” imbuh Tri.

Sejauh ini, Tri mengklaim AP II telah merogoh investasi yang sangat besar untuk perawatan Halim Perdanakusuma. Sebagai informasi, AP II, perusahaan pengelola bandara di wilayah Indonesia Barat itu, diberitaakan telah menggelontorkan investasi sekitar Rp 100 miliar per tahun, atau sekitar Rp 3 triliun selama 30 tahun.

Hasrat besar Lion Group mengembangkan Bandara Halim Perdanakusuma tidak hanya membangun infrastrukturnya tetapi juga sekaligus berkeinginan menjadi operator bandara layaknya Angkasa Pura (AP).

Lantas bagaimana nasib operator Halim saat ini yaitu AP II jika Lion mengambil alih pengelolaan bandara?

Direktur Operasional Lion Air, Edward Sirait mengatakan, setelah nanti pemugaran Bandara Halim selesai, Lion bisa saja mengambilalih bandara dan mengelolanya sendiri. Namun, menurutnya, Lion pun siap untuk bekerjasama dengan AP II terkait pengelolaan bandara tersebut.

“Bisa saja kita jalin Bussines to Bussines dengan Angkasa Pura, proyek ini proyek mandiri kami (Lion Group),” ujar Edward di Jakarta, Selasa (14/10/2014).

Lebih lanjut kata Edward, keputusan Lion berinvestasi untuk pengembangan Bandara Halim sudah sesuai dengan Undang-undang nomer 1 tahun 2009 tentang penerbangan di mana pihak swasta diperbolehkan berinvestasi disektor penerbangan. Jadi, menurut dia, pengambilalihan bandara oleh Lion nanti sudah sesuai dengan peraturan yang ada.

Meskipun demikian, Lion tetap menunggu sertifikat dari Kementerian Perhubungan mengenai izin penggunaan bandara Halim menjadi bandara umum. Untuk urusan lalu lintas udara, Lion pun siap berkoordinasi denangan Air Nav.

“Ini contoh swasta membangun dan mengoperasikan, nah nanti operasinya tergantung Kemenhub. Mirip kalau mau terjang aja,” kata Edward.

Sementara itu, Sekretaris Angkasa Pura II Daryanto mengatakan, pihaknya akan menunggu keputusan lebih lanjut terkait rencana Lion menjadi operator Bandara Halim tersebut. “Sampai saat ini kami masih sebagai operator, nantinya seperti apa ya kami masih menunggu sampai ada keputusan lebih lanjut,” kata Daryanto

Bule Yang Diberi Kuasa Kelola Pulau Cubadak Usir Masyarakat Di Pulau Cubadak


Video orang asing atau bule hebohkan masyarakat di Sumatra Barat. Dalam video itu nampak beberapa bule di Pulau Cubadak di kawasan Pulau Mandeh, Sumatra Barat, mengusir masyarakat yang hendak mendatangi kawasan pulau. Video yang berdurasi 21 menit 37 detik itu dimuat di youtube oleh akun Watchdoc Documentary Maker . Di dalam video terlihat pengelola kawasan Pulau Cubadak mengusir seorang fotografer dan videografer yang ingin mengabadikan keindahan pulau yang dinilai sebagai Raja Ampat-nya wilayah Barat.

Darpius, seorang tokoh masyarakat adat setempat menceritakan pengalamannya selama membawa wisatawan Indonesia maupun masyarakat lokal yang ingin mengunjungi Pulau Cubadak. Ketika kapal pembawa rombongan merapat ke Pulau Cubadak, nampak Darpius berusaha meminta izin ke seorang bule yang sedang bermain bersama anaknya di dermaga. “Kita orang lokal, paham disini seperti apa. Biasanya diberi izin sebentar, paling lama setengah jam,” kata Darpius.

Di video tersebut memperlihatkan juga beberapa wisatawan asing sedang berjemur di pantai mengenakan bikini, ada juga yang sedang duduk-duduk hanya mengenakan pakaian seadanya, aktivitas di pulau itu cenderung sepi.
Penolakan sempat terjadi ketika seorang videografer sedang mengambil gambar aktivitas. Ada juga seorang bule lelaki yang tiba-tiba teriak dari kejauhan dan melarang aktivitas tersebut.

“Jangan buat foto begitu, minta izin dulu,” kata seorang bule di kapal tersebut. Kejadian pengusiran dialami seorang fotografer ketika sedang mendokumentasikan keindahan pulau itu. Ia dihampiri oleh seorang perempuan bule yang diduga membawa gelas berisi bir, yang kemudian disebut sebagai pengelola pulau. Ia mengaku diusir karena tidak ada izin.

“Tadi saya ambil gambar, tapi dilarang. Padahal saya ambil pondok aja, bukan orang, tapi dilarang,” kata juru kamera tersebut. Darpius kemudian menanggapi. Ia tak melarang jika ada yang kurang puas terhadap pengelola, ia pun mengakui pengelola saat ini kurang ramah.

“Silakan di ekspose saja, yang sekarang memang kurang ramah, (padahal) yang pemilik lama ramah,” kata Darpius. Tak lama kemudian, pengelola tersebut kemudian nampak menghampiri Darpius. Ia kemudian mengingatkan tidak boleh ada dokumentasi di pulau tersebut tanpa izin dari dia.

“Kalau yang saya tidak setuju jangan, pergi sekarang!” hardik pengelola tersebut sembari pergi membelakangi Darpius. Darpius kemudian mengutarakan kekecewaannya. Ia menilai pengelola saat ini sudah merasa pulau itu miliknya, bukan disewakan. “Kalau dengan mister Nani (pengelola sebelumnya) tidak, tapi pengelola sekarang merasa ini milik dia, pemerintah harus bersikap,” kata dia.

Wakapolda Pun Diusir. arpius menilai ulah bule pengelola itu berani mengusir masyarakat dan wisatawan lokal karena punya beking. Ia pun bercerita sebelumnya ada juga pejabat tinggi yang diusir oleh pengelola. “Dia lakukan ini juga pernah ke wakapolda, pernah diusir, petinggi di sini juga pernah diusir,” kata Darpius.

Meski kesal dengan pengelola, Darpius sadar kesalahan bukan hanya ada di pihak pengelola semata. Ia menilai ada pembiaran dari masyarakat yang membuat pengelola arogan terhadap. “Dia juga tidak bisa kita salahkan, masyarakat bisa juga disalahkan karena lakukan pembiaran. Dia harusnya tahu ini milik negara, bukan pribadi. Jangan biarkan tamu-tamu lain komplain lalu imej disini jadi tidak baik,” papar Darpius.

Tidak untuk Dijual
Masyarakat setempat mengingatkan, status pulau tersebut adalah hak ulayat masyarakat adat, tidak bisa diperjualbelikan. Tanah dan pulau tersebut hanya diperbolehkan disewa untuk dipergunakan, itupun ada beberapa persyaratannya selama tidak melanggar adat setempat.

Meski begitu, ada alasan mengapa bule di kawasan Pulau Mandeh mengusir warga. Pengakuan seorang penjaga pulau mengutarakan alasannya. “Istilahnya orang awak yang datang melihat orang bule berjemur itu kaget, matanya sampai melotot, kan orang sini tidak biasa melihatnya. Gara-gara itu tidak bisa masuk lagi,” kata seorang penjaga pulau.

Jakarta Alami Masa Transisi Ke Musim Hujan Bulan Oktober


Setelah panas terik sebulan terakhir, mendung dan hujan mulai turun di wilayah selatan Jakarta dan sekitarnya pada Senin (13/10) kemarin. Pertengahan Oktober akan menjadi masa transisi musim kemarau ke musim penghujan. Soal masa transisi itu disampaikan Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Cuaca Ekstrem BMKG Kukuh Ribudiyanto.

“Kalau kita lihat klimatologi, untuk daerah Depok, Cibinong arah selatan itu awal musim penghujannya bulan Oktober pertengahan. Kalau Jakarta awal November,” kata Kukuh, Selasa (14/10/2014). Tanda-tandanya akan dimulai dengan adanya hujan lokal. Proses transisinya juga tidak merata, tetapi lebih didahului dari wilayah selatan lalu ke utara.

“Intensitasnya cenderung hujan lokal, tidak terlalu luas,” jelas Kukuh. Terhadap masa transisi, Kukuh menginnatkan tentang potensi hujan badai. “Justru perlu diwaspadai adalah angin kencang dan puting beliung. Mungkin kalau daerah kemiringan yang cukup tinggi, habis kemarau dia kering terus ada hujan lebat, perlu waspada ada tanah longsor,” ucapnya. Kukuh menambahkan, untuk suhu Jakarta minggu ini akan berkisar diangka 33-34 derajat Celcius. Suhu ini beberapa derajat lebih kecil dibanding dua hari sebelumnya yang berada di angka 36 derajat.

“Suhunya relatif berkurang,” kata Kukuh.

Cuaca cerah hingga berawan diperkirakan akan terjadi di Jakarta sepanjang hari ini. Walau begitu, potensi terjadi hujan ringan masih ada. Dilansir dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Selasa (21/10/2014), wilayah Jakarta Utara, Jakarta Pusat dan Jakarta Barat diperkirakan akan berawan sepanjang hari. Sementara hujan dengan intensintas ringan diperkirakan mengguyur Kepulauan Seribu dan Jakarta Selatan di siang hari.

Untuk wilayah Jakarta Timur diprediksi hujan akan mengguyur menjelang malam hari. Demikian juga yang diprediksi akan terjadi di Depok dan Bogor yang turun hujan sejak siang sampai malam hari. Sementara itu wilayah Tangerang akan diguyur hujan ringan pada siang hari saja. Sedangkan wilayah Bekasi cuaca diperkirakan mendung sepanjang hari.

Dalam beberapa hari terakhir, suhu di Jakarta pada siang hari begitu panas. Udara kering serta sengatan matahari terasa berlebihan. Mengapa cuaca panas di Jakarta begitu ekstrem? Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Cuaca Ekstrem BMKG, Kukuh Ribudiyanto mengatakan, di sebelah utara Papua, ada siklon tropis. Tekanan udara ini akan menarik uap air ke arah siklon.

Di langit Jakarta, kata Kukuh, sebenarnya sudah beberapa kali tertutup oleh awan. Namun karena adanya siklon tropis itu, maka uap air tidak sampai berubah bentuk menjadi hujan. “Panasnya karena nggak ada awan atau uap air. Radiasi matahari jadi maksimal karena nggak ada daya serap atau filter istilahnya,” kata Kukuh saat berbincang, Minggu (12/1/2014).

Keberadaan pohon seharusnya bisa menangkal radiasi sinar matahari yang masuk ke bumi. Namun semakin berkurangnya pohon, sedikit pula radiasi yang terserap. Musim kemarau ini diprediksi akan berakhir mulai pertengahan Oktober hingga November. Depok dan Jakarta Selatan akan menjadi wilayah yang pertama kali disapa oleh hujan.

Dicari Oknum Imigrasi Bandara Internasional Soetta Yang Mempermalukan Bangsa Indonesia Dengan Memeras Turis Asing


Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kunjungan turis asing terancam tergerogoti oleh ulah oknum di bandara. Rombongan turis Spanyol ini membeberkan modusnya. Sejumlah turis Spanyol menjadi korban praktik korupsi oknum imigrasi saat hendak masuk Indonesia dengan melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta).

“Ini adalah kisah saya dengan petugas imigrasi yang korup di Bandara Internasional Soetta,” tulis Carlos, demikian dia minta namanya dikutip, melalui surat elektronik yang diterima di Den Haag, Jumat (17 Oktober 2014). Membeberkan pengalaman buruknya dalam bahasa Inggris, Carlos menyertakan copy cap imigrasi kapan rombongannya masuk dan kapan keluar, sehingga kementerian terkait dapat memetakan siapa oknumnya yang nakal dan telah mencoreng institusi dan nama baik negara.

Carlos mengajak rombongan keluarganya untuk berlibur ke Indonesia dengan pesawat Emirates nomor penerbangan EK356 dari Dubai dan tiba di Terminal Kedatangan 2 Bandara Internasional Soetta pada Kamis 25 September 2014 sekitar pukul 15.40 WIB. Sebelum penerbangan ini, mereka telah menempuh penerbangan Emirates dari Madrid-Dubai dengan total waktu bepergian selama 20 jam.

“Kami sudah lelah tapi keluarga saya sangat senang berada di Indonesia, sebuah negara yang saya cintai,” kisah Carlos mengawali ceritanya. Karena perjalanan yang panjang dan melelahkan serta tidak ingin kedua orangtuanya masih harus dua kali antre di bandara, maka dia memutuskan untuk mengurus visa turis di KBRI Madrid, supaya di bandara cukup antre pada meja imigrasi, tak perlu antre untuk Visa on Arrival (VoA).

Perlu diketahui, bahwa dalam dua perjalanan sebelumnya ke Indonesia, Carlos selalu mengurus visa di KBRI Madrid, sehingga dia tahu persyaratan dan prosedurnya, petugas imigrasi akan menanyakan beberapa pertanyaan, memberi cap stempel dan menandatangani visa. “Dan kami sudah membereskan semua surat-surat di KBRI Madrid pada Agustus lalu,” ujar Carlos.

Setelah lebih dari 1,5 jam menunggu, Carlos bersama keluarganya sampai pada meja imigrasi Bandara Soetta yang paling dekat dengan meja VoA. Petugas imigrasi yang melayani mereka adalah pria usia muda. Menurut Carlos, pada saat itu hanya ada 3 meja imigrasi Bandara Soetta yang buka, 2 meja dengan petugas pria dan satu perempuan.

Carlos sangat terkejut ketika petugas ini, setelah melihat paspor dan visa mereka, menanyakan semua surat-surat yang sebelumnya telah dia penuhi persyaratannya dan telah diurus di KBRI Madrid. “Saya sampaikan ke petugas itu bahwa semua surat-surat itu telah saya urus di KBRI Madrid, sehingga kami mendapat visa yang telah disetujui sebelum kami datang ke Indonesia,” papar Carlos.

Petugas itu menanyakan tiket penerbangan kembali (return ticket) ke Spanyol, dan Carlos menunjukkan semua return ticket tersebut kepada dia. Selanjutnya petugas menanyakan reservasi hotel di Indonesia dan Carlos menjelaskan bahwa reservasi itu ada dalam email dan untuk saat ini, baru dari pesawat, dia belum ada kontak internet di Indonesia.

“Saya bersikeras bahwa KBRI Madrid telah memegang semua surat-surat kami yang diperlukan dan mereka telah menyetujui visa kami. Petugas itu kemudian mengatakan ok,” imbuh Carlos. Satu per satu keluarganya mulai mendapat cap stempel dan tanda di paspor mereka. Kecuali satu… “Yang terakhir adalah kakak saya. Petugas meminta saya untuk menyuruh keluarga saya lainnya supaya menjauh dan dia menanyakan lagi tentang reservasi hotel untuk paspor kakak saya,” terang Carlos.

Untuk ketiga kalinya, Carlos menyampaikan bahwa dia tidak memegang surat-surat itu saat ini, semua persyaratan permohonan visa telah dipenuhi dan semua sudah ada di KBRI Madrid, dan mereka telah menyetujui dan menerbitkan visa. “Petugas itu mengatakan bahwa dia harus mendapatkan surat-surat tersebut, tetapi jika saya memberi dia US$ 8 per orang, maka dia akan mengizinkan kakak saya masuk Indonesia. Kami berenam, sehingga jumlah totalnya US$ 48,” rinci Carlos.

Setelah perjalanan panjang dari Madrid selama 20 jam dan berdiri antre di jalur imigrasi serta melihat kedua orangtua kelelahan, Carlos akhirnya memutuskan untuk menyudahi semua ini dan memberi petugas Euro 30 dari sisa uang tunai di sakunya. Carlos mengatakan pada petugas bahwa dia sudah tidak mempunyai uang tunai lagi dan perlu segera membawa kedua orangtuanya ke hotel untuk istirahat.

“Petugas mengambil uang Euro 30 itu, memberi cap stempel dan memparaf paspor kakak saya. Saya sangat kecewa, tapi sekurangnya saya -dengan memberi uang itu- dapat masuk Indonesia dan mulai menikmati negara asing favorit saya,” demikian Carlos. Kementerian Hukum dan HAM tidak bisa menutup mata atas sinyal-sinyal seperti ini. Cerita pengalaman buruk berurusan dengan imigrasi Indonesia ini telah menyebar luas di medsos Spanyol.

Dirjen Imigrasi geram terhadap aksi peras yang dilakukan oleh oknum imigrasi Bandara Soekarno-Hatta terhadap rombongan turis Spanyol yang hendak berlibur ke Indonesia pada 25 September lalu. Kemenkum HAM pun langsung melakukan investigasi mencari petugas yang ‘nakal’ terhadap rombongan turis dari Negeri Matador itu.

“Berdasarkan informasi dan bukti berupa cap tanda masuk dan keluar keimigrasian, kami telah memerintahkan Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Soekarno-Hatta untuk melakukan investigasi dan pemeriksaan lebih lanjut tentang kebenaran informasi tersebut,” ujar Kepala Bagian Humas dan TU Dirjen Imigrasi, Heryanto, dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (20/10/2014) malam.

Lebih lanjut, dari laporan investigasi sementara pihaknya telah memperoleh profil petugas imigrasi yang memeras Carlos dan rombongan di Bandara Soetta. Heryanto mengatakan, pihaknya tengah melakukan pemeriksaan secara intensif untuk pembuktian yang maksimal. “Apabila terbukti bersalah akan dikenakan tindakan tegas sesuai ketentuan perundangan yang berlaku,” tegasnya.

Sekadar informasi, Carlos mengajak rombongan keluarganya untuk berlibur ke Indonesia dengan pesawat Emirates nomor penerbangan EK356 dari Dubai dan tiba di Terminal Kedatangan 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Kamis 25 September 2014 sekitar pukul 15.40 WIB. Sebelum penerbangan ini, mereka telah menempuh penerbangan Emirates dari Madrid-Dubai dengan total waktu bepergian selama 20 jam. Setelah menanyakan kelengkapan dokumen Carlos dan rombongan, petugas menegaskan pihaknya boleh masuk ke Indonesia apabila membayar sejumlah uang.

“Petugas itu mengatakan bahwa dia harus mendapatkan surat-surat tersebut, tetapi jika saya memberi dia US$ 8 per orang, maka dia akan mengizinkan kakak saya masuk Indonesia. Kami berenam, sehingga jumlah totalnya US$ 48,” rinci Carlos. “Petugas mengambil uang Euro 30 (sisa di dompet Carlos) itu, memberi cap stempel dan memparaf paspor kakak saya. Saya sangat kecewa, tapi sekurangnya saya -dengan memberi uang itu- dapat masuk Indonesia dan mulai menikmati negara asing favorit saya,” demikian lanjutnya.

Cerita pengalaman buruk berurusan dengan imigrasi Indonesia ini telah menyebar luas di media sosial Spanyol.

Daftar 18 Puskesmas Di Jakarta Yang Jadi Rumah Sakit Online


Dinas Kesehatan DKi Jakarta bakal segera mengubah status 18 puskesmas menjadi rumah sakit tipe D. Menurut Kepala Dinas, Dien Emawati, 18 puskesmas yang bakal disulap jadi RS itu adalah puskesmas setingkat kecamatan. “Karena fasilitasnya yang dianggap sudah setara rumah sakit,” kata dia, Jumat lalu, 17 Oktober 2014.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan DKI, 18 puskesmas yang akan berubah status menjadi RS tersebar di lima wilayah kota. Di Jakarta Pusat yakni Puskesmas Kecamatan Johar Baru, Cempaka Putih, Kemayoran, Sawah Besar, dan Menteng. Untuk Jakarta Timur, Puskesmas Kecamatan Kramat Jati, Pasar Rebo, Ciracas. Jakarta Selatan, di Puskesmas Kecamatan Tebet, Kebayoran Lama, Mampang Prapatan, Pesanggrahan, dan Jagakarsa. Sementara, di Jakarta Barat yakni di Puskesmas Kecamatan Kembangan dan Kalideres. Sedangkan di Jakarta Utara, Puskesmas Kecamatan Cilincing, Pademangan dan Koja.

Dien mengatakan, pemilihan 18 puskesmas itu didasari tiga faktor utama sebagai pertimbangan. Pertama, lokasi puskesmas yang berada di daerah padat penduduk. Kedua adalah minat dan kebutuhan masyarakat yang cukup tinggi untuk berobat di puskesmas. Sedangkan pertimbangan ketiga adalah akses publik terhadap rumah sakit.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dien Emawati, menargetkan sistem integrasi Puskesmas dan rumah sakit umum daerah secara online selesai dalam dua bulan ke depan. Saat ini, kata dia, proses pengintegrasian sedang dalam tahap verifikasi. “Sebetulnya tinggal memverifikasi puskesmas mana yang banyak dirujuk ke RSUD Pasar Rebo, Pukesmas mana yang bisa dirujuk ke RSUD Budhi Asih, dan sebagainya,” kata dia seusai menghadiri acara Dokter Award di Balai Kota, Ahad, 21 September 2014. Dien melanjutkan, sistem online itu menjadi satu format untuk sistem rujukan.

Saat ini, kata dia, baru RSUD Tarakan yang menerapkan sistem secara online. Ia menargetkan semua RSUD di Jakarta akan dilengkapi sistem online termasuk rujukan. “RSUD Koja, Cengkareng, Budhi Asih, Pasar Rebo, semuanya akan kami buat jejaringnya,” ucapnya. Dien menuturkan, tujuan pengintegrasian secara online untuk kemudahan pasien dan dokter. Selama ini, pasien masih ada yang mengantre sampai berjam-jam. “Sekarang zamannya IT. Masa orang disuruh antri dari jam 3 pagi,” kata dia.

Dien mengaku program pengintegrasian ini tak memerlukan dana sama sekali. “Komputer di puskesmas sudah banyak. Anggaran cukup untuk koneksi dari Puskesmas saja. Kami nggak ada anggaran.” Dokter Poli Rujukan Puskesmas Tebet, Sri Sudewi, menyayangkan sikap masyarakat Jakarta yang masih meremehkan peranan puskesmas. “Pasien yang datang kadang memilih ingin langsung dirujuk ke rumah sakit begitu diagnosa selesai. Padahal masih bisa ditangani di puskesmas,” katanya, Senin, 22 September 2014.

Menurut Sri, fasilitas kesehatan yang tersedia di puskesmas saat ini sudah sangat lengkap, sehingga bisa menjadi garda depan pelayanan kesehatan masyarakat. “Kami juga tidak bisa sembarangan beri rujukan. Semua harus bisa ditangani di sini dulu,” ujarnya.

Puskesmas kecamatan, tutur Sri, saat ini sudah bisa menangani 144 diagnosis penyakit pasien. Mulai yang paling ringan seperti penyakit kulit hingga penanganan penyakit turunan dari sistem syaraf, psikiatri, mata, telinga, hidung, paru, kardiovaskuler, hepatitis A, ginjal dan saluran kemih, gastrointestinal, dan pankreas. “Puskesmas sekarang juga punya fasilitas rawat inap dan instalasi gawat darurat 24 jam,” katanya.

Sehari-hari, Puskesmas Tebet melayani hingga 500 pasien. Hanya 40 pasien per hari yang diberi rujukan ke rumah sakit umum daerah. “Kalau memang harus dirujuk, harus ke rumah sakit kelas B dulu. Tidak bisa langsung ke kelas A, karena sekarang sistemnya berjenjang,” ujarnya. “Masalahnya, kadang, pasien begitu selesai diagnosa awal inginnya langsung dirujuk ke rumah sakit. Seolah-olah menganggap puskesmas tidak kompeten,” tuturnya

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berencana mengubah puskesmas kecamatan menjadi setara rumah sakit tipe D, sehingga kualitas pelayanan kesehatannya lebih baik. “Sebab di tahun 2025 diprediksi terjadi bonus demografi,” kata Ahok, sapaan akrab Basuki, di hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Senin, 31 Maret 2014.

Menurut Ahok, pada kurun waktu tersebut hingga 2035 akan terjadi ledakan usia produktif di Indonesia. Untuk mempersiapkan hal tersebut bisa dimulai dari sektor kesehatan dan pendidikan. Langkah ini dilakukan sekaligus mendukung program sistem jaminan sosial nasional. Sebab, salah satu prioritas dari sistem ini adalah meratanya pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat.

“Nah kami sudah memulai dengan Kartu Jakarta Sehat yang setelah dilihat banyak penggunanya,” kata mantan Bupati Belitung Timur ini. Konsekuensinya, dia melanjutkan, butuh ruang lebih banyak untuk kelas 3. Tujuannya, agar masyarakat miskin juga terlayani. Sebab asuransi nasional ini hanya menanggung perawatan kelas 3. “Makanya kalau rumah sakit kesulitan menambah ruang kelas 3, puskesmas disulap jadi tipe D,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Dien Emmawati mengatakan uji coba akan dilakukan tiga bulan lagi sekitar Juni. “Ada 18 puskesmas kecamatan untuk uji coba,” ujarnya. Jumlah puskesmas di DKI Jakarta ada 348 unit, dengan rincian 340 puskesmas kelurahan dan 44 puskesmas

Air Di Rumah Susun Daan Mogot Hitam


Sudah satu pekan warga Rawa Belong, Jakarta Barat, menempati Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Daan Mogot. Raisah, 45 tahun, wara Rusunawa Daan Mogot Blok C 209, mengeluhkan kondisi air yang menghitam. “Airnya hitam, dan terasa licin. Warga di sini cemas, takut jadi gatal-gatal,” kata dia, saat ditemui Tempo di kediamannya, Ahad, 19 Oktober 2014.

Dia mengatakan, warga telah mengeluhkan kondisi tersebut pada pengelola gedung. “Kata pengelola, dua bulan lagi air mulai normal,” ujarnya. Menurut Raisah, pengelola Rusunawa menjelaskan kondisi air tesebut disebabkan oleh resapan tanah pada sumur. Dua bulan lagi, pengelola akan mengaktifkan air PAM.

Selain kondisi air yang tak layak, mereka pun mengeluhkan akses yang jauh dari jalan raya. Untuk mencapai Rusunawa, mereka mesti menempuh jarak 800 meter dari Jalan Raya Daan Mogot. Konidisi jalan pun masih berupa tanah, yang kerap menghembuskan debu ke arah Rusunawa.

“Angin yang besar membuat debu berterbangan ke dalam rumah kami,” katanya. Selain oleh angin, debu-debu itu berterbangan karena kendaraan yang melintas. Pada Jumat, 10 Oktober 2014, Kepala Proyek Rusunawa Daan Mogot, Hardyanto, dan Wali Kota Jakarta Barat Anas Effendi melakukan pengecekan kondisi Rusunawa Daan Mogot. Herdyanto mengatakan pembangunan di atas lahan 8 hektar ini akan rampung di akhir Desember 2014. “Saat ini yang baru siap hanya 160 ruangan saja,. Desember mendatang sudah 640 ruangan,” ujar dia.

Hal tersebut membuat pihaknya menunda pembangunan akses jalan. Alasannya, masih banyak kendaraan besar yang melintas menuju Rusunawa. Saat itu, dia mengatakan kondisi air dan pelistrikan sudah layak digunakan warga. Saat Wali Kota Jakarta Barat Anas Effendi mengecek kondisi Rusunawa, air yang ia cek mengalir deras dan jernih. “Tak ada lagi kekurangan. Warga sudah siap dipindahkan,” kata dia, saat itu.