Lany Melyana Karyawati Cantik BII Hilang Saat Pulang Kantor


pulang-kantor-karyawati-bii-hilang-misteriusLany Melyana (29), seorang karyawati di Bank Internasional Indonesia (BII) tiba-tiba hilang usai pulang kantor. Bahkan, keluarga sulit menghubungi Lany karena nomor telepon selularnya sudah nonaktif. Lely, kakak Lany, mengaku tidak tahu alasan adiknya menghilang. Sebab, Lany tidak pernah memiliki masalah dengan keluarga maupun tempatnya bekerja.

“Kita kan pikir barangkali HP rusak, enggak sempet hubungi, tapi sampai malam kok enggak ada kabar. Orang tua punya feeling, biasanya kalau pergi pasti telepon atau SMS. Jarang sekali (pergi) lah, kalaupun pergi ada urusan kantor,” ungkap Lely saat dikonfirmasi, Jumat (1/8).

Lely menambahkan, adiknya diketahui hilang sejak Rabu (23/7) lalu. Namun keluarga baru melaporkan kehilangan pada Jumat (25/7) lalu. Hingga kini, Lany belum juga kembali ke rumahnya. “Dia hilang setelah pulang kantor. Ada seorang sahabatnya ajak pulang bareng karena rumahnya dekat, tapi dia tidak mau karena buru-buru, alasannya orang tua ulang tahun,” ungkapnya. Sebelum hilang, Lany diketahui sedang berada di kawasan Senayan, Jakarta. Ketika itu, dia sedang mengenakan pakaian warna ungu.

Sudah hampir dua pekan, Lany Melyana (29), karyawati di Bank Internasional Indonesia (BII) menghilang usai pulang kantor. Sebelum hilang, Lany diketahui sempat putus hubungan dengan kekasihnya. Kakak Lany, Lely, mengaku adiknya tersebut tidak pernah memiliki masalah dengan keluarga maupun tempatnya bekerja. Namun, Lany diketahui sempat putus dari pacarnya sebelum dilaporkan hilang.

“Masalah dengan keluarga enggak ada, tapi enggak tahu kenapa. Cuma dia punya pacar, udah putus. Pacarnya juga ikut bantu juga nyari, dia enggak tahu juga (alasan Lany hilang),” ungkap Lely saat dikonfirmasi, Jumat (1/8). Jauh sebelum hilang, Lany dikenal sebagai sosok yang jarang bergaul, apalagi sampai menginap di rumah temannya. Bahkan, Lany selalu menjalin komunikasi dengan baik dengan keluarganya.

“Biasanya izin, ini enggak izin. Sebelumnya enggak pernah terjadi apa-apa, jadi kalau ketemu di rumah aja. Kami jarang BBM-an, kalau pulang malem biasa ditanya ke mana, biasa dijawab ‘macet’,” ungkap Lely. Lely mengungkapkan, adiknya diketahui hilang sejak Rabu (23/7) lalu. Namun keluarga baru melaporkan kehilangan pada Jumat (25/7) lalu melalui kepolisian. Hingga kini, Lany belum juga kembali ke rumahnya.

Bahkan, nomor telepon selularnya hingga kini sudah tidak dapat dihubungi. “Putus (komunikasi), karena enggak tahu nomor lainnya, karena nomor HP kan gampang dibeli, yang lama sudah enggak aktif lagi,” pungkasnya.

Laporan Masyarakat Temukan Rekening Senilai 8 Juta Dollar Milik Jokowi dan Istri


Kubu Prabowo-Hatta meminta pihak terkait menyelidiki laporan masyarakat mengenai tabungan Joko Widodo di luar negeri. Pihak yang diminta menyelidiki antara lain Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Pusat Pelaporan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU). “Laporan masyarakat mengenai indikasi tabungan 8 juta dolar di luar negeri. Ini penting karena menyangkut Pak Jokowi sebagai kandidat calon presiden,” kata Juru Bicara Tim Prabowo-Hatta, Andre Rosieda dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (1/8/2014).

Andre mendesak KPK bersama PPATK untuk segera berkoordinasi dengan KPU menindaklanjuti laporan tersebut.
“Dasarnya dari masukan LSM sudah dibuka bukti-bukti, kita meminta KPK memeriksa itu karena nilainya 8 juta Dollar, jauh yang dilaporkan di KPK,” tuturnya. Andre mengakui pihaknya belum mengetahui apakah laporan tersebut benar atau tidak. Tetapi hal itu perlu ditindaklanjuti karena menyangkut moral dan keabsahan Jokowi. “Kan kita belum tahu ini benar atau salah,” imbuhnya.

Calon presiden nomor urut 2, Joko Widodo membantah bahwa istrinya, Iriana Joko Widodo memiliki rekening sebesar 8 Juta US Dollar di luar negeri. “Kami tidak pernah punya rekening di luar negeri. Saya dan istri tidak punya,” ujar Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi di taman waduk Pluit, Jakarta Utara, Selasa (22/7/2014).

Mantan walikota Solo ini mengakui dirinya memang seorang pengusaha meubel dan furniture yang sudah merambah sampai ke internasional. Namun, Jokowi mengatakan usaha yang ia lakukan masih dalam skala kecil. “Saya sudah 24 tahun. Tapi cuma kecil-kecilan,” kata pria yang telah nonaktif sebagai Gubernur DKI Jakarta ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ketua Progres ’98 Faizal Assegaf mempertanyakan mengapa Jokowi tidak melaporkan 32 rekeningnya di luar negeri ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bila memang rekening itu adalah rekening bisnis biasa, menurutnya harus disampaikan saat melaporkan harta kekayaan ke KPU dan KPK. Rekening itu tersebar di beberapa negara diantaranya Hongkong, Philipina, Singapura, Mongolia, Jordania, Lebanon dan sebagainya.

andidat presiden nomor urut dua Joko Widodo (Jokowi) membantah tudingan bahwa dirinya memiliki rekening tabungan di luar negeri. “Saya ini eksportir selama 24 tahun. Kita tidak pernah punya rekening di luar negeri. Saya dan istri tidak punya,” kata Jokowi saat ditemui di Waduk Pluit, Jakarta Utara, Selasa.

Jokowi mengungkapkan bahwa dia adalah seorang eksportir yang kerap memiliki bisnis besar. Selain menjabat sebagai Walikota di Surakarta, Jokowi juga mengaku sebagai eksportir furniture dari bahan kayu. “Yang lain belum banyak main ke situ saya sudah main di situ. Tapi eksportir kecil-kecilan,” katanya.

Sebelumnya, Ketua Progres `98 Faizal Assegaf mempertanyakan mengapa Jokowi tidak melaporkan 32 rekeningnya di luar negeri ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bila memang rekening itu adalah rekening bisnis biasa, menurut Faisal, seharusnya itu disampaikan saat melaporkan harta kekayaan ke KPU dan KPK. Rekening itu tersebar di beberapa negara diantaranya Hongkong, Philipina, Singapura, Mongolia, Jordania, Lebanon dan sebagainya

Kawasan Monas Semakin Semrawut dan Kotor


Penertiban pedagang kaki lima di kawasan Monas belum mampu membuat kawasan itu sebagai ikon wisata kota Jakarta, steril dan tertib. Pada Kamis (31/7), pedagang masih nekat berjualan di dalam area Monas, meskipun petugas Satpol PP berkeliling di kawasan ini. Sejumlah pedagang mengatakan, larangan berjualan hanya diberlakukan untuk pedagang yang membawa gerobak atau alat berjualan lain yang memakai roda. ”Kalau ngasong seperti saya, tidak masalah,” kata Amin, penjual balon anak-anak.

Dia membawa barang dagangannya di dalam tas. Di dalam area Monas, balon-balon itu baru dipompa. Setelah itu, dia berkeliling menjajakan balon seharga Rp 5.000 per buah. Hal itu juga dibenarkan Iwan, penjual tikar plastik. Dia mengaku bebas masuk Monas dan menawarkan barang dagangan ke pengunjung yang akan piknik di dalam taman. ”Tadi masuk sih bebas saja, enggak dilarang meskipun kelihatan bawa tikar ini.”

Di dalam area Monas juga terlihat sejumlah pedagang makanan dan minuman keliling. Bahkan, di depan pagar yang mengarah ke Stasiun Gambir, sejumlah gerobak makanan bisa masuk ke dalam area Monas. Selain itu, persewaan sepeda motor dan mobil untuk anak-anak juga bebas menawarkan jasanya. Ada sejumlah jasa persewaan mainan anak yang memasang tarif Rp 25.000 untuk setiap 10 menit.

Sementara di luar pagar Monas, parkir kendaraan pengunjung masih memakan trotoar dan juga jalur bus transjakarta. Kepala Satpol PP Jakarta Pusat Yadi Rusmayadi mengakui, pihaknya belum maksimal dalam melakukan penertiban karena keterbatasan jumlah personel. ”Yang kami prioritaskan saat ini adalah memperkecil peluang pedagang berjualan di taman Monas agar tidak berantakan.” Banyak kendala menertibkan PKL berjualan di Monas. Salah satunya banyaknya akses masuk ke Taman Monas, lebarnya jarak antarbesi pagar taman yang masih memungkinkan diterobos orang, serta jumlah PKL di lokasi binaan IRTI yang sudah bertambah dari 339 yang diizinkan menjadi 700 PKL.

Di sisi lain, penertiban PKL di Monas tidak bisa hanya mengandalkan Satpol PP yang berjumlah 500 orang untuk tiga sif kerja. Sementara keberadaan PKL diduga didukung oknum aparat sehingga mereka leluasa berjualan di lokasi terlarang. ”Aneka persoalan ini membuat Monas harus dikelola secara profesional. Dengan demikian, taman bisa dikhususkan untuk kegiatan rekreasi dan usaha saja,” kata Yadi.

Kepala Unit Pengelola Monumen Nasional (UP Monas), Rini Hariyani, mengaku gerah dengan banyaknya pedagang kaki lima yang hingga saat ini masih berkeliaran di sekitar Taman Monas bahkan naik hingga pelataran. “Saya kesal dengan pedagang-pedagang itu, sudah berulang kali ditertibkan tetapi masih ada celah untuk mereka masuk, lama-lama saya berpikir untuk membuat Monas jadi satu pintu saja, biar semuanya terkontrol,” kata Rini di kantor UP Monas Kamis (31/7/2014) sore.

Rini bercerita bahwa para PKL itu bisa sampai ke pelataran Monas dengan cara memanjat relief. Atas maraknya PKL yang berkeliaran di sekitar Taman Monas, perempuan asal Solo itu berharap agar pihak Satuan Polisi Pamong Praja membantu mengatasi permasalahan PKL. Sebab, selain membuat kawasan Monas semrawut, PKL juga membuat kawasan wisata lambang Jakarta itu dipenuhi sampah.

Monumen Nasional yang bersih dari pedagang kaki lima (PKL) tampaknya masih jauh dari harapan. Meskipun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah sering lantang mengusik keberadaan mereka, kehadiran para PKL tersebut tetap belum bisa dicegah. Bermacam-macam dagangan, mulai dari makanan, pakaian, hingga jasa, ditawarkan oleh para PKL. Mereka dapat ditemui di segala penjuru Monas, mulai dari IRTI sampai kawasan dekat cawan.

Para PKL tersebut masuk ke kawasan Monas dengan perlahan. Semakin siang, kian ke dalam jugalah mereka berdagang. Beberapa PKL pakaian terlihat menarik lapak mereka dari arah dekat pagar ke kawasan sekitar cawan. Lapak tersebut memang sudah didesain sedemikian rupa sehingga, selain mampu menampung semua barang dagangan, juga bisa dipindah-pindahkan.

“Nanti kalau diusir baru pindah. Mereka bilang kami orang kaya. Kami ini orang miskin yang perlu cari makan juga,” kata Saiman, salah seorang PKL yang berjualan pakaian, sambil menarik lapaknya. Memang definisi kaya miskin itu relatif dan banyak juga orang yang menyebut orang yang lebih miskin darinya tapi rajin bekerja sebagai kaya karena takut tersaingi kekayaannya.

Wanita yang sudah 10 tahun menjadi PKL Monas itu mengaku sudah paham betul soal larangan berjualan di Monas. Kucing-kucingan dengan satpol PP pun sudah jadi makanannya sehari-hari. Berdasarkan pantauan Kompas.com, satpol PP berjaga di tiap pintu Monas. Di dekat tangga menuju loket masuk tugu, ada juga petugas satpol PP berjaga. “Sudah dua hari ini kami di Monas, tetapi sifatnya cuma penghalauan. Kalau ada yang bandel, baru barangnya kami angkat,” kata Kepala Satpol PP DKI Jakarta Kukuh Hadi.

Suhandi Bunuh Tetangganya Pemilik Warung Kelontong Di Putara Pancoran Mas Depok


Kepolisian Resor Kota Depok akhirnya mengungkap kasus tewasnya Ali Wafa Yusuf (37), pedagang kelontong yang ditemukan bersimbah darah di warung kelontong sekaligus rumahnya di Jalan Pitara, Pancoranmas, Depok, Kamis (31/7/2014) pukul 01.00 WIB. Ali tewas dengan sedikitnya 7 luka tusukan senjata tajam ditubuhnya. Pelaku penikaman terhadap Ali ternyata adalah Suhandi (42) alias Kumis bin Sumanta, yang merupakan tetangga Ali. Suhandi tinggal tak jauh dari rumah Ali Wafa.

“Pelaku kami bekuk di rumahnya tak jauh dari lokasi kejadian, Jumat pagi pukul 08.00. Sejak awal, yang bersangkutan sudah sangat mencurigakan karena memberi keterangan yang berbelit-belit dan coba mengecoh penyidik,” kata Kasat Reskrim Polresta Depok Kompol Agus Salim di Mapolresta Depok, Jumat (1/8/2014). Suhendi pulalah yang saat kejadian termasuk orang yang pertama kali menolong korban dan membawanya ke rumah sakit dengan angkot. Suhandi juga sempat diperiksa polisi sebagai saksi dalam kasus ini.

Dalam keterangannya kepada penyidik, Suhandi mengatakan, saat menolong korban, Ali sempat mengatakan kepadanya, bahwa orang yang menusuk Ali adalah dua pria kawanan perampok yang hendak menggasak uang warungnya dan berhasil kabur. Namun polisi tak mudah percaya. Hingga akhirnya menyimpulkan Suhendilah pelakunya karena seperti kebanyakan psikopat, mereka akan dengan sengaja melibatkan diri kedalam penyelidikan atau pura-pura membantu proses penyelidikan.

Tertangkapnya Suhendi sebagai pembunuh pemilik toko kelontong di Depok, Ali Wafa Yusuf (37), mengungkap motif pembunuhan sadis tersebut. Rupanya, Suhandi kesal karena Ali kerap meledek soal utang-utangnya. Kasat Reskrim Polresta Depok Kompol Agus Salim mengatakan, menurut pengakuan Suhandi, Ali bahkan sempat menanyakan besaran utang Suhendi kepada beberapa warga lain. “Motifnya untuk sementara kesal dan dendam kepada korban karena utangnya diungkit. Namun kami masih mendalami kemungkinan motif lainnya,” kata Kompol Agus di Mapolresta Depok, Jumat (1/8/2014).

Suhendi mengaku tidak meyesal sama sekali telah membunuh Ali sebab kini hutang hutangnya bisa dianggap lunas dan akan membuatnya semakin disegani warga dan tidak akan ada yang berani lagi bertindak tidak hormat padanya. “Karenanya untuk motif pasti dan utamanya masih kami didalami lagi. Sebab mungkin saja ada motif lain dibelakangnya,” ujar Agus.

Ali ditemukan bersimbah darah di warung kelontong sekaligus rumahnya di Jalan Pitara, Pancoran Mas, Depok, Kamis (31/7/2014) pukul 01.00 WIB. Ali tewas dengan sedikitnya 7 luka tusukan senjata tajam di tubuhnya.

Ali Wafa (38), pemilik warung kelontong di Kampung Pitara, RT 6/RW 15, Pancoranmas, Depok, ditemukan bersimbah darah di lantai warungnya, Kamis (31/7/2014) dini hari. Ali yang mendapat luka tusukan di sekujur tubuhnya langsung dilarikan ke RS Mitra Keluarga di Jalan Margonda. Namun, pukul 10.00, Ali mengembuskan napas terakhir. Luka tusukan yang dideritanya sangat parah. Jasad Ali lalu dibawa ke RS Polri Sukanto untuk diotopsi demi kepentingan penyelidikan.

Jajaran Polresta Depok menduga, Ali dibunuh sedikitnya oleh dua pelaku. Polisi memastikan tidak ada unsur perampokan dalam kasus ini. Sebab, dari hasil penyidikan, tidak ada yang hilang dari uang dan barang berharga milik korban. Kasat Reskrim Polresta Depok Komisaris Agus Salim menjelaskan, hasil identifikasi menunjukkan sedikitnya ada tujuh luka tusukan senjata tajam di tubuh Ali.

“Luka tusukannya di perut di bawah pusar, di perut sebelah kanan, di bagian kantong kemih kanan dan kiri, lalu di leher bagian kiri dan kanan, serta di pergelangan tangan kanan,” kata Agus. Dari luka-luka itu, ia mengatakan, pelaku diduga kuat menghujani korban dengan luka tusukan senjata tajam saat kejadian. “Seperti dendam. Karenanya, untuk sementara, kami simpulkan ini adalah kasus pembunuhan murni tanpa ada perampokan,” ujarnya.

Hal senada sebelumnya dikatakan Kapolresta Depok Komisaris Besar Ahmad Subarkah kepada Warta Kota, Kamis siang. “Sebab tidak ada barang berharga dan uang milik korban yang hilang. Kami masih dalami motif pembunuhan ini, dan diduga karena masalah pribadi,” kata Ahmad. Ia menuturkan, Ali Wafa dan istrinya, Mutmainah (30), yang merupakan warga asal Sampang, Madura, sudah setahun tinggal di sana dan membuka toko kelontong. Adapun Mutmainah kini sedang mengandung anak kedua mereka.

Sesaat setelah kejadian, Mutmainah membersihkan ceceran darah suaminya yang memenuhi lantai warung. Hal ini dikeluhkan Agus Salim karena bisa saja ada sejumlah bukti dan petunjuk mengenai pelaku yang ikut dibersihkan istri korban. “Saat kami datang, lokasi kejadian sudah bersih. Ceceran darah sudah dibersihkan istri korban. Ini agak kami sayangkan,” katanya. Agus mengatakan, penyidik sudah memeriksa sejumlah saksi dalam kasus ini, serta melakukan olah tempat kejadian perkara.

“Keterangan saksi dan olah TKP akan dicek silang dan dicocokkan,” kata Agus. Menurut Agus, kondisi Mutmainah saat ini sangat terpukul. Terlebih lagi, dia tengah hamil lima bulan. “Istri korban yang sedang hamil masih shock berat sehingga belum dapat kami mintai keterangan,” katanya. Polisi mengamankan pisau lipat berlumur darah dari lokasi tewasnya Ali Wafa (38) di Kampung Pitara, RT 6/RW 15, Pancoranmas, Depok.

Kepala Satuan Reskrim Polresta Depok Komisaris Agus Salim menduga, pisau lipat tersebut milik pelaku penusukan pemilik toko kelontong itu. “Kami amankan pisau lipat dari lokasi kejadian serta kain berlumur darah,” kata Agus di Mapolresta Depok, Kamis (31/7/2014). Ia berharap, pisau lipat yang diduga milik pelaku ini bisa menjadi petunjuk untuk mengungkap pelaku penusukan. “Kami juga sudah memeriksa beberapa saksi mata, di antaranya warga yang menolong korban dan beberapa warga lainnya,” kata Agus.

Sementara itu, kata Agus, penyidik belum dapat memeriksa dan meminta keterangan dari istri Ali, Mutmainah (30), yang sedang mengandung lima bulan. Menurut Agus, Mutmainah masih dalam kondisi terpukul. Terlebih lagi, ia sedang mengandung lima bulan sehingga ditakutkan pemeriksaan malah makin membuat kondisinya terguncang sehingga berdampak pada bayinya. “Jadi istrinya belum kami periksa. Kami menunggu kondisinya lebih tenang dulu,” ucap Agus.

Agus menuturkan, untuk sementara, penyidik menyimpulkan bahwa kasus ini adalah pembunuhan murni dan tidak ada unsur perampokan. Sebab, tidak ada yang hilang, baik uang maupun barang korban. Pelaku diduga berjumlah dua orang, dan datang dengan mengendarai sepeda motor. Karena menyangka kedua orang itu akan membeli sesuatu di warungnya, Ali tidak curiga. Namun ternyata, salah seorang pelaku justru menusuk Ali dengan membabi buta.

Menurut Agus, terdapat tujuh luka tusukan di tubuh Ali. “Luka tusuk ada di perut di bawah pusar, di perut bagian pinggang, di kantong kemih sebelah kanan dan kiri, di leher sebelah kanan dan kiri, serta di pergelangan tangan kanan,” kata dia. Saat ditemukan warga, Ali masih bernafas walau dalam kondisi bersimbah darah. Ali akhirnya meninggal dunia di RS Mitra Keluarga di Jalan Margonda, Depok, Kamis pagi saat dalam perawatan. “Kami masih dalami kasus ini untuk mengidentifikasi pelaku,” ujar Agus

Pemerasan Terjadi Di Depan Istana Negara …. Mampukah Nanti Jokowi Mengatasinya?


Deretan mobil milik wisatawan mengular di pinggir Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat. Setiap berjarak 10 meter, dijaga oleh seorang tukang parkir yang berbeda. Mereka mengatur mobil yang keluar masuk di areanya masing-masing dengan menarik sejumlah uang. Para tukang parkir tersebut tidak mengenakan seragam selayaknya tukang parkir resmi Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Gaya saat mengatur keluar masuk mobil tersebut cenderung kasar. Berteriak-teriak sambil memukul-mukul mobil jika pemilik mobil tidak mengikuti instruksi sang tukang parkir.

Meskipun jalan tersebut berada tidak jauh dari pusat-pusat kekuasaan, sebut saja ada Istana Negara, Istana Wakil Presiden dan Balaikota, rupanya tidak juga menghentikan praktik-praktik ilegal berbau pemerasan semacam itu. Apa lagi jika bukan parkir liar. Doni Irawan (32), serta keluarga datang jauh-jauh dari Magelang, Jawa Tengah, 28 Juli 2014, tepat saat Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijriah. Niat berwisata ke Monumen Nasional (Monas) sekaligus menaiki bus tingkat City Tour Jakarta terganggu oleh praktik ‘getok’ uang parkir sebesar puluhan ribu.

Pria yang berwirausaha di bidang konstruksi baja itu sampai ke pelataran Monas sekitar pukul 13.00 WIB. Lantaran berputar-putar ke pelataran parkir Monas namun tidak kunjung mendapat parkir, dia mengarahkan mobil ke tepi Jalan Medan Merdeka Selatan. “Pas saya turun, tukang parkir minta dibayar duluan. Saya kasih Rp 5.000, tapi dia mintanya Rp 20.000,” ujar Doni di kawasan Monas, Kamis (31/7/2014) siang.

Semula, Doni yang datang bersama istri, dua anak serta saudaranya hendak menolak uang parkir yang diminta. Namun, dirinya tak ingin merusak suasana liburan bersama keluarga. Akhirnya, dengan terpaksa dia menyerahkan selembar uang Rp 20.000 pada tukang parkir. Sang istri, Elva Kurnia Dewi (31), khawatir jika permintaan tak dipenuhi, tukang parkir akan berbuat yang tidak-tidak kepada mobilnya. Pasalnya, ketika sekeluarga tengah berjalan di antara mobil-mobil yang sedang parkir, wanita yang bekerja sebagai notaris ini memergoki tukang parkir yang tengah mengempesi ban salah satu mobil.

“Saya sih enggak tau kenapa dikempesi kayak gitu. Saya nebak-nebak saja mungkin pemilik mobil enggak bayar sesuai yang diminta atau gimana,” ujar dia. Pemuda yang didapatinya tengah mengempesi ban mobil tidak menggunakan seragam parkir atau tidak mengenakan atribut Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Oknum tukang parkir tersebut, kata Elva, mengenakan kaos hitam dan celana jins saja.

“Sangat keberatan sebenarnya. Orang kemarin saya ke Mal Taman Anggrek saja Rp 4.000 per jam, masak ini puluhan ribu? Pemerasan ini namanya. Tapi ya terpaksa parkir di situ. Mau di mana lagi?” timpal Doni. Tak hanya Doni dan Elva, wisatawan asal DKI Jakarta lain bernama Charles Dirgantara (35) mengakui mengalami hal yang sama. Dia malah lebih parah dari Doni. Tukang parkir meminta uang parkir sebesar Rp 30.000 di awal dan Rp 10.000 pada saat mobilnya mau keluar.

“Padahal, saya cuma sebentar parkirnya. Anak saya cuma mau beli gulali sama mainan di dalam. Saya mau melawan tapi malaslah, ya sudah,” ujar dia saat hendak ingin menaiki bus tingkat City Tour di Halte Balaikota. Kompas.com sempat mencoba mewawancarai juru parkir di jalan tersebut. Namun, mereka tidak bersedia menjawab. Salah satu tukang parkir malah membentak dengan berteriak, “wartawan enggak ada urusan. Kami ini hanya cari makan,” ujar dia.

“Bukan Tanggung Jawab Kami”

Kepala Unit Pelaksana (UP) Perparkiran DKI Jakarta Sunardi Sinaga menampik aktivitas parkir liar di seputaran Monas berada di bawah tanggung jawabnya. Menurutnya, aktivitas itu tanggung jawab Polisi, Satuan Polisi Pamong Praja dan Dinas Perhubungan. “Lokasi yang kami (UP Perparkiran) kelola itu, yakni di parkir IRTI. Tarif pun sesuai retribusi parkir,” ujar Sunardi saat dikonfirmasi, Kamis siang.

“Jika ada pengelolaan perparkiran di luar IRTI, yakni di seputaran Monas, berarti itu liar dan bukan tanggung jawab kami,” sambung dia. Sunardi mengatakan, pihak yang seharusnya melakukan penindakan atas aktivitas parkir liar tersebut adalah Kepolisian setempat, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) atau personel Dinas Perhubungan. Pihaknya tidak ingin mencampuri tugas pokok fungsi lembaga lain.

“Ya, semestinya ditertibkan. Bila perlu orang itu ditangkap. Itu ilegal, bahkan kategori aksi pidana karena ada unsur pemerasan,” lanjut dia. Oleh sebab itu, Sunardi menyarankan kepada wisatawan yang ‘digetok’ uang parkir mahal oleh tukang parkir tersebut untuk parkir di pelataran yang telah disediakan. Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak memberikan uang parkir kepada oknum tersebut.

Hingga saat ini, Kepala Kepolisian Sektor Metro Gambir Ajun Komisaris Besar Putu Putra Sadana belum memberikan keterangan soal praktik pemerasan tersebut.

Menginap Di Villa Pondok Alam Egreta Kawasan Wista Alam Mangrove Akan Di Denda 1 Juta Bila Kedapatan Membawa Kamera DSLR


Kawasan Wista Alam Mangrove di kawasan Pantai Indah Kapuk, Penjaringan, Jakarta Utara melarang wisatawan yang datang memfoto dengan menggunakan kamera profesional atau SLR. Bagi masyarakat yang kedapatan membawa kamera SLR akan didenda Rp 1 juta. Salah satu pengunjung enggan disebutkan namanya mengatakan dirinya diharuskan membayar denda Rp 1 juta kepada petugas keamanan Wisata Alam Mangrove karena membawa kamera SLR. Padahal, dirinya telah merogoh kocek sebanyak Rp 6 juta untuk menginap di Villa Pondok Alam Egreta yang terletak di dalam Wisata Alam Magrove tersebut selama dua hari.

“Saya dari Selasa lalu di sini, pas hari pertama saya saya mau foto-foto bersama keluarga dilarang oleh petugas dan disuruh bayar Rp 1 juta rupiah,” ujarnya di lokasi, Kamis (31/7). Pria yang merupakan wisatawan asal Kota Bekasi itu, tidak begitu saja menerima sanksi yang diarahkan petugas kepada dirinya. Namun, dia justru mempertanyakan alasan dilarang membawa dan memotret di Wisata Alam Mangrove.

“Saya tanya alasannya kenapa dilarang? Dia malah diam, di loket depan juga tidak ada bacaan dilarang kok ngapain juga saya bayar. Saya juga bilang ke dia, saya ini nyewa villa di sini sama keluarga, dia langsung bilang oke pak kalau gitu saya tahan kamera bapak aja,” jelasnya.

Sementara, dari pantauan merdeka.com di lokasi terlihat saat memasuki pintu masuk, para petugas keamanan menggeledah setiap pengunjung sebelum memasuki area Wisata Alam Mangrove. “Saya enggak boleh bawa kamera sama petugasnya, enggak tahu deh kenapa dilarang gitu, kamera saya ditahan tuh di tempat penitipan,” ujar pengunjung Sri.

Sementara itu, ketika mencoba konfirmasi dari pihak pengelola Wisata Alam Mangrove enggan memberikan penjelasan.

Pedagang Jatinegara Menyesal Memilih Jokowi


Para pedagang di Pasar Kemuning/Mede Jatinegara, Jakarta Timur, banyak yang ngedumel kesal akibat ditertibkan oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Mereka menyalahkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Awalnya, sejumlah pedagang sambil bersungut-sungut memindahkan barang dagangan mereka yang digelar di pinggir jalan dan trotoar. Suasana masih berlangsung kondusif. Namun, setelah seorang pedagang pakan ikan diangkut perlengkapan dagangnya, sejumlah pedagang lain ikut membela.

Beberapa pria menggerutu sambil menyalahkan Jokowi dan Ahok. Sorakan kecewa terhadap dua tokoh itu juga terdengar. Ada juga yang mengaitkannya dengan masalah Pemilu Presiden 2014 lalu. “Nyesel pilih Jokowi, bilangin ke Jokowi ya, intinya pedagang sini nyesel pilih dia,” ujar seorang pria kepada wartawan. “Ini karena Ahok nih. Yang dibela paling yang itu aja,” ujar pedagang lainnya.

“Emang dia mau kasih makan anak bini gue apa? Nyesel gue pilih Jokowi, mending Prabowo,” kata pedagang lain. Tak hanya Jokowi dan Ahok, pedagang juga sempat memprotes media. “Ngapain liput-liput? Jangan ngomong sama wartawan. Paling enggak dibelain,” seru yang lain. Muhammad Sani (38), seorang pedagang ikan, mengatakan kecewa dengan penertiban tersebut. Sani menilai, pemerintah dan seluruh jajarannya tidak berpihak kepada rakyat.

“Kita nyari duit halal. Daripada suruh kita jadi pencuri. Ini masih hari raya Idul Fitri, lho. Harusnya disediain tempat dulu baru digusur,” ujar Sani. Sani mengaku, dia tidak menyalahkan pemimpin DKI atas masalah ini. “Saya netral, enggak peduli ini dari pemda atau apa, yang penting saya bisa usaha. Kalau begini yang ada nambah pengangguran. Emang mereka ngasih kita makan apa?” katanya kesal.

Sebelumnya, puluhan petugas Satpol PP menggusur PKL dan parkir liar di Jatinegara. Petugas memindahkan dan mengangkut lapak PKL yang dibiarkan teronggok oleh pedagang. Sementara itu, yang diselamatkan pedagang tidak diambil petugas. Puluhan petugas terlibat dalam penertiban tersebut.