Category Archives: HIV AIDS Indonesia

Survey Membuktikan Bahwa 47 Persen Siswa SMU Palu Sudah Tidak Perawan Alias Sudah Sering Berhubungan Seks

Hasil penelitian dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako, (Untad) Palu, Sulawesi Tengah, menyatakan 47 persen siswa Sekolah Menengah Atas di wilayah Kota Palu mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks bebas. Baik yang dilakukan sekali maupun berkali-kali dengan pasangannya. Penelitian dilakukan pada Agustus hingga Oktober 2010 dengan sampel sebanyak 15 persen dari 15.542 jumlah siswa SMA/SMK di kota Palu.

Ikhlas Rasido, peneliti dari FKIP Untad, mengatakan sebanyak 43,5 persen remaja melakukan hubungan badan dengan lawan jenisnya karena pengaruh lingkungan, seperti ajakan pacar, teman, atau nonton film porno. Sementara faktor kematangan secara seksual hingga memiliki keinginan atau coba-coba, menjadi alasan kuat selanjutnya.

Ikhlas mengatakan, sebagian besar siswa atau siswi yang melakukan seks bebas tersebut tinggal di kos-kosan, namun ada juga yang tinggal bersama keluarga. Ada juga yang sekolah di SMA favorit di Palu. “Maaf, kami tidak bisa sebutkan sekolah tersebut,” katanya usai salat Jumat, 21 Oktober 2011.

Menurut dosen bimbingan konseling ini, perilaku seksual diawali dari sekadar ciuman, kemudian ciuman yang disertai birahi, hingga terakhir menjadi percintaan badan atau making love. Yang menarik dari penelitian tersebut, sebagian remaja merasa bangga jika telah melakukan hubungan seks dengan pacarnya atau dengan orang lain. Ini terutama terjadi pada laki-laki, dimana secara psikologis ingin menampilkan sesuatu yang lebih dari lelaki yang lain, termasuk soal seks tersebut.

Selain itu, sebagian besar remaja tidak menggunakan pengaman saat berhubungan badan. Demikian halnya dari pengakuan yang diperoleh, kebanyakan pelaku tidak memiliki pengetahuan yang mendalam soal HIV/AIDS atau dampak yang ditimbulkan akibat berhubungan seks tersebut. Pascapengakuan tersebut, ketika pelaku diarahkan untuk melakukan pemeriksaan HIV melalui VCT, tak ada satupun yang bersedia.

Melihat data yang cukup mencengangkan ini, Ikhlas berharap penelitian tersebut bisa ditindaklanjuti para pihak terkait yang peduli dengan remaja, khususnya Dinas Pendidikan melalui program-program sekolah. “Tapi selama ini belum ada tindaklanjutnya. Ini kami sudah publikasikan dan kami sudah seminarkan,” katanya.

Selain itu belum juga ada koordinasi dengan instansi terkait, seperti antara BKKBN dengan Dinas Kesehatan soal remaja yang melakukan hubungan seks bebas ini. Di sekolah juga perlu diaktifkan kembali bimbingan konseling dan Pusat Informasi dan Konsultasi Kesehatan Reproduksi Remaja (PIKKRR). Penelitian ini, kata Ikhlas, semata-mata dilakukan untuk melakukan pencegahan terhadap penyakit HIV/AIDS di kalangan remaja akibat perilaku seks bebas. Untuk itu, dalam penelitian ini, pihaknya juga melibatkan konselor HIV/AIDS.

Sebagian Besar Penderita AIDS/HIV Di Sulawesi Selatan Adalah Ibu Rumah Tangga dan Anaknya Karena Perilaku Homoseksual Suami

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengklaim ibu rumah tangga banyak terjangkit penyakit kelamin Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Data Badan Pencegahan dan Penanggulangan HIV AIDS, daerah ini berada pada peringkat ketiga penderita terbesar di Indonesia.

“Beberapa kasus yang muncul dipermukaan, banyak ibu rumah tangga yang terinfeksi,” kata Kepala Bagian Pencegahan dan Penanggulangan Napza HIV AIDS Biro Bina Napza Muh Nuhrahim, siang tadi.

Kalangan ibu rumah tangga, menurut Nuhrahim, terserang virus setelah berhubungan seks dengan pasangan resmi. Anak yang dikandung, juga harus menerima penyakit bawaan yang ditularkan melalui orangtua. “Kemungkinan prilaku sang suami yang melakukan hubungan seks bebas dengan pasangan homoseksualnya, yang membuat mereka tertular,” kata Nuhrahim.

Penemuan baru di 2011 ini, berdasarkan laporan hasil survei Komisi Penanggulangan AIDS Nasional dan Badan Narkotik Nasional (BNN). Peningkatan jumlah penderita tidak lagi didominasi penggunaan jarum suntik. Tapi mulai didominasi prilaku seks bebas homoseksual atau seks antar lelaki.

Prilaku seks menyimpan, menurut Nuhrahim, tidak lagi dilakukan dilokalisasi, tapi cenderung pada teman kencan secara bergantian. Seks bebas di daerah ini sudah mencapai 60 persen, sementara penggunaan jarum suntik sebesar 58,6 persen.

Jumlah penderita HIV AIDS di Sulawesi Selatan tahun ini mencapai 3.918 jiwa, mengalami peningkatan 60 persen dari 2010 yang hanya mencapai 2.400 jiwa. Penderita penyakit kelamin di daerah ini berada diurutan ketiga setelah Papua dan DKI Jakarta. Sulawesi Selatan juga menduduki urutan ketujuh penderita HIV dan kedelapan pengguna narkoba di Indonesia.

Tren Penyebaran AIDS/HIV Berubah Dari Pelaku Narkoba Ke Seks

Tren penyebaran HIV/AIDS telah berubah. Dulu tingkat prevelensi atau penyebaran infeksi baru HIV/ADIS paling tinggi oleh pelaku narkoba dengan penggunaan jarum suntik bersama-sama. Kini pola penyebaran paling tinggi diakibatkan perilaku seks beresiko kaum homoseksual yang telah menikah.

HIIV/AIDS kini tidak hanya diderita oleh orang dewasa saja. Bahkan pelaku seks beresiko dapat menularkan HIV/AIDS kepada pasangan di rumah. Sehingga ibu kelak yang mengandung, dapat menularkan HIV/AIDS kepada janin yang di kandungnya.

Perubahan tren di atas dikatakan oleh Sekretaris KPAN RI dr. Nafsiah Mboi, SpA., MpH di Ruang Rapat I, Balaikota Bogor,. Nafsiah memberikan pembekalan kepada aktivis HIV/AIDS sebelum melakukan observasi ke kantong-kantong pelaku seks beresiko di Kota Bogor, seperti Taman Topi, Jalan Bangka dan Terminal Bubulak.

Aktivis juga diterima langsung oleh Sekretaris Daerah Kota Bogor Bambang Gunawan, Kepala BPMKB Kota Bogor Nia Kurnaesih dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Triwandha Elan.

“Mengendalikan prevelensi akibat perilaku seks beresiko seperti ini tidak mudah,” jelas Nafsiah. Terlebih, berdasarkan hasil pengamatan, lebih dari 2000 pelabuhan di Indonesia, tidak ada satupun yang tidak ada tempat pelacuran. Tidak ada satu terminal pun yang tidak ada pelacuran.

Hal ini dipersulit dengan pembubaran lokalisasi. Pelacuran kini masuk ke dalam rumah-rumah penduduk sehingga sulit dipetakan. Hal ini diperparah dengan minimnya pemahaman pelaku seks beresiko terhadap pentingnya perlindungan diri, seperti pentingnya menggunakan kondom.

“Kita harus berpacu dengan perilaku seks beresiko. Kenyataannya di Indonesia prevelensi akibat perilaku seks beresiko meningkat, namun penggunaan kondom ditentang,” tambahnya. Untuk itu, lanjutnya, penggunaan kondom pada seks beresiko harus ditingkatkan untuk menyelamatkan bangsa ini dari epidemic HIV/AIDS.

Pencegahan primer yang harus dilakukan adalah kepada anak-anak. Agar tidak terkena HIV/AIDS, pelaku seks beresiko harus menggunakan kondom. Bila sudah terinfeksi, diusahakan agar tidak menularkan kepada pasangan. Dan bagi yang sudah terinfeksi HIV, harus meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah agar tidak berubah menjadi AIDS.

Senada dengan Nafsiah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor Triwanda Elan mengatakan bahwa di Kota Bogor, HIV/AIDS masih menjadi fenomena gunung es. Dinas Kesehatan baru mencatat penderita HIV/AIDS 530 orang. Padahal ia yakin, realita di masyarakat lebih banyak lagi.

Sekretaris Daerah Pemerintah Kota Bogor Bambang Gunawan menambahkan bahwa hingga kini Pemerintah Kota Bogor terus berupaya mencegah penyebaran HIV/AIDS.Namun faktanya, jumlah penderita HIV/AIDS di KOta Bogor terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. “Bahkan berdasarkan angka estimasi tahun 2006, tercatat ada 22 ribu warga Kota Bogor yang masuk ke dalam resiko HIV/AIDS,” cetus Bambang.

Untuk itu, sejak tahun 2006, penanganan pencegahan HIV/AIDS telah masuk ke dalam Rencana Strategis KPAD Kota Bogor. Beragam upaya dan program telah dilakukan untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS meningkat. Salah satunya dengan sosialisasi kepada kelompok usia rendah dan pelaku seks beresiko. “Sedangkan kepada penderita, kami terus berupaya agar mereka mendapatkan penanganan klinis yang lebih serius,” ujarnya.

Bambang juga menjelaskan, bahwa sejak tahun 2009, pemerintah memiliki program agar para pelaku seks beresiko ini diikutsertakan dalam program pemberdayaan secara ekonomi berupa bantuan ekonomi produktif. Bagi penderita, kini Kota Bogor telah memiliki Puskesmas Bogor Timur yang menjadi rujukan penanganan penderita HIV/AIDS

Seks Antara Sesama Lelaki Menjadi Penyebab Terbesar Penyebaran HIV/AIDS

Perilaku lelaki berhubungan seks tidak aman dengan lelaki dapat menjadi bom waktu penyebaran HIV. Apalagi, hal itu cenderung tertutup sehingga sulit terjangkau program penanggulangan HIV/AIDS.

Jumlah lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL) di Indonesia diperkirakan 3.800.000 orang. Hal itu terungkap dalam acara diskusi mengenai ”Inisiatif Penanggulangan Epidemi HIV di Kalangan LSL, Gay, dan Waria di Kota Besar Asia” yang diselenggarakan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI Jakarta, Kamis (17/3).

Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan Gay, Waria, dan Lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (GWL-INA), Tono Permana Muhamad, mengatakan, ada perbedaan antara gay, waria, dan LSL. Pria gay umumnya mengidentifikasikan diri sebagai orang yang berorientasi seks sejenis dan berpenampilan sebagai lelaki. Waria mengidentifikasi dan mengekspresikan diri sebagai perempuan. Pada LSL, orang tidak mau dengan jelas mengidentifikasikan diri dan bisa merupakan seorang biseksual serta biasanya akan menikah seorang wanita sebagai istri sehingga menjadikan wanita baik-baik ini rentan terhadap HIV/AIDS, belum lagi bila memiliki anak.

Kelompok ini lebih sulit terjangkau karena cenderung tertutup karena cendrung menampilkan diri sebagai lelaki baik-baik, tidak melakukan tes HIV, sehingga tak terjangkau program. Padahal, sama dengan gay dan waria, seks tidak aman oleh LSL berisiko tinggi menularkan HIV.

Tono mengatakan, proyeksi di kota-kota besar di Asia, jika tidak ada intervensi penanggulangan HIV di kelompok gay, waria, dan LSL (GWL), separuh penularan HIV akan berada di kalangan tersebut pada 2020.

Secara nasional, kasus HIV pada GWL terus meningkat walau lebih kecil dibandingkan penularan lewat hubungan heteroseksual. Tahun 2002, HIV pada GWL secara nasional 2,4 persen dan tahun 2007 menjadi 5,2 persen. ”Diperkirakan jumlahnya terus meningkat,” kata Tono.

Sekretaris KPAP Jakarta Rohana Manggala mengatakan, ke depan DKI Jakarta akan memperkuat intervensi program penanggulangan AIDS pada GWL.

Beberapa program, antara lain peramahan fasilitas kesehatan untuk GWL dan memperluas sudut pandang program, tidak hanya sebatas masalah kesehatan, tetapi juga dimensi hak asasi manusia. Paradigma bahwa infeksi HIV sebagai akhir dari segalanya harus diubah menjadi awal baru untuk tetap produktif dan mencegah penularan lebih lanjut.

Kasus HIV AIDS Di Kediri Mencapai 206 Orang

Temuan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, semakin tinggi mencapai 206 orang yang terdiri dari berbagai kelompok.

Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Menular Langsung Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Nur Munawaroh, Kamis mengemukakan, temuan kasus itu setiap tahun selalu meningkat. Dari jumlah 206 temuan itu, didominasi dari kelompok PSK dan ibu rumah tangga.

Ia mengatakan, temuan Oktober 2010 ini saja mencapai 56 kasus. Untuk kelompok PSK temuan selama bulan ini mencapai 16 orang, sementara kelompok ibu rumah tangga mencapai 15 orang.

“Untuk temuan kasus, saat ini lebih didominasi PSK dan ibu rumah tangga. Jumlah temuan dari dua kelompok itu hampir sama,” ujarnya mengungkapkan.

Nur menjelaskan, jumlah temuan itu menunjukkan peningkatan kelompok ibu rumah tangga yang semakin tinggi. Kelompok ini menjadi korban, karena kecil kemungkinan tertular dari luar.

“Kemungkinan besar, yang membuat kelompok ini (ibu rumah tangga) tertular dari pasangannya. Dari survei yang kami lakukan, potensi peningkatan juga semakin tinggi,” paparnya.

Nur juga mengatakan, dari temuan tersebut 33 persen dari berbagai kelompok seperti para pelanggan, TKI, sopir, maupun gay homoseksual, sementara sisanya adalah kelompok perempuan.

“Rata – rata kelompok yang terkena dari usia produktif, 20 – 40 tahun, 33 persen dari laki – laki homoseksual dan biseksual sementara sisanya dari perempuan,” ucapnya menambahkan.

Ia juga mengemukakan, hingga kini masih banyak kasus HIV/AIDS yang belum ditemukan. Sesuai dengan estimasi nasional, masih ada sekitar 80 persen yang belum ditemukan.

Sesuai dengan estimasi, jumlah PSK dan kelompok risiko tinggi lainnya mencapai 990 orang, dan saat ini masih 206 orang yang sudah ditemukan.

Untuk itu, pihaknya akan berupaya mendatangi langsung lokasi – lokasi yang rawan terjadi penularan virus tersebut, seperti di tempat hiburan malam maupun pasar – pasar dengan melakukan tes darah.

“Kami langsung terjun ke lokasi – lokasi yang kami anggap rawan. Dengan itu, semakin dini kasus itu ditemukan, semakin besar harapan hidup pasien,” ujarnya menegaskan.

Pihaknya juga berharap, masyarakat terutama yang pernah bersinggungan langsung dengan PSK memeriksakan diri ke klinik VCT. Dengan pemeriksaan itu diharapkan temuan pasien HIV/AIDS juga semakin tinggi, sehingga segera bisa ditangani.

70 Ibu Rumah Tangga Di Surabaya Terjangkit HIV AIDS Meski Tak Lakukan Seks Bebas

Sebanyak 70 ibu rumah tangga di Surabaya tercatat positif menderita HIV/AIDS selama sembilan bulan terakhir pada tahun 2010 ini. Kasi Program Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Surabaya, Ponco Nugroho, Rabu mengatakan, banyaknya ibu rumah tangga yang terjangkit virus ini, memang sempat mengejutkan karena banyak yang mengaku tidak pernah melakukan hubungan seks bebas dengan penderita HIV/AIDS.

“Awalnya memang sulit dipercaya, tapi setelah dilakukan pemeriksaan, hasilnya seperti itu. Sebab penularan virus ini tidak hanya dari hubungan seks bebas saja, namun bisa juga karena didapat dari sang suami yang homoseksual. Justru itulah yang kita khawatirkan,” ujarnya.

Ia menceritakan, pernah ada pasien seorang ibu rumah tangga yang tidak percaya mengidap positif HIV/AIDS. Koordinator Unit Perawatan Intermediet dan Penyakit Infeksi (UPIPI) RSU dr Soetomo, dr Erwin Astha Trijono, SpPD mengungkapkan, banyaknya ibu rumah tangga yang terjangkit HIV/AIDS karena sosialisasi terhadap mereka yang sangat minim.

“Tidak adanya sosialisasi kepada para ibu rumah tangga tentang penularan HIV/AIDS menjadi salah satu faktor rentannya terjangkit virus. Jadi, inilah tugas kita para dokter maupun instansi terkait untuk menindaklanjuti dan selalu menyosialisasikannya,” terang dia.

Karena itulah, pihaknya berharap adanya edukasi atau pendidikan sosialisasi kepada siapa saja, termasuk ibu rumah tangga. Kata dia, selama ini pendidikan penanggulangan HIV/AIDS mayoritas dilakukan terhadap remaja dan instansi tertentu. “Padahal siapa saja bisa tertular. Ini yang harus difahami dan dimengerti semuanya. Kami harap yang tertular bisa diminimalisasi lagi,” tukas ahli penyakit dalam tersebut.

Data di Dinas Kesehatan, kelompok yang rentan terkena virus HIV/AIDS ini adalah orang dengan mobilitas tinggi (sipil maupun militer), perempuan, remaja, anak jalanan, pengungsi, ibu hamil, penerima transfusi darah, maupun petugas kesehatan sendiri.

Erwin juga mengatakan, saat ini sudah ada obat bagi penderita HIV/AIDS. Untuk dewasa dalam bentuk tablet, sedangkan anak-anak dalam bentuk sirup. “Syaratnya, harus diminum sesuai aturan dan tidak boleh terlambat. Tapi, virus ini bisa disembuhkan kok, sama seperti penyakit lainnya,” tuturnya menjelaskan

Hubungan Seks Sesama Jenis Gay Lesbian Di Kota Bogor Sudah Meresahkan Dan Menjadi Penyebab Utama Penyebaran AIDS Dikalangan Remaja

Temuan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Bogor mengenai hubungan seks sesama jenis di kehidupan para remaja sudah memasuki tingkat mengkhawatirkan. Kondisi tersebut terungkap dalam seminar kesehatan remaja menyambut hari Kesehatan Nasional di Rumah Sakit Hermina, Rabu (29/9).

“Kondisi ini menimbulkan persoalan karena banyak remaja yang terlibat dalam masalah tersebut,” kata Sekretaris Daerah Kota Bogor, Bambang Gunawan.

Disebutkan berdasarkan data tahun 2005-2009 dari Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Kota Bogor kelompok penderita HIV terbesar usia 15-35 tahun.
Bambang menjelaskan salah satu faktor yang menyebabkan besarnya angka tersebut karena masih kurangnya pengetahuan remaja tentang bahaya penyakit akibat hubungan seks.

Berdasarkan survei remaja 2006, masih ada sekitar 29 persen remaja yang belum mengetahui tentang masalah reproduksi. Data lain menyebutkan ada 39 remaja yang belum memahami informasi tentang Prilaku Hidup Sehat (PHBS) 25 persen di antaranya kurang memahami masalah Penyakit Menular Seksual, 28 persen tidak mengetahui secara pasti bahaya penyebaran HIV/AIDS dan 20 persen tidak memiliki pemahaman bahaya penyalahgunaan rokok.

Bambang berharap peran serta dan kontribusi para remaja terpilih dalam Perr Counselor untuk menyampaikan informasi terkait masalah kesehatan remaja dan mengajak teman-temannya kepada hal-hal yang positif. “Melalui berbagai forum, Perr Counselor dapat berkontribusi dalam mendorong 18,8 juta remaja Kota Bogor menjalankan masa remajanya dengan karya-karya positif dan menghindarkan diri dari dampak negatif pergaulan, “ ungkapnya.

Di tempat yang sama, Kepala Seksi Kesehatan Remaja dan Lansia Dinas Kesehatan Kota Bogor dr. Ratna Yunia mengatakan, seluruhnya Perr Counselor yang dibentuk di Kota Bogor berjumlah 1.700 orang dari 30 Sekolah yang ada di Kota Bogor. “Setiap Sekolah ditunjuk tiga siswa, dan seorang guru yang bertugas sebagai Peer Counselor.“

Para konselor diberikan pelatihan dan pembekalan sebagai Counseling oleh Dinas Kesehatan memalui Puskesmas–Puskesmas yang ada di Kota Bogor. “Peer Counselor akan menjadi teman curhat para remaja yang bermasalah. Sebab, biasanya para remaja akan lebih terbuka menyampaikan permasalahan dirinya kepada sesama temannya, daripada kepada orang tuanya, “ kata Ratna.

Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Kediri Naik 400 Persen

Jumlah pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, selama tahun 2008 melonjak hingga 400 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penderitanya juga lebih variatif meskipun paling banyak berasal dari kalangan berisiko tinggi.

Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri Nur Munawaroh, Senin (24/11), mengatakan, sampai dengan November 2008, total pasien yang positif terinfeksi HIV/AIDS mencapai 93 orang.

”Jumlah pasien ini naik empat kali lipat dibanding pada tahun 2007 yang sebanyak 23 orang. Kenaikan penderita yang luar biasa banyak itu cukup mengejutkan. Dalam 11 bulan terakhir terdapat 70 penderita baru yang ditemukan,” ujarnya.

Dari 93 penderita itu, sebanyak 17 orang di antaranya atau 18 persennya meninggal dunia. Kebanyakan yang meninggal adalah penderita yang datang ke puskesmas atau rumah sakit dengan kondisi sakit parah dan disertai penyakit penyerta lainnya.

Nur mengatakan, berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, sebanyak 70 persen pengidap HIV/ AIDS adalah kaum perempuan terutama masyarakat yang berasal dari golongan berisiko tinggi, seperti kaum homoseksual, pekerja seks komersial (PSK) dan tenaga kerja wanita (TKW).

Parahnya lagi, masyarakat yang tidak berasal dari golongan berisiko tinggi juga banyak terkena. Sedikitnya, ada lima ibu rumah tangga yang positif terinfeksi HIV/AIDS karena menikah dengan pria homoseksual gay.

Usia produktif

Nur menambahkan, berdasarkan penelitian, rata-rata penderita HIV/AIDS baru adalah penduduk usia produktif. Komposisinya, penduduk usia 15-24 tahun sebanyak 40 persen, sedangkan penduduk yang berusia 25-45 tahun sebanyak 60 persen.

Untuk menanggulangi penyebaran virus HIV/AIDS di Kediri, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri bekerja sama dengan Rumah Sakit Umum Daerah Pare Kediri telah membangun klinik khusus. Namun, masyarakat masih enggan menggunakan fasilitas tersebut.

Oleh karena itu, metode pencarian penderita HIV/AIDS baru yang digunakan masih mengacu pada pola lama, yakni menggunakan pendekatan emosional melalui komunitas-komunitas tertentu, seperti kaum gay, dan para pengguna narkoba yang sering bertukar jarum suntik.

Beberapa anggota komunitas mendapat pendidikan mengenai pentingnya berperilaku sehat untuk mencegah penularan HIV/ AIDS, di antaranya berhubungan intim dengan satu pasangan, menggunakan kondom setiap kali berhubungan, dan rajin memeriksakan kesehatan

HIV/AIDS Telah Menjadi Epidemi di Sumatera Utara

Pengidap Human Immunodeficiency Virus atau HIV dan AIDS dalam sepuluh tahun terakhir telah menjelma menjadi epidemi di Sumatera Utara. Jumlah penderita HIV/AIDS meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan terbesar dipicu oleh penderita yang juga pencandu narkotika jenis suntik.

Menurut Sekretaris Pelaksana Harian Komite Penanggulangan AIDS Sumatera Utara (Sumut) Achmad Ramadhan, dari tahun ke tahun jumlah temuan kasus HIV/AIDS terus meningkat. Jumlah penderita HIV/AIDS yang tercatat di Sumut hingga Juni 2008 sebanyak 1.316 orang.

Achmad mengungkapkan, jumlah tersebut hanya 10 persen saja dari jumlah penderita HIV/AIDS yang sebenarnya. Dia menyatakan, masih banyak penderita HIV/AIDS yang tak terdata karena masih minimnya klinik VCT (voluntary counseling testing), tempat layanan konseling dan tes HIV/AIDS secara suka rela di Sumut.

”Ini kan fenomena gunung es, artinya penderita yang terdata saja yang ada dalam catatan kami. Sementara penderita yang tidak terdata, jumlahnya lebih dari itu. Kami memperkirakan, penderita yang terdata ini hanya 10 persen dari total jumlah penderita HIV/AIDS yang sebenarnya, jadi kalau di Sumut mungkin saat ini sudah lebih dari 13.000 orang menderita HIV/AIDS,” kata Achmad di Medan, Rabu (3/9).

Di Sumut, data di Komisi Penanggulangan AIDS mencatat Medan sebagai tempat yang paling banyak penderitanya, hingga 969. Namun, dari 28 kabupaten/kota, baru 22 yang melaporkan ada penderita HIV/AIDS.

”Sebenarnya kota/kabupaten dengan tingkat penderita HIV/AIDS dihitung berdasarkan temuan kasusnya di kota/kabupaten tersebut. Bisa saja, penderitanya berasal dari luar Medan, tetapi karena dia berobat ke Medan, maka kasusnya ditemukan di Medan dan menjadi catatan jumlah penderita di kota ini. Pada banyak kasus, pasien yang dirawat di Medan memang berasal dari luar Medan,” kata Achmad.

Komisi Penanggulangan AIDS semakin mengkhawatirkan peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS di Sumut. Bila tak ada program intervensi, jumlah kasus HIV/AIDS hingga tahun 2014 bisa mencapai 157.829.

”Kalau di pusat sudah ada mekanisme penemuan kasus secara dini. Seseorang yang baru terinfeksi HIV tahap awal, bisa dilakukan pencegahan agar tak menularkan virusnya kepada orang lain. Tindakan penemuan kasus secara dini ini yang belum banyak dilakukan di Sumut,” katanya.

Achmad menuturkan, jumlah penderita yang terkena HIV/AIDS untuk kategori pencandu narkotika jenis suntikan lonjakannya sangat luar biasa. ”Setiap tahun bisa meningkat hingga 60 persen dari penderita yang terdata. Bayi dan pasangan pencandu narkoba suntik menjadi sangat rentan tertular HIV/AIDS,” katanya.

Data perkiraan Komisi Penanggulangan AIDS tentang orang terinfeksi virus HIV/AIDS di Sumut menyebutkan, 60 persen merupakan pencandu narkoba suntik, 14 persen pelanggan wanita penjaja seks, 9 persen pasangan pencandu narkoba suntik, 5 persen lelaki homoseksual, sedangkan sisanya merupakan wanita penjaja seks, pasangan pelanggan wanita penjaja seks, waria dan pelanggannya, serta penghuni penjara.

Komisi Penanggulangan AIDS Sumut, menurut Achmad, saat ini tengah menjalin kerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk memberikan layanan konseling dan pusat informasi di beberapa perusahaan.

”Ini merupakan program penanggulangan di tempat kerja. Selain itu, kami juga tengah memberdayakan komisi penanggulangan AIDS di kabupaten dan daerah,” ujarnya.

Terkait upaya Komisi Penanggulangan AIDS Sumut, Pemprov Sumut mengakui masih sangat terbatas dalam memberikan bantuan meski ancaman epidemi AIDS di Sumut sudah terjadi. Setiap tahun, bantuan APBD Sumut untuk program penanggulangan AIDS masih sangat minim, jumlahnya, tak lebih dari Rp 125 juta.

Jumlah klinik VCT di Sumut juga masih sangat terbatas. Selain Medan, kota lain yang memiliki klinik VCT di Sumut, antara lain, Lubuk Pakam, Serdang Bedagai, Simalungun, Langkat, dan Balige. Keberadaan klinik-klinik tersebut, ujar Achmad, juga berperan dalam menjamin distribusi obat antiretroviral (ARV).

”Sejauh ini untuk Sumut distribusi obat antiretroviral memang masih belum bermasalah. Hanya saja pendistribusiannya masih terbatas pada tempat-tempat di mana terdapat klinik VCT,” katanya.

Kepala Bidang Humas Pimpinan Pemprov Sumut ML Tobing menuturkan, Pemprov Sumut saat ini sebatas mengimbau agar tokoh masyarakat dan agama ikut terlibat membantu upaya pencegahan AIDS