PT Jasa Marga Tbk Terapkan Sistem Baru Setelah e-Toll Pass Dinyatakan Gagal


PT Jasa Marga Tbk (JSMR) tengah melakukan pilot project sistem new e-toll pass dimana kendaraan yang melalui gerbang tol tidak perlu berhenti. Hanya saja sistem baru tersebut mewajibkan pemilik mobil untuk mendaftarkan nomor rekeningnya ke Jasa Marga. ‎Direktur Operasi Jasa Marga, Hasanudin mengungkapkan, pilot project ini merupakan pengembangan e-toll pass yang sebelumnya telah diperkenalkan perseroan yang menggunakan mesin On Board Unit (OBU) dengan harga Rp 600 ribu per unit.

“Ini tetap menggunakan OBU yang hanya sebesar korek api‎, karena ini tidak pakai kartu, jadi permanen nempel di mobil,” katanya di Investor Submit, Pasific Place, Jakarta, Rabu (17/9/2014). Rekening pemilik mobil perlu didaftarkan karena nantinya OBU yang terpasang di mobil akan secara otomatis memotong saldo rekening tersebut jika melintasi gerbang tol. Dalam pengembangan sistem baru ini, Jasa Marga menggandeng PT Telkom (Persero) sebagai pihak yang akan menggarap teknologi tersebut, termasuk penyedia OBU yang baru.

Hasanudin menambahkan, pengembangan sistem yang baru ini nantinya tidak perlu memperlambat laju kendaraan untuk dapat melintasi gerbang tol, sementara jika sistem lama kendaraan harus ada di kecepatan 20-30 kilometer per jam. “Mau 60 km per jam atau 80 km per jam akan otomatis bisa terbaca, jadi nanti gardu tol itu perlahan akan kita hapuskan kalau sistem ini berhasil, tapi tetap hati-hati, nanti nabrak malahan,” katanya.

‎New e-toll pass ini dalam uji cobanya nantinya diharapkan juga akan bisa terkoneksi ke berbagai perbankan. Sayangnya Hasanudin belum bisa memastikan berapa Jasa Marga akan memberi harga alat tersebut.Kekesalan Menteri BUMN Dahlan Iskan soal transaksi di tol masih menggunakan kartu elektronik atau e-toll, seolah diabaikan pihak PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

Pasalnya, Jasa Marga tetap merencanakan kewajiban layanan transaksi berupa penggunaan kartu elektronik atau e-Toll kepada pengguna jalan tol. Rencananya akan diterapkan sebelum akhir tahun ini. General Manager Jasa Marga cabang Cawang Tomang Cengkareng, Agus Purnomo mengaku akan menambah 27 Gardu Tol Otomatis (GTO) hingga akhir tahun ini.
“Program tahun ini Cawang Tomang Cengkareng plus ruas jalan tol Prof Dr Ir Sediyatmo tambah 27 gardu tol otomatis. Nanti akan dibikin kebijakan mereka tidak membawa e-toll saya tidak meminta mundur harus beli, mundur mengganggu jalan sebelumnya,” ujarnya di Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Jumat (12/9).

“Dengan begitu kami harapannya lebih banyak terlayani, GTO ini meningkat e-toll,” tambahnya.

Untuk tahap awal, pihaknya menghadirkan petugas-petugas jalan tol menjual e-toll nominal kecil terlebih dulu dalam melayani transaksi kartu elektronik ini. “Menugaskan SPG menjual upayakan pecahan kecil, Rp 50 ribu” ungkapnya.
Hingga saat ini Jasa Marga telah mengoperasikan gardu tol berjumlah 36 gardu reguler, 6 gardu tandem, 9 gardu Tol Otomatis (GTO) dan 2 gardu tol khusus untuk melayani e-Toll pass.

Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengaku malu transaksi tol di DKI Jakarta dan sekitarnya masih menggunakan kartu tol elektronik atau e-toll card. Seharusnya, transaksi tol saat ini sudah menggunakan e-toll pass.

“Penggunaan kartu elektronik yang lama malu-maluin saja, negeri primitif,” ujarnya usai menggelar rapat pimpinan BUMN di Perusahaan Gas Negara (PGN), Jakarta, Kamis (11/9). Dahlan meminta Jasa Marga segera memperbaiki sistem transaksi terbaru itu. “Dijanjikan dalam waktu dua minggu. Satu tol lagi di Halim akan di coba cara baru untuk pertama. Nanti akan saya minta kerja sama dengan perbankan BUMN. saya usulkan integrasi biar tidak malu-maluin,” ungkapnya.Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menegaskan sistem ‎elektronik toll pass (e-toll) yang sedang diujicobakan oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk dianggap gagal.

‎Kegagalan itu lebih disebabkan karena Dahlan menganggap sistem yang digunakan terlalu kompleks yang mengakibatkan mahalnya perangkat yang digunakan. “‎Saya sampaikan ke Jasa Marga sistem e-toll saya anggap gagal, ganti yang lain, ‎ternyata keinginannya terlalu banyak, jadi sistem itu dan kartunya dirancang supaya bisa dipakai macam macam, restoran, bank. Menurut saya itu terlalu berlebihan sehingga di sistem menjadi berat,” kata Dahlan di Kantor Pusat PGN, Jakarta, Kamis (11/9/2014).

‎Sistem yang menggunakan On Board Unit (OBU) ini sebelumnya telah diujicobakan oleh PT Jasa Marga Tbk bekerja sama dengan Bank Mandiri sebagai penyedia kartu sejak 2012. Sebenarnya Dahlan sudah memperingatkan kepada Jasa Marga beberapa bulan lalu mengenai kompleksnya penggunaan sistem kartu tersebut hanya saja dirinya masih memberikan waktu kepada Jasa Marga untuk memperbaiki.

Sebagai solusi, Dahlan mengaku lebih baik melanjutkan program e-toll pass dengan menggunakan OBU hanya saja sistemnya lebih disederhanakan. ‎”Saya minta sudahlah sistem pakai yang khusus tol gate saja, tidak usah dibebani bayar-bayar yang lain, supaya jarak sensor bisa lebih jauh, sehingga lewat tidak berhenti,” jelasnya.Tidak hanya itu, Dahlan Iskan menuturkan, kelemahan dari sistem tersebut adalah mahalnya OBU yang dibanderol seharga Rp 600 ribu per unitnya.

Rencananya dalam waktu dua minggu ke depan, sistem e toll pass yang lebih sederhana ini akan diujicobakan di pintu tol Halim Perdanakusuma.PT Jasa Marga membantah tuduhan Menteri Badan Usaha Milik (BUMN) Dahlan Iskan terkait tidak optimalnya perseroan dalam melayani masyarakat, terutama terkait e-toll card dan e-toll pas, yang dipasarkannya tidak sesuai target.

General Manager Jasa Marga, Agus Purnomo mengakui antusias masyarakat terhadap kedua kartu elektronik tersebut memang minim. Tetapi, bisa saja anggapan tersebut, karena produk on board unit (OBU) terlalu mahal. “Sebetulnya yang di katakan pak Dahlan karena masyarakat tidak sesuai harapan beliau. Ini kan upaya Jasa Marga memberikan alternatif layanan lebih nyaman lagi,” ujarnya di Kementerian Pekerjaan Umum, Jakarta, Jumat (12/9).

Dia mengakui selama ini pengguna jalan tol lebih menikmati menggunakan uang cash ketimbang model kartu elektronik seperti itu. Saat ini, hanya 13 persen pengguna jalan tol yang menggunakan e-toll card. “Sangat kecil sekali memang, pengguna jalan tol pakai e-toll card hanya 13 persen, sementara pengguna jalan toll pakai e-toll pass di bawah 1 persen,” jelas dia.

Meski pengguna jalan tol yang memakai kartu elektronik tergolong sepi, perseroan tidak bakalan mencabut program pemakaian kartu elektronik tersebut. “Penyediaannya alat OBU nya dari Bank Mandiri, mudahan-mudahan ada terebosan lebih murah, kami sifatnya sistem transaksi yang menyediakan,” ungkapnya.Kekesalan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan terhadap PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) lantaran tidak dapat mengelola kartu elektronik atau e-Toll pass membuat dirinya meminta Jasa Margam, menurunkan harga perangkat On Board Units (OBU). Sebab, saat ini harga perangkat ini tergolong mahal sekitar Rp 650 ribu per unit.

“Saya tidak mau konsumennya dibebani kayak Rp 650 ribu, saya juga minta integrasi dengan masyarakat supaya tidak susah,” ujarnya di Gedung DPR, Selasa malam (16/9).

Menurut Dahlan, sistem sensor atau OBU yang harus dipasang di setiap mobil ini juga harus diubah, sebab rentan terhadap cuaca panas yang menyebabkan error sistem sensornya. “Harga yang lebih terjangkau dari harga jual yang sebelumnya sudah di pasarkan,” jelas dia. Selain itu, Dahlan juga Jasa Marga untuk membuat kembali e-Toll card baru. Sebab, banyaknya fungsi dalam kartu tersebut menjadi salah satu tidak maksimalnya penggunaan Gebang Tol Otomatis (GTO).

“Yang lama itu kelemahannya adalah keinginannya terlalu banyak sehingga sistemnya terlalu lambat, keinginan terlalu banyak ini begini oh jadi kartu ini ATM, bisa untuk bayar di restoran, belanja apa, sehingga ini semua bisa diakomodasi jadinya lemot, karena itu yang akan datang jangan dibebani macam-macam tugas,” ungkapnya.

Dahlan mengaku, saat ini pihak Jasa Marga dengan Telkom Indonesia serta perbankan BUMN tengah membuat ulang sistem e-Toll card. Sistem tersebut, nantinya hanya khusus untuk membayar tol saja.”Saya masih menunggu uji cobanya, mungkin satu minggu lagi selesai. Waktu itu dijanjikan 3 minggu, akan ada satu gerbang yang diperbaharui melalui pola baru tidak sama dengan yang dulu. Hitungan saya satu minggu lagi,” katanya.PT. Jasa Marga Tbk harus bekerja keras mencari cara mengurai kemacetan di jalan tol. Strategi terbaru single transaksi dengan brand new e-toll. Namun, untuk menerapkannya harus menunggu sistem yang dibuat oleh PT. Telkom Tbk.

Direktur operasional PT. Jasa Marga, Hasanudin meyakini, single transaksi ini akan meminimalisir antrean panjang di pintu masuk gerbang tol. Dia sesumbar, nantinya setiap kendaraan yang bertransaksi hanya butuh waktu 1 detik.
“Tidak menutup kemungkinan pintu tol itu kemungkinan sistem ini, new e-toll pas. Kemarin bicara dengan direksi Telkom dan sudah merancang sistem ini dan menghitung cepat, nanti 5 Oktober sudah diperkenalkan. Dengan sistem baru akan mendekati 2,8 juta transaksi per hari dan minimalisir kemacetan,” ucap Hasanudin di Jakarta, Rabu (17/9).

Dia menuturkan, selama ini kerap terjadi kemacetan di pintu gerbang tol lantaran waktu yang dibutuhkan untuk transaksi sekitar 10 detik. Penggunaan e-toll card selama ini pun diakui belum mampu mengatasi kemacetan di gerbang tol karena masih banyak warga yang melakukan pembayaran secara manual.

“Masyarakat gunakan e-toll pass belum terlalu tinggi, sedangkan kami mengharuskan bertransaksi lebih cepat dan tanpa henti ini sedang kami kembangkan dan kembangkan new e-toll card,” ungkap dia. Uji coba program ini ditetapkan di pintu tol Kalimalang II. Sistem ini diklaim tidak kalah dengan yang diterapkan di Malaysia. Sistem ini akan menggunakan OBU berukuran lebih kecil dari biasanya.

Alat ini akan dipasang permanen di kendaraan dan transaksi akan terkoneksi dengan rekening pemilik OBU.
“OBU tidak pakai kartu, fungsi gabungan id, link ke multi bank, di daftarkan nomor rekening dulu. Sehingga kalau lewat tol rekening tidak bisa lewat. Multi bank ini kami sudah melakukan pembicaraan dengan Mandiri, BNI dan BRI atau bank yang sudah kerjasama dengan Telkom,” ucap dia.

Ridwan Kamil Akan Datangi Ahok Karena Kewalahan Hadapi Turis Jakarta


Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengunjungi kantor Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota. Ridwan mengatakan ia berkunjung dengan tujuan membahas arus kendaraan warga Jakarta setiap musim liburan tiba.

“Saya mau bahas tentang turis-turis Jakarta yang datang ke Bandung. Kami kewalahan,” kata Ridwan di Balai Kota, Selasa, 16 September 2014. Emil, sapaan Ridwan, tiba di Balai Kota pukul 12.15 WIB. Dia mengenakan kemeja putih dan jas hitam.

Emil mengatakan ruas jalan di Kota Bandung tak mampu lagi menampung jumlah kendaraan dari Jakarta setiap akhir pekan. Kondisi tersebut membuat kemacetan parah di semua sudut kota terjadi saat musim liburan.

Untuk itu, Emil meminta Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Ignasius Jonan membuat sistem yang mampu menggaet warga Jakarta agar beralih menggunakan kereta api saat mengunjungi Bandung. Sebab, saking macetnya, ia mengibaratkan Kota Jakarta dan seisinya dipindahkan ke Bandung setiap pekan.

Selain diserbu warga Jakarta, kemacetan di Kota Bandung juga disebabkan oleh banyak hal. Salah satunya adalah pertumbuhan kota yang terlampau pesat. “Kemacetan di Bandung penyebabnya multidimensi, mirip-mirip Jakarta,” kata dia.

Untuk itu, Emil mengatakan masa lima tahun jabatannya akan dihabiskan untuk mengatasi kemacetan di Bandung. Menurut dia, hasil upaya penanganan kemacetan baru dapat terlihat dalam waktu tiga tahun. “Dua tahun pertama itu persiapan, tahun ketiga baru terlihat hasilnya,” ujar Emil.

Pemda Bogor Akan Larang Kendaraan Plat B Masuk Bogor Untuk Atasi Kemacetan


Pemerintah Kota Bogor berencana akan mengeluarkan kebijakan pembatasan kendaraan yang masuk dan hilir mudik di sejumlah ruas jalan raya Kota Bogor, salah satunya dengan mengeluarkan kebijakan satu hari tanpa kendaraan berpelat nomor B (asal Jakarta) masuk ke Bogor.

“Pak wali memiliki program dan berwacana satu hari tanpa kendaraan berpelat B, baik kendaraan milik warga Bogor maupun luar warga Bogor,” kata Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman, Selasa, 16 September 2014.

Dia mengatakan, kebijakan satu hari tanpa kendaran plat nomor B (asal Jakarta) tersebut dimaksudkan untuk mengantisipasi kemacetan yang cukup parah di Kota Bogor. “Artinya dengan dikeluarkan kebijakan ini semua harus terfasilitasi oleh angkutan umum massal seperti APTB dan lainya,” kata dia.

Dia mengatakan, pemberlakuan kebijakan yang akan dilakukan oleh pemerintah Kota Bogor ini akan dikaji oleh Tim Percepatan Penanggulangan Prioritas Pembangunan (TP4) yang sudah dibentuk oleh Wali Kota Bima Arya.”Rencananya sosialisasi sendiri mulai dilakukan tahun 2015 dan dilakukan bukan hanya di Kota Bogor akan tetapi pada masyarakat Jakarta,” kata dia.

Nantinya, ungkap Usmar, semua kendaraan yang berpelat B baik warga Jakarta, maupun Bogor, tidak bisa masuk kawasan Kota Bogor pada akhir pekan.”Akan ada pembangunan fasilitas parkir, jadi setiap masyarakat Jakarta atau Bogor yang akan ke Jakarta atau Bogor bisa memarkirkan kendaraannya di satu lokasi itu, kemudian mereka melanjutkan perjanan menggunakan kendaraan umum,” kata dia.

Siklon Filipina Meluas, Cuaca Ekstrem Melanda Indonesia


Siklon tropis Kalmaegi semakin meluas. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem dampak siklon di Filipina itu terhadap Indonesia.

“Saat ini siklon Kalmaegi di sekitar Filipina. Sekitar pukul 07.00 WIB, Senin (15/9), posisi siklon sudah berada di Laut Tiongkok Selatan, sebelah barat laut Pulau Luzon, Filipina,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui pesan singkat, Minggu (14/9/2014).

Hal itu berarti pusat cuaca ekstrem berada di titik 18,6 lintang utara dan 119,7 bujur timur. Siklon Kalmaegi ini berada lebih dekat ke Tahuna, tepatnya 1.810 Km sebelah utara-barat laut Tahuna.

“Arahnya barat-barat laut dengan kecepatan 30 Km per jam. Kekuatannya mencapai 120 Km per jam,” ujar Sutopo.

Cuaca ekstrem yang terjadi ini memberikan dampak terhadap kondisi cuaca di Sumatera bagian tengah, Kalimantan Barat sisi utara dan Kalimantan Utara berupa potensi hujan ringan. Kalmaegi juga berdampak pada gelombang setinggi lebih dari 4 meter di Laut Andaman, perairan sebelah utara Aceh, Selat Malaka bagian utara, perairan Kepulauan Mentawai, perairan Bengkulu, perairan sisi barat Lampung, Banten, Selat Karimata, Laut Banda dan Laut Arafuru.

“Masyarakat dihimbau untuk mentaati peringatan dini ini. Terlebih bagi masyarakat yang melakukan aktivitasnya di laut agar selalu meningkatkan kewaspadaanya. Tenggelamnya kapal di Selat Mangoli, Kec Falabisahaya, Kab Kepulauan Sula, Maluku Utara, akibat gelombang tinggi hendaknya menjadi pembelajaran agar tidak terulang di tempat lain. Apalagi gelombang laut akan lebih tinggi,” tutup Sutopo.

Kisah Batu Konglomerat di Jabal Magnet


Di sela-sela aktivitas salat arbain di Masjid Nabawim, para jamaah haji Indonesia diajak jalan-jalan ke Jabal Magnet. Para jamaah haji terpukau dan kagum dengan kekuasaan Allah di Jabal Magnet, karena ada kisah batu konglomerat di Jabal Magnet.

Jabal Magnet adalah fenomena alam yang terkenal, berada 30 Km di utara Madinah. Dari Kota Madinah, Jabal Magnet bisa ditempuh dengan perjalanan darat selama 30 menit. Jabal Magnet hampir sama dengan gunung-gunung lain di Tanah Suci, yaitu penuh pasir dan bebatuan. Namun, fenomena magnet di sana menjadi daya tarik umat muslim yang berkunjung ke Tanah Suci.

Salah seorang jamaah haji loter 16 dari embarkasi Surabaya yang mengunjungi Jabal Magnit yang juga seorang ahli geologi berbagi kisah dengan wartawan yang memantau aktivitas jamaah di gundukan magnet raksasa ini. Dia berkisah tentang asal-usul jabal magnet yang kemungkinan besar dulunya adalah magma gunung berapi.

“Dari pengamatan sepintas, Jabal Magnet ini kemungkinan dulu produk gunung api bawah laut,” kata sang jamaah, Eddy Mahardjo, yang tak lain adalah dosen di Fakultas Teknik Geologi Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya, sembari mengamati Jabal Magnit, Minggu (14/9/2014).

Karena itu banyak sekali batuan ditemukan di jabal magnit. Batuan tersebut sangat kaya akan campuran mineral.

“Di sini banyak sekali terjadi batuan-batuan yang campur aduk dan juga batuan bekunya. Batuan beku itu ada kemungkinan mengandung mangnet besi-besinya. Jadi ada kemungkinan daya tarik mobil-mobil tadi itu karena ada magnet besi-besi yang terkandung dalam batuan,” katanya sembari menunjukkan gumpalan batu berwarna cokelat kemerah-merahan dengan kilauan putih di beberapa sisinya.

Nah dalam bahasa geologi, batuan tersebut dikenal dengan batuan konglomerat. Tentu saja tidak ada hubungannya antara nama batuan ini dengan kemampuan mistis batuan. Ini batuan kelihatan sekali campur aduk atau semacam batuan yang campuraduk menjadi satu ini namanya batuan konglomerat,” katanya.Sembari memegang batuan konglomerat, Eddy lantas menganalisis bentuk Jamal Magnet yang terpecah-pecah sampai puncaknya.

“Kemudian kalau kita lihat di tepi, ada pecah-pecah itu ada collumnar jointing. Jadi pecah-pecah karena pecah perut. Suatu proses magma menuju ke atas dan kemudian memanas mendingin sehingga dia terpecah-pecah menjadi seperti itu,” katanya. “Jadi ada kemungkinan batuan ini tercampur menjadi satu dulu terendah di bawah laut kemudian terangkat di atas,” ungkapnya.

Kronologi Pembunuhan Ina Winarni Mahasiswi Undip di Perumahan Graha Estetika


Mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Undip, Ina Winarni (21) dibunuh di tempat tinggalnya di perumahan mewah Graha Estetika, Jalan Raya Estetika Blok G nomor 26, Kelurahan Pedalangan Banyumanik, Semarang hari Selasa (9/9/2014) lalu oleh buruh bangunan bernama Mustofa. Dari hasil keterangan sementara pelaku yang sudah dibekuk sore tadi dan barang bukti yang diamankan, diduga pelaku sudah merencanakan aksinya. Dari hasil pemeriksaan kepolisian, kronologi pembunuhan berawal ketika pelaku masuk dari atap lantai dua rumah korban bagian belakang sekitar pukul 11.30.

Setelah masuk ke rumah, pelaku melihat korban dan berjalan mengendap dari belakang kemudian langsung membekap mulut korban menggunakan celana kain yang berada di dekat korban. “Masuk dari belakang di lantai dua. Dari belakang korban lagsung membekap dan mengikat tangan korban menggunakan tambang,” kata Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Djihartono di Mapolrestabes Semarang, Jumat (12/9/2014) malam.

Setelah tangan korban terikat dan mulut dibekap, korban dibawa ke lantai satu dan dimasukkan ke bawah kolong tempat tidur di kamar paman korban. “Saat dimasukkan ke dalam kolong sudah meninggal,” pungkas Djihartono. Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Wika Hardianto menambahkan, pelaku cukup sadis karena tali yang juga membelit leher korban ternyata sangat kuat hingga diduga pembuluh darah di leher pecah sehingga korban mengeluarkan darah. “Sadis itu, cekikannya keras padahal korban kecil,” tegas Wika.

Usai mengeksekusi korban, pelaku langsung kabur menggunakan motor korban dan membawa smartphone milik korban. Motif sementara pelaku sudah merencanakan aksi tersebut untuk menggasak harta di rumah tersebut. Diberitakan sebelumnya, jenazah Ina Winarni ditemukan pamannya, Umar Sahid hari Selasa (9/9) lalu sekitar pukul 22.00 saat solat di bawah kolong tempat tidur di perumahan mewah Graha Estetika, Jalan Raya Estetika Blok G nomor 26, Kelurahan Pedalangan Banyumanik, Semarang. Kondisi Ina saat itu tewas dengan tangan diikat dan mulut serta hidung disumpal kain.

Saat ini pihak kepolisian masih mengembangkan kasus tersebut dan mengamankan beberapa barang bukti tali, kain penyekap, Smartphone Samsung, sepatu boots, celana jeans. Sementara itu hingga saat ini motor korban masih ditelusuri keberadaannya karena diduga sudah dijual. Pembunuh mahasiswi Undip, Ina Winarni (21) berhasil dibekuk tim Resmob Polrestabes Semarang. Pelaku bernama Mustofa (31) itu dibekuk di rumah orang tuanya di Kudus sore hari tadi.

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Wika Hardianto mengatakan pihaknya memerintahkan langsung Wakasat Reskrim Polrestabes Semarang, Kompol Sukiono, dan Kanit Resmob Polrestabes Semarang, AKP Kadek untuk memimpin penangkapan pukul 16.00 sore tadi. “Wakasat Reskrim dan Kanit Resmob turun langsung. Pelaku ditangkap di Kudus,” kata Wika di Mapolrestabes Semarang, Jumat (12/9/2014) malam.

Pelaku merupakan pekerja bangunan yang sedang menggarap rumah di dekat lokasi rumah yang menjadi tempat kejadian perkara yaitu di perumahan mewah Graha Estetika, Jalan Raya Estetika Blok G nomor 26, Pedalangan Banyumanik, Semarang. “Dia buruh bangunan. Untuk motifnya nanti masih dikembangkan. Pelaku masih berubah-ubah keterangannya,” pungkas Wika. Diketahui jenazah Ina Winarni ditemukan pamannya, Umar Sahid hari Selasa (9/9) lalu sekitar pukul 22.00 saat solat di bawah kolong tempat tidur. Diduga pembunuhan terjadi sekitar pukul 08.00 sampai pukul 17.00 saat korban di rumah sendiri.

Pelaku pembunuhan mahasiswi Undip, Mustofa (31) sempat berkelit saat dimintai keterangan polisi terkait aksi kejinya terhadap korban yang bernama Ina Winarni (21). Namun Mustofa tidak bisa menghindar ketika rekaman CCTV memperlihatkan dirinya pergi membawa motor korban.

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Wika Hardianto mengatakan CCTV yang berada di tetangga depan rumah korban di Jalan Estetika Raya Blok G 26 merekam saat pelaku keluar rumah itu sambil membawa motor matic korban ke arah kanan. “Terpantau jam 12.30 WIB, tapi setelah itu belum diketahui lewat mana untuk kabur,” kata Wika, Sabtu (13/9/2013). Rekaman CCTV tersebut hanya menunjukkan saat pelaku keluar, sedangkan untuk masuk ke dalam rumah, pelaku memanjat tembok dan masuk lewat bagian belakang rumah di lantai dua. Di situlah pelaku menghabisi korban dengan menjerat dan mengikat korban lalu menyumpal mulut serta hidung menggunakan kain celana yang ada di lokasi.

Usai membunuh dan membawa mayat korban ke bawah kolong tempat tidur, pelaku membawa kabur handphone dan motor korban. Diketahui di perumahan elit tersebut hanya ada satu akses keluar masuk untuk umum yang dijaga petugas keamanan. Diduga pelaku membawa kabur motor korban melewati akses truk yang berbatasan dengan Kelurahan Kramas dan Kecamatan Tembalang.

Diketahui Mustofa adalah pekerja bangunan yang sedang mengerjakan rumah di sebelah rumah korban. Kepala tukang tempat pelaku bekerja, Noor Huda mengatakan tidak tahu kapan tepatnya pelaku masuk ke rumah korban. Ia hanya tahu saat sekitar jam istirahat, jam 12.00-13.00 WIB, pelaku pamit pulang ke Kudus.

“Dia pamit pulang ke Kudus karena sakit pinggang. Barangnya sudah dikemasi,” kata Huda saat ditemui detikcom di Mapolsek Banyumanik Semarang. Sementara itu adik ipar pelaku yang juga buruh bangunan, Harun Arasyid (19) mengatakan tidak tahu kakaknya itu pergi. Ia tahu setelah melihat motor Yamaha Jupiter kakaknya sudah tidak di lokasi kerja.

“Saya masih tidur. Saya tahunya motor sudah tidak ada dan dikasih tahu kalau dia pulang ke Kudus,” ujarnya. Harun menambahkan, kakak iparnya itu memang sering berulah dan mabuk-mabukan. Padahal Mustofa harus membiayai istri dan anaknya yang masih enam bulan. “Ya orangnya seperti itu, kemaki,” tegasnya.

Pelaku sudah ditangkap di rumah orang tuanya di Undaan, Kudus Jumat (12/9) sore kemarin oleh Resmob Satreskrim Polrestabes Semarang. Ia kemudian diminta menunjukkan barang bukti motor yang ternyata disembunyikan di Pati. Saat menunjukkan barang bukti tersebut ternyata pelaku berusaha melawan dan kabur hingga terpaksa petugas melepas timah panas ke kaki kiri Mustofa. Hingga saat ini pelaku masih dimintai keterangan untuk mendalami kasus tersebut termasuk dugaan pelaku yang lebih dari satu orang.

“Dugaan Sementara barang bukti motor belum akan dijual, tapi hanya disembunyikan di Pati,” pungkas Wika. Diberitakan sebelumnya, jenazah Ina Winarni ditemukan pamannya, Umar Sahid hari Selasa (9/9) sekitar pukul 22.00 WIB saat salat di bawah kolong tempat tidur di perumahan mewah Graha Estetika, Jalan Raya Estetika Blok G nomor 26, Kelurahan Pedalangan Banyumanik, Semarang. Kondisi Ina saat itu tewas dengan tangan diikat dan mulut serta hidung disumpal kain.

Razia Parkir Liar Dengan Denda 500 Ribu Dapat Banyak Dukungan Dari Pengendara


Suku Dinas Perhubungan Jakarta Utara menggelar razia parkir liar di Jalan Akses Marunda. Razia ini mengakibatkan kemacetan sekitar 2 kilometer ke arah Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta. “Ini adalah cara supaya enggak macet lagi,” kata Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Utara Arifin Hamonangan di Jalan Akses Marunda, Senin, 8 September 2014. Selain karena razia, kemacetan tersebut disebabkan oleh perbaikan gorong-gorong di bahu jalan. Perbaikan itu membuat lajur kendaraan menyempit, padahal volume kendaraan cukup padat.

Proses razia ini juga menarik perhatian para pengendara motor. Beberapa di antaranya meneriakkan dukungan kepada petugas. “Dikempesin saja, Pak,” ujar seorang pengendara sepeda motor. “Kandangin saja, Pak. Biar kapok,” kata pengendara lain. Di sekitar Jalan Akses Marunda, petugas menderek satu truk kontainer ke Tanah Merdeka, lokasi khusus penampungan kendaraan yang terkena razia parkir liar. “Kami kenakan tilang uji kir dan mengecek izin usaha. Kalau dari polisi nanti juga dikenai tilang biru (tilang dengan denda maksimal),” ujar Arifin.

Pemilik truk juga harus membayar retribusi jasa penderekan sebesar Rp 500 ribu per hari dan denda tilang Rp 500 ribu. Jumlah retribusi berlipat ganda setiap hari selama truk itu belum ditebus. Dinas Perhubungan DKI Jakarta menggelar razia parkir liar di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dalam razia hari ini, Senin pagi, 8 September 2014, petugas mengangkut empat mobil yang diparkir di area terlarang.

Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Pusat, Syamsudin, mengatakan mobil yang diderek akan dibawa ke pool di Rawa Buaya, Jakarta Barat. Tak hanya menderek mobil yang diparkir di sembarang tempat, Dinas Perhubungan juga menilang pengemudi mobil yang berhenti sembarangan di bahu jalan. (Baca: Mulai Hari ini, Parkir Liar Didenda Rp 500 Ribu)

“Ada tiga mobil yang ditilang, ada pengemudinya. Kalau tidak ada pengemudinya, kendaraan langsung kami angkut,” ujar Syamsudin, Senin, 8 September 2014. Seorang pengemudi yang memarkir kendaraannya di sekitar Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Aditia Hendrawan, 36 tahun, kesal karena mobilnya diangkut petugas. “Seharusnya jangan langsung angkut, dong! Ada pemberitahuan. Ini enggak sopan sekali,” ujarnya.

Saat mobilnya diangkut, Aditia sedang berada di dalam Hotel Kempinski. Dia mengaku terbiasa parkir di pinggir jalan. Aditia menolak membayar denda sebelum mendapat penjelasan. Dia juga bingung dengan prosedur pengambilan mobilnya. “Saya harus bicara dulu dengan pihak Dishub. Saya enggak mau bayar gitu saja. Kalau peraturannya jelas, baru saya bayar,” ujar Aditia.

Mulai hari ini, pemerintah DKI memberlakukan denda sebesar Rp 500 ribu bagi mereka yang parkir sembarangan. Denda ini berlaku akumulatif. Artinya, jika pelanggar tidak mengambil mobilnya dalam satu hari, maka denda yang dikenakan akan berlipat ganda.