BERITA INFORMASI TERKINI

Archive for the ‘Pertanian’ Category

Buah Salak Berhasil Menembus Pasar Ekspor Dunia

In Kreatif, Perekomonian, Pertanian on December 12, 2008 at 4:06 am

Satu lagi kekayaan hortikultura Sumatera Utara mampu menembus pasar ekspor buah, yaitu salak jambon (Salacca zalacca edulis). Meski pengembangannya masih terbatas, Pemerintah Provinsi Sumut mengusulkan menjadi produk unggulan nasional yang bernilai ekonomi menjanjikan.

”Permintaan selalu datang dari Singapura dan Malaysia setiap bulan. Selebihnya kami memenuhi pasar di Medan dan sekitarnya,” tutur Ketua Kelompok Tani Berdikari, Desa Jatikesuma, Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, Adi Rafii (55), Kamis (11/12), saat ditemui di ladangnya.

Rafii mengatakan, salak ini di pasar bertengger pada harga Rp 8.000-Rp 11.000 per kilogram.

Nama jambon merupakan kependekan dari Jatikesuma, Bogor, dan Namorambe. Asal muasal benih dari Bogor yang dibawa petani Jatikesuma pada 1970-an.

Bertahun-tahun Rafii mengawinkan dengan serbuk palem-paleman Jatikesuma dan Namorambe. ”Saat ini saya mempunyai lahan salak seluas satu setengah hektar dan seluruh luas lahan salak petani di sini 15 hektar,” tutur Rafii.

Produk unggulan

Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Sumut tahun ini mengusulkan salak jambon sebagai produk unggulan nasional bersama mangga malaba (Mangifera indica sp) dan mangga kelong. Ketiga buah unggulan tersebut berasal dari Deli Serdang.

”Presentasi produk ini sudah kami lakukan Agustus lalu di Departemen Pertanian,” kata Kepala BPSB Sugeng Prasetyo.

Sebelumnya Sumut dikenal mempunyai produk buah salak sidimpuan dan salak sibakua yang berkembang di Tapanuli Selatan. Jenis salak ini mempunyai daging kemerah-merahan. Adapun salak jambon berwarna krem dengan daging lebih lembut, mirip salak pondoh yang berkembang di Jawa. Hadirnya salak jambon memperkaya Sumut sebagai daerah penghasil salak.

”Produk unggulan ini kebanggaan daerah yang harus mendapatkan paten,” tuturnya. Sumut sementara ini mempunyai 23 jenis buah unggulan lokal yang sudah mendapat pengakuan dari pemerintah

Harga Urea Bersubside Mahal Karena Stok Terbatas, Para Tikus Bergembira Ria

In Pertanian on October 13, 2008 at 6:26 am

Di tengah tingginya harga pupuk urea bersubsidi karena stok terbatas, kalangan petani padi di Kabupaten Demak dan Grobogan, Jawa Tengah, pekan lalu menghadapi hama tikus yang mengganas. Harga pupuk di pengecer pun tinggi, yakni Rp 100.000 per zak atau Rp 2.000 per kilogram jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga eceran tertinggi sebesar Rp 1.200 per kilogram.

Petani padi di Dusun Daplang, Kecamatan Tegowanu, Grobogan, Sukirman, Minggu (12/10), menuturkan, jatah alokasi pupuk bersubsidi di desanya tercatat 50 ton untuk musim tanam 2008/ 2009 pada akhir Oktober 2008. Alokasi sebesar itu untuk memenuhi kebutuhan 12 kelompok tani dan tak kurang menaungi 350 petani di desanya.

”Namun, alokasi itu tidak bisa terpenuhi seluruhnya karena stok baru 10 ton hingga November 2008,” kata Sukirman. Stok 10 ton itu diperkirakan hanya mampu memenuhi kebutuhan satu kelompok tani yang terdiri atas 50 petani.

Terbatasnya alokasi pupuk bersubsidi menyebabkan harga pupuk melonjak. Padahal, petani di Tegowanu sebagian besar telah mulai menanam padi di sawah. Rata-rata tanaman padi berumur 30 hari, umur padi saat penting membutuhkan pemupukan berimbang pupuk organik-kimia.

Petani lain di Desa Kejawan, Triyono, mengatakan, petani tidak paham mengapa pupuk masih langka saat petani tengah menyiapkan masa tanam Oktober 2008. Petani yang membutuhkan pupuk harus mencari urea ke sejumlah pengecer di Gubug, Tegowanu, sampai Godong. Pupuk bersubsidi tidak banyak tersedia di pengecer di tiga wilayah kecamatan itu.

Dengan masih terbatasnya stok pupuk bersubsidi, sejumlah petani di Kecamatan Tegowanu, Gubug, dan Godong belum berani membuka lahan tanaman padi terlalu luas. Rata-rata petani hanya menanam padi di lahan 4.000 meter persegi sampai 6.500 meter persegi. Jarang petani menanam padi hingga satu hektar hingga dua hektar.

”Sisa lahan pertaniannya tetap diolah, tetapi masih ditanami tanaman jagung. Mengingat lahan tanaman padi terbatas, petani memilih menanam padi jenis unggul, yakni varietas Ciherang yang menghasilkan 7 ton gabah per hektar dengan masa tanam lebih pendek,” kata Triyono.

Benih mati

Sementara itu, ratusan tikus menyerang puluhan hektar lahan pembenihan padi di Desa Getasrejo, Menduran, dan Penawangan, Grobogan. Petani merugi dan terpaksa membuat benih padi lagi untuk mengganti benih yang rusak.

Waryanto (57), petani Dusun Podalu, Desa Menduran, Kecamatan Brati, Minggu di Grobogan, mengatakan, ratusan tikus itu menyerang lahan pembenihan sejak pekan kemarin. Sebelumnya tikus menghabiskan tanaman jagung dan kacang. ”Sekitar satu hektar lahan pembenihan beserta benih-benih padi di Podalu rusak dan mati. Lahan pembenihan saya rusak sekitar empat meter persegi,” kata Waryanto.

Ia terpaksa mengganti benih- benih rusak itu dengan benih-benih baru. Ia terpaksa mengeluarkan uang Rp 40.000 untuk membeli 5 kg benih Ciherang baru.(

Bin Laden Berinvestasi Di Pertanian Padi Di Papua

In Perekomonian, Pertanian on August 13, 2008 at 2:18 pm

Kelompok usaha Bin Ladin Group dari Arab Saudi berencana untuk berinvestasi senilai 4,3 miliar dollar Amerika Serikat di bidang agrobisnis padi di Merauke, Provinsi Papua.

Hal tersebut disampaikan oleh Utusan Khusus Presiden RI untuk Timur Tengah Alwi Shihab, Selasa (12/8) di Jakarta. ”Mereka bukan hanya berminat, tetapi sudah memutuskan untuk melakukan investasi agrobisnis padi minimal untuk lahan seluas 500.000 hektar,” ujarnya seusai pertemuan Menteri Pertanian Anton Apriyantono dengan pihak Bin Ladin Group.

Bin Ladin Group adalah kelompok usaha yang melaksanakan beberapa proyek strategis dari Pemerintah Arab Saudi.

Dari pertemuan itu, Departemen Pertanian merekomendasikan wilayah Merauke apabila kelompok usaha itu ingin berinvestasi di bidang agrobisnis.

Sebelumnya, sudah ada lima investor lokal yang berminat berinvestasi di Merauke, mereka adalah Grup Medco, PT Bangun Cipta Sarana, PT Wolo Agro Makmur, PT Comexindo, dan PT Digul Agro Lestari (Kompas, 22/7).

Meski, menurut Alwi Shihab, Bin Ladin sudah dalam tahap memutuskan, realisasi investasi itu menunggu keputusan dari tim yang akan dikirim Bin Ladin Group untuk melakukan pengkajian.

”Padi yang akan ditanam khusus jenis Basmati (padi premium untuk konsumen wilayah Timur Tengah),” kata Alwi Shibab.

Undangan Deptan

Vice Chairman Bin Ladin Group Syekh Hassan M Bin Ladin menyatakan, rencana investasi itu untuk menumbuhkan usaha agrobisnis di Indonesia.

Menurut Mentan, kedatangan pengusaha dari Arab Saudi itu atas undangan Departemen Pertanian.

Terkait dengan masalah infrastruktur di Merauke, Mentan menyatakan pemerintah akan membangun infrastruktur utama, seperti jalan. Infrastruktur yang lebih kecil, akan dibangun bekerja sama dengan pihak swasta.

Departemen Pekerjaan Umum direncanakan membangun beberapa proyek infrastruktur sumber daya air. Dalam jangka pendek, yang dilakukan adalah mendesain ulang pompa di Wapeko dan Topeko bagian hulu, sepanjang 10 kilometer.

Departemen Pekerjaan Umum juga akan membangun saluran air dari Sungai Kumbe ke sawah-sawah di Kecamatan Semangga dan Tanah Miring di Merauke.

Selain itu, juga akan dilakukan optimalisasi pengambilan air dari Rawa Burung. Kabupaten Merauke mempunyai lahan datar seluas 3 juta hektar, yang potensial untuk sawah sekitar 1,94 juta hektar dan untuk ladang 0,55 juta hektar.

Hingga Maret 2008, luas tanaman padi di Merauke baru 22.066 ha. Saat ini, dari 25.000 ha sawah di Merauke, hanya 6.000 ha yang beririgasi, tetapi belum terintegrasi